
Daini Hanindiya Putri Sadikin
Aku memeluk plastik oleh-oleh ini sambil menatap bingung ke arah rumah megah itu. Taman di rumah inipun bak taman bunga nasional. Luas sekali. Entah ada berapa jenis bunga yang ditanam di sini. Taman ini begitu indah. Di setiap sudutnya dihiasi lampu taman cantik dengan warna yang berbeda.
Sungguh, aku merasa sangat tak percaya diri.
Apa aku harus tetap bertahan demi anak yang kukandung ini? Atau pergi saja dan menghidupi diriku sendiri tanpa bantuan siapun? Jika tak pulang ke Bandung dan tak bekerja di kantornya pak Zulfikar, apa aku bisa bertahan?
Kegelisahan melanda, melihat para wartawan itu dan melihat kemegahan ini, aku jadi semakin sadar kalau aku sama sekali tak layak bersanding dengannya. Kekayaan mereka sungguh di luar ekspektasiku. Bayangkan, lampu tamannya saja berbahan kristal. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana megahnya interior rumah itu. Ini bukan rumah, ini istana.
Jika kehadiranku adalah sumber masalah, jika keberadaanku bisa menyebabkan pak Zulfikar dan keluarganya tak harmonis, jika aku menimbulkan penderitaan bagi Dewi, lantas kenapa aku tak pergi saja? Kenapa aku memaksakan diri untuk bertahan?
Walaupun pak Zulfikar tidak menceraikanku, bukankah aku bisa pergi sendiri?
Saat ini, status peceraian itu sudah tak penting lagi. Toh, aku juga sudah mengandung. Tanpa status jandapun, saat orang-orang melihat kehamilanku, mereka pasti akan tahu kalau aku sudah menikah.
Benar, aku harus pergi. Aku bisa menggunakan uang tabunganku untuk bertahan hidup dan buka usaha kecil-kecilan. Aku harus berani mengambil sikap demi kebaikan pak Zulfikar.
Jika pak Zulfikar tulus mencintaiku, setidaknya, aku harus membalas cintanya dengan cara tidak menimbulkan masalah untuknya.
Bismillah, semoga kepergianku adalah solusi terbaik untuk masalah ini. Aku beranjak, membawa puding dan sistik yang kubuat.
"Pak Zulfikar, maafkan aku .... Aku tak bisa bersama Anda. Aku terlalu takut dengan keluarga Anda," gumamku sambil celingak-celinguk mencari jalan keluar.
Aku mengendap, namun akhirnya aku tertangkap juga. Ya, aku memang tak mungkin bisa lolos dari rumah dengan penjagaan super ketat seperti ini.
"Maaf, bukannya Anda tadi datang bersama pak Zulfikar?" tuduh seorang petugas keamanan. Yang lainnya menatapku dari atas sampai bawah.
"Ya, Pak. A-aku tadi memang ke sini bersama pak Zulfikar. Aku ... aku ...." Berpikir keras mau memberi alasan apa pada mereka.
"Emm, a-aku karyawan catering. Ke sini bersama pak Zulfikar karena kebetulan bertemu di tempat catering. Aku mau mengantar ini, Pak."
Syukurlah, tiba-tiba ada ide. Aku menyerahkan plastik berisi puding dan sistik itu pada bapak yang tadi berbincang dengan pak Zulfikar.
"Oh, begitu. Mbak tidak masuk dulu?" tanyanya.
"Ti-tidak Pak. Ini sudah dibayar kok. Aku mau langsung pulang saja. Tapi lupa jalan keluarnya, Pak. Rumahnya terlalu besar," kataku sambil tersenyum. Semoga tidak ada yang curiga. Ya Rabb hamba memohon perlindungan-Mu.
"Mari saya antar, Mbak." Bapak yang sedari tadi menatapku menawarkan bantuan.
Alhamdulillah.
"Terima kasih, Pak." Aku menguntit bapak tersebut.
Akhirnya, sampai juga aku di gerbang keluar. Saking jauhnya, kakiku sampai terasa pegal. Pantas saja tadi di aku melihat deretan sepeda. Aku yakin sepeda itu untuk digunakan para pekerja.
"Pulang ke mana memangnya, Mbak?" Tatapan petugas keamanan itu terlihat berbeda. Maaf, aku bukannya salah sangka. Hanya sedang waspada saja.
"Lumayan jauh, Pak."
"Mau saya antar?"
"Tidak perlu, Pak. Sebentar lagi mau dijemput suamiku, kok." Aku pura-pura memainkan ponsel. Padahal, ponsel itu sudah aku matikan agar pak Zulfikar tidak meneleponku.
"Oh, sudah menikah? Kirain masih gadis, Mbak."
Benar 'kan? Pria ini ternyata ada maunya. Aku pura-pura tak mendengar.
"Sayang, kamu di mana? Aku sudah di depan gerbang rumahnya pak Aksa," kataku.
Ceritanya sedang teleponan dengan suamiku. Aku berharap bapak itu cepat pergi. Sayang, dia tak peduli. Malah berkata ....
"Saya akan menemani Mbak sampai suaminya datang." Terus menatapku.
"Pak Soni, kita semua disuruh kumpul oleh pak Zulfikar," seru seorang petugas keamanan yang datang sambil berlari dan terlihat panik.
"Oh ya ampun, ada apa ya? Baik, saya ke sana. Mbak, saya tinggal ya, salam sama suami Mbak. Jangan lupa lapor sama saya kalau suami Mbaknya galak," katanya sebelum ikut berlari dan meninggalkanku.
Perasaanku tak enak, aku khawatir pak Zulfikar memanggil petugas keamanan untuk mencariku. Jantungku berdebar. Segera berjalan cepat menuju ujung jalan. Aku berharap menemukan ojek yang bisa kutumpangi. Sayangnya, tidak ada satupun ojek di kawasan ini
"Bagaimana ini?" Aku kebingungan.
Kalaupun aku menelepon kan Listi, akan percuma juga karena rumah kak Listi dan kawasan ini jaraknya sangat jauh. Aku akhirnya terus menyusuri jalan utama untuk mencapai jalan raya. Aku tidak memesan kendaraan online karena takut ditelepon pak Zulfikar saat aku mengaktifkan ponsel.
Ya Allah, aku kelelahan. Dari rumah pak Zulfikar ke jalan raya ternyata jauh juga. Tadi aku tak menyadarinya karena naik mobil. Airmataku spontan bederai. Dada ini terasa sesak. Lagi, aku menyesali keputusanku untuk dinikahi.
__ADS_1
Karena kian lelah. Aku terduduk di trotoar. Keringat dingin membasahi pelipisku. Peluh itu turun ke pipi dan bercampur dengan air mata.
"Ummi ... abah .... Kalau aku pulang dan di rumah saja mengurus peternakan ikan, apa boleh? Jakarta ternyata sangat keras." Aku menundukkan kepala, lututku jadi tumpuan.
Di saat seperti ini, aku malah mengharapkan kehadiran pak Zulfikar. Padahal, aku pergi juga karena ingin menjauh dari kehidupannya. Aku menengadahkan kepala, menatap sang rembulan yang bersinar terang.
Tapi, kalau aku berhenti bekerja, kak Listi pasti akan mencari tahu keberadaanku. Jika kak Listi tak menemukanku, dia pasti akan menghubungi abah dan ummi. Kalau ummi dan abah tahu masalahku, aku takut membebani mereka.
Terlebih membebani ummi. Ummi memiliki riwayat penyakit jantung, aku tidak mungkin memperberat penyakit ummi dengan masalahku. Dulu, ummi pernah kolaps jantung setelah mendengar paman meninggal. Maka dari itu, kita sekeluarga selalu berusaha untuk menjaga perasaan ummi.
Alhamdulillah, saat aku dan pak Zulfikar membeberkan fakta itu, ummi baik-baik saja.
"Ummi, huks." Aku merindukan belaian dan dekapannya.
Tiba-tiba, ada ojek online melintas. MasyaAllah, ini pertolongan-Nya. Alhamdulillah wasyukurillah.
"Pak," panggilku. Dia sepertinya usai mengantar penumpang.
"Ya, Neng?" Aih, memanggilku neng, si bapak pasti orang Sunda.
Apa aku terlihat sangat muda? Kok bisa bapak ini memanggilku neng?
"Aku mau order manual, Pak. Hp-ku mati." Maaf aku berbohong.
"Ya ampun, Bapak kaget, Neng. Malam-malam begini ada bidadari nongkrong. Tadi sempat lihat kaki Neng dulu, takut gak napak, hahaha," katanya.
"Ih, ari si Bapak. Tiasa teu? (Bisa tidak?)," tanyaku.
"Eleuh, orang Sunda, Neng? Tiasa atuh geulis (bisa dong cantik)," jawabnya. Bapak ini sedikit meresahkan juga. Tapi, aku tak punya pilihan lain. Terpaksa naik ojek dengan pengemudi pria untuk pertama kalinya. Padahal, biasanya selalu naik ojek khusus akhwat.
"Bade kamana, Neng? (Mau kemana, Neng?)"
"Ke apartemen ...." Menyebutkan nama apartemen yang kumaksud.
"Eleuh, itu 'kan apartemen termahal di Jakarta. Neng sultan, ya?"
"Sanes Pak, gaduh rerencangan abdi (bukan Pak, punya temanku)."
"Oh," katanya.
Ya, untuk sementara, aku akan tetap bekerja. Tapi harus menghindari pak Zulfikar. Dengan begitu, aku harap dia lelah dan mau menceraikanku. Aku juga akan mengundurkan diri dari perusahaan secepatnya.
Tapi, bagaimana dengan bu Dewi? Bukankah di adalah manajerku?
Aku harus siap dengan apapun risikonya. Tidak mungkin juga mengundurkan diri dari perusahaan begitu saja tanpa mengikuti birokrasi. Perusahaan itu telah memperlakukanku dengan baik. Sebab pada dasarnya, aku memang tak memiliki masalah apapun dengan perusahaan.
Sepanjang perjalanan menuju apartemen, aku terus berpikir dan berpikir.
...🍒🍒🍒...
Akhirnya tiba juga. Lega rasanya.
"Terima kasih, Pak."
"Sama-sama, Neng geulis (cantik)," ujarnya.
Saat berada di dalam lift, tangisku kembali pecah. Terbayang lagi kala aku selalu bersembunyi di balik dadanya saat melewati lift ini bersama pak Zulfikar.
Dan setibanya di dalam unit, aku mematung. Aku sadar jika jiwa dan raga ini telah terlena dibuatnya. Sedikit demi sedikit, aku ternyata telah menyukai dan mengaguminya. Namun perasaan itu selalu aku tepis agar tak pernah berubah menjadi cinta dan ingin memilikinya.
Aku mengambil bajuku seperlunya, terutama benda ini. Yaitu tespek positif dua dan foto hasil USG. Aku juga mengambil satu kemeja miliknya untuk dipeluk jika aku tiba-tiba merindukannya. Aku juga mengambil peralatan mandi dan sebotol kecil parfum miliknya.
"Huuuks."
Di kamar mandi aku terpuruk. Apa yang sering dilakukannya terhadapku di tempat ini, membuat batinku sakit. Bathup itu sering menjadi saksi bisu ungkapan birahinya terhadapku. Bathup itu tahu benar bagaimana tubuhku terlena dan terkesan menyukai segenap perlakuannya.
Aku berlari meninggalkan kamar mandi agar dada ini tidak semakin sesak. Kuraih koper milikku dan memasukan semua barang yang akan kubawa sambil menangis. Rasanya, aku tak ingin menatap kamar ini lagi. Karena di kamar ini sering terjadi adegan sungguhan dari sebuah mahligai rumah tangga.
Shalat berjamaah, bercengkrama, menonton TV bersama, becerita, dan bercinta layaknya pasangan yang benar-benar saling mencintai.
"Huuu, huuu. Pak Zukfikar ...."
Aku menyebut namanya saat menutup pintu kamar. Kumematung sejenak untuk menenangkan diri. Lalu menghela napas berulang kali untuk mengumpulkan keberanian. Kemudian dengan langkah mantap aku keluar dari unit sambil tersenyum. Sebuah senyuman terpaksa yang kuciptakan untuk menyemangati diri sendiri.
...🍒🍒🍒...
__ADS_1
Hotel ini sedang promosi. Syukurlah, dengan budget satu juta rupiah, aku bisa tinggal tiga hari tiga malam sebelum mendapatkan kostan baru. Kelebihannya, hotel ini hanya berjarak tiga kilometer dari tempat kerjaku. Kekurangannya, tak ada sarapannya.
Sebelum ke hotel, aku telah membeli nomor baru agar bisa menggunakan HP-ku tanpa ada gangguan dari pak Zulfikar.
Saat merebahkan diri, kepiluan itu kembali melanda.
Apa aku berdosa karena pergi tanpa seizinnya? Bukankah seorang istri tak boleh keluar rumah tanpa izin atau tanpa sepengetahuan suaminya?
Ya, aku tahu ini salah. Tapi ... aku melakukannya karena banyak alasan. Jika hal ini tetap dikategorikan sebagai sebuah dosa, aku hanya bisa memohon agar Yang Maha Esa menerima taubatku.
Lalu dengan menggunakan nomor baru, aku mengirim pesan pada ummi.
"Assalamu'alaikum. Ummi dan Abah baik-baik saja, kan?"
"Ummi, alhamdulillah, Daini tos ditampi ku keluargina pak Zulfikar (Daini telah diterima oleh keluarganya pal Zulifikar)."
"Garwana oge tos tiasa nampi Daini (istrinya juga sudah bisa menerima Daini)."
"Tapi Daini kedah tetep janten istri sirina. Sawios nya Ummi, Abah, hehehe (Tapi Daini harus tetap jadi istri sirinya. Tidak apa-apa ya Ummi, Abah, hehehe)."
"Yang penting mah Daini bahagia 'kan?"
"Alhamdullilah, Daini bahagia. Ummi sareng Abah teu kenging hawatos (Ummi dan Abah tak perlu khawatir)."
"Oiya, A Putra tos hafal sabaraha nadhom kitab Alfiyahna? (Oiya, A Putra sudah hafal berapa nadhom kitab Alfiyahnya?)."
Aku menulis pesan untuk ummi dengan jemari gemetar dan deraian air mata. Aku harus memastikan kalau mereka tak tahu penderitaan dan kesedihanku.
Sebenarnya, aku ingin sekali mengatakan pada ummi kalau aku telah berbadan dua, tapi ... aku belum memiliki keberanian.
"Maaf kalau akhir-akhir ini aku jarang pulang ke Bandung. Nuju (sedang) sibuk sama project baru. Hehehe, Neng keren 'kan, Mi?"
"Pak Direktur Eksekutif bahkan mau mengajakku bertemu dengan klien. Pertemuannya besok. Mohon doanya semoga lancar ya, Mi. Rada (agak) gugup. Wkwkwk."
Aku mengakhiri pesan dengan mengirim emoji bahagia dan ucapan salam.
"Huuu, ummi ... abah ...." Faktanya, aku langsung meraung-raung setelah mengakhirinya.
Karena belum mengantuk, aku menyalakan televisi.
Deg, tidak ....
Seorang repoter terlihat sedang memaparkan berita di halaman rumah pak Aksa. Langsung kumatikan karena tak ingin tahu urusan mereka.
Tapi aku menyalakannya lagi saat tak sengaja kamera wartawan membidik sosoknya.
Pak Zulfikar?
Dia duduk di kursi belakang sambil menunduk. Wajahnya memang tak terlihat, tapi ... aku mengenalinya.
Apa yang sedang dia lakukan? Kenapa duduk di kursi belakang dan terus menunduk?
Karena penasaran, aku mengaktifkan volume TV yang tadi sempat aku mute.
"Produk kecantikan ini adalah produk pribadi yang biasa digunakan oleh bu Dewi Laksmi. Lalu diproduksi secara masal karena banyak yang meminati dan merasa cocok, lalu bu Yuze ---."
Aku segera mematikan TV karena merasa tak berkepentingan untuk mengetahui produk itu. Ternyata, kehadiran para wartawan adalah untuk membahas produk kosmetik milik bu Dewi. Mereka sangat luar biasa.
Aku mengusap perutku karena tiba-tiba merasa lapar. Harusnya, tadi aku membeli sesuatu dulu. Terpaksa keluar dari hotel untuk mengobati rasa lapar ini.
Ketika selesai mengantri nasi goreng, cuaca tiba-tiba mendung dan hujanpun datang. Lengkaplah sudah deritaku ini. Aku kehujanan karena tak membawa payung. Sekarang sedang berteduh di sebuah ruko yang sudah tutup.
Aku berjongkok sambil menggenggam erat nasi goreng. Gemuruhnya hujan seirama dengan gejolak batinku. Lalu aku memohon kepada-Nya agar penderitaan ini hanya terjadi padaku saja. Jangan sampai terjadi anak cucuku. Dan hujan ini tak kunjung reda malah semakin besar saja.
Walau tak terkena air hujan secara langsung, tapi ... aku mulai kedinginan. Dari berjongkok, aku merubah posisiku menjadi duduk. Aku lantas mencuci tangan dengan air hujan. Kupikir, dengan makan nasi goreng saat ini juga, perutku akan berhenti melilit.
'Ckiiit.' Aku terkejut.
Sebuah mobil minibus tiba-tiba berhenti di depan ruko yang kusinggahi. Saat aku hendak menyuap, kaca depannya tiba-tiba terbuka.
"Daini?!"
Seseorang dari mobil itu memanggilku. Aku terkejut dan menatap ke sana dengan tatapan tak percaya.
...~Tbc~...
__ADS_1
...Yuk komentar yuk! Siapa ya yang memanggil neng Daini? Kalau komentarnya banyak, insyaaAllah, hari ini, nyai akan memantau TBR lagi dan up lagi....