Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Harus Siap Menjadi Buah Bibir [Bagian 1]


__ADS_3

Dhimas Pradhana Antasena


"Naik mobilku saja, Zul! Cepat! Sesil sayang, Daddy pergi sebentar ya. Mau antar kakak cantik dulu." Aku panik. Wanita itu pingsan gara-gara aku. Aku menyesal.


"Berhenti memuji istriku, Dhimas! Setelah masalah ini selesai, aku akan membuat perhitungan lagi!" Zulfi marah.


"Apa?! Istri?! Istrinya Zul?!"


Semua orang kecuali Gendis dan tante Yuze terkejut luar biasa. Ya, mereka pasti tak tahu kalau wanita ini adalah istrinya Zulfi selain Dewi.


"Minggir! Cepat!" Lagi, aku menyibak kerumunan agar Zulfi bebas begerak menuju garasi.


"Tante, Gendis, cepat jelaskan pada kita! Siapa wanita itu?" tanya Wulan, adikku.


"Wulan, ini bukan saatnya bertanya! Kamu cepat bantu ambilkan kunci mobilku! Dia hamil!" Sambil berlari mengejar Zulfi, aku memerintah Wulan.


"Apa?! Hamil?!" Mereka terkejut untuk yang kesekian kalinya.


Wulan tak bertanya lagi. Dia berlari mengambil kunci di kamar tamu. Lalu melempar kunci mobil ke tanganku saat kami sudah berada di garasi.


"Cepat dong, Dhimas! Kamu kura-kura ya?! Lambat benar!" teriak Zulfi.


Pekerja yang berada di area garasi membukakan pintu mobil. Sebagian lagi mengatur kursi tengah agar posisinya setengah duduk.


Karena panik, aku malah duduk di kursi tengah. Aku dejavu. Ini mengingatkanku kala mengantar Maya ke rumah sakit saat hendak melahirkan Sesilia.


"Dhimas Pradhana! Kamu serius tidak 'sih mau membantuku!" Zulfi tambah emosi. Aku menyadari kesalahanku, segera merangkak untuk berpindah ke kursi kemudi.


Setelah memakai sabuk pengaman dan memastikan Zulfi siap. Akupun injak gas.


Kulajukan kemudi dengan kecepatan tinggi meninggalkan kawasan rumah om Aksa dan tatapan kepanikan, keheranan, serta kecemasan keluarga besarku yang kebetulan sudah berada di rumah om Aksa.


...🍒🍒🍒...


"Jangan terlalu ngebut! Gila kamu ya Dhimas! Jaga keselamatan juga! Jangan asal ngebut! Boleh cepat tapi harus selamat!"


"Bawel kamu Zul! Aku juga punya perhitungan!" selaku.


Sesekali, aku menatap kaca spion untuk melihat keadaan wanita itu. Dia terbaring lemah di pangkuan Zul. Wajahnya yang tadi pucat mulai memerah. Aku sedikit lega.


"Fokus ke jalan! Jangan lihat-lihat istriku!"


Haish, aku baru tahu jika sisi galak dan lemahnya Zulfi ternyata ada pada wanita ini. Apa Zulfi benar-benar mencintai wanita ini? Apa dia sudah melupakan Angel?


"Santai 'dong, Zul. Oiya, maaf jika ucapanku menyinggung perasaan kamu." Aku bicara pelan untuk meredam emosinya.


Dari lubuk hati yang terdalam, jujur ... aku merasakan debaran aneh saat pertama kali bersitatap dengannya. Tatapan teduhnya, garis wajahnya yang indah, serta bibirnya yang seksi dan merah alami itu ---.


"Dhimas, awas!!!"


Zulfi membuyarakan lamunanku. Aku tersadar dan segera menghindar. Ya ampun, barusan nyaris menabrak penyebrang jalan.


"Astaghfirullah, Dhimas!" Zulfi beristighfar berulang-ulang.


"Maaf," kataku.


Lantas menghela napas sambil menggelengkan kepala. Bisa-bisanya aku memikirkan istri orang lain. Kenapa? Kenapaaa? Rasanya ingin beteriak sambil menampar pipi si Zulfi.


"Hoeek." Wanita yang dipanggil Daini itu tiba-tiba muntah.


"Sayang, Hanin? Kamu sudah sadar?" Zulfi menepuk pelan punggungnya. Lantas memosisikan agar wanita itu bisa menunduk.


"Hoeek."


Dia benar-benar muntah di mobil mahalku, tapi aku tak bisa marah dan tak ingin marah. Sadar penuh jika dia seperti ini akibat ulahku.

__ADS_1


"Terus muntahkan saja sayang. Kalau sudah keluar biasanya lega."


Zulfi terus memijatnya, dan aku tak sengaja melihat pundak wanita itu karena jilbabnya tersibak tangannya Zulfi.


MasyaaAllah.


Aku berusaha menyadarkan diriku sendiri sambil menyodorkan kotak tissue.


"Pak ... apa mobilnya bisa berhenti dulu?" lirihnya.


"Dhimas berhenti."


"Ya," jawabku singkat. Segera menepi di tempat yang menurutku paling cocok untuk berteduh.


"Bagaimana sayang? Sudah enakan?"


Zulfi bertanya sambil membersihkan bibir dan area mulut Daini. Aku inisiatif keluar dari mobil untuk membeli teh hangat.


Saat aku kembali, Zulfi dan Daini atau Hanin, sudah berada di luar mobil. Daini duduk di trotoar. Zulfi memijat pundaknya.


"Ini, teh manis hangat. Di minum ya." Aku memberikan minuman tersebut pada Zulfi.


"Wanita hamil itu kurang baik minum teh. Sebab teh bisa menghambat penyerapan zat besi di dalam darah," jelas Zulfi. Ia menolak minuman dariku.


"Kalau sesekali ya tak masalah Zul. Asal jangan berlebihan. Zul, ingat ya, masalah membuat anak dan menghasilkan anak, kurasa aku lebih berpengalaman daripada kamu. Buktinya, kamu lihat saja Sesilia," kataku.


"Pak Dhimas benar, aku lemas, Pak. Boleh ya minum teh manis itu? Sedikiiit saja, tapi ... kalau Bapak tetap tak boleh, tak masalah 'kok. Aku tak jadi minum," katanya.


Dia bicara tanpa menoleh ke arahku sedikitpun. Tatapannya fokus pada Zulfi.


"Ya sudah, boleh sayang. Tapi jangan banyak-banyak ya. Yang penting perut kamu hangat. Kliniknya dekat lagi, 'kok. Setelah kamu tenang, kita lanjutkan perjalanannya."


Dia mengangguk seraya tersenyum. Senyumnya manis sekali. Giginya rapi dan putih berseri. Tampak sehat dan terawat. Wajahnya benar-benar memiliki nilai jual. Aku yakin saat ia disejajarkan dengan aktris ternamapun, pesonanya akan sulit ditandingi.


Ya ampun Zul, dari mana kamu mendapat wanita seperti ini?


...🍒🍒🍒...


"Pak Dhimas, maaf ya. Mobilnya jadi terkena muntahanku," katanya. Kami sudah berada di dalam mobil.


"Tak masalah. Lagi pula, itu isinya hanya air. Tak berbau juga. Justru aku yang minta maaf karena sudah menyakiti kamu," ungkapku. Kembali melajukan kemudi.


"Pokoknya, kalau terjadi apa-apa pada kandungan Hanin, aku akan menuntut kamu, Dhimas!"


"Ya silahkan saja, Zul. Aku siap 'kok.


Sepanjang perjalanan, mereka tampak mesra. Saling menautkan tangan, saling pandang, dan melempar senyum.


Menyebalkan!


Aku jadi kambing congek. Aku tak menyangka tatapan Zulfi bisa sedalam itu. Padahal, dulu ia sangat tergila-gila pada Angel.


...🍒🍒🍒...


Akhirnya, sampai jua di klinik kandungan.


"Suaminya yang mana?" Petugas sedikit kebingungan.


"Aku," tegas Zulfi.


Aku diam saja, namun terus mencuri pandang di saat ada kesempatan. Jadi penasaran dengan identitasnya.


Aku duduk di ruang tunggu. Dari sini, aku bisa melihat Zulfi dan Daini sedang dianamsa. Setelah dianamnesa, mereka diajak ke ruang pemeriksaan kandungan dan ginekologi untuk dilakukan USG.


Harapku, semoga dia dan kandungannya baik-baik saja. Aku menunggu seraya mengenang kembali awal mula pertemuanku dan wanita itu.

__ADS_1


Kenapa? Kenapa dia disukai oleh Sesilia? Kenapa Sesilia menginginkan wanita itu jadi mommy barunya? Padahal, Sesilia dan dan Daini baru pertama kali bertemu.


.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, Zulfi dan Hanin keluar dari ruang USG.


Zulfi menggenggam tangannya. Wajah Zulfi tampak sumringah. Pun dengan wajah wanita itu. Aku berusaha bersikap biasa saja agar kegugupanku saat berhadapan dengan wanita itu tersamarkan.


"Dhimas." Zulfi tiba-tiba memelukku.


"Lepas, jangan peluk-peluk!" Aku menepisnya.


"Dhimas, anakku baik-baik saja. Aku bahagia," jelasnya.


"Alhamdulillah," sahutku.


"Bulan depan, gendernya bisa diketahui. Aku jadi penasaran."


"Memangnya berapa bulan?" Aku berbasa-basi.


"Awal bulan depan akan memasuki usia kehamilan 19 minggu. Istriku hamil kembar, Dhimas."


"Kembar?"


Aku terkejut dan tentu saja turut berbahagia. Keluarga Antasena memang banyak yang memiliki anak kembar. Termasuk adikku. Adikku juga kembar. Wulandari Nawang Antasena dan Wilandari Nawari Antasena.


"Apa tak perlu dirawat?" tanyaku.


"Alhamdulillah tak perlu. Kata dokter, yang penting cukup istirahat dan mengkonsumsi makanan bergizi seimbang." Dari tadi, yang bicara Zulfi terus. Padahal, aku ingin mendengar suaranya.


"Ya sudah, berarti kita pulang ya. Kalau bisa sebelum Maghrib harus di rumah." Akupun beranjak.


Maksudnya ingin berjalan di depan mereka. Ada perasaan tak enak hati saat aku melihat kemesraan mereka. Ada yang salah dengan perasaanku. Tak seharusnya aku mengangumi wanita bersuami.


Tapi ... apalah daya, perasaan ini muncul begitu saja dan terjadi begitu cepat. Lalu di saat bersamaan, Sesilia juga menyukai wanita bergamis dan berjilbab besar itu.


...🍒🍒🍒...


Setelah berada di mobilku, ia sibuk membersihkan bekas muntahnya dengan tissue. Padahal, aku dan Zulfi sudah mencegahnya. Walaupun parasanya cantik, dia tidak gensi bersih-bersih.


Sekarang, wanita yang dipanggil Zulfi dengan nama Hanin itu sedang membuka aplikasi Al-Qur'an menggunakan ponsel milik Zulfi. Sepertinya, dia hanya membaca terjemaahannya. Sebab, bibirnya tak berkamit. Namun bola matanya yang bening itu tampak bergulir.


'Kruwuuuk.'


Entah perut siapa yang berbunyi. Samar-samar aku mendengar suara itu.


"Eh, maaf. Itu bunyi bising ususku," katanya. Aku diam saja. Pura-pura tak mendengar.


"Hahaha, lapar ya sayang? Dhimas, bagaimana kalau kita shalat Maghrib di Masjid Istiqlal saja? Setelah shalat, kita mampir dulu ke Sate Taichan Senayan."


"Terserah," jawabku.


"Asyik, terima kasih ya Pak," katanya.


Kok bisa ya dia memanggil 'bapak' pada suaminya sendiri? Ini terdengar aneh, 'sih. Tapi, lumayan lucu. Akhirnya, aku memutar arah guna mengabulkan permintaan Zulfi.


Yaitu, bertandang ke masjid nasional negara Republik Indonesia yang terletak di bekas Taman Wilhelmina. Masjid nan megah ini berada di timur laut Lapangan Medan Merdeka yang di tengahnya berdiri Monumen Nasional atau Monas.


"Wah, lampu air mancurnya indah ya, Pak?" Menunjuk ke Taman Air Mancur Sentral Senayan.


"Kamu baru melihatnya?" tanya Zul.


"Ya, Pak. Aku 'kan jarang main. Keluar kostnya hanya untuk ke kantor, pasar, dan ke minimarket," jawabnya.


Hmm, menarik.

__ADS_1


...~Tbc~...


__ADS_2