
Ucapan pengamen itu benar-benar membuatku tak tenang. Namun aku berharap itu jadi kenyataan. Aku harus memastikannya pada Hanin.
Ngomong-ngomong, kemana aku harus mencari kerak telur?
Sudah berputar-putar, tapi tak jua menemukannya.
Ya ampun, bagaimana ini?
Padahal sudah sejam lebih aku berputar-putar.
.
Karena lelah, aku mendudukkan diriku di trotoar. Kondisi di daerah ini terasa sunyi. Sesunyi hatiku. Hampa nan lenggang tanpa lalu-lalang.
Suhu udara mulai dingin. Aku memeluk tubuh ini dalam keheningan. Terasa ada titik-titik air melintas ke wajahku. Rupanya, embun pagi mulai datang untuk menyegarkan dedaudan.
'Srak srak srak.'
Suara apa itu?!
Aku jelas terkejut. Menoleh sekitaran dengan perasaan sedikit takut. Tolong garis bawahi, hanya 'sedikit takut.'
Rupanya suara itu berasal dari seorang pekerja dinas kebersihan yang membawa sapu lidi. Aku tidak menyangka ada yang memulai pekerjaannya di jam sepagi ini.
"Bu," sapaku.
Aku menganggukkan kepala saat dia melintas. Dia melirik sambil mengernyitkan alisnya.
"Eh, ngapain malam-malam ngelamun di situ Mas?" Dia menatapku.
"Mas artis ya? Kok ganteng banget," lanjutnya.
"Bukan Bu, bukan artis. Ibu juga kok sepagi ini sudah menyapu?" tanyaku.
"Ada keperluan Mas. Terpaksa nyapu lebih awal," jawabnya. Lanjut menyapu.
"Aku lagi cari kerak telur Bu, tapi gak nemu-nemu."
"Hahaha, mana ada kerak telur jam segini Mas. Kalau yang dagang nasi uduk, tuh sebelah sana sudah ramai," katanya.
"Aduh, bagaimana ya Bu?"
"Pasti lagi ngidam ya istrinya?"
"A-apa? I-iya Bu."
Semoga kebelum pastian ini menjadi doa kebaikan untukku dan untuk Hanin. Maksudnya supaya Hanin hamil sungguhan.
"Ibu juga kalau sore-sore suka bikin Mas. Tapi kalau jam segini ya gak pernah."
"Apa? Ibu suka bikin kerak telur? Bu, aku mohon, buatkan tiga porsi kerak telur untuk istrikku. Aku akan membelinya dengan harga berapapun." Aku kegirangan. Memegang tangan wanita paruh baya tersebut tanpa ragu.
"Eh, sebentar Mas. Ibu gak bisa kalau bikin sekarang. Kan lagi kerja, bahan-bahannya juga ada di rumah."
"Bu, aku mohon. Aku bayar satu juta, mau?" tawarku.
"A-apa?! Satu juta? Serius, Mas?"
"Tiga rius."
Aku sumringah. Langsung membayangkan bagaimana bahagianya Hanin saat mendapatkan kerak telur.
"Yuk, mari Mas! Tunggu apalagi? Ayo ke rumah Ibu," ajaknya.
"Rumah Ibu di mana? Naik mobil aku saja biar cepat."
"Sip," katanya. Sigap.
Akhirnya kita bersama-sama ke rumah si ibu. Di dalam mobil ia becerita kalau yang jualan kerak telur sebenarnya adalah suaminya.
.
Setiba di rumahnya dia langsung membangunkan suami dan anak-anaknya.
Lalu menjelaskan keinginanku beserta imbalan yang kujanjikan. Aku menyimak dan memperhatikan kegiatan mereka sambil tersenyum. Kehangatan yang tercipta di keluarga kecil yang sangat sederhana ini membuatku iri.
"Uhhuk, uhhuk."
Aku terbatuk karena mereka membuatnya di tungku kayu. Mataku sampai berair dan pedih karena terkena asap.
"Maaf ya Mas, karena masaknya di rumah, kami pakai tungku. Kalau lagi gelar di jalan sih pakai kompor gas," jelas suami si ibu.
"Gak apa-apa, Pak. Yang penting matang," ucapku.
Alhamdulillah, selesai juga.
"Terima kasih, Bu, Pak."
Aku berpamitan setelah menyalami mereka satu-persatu. Aku pergi dengan hati yang berbunga-bunga. Kerak telur hangat akhirnya bisa kudapatkan setelah melewati perjalanan panjang.
.
Saat aku melewati klinik 24 jam, aku mampir sejenak untuk membeli tiga buah tespek. Tidak sabar rasanya ingin menyuruh Hanin menggunakan alat ini.
Di dalam mobil aku memandangi kotak yang berisi tespek. Jika Hanin benar-benar Hanin hamil, artinya ... aku harus segera mengurus pernikahan kami menjadi pernikahan resmi secara hukum negara.
Berarti, aku juga harus siap menghadapi berbagai macam batu sandungan demi meresmikan pernikahan ini. Demi masa depan Hanin dan calon penerusku.
Aku yakin ini tidak akan mudah, tapi akulah yang menyalakan bara api itu. Akulah yang menolak menceraikan Hanin saat kami masih berada di Bandung.
Aku malajukan kemudi dengan perasaan resah-gelisah. Lalu injak gas hingga melesat cepat menembus kabut pagi ibu kota untuk menyajikan kerak telur pada istri spesialku dalam keadaan hangat-hangat.
...🍒🍒🍒...
Daini Hanindiya Putri Sadikin
Aku terbangun lagi dan gelisah. Bayangan kerak telur memenuhi kepalaku.
Kenapa ya?
Kulihat waktu sudah menunjukkan pukul 02.30. Aku sangat berharap pak Zulfikar segera tiba. Aku sampai menelan saliva akibat membayangkan makan kerak telur. Lalu kantuk kembali datang. Aku terpejam lagi setelah menyeting alarm pukul 03.30.
Lalu entah di jam berapa aku merasa ada seseorang yang mengecup keningku. Lalu mengecup kedua pipiku. Namun mata ini masih enggan untuk terjaga. Kemudian dia mengecup bibirku.
Pak Zulfikar?
Dari aroma tubuhnya. Aku yakin itu dia. Dia benar-benar datang untukku. Mungkin telah menyelesaikan urusannya dengan bu Dewi.
"Assalamu'alaikuum, sayang. Kerak telurnya sudah ada. Makan selagi hangat yuk!" ajaknya. Hatiku berdesir mendengar kalimatnya.
Kenapa dia memperlakukanku semanis ini? Bukankan dia hanya pura-pura mencintaiku?
"Wa'alaikumussalam," jawabku.
Tidak ada alasan untuk tak menjawab salam. Karena menjawab salam adalah kewajiban. Namun mata ini masih tertutup. Jujur, aku malas membuka mataku, ngantuk sekali.
"Hanin, hei ... ini kerak telurnya." Aroma kerak telur tercium olehku.
"Hmm, ta-tapi aku ngantuk Pak," gumamku.
__ADS_1
"Hanin, kalau dimakan hangat-hangat lebih enak. Ayo dong, bangun yuk! Bukankah kamu sangat menginginkannya?" tanyanya. Sekarang sambil mengelus perut rataku. Maksudnya apa coba?
"Tadi, aku memang menginginkannya. Tapi sekarang tidak lagi."
Aku membuka mataku perlahan. Menatap ekspresi keterkejutannya saat aku mengatakan tidak menginginkan kerak telur lagi.
"A-apa?!" Entah kenapa dia terlihat sangat kaget.
"Yakin tidak mau ini? Ini masih hangat sayang. Pegang!"
Ah, panggilan sayang lagi. Dia benar-benar pandai bersandiwara. Dia meraih tanganku untuk ditempelkan di bungkusan kerak telur. Ya benar, terasa masih hangat.
"Terima kasih Pak, tapi ... aku memang tidak ada selera lagi. Gak tahu kalau besok. Sini, aku simpan saja di meja makan. Nanti kalau mau dihangatkan lagi."
Aku bangun, mengambil bungkusan tersebut. Pak Zulfikar melongo. Menatapku sambil garuk-garuk kepala.
"Hahah hahaha," gelaknya.
Aneh sekali. Kenapa sih dia? Salah minum obat? Aku menatap keheranan.
"Anda sehat?" tanyaku. Menautkan alisku karena keanehan sikapnya.
"Alhamdulillah, baik." Sekarang senyum-senyum.
"Bapak kenapa sih?" Aku mengambil bungkusan itu dan beranjak menuju dapur. Pak Zulfikar mengekoriku.
"Aku tertawa karena kamu lucu. Masa tiba-tiba tidak beselera? Padahal aku mendapatkan kerak telur hangat itu dengan susah payah lho," katanya.
.
"Bapak mau? Ya sudah, Bapak saja yang makan."
Di ruang makan, aku menyajikan kerak telur untuknya. Diletakan di piring cantik, lalu di simpan di hadapannya.
"Ya ampun sayang, kamu tuh ya!" Dia menggertakan gigi sambil menarik tubuhku hingga terduduk di pangkuannya.
"Ha ---."
Aku terkesiap. Adegan ini terlalu manis. Dan aku tidak bisa begerak karena dia memelukku erat sekali.
"Dengar, demi mendapatkan kerak telur ini, aku mengelilingi hampir seluruh kota Jakarta. Aku bahkan rela tak tidur demi mengabulkan keinginan kamu. Tiga kerak telur ini bahkan bernilai satu juta rupiah," jelasnya sambil menciumi leher dan tengkukku.
"Em, emh ...," aku sedikit menggelinjang karena menahan rasa geli.
"Tinggal beli saja, kan? A-apa susahnya?"
Aku masih berusaha melepaskan diri tapi tak berhasil. Aku yakin dia hanya berguyon. Masa ya, ini berharga satu juta?
"Makan gak kerak telurnya? Kalau tidak, aku akan menghukummu," katanya. Dan ....
"Ahhh!" pekikku. Dia benar-benar menggigit telingaku.
"Hahaha, sakit ya? Maaf," mengecupi daun telingaku yang digigitnya. Aku kian menggelinjang. Serius, ini geli sekali. Dia tahu benar di daerah mana saja titik-titik sensitifku.
"He-hentikan Pak."
Napasku mulai tersenggal karena tangannya menyentuh lembut bagian-bagian yang lain. Sungguh tak tahu malu manusia ini. Tadi mungkin saja sudah tidur dengan bu Dewi.
"Makan gak kerak telurnya?" desaknya lagi. Masih menjamahi tubuhku dan mengekangku hingga sulit begerak.
"I-iya, tapi to-tolong jangan begini," lepaskan!" Aku menahan tangannya yang memaksa hendak melepas sesuatu.
"Emm, baiklah." Dia melepaskanku sambil terkekeh.
"Aku yang suapin," tawarnya.
"Ti-tidak perlu, Pak."
"Ba-baiklah."
Aku membuka mulut saat dia mendekatkan potongan kerak telur ke bibirku. Dia juga memakan bekas gigitanku.
"Enak gak?" tanyanya.
"Kan Bapak juga makan, tanya saja sama diri sendiri, enak tidak?" ketusku. Entah kenapa aku jadi ketus begini. Padahal, saat ini dia sedang pura-pura romantis.
"Nyam, nyam, emm ... lumayan enak. Tapi di dunia ini tidak ada yang seenak dan senikmat kamu," candanya.
Maksudnya apa coba? Aku memilih mengambil potongan kerak telur lagi daripada meladeni ucapannya.
"Aku saja," dia menahan tanganku, dan menyuapiku lagi.
"I-ini beneran apa bohongan harga satu juta?" tanyaku di sela-sela kunyahan.
"Emm, tidak sayang, aku bercanda," katanya. Sudah kuduga.
"Pak, panggil Hanin saja. Jangan panggil sayang."
"Hanin, aku memanggil Dewi, cinta. Nah, biar adil, jadi aku memanggilmu sayang. Tak masalah, kan?" terangnya. Aku tak konsentrasi karena tiba-tiba merasa mual.
"Uhhuk, uhhuk," aku batuk. Memegang perutku.
"Hanin? Minum ya." Dia sigap meraih air minum dan membantuku meminumnya.
"Uhhuk," setelah minum aku masih batuk-batuk. Dia mulai panik.
"Sayang, hei. Apa yang dirasa?" Memijat pundakku.
"Uhhuk, owheek, a-aku mual, Pak." Tak sadar aku memeluk lengannya.
"Apa yang harus kulakukan? Kubuatkan teh manis hangat, sabar ya."
Dia berlari ke tempat gula dan sejenisnya. Akupun berlari menuju wastafel yang ada di dapur. Tak bisa kutahan lagi. Aku memuntahkan kembali kerak telur yang tadi sudah kumakan.
"Ya Allah, sayang." Pak Zulfikar kembali memijat pundakku. Dia juga memelukku.
"Maagku kambuh, a-aku mau minum obat maag dulu," aku mengurai tangannya. Tapi dia menahanku.
"Sayang, lihat aku. Kamu jangan minum obat maag dulu!"
"Kenapa? Tadi juga sembuh kok."
"Hanin, hei kalau kamu hamil bagaimana?!"
"A-apa?! Ha-hamil?" Aku teperanjat. Kalimatnya seolah memukul ulu hatiku.
"Tidak, Pak! Aku tidak mungkin hamil!" Aku menolak pernyataan itu.
"Ya, bulan ini aku memang belum haid, tapi itu tidak mungkin!"
"Hanin, dengarkan aku. Memangnya kenapa kalau kamu hamil? Kamu memiliki suami. Aku papa dari anak-anakmu," katanya. Lantas memelukku, dan aku malah menangis di dadanya.
"A-aku takut Pak, ka-kalau aku hamil, orang-orang akan melihat perutku. Bagaimana aku menjelaskan pada mereka? Bukannya a-aku tidak mau hamil, ha-hanya saja, a-aku belum mempersiapkan diri untuk menghadapinya."
"Hanin, justru dengan kamu hamil statusmu akan lebih jelas. Kita akan menikah secara resmi. Kita hadapi takdir ini bersama-sama, kamu mau 'kan?" Sambil memegang bahuku dan menatapku.
"Tidak, Pak! Aku tidak mungkin hamil. Ka-karena a-aku minum pil pe-penunda kehamilan," terangku.
"A-apa katamu?!"
__ADS_1
Seketika dia melepaskan pelukannya dan menatap tajam ke arahku. Napasnya memburu, dia sepertinya marah besar.
"Siapa yang menyuruh kamu meminum obat itu, hahh?!" teriaknya. Sambil duduk di kursi dan mengatur napasnya. Tangannya mengepal.
"Huuu huuks," aku tidak bisa menjawab. Aku hanya bisa menangis.
"Sudah kubilang Hanindiya! Aku mencintai kamu! Apa kamu masih belum mengerti?! Kenapa aku tidak pernah memakai pengaman?! Karena aku berharap bisa mimiliki keturunan dari kamu!" teriaknya lagi.
"Huuks, ma-maaf Pak. Bapak kan bisa punya anak dari bu Dewi," lirihku.
"Dewi! Dewi! Dewi! Tolong jangan sering menyebut nama dia saat aku bersamamu! Sekarang di mana obat itu?! Biar kuhancurkan!" Dia meninggalkanku. Aku menyusul.
.
Setibanya di kamar, dia mengamuk. Membuka seluruh nakas dan mengacaknya. Dia juga mengacak-acak isi tasku. Aku hanya biasa menatapnya di pojok kamar sambil terisak-isak. Semarah itu ternyata dirinya atas keputusanku.
Kupikir dia tidak akan marah karena aku mengira dia tidak benar-benar mencintaiku.
"Di mana kamu simpan obatnya, hah?!"
Mendekatiku, lalu mencengram kuat daguku. Sebelum aku menjawab dia memaksa mencium bibirku, rakus sekali. Dia menahan kuat leherku hingga aku tak ada kuasa untuk menghindarinya.
"MMPH," lenguhku.
Marahnya benar-benar menyebalkan. Dia lantas menaikan tubuhku ke meja kerja. Sementara bibirnya masih terpaut dengan bibirku. Aku berusaha menolak, tapi dia sudah terlanjur marah.
"Hahh, kamu benar-benar harus dihukum Hanindiya!" tegasnya saat sejenak melepasku untuk memaksa membuka sesuatu dengan tergesa-gesa. Lalu kembali memagutku yang mulai pasrah.
Sementara tubuhku mulai terpedaya dengan apa yang dia lakukan. Ini memalukan sih, sangat memalukan. Tapi ... hukuman ini terasa mmm ... sedikit menyenangkan dan aneh.
Perlahan, aku membelai dadanya. Tidak! Harusnya aku tidak melakukan hal bodoh ini, tapi ... apa yang dia lakukan benar-benar merelaksasikan tubuhku. Saat sadar tubuhku merespon, dia lantas memangkuku ke tempat tidur. Aku malu, aku menutupi wajahku.
Ia membaringkan tubuhku perlahan, namun tatapannya tak berpaling sedikitpun. Dia terus memandang instens pada wajahku. Aku juga memberanikan diri membalas tatapannya sambil tersipu.
MassyaaAllah, kenapa dia tampan sekali?
Aku mengagumi ciptaan-Nya. Aku menelusuri wajah tampan ini sambil meneteskan air mata.
"Apa hari ini kamu sudah meminum obat itu?" bisiknya. Aku menggelengkan kepala. Ya, memang belum aku minum karena mual-mual.
"Bagus sayang. Setelah ini, jangan pernah meminumnya lagi! Janji?" Berbisik lagi. Entah atas dasar apa, kepalaku spontan mengangguk.
"Terima kasih sayang," katanya. Lalu kembali bermain-main dan mempermainkan tubuhku. Adegan ini sangat memalukan. Hingga tak bisa kudeskripsikan karena terlalu vulgar.
.
Akhirnya kami melakukan penyatuan itu layaknya suami-istri yang saling mencintai. Padahal, dia mungkin melakukannya hanya atas dasar nafsu semata.
Sementara aku ... aku melakukannya dalam kebingungan. Aku bingung harus menempatkan rasa ini di bagian mana.
Di bagian cinta? Ataukah di bagian nafsu belaka. Sungguh, batinku masih terpenjara oleh keragu-keraguan dan ketakutan. Jika aku sungguhan mencintainya, aku takut terlalu terluka saat suatu hari dia memutuskan untuk meninggalkanku.
Aku menikmati tubuhnya sambil berurai air mata. Ada isak-tangis di setiap desahanku. Rasa nikmat yang menerjang ini bercampur dengan kesedihan yang tak berujung. Rasanya seperti kenikmatan yang bercampur dengan kelukaan.
.
"Sayang ... jikapun kamu sangat membenciku, jikapun kamu sama sekali tidak menyimpan sedikitpun rasa cinta untukku. Tolong ... tolong jangan pernah meninggalkanku Hanindiya," katanya saat kegiatan itu sudah selesai dan tubuh polosku telah terkulai lemas di dalam dekapannya.
"Egois," lirihku.
"Ya, aku memang egois," ucapnya.
"Dari mana kamu membeli pil itu, hmm?"
"Dari online shop. Kalau beli di apotik takut ada yang curiga."
"Apa? Online shop? Kamu tidak takut itu barang palsu?" duganya. Lalu beberapa kali menutup bibirnya karena menguap. Aku mencuri pandang pada dadanya.
"Banyak yang beli, kok," jawabku.
"Oiya, karena aku curiga kamu hamil, aku membeli tespek. Ada di laci itu," katanya.
"Tespek?"
"Hmm, kamu kan aneh, masa mau kerak telur malam-malam? Kamu juga mual-muntah. Jadi aku mengira kamu ngidam. Oiya Hanin, aku sama sekali belum tidur, izinkan aku menginap di sini ya." Ia lantas menutup matanya.
"A-apa sudah izin pada bu Dewi?"
"Emm, sudah. Aku sudah mengirimnya pesan. Sudah dikirim tapi belum dibalas. Lagipula malam ini Dewi menginap di rumah orang tuanya. Dia juga melarangku menyusulnya," jelasnya. Aku menatap wajah lelahnya hingga ia benar-benar tidur.
.
Tespek?
Setelah pak Zul terlelap, aku menarik diri dari dekapannya. Aku berniat untuk mandi dan menunggu waktu Subuh sambil membaca Al-Qur'an.
Aku mengambil tespek yang ia maksud.
"Kamu tidak takut itu barang palsu?"
Kok aku jadi kepikiran ucapannya ya?
Aku lantas ke kamar mandi dan iseng mengecek urineku.
Tidak, aku tidak mungkin hamil. Masa ya aku kena tipu produk online?
Sambil menunggu hasilnya, aku berendam di bathup. Dan aku kembali menangis saat menyadari jika tubuh ini ternyata telah terbiasa oleh belaian dan rayuannya.
.
Aku mengeringkan rambut basahku sambil becermin. Aku sengaja membawa hairdryer ke kamar mandi agar suaranya tidak mengganggu pak Zulfikar. Jejak kepemilikan itu menghiasi leherku dan di bagian lain tubuhku.
DEG. Jantungku berdegup hebat.
'PRAK.' Hairdryer jatuh dari genggamanku.
"Ti-tidak mungkin," tubuhku gemetar saat tak sengaja melihat hasil tespek yang kusimpan di sisi wastafel.
"Ba-bagaimana bisa?"
Aku menjauh. Badanku lemas seketika. Aku terpuruk, duniaku seolah meremang dan pengap hingga aku tak mampu bernapas.
"Ya Rabbi, ke-kenapa? Kenapa?" ratapku sambil menatap langit-langit.
Aku beteriak tanpa suara, aku menangis tanpa pekikkan. Batinku menjerit memekak pintu langit. Kemudian aku memberanikan diri meraih tespek itu dengan tangan gemetaran.
"Kenapa? Ke-kenapa tespek ini garis dua? Bukankah aku sudah minum pil KB? Huuu huuu, ummi ... a-abah ...."
"Sayang, kamu di dalam, kan?" Terdengar suara ketukan pintu dan suara pak Zulfikar.
Bagaimana ini? Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Merahasiakannya? Atau ... aku jujur saja?
Aku dilema.
Tolong ... aku harus bagaimana?
...~Tbc~...
...Yuk komen yuk!...
__ADS_1
...Ada saran untuk Neng Daini? Kalau ada, tulis di kolom komentar ya. Terima kasih....