
Dewi Laksmi
Atas perintah Rani, setelah tiba dari kost-kostan itu, aku langsung menelepon Mas Zul. Jantungku tak henti berdebar karena rasa sakit itu. Mas Zul boleh saja tidak mencintaiku, tapi dia tidak boleh berpaling dariku, aku istri sahnya.
Kata Rani, aku harus bermain cantik, tidak boleh grasa-grusu. Aku harus bertingkah seolah tidak mengetahi kedekatan wanita munafik itu dengan suamiku. Aku akan pelan-pelan mengumpulkan banyak bukti, lalu mempermalukan dan menghancurkan hidup wanita itu.
Jikapun mas Zul terbukti selingkuh, aku tidak akan menghancurkannya. Biarkan saja hatiku sakit, asalkan sakitku harus sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan wanita itu. Kalau bisa, dia harus lebih tersiksa daripada aku.
"Halo cinta," sapanya.
Di balik suara beratnya, samar aku mendengar suara helaan napas Mas Zul yang terdengar lebih cepat dari bisanya.
"Halo, Mas. Mas pulang ya, aku gak jadi izinin Mas nginap di kantor, aku kangen kamu Mas. Gak bisa deh kayanya kalau tidur tanpa peluk kamu atau dipeluk kamu, hehehe," dalihku dengan suara manja.
Tadi sore, dia memang izin mau menginap di kantor dengan alasan mau lembur karena ada pekerjaan yang deadlinenya mendadak. Aku mengizinkannya, namun setelah Rani datang ke rumah dan memperlihatkan foto-foto itu, aku yakin mas Zul berbohong.
Apalagi setelah aku mendapatkan informasi dari bu kost. Aku semakin yakin jika mas Zul sudah berani membohongiku. Bukti itu diperkuat oleh pernyataan mata-mataku yang justru mengatakan jika mas Zul pulang lebih cepat.
"Oke, Mas tidak jadi menginap, tapi Mas baru bisa pulang jam 12 malam, sabar ya cinta, mau dibelikan apa?" rayunya.
Ingin rasanya aku memaki dia, tapi hati ini merasa tak tega. Aku takut kehilangan dia, aku takut tidak bisa menikmati tubuhnya lagi jika aku memarahinya. Aku takut kehilangan dia dan segenap pesonanya.
Selain itu, kata Rani, bisa jadi wanita itu menggunakan ilmu pelet pengasihan atau guna-guna demi mendapatkan mas Zul. Bisa jadi, apa yang dilakukan mas Zul pada saat ini adalah efek dari guna-guna itu.
"Aku gak mau apa-apa Mas, aku cuma mau kamu pulang. Memangnya gak bisa kalau pulang sekarang?"
"Emm, gak bi-bisa cinta," katanya.
"Apa perlu ditemani bang Radit?" tanyaku.
"Ti-tidak perlu cinta, kasihan bang Radit takut kecapekan. Mas pulang sendiri saja, kan bawa mobil juga."
"Mas sama siapa di kantornya? Gak sama Tania, kan? Awas saja kalau berdua-duaan sama Tania," guyonku.
"Ti-tidak cinta, Mas sendiri, sudah dulu ya, assalamu'alaikuum."
Dia mulai gugup. Ingin sekali aku mengatakan mau menyusul ke kantornya. Tapi aku harus menahan diri. Ingat, aku harus bermain cantik.
"Wa'ailaikumussalaam, hati-hati ya Mas. Mmuach," aku mengakhiri panggilan dengan perasaan dongkol dan kesal.
Kemudian kupandangi lagi sosok wanita itu. Lagi-lagi aku tak melihat wajahnya karena dalam foto ini dia juga menunduk. Tapi wajah mas Zul terlihat jelas, tatapan mas Zul pada wanita ini begitu dalam.
Siapa sebenarnya wanita ini? Apa lebihnya dia dari aku? Apa karena dia berpakaian akhwat lalu mas Zul suka?
Tapi setahuku, cinta pertama mas Zulpun sama sepertiku. Dia tidak berjilbab apalagi berbusana akhwat. Hatiku dirundung kepenasaranan.
Oiya, obat dari paklik sudah ada di tanganku. Malam ini aku harus memberikannya pada mas Zul. Aku menunggu jam 12 malam dengan perasaan sedih dan gundah-gulana.
...***...
Zulfikar Saga Antasena
Setelah telponan dengan Dewi, aku kembali ke sofa. Tapi dia tidak ada.
Di mana dia ya?
"Haniiin," panggilku.
Padahal, tadi itu aku dan Hanin sudah ....
"Haisshh."
Aku jadi kesal. Aku mengacak rambutku sendiri. Tidak ada jawaban dari Hanin. Dia pasti ke kamar. Aku beranjak ke sana. Benar saja, kulihat dia sedang tertelungkup, sebagian kakinya menjuntai, indah sekali.
"Kalau dipanggil suami, nyahut dong," kataku sambil mengelus betisnya. Tapi dia bergeming.
Apa mungkin sudah tidur?
"Hanin, ayo kita lanjutkan." Aku menciumi tengkuknya. Seperti biasa, bak seorang DJ, tanganku mulai aktif.
"Pak, sebentar lagi Isya," dia menggeser tubuhnya membelakangiku. Penolakannya hanya sebatas mengatakan itu.
"Maaf, kamu tidak marah, kan?"
"Tidak," jawabnya pelan.
"Kalau tidak marah, kenapa memunggungiku? Bukannya tidak boleh ya memunggungi suami?"
"Maaf." Dia lantas membalikan badan menghadapku.
"Sekali lagi aku minta maaf ya," aku menarik bahunya agar kepalanya bersandar di lenganku.
"Tidak apa-apa," dia menjawab sambil mengusap airmatanya.
"Kamu menangis?"
"Tidak," sangkalnya.
"Lalu ini apa? Hidungmu, matamu, kelopak matamu, jelas sekali ada bekas tangisan, terus yang tadi air apa?"
"Ini mataku Pak. Terserah aku mau nangis atau tidak." Memalingkan wajah.
"Hei, matamu juga millku." Aku menangkup pipinya agar dia kembali menghadapku. Dia menghadapku lagi tapi matanya dipejamkan.
"Janji ya setelah Isya." Aku memeluknya walau dia tak membalas dekapanku.
"Hmm," jawabnya.
"Hanin," aku memanggilnya lagi.
"Panggil aku Mas, mau 'kan?" tanyaku sambil mengecup puncak kepalanya.
"Emm, a-aku belum bisa Pak."
"Kenapa? Apa susahnya?"
__ADS_1
"Aku belum bisa menjelaskan alasannya."
"Kalau aku memanggilmu sayang, boleh 'kan?"
Dia tidak menjawab.
"Hanin."
"Aku sudah tidur, jangan diganggu," katanya. Lucu sekali. Masa ya orang tidur bisa diajak bicara?
"Hahaha."
Aku lantas menggeserkan tubuh agar kepalaku sejajar dengan kepalanya. Aku memandanginya dari jarak yang sangat dekat. Dilihat sedekat ini, dia semakin cantik.
Dulu, kupikir cintaku pada Dewi sulit tumbuh akibat aku trauma setelah dikhianati. Tak kusangka, rasa ini tumbuh lagi setelah aku bertemu dengan Hanin.
"Apa kamu punya cinta pertama?" tanyaku. Aku tahu dia tidak tidur.
"Punya," jawabannya membuatku kaget.
"Sampai pacaran?" Aku penasaran.
"Tidak, itu hanya bogoh eme, istilah Indonesianya cinta monyet."
"Oh, kapan itu? Kapan kamu merasakan jatuh cinta?"
"Saat itu aku belum faham kalau itu cinta monyet. Emm, aku suka sama kakak kelasku saat aku kelas lima SD. Dianya kelas enam," terangnya.
"Hahaha, sekecil itu? Lucu sekali. Terus kamu ungkapkan?"
"Tidak, tidak pernah terungkap bahkan hingga saat ini."
"Sampai saat ini? Apa kamu masih menyukai dia? Apa dia sudah menikah?" Nada bicaraku jadi meninggi. Aku merasa tidak senang dengan penjelasannya.
"Tidak tahu, Pak. Lagipula itu hanya cinta monyet. Aku tak pernah memikirkan dia lagi. Kalaupun kami bertemu, dia pasti tidak akan mengenaliku. Aku juga tidak ada perasaan ingin bertemu atau mengingatnya lagi." Sambil menggeser tanganku yang lepas rem dan nyaris mendarat di area sensitifnya.
"Syukurlah," aku tersenyum, merasa lega.
"Saat kamu kuliah atau bekerja, apa ada seseorang yang kamu sukai? Atau ada yang menembakmu?"
"Yang menembak? Emm, tidak ada. Lagipula kalaupun ada, akunya kan tidak boleh pacaran, pasti akan kutolak."
Aku kembali tersenyum. Aku merasa beruntung karena menjadi orang pertama yang menemukan mutiara terjaga sekemilau, secantik dan seindah dirinya.
"Kalau yang kamu sukai ada gak? Maksudku selain cinta monyet kamu."
"Aku tidak bisa menjawab pertanyaan yang itu Pak." Dia membuka matanya, sejenak menatapku lalu berpaling lagi.
"Kenapa tidak bisa jawab?" Aku masih penasaran.
Sementara itu dekapanku semakin kuat. Jujur, saat bersama dengan Hanin hasratku cepat memuncak. Entah ada zat apa dalam tubuh wanita ini. Dia terasa sangat istimewa dan luar biasa. Lembah cintanya menjeratku dan membuatku candu.
"Karena aku bimbang, Pak. Aku ragu, takut, dan tak mengerti dengan perasaan itu. Perasaan itu kadang membuatku bahagia, tapi juga sering membuatku terluka." Airmatanya menetes kembali.
Jawaban Hanin membuatku mengernyitkan alis. Aku juga tak mengerti dengan apa yang ia katakan. Daripada Hanin sedih, aku memutuskan untuk mengalihkan tema pembicaraan.
"A-apa Bapak akan kesini lagi? Ma-maksudku, a-apa Anda akan menemuiku lagi?" Bibirnya gemetar saat menanyakan hal itu.
"Tentu saja, Hanin. Tapi aku tidak bisa memastikan waktunya. Sabar ya," kataku seraya membelai rambutnya.
"Sabar? Lantas sampai akan aku harus bersabar Pak? Sampai kapan kita akan bersembunyi seperti ini? Kapan Anda bisa memahami perasaanku dan juga perasaan bu Dewi? Pak, kalau Anda tidak berani jujur, biar aku sendiri yang akan menjelaskannya pada bu Dewi," tegasnya.
"Apa?! Tidak Hanin, jangan! Kesabaran itu tidak ada batasnya!" Aku sampai duduk karena terkejut.
"Kenapa, Pak? Kenapa?! Anda benar-benar egois! Anda pria paling egois yang pernah aku kenal! Apa Anda menunggu momen aku dipermalukan di depan umum dan dicap sebagai pelakor?!" sentaknya. Dia masih terbaring, namun memunggungiku.
Aku lantas mendekat dan memeluk erat punggungnya. Dia menolak, tapi tenagaku jelas lebih kuat.
"Sayang ...." Bibirku gemetar, ungkapan sayang ini berasal dari lubuk hati terdalamku.
"Lepas!" Dia menggedikkan bahunya. Aku tak menggubris. Tetap mendekapnya.
"Hanin, please ... kumohon jangan mengatakan rahasia kita pada siapupun apalagi pada Dewi. Kamu salah jika mengira aku diam saja. Aku mengulur waktu karena sedang menyiapkan segala sesuatunya demi kebaikan kamu."
"Aku sedang menyelidiki orang yang sengaja mencekok kamu. Kata bartender, yang memesan air putih hanya satu orang. Dia seorang wanita berkacamata, tidak berhijab. Tapi bartender itu tidak mengingat wajahnya karena terlalu banyak orang."
"Sekarang kamu ingat-ingat, pada malam itu, kamu memesan air putih pada siapa?"
"Aku mengatakan pada kak Listi kalau aku mau air putih saja. Lalu kak Listi mengatakan pada bartender perempuan untuk meminta air putih."
"Bartender perempuan? Kamu yakin? Sebab yang memberikan air putih pada wanita berkacamata itu bartender laki-laki. Tunggu, apa Listi berkacamata?" tanyaku.
"Tidak, kak Listi tidak berkacamata."
"Iya juga sih, saat aku bertemu dengan Listi, dia memang tidak memakai kaca mata. Sayangnya, saat bartender memberikan air putih itu, posisinya tidak terjangkau CCTV."
"Tunggu sampai penyelidikannya selesai ya. Oiya, aku juga sudah menyiapkan pengacara untuk kamu."
"Untuk apa?" protesnya. Sembari beranjak karena adzan Isya mulai berkumandang.
"Hanin, kamu bukan pelakor, kamu tidak salah. Akupun demikian. Seperti kata abah kamu, apa yang kita lakukan pada malam itu bukan termasuk kesalahan."
"Sebagai suami, aku wajib menjagamu dengan baik, menjaga harga dirimu, menjunjung tinggi kehormatanmu, dan melindungimu dari segala sesuatu yang dapat menodai kehormatanmu. Aku juga wajib menjaga rahasia kamu, begitu juga sebaliknya." Aku mengekorinya ke kamar mandi untuk berwudhu.
.
Lalu kami melaksanakan shalat Isya berjamaah tanpa banyak kata ataupun perdebatan lagi.
Setelah bersalaman, Hanin berubah dingin. Tapi dia tetap menanyakan minuman apa yang biasa aku minum sebelun tidur. Berbanding terbalik dengan hatiku yang hangat karena sebentar lagi akan kembali menikmati tubuhnya.
"Mau dibuatkan minuman apa?" tanyanya sambil melipat mukena.
"Sebelum tidur, aku selalu berwudhu lalu meminum tiga gelas air putih," jelasku.
"Oh, akan aku ambilkan airnya." Dia berlalu.
__ADS_1
Saat Hanin pergi, aku bersiap. Aku menyemprotkan minyak mulut, membuka baju, lalu rebahan.
Saat Hanin kembali, aku jadi gugup dan berdebar. Dia meletakan gelas di nakas. Aku lantas berpikir untuk mencari cara mencairkan kecanggungan ini. Aku kemudian mengambil minuman yang ia sajikan.
"Awh," keluhku. Memegang pinggang agar lebih natural.
"Ke-kenapa?" Hanin mendekat.
"Pinggangku sedikit linu. Mungkin karena kebanyakan duduk," dalihku. Aku duduk sambil meringis.
"Coba Bapak tengkurap, biar kupijat," katanya.
Misi berhasil. Memang ke sana arah dan tujuannya. Tubuhku langsung bereaksi saat tangan halus itu menyentuh pinggangku.
"Bisa lebih keras? Ohh ... pijatanmu nikmat sekali," pujiku.
"Anggap saja aku sedang mencari kerelaan dan keridhoan dari Anda. Kata abah, kerelaan suami merupakan tiket seorang istri mendapatkan surga dan kebahagiaan akhirat," katanya.
"Nah, maka dari itu kamu harus berusaha. Cara untuk mendapatkannya juga banyak, kan? Intinya kamu harus melakukan tindakan yang bisa membuatku senang," selaku sambil terseyum lalu terlentang.
"Punggungnya sudah enakan?" Dia sepertinya enggan meladeni ucapanku.
"Lumayan, karena kamu sudah berusaha, kini giliranku yang memijatmu."
"Ti-tidak Pak, tidak perlu."
"Hanin, aku pernah mendengar, sebaik-baik perempuan ialah seorang perempuan yang apabila suami melihatnya, maka akan merasa gembira. Jika suami memerintah, dia akan mentaatinya. Dan jika suami tidak ada di sisinya, maka dia akan menjaga harta suami dan kehormatannya," jelasku.
Mulai merayu seraya mengulurkan tangan. Berharap dia akan meraih tanganku dengan sukarela. Ya, dia memang meraih tanganku, tapi untuk disalami.
"Mau pulang sekarang?"
"Hanin, kamu mengusir suamimu?" Kutarik saja tangannya hingga ia jatuh di atas tubuhku. Kudekap supaya tak biasa begerak.
"Pak, lepas!"
"Hanin, mana janjimu? Kamu bilang setelah shalat Isya, kan?"
"A-Anda pulang saja, bu Dewi ---."
"Oke, aku faham," timpalku. Aku meraih ponsel untuk dinonaktifkan.
"Maksudmu itu, kan?"
Aku kembali mendekapnya lalu mengecup keningnya. Hanin menghela napas, matanya mulai berkaca-kaca. Aku menyandarkan tubuhnya pada dua bantal agar posisinya setengah duduk.
"Jika kamu tak menginginkannya, tidak apa-apa, kamu cukup diam saja. Sungguh Hanin, aku ikhlas dan tak akan marah walaupun kamu tidak maksimal dalam melayaniku," bisikku sembari membuka penghalang di tubuhnya.
Hanin terdiam, namun tangannya perlahan mengelus rambutku. Tapi ... mata indahnya kembali menangis.
"Hanin, maaf jika aku telah menorehkan banyak luka di hatimu. Aku hanya pria lemah yang berada di persimpangan jalan. Aku tidak tahu jalan mana yang akan kulewati."
"Aku bingung Hanindiya. Tapi entah kenapa di dalam kebingungan ini ... aku berharap kamu berada di sisiku, mendampingiku, dan melewati persimpangan itu bersama-sama," ujarku sambil mengusap airmatanya.
"Maaf Pak. A-aku tidak bisa," katanya.
Hatiku sakit mendengar penuturannya. Aku tersenyum, namun mataku berkaca-kaca. Dan beberapa detik kemudian, airmataku menetes. Hanin sepertinya kaget, dia menatapku lumayan lama, lantas merangkulku.
"Apa Bapak terluka sungguhan? Apa hanya air mata buaya? Ke-kenapa seperti ini, Pak? Harusnya Anda jangan membiarkan hatiku mengasihani Anda gara-gara air mata itu. Huks, huuks."
"Hanin, aku menangis bukan karena ingin dikasihani olehmu. Aku menangis karena hatiku memang sakit," aku menyatukan keningku dan keningnya.
"Apa Anda sakit gara kehadiranku?"
"Ya, salah satunya memang karena kamu."
"Sudah kuduga, maka dari itu cepat lepaskan aku! Cepat ceraikan aku, Pak! Dengan Bapak menceraikanku, aku yakin luka di hati Anda akan berkurang," tegasnya. Kata cerai itu membuat dadaku panas.
"Hanin, dengarkan aku! Semakin kamu bersikeras ingin becerai, maka hatiku semakin terluka. Semoga kamu faham!" tegasku. Aku menindih tubuhnya. Hingga ia terkejut dan menahan dadaku.
Saat dia hendak bicara, aku cepat-cepat membekapnya dengan bibirku. Seperti biasa, dia melawan. Namun semakin keras dia menghindar, semakin gigih pula aku menaklukannya.
.
Hingga pada akhirnya tubuh indahnya menyerah dan membiarkanku melakukan semua hal yang kuinginkan. Aku merenggut segenap kemolekannya. Tak kusisakan barang seincipun. Tak kuhiraukan lagi keluh-kesah, jerit-tangis dan rintihnya.
Aku bahagia dan puas saat melihat tubuhnya bergetar, menggelinjang dan menggelepar. Aku membisikan doa itu, aku mengecupi peluhnya, lalu aku melakukannya dengan lembut, hati-hati, teliti dan perlahan-lahan.
Namun tiba jua saatnya aku tak bisa mengendalikan diri lagi. Aku bahkan beberapa kali memukul bokong seksinya. Sebuah perilaku kurang patut yang tak pernah kulakukan sebelumnya. Mohon jangan ditiru, kecuali atas izin pemiliknya.
Mungkin dugaanku salah. Tapi aku merasa jika aku dan Hanin mencapainya bersama-sama.
Aku ambruk di sisinya. Hanin terkulai lemas saat aku mengecup keningnya. Sementara napasnya masih memburu dan tak teratur. Pun denganku, napasku masih tersenggal, peluhku bercucuran.
Dalam kelelahan dan segenap kepuasan ini, aku meraih tubuh polosnya ke dalam dekapan.
"Terima kasih sayang ...," bisikku.
.
Selesai mandi, dengan berat hati aku harus meninggalkan Hanin seorang diri. Aku merapikan selimutnya, mengecup keningnya, lalu mengendap dengan langkah pelan dan pergi.
Aku tak ingin menoleh lagi agar aku berani meninggalkannya.
"Pak ...."
Bahkan saat aku mendengar sayupan itu, akupun tak menoleh. Hanin sedang tidur pulas, dia tak mungkin memanggilku.
Selamat tidur istriku, aku mencintaimu.
"Huuu ..."
Mungkin hanya perasaanku saja, saat aku menutup pintu dan menjauh dari kamar, samar kumendengar tangisan itu.
...~Tbc~...
__ADS_1
...🌷Yuk komen yuk🌷...