Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Persiapan Gelar Perkara


__ADS_3

Daini Hanindiya Putra Sadikin


"Pak, bangun. Bapak belum shalat Isya, kan?"


Aku mengguncang bahunya. Ia masih tertidur pulas dengan irama dengkuran halusnya yang khas. Setelah kegiatan panas itu, ia tersungkur dan lantas terlelap hingga saat ini.


"Pak, bangun, Pak. Sekarang sudah jam tiga pagi. Shalat Isya dulu, Pak."


Kucoba menarik selimutnya. Lalu mengusap-usap lembut dadanya. Namun tetap saja tidak bangun. Dengan terpaksa, aku akhirnya mencabut selembar bulu halus yang menghiasi dada bidangnya.


"Awh," pekiknya pelan dan tetap enggan membuka mata.


Bagaimana caranya membuatnya bangun? Sebenarnya, ada banyak ide yang bisa kugunakan. Sekarang mengunakan metode handuk basah yang kuusapkan ke wajah dan kelopak matanya.


"Hmm," memegang tanganku.


"Anda belum shalat Isya, lho. Bangun atuh, Pak."


Mata pak Zulfikar perlahan terbuka. Langsung menatapku yang tentu saja sudah mandi dan wangi. Rambutku digerai karena masih basah. Aku memberinya senyuman selamat pagi. Lalu mengecup punggung tangan dan telapak tangannya sebagai ungkapan cinta dan hormat baktiku.


"Terima kasih. Aku bahagia sayang. Saat membuka mata, aku sudah disuguhi kecantikan dan senyuman kamu," ungkapnya.


"Sama-sama. Pak Zulfikar juga tampan 'kok, dan akan lebih tampan lagi kalau sekarang Anda bangun, mandi, shalat Isya, lanjut shalat tahajud," saranku.


"Baiklah, kenapa enggak bangunin dari tadi?"


"Sudah, Pak. Tapi sulit sekali. Akhirnya aku biarkan saja Anda tidur sampai jam tiga." Aku bergegas untuk menyiapkan handuk dan memosisikan sandal untuknya.


"Terima kasih sayang," ucapnya kala aku membantunya memakaikan handuk.


"Anda adalah bayi besarku."


"Bayi besar katamu? Emm, hehehe. Ya juga 'sih. Aku memang bayi besar." Dia terkekeh setelah menyadari jika dirinya memang cocok dengan sebuta itu. 'Bayi besar.'


"Selamanya, aku akan terus jadi bayi besarmu."


"Muhun (ya)." Mengikutinya ke kamar mandi. Namun di ambang pintu ia menahanku.


"Aku mandi sendiri ya. Maaf ya sayang. Soalnya kalau dimandikan ... kamu tahu maksudku, 'kan?"


"Oh, aku paham."


Segera melambaikan tangan. Lalu mendorong pelan punggungnya agar segera masuk ke kamar mandi.


"Hahaha." Sayup, kudengar tawanya.


Sembari menunggu pak Zulfikar, aku membaca kitab suciku. Hingga saat ini, sebenarnya masih terpikirkan masalah itu. Benar-benar ingin tahu masalah yang terjadi antara pak Zulfikar dan bu Dewi. Tapi, jika keingintahuanku bisa menimbulkan masalah baru, lebih baik diam saja dan terus menunggu sampai pak Zulfikar mau menjelaskannya.


Wangi sabun semerbak semerbak terbukanya pintu kamar mandi. Pastinya, pak Zulfikar sudah selesai mandi. Aku menyelesaikan ayat terakhir dan menolehnya. Langsung berdegup manakala melihat sebagian tubuhnya yang proporsional dan macho. Namun, di balik rasa kagumku, perasaan bersalah itu selalu meliputi. Sebab, aku sadar sepenuhnya jika tubuh pak Zulfikar bukan hanya milikku. Di sana, ada bu Dewi yang selalu menuggunya.


Sekarang ia sedang memakai baju koko dan sarung. Ditambah dengan peci hitam jadi terlihat semakin memesona saja. Apa lagi saat ia melaksanakan shalat. Selesai shalat Isya, ia shalat lagi dua rakaat, lalu melambaikan tangan dan menintaku mengaminkan doanya.


Namanya rumah tangga, kata abah, pasti akan ada pasang dan surutnya. Terkadang, rasa cintapun tidak selalu sama kadarnya. Jenuhpun pasti datang, bahkan bisa sampai mengancam keutuhan rumah tangga. Karena itulah, suami istri butuh komitmen yang teguh untuk menjaga kelangsungan biduk perkawinan, dan salah satu cara untuk mempertahankan biduk itu adalah dengan berdoa.


Setelahnya, aku dan pak Zulfikar kembali merebahkan diri di tempat tidur. Karena perutku sudah membesar, akhir-akhir ini, posisiku selalu memunggunginya. Lalu ia memeluk sambil menciumi tengkukku.


"Dua minggu lagi, penyidik akan melakukan gelar perkara. Selama dua minggu itu, jangan pernah bertanya kenapa aku tidak bertemu dengan wanita itu lagi." Ia memulai obrolin. Tangannya menelusup ke dalam dasterku. Sedang mengusap perlahan perut buncitku.


"Aku juga akan sering lembur sayang. Karena ada pengalihan saham milik papi Surawijaya pada wanita itu, perusahaanku jadi terkena imbasnya. Selain itu, perusahanpun juga akan segera mengadakan Rapat Pemegang Saham. Jadi, aku akan sering pulang malam. Tidak masalah 'kan sayang?"


"Tak masalah, Pak."

__ADS_1


"Oiya, walaupun aku tidak menemui wanita itu, ada kemungkinan aku tetap bertemu wanita itu di perusahaan. Sebab, setelah papi meninggal, desas-desusnya, Dewi akan memegang jabatan sebagai Komisaris."


"Bapak pasti bangga 'kan punya istri sebagai Komisaris?"


"Tidak sayang, aku tidak bangga. Aku justru akan mencegahnya menjadi Komisaris. Dalam Rapat Pemegang Saham, aku akan mencekalnya agar tidak memegang jabatan itu."


"Kenapa, Pak?"


"Seorang Komisaris harus sehat jasmani dan rohaninya. Masa yang memiliki kepribadian ganda bisa memegang jabatan itu? Selain itu, dia juga sedang hamil. Aku khawatir dia jadi sibuk dan membahayakan calon anakku."


"Dengan cara apa Bapak mencegahnya? Apa akan langsung mengatakan pada pemegang saham kalau bu Dewi memiliki penyakit? Apa cara itu sudah tepat? Bukankah Anda harus menjaga nama baik bu Dewi?"


"Jangan dipikirkan, aku tahu apa yang harus kulakukan. Hmm, kulit kamu lembut sekali, apa rahasianya sayang?" Malah membahas kulitku.


"Aku tidak tahu. Aku merasa biasa saja. Di hadapan Anda, aku tidak merahasiakan apapun."


"Hmm ..., ya sudah, masih ada waktu sejam lagi ke shalat Subuh. Tidur lagi yuk sayang," ajaknya.


"Boleh," jawabku.


"Aku sudah pasang alarm, insyaaAllah tidak akan kesiangan. Oiya sayang, apa kamu sudah membujuk Listi? Yang kawin gantung itu?"


"Sudah, Pak."


"Terus bagaimana? Kira-kira, mau enggak dianya?"


"Aku tidak tahu, Pak. Kata Kak Listi, mau cerita sama bapak dan ibunya dulu."


"Semoga Listi mau. Aku enggak habis pikir, 'kok bisa ya Listi takut menikah gara-gara becermin pada pernikahan kita."


"Itu karena kak Listi tahu banyak tentang pernikahan kita. Kak Listi juga selalu mendengar keluh kesahku. Selain itu, saat Anda mengurungku di apartemen lama, kak Listi selalu menemaniku. Jadi, kak Listi tahu semuanya."


"Mengurungmu di apartemen? Siapa yang mengurungmu? Aku?" Ia tidak merasa pernah mengurungku.


"Hahaha, apa benar aku sejahat itu?"


"Aku tidak mengatakan Anda jahat. Hanya mengatakan Anda pernah mengurungku."


"Hahaha, ada di episode berapa sayang?"


"Issh, maksud Anda apa 'sih?"


"Ya sudah, aku minta maaf. Aku ingat semuanya sayang. Yang paling kuingat adalah saat-saat itu. Kita sering bercinta di sofa dan di kamar mandi. Apa kamu juga mengingatnya?"


"Aku sudah tidur, jangan ganggu," sahutku.


"Hahaha. Mana ada yang tidur bicara."


Ia mencubit pipiku. Setelah puas tertawa, lantas mengecup puncak kepalaku dan tak bersuara lagi. Sepertinya sudah tidur. Aku menggenggam tangan hangatnya yang menangkup perutku.


...⚘️⚘️⚘️...


Dua Minggu Kemudian


Listi Anggraeni Mutiara


Hari ini, jadwalku sangat sibuk. Karena tim penyidik akan melakukan gelar perkara dan membacakan hasil autopsi kedua, aku harus mendampingi pak Zufikar ke pengadilan.


Belum lagi harus mempersiapkan agenda Rapat Luar Biasa Pemegang Saham yang akan dilaksanakan dua belas hari lagi. Pokoknya, aku benar-benar sibuk. Sampai-sampai, aku meminta pada pak Komjen agar rencana nikah gantungku diundur sampai dengan Rapat Luar Biasa Pemegang Saham selesai. Namun, pak Komjen dan keluargaku sepakat untuk mempercepatnya menjadi tiga hari lagi.


Aku tidak tahu kenapa mereka begitu bersemangat. Apa lagi pak Sabil, dia bahkan memintaku mengajukan mahar sesuai dengan keinginanku. Tapi, aku berkaca pada Daini. Seperti halnya Daini, aku juga tidak meminta mahar apapun, aku mengatakan padanya, "Terserah pak Sabil saja."

__ADS_1


"Pak Sabil juga hadir 'kok, kamu semangat dong, Listi," seru pak Direktur. Ia sedang memeriksa beberapa berkas didampingi oleh mbak Gendis.


"Aku semangat 'kok, Pak Direktur. Memangnya aku kelihatan lemas?"


"Oh, jadi benar kamu pacaran sama Uu?" tanya mbak Gendis.


"Sudah lama tahu, Kak," sela pak Direktur.


"Yah, aku ketinggalan lagi 'deh."


Mbak Gendis tersenyum simpul. Cantik sekali. Keluarga Antasena memang terkenal cantik-cantik dan tampan-tampan.


"Mohon doanya saja, Bu," harapku.


'Tok tok.'


Pintu ruangan diketuk dari luar. Aku nyaris berdebar. Kukira yang datang adalah pak Sabil. Eh, ternyata pak Ikhwan. Ia langsung membungkukkan badan pada mbak Gendis dan pak Direktur. Mungkin aku salah lihat, aku merasa tatapan mbak Gendis pada pak Ikhwan sedikit berbeda. Ia menatap pak Ikhwan dari ujung rambut hingga ke kaki. Lalu cepat-cepat memalingkan wajah saat pak Ikhwan menoleh.


"Pak Sabil di mana?" tanya pak Direktur.


"Langsung ke kantor penyidik, Pak. Saya ke sini dulu karena harus menyerahkan berkas dari firma yang harus ditanda tangan sama Bapak. Ini tentang saham milik bu Daini," jelas pak Ikhwan. Wah, ternyata Daini punya saham.


"Aku memberinya saham untuk hadiah melahirkan. Usia kehamilan Hanin saat ini 'kan 36 minggu. Jadi, pas dia melahirkan, harapannya, saham itu sudah menjadi milik Hanin. Kalian kenapa pada bengong? Hei, jangan salah paham, aku juga sudah menyiapkan saham untuk ibu dari anakku yang lain!" tegasnya. Maksudnya mungkin untuk bu Dewi.


"Ya, Pak Zulfikar memang memberi saham untuk bu Dewi juga. Jumlahnya juga adil. Bu Daini lebih banyak karena bayinya ada dua," jelas pak Ikhwan. Ia tampak kikuk saat mbak Gendis menatapnya.


"Baiklah, sekarang kita berangkat sama-sama ke kantor penyidik. Oiya, apa wanita itu sudah berangkat juga?" tanya pak Direktur setelah ia menandatangani berkas.


"Sudah, Pak. Bu Dewi sudah berangkat bersama bang Radit."


"Apa ada media yang hadir?"


"Tidak ada, Pak. Gelar perkara ini tertutup untuk umum. Dalam hal ini, keluarga Surawijaya memang memiliki kewenangan untuk meminta pada penyidik agar masalah ini dirahasiakan dari publik."


"Baiklah, aku mengerti. Kita berangkat yuk! Listi, kamu jadi sopir dulu ya. Soalnya pak Reza sedang ada di luar kota sama papa. Pak Ikhwan ke sini naik apa?"


"Naik taksi, Pak."


"Ya sudah, Pak Ikhwan ke kantor penyidiknya bareng sama kak Gendis ya."


"Em, ti-tidak Pak. Saya naik taksi saja, atau bagaimana kalau saya ikut dengan mobil Anda saja." Pak Ikhwan seperti menjaga jarak dengan mbak Gendis.


"Apa salahnya kalau naik mobilku Pak Ikhwan?!" sentak mbak Gendis. Ia cemberut. Lalu pergi begitu saja setelah menyambar tas miliknya.


'Bruk.'


Mbak Gendis menutup pintu kantor dengan kencang. Aku dan pak Direktur saling menatap. Pak Ikhwan masih terperanjat namun kemudian menunduk lagi.


"Ada apa dengan kak Gendis? Pak Ikhwan, ada apa dengan kakakku?"


"Sa-saya tidak tahu, Pak."


"Aneh sekali, cepat susul dia Pak!" titah pak Direktur.


"Ta-tapi, Pak ---."


"Lho, Pak Ikhwan juga aneh. Cepat susul!" sela pak Direktur.


"Ba-baik, Pak."


Akhirnya, pak Ikhwan bergegas. Aku dan pak Direkturpun segera bersiap untuk pergi ke kantor penyidik.

__ADS_1


...⚘️⚘️⚘️...


...~Tbc~...


__ADS_2