Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Gurindam Tak Bersajak


__ADS_3

WARNING!!! ADULT AREA!!!


...⚘️⚘️⚘️...


Daini Hanindiya Putri Sadikin


Rasanya masih seperti mimpi. Kejadian kemarin nyaris membuatku terguncang. Namun aku bersyukur karena bisa ditemukan dalam keadaan selamat. Dari desas-desus yang kudengar, ada yang mengirim pesan pada pak Zulfikar. Pesan itu berisi informasi tentang keberadaanku.


Kejadian saat aku dibekap, dimasukan ke dalam mobil, dan berbagai hal-hal yang terjadi saat aku masih terpengaruh efek sedatif dan siuman, sampai saat ini, belum lekang dari ingatanku. Satu hal yang paling kuingat adalah, saat aku setengah sadar dan ketakutan, aku berusaha menenangkan diri dengan membaca ayat Al-Qur'an yang kuhafal.


Aku percaya akan keutamaan membaca Al-Qur'an yang sangat luar biasa. Yaitu, akan mendatangkan pahala dan kebaikan, memberikan derajat dan wibawa, memperoleh rahmat dan perlindungan malaikat, memberi syafaat di hari kiamat, hingga menghindarkan diri dari sesat dan celaka bagi para pembaca, dan pengamalnya.


Dengan membacanya, aku berharap bisa diselamatkan dari segenap hal jahat yang hendak dilakukan para penculik. Qodarullah, harapanku dikabulkan.


"Tidur ya, jangan melamun terus 'dong, Neng," bujuk dokter Rahmi.


"Tidak bisa, Dok. Sulit."


"Issh, memang harus ya ngawalnya mepet-mepet terus?!" sentak kak Listi.


'Tiiin.' Dia menyalakan klakson saat mobil Patwal mendekat dan nyaris memepetnya.


"Apa-apaan ini?! Dasar polisi gila!" sentaknya lagi.


Aku dan dokter Rahmi saling menatap. Tak bisa menjelaskan kenapa kak Listi bersikap seperti itu.


"Lingluuung! Awas kamu ya!" Sekarang sambil memukul setir.


"Listi! Kamu kenapa 'sih? Hey, kamu lagi bawa ibu hamil lho! Jangan main-main ya!" tegas dokter Rahmi sambil memegang tanganku.


"Tenang saja, Dok. Kamu juga tenang ya, Neng. Gue enggak akan ngebut, 'kok. Cuma kesal saja sama mobil Patwal itu!"


"Kesal apa kesal? Hahaha, polisinya ganteng tahu, Lis. Aku 'sih, senang melihatnya," seru dokter Rahmi.


"Ganteng? Hahaha, maaf ya, bukan tipe gue! Seganteng apapun dia, gue tidak tertarik sama aparat!" Lagi, aku dan dokter Rahmi saling menatap.


"Lu yakin enggak tertarik sama pak Sabil? Mata lu picek," ledek dokter Rahmi.


"Kalau dokter Rahmi suka dan tertarik sama dia, ya kenalan saja sono! Enggak perlu puji-puji dia di hadapan gue!" teriaknya.


"Hey, gue sudah kenal lama sama pak Sabil. 'Kan dia teman akrabnya pak Ikhwan. 'Nah, pak Ikhwan itu saudara gue," terang dokter Rahmi.


"Terserah! Mau kenal lama, mau enggak, bukan urusan gue!" sahut kak Listi.


Duh, malah adu mulut. Bagaimana aku bisa tidur kalau begini caranya? Tapi, aku tak berani melerai mereka. Biarkan sajalah. Yang penting, bisa datang dengan selamat sampai tujuan. Kangen pada abah, serta rinduku sama ummi dan Putra akan segera terobati.


"Sebenarnya, jujur ya, gue ada rasa 'sih sama pak Sabil. Tapi dianya selalu cuek saat bertemu gue. Ya sudah, gue juga ikutan cuek. Kalau gue genit, nanti dikira ke-PD-an lagi," terang dokter Rahmi.


"Oh, hahaha. Jadi dokter Rahmi suka sama pak Sabil? Tenang, Dok. Nanti gue bilang ke orangnya."


"Apa?! Kamu enggak serius 'kan Listi?" Dokter Rahmi terkejut.


"Serius 'lah, Dok."


"Apa?! Hey! Awas saja kalau lu bilang-bilang. Malu gila! Please, jangan bocorkan rahasia ini. Gue cukup jadi penggemar rahasianya saja. Kalau lu nekad, gue mau bilang sama pak Sabil kalau yang menyukai dia bukan gue, tapi lu!"


Ya ampun, sampai kapan mereka akan memperdebatkan pak Sabil? Dari pada pusing mendengar perdebatan mereka, akan lebih baik kalau aku makan saja.


...⚘️⚘️⚘️...


Saat melintasi rest area, akupun meminta kak Listi untuk berhenti.


"Sekalian shalat Isya," kataku saat kami turun dari mobil.


Mobil Patwalpun berhenti. Pak Sabil dan temannya turun, lalu menghampiri kami. Dokter Rahmi tampak salah tingkah, kak Listi memalingkan wajah.


"Bu Daini, ada yang bisa kubantu?"


"Ada, bisa temani aku makan? Maksudku, kita shalat Isya dulu, setelah itu baru makan bersama. Atau, makan dulu baru shalat Isya," jelasku.


"Boleh."


Pak Sabil mengiyakan sambil melirik pada kak Listi. Lucunya, kak Listi langsung mengepalkan tangan dan meninju telapak tangannya sendiri kala menyadari pak Sabil melihat ke arahnya.


"Listi, kamu tak sopan berbuat begitu sama Pak Sabil?" Dokter Rahmi mencubit kak Listi.


"Yang tak sopan itu dia! Bukan aku!" sentak kak Listi. Otomatis, kami semua berpandangan. Pak Sabil mengulum senyum.


"Maaf kalau Bu Listi tidak nyaman. Kita makan di mana?" Pak Sabil mengalihkan pembicaraan.


"Mau makan di hatimu, Pak. Hahaha," canda dokter Rahmi.


"Boleh," sahut pak Sabil.


"Dih, menyebalkan! Neng Daini, gue pergi duluan ya! Mau cari makan sendiri! Kalau ada yang jual, gue mau makan orang!"


Kak Listi bergegas. Pergi begitu saja di saat kami semua kebingungan. Tidak, pak Sabil sepertinya tidak kebingungan, ia malah senyum-senyum.


"Ya ampun, mau datang bulan kayaknya dia 'tuh," gumam dokter Rahmi.


...⚘️⚘️⚘️...


Karena kak Listi pergi ke tempat masakan Padang, kamipun menyusulnya. Di sana, kak Listi sudah duduk sambil menikmati es teh manis. Kami mendekat. Lalu pelayan datang menawarkan berbagai menu setelah kami semua mendapatkan kursi.


"Silahkan-silahkan."


Setelah menu pesanan datang, dokter Rahmi mempersilahkan dan sering melirik pada pak Sabil. Ia sepertinya benar-benar mengagumi pak Sabil. Namun, pak Sabil malah memandangi kak Listi.


"Makan ya makan! Memang harus ya lihat-lilhat gue!" dengus kak Listi.


"Listi, jaga sikap kamu. Pak Sabil perwira, lho." Dokter Rahmi kembali memeringati.


"Gue enggak peduli! Toh, dia juga sama kayak gue! Sama-sama manusia! Kata Daini juga yang membedakan manusia itu hanya iman dan takwanya," timpal kak Listi.


"Maaf ya Bu Listi, aku sengaja memandang Bu Listi agar selera makanku meningkat." Pak Sabil malah menggoda kak Listi.


"Yey, memangnya gue minyak ikan apa?! Sampai bisa menaikan nafsu makan segala! Sebal-sebaaal!" Kak Listi bahkan memutar kursi hingga membelakangi pak Sabil.


"Hahaha. Bu Listi lucu ya?"


Pak Sabil malah tertawa sambil melirik pada temannya yang juga ikut tertawa. Dokter Rahmi termangu. Ia melihat interaksi pak Sabil dan kak Listi hingga melambatkan kunyahannya. Bahkan, dokter Rahmi seperti tidak berselera lagi.


"Ya sudah, sekarang kita fokus makan dulu yuk! Nanti, kalau sudah sampai di rumahku, kita bisa ngobrol banyak sambil bancakan, bakar ikan, dan bakar jagung," kataku. Sengaja berkata demikian agar suasana makan bersama ini kembali kondusif.


Bancakan atau babacakan bisa didefinisikan sebagai tradisi makan bersama dengan menggunakan daun pisang sebagai alas makannya.

__ADS_1


"Maaf ya kalau gue bikin onar." Kak Listi mengembalikan kursinya ke posisi semula.


...⚘️⚘️⚘️...


Seusai makan, kami bergegas ke masjid yang berada di rest area untuk melaksanakan shalat Isya. Selesai shalat, karena sudah terbiasa, aku lanjut membaca Al-Qur'an hingga tak sadar jika aku sudah membacanya selama lebih dari tiga puluh menit.


"Aku benar-benar minta maaf. Kenapa Kak Listi atau dokter Rahmi tak mengingatkanku?" protesku saat keluar dari masjid dan menyadari jika mereka sudah menungguku di teras masjid.


"Tidak apa-apa Bu," sahut pak Sabil.


"Ya, enggak apa-apa 'kok, Neng. Lagi pula, di dalam masjid kamunya juga ngaji, bukan tidur," sela kak Listi. Dokter Rahmi tak berkomentar, ia memilih menuntun tanganku menuju area parkiran untuk melanjutkan perjalanan.


...⚘️⚘️⚘️...


Karena menghabiskan banyak waktu di rest area, aku baru sampai di Bandung jam sepuluh malam. Anehnya, ummi dan abah masih terjaga. Mereka menunggu di teras rumah bersama ceu Jani dan kang Hedra. Seolah sudah tahu jika aku akan datang. Padahal, aku sengaja tak mengabari.


"Neng, huuu."


Ummi merangkulku dan menangis. Rupanya, berita penculikan itu telah menyebar sampai ke telinga ummi dan abah. Sambil memeluk ummi, mataku menatap ke sana. Di pojok sana ada sebuah mobil yang tertutup sarung mobil. Apa abah beli mobil?


"Ummi, jangan begini ya. Kasihan tamu-tamu kita. Ini sudah malam. Ke dalam yuk!" ajak abah seraya melambaikan tangan pada semuanya agar segera masuk.


...⚘️⚘️⚘️...


Di ruang tamu, kami berkumpul. Ummi kembali menangis dan memelukku. Kang Hendra dan ceu Jani sibuk menghidangkan kudapan dan minuman yang bisa menghangatkan badan. Abah dan pak Sabil langsung ngobrol membahas kronologi kasus penculikan.


Kak Listi?


Percayalah, beberapa menit setelah duduk, dia malah tertidur di sofa.


"Ya ampun, Listi. Hey, bangun! Jangan tidur di sini!" Dokter Rahmi menepuk bahu kak Listi.


"Biarkan saja, Dok. Mungkin kelelahan," sahut pak Sabil.


"Lelah 'sih lelah. Tapi enggak tidur di sini juga keleus. Mana mangap lagi," gerutu dokter Rahmi.


"Ceu Jani, punten (maaf) ambil selimut ya. Biarkan saja Kak Listi tidur di situ dulu. Kasihan kalau dibangunin sekarang," timpal ummi.


"Baik Ummi." Ceu Jani beranjak.


"Kak Listi memang kurang tidur, Mi. Dia semalaman jaga aku terus. Padahal sudah aku suruh tidur."


"Sablooon! Beraninya lu cium bibir gue! Awas lu ya!"


Dalam tidurnya kak Listi mengigau sambil mencak-mencak. Kita semua terperangah kaget. Ceu Jani yang mau menyelimutipun sampai mematung.


"Uhhuk, uhuuk." Pak Sabil mendadak batuk-batuk. Pipi dan daun telinganya memerah.


"Pak Abil, minum Pak."


Temannya menyodorkan air. Lalu pak Sabil minum dan tampak gugup. Kenapa ya?


"Bapak tadi bertanya apa? Bisa diulang lagi?" tanya pak Sabil pada abah. Seolah tengah mengalihkan keterkejutan kita semua pada igauan kak Listi.


"Itu, Pak. Berapa lama kira-kira proses penyelidikan telepon selulernya? Apa nantinya data di HP-nya akan disadap apa bagaimana?" tanya abah.


"Polri punya alat yang namanya Cellebrite UFED Touch. Alat ini bisa menyedot data dari ponsel, meski data itu sudah terhapus sebelumnya. Kami akan menggunakan alat itu pada ponsel milik para pelaku," jelas pak Sabil. Sesekali melirik pada kak Listi. Seperti khawatir kalau kak Listi akan mengigau lagi.


"Terus, untuk nomor tidak aktif yang mengirim pesan pada pak Zulfikar bagaimana? Apa bisa dilacak juga?" Abah masih penasaran.


"Wah, ck ck ck, keren," decak abah.


"Daini ..., Daini ..., huuu, Neng ...."


Kak Listi mengingau lagi. Kali ini, tangannya terulur, bahkan sambil menangis. Lagi, kita semua dibuat terkejut. Aku segera memeluk kak Listi. Dia mengingau se-dramatis ini pasti karena terlalu mengkhawatirkanku.


"Kak, ini aku. Aku baik-baik saja. Maaf, gara-gara aku, Kakak juga jadi ikut trauma."


Aku mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Kak Listi benar-benar tulus. Aku terharu. Lalu ia membuka mata, bangun, dan memelukku sambil terisak.


"Neng, huuu. Gue enggak mau kamu kenapa-kenapa lagi. Gue terlalu sayang sama kamu, Neng. Kamu adalah orang yang enggak pernah ninggalin gue dalam keadaan apapun. Gue 'sih maunya kamu pergi dari keluarga Antasena. Huuks." Suasana jadi hening saat kak Listi meratapiku.


"Kak Listi ...," lirihku.


"Kamu enggak bisa ya pisah dari pak Zulfikar? Maaf kalau gue ikut campur ya, Neng. Gue hanya sebatas mengungkapkan unek-unek. Pada dasarnya, gue akan selalalu mendukung apapun keputusan kamu. Tapi ... huuu ... gue tidak bisa hidup tenang kalau sampai penculikan kemarin tidak berhasil digagalkan sama polisi."


"Bayangkan Neng, gue dengar sendiri kalau penculik itu mau membunuh dan memperkosa kamu. Mereka tak main-main, Neng. Mereka bahkan bersenjata. Huuu. Tolong pertimbangkan saranku, Neng. Ini demi keselamatan kamu dan bayi kamu. Maaf ya, Neng."


"Keselamatan anak dan istriku adalah tanggung jawabku!" sentak seseorang dari arah pintu. Aku terkejut sempurna. Jelas sangat mengenali suara itu.


"P-Pak Zulfikar?!" Aku membelalakan mata.


"Pak Direktur?!"


Pak Sabil beserta temannya, serta kak Listi dan dokter Rahmipun sama kagetnya. Yang tidak terlihat kaget hanya ummi, abah, ceu Jani dan kang Hendra. Berarti, pak Zulfikar sudah datang ke sini sebelum aku datang. Artinya, mobil yang tadi kulihat adalah milik pak Zulfikar.


"Listi, aku tidak suka kamu memengaruhi istriku seperti itu! Kamu seakan-akan menyepelekan aku dan keluargaku!" tandasnya sambil menarik bahuku dari dekapan Listi.


"Ma-maaf Pak. A-aku ---."


"Diam! Kamu terlalu ikut campur!" sentaknya, menyela. Sekarang, ia mendekapku kuat sambil menciumi pipiku.


"Pak, lepas!"


Serius, aku malu jadi tontonan. Apa lagi saat melihat abah dan ummi mesem-mesem. Ya ampun, malu sekali.


"Pak Zulfikar, Bu Listi hanya mengutarakan kekhawatirannya sebagai teman baiknya Bu Daini. Tolong jangan diambil hati," bela pak Sabil.


"Pak Sabil! 'Kok Anda malah mendukung Listi?! Jelas-jelas wanita itu mau memisahkanku dari Hanin!"


Pak Zulfikar kembali memelukku dengan posesifnya. Abah dan ummi saling pandang. Kang Hendra yang sedari tadi diam saja sampai garuk-garuk kepala.


"Ehm, ehm." Abah berdeham.


Abah sepertinya akan memberi wejangan. Kami semua terdiam. Pak Zulfikarpun segera membawaku untuk duduk di sofa dan mengarahkan pandangan pada abah.


"Punten Abah," kata pak Zulfikar.


"Begini, Abah memahami perasaan Kak Listi. Kak Listi dan Daini sudah berteman sejak lama. Bahkan jauh sebelum Pak Zulfikar menikahi Daini. Apa yang dia ungkapkan, Abah rasa wajar. Toh, semua keputusan ada di tangan Daini dan juga Pak Zulfikar."


"Jika mengikuti nafsu, Abah juga sebenarnya tak terima dengan kejadian penculikan yang jelas-jelas mengancam nyawa putri dan calon cucu Abah. Tapi, kembali lagi ke takdir, Abah selalu berhusnuzdon atas semua yang terjadi. Abah yakin ada hikmah dari semua ini. Salah satunya, dengan kejadian itu, Pak Zulfikar dan keluarga bisa lebih waspada, dan akibat kejadian itu juga, Daini, Pak Zulfikar, dan yang lainnya bisa bersilaturahim ke Bandung."


"Ya, Abah." Pak Zulfikar mengangguk.


"Kenapa Anda ke sini?"

__ADS_1


Aku tak bisa menyimpan lagi rasa penasaran ini. Jelas-jelas dia mengatakan tidak bisa mengantar karena besok banyak agenda rapat.


"Mau silaturahim sama Abah dan Ummi, sayang."


"Kenapa tidak bareng-bareng, Pak?" Aku heran seheran-herannya.


"Aku mendadak berubah pikiran sayang, dan asal kamu tahu ya, aku sudah menunggu kamu hampir dua jam. Pak Sabil, dibawa muter ke mana istriku?" Kali ini mendelik pada pak Sabil.


"Pak, kami istirahat lama di rest area," jelasku.


"Ya sudah, bagaimana kalau kita semua istirahat saja. Tapi, sebelum ke kamar masing-masing, ada baiknya kalau ke dapur dulu. Kita makan malam dulu, setelah itu baru istirahat," tawar abah.


"Abah, punten, aku masih kenyang," kata kak Listi.


"Aku juga," sahut dokter Rahmi. Pak Sabil dan temanmya diam saja.


"Begini saja, kita tetap makan bersama ya. Enggak apa-apa sedikit saja makannya kalau sudah kenyangmah. Tapi harus tetap makan. Soalnya, ummi dan ceu Jani sudah masak banyak. Selain itu, Abah dan Pak Zulfikar juga belum makan karena mau menunggu rombongan," tutur ummi.


Akhirnya, kita semua beranjak ke dapur.


...⚘️⚘️⚘️...


"Bapak harusnya tak perlu menyusulku. Mana bawa mobil sendiri lagi," protesku ketika aku dan pak Zulfikar sudah berada di kamar. Aku sudah mandi dan memakai piyama tidurku. Kami berbaring seraya menatap langit-langit.


"Sayang, aku menyusul karena merindukan kamu." Membalikan badan, memelukku.


"Tapi, Bapak bisa ke sini kapan saja. Akhir pekan 'kan bisa."


"Tidak bisa sayang. Kenapa kamu tak memikirkan perasaannya 'sih?" Sambil membisikkan sesuatu.


"A-apa?" Aku mengerjap. Yang dia bisikan teramat vulgar hingga pipiku memerah.


"Hahaha." Malah tertawa dan tak menunjukkan rasa malu sedikitpun.


"Issh." Aku sedikit kesal.


Lalu dengan santainya, dia meraba-raba tubuhku sambil membuka piyamanya.


"A-Anda mau apa? A-aku lelah, Pak," keluhku.


"Kalau lelah, kamunya diam saja. Cukup pejamkan mata, pasrah, dan rasakan sensasinya," bisiknya sembari menyesapi cuping telingaku.


"Uhmm ...." Bibirku spontan melenguh.


"Nah, 'kan? Jangan pura-pura, kamu juga merindukanku bukan?" godanya. Sekarang sambil memainkain indra pengecapnya di area leherku.


"P-Pak, a ---." Aku menutup bibirku agar suaraku tak terdengar siapapun.


"M e n d e s a h saja sayang. Jangan ditahan."


Sekarang dia .... Aku ingin menghindarinya. Tapi, apa yang dilakukannya membuat tubuhku terbuai. Hingga secara alamiah, aku memberinya ruang dan kesempatan.


"Ha ---. A ---."


Aku kembali membekap bibirku. Merasa malu karena tadi aku sendiri yang mengatakan penolakan, tapi buktinya, tubuhku berkata lain dan justru sangat menginginkannya.


Bahkan, aku sendiri yang menyambar bibir pak Zulfikar terlebih dahulu.


Lalu aku memanjakan tubuhnya setelah jalinan manis itu terlepas karena sudah lama terpaut. Suamiku seksi sekali. Aku memainkan peranku seraya terpesona. Sesekali menatap wajah tampannya yang memedarkan rona. Ia mengerang lumayan kuat.


"Ssst ...."


Aku kaget hingga menempelkan jari tengah dan telunjukku di bibirnya yang tengah gemetar, memerah, dan basah.


"Ja-jangan berisik Pak. Mmm, ma-malu," kataku sambil mengatur napas. Memanjakan tubuhnya benar-benar menguras energiku. Padahal, ini baru pemanasan.


"Hhh ..., sa-sayang, perhatikan kamarmu baik-baik."


"Maksud Bapak?" Aku mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamar.


"Aku sudah menyuruh kang Hendra memasang peredam suara di kamar ini. Lihat baik-baik, sayang. Jadi, aku dan kamu bisa beteriak sesuka hati, sepuasnya," bisiknya.


"Apa?"


Benar saja, dinding kamarku sudah terpasang peredam suara. Bahkan telah terpasang AC yang aku sendiri baru menyadarinya.


"Lanjutkan sayang," bisiknya, dan aku spontan mengangguk.


Lalu, setelah melakukan berbagai macam hal yang teramat menyenangkan dan melenakan itu, kamipun memadukan kasih, menjalinkankan cinta, dan menyatukan tubuh dengan perasaan yang sulit untuk didefinisikan.


Aku menatap wajah dan tubuhnya, menikmati setiap desiran dari apa yang dilakukannya sembari melelehkan air mata. Entah kenapa, di setiap kenikmatan ini, selalu ada kesedihan yang mengusik relung hatiku.


"Hanin ..., aku akan menunggumu sampai datang hari di mana aku bisa menghapus airmatamu, atau sampai datang hari di mana kamu sadar bahwa kamu tak bisa hidup tanpa aku," katanya. Dia menyadari kalau aku menangis.


"Malam ini, aku merindukan Bapak untuk alasan tertentu, dan aku menangis karena sedang mengenang segenap kenikmatan yang Anda berikan," elakku.


"Sayang, ayo kita buat kenangan sebanyak-banyaknya. Karena suatu hari nanti, boleh jadi kita tidak bisa bersama lagi karena sang maut memisahkan," bisiknya.


Apa yang dia katakan membuat kesedihanku kian menjadi. Aku merengkuh tengkuknya erat-erat.


Maaf karena aku terlalu cepat merasakan kenyamanan dari semua perlakuanmu, Pak. Padahal, aku tahu jika semua ini akan menyisakan luka karena kehadiran wanita lain di antara kita, jeritku dalam hati.


Siapakah yang sebenarnya akan Anda tunggu dan Anda pilih?


Apakah bu Dewi yang jauh di sana? Ataukah aku yang saat ini tengah begitu dekat denganmu? Saat ini, tubuh kita bahkan tengah berbagi rasa dan menyatu. Tapi ... aku masih serakah dan ragu. Karena yang kuinginkan adalah ... hanya ada aku di hatimu, dan hanya aku yang boleh menyentuh dan menghangatkan tubuhmu.


"Huuks." D e s a h a n ku bersahutan dengan isakan dan tangisku.


"Sa-sayang, jika kamu tidak bahagia hidup denganku, setidaknya ... pura-puralah berbahagia, bisa 'kah?" pintanya.


"Pak, bagaimana mungkin kita akan saling jatuh cinta, jika kita tidak ditakdirkan untuk bersama?" tanyaku seraya mengusap peluh yang membasahi dada bidangnya.


"Sejujurnya, aku merasa sangat bodoh karena mempertahankan sesuatu yang terus menerus menyakiti dan membuatku ketakutan."


"Sayang, jangan pernah berharap bisa pergi jauh dariku. Kutahu aku egois, tapi cintaku itu adalah kamu, dan cintamu adalah aku. Jangan pernah lupa kalau kamu adalah ISTRIKU, dan aku adalah SUAMIMU!" tegasnya sambil menghentak dan menyerang kuat tubuhku bertubi-tubi hingga kubeteriak kencang dan nyaris hilang keseimbangan.


Namun, saat tubuh ini hampir terhempas, ia meraih tubuhku, mendekap punggungku, lantas menumpahkan benih cintanya sembari melantunkan doa-doa kebaikan untukku dan untuknya.


"I love you, Hanindiya ...," gumamnya.


I love you too, Zulfikar Saga Antasena, jawabku dalam hati.


...⚘️⚘️⚘️...


...~Tbc~...

__ADS_1


__ADS_2