Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Permohonan Maaf


__ADS_3

Sebelumnya ....


Listi Anggraeni


Aku pulang dari rumah Daini dengan kerisauan yang membelenggu jiwa. Haish, kalimatku hiperbola sekali. Tapi, faktanya memang demikian. Akhirnya, menyetirpun kurang konsentrasi. Sesekali melamun sambil membayangkan wajah nakal pria itu.


"Sablooon," pekikku sambil memukul setir.


Beraninya dia datang ke rumahku membawa orang tuanya. Maksudnya apa coba? Dasar cemen! Bawa polisi pula! Apa dia mau menunjukkan taringnya sebagai seorang perwira?


"Sst, itu cewek yang lagi dekat sama pak Abil."


Gumaman itu tak sengaja aku dengar saat keluar dari rumah pak Aksa. Polisi-polisi itu bergosip tentangku dan pak Sabil. Enggak ada pekerjaan lain apa?


"Sebal! Sebal! Sebaaal!" Setir mobil kembali jadi korban pukulanku.


"Ahh!" Lama-lama, tanganku yang sakit.


"WOY!!"


Teriakan itu mengagetkanku. Aku terkejut, baru sadar hampir saja menabrak abang ojol.


"Maaf, Pak. Maaf ya. Lagi buru-buru."


Aku berhenti sejenak dan melongokan kepala keluar. Abang ojol yang tadi beteriak malah melongo. Kenapa ya?


"Untung cantik," itu yang kudengar dari mulut seseorang. Aku terpaksa tersenyum dan mengangguk. Lantas kembali melajukan kemudi.


"Hahaha."


Jadi tertawa sendiri mengingat kata itu. 'Cantik.' Mata mereka harus diperiksa ke dokter mata.


.


Setelah menempuh perjalan kurang lebih lima belas menit, akhirnya sampai jua di rumahku.


"Hufth ...." Menghela napas berulang-ulang. Baru kali ini aku merasa takut datang ke rumahku sendiri.


Benar kata ibu. Ada dua mobil yang terparkir di depan rumahku. Lalu seorang polisi keluar. Diikuti yang lainnya.


"Hah, mereka mau apa?"


Mereka ternyata menghampiriku. Salah satunya langsung mengetuk kaca mobil. Saat kubuka kacanya, mereka serempak berkata ....


"Selamat datang Bu Listi."


"Kok Bapak-bapak tahu namaku, 'sih?!" ketusku.


Malas rasanya bersikap manis pada mereka. Oknumnya memang pak Sabil, tapi aku jadi kurang suka sama mereka. Aku segera turun dan memasang wajah masam. Anehnya, mereka malah saling bersitatap dan senyum-senyum.


"Permisi, aku mau lewat."


Lagi, aku ketus. Kali ini malah lebih ketus dari sebelumnya. Langkah kakiku sengaja kuhentakkan agar ekspresi judesku semakin kentara.


"Silahkan, Bu." Mempersilahkan.


Aku berjalan cepat menuju garasi. Jantungku mulai tidak bisa diatur. Berdegup tak karuan. Perasaan inipun mendadak gugup.


"Hahaha."


Samar, aku mendengar tawa dari arah ruang tamu. Apa aku salah dengar? Masa ya secepat itu bapak dan ibu akrab dengan orang tuanya pak Sabil? Akhirnya, aku memutuskan untuk mengintip dan menguping di balik pintu. Semoga enggak ketahuan.


Dari celah pintu aku bisa melihat mereka. Pria itu duduk sopan. Menunduk sambil menautkan jemarinya. Sementara ayah dan bundanya tampak asyik berbincang dengan bapak dan ibuku.


"Berarti, Ibu dan Bapak juga kayak saya ya. Hanya punya satu anak," kata bundanya pak Sabil.


"Benar, Bu. Karena adiknya Listi meninggal, Listi jadi anak tunggal," jelas ibuku.


"Kalau sayamah keguguran terus, Bu. Adiknya A Abil sebenarnya ada dua, tapi semuanya keguguran. Program hamil sudah, namun belum diberi kesempatan lagi. Sampai akhirnya saya mengalami perimenopause dan darah tinggi serta tidak dianjurkan hamil lagi."


"Oh, begitu ya."


Mereka benar-benar akrab. Apa ibu dan ayah belum tahu kalau yang di hadapan mereka itu pak Komjen?


"Harusnya, anak kita sudah datang, Bu." Bapak melihat jam di tangannya sambil menautkan alis.


Oh, tidak. Bagaimana ini? Aku semakin gugup. Tanganku sampai keringat dingin. Dan pria itu, entah kenapa malah melirik ke arahku. Tepatnya ke celah pintu. Aku segera berjongkok dan memalingkan wajah.

__ADS_1


"Kurasa Tia, emm ma-maksudku Listi sudah datang, Pak, Bu," duganya.


Sial! Dia memergokiku. Apa dia juga tahu kalau aku mengintip?


"Listi mengirim pesan sama Pak Polisi?" tanya ibu. Ibu memanggilnya 'Pak Polisi?' Terdengar aneh di telingaku.


"Mungkin masih di depan. Aku akan menyusulnya," katanya.


Ya ampun. Tanpa pikir panjang lagi, aku cepat-cepat beranjak dan berlari ke arah pintu dapur. Berjalan mengendap sambil membungkukkan badan. Gara-gara dia, aku berulah seperti maling di rumahku sendiri.


.


"Siaaal!" Pintu dapurnya malah dikunci.


"Issh!" Aku benar-benar kesal! Segera membalikan badan dan bersiap mencari ide lain. Dan ....


"Ha!" .... "Tia!"


Dia sudah berada di depanku. Pastinya aku kaget sampai badan ini tersentak.


"Maaf. Kaget ya? A-aku juga kaget karena kamu membalikan badan tiba-tiba." Dia mengulum bibirnya seperti sedang menahan tawa. Pasti mau mentertawakanku.


"Kenapa Anda datangnya cepat sekali?! Kaget tahu!"


"Saat melihatmu, aku langsung mengejar. Berbanding terbalik dengan kamu yang berjalan mengendap. Itu sebabnya aku bisa secepat itu. Masuk yuk!" Malah mengajakku masuk.


"Apa?! Hei! Ini rumahku! Kenapa jadi Anda yang mengajakku masuk?!"


"Ini bukan rumah kamu, 'kan? Setahuku, ini adalah rumah bu Mentari dan pak Haikal." Dia sudah tahu nama ibu dan bapakku.


"Ish! Menyebalkan! Ya, aku juga tahu ini rumah orang tuaku! Aku enggak mau masuk! Aku marah! Kenapa Pak Sabil datang bawa-bawa orang tua segala 'sih?! Itu, di depan juga banyak polisi! Maksudnya apa coba?!"


"Tia, jangan marah-marah terus atuh. Aku ke sini untuk minta maaf dan mempertanggung jawabkan perbuatanku. Karena aku serius ingin mendapat maaf darimu, jadi ... aku juga membawa orang tuaku."


"Terus, polisi-polisi itu untuk apa?!"


"Mereka berada di sini untuk menjaga ayah, aku, dan bunda. Emm, sebenarnya, ayahku mendapat ancaman pembunuhan, jadi ---." Dia tak lanjut menjelaskan. Malah menghela napas.


"A-apa?! Ancaman pembunuhan?! Anda tidak sedang mengarang cerita, 'kan?!" Mendengarnya saja sudah cukup membuatku takut. Bulu kudukku langsung berdiri.


"Aku tidak berbohong, Tia. Bunda dan ayahku sedang berada di posisi tidak baik-baik saja. Bukan hanya ayahku yang mendapat ancaman. Pak Aksa dan papinya bu Dewipun mendapat ancaman pembunuhan. Kamu tadi ke rumah pak Aksa, 'kan? Apa kamu melihat banyak polisi berjaga di sana?"


"Ya sudah, kapan kamu mau ke dalam? Apa perlu aku memegang tanganmu supaya tidak cemas?"


"Aku jadi takut. Aku takut Daini kenapa-napa. Aku pribadi lebih memilih bertemu hantu daripada bertemu penjahat."


"Ya sudah, anggap saja kalau aku adalah hantunya. Masuk yuk!" Mengajak lagi. Kali ini sambil mengulurkan tangannya.


"Tak perlu."


Aku menepis tangannya. Lalu berjalan di depannya dengan penuh percaya diri. Kewarasanku rupanya sudah kembali. Masa ya aku takut masuk ke rumahku sendiri? Yang benar saja!


.


"Listi? Ya ampun sayang, kami menunggu kamu, Nak."


Ibu langsung memelukku. Aku mematung canggung. Sedangkan dia, pria itu sudah duduk santai sambil menatap foto masa kecilku yang terpajang di dinding. Yaitu, fotoku saat usia lima tahun. Lokasinya di Kebun Binatang Ragunan. Aku berfoto dengan latar belakang ular. Ekspresiku pada foto itu sangat aneh. Antara senyum dan ketakutan.


"Lucu ya Pak Polisi? Itu foto Listi saat usia lima tahun," jelas bapak. Malah diperjelas.


"Ya, Pak. Lucu. Menggemaskan," katanya. Maksudnya apa coba?! Dia bilang aku menggemaskan? Tidak lucu!


"Bu, Pak."


Walaupun canggung, malu, dan ragu. Aku akhirnya menyalami ayah dan bundanya pak Sabil karena ibu mencubit tanganku dan berbisik ....


"Cepat salaman!"


"Bertemu lagi kita, ini yang kedua kalinya ya?" ucap bundanya.


"Ya Bu." Aku berusaha tersenyum.


Tangannya lembut sekali. Wanginya tak bisa didefinisikan. Sekarang giliran menyalami ayahnya. Auranya benar-benar menakutkan. Kakiku terasa gemetar. Walaupun pak Komjen tersenyum, aku tetap merasa takut.


"Ayahnya Abil," ucapnya.


"A-aku Listi, Pak. Listi Anggraeni Permata." Karena tak ada bahan bicara, jadilah memperkenalkan nama panjangku.

__ADS_1


"Namamu ada permatanya?" tanya pak Sabil.


"Ya. Memangnya kenapa?"


"Kenapa di name tag kamu hanya tertulis Listi Anggraeni?"


"Suka-suka aku dong," jawabku sambil duduk di samping ibu.


"Kenapa enggak ditulis lengkap saja?"


"Kepanjangan tahu!" sentakku. Tak sadar bicara keras. Bundanya dan pak Komjen langsung berpandangan. Bapak menatapku, dan ibu spontan mencubitku.


"Maaf," ucapku pelan, menunduk menahan kekesalan.


"Tidak apa-apa, dalam hal ini, A Abil yang salah, 'kok. Aa, jangan begitu dong. Nama tidak lengkap saja Aa permasalahkan. Heran 'deh. Name tag 'kan bukan KTP, A. Ya tak masalah kalaupun tidak ditulis lengkap." Bundanya menyenggol bahu pak Sabil. Syukurin!


"Ma-maaf Bunda. Aa salah," katanya. Sementara pak Komjen hanya geleng-geleng kepala.


"Ya sudah, karena sudah berkumpul, bagaimana kalau kita makan dulu?" ajak bapak. Hah, makan? Apa aku tidak salah dengar?


"Tidak perlu repot-repot, Pak, Bu. Kami sudah makan 'kok," ujar bundanya. Aku tidak tahu nama bundanya. Aku tahunya nama pak Komjen. Komjen Nataprawira Sabilulungan.


"Tapi Bunda, Aa mah sudah lapar lagi. Boleh enggak kalau Aa ikut makan?" Jujur, aku terkejut mendengar ucapannya. Bisa-bisanya dia mengatakan kalimat itu.


"Benar kamu lapar?" Kali ini, kulihat bundanya mencubit lengan pak Sabil. Sama percis dengan yang dilakukan ibu terhadapku.


"Awwh, Bunda. Sakit tahu, Bun. Ayah, Bunda mencubit Aa." Malah ngadu sama pak Komjen.


"Hahaha," bapakku lebih parah. Malah tertawa.


"Hahaha," pak Komjenpun akhirnya tertawa.


"Hahaha."


Ibu juga ikut-ikutan tertawa. Disusul bundanya yang tertawa. Aku dan pak Sabil spontan saling memandang. Apa yang dia lakukan? Menyebalkan! Dia malah melemparkan senyum sambil mengedipkan matanya. Kurang asem! Aku memalingkan wajah. Kondisi macam apa ini?! Aku benar-benar tak mengerti.


"Ya sudah, Ayah mau menemani A Abil makan ya Bun," kata pak Komjen.


"Ayah juga kelaparan? Aih, kalian bagaimana 'sih? Bukannya kita sudah janjian tidak akan makan? Eh? Hahaha." Bundanya kembali tertawa. Mungkin, merasa membocorkan rahasia mereka.


"Ya sudah, yuk kita ke dapur. Makan seadanya tidak apa-apa ya? Maaf kalau kondisi rumah kami tidak terlalu nyaman," ucap ibu seraya beranjak.


Aku menautkan alis. Pikirku, apa yang akan kami makan? Aku yakin ibu belum sempat memasak.


.


Namun, apa yang kulihat di meja makan membuatku terkejut. Ibu ternyata mengikuti saranku. Pesan masakan dan nasi di seberang jalan. Tapi bukan masakan Padang. Melainkan masakan Sunda.


"Ibu ngutang dulu, nanti kamu yang bayar ya sayang," bisik ibu.


"A-apa?" protesku dengan suara pelan.


"Sst," ibu meletakan jari telunjuk di bibirku.


"Mari-mari," ajak bapak.


Bapak mendekatkan kursi pada pak Komjen, dan bundanya. Dan dia, dia sudah duduk terlebih dahulu di meja makanku. Tingkat percaya dirinya benar-benar selangit. Sekarang sedang menatap makanan sambil mengatakan ....


"Wah, banyak sekali? Ibu memasak ini semua?" tanyanya. Aku menyenggol bahu ibu agar segera menjawab pertanyaannya.


"Silahkan, silahkan," kata ibu. Pasti sengaja tidak menjawab pertanyaannya. Ibu malah menyibukkan diri dengan memisahkan duri ikan bakar.


"Listi itu enggak bisa makan ikan yang ada durinya." Ibu malah mempermalukanku.


"Ibu," protesku.


"Hahaha, sama dong kayak A Abil, Bu. Dia juga enggak bisa memisahkan duri ikan." Ucapan bundanya membuatku sedikit tenang. Setidaknya, yang malu bukan hanya aku.


"Bunda, kenapa harus mempermalukan Aa 'sih?" protesnya.


"Ya ampun Pak Polisi, Ibu tak menyangka," sahut ibu.


Sementara bapak dan pak Komjen sudah asyik menyantap menu. Melihat banyaknya menu, aku jadi kepikiran bon yang harus kubayar. Tapi, ini masih untung. Sebab, bapak dan ibu tidak mengajak polisi-polisi yang ada di dalam mobil untuk makan bersama kami. Entah ibu dan bapak lupa, atau memang disengaja agar budgetnya lebih irit.


Akupun mulai menyuap. Menyebalkan! Pak Sabil selalu menatap ke arahku.


...⚘️⚘️⚘️...

__ADS_1


...~Tbc~...


__ADS_2