Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Cinta Itu Aneh


__ADS_3

Bang Radit


"Tidak dapat dipungkiri, kamu sudah menikmati tubuh anak saya. Menurut keterangan Dewi, kalian bahkan telah melakukannya berulang-ulang," kata bu Silfa. Dia datang ke kontrakanku bersama beberapa orang anak buahnya.


"Saya melakukannya karena terpaksa, Bu."


"Halah, jangan bohong kamu, Radit! Kalau kamu terpaksa, memangnya senjatamu bisa berfungsi?!" sentaknya.


Aku terdiam, biarpun aku mengelak, ia akan tetap menuduhku.


"Maaf Bu. Saya minta maaf. Apakah ada hal lain yang ingin Ibu katakan? Kalau tidak ada, Ibu boleh pergi," aku mengusirnya secara halus.


"Berani ya kamu mengusirku, Radit?! Dengar, saya ke sini justru untuk menaikkan derajat kamu!"


"Maksud Ibu? Aku tidak mengerti."


"Kamu harus menikah dengan anakku!"


"Apa?!"


"Ya, saya ke sini untuk memintamu menikah dengan Dewi. Dia butuh dukungan dari seorang pria. Kalaupun kamu bukan pria yang dicintainya, tapi saya berpikir jika adalah orang yang mengenal dan memahami Dewi," tegasnya.


"A-apa Ibu tidak salah memintaku menikah dengan non Dewi?" Aku melongok, tidak percaya dengan ucapannya.


"Saya bicara serius Radit! Saya ingin kamu menikah dengan Dewi. Jangan khawatir semua kebutuhan hidup kamu dan keluargamu akan saya tanggung!"


"Hidup saya dan keluarga saya sudah diurus sama pak Zulfirkar, Bu."


"Berapa banyak dia memberimu uang bulanan? Saya akan membayarnya lebih dari itu."


"Saya tidak bisa menikahinya, Bu."


"Radit! Kamu tinggal setuju saja! Anakku cantik dan kaya raya! Harusnya kamu bersyukur saya menawarkan kesempatan emas ini sama kamu!"


"Saya punya alasan, Bu. Saya tetap tidak bisa."


"Radit! Apa kamu lupa telah melakukan apa pada anak saya! Kamu berzina dengan anak saya Radit! Sekarang, apa aku sebagai ibunya tidak boleh meminta pertanggung jawaban?! Lebih baik kamu pikirkan lagi! Lalu secepatnya ambil keputusan dan jadilah imam untuk anak saya! Saya tidak butuh apapun dari kamu! Harta saya banyak! Saya hanya ingin kamu menyayangi anak saya! Dengan kehadiran kamu, saya juga berharap anak saya bisa melupakan manta suaminya! Saya masih ada urusan! Permisi!" tegasanya. Lalu bergegas sambil mengepalkan tangannya.


...⚘️⚘️⚘️...


Zulfikar Saga Antesena


Aku baru saja selesai memomong Raja dan Cantik saat ada telepon dari bu Silfa. Mantan ibu mertuaku.


"Ya Bu, ada apa?"


"Dewi mulas-mulas, Zul. Ibu mohon kamu ke sini ya."


"Mulas-mulas? 'Kok bisa? Dia tidak melakukan hal yang aneh-aneh 'kan Bu?"


"Tidak Zul."


"Kan ada dokter Bu. Ini sudah malam. Aku baru bisa ke sana setelah shalat Subuh. Ini juga baru selesai main sama Raja dan Cantik. Akhir-akhir ini, mereka suka bergadang. Bisakah aku bicara sama dokter yang mengurusnya? Aku harus memastikan kondisinya."


"Zul, kamu tidak adil sama Dewi! Dia mulas dan kesakita juga karena anak kamu Zul! Itu kamu rela bergadang demi Raja dan Cantik. Harusnya, kamu juga rela tidak tidur demi anak kamu yang ada di rahim Dewi"


Aku mengelus dada mendengar ucapan bu Silfa. Apa ia lupa kalau aku dan wanita itu sudah bercerai?


"Bu, posisi Dewi dan Hanin berbeda. Aku bukan lagi suaminya. Ya, aku memang ayah dari anak itu. Tapi, aku mempunyai pilihan sendiri kapan aku harus menemui Dewi atau tidak menemuinya. Maka dari itu aku harus tahu tingkat urgencynya dari dokter. Jika memang sangat gawat, aku akan ke sana," tegasku.


"Pokoknya, kamu harus ke sini!" Malah mengakhiri panggilannya.


"Menyebalkan!" ketusku. Cobaan apa lagi ini Ya Rabb? Segera menghubungi nomor dokter yang kutugaskan menjaga Dewi, namun sayangnya, mereka tidak mengangkat panggilanku.


"Mas, 'kok belum tidur?" Hanin baru saja masuk ke kamar. Raja dan Cantik pasti sudah tidur.


"Ada telepon dari bu Silfa, sayang."


"Malam-malam begini? Ada apa, Mas? Apa terjadi sesuatu pada bu Dewi?" Aku lantas menjelaskan duduk perkaranya.


"Begitu sayang. Menurutmu, apa yang harus kulakukan?"


"Emm, coba telepon Inar, Pak."


"Oiya ya. Aku lupa sama Inar, sayang. Terima kasih sudah mengingatkanku." Sambil memeluknya. Ekspektasinya, malam ini ingin melakukan ronde kedua. Faktanya, aku dan Hanin sibuk memomong Raja dan Cantik. Malam ini, mereka sangat unik. Tidak mau dipangku sama pengasuh. Maunya menempel terus pada ibunya.


"Ya, Pak. Bu Dewi memang sedang mulas-mulas." Itu yang dikatakan Inar.


"Semua tim dokter ada di kamarnya."


"Apa sakitnya sangat parah? Kenapa bisa jadi begitu? Bukankah kemarin baik-baik saja?"


"Menurut dokter, itu bukan sakit karena ingin melahirkan, Pak. Sudah diperiksa, tapi katanya tidak ada pembukaan. Dari ciri-ciri sakitnya, kemungkinan karena ada masalah pada usus atau organ lain yang ada di perutnya," lanjut Inar.


"Ya sudah. Terima kasih infonya, Nar."

__ADS_1


"Sebaiknya Mas ke sana saja."


"Tapi sayang, sudah ada dokter yang menanganinya. Lagi pula, itu bukan sakit karena ingin melahirkan. Aku akan menjenguknya besok saja."


"Mas, kalau bu Dewi sakit, kesehatan janinnya juga akan terpengaruh. Aku tidak akan memaksa Anda untuk ke sana. Hanya ingin mengatakan jika Mas ke sana akan lebih daripada tidak ke sana. Oiya, kalau Mas ke sana, aku juga mau ikut."


"Kamu mau ikut?" Ia mengangguk. Aku berpikir sejenak. Sepertinya, jika aku ke sana bersama Hanin, aku akan merasa lebih nyaman.


"Baiklah, yuk kita ke sana sayang. Tapi, apa kamu tidak kelelahan?"


"Tidak," ia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Lalu memelukku dan membuatku merasa tenang.


"Terima kasih sayang. Entah berapa banyak masalahku yang pada akhirnya dapat diselesaikan setelah aku mendengarkan pendapat kamu."


"Sudah menjadi kewajibanku membantu Anda, tidak perlu memuji apa lagi beterima kasih," sanggahnya.


Setelah puas mencium bibirnya yang manis dan lembut, aku menghubungi pak Reza untuk menemani kami menjenguk mantan istriku.


...⚘️⚘️⚘️...


Iptu Sabil Sabilulungan


Aku merasakan sesuatu menindih lenganku. Aku baru merasakannya karena terbangun akibat merasa lapar. Saat mata ini terbuka, pandangan langsung tertuju pada sosok yang menindih lenganku.


"Ayang," gumamku, pelan.


Seketika, bibir ini tersenyum karena merasa sangat bahagia. Lalu memori menyenangkan itu teringat lagi. Jadilah, aku tidak bisa berhenti tersenyum sambil menatap wajahnya. Bibirnya terlihat memerah dan sedikit membengkak. Tentu saja itu karena ulahku.


Lantas menyingkap selimutnya. Senyumku semakin melebar. Aku dan Listi ada di kondisi yang sama. Aku menatap bagian tubuhnya yang dihiasi jejak cinta yang kusematkan.


Melihat kondisi Listi, laparku pada makanan tiba-tiba memudar. Tergantikan oleh rasa lapar yang lain. 'Rasa ingin memakannya lagi.' Tapi, aku tidak tega jika harus membangunkannya. Apa boleh kulakukan saat ia tertidur? Bolehkah? Wajarkah? Aku takut ia marah saat mengetahuinya secara tiba-tiba.


"Tia," panggilku. Lebih baik jujur daripada menimbulkan kesalahpahaman. Itu yang dikatakan bu Daini saat aku meminta saranya. Ia bergeming. Aku mengusap-usap pipinya. Serius, keinginan itu semakin menggebu. Karena gemas, akupun mengecup bibirnya.


"A Abil?" Terbangun juga. Ia terkejut dan spontan menutupi tubhnya.


"Ayang, kenapa kaget? Aku sudah melihat semuanya dari berbagai sudut pandang dan sisi. Masih malu?" Kusengajakan menarik kembali selimutnya.


"Ti-tidak, tidak malu 'kok," sangkalnya.


"Terus kenapa ditutupi?"


"Karena dingin," jawabnya. Pipinya merona.


"Dingin? Ehm, begini saja, karena kamu merasa kedinginan, bagaimana kalau tubuhmu aku hangatkan?"


"Bukan."


Aku membisikkan maksud hatiku. Listi mengerjap kaget. Wajahnya semakin memerah.


"A-apa yang tadi belum cukup? Aku juga takut sakit lagi," dalihnya.


"Tidak akan sakit ayang, aku janji. Oiya, mana mungkin Aa merasa cukup untuk hal ini. Kebutuhan biologis itu kebutuhan primer yang sejajar dengan kebutuhan sandang, pangan dan papan. Kamu tahu teori Douglas dan Isherwood, 'kan? Masih ingat?"


"Oh, emm ya. Ingat."


"Jadi, bagaimana ayang? Apa boleh aku membuatmu berteriak seperti tadi lagi? Kita ke surga dunia lagi," godaku seraya mengurung tubuhnya.


"A-apa Aa sangat mau sekali?"


"Yes," jawabku mantap.


Lalu menelusuri leher jenjangnya sambil menggerakkan tanganku ke area yang kuinginkan. Seumur hidupku, aku tidak akan melupakan malam ini. Sekujur tubuhnya, ada dalam genggamanku. Ia tidak menolak dengan apapun yang kuinginkan. Hanya memintaku untuk perlahan dan hati-hati.


Menjelang adzan Subuh, aku memangku tubuhnya untuk kubawa ke kamar mandi. Dari raut wajahnya, aku tahu ia sangat kelelahan. Sebelumnya, aku sudah menyiapkan air hangat di dalam bathup. Aku membawanya ke bathup tersebut. Lalu memeluk tubuhnya yang bersandar di dadaku.


Ia menyandarkan kepalanya ke pundakukku sambil memejamkan mata.


"Maaf, apa sekarang sudah terasa baikkan?" bisikku di telinganya.


"Be-belum, tapi ... dengan berendam di air hangat, aku merasa nyaman," jawabnya.


"Apa boleh kalau kita melakukannya lagi di sini?" Serius, posisi kami, ditambah dengan tubuhnya yang seksi, membuatku kembali bergairah.


"Hahh? A Abil bilang apa? Aku tidak dengar."


"Kalau ayang tidak bersedia, Aa enggak maksa 'kok."


"Emm, aku dilema," gumamnya sambil menenggelamkan tubuhnya hingga batas leher.


"Ya sudah, tidak apa-apa." Kali ini, aku mengalah. Lalu mengambil sabun untuk membersihkan tubuhnya.


"A Abil," panggilnya.


"Ya."

__ADS_1


"Setelah ini, kita minta bantuan Daini ya, A."


"Untuk?" tanyaku. Sedikit keheranan. Tanganku bahkan berhenti sejenak dari membersihkan tubuhnya.


"Untuk meminta pil kontrasepsi darurat. Daini 'kan punya dokter kandungan," jelasnya.


"Baik," jawabku cepat. Setelah jawaban itu, Listi terdiam beberapa saat.


"Ayang?" panggilku.


"Cukup. Aku bisa mandi sendiri." Sambil menjauhkan tubuhnya hingga ke ujung bathup.


"Ayang, kenapa menjauh?" Aku berusaha mendekat.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin mandi sendiri." Ia bahkan membelangiku. Lalu aku terkejut karena melihat pudaknya begerak-gerak sambil tertunduk.


"Tia? Kenapa?" Aku segera membalikan badannya. Ternyata Listi menangis.


"Ayang, kenapa? Apa aku menyakitimu? Tia, jangan seperti ini. Kenapa?"


"Huks, huuks." Malah terisak-isak.


"Ayang, jangan membuatku bingung. Baik, Aa minta maaf kalau Aa ada salah. Tapi tolong jelaskan salahnya Aa ada di bagian mana?" desakku sambil menggenggam kedua tangannya.


"A-aku mengira, A Abil akan melarangku minum kontrasepsi darurat," lirihnya.


"A-apa?!" Aku terkejut.


"Aku lupa kalau pernikahan ini hanya pernikahan percobaan."


"Ayang, ini bukan pernikahan percobaan. Pernikahan ini serius. Kita hanya perlu disahkan secara hukum. Jika ayang bersedia, aku bisa segera mengurusnya."


"Tapi, kenapa A Abil tidak melarangku minum kontrasespi darurat?! Itu membuktikan kalau A Abil tidak mengharapkan kehamilanku!"


"Apa?! Siapa yang terlebih dahulu mengajukan ide itu? Kamu kan?!" Karena ia bicara keras, akupun bicara dengan keras.


"A-aku hanya ingin tahu perasaan A Abil!" teriaknya dengan suara semakin keras.


"Apa?! Apa pantas seorang istri menguji perasaan suaminya dengan pertanyaan semacam itu?! Karena kamu memintanya terlebih dahulu, aku langsung menyetujuinya karena berpikir kamu memang belum ingin hamil!" tegasku seraya mengatur napas karena sadar diri jika aku bicara dengan penuh emosi.


"Huuu, huuu." Kembali menangis. Ia berdiri pelan sambil meraih handuknya. Akupun berdiri, memakai handuk, dan memegang tangannya.


"Kita belum selesai mandi, mau ke mana?"


"A-aku mau mandi di sana." Menunjuk ke area mandi.


"Aku ingin mandi bersama," pintaku.


"A-aku ingin mandi di sana," tolaknya. Aku tetap memegang tangannya.


"Tia, dengar, mari kita bahas masalah yang tadi setelah kita mandi." Nada bicaraku melembut.


"Baik," ketusnya.


Karena sikapnya itu, aku jadi ingin menghukumnya.


"Tia, kamu berjanji akan bersikap baik, lalu kenapa barusan jawabannya ketus sekali?"


"Aku merasa nada bicaraku biasa saja. Aku tidak ketus, Aa Abilnya saja yang terlalu sensitif," sangkalnya. Aku jadi sedikit kesal. Kutarik saja handuknya dan melempar handuk tersebut ke atas hingga tersangkut pada water heater.


"A Abil!" teriaknya. Lalu menyembunyikan tubuhnya ke dalam bathup dan cemberut maksimal.


"Tidak baik berteriak pada suami." Aku mencengkram dagunya. Lalu melempar handuk yang kugunakan.


"A Abil! K-kamu mau apa?!" Ia kaget karena aku merapatkan tubuhnya dengan tubuhnya.


"Ssst," aku menekan bibirnya dengan telunjukku.


Sementara tanganku yang lain, sedang melakukan sebuah aktivitas yang membuat matanya terpejam kuat dan bibirnya menganga. Sebelum ia beteriak, aku membekapnya, menautkannya dengan dalam dan kuat, hingga napasnya terengah-engah.


Ternyata, aku dan Listi belum bisa mempraktikkan saran dari bu Daini dan pak Zulfikar. Ya, pernikahan kami bahkan belum seumur jagung. Tadi, alih-alih menenangkannya, aku malah membalas teriakannya dan tersulut emosi.


Tapi, setelah perselisihan kecil itu, aku tiba-tiba menyadari sesuatu. Apa ini hanya perasaanku saja? Aku merasa jika Listi lebih cantik, lebih seksi, dan berkali lipat lebih nikmat daripada sebelum-sebelumnya.


Ternyata, rasanya bercinta itu seperti mencampurkan dua senyawa kimia. Ketika keduanya benar-benar saling membutuhkan, maka terjadilah reaksi positif yang menghasilkan kalor dan energi.


Namun, Frederich Nietzsche pernah berkata, "Cinta itu tidak mampu diulas oleh logika ilmiah dan matematis. Di hadapan keagungan cinta, kita hanya bisa tunduk dan menyembah."


Teori Frederich Nietzsche seolah benar adanya. Karena pada akhirnya, aku dan Listi tidak mampu menolak gelora itu. Dengan suara lembut dan yang mengiba, ia bahkan memintaku berpindah ke tempat tidur.


"Baik," bisikku.


Duniaku saat ini serasa jungkir balik. Euforia yang ditimbulkan benar-benar memberikan pengaruh luar biasa pada tubuhku. Rasanya seperti sensasi kupu-kupu yang bergemuruh di dalam perut, dan debar jantungpun semakin cepat.


...⚘️⚘️⚘️...

__ADS_1


...~Tbc~...


InsyaaAllah, nyai akan ikut event untuk novel baru. Semoga, setelah ikut event, novel nyai bisa dipromosikan oleh NT dan banyak yang baca. Tapi, nyai tidak berharap banyak 'sih. Sebab, nyai bukan penulis terkenal. Hanya penulis remahan yang menyalurkan hobinya. Hehehe. Di daerah nyai hujan terus. Apa di daerah teman-teman sama?


__ADS_2