Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Pintu Maaf yang Sulit Terbuka


__ADS_3

"Mas, huuu."


Dia memelukku. Dengan terpaksa tidak menepisnya karena ada mama. Bang Radit menunduk. Tangannya terlihat gemetaran. Aku, mama dan pak Reza, saat ini sudah berada di kamar Dewi. Dia tinggal di rumah pemberianku.


"Sejak kapan perdarahannya, sayang? Flek apa banyak?"


"Flek-flek Mama. Aku tadinya mau menelepon dokter pribadiku agar ke sini. Tapi, aku takut membuat mamiku khawatir. Jadi, aku menyuruh Radit menelepon Mas Zul," terangnya.


"Ya sudah, sekarang kita ke rumah sakit saja yuk!" ajakku.


"Enggak perlu, Mas. Sekarang perdarahannya sudah berhenti, 'kok," tolaknya.


"Kamu harus diperiksa, Wi. Aku tidak mau terjadi sesuatu sama calon anakku. Atau, jika kamu tidak mau ke rumah sakit, aku akan mendatangkan dokter kandungan ke rumah ini," tegasku.


"Emm, ba-baiklah, tapi aku mau dokter pribadiku saja yang memeriksaku, Mas. Nanti aku akan telepon mamiku agar dokternya datang ke sini."


"Baik, aku dan mama akan menunggu di sini sampai dokter yang kamu maksud tiba."


"Terima kasih, Mas."


Dia kembali memelukku. Ingin rasanya aku menyingkirkan tangannya. Namun, di kamar ini ada mama, pak Reza dan bang Radit.


...⚘️⚘️⚘️...


Aku lantas menunggu dokter pribadinya di ruang tamu. Ini rumahku, tapi terasa begitu asing.


"Pak Zulfikar, saya merasa aneh sama Radit. 'Kok tangan dia gemetaran terus ya, Pak?"


"Mungkin, dia takut disalahkan, Pak."


"Oh, begitu ya. Tapi, biasaya dia tidak pernah terlihat seresah itu."


"Hanya perasaan Pak Reza saja," sahutku. Sementara mama, masih berada di kamar untuk menemani wanita itu.


"Pak, aku mau tidur di kamar tamu dulu ya. Ngantuk." Pikirku, lumayan bisa tidur sebentar selagi menunggu dokter yang akan memeriksanya.


"Silahkan, Pak."


...⚘️⚘️⚘️...


Baru kali ini aku tidur di kamar tamu rumahku sendiri. Kamar ini bersebelahan dengan kamarnya Inar, asisten rumah tanggaku.


Setelah merebahkan diri, kupikir akan bisa tidur. Tapi aku salah. Mata ini sulit terpejam. Tiba-tiba terpikirkan langkah hukum apa yang akan kulakukan pada wanita itu. Lantas rindu pada Hanin dan bayi kembarku.


Benar, dengan tidak mempermalukannya di hadapan publik, semoga saja bisa dijadikan sebagai ungkapan rasa terima kasihku karena dia sudah berkenan mengandung anakku.


'Tok tok.' Ada yang mengetuk pintu.


"Siapa?"


"Inar, Pak."


"Ada apa?! Beraninya kamu ganggu istirahatku!"


"Pak, a-aku mau bicara. Bicara di luar kamar saja, Pak. Maaf, aku tidak bermaksud lancang sama Bapak," sahutnya.


Suara Inar terdengar seperti ketakutan. Ada apa 'sih? Tadi, pak Reza menuding gelagat anehnya bang Radit. Sekarang, Inar juga agak aneh. Walaupun malas, terpaksa membuka pintu kamar.


"Pak, ampun Pak." Inar langsung bersimpuh di bawah kakiku.


"Gila kamu ya Inar?! Kamu kenapa?! Bangun!" Aku menarik tangannya agar segera berdiri. Namun ia menolak. Malah terisak-isak.


"Huuks, huuks, ja-jangan pecat aku, Pak," ratapnya. Masih bersimpuh. Ada yang tidak beres.


"Cepat masuk! Kita bicara di dalam kamar! Kamu aneh sekali!"


"Ta-tapi, Pak."


"Tak masalah! Ada CCTV! Cepat!" desakku.


"Ba-baik, Pak." Inar mengikutiku ke dalam kamar. Dia dalam kamar, bukannya diam. Dia malah lanjut menangis.


"Inar! Jangan membuatku emosi, ya! Katakan ada apa?! Aku lelah! Aku kurang tidur! Tolong pahami keadaanku! Biar bagaimanapun, aku tetap majikan kamu!" bentakku.


"Pak, huuu. Aku memberanikan diri bicara sama Bapak karena ada hal penting. Awalnya, aku akan tutup mulut, tapi ... aku tidak mau mengkhianati Bapak."


"Jangan bertele-tele, ada apa?" Aku memelankan suaraku.


"Huuks, ta-tapi ... Bapak janji tidak akan memecatku, ya."

__ADS_1


"Ya, aku janji."


"Pak, begini," ia mengusap air matanya sambil melirik ke pintu keluar. Menyiratkan jika yang akan ia katakan adalah sesuatu yang sangat rahasia.


"Se-semenjak Bapak tidak datang lagi ke sini, bb-bu Dewi ---. Emm ---." Terlihat ragu-ragu.


"Kalau kamu tidak bicara jelas, aku justru akan memecatmu."


"A-aku pernah melihat bang Radit masuk ke kamar bu Dewi, Pak," terangnya. Lalu menunduk dan gelisah.


"Bang Radit masuk ke kamar? Maksud kamu? Tapi 'kan saat aku ada, bang Radit memang biasa masuk ke kamarku." Alisku mulai mengernyit.


"Pak, sekali lagi, aku minta maaf. Tapi, akhir-akhir ini, aku pernah dua kali tidak sengaja melihat bang Radit menangis di kamarnya. Saat aku tanya, dia tidak pernah menjawab. Dua hari yang lalu, bang Radit juga sakit, Pak. Tapi dia tidak mau berobat. Aku juga enggak tahu dia sakit apa. Yang jelas, bang Radit mengurung diri di kamarnya. Lalu pada malam harinya, aku melihat bu Dewi masuk ke kamarnya bang Radit."


"Apa?! Apa kamu tidak sedang mengarang cerita?!"


"Tidak, Pak. Aku berani bersumpah."


"Aku tahu kamu jujur! Tapi aku perlu bukti! Aku mau lihat CCTV!" Aku beranjak dengan perasaan yang tidak menentu.


"Percuma Bapak melihat rekaman CCTV. Kalau tidak salah, akses CCTV di depan kamar Bapak dan yang di dalam rumah sudah lama mati, Pak."


"Diam kamu! Aku mau cek!"


Aku tidak mengindahkan keterangan Inar. Tetap bergegas ke ruang kerjaku untuk mengeceknya.


...⚘️⚘️⚘️...


Benar saja, rekaman CCTV yang ingin kulihat telah mati sejak tiga minggu yang lalu. Apa yang sebenarnya terjadi? Tanganku mengepal kuat.


"Inar!" teriakku.


"Ya, Pak." Inar yang berdiri di ambang pintu mendekat perlahan.


"Cepat kamu panggil bang Radit agar ke ruang kerjaku!"


"Ta-tapi, Pak ---."


"Cepat Inar!"


"Baik, Pak." Inar berlari.


"A-ada apa, Pak?"


"Duduk, Bang. Aku mau bicara."


"Aku pamit, Pak. Lagi masak, takut gosong." Inar beralibi.


"Ya sudah, kamu boleh pergi."


Aku mengizinkan Inar meninggalkan ruang kerjaku. Sebentar lagi adzan Shubuh, aku harus menuntaskan kejanggalan ini sebelum adzan berkumandang. Bang Radit enggan duduk. Ia bersikukuh berdiri dengan posisi yang tidak berubah.


"Kenapa Bang Radit tidak melapor kalau ada CCTV yang rusak? Biasanya Bang Radit lapor, 'kan?"


"Ya, Pak. Maaf, saya salah."


"Apa ada yang kamu sembunyikan dariku?" Bertanya sambil mendekati bang Radit. Ia langsung mundur beberapa langkah.


"Ti-tidak ada, Pak. Maaf, saya lalai. Saya tahu ada CCTV yang rusak, tapi lupa melapor pada Bapak." Malah semakin menunduk dan tangannya kembali gemetaran. Aku jadi curiga.


"Bang Radit," aku menarik tangannya yang terasa dingin sekali. Bang Radit spontan menepisku dan seolah menyembunyikan sesuatu.


"Kenapa tidak potong rambut? Sejak kapan kamu menyukai rambut gondorong?" Karena sudah menganggapnya sebagai teman, aku tidak sungkan menyingkap anak rambut yang menutupi daun telinganya.


"Bang Radit?!" Aku terhenyak. Bang Radit semakin gugup.


"Kenapa telingamu, hahh?" Ujung daun telinganya bengkak dan membiru.


"Sa-saya tidak apa-apa, Pak."


"Jangan bohong kamu Radit!"


Aku hilang kendali. Tanda kekerasan itu membuatku dejavu. Lalu tanpa pikir panjang, aku menarik paksa kemeja bang Radit hingga robek dan kancingnya berceceran.


"Ra-Radit?!" Mataku membeliak. Bersamaan dengan itu, bang Radit bersimpuh dan memeluk kakiku.


"Pak Zulfikar, saya pantas mati. Anda boleh membunuh saya saat ini juga. Tapi tolong jangan melaporkan saya ke polisi," pintanya.


Ia memeluk kakiku erat di saat tubuhku mematung dan napasku berhembus cepat karena luapan emosi yang aku sendiri bingung menghadapi dan mengendalikannya. Aku memastikannya lagi. Masih berharap jika aku salah lihat. Namun ternyata, aku tidak salah lihat. Punggung bang Radit dipenuhi luka memanjang. Begitupun dengan dadanya. Itu seperi luka cambuk yang dilakukan berulang-ulang.

__ADS_1


"Ss-siapa pelakunya?! Siapa yang menyakiti tubuhmu?" geramku. Gigiku sampai gemeretak karena menahan emosi yang hampir meledak. Sebenarnya, aku tahu pelakunya. Pasti dia!


"Pak Zulfikar ... saya salah. Maafkan saya Pak. Saya pantas mati." Malah mencium kakiku.


"Lepas!" hardikku sambil menghentakkan kakiku.


"Pak ... saya mohon maafkan sa ---."


"Apa istriku pelakunya?!" selaku sembari menjambak rambutku sendiri.


"Pak ...."


"Bicara Radit! Bicaraaa!" teriakku. Lalu melempar laptop ke hadapannya.


'PRAK.'


"Pak, saya mau mati saja." Dia mengambil pecahan monitor.


"Radit! Istighfar!"


'DUK.' Aku menendang kuat tangannya agar serpihan monitor itu terlepas.


"Pak."


"Bicara jujur Radit!" Aku mencekiknya.


"Uhhuk uhhhuk."


Dia terbatuk. Lalu aku mendorongnya kuat hingga tubuhnya tersungkur ke lantai. Emosiku kian memuncak saat melihat bagian perut bang Radit dipenuhi tanda cinta sekaligus tanda kekerasan.


"Kamu tidur dengan dia?! Sejak kapan hahh? Sudah berapa kali?!" teriakku sambil bertolak pinggang.


Dada ini panas. Tapi bukan karena cemburu. Melainkan karena tingkat jijikku pada wanita itu yang semakin meningkat. Bang Radit menatapku, matanya berkaca-kaca. Ia menyatukan kedua tangan di dadanya. Lelehan air mata bang Radit membuatku sedikit iba. Segera beristighfar dan melonggarkan dasiku agar bisa sedikit tenang.


"Katakan perlahan, jangan takut." Berusaha memelankan suaraku.


"Ke depannya, to-tolong jangan menghakimi saya, Pak. Ekonomi keluarga saya sangat bergantung pada saya. Saya juga mohon perlindungan dari Bapak agar masalah ini tidak sampai diketahui oleh orang tuaku," lirihnya. Posisinya masih dalam keadaan tersungkur di lantai.


"Baik, cepat katakan." Sementara tanganku bekerja menyalakan tombol perekam suara di ponselku.


"I-Ibu menjebak saya, Pak. Saat Inar tidak ada, saya diajak Ibu untuk menemaninya makan malam. Saya mabuk dan ...." Dia terdiam.


"Katakan semuanya."


"Saat saya bangun, saya sudah berada di sebuah kamar. Awalnya, saya tidak tahu berada di mana karena saya diikat dan mata saya ditutupi topeng." Kepalanya menggeleng. Sepertinya, sangat terbebani dan tersiksa.


"Jangan takut. Sekarang, Bang Radit sudah tahu semuanya. Jadi, aku juga tidak akan menutupinya lagi."


"Saat itu, selain mabuk, saya juga sangat ingin melakukan aktivitas itu. Sa-saya yakin Ibu memberikan obat pemicu gairah pada minumanku. Lalu .... Saya tidak bisa menceritakannya lagi, Pak."


"Bicara saja. Atau aku akan mempermalukan Bang Radit," ancamku.


"Saat saya sangat menginginkan aktivitas itu, seorang wanita menjamah tubuh saya, Pak. Dia memaksa tubuhku untuk melakukan perbuatan hina itu. Cu-cukup ya, Pak." Lalu bang Radit menangis sambil memeluk lututnya.


"Apa dia mengancammu?" Sambil mengusap bahunya.


"I-iya Pak. Saat semuanya sudah selesai serta efek mabuknya hilang, saya sadar ada di kamar Bapak dalam keadaan polos, dan ternyata ... topeng yang saya pakai adalah foto wajah Anda. Saya ingin segera melaporkan kejadian itu pada Bapak. Namun bu Dewi terus mengancamku. Dia mengancam akan menyebarkan vidio blue-ku dan membuat keluargaku tidak tenang."


"Lalu?" tanyaku.


"Ma-maaf, Pak. Sejak kejadian itu, ibu sering memaksa saya untuk memuaskan tubuhnya. Jika saya menolak, ia mengancamku. Saat saya melakukannya, saya dipaksa memakai topeng foto Bapak dan pura-pura berperan sebagai Bapak. Ibu baru mau berhenti setelah tubuh saya kesakitan dan tidak berdaya lagi," tuturnya.


Aku mengepalkan tangan. Dia monster gila!


"Saya mengaku salah. Saya hina, Pak. Saya ingin mengundurkan diri, tapi tolong lindungi nama baik saya. Sa-saya mohon."


Bang Radit kembali bersujud di kakiku. Duniaku seolah-olah berputar gara-gara wanita itu. Kaki ini rasanya tidak menapaki bumi. Marah, kesal, dan perasaan jijik menjadi satu.


"Silahkan, Bang Radit boleh pergi, dan maaf karena aku sudah melibatkan Bang Radit sampai sejauh ini. Aku berjanji akan melindungi Bang Radit dan memenuhi kebutuhan ekonomi Bang Radit beserta keluarga."


"Pak." Dia berdiri tertatih untuk memelukku. Aku membalas pelukannya.


"Dia wanita gila, Bang. Aku ingin menghancurkannya, namun di dalam tubuhnya masih ada darah dagingku."


"Sa-saya mengerti perasaan Bapak. Maaf karena pada akhirnya, saya terpaksa mengambil milik Bapak. Sebagai pria hina yang lemah iman, terkadang ... saya juga menikmatinya. Saya menyesalinya, saya pendosa, saya pezina, saya dan bu Dewi ---."


"Cukup, jangan dibahas lagi. Sebenarnya, aku sudah lama tidak menganggapnya sebagai istriku. Awalnya, aku baru akan menceraikannya setelah dia melahirkan anakku. Tapi, dengan kejadian ini, pintu maafku untuk dia semakin sulit terbuka, dan aku yakin akan menceraikannya saat ini juga."


...⚘️⚘️⚘️...

__ADS_1


...~Tbc~...


__ADS_2