
Satu Jam yang Lalu
____________________
Kang Hendra
Serius, baru kali ini aku merasakan takut yang luar biasa karena kedatangan tamu tak diundang di jam yang tidak seharusnya. Tadi, aku melihat mereka berusaha membuka gerbang rumah abah saat aku hendak menyalakan mesin air untuk mengisi penampungan.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" Walau merasa tak enak hati, aku berusaha menyapa mereka.
"Kami ingin bertemu dengan pak Direktur Zulfikar Saga Antasena. Beliau ada di sini, 'kan?"
"Ada," jawabku spontan.
"Cepat buka gerbangnya! Kami mau masuk. Ada hal penting yang ingin kami bicarakan. Cepat!"
Dia bahkan beteriak. Lalu salah satu dari mereka terlihat mengambil sesuatu dari tasnya yang ternyata adalah senjata laras pendek. Jantungku semakin berdegup dan dengan sendirinya tangan ini membuka gembok gerbang saat orang itu meniup moncong senjata.
"Bagus." Salah satunya mengusap bahuku.
Di saat aku masih terbengong-bengong, mereka berjalan begitu saja menuju rumah. Aku lantas menyusul. Dari gelagat yang ditunjukkan, aku yakin mereka bukan orang baik. Masa ya ada tamu yang memaksa masuk ke dalam rumah sebelum diberi izin?
"Silahkan menunggu di teras," pintaku.
"Tidak, kami ingin menunggu di ruang tamu."
"Ba-baik, silahkan masuk. Ma-mau minum apa?"
Aku tak bisa menyembunyikan kegugupan. Apa lagi saat aku menyadari jika yang membawa senjata tak hanya satu orang.
Apa mereka rekannya pak Sabil?
Tapi, di antara mereka ada yang berambut gondrong dan bertato. Setahuku, polisi dilarang mentato ataupun menindik tubuhnya.
"Daripada kamu ketakutan, lebih baik cepat panggil pak Zulfikarnya. Hahaha," ledeknya.
"Ya, cepat panggil! Kami tak perlu minuman! Yang kami hanya butuhkan hanya pak Zulfikar," tegas yang lainnya. Mereka berjumlah lima orang.
"Baik, saya akan memanggilnya." Sembari bergegas.
.
Hingga akhirnya, aku sampai di depan kamar neng Daini dan pak Zulfikar.
Bagaimana kalau mereka sedang ...?
Aku jadi terpikirkan ke arah sana. Tapi, mau bagaimana lagi? Kejadian ini di luar dugaan dan memang harus segera ditindak lanjut. Aku beteriak setelah mengetuk pintu kamar.
"Pak Zulfikar, ini Kang Hendra. Punten (maaf) mengganggu. Ada tamu yang ingin mencari Bapak. Penampilan mereka seperti preman," teriakku.
Untuk beberapa saat, tak ada jawaban dari dalam kamar. Akhirnya, aku memutuskan untuk mengetuk pintu lagi dengan ketukan yang lebih kuat dari sebelumnya.
"Cepat Pak! Kang Hendra agak takut. Mana abah enggak ada lagi. Dari cara bicara dan raut wajahnya, mereka kayak bukan orang baik," seruku seraya menggaruk tengkuk untuk mengurangi kepanikan. Syukurlah, pak Zulfikar merespon.
"Tunggu ya Kang Hendra, lima menit lagi," sahut pak Zulfikar. Suaranya terdengar berat.
"Baik Pak," kataku.
Lalu berjalan cepat untuk kembali ke ruang tamu.
Sebelum ke ruang tamu, aku inisiatif membangunkan istriku. Dia harus tahu dan akan kuperintahkan untuk menjaga ummi. Ummi punya penyakit jantung. Bisa gawat kalau ummi sampai tahu ada tamu tak diundang yang mencurigakan dan membawa senjata.
.
"Ada apa 'sih, Kang?"
"Cepat bangun, Ni! Kamu harus bantu Akang!"
"Bantu apa? Akang kunaon (kenapa)? 'Kok mukanya kayak orang panik begitu, 'sih?"
"Ya ampun Janita. Kata Akang bangun ya bangun!" Aku terpaksa menarik tangannya.
"Ihh, sakit Kang! Aku capek. Ari kamu, enggak punya perasaan kamumah, Kang. Tadi, 'kan aku sama ummi baru selesai masak mendadak gara-gara ada bu Dewi dan pak Zulfikar." Cemberut, lalu membelakangiku.
"Iya, Akang tahu kamu capek. Tapi ini ada hal mendesak, Ni. Di ruang tamu ada lima orang tamu yang sangat mencurigakan. Mereka mencari pak Zulfikar. Mereka seperti bukan orang baik. Malah, ada yang bawa senjata juga. Penampilannya rata-rata kayak preman," jelasku dengan suara pelan.
"A-apa?!" Dia langsung menutup bibirnya.
"Ssstt, jangan teriak. Kamu sekarang bangun, terus jaga ummi ya. Maksud Akang, kamu jaga di depan kamar ummi. Biar nanti saat ummi bangun, kamu bisa mengalihkan perhatian ummi, dan upayakan agar ummi tidak sampai mendekat ke ruang tamu dulu." Dia menyimak penjelasanku sambil melongo.
"Tunggu, paling juga mereka polisi, Kang. Mereka pasti temannya pak Sabil. Kita berbaik sangka saja. Oiya, aku enggak harus buru-buru, 'kan? Soalnya, aku belum mandi besar, Kang. Issh, gara-gara kamu 'sih." Malah menyalahkan.
"Ya ampun Janita, di saat seperti ini kamu malah menyalahkan Akang. Akang minta jatah sama kamu ya wajar atuh. Kita 'kan suami istri. Sudah ah, Akang mau menemui mereka lagi. Makanya, kalau selesai Akang kasih yang enak 'tuh langsung mandi. Kamumah kebiasaan 'sih, selalu langsung tidur," rutukku sambil berlalu.
__ADS_1
"Kang! Kamunya 'tuh yang beukian (sukaan)! Siapa ya yang hampir tiap malam minta jatah?! Huuh!" dengusnya sembari melempar bantal ke punggungku.
Aku hanya bisa tersenyum mendengar ocehannya. Namum senyumanku seketika lenyap saat aku teringat kembali dengan tamu-tamu itu.
.
"Kang Hendra?" Aku berpapasan dengan dokter Rahmi.
"Dokter Rahmi? Mau ke mana? 'Kok sampai mengendap-endap begitu?"
"Kang Hendra, aku disuruh pak Zulfikar menjaga bu Dewi. Katanya, jangan sampai tamu-tamu itu tahu kalau bu Dewi ada di rumah ini."
"Ya ampun, Dok."
Aku dan dokter Rahmi saling menatap. Seolah bertelepati, kami langsung menyadari jika kondisi saat ini pasti ada hubungannya dengan keberadaan bu Dewi di rumah ini.
"Keluarga Antasena dan keluarga bu Dewi sedang perang dingin," bisiknya.
"Hahh?" Aku melongo dan mematung.
"Ssst, pak Zulfikar menculik bu Dewi. Tapi, ini rahasia kita ya, Pak. Pokoknya, jangan sampai ketahuan sipapun. Ya sudah, Kang Hendra cepat teman pak Zulfikar. Pak Zulfikar sudah keluar dari kamarnya."
Mataku rasanya mau melompat dari kelopaknya. 'Kok bisa pak Zulfikar menculik bu Dewi? Bukankah mereka suami istri? Lagi pula, bu Dewinya juga terlihat biasa-biasa saja. Tidak menunjukkan tanda-tanda penolakan. Hanya marah-marah saat baru datang saja.
"Kang Hendra!" Dokter Rahmi melambaikan tangan di hadapan wajahku.
"Ba-baik, Dok. Terus, neng Daini bagaimana?" Langkahku terhenti sejenak.
"Kita serahkan sama pak Zulfikar saja. Aku yakin pak Direktur tidak mungkin membiarkan cinta matinya ada dalam bahaya," jelasnya. Lalu mengendap kembali menuju ke arah kamar tamu yang ditempati bu Dewi.
Aku lanjut ke ruang tamu.
.
Belum sampai di sana, aku sudah bisa mendengar jika pak Zulfikar tengah berbincang dengan mereka. Langkahku kian mendekat, karena takut, aku hanya mematung di ambang pintu.
"Berapa jumlah uang yang kalian minta? Tak perlu basa-basi," kata pak Zulfikar. Ya ampun, dia bahkan masih memakai piyama yang di bagian dadanya terbuka. Aku jadi malu sendiri karena di dada pak Zulfikar terlihat jelas sekali ada jejak-jejak kepemilikan.
"Kang, kemari," ajaknya.
"Y-ya, Pak."
Keberadaanku ternyata sudah diketahui oleh pak Zulfikar dan tamu-tamu itu. Aku segera duduk di sisi pak Zulfikar.
"Hanya untuk menanyakan Dewi, apa perlu mertuaku melakukan ini? Padahal, papi bisa saja 'kan langsung menghubugiku?"
"Pak Surawijaya telah menghubungi Anda, tapi nomor Anda tidak aktif."
"Hahaha, masa 'sih?" kilah pak Zulfikar.
"Maka dari itu pak Surawijaya mengutus kami untuk datang ke sini."
"Dari mana kalian tahu kalau aku berada di sini?"
"Pak Zulfikar, kami tahu istri muda Anda sangat cantik jelita. Hahaha, kami tahu kalau Anda pasti akan lebih menyukai daun yang lebih muda dan ranum," ledek yang lainnya. Dia adalah pria bertato. Berani sekali dia mengatakan kalimat itu pada pak Zulfikar.
"Jangan bawa-bawa istriku. Dia tidak ada hubungannya dengan masalah ini. Sekarang begini saja, jika kalian tak butuh uang, kenapa tidak segera pergi saja? Ini rumah mertuaku. Kalian tak boleh membuat keonaran di rumah istriku."
"Hahaha, pak Zulfikar, bos kami lebih kaya daripada Anda. Uang pak Surawijaya jelas lebih banyak daripada Anda. Yang kaya 'kan orang tua Anda. Anda sendiri miskin, bukan? Hahaha," ledek pria yang tadi sempat memamerkan senjatanya.
"Oh, jadi itu alasan kalian tak menginginkan uang dariku?"
"Ya, benar. Kami hanya bekerja untuk yang posisinya lebih dominan."
"Ya sudah, sekarang kalian silahkan pergi dan katakan pada mertuaku kalau manusia yang kurang waras bisa dengan mudah kabur dari rumah kapan saja dan di mana saja," tegas pak Zulfikar, dan aku sama sekali tak mengerti maksud dari ucapannya.
Manusia yang kurang waras? Maksudnya?
Tidak hanya aku, tamu-tamu tak diundangpun tampak keheranan. Mereka saling menatap satu sama lain.
"Kami tidak mengerti maksud Anda. Begini saja, izinkan kami untuk menggeledah rumah ini."
Apa?! Aku langsung mengerjapkan mata.
"Aku tidak akan mengizinkan! Kalian tidak berhak menggeledah rumah ini! Kalian bukan polisi! Jangan berani-berani ya!" tegas pak Zulfikar seraya berdiri. Akupun spontan ikut berdiri walaupun faktanya aku tak tahu harus melakukan apa.
"Kalaupun Anda tak mengizinkan, kami akan memaksa!" Pria gondrong berdiri, lalu diikuti teman-temannya. Mereka berlima berdiri. Yang memegang senjata tampak memainkan senjatanya.
"Kalian jangan sembarangan ya! Aku tak mengizinkan kalian mengacaukan rumah mertuaku. Silahkan pergi dan katakan pada papi mertuaku jika perang ini tidak akan berakhir sebelum dia mengakui kesalahannya!" teriak pak Zulfikar.
Suasana menegang. Aku memasukkan tangan ke dalam saku celana agar tidak gemetar. Ingin rasanya berlari ke Pondok untuk menyampaikan kejadian ini pada abah. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku benar-benar tak mengerti.
...⚘️⚘️⚘️...
__ADS_1
Di Waktu yang Bersamaan
__________________________
Dokter Rahmi
"Kamu pastikan agar Dewi tak terbangun sampai kondisinya kondusif. Kalau bisa, kamu harus menyembunyikan Dewi. Pokoknya, bagaimanapun caranya terserah kamu. Yang penting tidak ketahuan dan Dewi tak sampai mengundang keributan."
Perintah pak Direktur benar-benar di luar nalar. Sayangnya, aku tak bisa protes ataupun bertanya lebih jauh lagi. Pak Zulfikar hanya mengatakan jika keberadaan bu Dewi di rumah ini adalah rahasia.
Pak Zulfikar bahkan sempat mengatakan kalau ia bisa dibilang telah menculik bu Dewi. Jelas, aku tak paham maksudnya. Namun tidak ada cara lain yang bisa kulakukan kecuali mematuhinya. Pak Zulfikar adalah bosku. Sumber mata uangku.
.
Aku sudah berada di kamar bu Dewi. Dia tidur lelap setelah disuapi pak Direktur. Sesuai perintah pak Zulfikar, agar harus bisa membuatnya tenang. Kuputuskan melakukan sesuatu. Dengan perlahan dan teliti, aku menyuntikkan obat tidur dosis rendah ke tubuhnya. Selesai.
"Ahh."
Bu Dewi terbangun. Aku terkejut dan segera menyembunyikan spuit obat ke kantung bajuku. Untungnya obatnya sudah berhasil kusuntikkan.
"Kenapa kamu ada di kamarku?!" teriaknya.
"Aku disuruh menemani Ibu sama pak Zulfikar."
"Aku tak sudi ditemani sama kamu! Kamu anteknya si Daini! Aku tak mau berteman dengan siapapun yang berteman baik dengan si Daini!" sentaknya.
Rupanya dia tidak sadar kalau dia baru saja aku suntik. Satu menit lagi, obat tidurnya akan bereaksi. Aku hanya perlu menenangkan dan mengulur waktu.
"Hahaha, Bu Dewi lucu 'deh. Masa tidak mau berteman dengan siapun yang dekat dengan neng Daini? Yakin? Bukankah orang yang paling dekat dengan neng Daini adalah suami Anda? Bukan aku. Hahaha, pak Direktur dan neng Daini jelas lebih dari sekadar dekat. Saking dekatnya, mereka bahkan sering berbagi tubuh, berbagi napas, dan berbagi rasa. Hahaha."
Aku tak bisa menahan diri. Bukannya menenangkan, aku malah memancing emosinya. Biarkan sajalah. Toh, sebentar lagi dia akan samnolen alias tidur.
"Apa?! Kamu tak sopan ya, Rahmi! Untuk mas Zul kukecualikan!" kilahnya.
"Oya? Hahaha, baguslah. Kalau disamaratakan, itu 'kan berarti Anda sudah rela melepas pak Direktur untuk neng Daini."
"Rahmi! Kamu tak sopan ya! Kamu dan si Daini sama saja! Sama-sama j a l a n g nya!"
Tunggu, ini sudah satu menit. 'Kok bisa dia masih belum mengantuk juga? Menguappun tidak. Apa aku salah obat? Tidak mungkin! Aduh, bagaimana ini? Aku yakin telah menyuntiknya dengan obat yang tepat.
"Kenapa malah melongo?! Cepat pergi dari kamar ini!" usirnya.
"Baik, aku pergi." Kupikir akan lebih baik kalau aku segera pergi.
Namun tiba-tiba, dari luar terdengar keributan.
"Ceu Jani, memangnya kenapa kalau Ummi ke ruang tamu? 'Kok Ceu Jani aneh, 'sih? Ummi hanya penasaran sama suara orang mengobrol."
Bu Dewi mengernyitkan alisnya. Gawat! Dia malah bangun dan sepertinya akan keluar dari kamar.
"Bu Dewi, tunggu!" Aku memegang tangannya.
"Rahmi! Kamu tak sopan sama majikan kamu! Lepas!" Dia menepis tanganku.
"Jangan Ummi, jangan ke sana! Jani mohon sama Ummi."
Itu suara ceu Jani. Lalu suara mereka tak terdengar lagi karena menjauh. Hanya ada sayupan teriakan ummi.
"Ceu Jani!"
"Ada apa 'sih?! Aku jadi curiga!" teriak bu Dewi sambil berlari ke arah pintu. Aku mengejar. Secepatnya mengunci pintu kamar dan melempar kunci tersebut ke atas almari.
"Rahmi! Kamu gila ya!"
Bu Dewi marah. Langsung menjambak rambutku. Aku melawan. Memiting tanganya. Hore, dia kalah. Bu Dewi tak tahu kalau aku bisa taekwondo. Ya, walaupun levelnya bawah, namun tak bisa dianggap remeh.
"Lepaskan aku Rahmi! Awas ya! Kamu akan aku pecat!"
"Maaf Bu, aku terpaksa melakukan ini demi uang. Hahaha, demi kebaikan Ibu dan demi masa depanku," timpalku saat berhasil meringkusnya. Aku merebahkan bu Dewi di tempat tidur. Lalu kuikat tangannya dengan kain sambil memiting kakinya dengan kakiku.
"Rahmi! Akan kupastikan kamu mendekam di penjara karena telah lancang melakukan ini kepadaku! Kamu lupa ya aku siapa aku?! Aku anak yang terlahir dari sendok emas!" Sambil terus meronta.
Namun dia kalah sigap dan kuat. Sekarang, aku telah berhasil mengikat kakinya. Agar tak menimbulkan keributan, akupun menutupi mulutnya dengan pashmina.
"Mmm." Bu Dewi mengamuk. Sorot matanya dipenuhi dendam kesumat
"Maaf ya Bu, aku melakukan ini atas keinginan pribadi. Sebenarnya, pak Zulfikar hanya menyuruhku menenangkan Anda. Tapi, Andanya tak mempan dengan obat tidur. Tunggu, apa Anda seorang pemakai? 'Kok bisa obatku tak ada efeknya?"
Aku menyadari sesuatu. Dia mengelak dengan menggelengkan kepalanya.
Aku akan tetap di sini sampai ada perintah selanjutnya dari pak Zulfikar. Aku mengisi ketidakpastian ini dengan rebahan di sisi bu Dewi sambil makan kacang polong.
...⚘️⚘️⚘️...
__ADS_1
...~Tbc~...