Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Madu yang Candu


__ADS_3

Zulfikar Saga Antasena


"Pak, huuu, sadar Pak!"


Aku tahu dia sedang memelukku. Kabar kehamilan kembar Hanin benar-benar membuatku teramat bahagia hingga aku merasakan jika bumi ini berputar-putar dan membuatku pusing.


Aku meremang sejenak, namun saat tangan halus nan hangat itu menangkup pipiku, aku langsung tersadar sepenuhnya. Aku membuka mata perlahan dan pura-pura masih lemas. Kalau aku langsung duduk, khawatirnya perhatian Hanin tak semanis ini.


"Pak ...," lirihnya.


Jelas sekali kalau dia sebenarnya peduli terhadapku. Matanya berkaca-kaca.


"Sa-sayang," aku menangkup pipinya.


"Maaf kalau kabar dari kotak kecil ini membuat Anda syok bahkan sampai pingsan seperti tadi," katanya. Memegang pergelangan tanganku yang menangkup pipinya.


"Aku tidak pingsan, sayang. Hanya sedang bahagia saja. Tapi bahagianya berlebihan," kataku sambil tersenyum.


Bersama Hanin, hatiku selalu merasa tenang dan damai. Sungguh, aku tak pernah merasa sebahagia ini.


"Ya sudah, Bapak minum dulu ya."


Ia merebahkan kepalaku pada bantal. Lalu memberikan secangkir air hangat yang disediakan pihak hotel. Air hangat itu berada di termos kecil. Aku menyeruputnya perlahan sambil menatap wajah teduhnya.


"Mau teh manis?" tawarnya.


"Tidak perlu sayang."


"Apa Anda lapar? Bisa saja 'kan Anda pingsan karena lapar," duganya.


"Emm, bisa jadi 'sih. Di rumah mama aku memang belum sempat makan malam. Tapi tidak lapar, kok."


Aku perlahan bangun. Menyandarkan punggungku pada sandaran tempat tidur.


"Anda belum makan? Hanya makan sego bebek tadi sore?"


"Ya," aku mengangguk.


"Ya ampun, ceroboh sekali. Tunggu," ia beranjak.


"Mau ke mana, sayang?"


"Tidak ke mana-mana. Mau ambil ini. Nah, ini ada nasi goreng. Sudah tidak hangat 'sih, tapi masih baru. Makan ya, Pak."


Ia sibuk mengambil sebuah piring plastik dari koper. Lalu meletakan nasi goreng itu di atasnya tanpa melepas kertas nasinya.


"Kenapa kamu tidak memakannya?"


"A-aku sudah kenyang, Pak. Untuk Anda saja. Aku suapi ya."


Dia segera mengambil sesendok dan menyodorkannya ke bibirku.


"Aaa," titahnya.


Maksudnya menyuruhku membuka mulut. Aku patuh. Hanin menyuapiku. Aku mulai mengunyahnya. Nasi goreng ini rasanya enak.


"Sayang, yakin kamu sudah makan nasi gorengnya?" Aku merasa jika dia juga ingin memakan nasi goreng ini.


"Sudah Pak. Bapak harus kenyang dulu," dan kembali menyuapiku.


"Kalau aku sudah kenyang?"


"Nah, kalau Bapak sudah kenyang, nanti sisanya aku makan. 'Kan sayang kalau dibuang, mubazir," jelasnya.


Akhirnya, setelah lima suapan. Aku memutuskan untuk pura-pura kenyang.


"Sudah sayang, aku sudah kenyang." Mengatupkan bibirku.


"Yakin Anda sudah kenyang?"


"Ya, Hanin. Sekarang kamu yang makan ya. Dan aku yang suapi." Merebut sendok dari tangannya.


"Tidak Pak, aku tak perlu disuapi, lagipula aku lebih suka makan pakai tangan. Di jemari tangan katanya ada enzim yang baik untuk pencernaan."


Dia lantas ke kamar mandi. Sepertinya mau cuci tangan dulu.


...🍒🍒🍒...


Setelah cuci tangan, dia makan nasi goreng sambil duduk bersimpuh di lantai ala wanita Sunda. Hatiku berdesir. Aku terharu menyaksikan adegan itu. Dia terlihat lahap. Jelas sekali kalau tadi itu dia pura-pura kenyang dan menahan lapar demi aku.


Aku bangun untuk mendekat. Lalu bersila di sampingnya.


"Setelah ini, mau makan apa sayang? Akan kubelikan apapun yang kamu mau," kataku sambil mengusap punggungnya.


"Tidak Pak. Ini cukup. Terlalu kekenyangan juga tidak baik," katanya.


Tangannya fokus memunguti sisa-sisa butiran nasi yang masih menempel di kertas nasi. Lalu dimakannya hingga di kertas nasi itu tak bersisa sebutir nasipun.


Kemudian ia membersihkan ujung jemarinya dengan bibirnya. Aku baru sadar kalau selama ini, Hanin memang selalu menghabiskan makanan yang ia ambil.


"Sayang, aku kagum dengan caramu memperlakukan makanan."


"Pak, di setiap butir nasi, dan setiap makanan yang kita makan, di dalamnya ada nikmat dan keberkahan. Dengan tidak menyia-nyiakan makanan, itu artinya, kita telah mensyukuri nikmat dan keberkahan itu."


"MasyaaAllah, sayang."


Aku kagum. Aku tersenyum saat menatapnya yang kembali ke kamar mandi untuk cuci tangan.


Setelahnya, kami berdua duduk di sisi tempat tidur. Hanin melepas jilbabnya. Aku jadi berdebar. Keseksian tubuhnya jadi terpampang nyata.


"Aku kegerahan," katanya.


"Pindah hotel yuk!" ajakku.


"Apa? Tidak perlu Pak."


"Sayang," aku bergeser. Sisi tubuh kami bersentuhan.

__ADS_1


"Mulai besok, akan ada dokter pribadi yang memantau kesehatan kamu." Sambil mengusap perutnya.


"Dokter pribadi? Untuk apa, Pak? Aku bisa mengontrol sendiri kandunganku ke klinik bersalin."


"Sayang, yang kamu kandung adalah calon pewaris keluarga Antasena. Dia anakku. Dia harus mendapatkan semua hal yang terbaik untuk tumbuh kembangnya."


"Pak, maaf. Aku tidak ingin diistimewakan seperti itu. Aku mau biasa saja. Aku ingin memperlakukan anakku seperti anak-anak yang lain. Tidak perlu diperlakukan berlebihan. Aku ingin menanamkan kemandirian pada anakku sejak dini. Bahkan sejak mereka masih berada di dalam kandungan."


"Sayang, dengar ya, kamu adalah istriku. Mau tidak mau, suka tidak suka, kamu harus beradaptasi dengan kebiasaan di keluargaku."


"Pak, apa Anda lupa dengan permintaanku? Jangan katakan kalau Anda mau mengingkarinya," tuduhnya sambil cemberut.


"Sayang, ini berbeda. Tadi, aku menyetujuinya karena aku belum tahu kalau kamu hamil. Setelah aku tahu kamu hamil, ya aku harus mengambil kesepakatan lain. Kenapa? Karena di dalam tubuhmu telah berkembang darah dagingku."


"Apa? Berarti Anda ingkar janji, aku tidak suka," katanya. Matanya mulai berkaca-kaca.


"Sayang, ini demi kebaikan kamu. Oke, aku sepakat merahasiakan dulu kehamilan kamu. Tapi untuk membiarkanmu tinggal mandiri atau seorang diri dan jauh dari pengawasanku, aku tidak ridho. Aku menolak dengan keras kesepakatan itu," tegasku.


"Pak ... huuu, kenapa Anda masih saja belum mengerti? Aku ingin seperti itu karena tidak ingin membuat hidup Anda berantakan. Aku tidak mau karir dan nama baik Anda serta keluarga Anda dipertaruhkan hanya karena keberadaanku."


Dia kembali menangis. Aku terhenyak. Aku memegang tangannya.


"Komohon Pak .... Tolong lakukan saja. Aku yakin ini baik untuk kita berdua. Bayangkan kalau publik tiba-tiba tahu jika aku adalah istri siri Anda. Bisa jadi, namaku akan diekspos di berbagai media. Huks, jika itu terjadi, ummi dan abah akupun akan terseret dampaknya karena media pasti tidak akan tinggal diam."


"Mereka pasti mengejarku ke manapun. Aku tak mau membuat keonaran, Pak. Bapak harus ingat, Anda dan keluarga Anda itu bukan orang biasa. Anda bahkan masih memiliki pertalian darah dengan orang yang sangat penting dan mempunyai kuasa di negeri ini."


"Bagaimana jika kasus ini sampai disangkutpautkan dengan nama beliau? Sementara rekam jejak beliau selama ini selalu baik-baik saja. Bahkan sering dielu-elukan oleh media asing."


Hanin sampai berpikir ke arah sana. Aku mengusap airmatanya. Jadi bingung mau mengatakan untuk beralasan dan meyakinkan Hanin jika semuanya akan baik-baik saja.


"Sayang, apa dengan mandiri kamu akan bahagia? Bagaimana kalau kamu ada dalam bahaya? Bagaimana kalau kamu dan calon anakku menderita?"


Aku tak kuasa menahan gejolak di dada ini. Aku memeluk tubuhnya.


"Pak, Anda masih bisa melihatku dan menjamahku sesuka hati Anda. Anda juga bisa memberiku nafkah secukupnya. Aku hanya ingin kita sepakat untuk berpura-pura tak saling peduli dan tak saling mengenal saat berada di depan publik."


"Lalu aku ingin kost di tempat biasa dan hidup seperti dulu lagi, Pak. Tujuannya agar orang-orang tak curiga terhadapku."


"Sayang, lalu sampai kapan kita harus menyembunyikan ini? Perut kamu juga 'kan akan membesar."


"Pak, sebelum perutku membesar, rencananya, aku akan resign dari perusahaan."


"Apa? Resign?"


"Ya, Pak. Setelah resign, aku akan pulang ke Bandung dan membantu abah mengurus budidaya ikan."


"Tidak sayang, kalau kamu pulang ke Bandung, bagaimana denganku, Hanin? Kenapa kamu tak peduli denganku? Oke, aku setuju kamu resign dari perusahaan. Tapi untuk pulang ke Bandung, aku sama sekali tak setuju. Hanin, sudah kubilang, kan? Jangan meninggalkan aku sayang, please ...."


Aku memohon dengan mata mengiba. Aku nengharap belas kasihnya. Aku tak apa jikapun disebut sebagai pengemis cinta demi mendapatkan hatinya Hanin.


"Pak Zulfikar, jangan melupakan bu Dewi. Dia istri Anda," katanya.


"Tidak sayang, aku tidak mungkin melupakan Dewi. Oiya sayang, kenapa kamu ingin menyembunyikan kehamilan ini dari semua orang?" Sambil mengelus perutnya.


"Aku ingin menyembunyikannya sampai keluarga Anda mau menerimaku. Biar bagaimanapun, walau secara hukum negara anak ini tak memiliki jaminan hukum. Tapi, dia tetaplah cucu mama dan papa Anda."


"Apa Anda tahu tujuanku apa? Tujuannya karena aku tidak ingin terikat dengan keluarga Anda dan dituduh memanfaatkan kehamilanku untuk mendapatkan simpati dan harta."


"Aku hanya ingin mama dan papa Anda mengakui calon anak kita sebagai cucu-cucunya. Harapanku hanya ingin agar calon anak kita bisa menghormati kakek dan neneknya. Hanya itu harapanku, Pak. Sungguh Pak, aku tidak berambisi dengan harta Bapak. Tolong jangan menuduh aku sebagai wanita yang gila harta," ratapnya.


"Sayang, sshh ..., aku tahu dan sangat percaya jika kamu bukanlah wanita seperti itu. Aku sadar kalau sikap dan ucapan Dewi melukai perasaan kamu. Tapi sayang, tolong jangan berpikir macam-macam terhadapku. Aku memberikan sesuatu kepadamu ya karena kamu istriku."


"Kamu berhak mendapatkan fasilitas yang sesuai dengan seleraku, Hanin." Aku berusaha meyakinkannya.


"Ta-tapi Pak, fasilitas yang Anda berikan tidak membuatku tenang. Bukannya aku tak nyaman dengan kemewahan, tapi ... aku takut jika kemewahan itu membuatku lalai dan ingin memiliki Anda seutuhnya." Airmatanya terus bederai.


"Maksud kamu apa, Hanin? Apa maksudmu kamu ingin aku melepaskan Dewi?" tanyaku sambil merebahkan tubuhnya karena malam kian laurut, dan jam di dinding sudah menunjukkan pukul 01.47 WIB. Aku menyelimutinya.


"Tidak Pak. Aku tidak ingin demikian. Justru jika Anda melepaskan bu Dewi, maka aku akan merasa bersalah seumur hidupku. Walaupun faktanya aku bukan pelakor, tapi tetap saja, aku telah merebut kebahagiaan bu Dewi."


"Bu Dewi jadi beringas seperti itu pasti gara-gara aku. Bayangkan Pak, bagaimana mungkin aku bisa bahagia jika di dalam relung hatiku dipenuhi oleh rasa bersalah," ungkapnya.


"Sayang ...."


Aku tak mampu mengutarakan pendapat lagi. Aku menarik tubuhnya ke dalam dekapan. Aku menelusupkan kepalanya ke dadaku. Kubelai rambutnya, lalu kucium puncak kepalanya.


"Hanin, Allah telah menentukan jalan hidup kita. Kamu tadi mengatakan tidak ingin hamil sampai minum pil KB, tapi ... Allah telah berkehendak sayang. Allah menghendaki aku dan kamu tetap bersama. Aku bahagia sayang. Kamu tahu? Hidup bersama denganmu adalah harapanku. Aku ingin kamu jadi jodohku, sayang. Jodoh dunia akhiratku." Lalu mengecup keningnya.


"A-apa? Apa harapan Anda sebesar itu?" Dia menengadahkan kepala, menatapku.


"Iya Hanin. Seperti yang telah kutakan sebelumnya, aku menikah dengan Dewi karena dijodohkan dan demi kepentingan perusahaan. Aku menerima perjodohan ini karena dulu aku telah melawan kehendak mama papa dengan berpacaran dengan wanita pilihanku. Cinta pertamaku."


"Mama dan papa awalnya menyetujui keinginanku untuk serius dengan wanita itu. Tapi ternyata ... dia penipu, sayang. Dia merugikan uang perusahaan papaku sampai puluhan milyar rupiah. Sejak saat itu, aku trauma menjalin hubungan dengan siapapun. Pun dengan papa dan mama, mereka trauma memilih sembarangan menantu."


"Akibat aku tertipu wanita itu, perusahaan sampai terpaksa melakukan PHK pada beberapa karyawan untuk menekan biaya produksi. Aku menerima Dewi sebagai ungkapan rasa bersalah dan maafku karena telah menjadi anak yang merepotkan dan membangkang," jelasku.


"Lalu, apa sekarang Anda mau jadi anak pembangkang lagi?" selanya.


"Jika yang kuperjuangkan adalah wanita seperti ini, apa boleh buat?" kataku. Lalu menggigit pelan ujung hidungnya.


"Jangan memulai, Pak. Aku tak mau jadi mainan Anda," katanya. Mengusap hidungnya.


"Hanin, siapa yang menganggapmu sebagai mainan? Aku? Sayang, apa yang kulakukan pada tubuhmu, bukan untuk main-main. Aku melakukannya karena aku menyukai kamu. Sungguh sayang, aku tak pernah menggilai wanita hingga sedalam ini." Aku meraba lembut bagian tubuhnya. Hanin terkejut, dia menghalanginya.


"Ja-jangan," tolaknya.


"Kenapa?" tanyaku.


"Emm ...." Dia kebingungun.


"Apa Anda sudah izin sama bu Dewi kalau mau bermalam bersamaku?"


"Sudah sayang, dia malah menyuruhku untuk menyusulmu."


"Tidak, Mas! Kamu saja yang pulang! Sekalian kamu susul 'tuh si Daini! Saat ini dia mungkin sedang membuka pahanya, menunggu dicelup kamu!"


Aku mengingat kembali umpatan Dewi saat aku mengajaknya pulang.

__ADS_1


"Benar bu Dewi menyuruh?" Dia seolah tak percaya.


"Benar sayang. Jadi, malam ini aku menginap di sini, di hotel ini," tegasku. Lalu aku bangun sejenak untuk membuka baju dan celana panjangku. Hanin melongo.


"Pak, bagaimana kalau kita digerebek Satuan Polisi Pamong Praja? Ki-kita 'kan tidak punya surat nikah." Hanin panik.


"Hahaha, sayang, apa kamu tahu? Tadi pada resepsionis hotel, aku sampai menunjukkan foto ijab kabul kita agar mereka percaya kalau aku dan kamu sudah menikah," terangku seraya masuk ke dalam selimutnya.


"A-apa?! A-Anda punya foto-fotonya?"


"Ya dong, sayang. Aku 'kan menyuruh Putra supaya jadi fotografer," terangku.


Di dalam selimut aku segera memeluknya.


"Pak, emh ... ha-hanya pelukkan 'kan?" tanyanya.


"Ya sayang." Padahal, tanganku mulai menjalar membuka kancing bajunya.


"Pak ... ja-jangan ya .... Kemarin sore 'kan sudah." Napasnya naik turun.


"Tak perlu takut sayang," bisikku. Sambil meletakkan tanganku di sana dan di sini.


"Kenapa harus berakhir dengan kegiatan itu lagi? Kenapa, Pak?" protesnya saat tanganku terus ke sana, semakin ke sana dan berhasil meraihnya.


"Karena kamu adalah maduku sekaligus canduku," bisikku sambil tersenyum bangga karena telah berhasil menggoda tubuhnya.


"A-Anda jahat Pak. Kenapa selalu seperti ini?" protesnya lagi saat aku membuka segenap penghalang di tubuhnya.


Melihat Hanin menangis, aku jadi tak tega melanjutkannya.


"Maaf sayang. Baik, aku tak akan melakukannya. Tapi ... izinkan aku memeluk tubuh polosmu sepanjang malam, boleh 'kah?" tanyaku. Sambil menengadahkan dagunya, lalu menyematkan dua tanda di leher indahnya.


"Uhh ... sa-sakit Pak," rintihnya.


Padahal aku melakukanya dengan lembut, tapi ... efeknya sangat kentara.


"Boleh 'kah?"


Kuulang lagi pertanyaan itu. Dia mengangguk pelan. Aku tersenyum. Lantas menciumi perutnya yang masih rata sambil menggumamkan doa untuk kebaikan calon buah hatiku.


"Su-sudah Pak, ge-geli," keluhnya. Wajahnya memerah.


Ya ampun, apa aku mampu membiarkan tubuhnya hanya untuk dipeluk saja? Aku tak yakin.


Aku memeluknya dalam kegundahan, dia meringkuk bak bayi dalam dekapan. Aku mengatur posisinya agar membelakangiku.


...🍒🍒🍒...


Sepertinya ... aku akan tersiksa di sepanjang malam. Milikku tak bisa diajak damai, tetap vertikal tanpa mampu kucegah. Padahal, aku sudah berusaha untuk bertahan di posisi horizontal.


"Pokoknya, kamu harus segera menceraikan dia dalam waktu paling lambat 3 x 24 jam! Kalau dalam waktu itu kamu tak menepati keinginanku, Mas akan merasakan sendiri akibatnya!"


Deg, aku teringat ancaman Dewi.


Bagaimana mungkin aku menyembunyikan kehamilan Hanin, kalau Dewi mengancamku seperti itu?


"Sayang, apa kamu sudah tidur?" Sambil menciumi punggungnya.


"Aku tak bisa tidur dalam keadaan seperti, Pak. Aku tak nyaman," keluhnya.


"Kan pakai selimut sayang."


"Tetap tak nyaman, Pak."


"Baik, mari kita nyamankan sayang."


Aku menarik tubuhnya agar menghadapku. Lalu kusambar saja bibirnya tanpa aba-aba. Kamipun terjalin dan terpaut dengan eratnya. Aku merenggutnya hingga bagian terdalam.


Ohh ... nikmat sekali sayang ..., batinku. Aku terlena.


"Sa-sayang ..., mari kita lupakan sejenak permasalahan kita," ajakku saat jalinan itu terlepas.


Hanin tak menjawab, hanya menatapku dengan mata berkaca-kaca.


"Mari kita ke nirwana bersama, sayang. Setelahnya ... baru kita pikirkan lagi jalan keluarnya. Ma-mau ya?" tanyaku.


Lagi, dia tak menjawab. Namun airmatanya menetes begitu saja.


"Sayang ... setidaknya ... walaupun hati kita sama-sama tersakiti dan terbebani, tapi ... kita masih bisa merasakan kenikmatan itu, ya 'kan?"


Tak terasa ... airmatakupun menetes dan jatuh ke bibirnya.


"Pak ... a-apa aku salah kalau aku juga mencintai Anda?"


Pertanyaan itu membuat dadaku sesak.


"Tidak sayang, kamu tidak salah."


"Tapi ... mencintai Anda membuat hatiku sakit," tambahnya sambil membelai rahangku.


"Sayang ... apa kamu mengira hatiku tidak sakit? Sama Hanindiya, hatiku juga sakit, sayang. Aku sangat mencintai kamu, tapi ... aku terikat dengan janji pada orang tuaku dan orang tua Dewi untuk mendampinginya sampai akhir hayatku."


"Aku tidak mau menjadi anak durhaka sayang, tapi ... sampai kapan aku harus mengalah demi ambisi orang tuaku?"


Aku menjatuhkan kepala di pundaknya dan menangis. Aku tak peduli lagi kalaupun Hanin menganggapku sebagai pria lemah. Karena faktanya memang seperti itu. Hanin membelai rambutku.


"Jika dengan menikmati tubuhku kesedihan Anda akan berkurang, ayo lakukan saja, Pak," bisiknya.


Sa-sayang ....


Rintihku dalam hati saat Hanin untuk pertama kalinya inisiatif memagut bibirku terlebih dahulu sambil memejamkan matanya. Akupun memejamkan mataku untuk melupakan seluruh problema yang ada.


Aku tengah menyesap maduku, aku sedang menikmati canduku.


...~Tbc~...


...Yuk komen yuk! ...

__ADS_1


__ADS_2