
Daini Hanindiya Putri Sadikin
"Abah yakin mau menempuh jalur hukum? Teu kedah Abah (tak perlu Abah), keluarganya bu Dewi sangat berkuasa. Selain itu, bu Dewi juga tak mungkin memberi izin poligami resmi pada pak Zulfikar."
"Abah mau tetap usaha, Neng. Masalah mereka berkuasa dan punya segalanya, ya gak apa-apa, yang pentingmah Abah sudah ada usaha untuk memperjuangkan hak anak-anak kamu. Di sini, Abah hanya ingin memperjuangkan hak catatan sipil untuk anak-anak kamu."
"Ummi juga mendukung Abah. Ari kamu kenapa malah tak dukung Abah?"
"Daini takut, Mi. Takutnya, saat Abah sedang berjuang, niat baik Abah malah disalah artikan sebagai upaya hukum untuk mendapat harta warisan dari keluarga Antasena. Selain itu, sudah jadi rahasia umum kalau hukum di negara kita itu sering tajam ke bawah dan sering berlaku hukum rimba. Yang kecil ditekan yang kuat jadi pemenangnya."
"Daini hawatos (khawatir) sama Abah. Takutnya, gara-gara mengurus Daini, kesehatan Abah malah terganggu."
"Teu kedah dipikiran, Neng (jangan dipikirkan, Neng), Abah bukan anak kemarin sore. Abah tahu apa yang harus Abah lakukan. Abah gaduh (punya) teman yang berprofesi sebagai pengacara. Dia bekerja di firma hukum milik pengacara kondang. Kin (nanti) Abah mau minta tolong sama dia."
"Sewa pengacara mahal, Abah. Menurut Daini 'sih gak perlu. Anak Daini biarkan dinasabkan ke Daini saja."
"Neng, Abah itu orang tua kamu. Jangankan hanya harta, nyawapun rela Abah pertaruhkan demi membela kamu. Sebagaimana dulu Ummi bertaruh nyawa demi melahirkan kamu ke dunia ini."
Aku sedang menelaah dan mengingat-ingat kembali apa yang dikatakan abah dan ummi beberapa waktu lalu sebelum pak Ihsan datang. Setelah pak Ihsan datang, aku juga diajak oleh abah untuk turut serta menyimak percakapan abah dan pak Ihsan.
...***...
Saat ini, aku sedang terbaring di kamarku. Ketika ummi tahu pak Zulfikar mau ke Bandung hari ini, ummi langsung sibuk. Ummi mengajak ceu Jani dan kang Hendra untuk masak-masak.
Sedangkan dokter Rahmi dan kak Listi, saat ini sedang sibuk memancing di kolam ikan samping rumahku. Oiya, aku belum bertemu Putra. Kata abah, Putra tak bisa pulang karena padatnya jadwal weton kitab kuning.
Weton adalah salah satu sistem belajar-mengajar di pondok. Yaitu, kyai membaca kitab yang dikaji, sedangkan santri menyimak, mendengarkan, dan memberi, makna pada kitab tersebut. Putra sering menyebutnya dengan istilah ngalogat kitab kuning.
"Hahaha, dokter Rahmi kalah. Ikanku lebih besar." Sayup-sayup terdengar suara kak Listi.
"Kamu curang, yang jadi umpan 'kan cacing punya saya, tahu." Terdengar juga kalimat protes dari dokter Rahmi.
Letak kolam ikan memang bersebelahan dengan kamarku. Tapi, di antara kamarku dan kolam ikan ada lahan kosong yang saat ini sedang ditanami cabai dan tomat.
Karena merasa sedikit bosan, akupun bangun perlahan. Maksudnya hendak membuka jendela kamar agar bisa melihat aktivitas kak Listi dan dokter Rahmi. Setelah jendela kamarku terbuka, aku menarik kursi agar bisa melihat mereka sambil duduk santai.
"Hahaha, aku dapat lagi, Dok."
Kak Listi berjingkrak-jingkrak. Sementara dokter Rahmi masih duduk dan cemberut. Menatap ujung kail yang sepertinya belum menunjukkan tanda-tanda akan mendapat ikan.
"Yang kalah masuk ke kolam ya, main lumpur," tantang kak Listi yang saat ini merasa di atas angin.
"Jangan sombong Anda! Awas saja kalau saya dapat ikan lagi! Haish," dengus dokter Rahmi. Aku tersenyum melihat ulah lucu mereka.
"Ssstt, pancingku begerak." Dokter Rahmi histeris. Kak Listi melirik, bibirnya mencucu.
"Ya Allah, semoga ikan tangkapan dokter Rahmi sangat kecil, sekecil ikan teri, aamiin," ucapnya sambil menengadahkan tangan.
"Hahaha, ikan saya lebih besar. Kamu kalah, hahaha." Kini giliran dokter Rahmi yang terpingkal-pingkal.
"Jangan bangga dulu, ayo kita timbang!" teriak kak Listi.
"Siapa takut," dokter Rahmi sesumbar. Aku mengambil ponsel untuk merekam kegiatan mereka.
Di sisi kolam memang tersedia timbangan. Mula-mula, ikan hasil tangkapan kak Listi yang ditimbang.
"Satu kilo enam ons," kata kak Listi, lalu tampak harap-harap cemas saat ikan milik dokter Rahmi akan ditimbang.
"Satu kilo, ya ... empat koma lima ons," dokter Rahmi tampak lemas.
"Hahaha, kalah, kalah." Kak Listi berjingkrak lagi.
"Siap-siap aku ceburin ke kolam ya, Dok."
"Dih, ada hukuman lain gak? Saya takut digigit ikan," keluh dokter Rahmi.
"Mana bisa, kan kita sudah sepakat. Hahaha, siap-siap ya, kulit dokter yang kaya mulus itu mau berkenalan dengan masker lumpur alami," kata kak Listi.
Tapi, sesuatu terjadi. Karena terlalu bersemangat, kak Listi jadi kurang hati-hati. Kaki kanannya teperosok ke pembatas sisi kolam yang terbuat dari bambu.
"Hahaha, kualat! Makanya jangan sombong!" teriak dokter Rahmi.
"Hei, tolong kenapa, Dok. Kok malah ditertawakan 'sih?"
"Ya, ya, ya, saya tolong."
Dokter Rahmi mengulurkan tangan. Tapi kak Listi curang, langsung menarik tangan dokter Rahmi dan dihentakan ke kolam.
'Byur.' Dokter Rahmi terjatuh ke kolam, dalamnya sepinggang dokter Rahmi.
"Listi! Kamu curang ya, aku 'kan belum siap!" teriak dokter Rahmi.
"Hahaha."
Kak Listi malah tertawa puas. Dokter Rahmi sepertinya kesal. Ia berjalan ke sisi kolam, lalu tanpa aba-aba dokter Rahmi menarik kak Listi ke dalam kolam.
'Byur.' Kak Listipun masuk ke kolam.
"Dokter Rahmi!" teriak kak Listi.
Lalu kak Listi menyerang dokter Rahmi dengan menyibakkan air kolam. Dokter Rahmi tentu saja tak mau kalah, ia balik menyerang. Jadilah mereka perang air. Akhirnya keteganganpun berakhir saat keduanya sama-sama tertawa riang-gembira.
"Astaghfirullah, gadis metropolitan ternyata suka lumpur juga ya." Ceu Jani yang keluar dari area dapur terkejut melihat ulah dokter Rahmi dan kak Listi.
"Hahaha, Ceu Jani mau ikut nyebur juga?" tawar dokter Rahmi.
"No way!" tolak ceu Jani sambil geleng-geleng kepala.
Tiba-tiba, ponsel milik dokter Rahmi yang ada di kamarku bedering. Saat kuintip, yang menelepon ternyata 'My Boss.' Siapa ya? Pikirku. Awalnya, panggilan itu akan kuabaikan tapi panggilannya terus berulang-ulang. Saat ini sudah panggilan yang ke empat.
"Dokter Rahmi," teriakku sambil melambaikan tangan.
Untungnya dokter Rahmi mendengar panggilanku.
"Neng Dai? Ngintip dari situ? Hahaha, suka ya lihat kita? Asyik tahu," serunya sambil goyang-goyang.
__ADS_1
"Ada ini," kataku. Aku tak beteriak tapi sembari mengangkat ponselnya.
"Oh ada telepon? Maaf disuruh-suruh, angkat saja, Neng," titahnya. Tentu saja sambil beteriak.
"Ya ampun, aku harus bicara apa sama bosnya dokter Rahmi," gumamku. Terpaksa aku mengangkatnya walaupun dengan sedikit ragu.
"Dok, ke mana saja 'sih?! Ini panggilan ke enam, tapi kamu baru angkat!" umpat suara di balik telepon.
Deg, jantungku berdegup. Aku kenal dengan suara ini.
"Kalau kamu tak mau menjaga istriku, bicara jujur! Biar aku cari dokter yang baru! Sudah kubilang 'kan kamu harus melaporkan kondisi Hanin tiap sejam sekali?!" umpatnya lagi.
Aku terdiam, aku mengulum senyum. Jadi, pak Zulfikar marah-marah karena sangat mengkhawatirkanku. Hatiku jadi hangat.
"Halooo," teriaknya.
"Assalamu'alaukuum," sapaku dengan suara lembut.
"Sa-sayang? Emm ---, wa-wa'alaikumussalaam, istriku." Pak Zulfikar terdengar seperti gugup.
"Aku baik-baik saja, kok. Harus ya marah-marah sama dokter Rahmi?"
"Marah? Tidak sayang, aku tidak marah. Oiya, kenapa kamu yang angkat? Dokter Rahminya ke mana?" tanyanya. Tak mungkin juga aku mengatakan kalau dokter Rahmi dan kak Listi sedang main lumpur.
"Oh, mereka sedang bersama ceu Jani, Pak," jawabku.
Ya, kulihat, ceu Jani membawa makanan ke sisi kolam untuk dinikmati oleh kak Listi dan dokter Rahmi.
"Dokter Rahmi tidak sedang main-main, kan?" duganya.
"Ti-tidak Pak, tidak. Tadi hanya memancing."
"Apa kamu bilang? Awas kamu ya dokter Rahmi," ancamnya.
"Memangnya kenapa kalau mereka memancing, Pak? Aku 'kok yang mau, aku mau bakar ikan mas hasil tangkapan dokter Rahmi dan kak Listi," terangku.
"Oya? Baiklah, kalau begitu aku tak jadi marah. Bagaimana kabar kamu sayang? Apa sudah tak perdarahan?"
"Alhamdulillah tidak, Pak. Anda sudah di mana?" tanyaku.
"Ini sedang melintasi tol Cipularang sayang."
"Oh, naik taksi apa bawa mobil sendiri?"
"Hahaha, aku bersama sopir tercantik di dunia," katanya.
"Apa?! Maksud Bapak apa?"
"Aku kirim foto sopirnya ya."
Aku mengernyitkan alisku. Tak lama kemudian, ada notifikasi pesan gambar ke ponselku. Aku segera membukanya karena penasaran.
Aku terkejut. Ada foto wanita sedang mengemudi. Tapi wajahnya ditutup oleh sebelah tangannya. Rambutnya sepundak. Kulitnya bersih, jam tangannya terlihat mahal. Wanita itu memakai cat kuku berwarna merah muda. Kukunya juga lumayan panjang dan tampak sangat terawat.
Aku memegang dadaku. Maksudnya apa coba? Siapa wanita itu? Aku yakin bukan bu Dewi. Tapi, kalau bukan bu Dewi, siapa?
"Halo, ada apa lagi?"
"Cantik gak sopirnya?" tanyanya. Sungguh, ini pertanyaan yang sangat tidak penting.
"Aku baru tahu kalau di Jakarta ada layanan khusus sopir cantik," kataku dengan nada ketus.
"Ya memang ada sayang. Tapi kamu tak marah 'kan?" katanya.
"Marah? Untuk apa aku marah? Sudah dulu ya, aku lelah," keluhku.
"Sayangku, kita mau berhenti di rest area dulu apa lanjut saja?"
Terdengar jelas suara wanita. Entah aku salah dengar atau tidak, setelah suara itu, pak Zulfikar dan wanita itu seperti sedang menahan tawa. Aku kesal. Jujur, walaupun mereka hanya bercanda, tapi aku merasa ini tidak lucu.
"Hati-hati di jalan, Pak. Wassalamu'alaikuum," kataku. Lalu aku mengakhiri panggilan padahal belum mendengar jawaban salam dari pak Zulfikar.
Kemudian aku menangis. Entah apa yang kutangisi, aku juga tak tahu. Apa aku cemburu pada sopir cantik itu? Ya, wajar kalau aku cemburu. Obrolan supir itu benar-benar tak wajar. Masa memanggil sayang pada custumernya?
"Sebal, sebal, huks," gerutuku sambil terisak. Mood ibu hamil memang sering berubah-ubah.
"Kamu cemburu ya?" Ada pesan dari pak Zulfikar. Aku tak membalasnya. Hanya dibaca.
"Aku senang kalau kamu cemburu, hahaha." Aku masih tak membalasnya.
"Dengan sopir ini, aku sering tidur bersama. Waktu aku kecil, malah sering mandi bersama."
Aku mengernyitkan alis. Maksudnya apa 'sih? Aku kebingungan.
"Waktu aku kecil, dia sering membersihkan bagian terpenting dari tubuhku, aku bahkan pernah sengaja buang air kecil ke bajunya," jelasnya.
Aku menutup mulutku yang terbuka. Aku yakin jika wanita cantik itu adalah kakak kandungnya pak Zulfikar. Kalau tidak salah namanya kak Gendis. Ya ampun, apa tadi aku cemburu pada kakak iparku sendiri? Pipiku merona. Aku malu setengah mati.
"Serius kak Gendis ikut ke Bandung?" Aku segera membalas pesannya.
"Hahaha, ya sayang. Yang tadi itu memang kak Gendis. Oiya, aku membawa kabar baik. Tapi aku ceritanya nanti saja kalau kita sudah bertemu. Kamu siap-siap ya. Jangan lupa pikirkan cara lain untuk memuaskanku."
"Ish," pesannya membuatku mendengus kesal.
"Bapak 'kan ke Bandung, apa sudah izin pada bu Dewi?"
"Sudah dong sayang. Aku sama kak Gendis pulang ke rumah dulu. Aku bilang mau jenguk kamu."
"Bukannya bu Dewi sedang sakit?"
"Sudah sembuh sayang. Tadi pagi sudah diperbolehkan pulang. Hanya gelaja maag. Kata dokter, tak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Syukurlah kalau bu Dewi sembuh. Ya sudah, hati-hati di jalannya, Pak. Tak perlu cepat-cepat, santai saja." Pesan terkirim.
"Aku gak bisa santai sayang. Kan kangen kamu."
__ADS_1
"Dih," gumamku sambil tersenyum.
"Tapi akunya gak kangen, Pak. Biasa saja 'tuh."
"Hahaha, yakin kamu gak mau pegang-pegang atau dipegang-pegang?"
Kurasa, aktivitas berbalas pesan ini harus segera diakhiri. Jika dilanjutkan, khawatir akan semakin vulgar.
"Pak sudah dulu ya. Aku mau kasih kabar sama abah dan ummi kalau Bapak akan datang bersama kak Gendis."
"Sayang, aku masih mau ngobrol."
"Nanti saja Pak. Kita bisa ngobrol sepuasnya kalau Bapak sudah sampai."
"Sayang kamu tega." Di akhiri emoji banjir tangisan. Aku membalasnya dengan emoji lidah menjulur yang artinya sedang meledeknya.
"Kok begitu 'sih emojinya? Apa lidah kamu merindukanku?"
"Issh, Anda menyebalkan, Pak!" Setelah mengirim pesan itu, aku akhirnya menonaktifkan ponselku.
Aku kemudian pergi ke dapur untuk memberitahu ummi kalau pak Zulfikar akan datang bersama kakaknya.
"Abah mana, Mi?" tanyaku karena tak melihat keberadaan abah.
"Katanya mau beli buah durian dulu. Padahal belum tentu juga suami kamu suka buah durian."
"Tenang saja Ummi, aku suka 'kok sama durian."
"Ya saya juga suka durian," tambah dokter Rahmi.
Tiba-tiba saja kak Listi dan dokter Rahmi mengintip dari balik pintu dapur yang menghadap ke kolam ikan.
"Astaghfirullah! Ari kalian apa-apaan?"
Ummi kaget melihat penampilan dokter Rahmi dan kak Listi yang bermandikan lumpur.
"Hahaha," kak Listi dan dokter Rahmi malah tertawa.
"Cepat mandi!" seru ummi.
"Baik Ummi, selesai mandi kita mau bakar ikan," kata dokter Rahmi.
Setelah memberi kabar pada ummi, aku kembali lagi ke kamar.
...***...
Bosan juga ternyata kalau tak punya kegiatan. Ingin rasanya bergabung dengan ummi dan yang lainnya. Aku hanya bisa mendengar sayupan mereka yang sepertinya tengan asyik melakukan banyak kegiatan di dapur kotor rumah ini.
Jika tak ada aral-lintang, pak Zulfikar akan tiba dalam waktu kurang lebih empat puluh menit lagi. Selagi menunggu, aku memutuskan untuk mandi dan maskeran.
Selesai mandi, aku rebahan lagi. Hingga kantukpun datang tanpa bisa kuhindari. Entah berapa lama aku tertidur.
Aku terbangun karena samar-samar mendengar suara abah yang tengah asyik mengobrol dengan seseorang. Suara seseorang itu sangat familiar di telingaku.
"Pak Zulfikar sudah datang? Ya ampun, kok bisa 'sih aku tidur sepulas ini?"
Aku terkejut bukan kepalang. Apa lagi saat melihat tas pak Zulfikar sudah berada di kamarku. Semakin terkejut lagi saat aku menyadari jika pakaian bagian atasku telah raib entah ke mana.
"Aaaa," teriakku, pelan. Karena saat becermin, kumelihat ada tanda cinta di leher dan dadaku.
Berarti yang tadi itu bukan mimpi. Aku memukul kepalaku sendiri.
Lalu aku mendengar derap langkah kaki yang sepertinya hendak masuk ke kamarku. Aku naik kembali ke tempat tidur, menarik selimut dan memosisikan diri seperti sebelumnya. Aku pura-pura tidur.
"Ya ampun, belum bangun juga?"
Suara itu ... suara suamiku. Dia benar-benar ada di kamarku. Aku gugup. Jantungku dag dig dug. Dan pak Zulfikar malah naik ke tempat tidur. Di menyingkap selimut, lalu menciumi perutku. Tanganku mengerat pada sprei. Serius, ini geli sekali.
"Apa kalian ingin dijenguk?" tanyanya sambil menempelkan bibir di bagian pusarku.
"Tidak, mereka tidak ingin dijenguk," sahutku.
"Sayang, kok kamu yang jawab 'sih?" Melihat aku berbicara dan membuka mata, pak Zulfikar langsung memelukku.
"Pak, a-aku mau salim."
"Sebentar sayang, aku mau peluk dulu. Oiya, tadi aku sudah ...."
Pak Zulfikar membisikan sesuatu yang dia lakukan pada tubuhku saat aku tertidur. Aku tak berkomentar, hanya saja, pipi ini rasanya panas karena teramat malu.
"Anda nakal! Kenapa tak izin dulu?" protesku.
"Hahaha, maaf sayang, tadi tak bisa ditahan. Ya sudah, tadi 'kan aku tak meminta izin, untuk yang sekarang, aku mau minta izin, apa boleh?" tanyanya. Bibirnya mendekat ke wajahku. Tapi ....
"Owwheeek," aku tiba-tiba mual.
"Ke-kenapa sayang?" Pak Zulfikar panik.
"Apa Anda makan durian?"
"Ya sayang, hanya makan satu, kok. Aku memakannya karena abah menyuruhku. Aku sebenarnya tak begitu suka durian."
"Satu buah apa satu biji, Pak?"
"Sebiji sayang," sambil mengangkat jari tengah dan jari telunjuknya.
"Owheek, a-aku tak suka buah durian, Pak. Ma-maaf napas Anda beraroma durian, a-aku kurang suka." Sambil menutup hidungku.
"Ya ampun, ya sudah, aku gosok gigi dulu ya sayang." Pak Zulfikar bergegas ke kamar mandi sambil tersenyum-seyum.
...~Tbc~...
...Yuk komen yuk!...
...Marhaban Ya Ramadhan. Selamat menjalankan ibadah puasa 1 Ramadhan 1443 hijriyah bagi kamu muslimin dan muslimat yang malam ini sudah mulai melaksanakan ibadah shalat tarawih....
__ADS_1
...Semoga ibadah kita dan puasa kita selalu diridhoi dan dirahmati oleh Allah SWT. Aamiin....