Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Pangilan Baru dan Fakta Baru


__ADS_3

"Begitu Abah, Ummi, jadi ... besok aku mau membawa Hanin pulang ke Jakarta," jelasku pada abah dan ummi. Aku telah menjelaskan itikad baik mama dan papaku.


Ummi dan abah saling menatap. Mereka seperti ragu dengan penjelasanku.


"Baik, Abah setuju, tapi Abah juga mau ikut. Lagi pula, Abah dan orang tuanya Mas 'kan belum pernah bertemu. Abah mau silaturahim. Bagaimana Ummi? Apa Ummi setuju?" Abah melirik pada Ummi yang saat ini sedang menantap Hanin sambil memegang tangannya.


"Hmmh, kalau Abah sudah memutuskan, ya Ummi juga setuju. Ummi juga mau ikut."


"Ummi dan Abah mau ikut? Jadi, ada yang mengantar aku dong? Alhamdulillah," Hanin sumringah.


"Ya Neng, besok Abah dan Ummi mau ke Jakarta juga. Ya sudah, sekarang kalian istirahat lagi. Abah dan Ummi mau menyiapkan oleh-oleh untuk bu Yuze dan pak Aksa," kata Abah.


"Ummi dan Abah tak perlu repot-repot, tak usah bawa apa-apa," kataku.


"Gak apa-apa, Mas. Kita tak merasa kerepotan, kok. Ya kalau misalnya pak Aksa dan bu Yuze tak suka oleh-olehnya, nanti tinggal dibagikan saja ke tetangga," sahut ummi.


Setelah mengobrol dengan ummi dan abah, aku dan Hanin kembali lagi ke kamar. Aku segera memesan cukuran melalui ojek online. Mau menyuruh mang Hendra, tapi merasa tak enak hati. Setelah alat pencukurnya tiba, aku langsung mandi.


Selepas mandi, kulihat Hanin sudah tidur sambil memeluk Al-qur'an. Aku mendekat, mengambil Al-qur'annya, lalu menyelimutinya.


Lalu aku iseng melihat-lihat isi kamar Hanin. Di kamarnya, ada rak buku yang terbuat dari kayu. Ukurannya cukup besar. Ada banyak buku di dalamnya. Rata-rata buku tentang ajaran Islam, ada juga beberapa novel bertema religi. Aku juga melihat ada buku berjudul 'Filosifi Bisnis' yang ditulis oleh mamaku.


Aku menautkan alis saat mataku fokus pada salah satu buku yang berjudul 'Kenapa Harus Poligami?'


Perlahan aku mengambilnya. Lalu duduk di kursi yang menghadap rak buku. Kubuka halaman pertama, ada catatan kecil yang ditulis oleh Hanin. Catatan itu ditulis pada kertas yang diselipkan di antara lembaran buku. Titi mangsanya setahun yang lalu. Itu artinya sebelum dia bekerja di perusahaanku.


"Jika suatu saat aku menikah, lalu suamiku meminta izin poligami, aku akan mengatakan kepadanya, 'Beri aku waktu untuk mengizinkanmu.' Namun jika suamiku merasa terlalu lama menunggu jawabanku, aku akan mengatakan, 'Nikahilah dia, jika dengan pernikahan itu kamu akan lebih bahagia, dan biarkan aku pergi untuk mencari kebahagiaanku sendiri."


Catatan Hanin membuatku tersenyum. Lalu kubuka lagi lembaran selanjutnya. Masih ada catatannya. Tulisan tangannya indah dan rapi, seindah dan serapi orangnya.


"Karena jilbabku besar, orang-orang selalu mengira aku alim. Padahal, aku tidaklah sealim yang mereka kira. Dalam hal shalat saja aku masih belum bisa khusyuk. Bagiku, berjilbab dan menutup aurat itu tidak ada hubungannya dengan akhlak ataupun moralitas. Aku berjilbab karena berjilbab itu murni perintah dari Allah Ta'ala dan wajib untuk seluruh muslimah yang telah baligh."


"Sama halnya dengan shalat yang hukumnya wajib, aku memosisikan jilbabku seperti shalatku. Kalaupun shalatku belum khusyuk, aku harus tetap shalat. Walaupun ibadah dan akhlakku belum baik, aku akan tetap memakai jilbabku."


"Ya Rabb, pertemukan aku dengan pria yang bisa membuatku lebih dekat dengan-Mu."


Tulisan yang itu membuatku malu. Kenapa? Sebab aku merasa tidak bisa membimbing Hanin. Justru akulah yang dibimbing olehnya. Aku meletakan buku itu lalu mendekatinya.


"Sayang bangun, sebentar lagi Maghrib," kataku. Hanin menggeliat pelan, lau membuka matanya.


"Astaghfirullah, kok aku sering ketiduran, sih?" sesalnya.


"Tak apa-apa sayang. Mungkin perbawa bayi."


"Kalau di rumah Bapak aku sering tidur, bagaimana coba? Kan malu, Pak."


"Tidak perlu malu sayang, namanya juga ibu hamil."


Aku mencubit gemas pipinya. Harapanku, Hanin segera menyadari jika kumis dan janggutku sudah dicukur. Aku rindu memagut bibirnya. Sayangnya, dia tetap acuh tak acuh. Ya sudahlah. Untuk sementara waktu, aku yakin masih bisa menahannya.


"Pak, cepat siap-siap, sebentar lagi abah pasti ngajak ke masjid. Ke masjid pondok, Pak. Biar bisa sekalian ketemu Putra," katanya.


"Oke, sayang. Aku sudah membawa sarung dan peci." Aku bersiap. Hanin menatapku.


"Kenapa?" godaku.


"Tidak apa-apa," jawabnya.


"Oh, aku kira kamu terpesona melihatku memakai peci dan sarung." Mendengar ucapanku, Hanin hanya tersenyum.


"Mas mau ke masjid bareng Abah, gak?" Terdengar suara abah dari depan kamar.


"Tuh, kan? Apa kubilang?" katanya.


"Ya Abah, mau," sahutku. Setelah bersalaman dengan Hanin, akupun pergi.


...***...


Saat shalat Maghrib, aku tak bertemu dengan Putra. Selepas shalat Maghrib, abah juga tak mengikuti kajian, abah justru mengajakku untuk segera pulang karena pak Ihsan sudah menunggu.


"Jadi benar Anda kakak kandungnya pak Ikhwan?" tanyaku saat berkenalan dengan pak Ihsan.


"Benar, ya ampun, dunia sempit ya. Saya tak menyangka kalau pak Zulfikar yang diceritakan sama Abah adalah pak Zulfikar putranya pak Aksa Antasena. Wah, Abah punya mantu konglomerat," ujar pak Ihsan.


"Abah tak pernah meminta pada Allah agar Daini dinikahi konglomerat, Abah hanya meminta agar Daini memiliki suami yang bisa membahagiakannya di dunia dan akhirat, kata abah sambil tersenyum.


Setelah aku dan pak Ihsan berkenalan, kami lanjut membahas status pernikahan antara aku dan Hanin. Di ruangan ini hanya ada aku, abah, dan pak Ihsan.


"Masalah ini sebenarnya sangat sederhana, kunci utamanya ada di bu Dewi. Jika bu Dewi mengizinkan Anda menikah secara resmi, semua urusan selesai," terang pak Ihsan.


"Pak, masalahnya tidak hanya itu. Aku dan Dewi terikat perjanjian pranikah. Sebentar, aku buka dulu copy filenya."


Aku membuka salinan file surat perjanjian pranikah antara aku dan Dewi yang ada di ponselku. Pak Ihsan kemudian membaca poin-poinnya dengan seksama.


"Hmm, kenapa harus ada janji pernikahan sepuluh tahun? Ini agak janggal 'sih," kata pak Ihsan.

__ADS_1


"Papaku dan orangtuanya Dewi bekerja sama melalui pernikahan itu Pak. Kami mengembangkan bisnis bersama. Untuk jumlah sahamnya pak Ikhwan lebih tahu."


"Di sini dijelaskan jika kurang dari sepuluh tahun pernikahan Anda terganggu karena adanya keberadaan orang ketiga atau seorang wanita, maka pak Zulfikar akan dituntut secara pidana dan perdata. Menurut saya, poin ini sangat tidak adil."


"Kenapa demikian? Karena di poin ini yang ditekan hanya Anda. Seolah-olah hanya Anda yang berpotensi berselingkuh. Padahal, perselingkuhan itu bisa dilakukan oleh pihak laki-laki maupun perempuan," jelas pak Ihsan.


"Saya pernah juga memiliki klien dengan surat perjanjian pranikah. Tapi isinya begini, 'Jika dalam kurun waktu lima sampai sepuluh tahun pihak laki-laki/perempuan melakukan perselingkuhan atau melakukan tindak pidana lain seperti KDRT, penipuan, fitnah, pencemaran nama baik, atau tindakan tidak menyenangkan terhadap pasangannya, maka pihak laki-laki/perempuan berhak mengajukan nota keberatan hingga gugatan cerai.' Terdengar adil, bukan?"


Aku dan abah mengangguk setuju.


"Kalau memang bu Dewi hanya bisa memberi izin sampai pernikahan siri, Abah tak bisa berbuat banyak. Abah tak tahu kalau ada surat pranikah yang isinya seperti itu. Paling, saat besok ke Jakarta, Abah mau bertemu dan berbicara secara lisan untuk meminta izin."


"Abah tak perlu bicara dengan Dewi, biar aku saja," selaku.


Aku ingat pada pesan Hanin yang memintaku agar abah jangan dilibatkan ataupun melibatkan diri. Ya, abah tidak tahu sifat Dewi seperti apa. Sementara aku dan Hanin sudah pernah menjadi korbannya Dewi.


"Kenapa tak boleh, Mas?"


"Emm," aku bingung mau memberi alasan apa pada abah.


"Begini saja, saat Abah mau bicara dengan pihak bu Dewi ataupun orang tua bu Dewi, biar saya yang dampingi. Pak Zulfikar tenang saja, pembicaraan Abah dengan pihak bu Dewi sifatnya hanya ramah-tamah atau bisa disebut sebagai basa-basi saja, bukan pembicaraan ke arah jalur hukum, begitu 'kan ya, Bah?" Pak Ihsan mencoba menengahi.


"Ya, kurang-lebih seperti itu," jawab abah.


"Baik, aku setuju," sahutku.


Jika tidak berhubungan dengan masalah hukum, kupikir tak ada masalah kalaupun abah dan keluarga Dewi bertemu.


"Ya sudah, kalau tidak ada yang mau dibahas lagi, saya mau undur diri, kebetulan saya masih ada janji temu dengan klien lain."


"Silahkan," kata abah.


"Oiya pak Zulfikar, copy file surat perjanjian pranikah punya Anda dan bu Dewi, apa boleh di kirim ke nomor saya? Mau saya pelajari," katanya.


"Boleh, dengan senang hati," jawabku.


"Tak mungkin saya meminta surat itu pada Ikhwan, takut melanggar kode etik pengacara," tambahnya.


Setelah kami bertukar nomor telepon dan aku mengirim file tersebut, pak Ihsanpun pergi.


Aku dan abah kembali lagi ke masjid pondok untuk shalat Isya berjamaah. Rasanya ingin bertemu Hanin dulu sebelum shalat Isya, tapi malu sama abah.


Seusai shalat Isya, awalnya aku ingin mengikuti kajian, namun abah menyuruhku untuk segera pulang.


"Tidak ada jadwal pertemuan dengan santri di jam malam, Mas. Kalau mau bertemu Putra besok pagi saja," kata abah.


"Abah mau pulang jam berapa?" tanyaku.


"Belum tahu, Mas. Sudah, Mas pulang duluan saja, cepat istirahat, besok 'kan mau ke Jakarta. Mas juga dari datang belum istirahat."


"Ya sudah, aku permisi, Bah."


Aku lantas menyalami abah dan berlalu. Bahagia rasanya karena abah seolah mengerti perasaanku.


...***...


Setibanya di kamar, lagi Hanin sudah tidur. Aku memakai piyama tidur sambil menatapnya. Jujur, aku merindukannya. Ingin menikmati tubuhnya yang luar biasa itu. Tapi ... pesan dokter terngiang-ngiang di telinga.


Setelah gosok gigi dan berwudhu, aku naik ke tempat tidur, langsung menarik tubuhnya ke dalam dekapanku. Bibirnya tampak menantang. Kupandangi bibir itu dalam diam.


Apa aku sesap saja tanpa perlu meminta izin? Apa aku lakukan saja selagi dia tidur? Kepalaku mulai mendekat, menunduk perlahan untuk meraihnya sambil memejamkan mata.


"Mas ...."


Alunan lembut suara itu membuat mataku terbuka lebar dan tak jadi menciumnya.


"K-kamu? Ka-kamu bangun? Ta-tadi kamu memanggilku, apa?! Apa aku tak salah dengar?"


Aku kaget bercampur senang, gelagapan dan juga gugup. Hanin bangun, dia tersenyum seraya menatapku. Pipinya merona. Matanya mengerjap berulang-ulang.


"A-apa Pak Zulfikar belum siap aku panggil 'Mas?' Apa mau diganti dengan panggilan yang lain?" tanyanya.


"Si-siap sayang. Aku sangat siap. Ya, tadi memang sempat kaget. Aku tak mau dipanggil dengan panggilan yang lain, Hanin. Memangnya kenapa kalau dipanggil 'Mas?' Aku bangga 'kok dipanggil 'Mas.' Kan papaku asli dari Jawa."


"I-iya, tak apa-apa. Aku hanya bertanya, Pak."


"Kok panggil 'Bapak' lagi, sih?" Aku cemberut sambil memijat batang hidungnya.


"Oh, i-iya, Mas ...," katanya. Masih ragu-ragu.


"Terima kasih, sayang." Aku mencium keningnya.


"Boleh aku menciummu?" Aku to the point. Sebab dari tadi siang belum berhasil memagutnya.


"Aku cek dulu ya Pak, eh MM-Mas," dia meraba hasil cukuran. Tangan halusnya menelusuri wajahku.

__ADS_1


"Bersih," katanya.


"Terus, boleh dong," selaku.


"Bo-boleh," jawabnya pelan.


"Sayang, terus bagaimana dengan ...." Aku membisikan sesuatu yang sangat rahasia.


"A-apa?! Oh, Bapak eh, emm Mas beri intruksi saja, a-aku bisa belajar 'kok," bisiknya. Pipinya merona, malu kali ya dia mengatakan kalimat itu. Ya ampun, lucu sekali kamu sayang.


"Kalau kamu ikhlas dan berkenan, aku tahu caranya sayang. Aku janji ini nyaman untuk kamu, dan aman untuk janin-janin kita. Ya ampun Hanindiya, kamu memang istri sholehah," pujiku.


"Jangan menggombal, Pak. MM --- Mas."


Lalu akupun mulai melakukan apa yang kuinginkan, aku merenggut perlahan yang merah delima itu. Aku meraih dan menikmati hakku.


"Ingat ya sayang, kalau kamu merasa tak nyaman atau perut kamu tiba-tiba terasa sakit, cepat bilang ya," bisikku.


"Ya, MM-Mas ...," lirihnya sambil mengatur napas.


"Pak, eh Mas ... emm ... di kamarku tak ada peredam suaranya. To-tolong A-Anda jangan berisik," lirihnya lagi.


"Si-siap cantik, dalam hal itu aku ahlinya, tak perlu kamu ajari," jawabku.


...🍒🍒🍒...


Dewi Laksmi


"Ada apa sayang? Kok malam-malam ke sini? Harusnya 'kan kamu masih istirahat. Kamu baru pulang dari rumah sakit sayang," kata mami.


"Aku mau bertemu papi, Mi! Di mana, papi?!" teriakku.


"Sayang, sabar, ada apa 'sih? Papi sudah tidur, Nak."


"Minggir, Mi! Aku mau bertemu, papi!" Aku menepis tangan mami. Lalu berlari ke kamar papi.


"Papi, bangun!" teriakku.


"Ya ampun, Nak! Kamu belum berubah? Mami kira setelah mami dan papi mengabulkan kamu menikah dengan Zul kamu bakal berubah." Mami mematung di depan kamar.


"Diam, Mi! Aku seperti ini juga gara-gara Mami dan Papi!" Bersamaan dengan itu, papi keluar dari kamarnya.


"Sayang, kamu mau nginap? Tak sama Zul?" tanya papi.


"Mas Zul pergi ke rumah istri mudanya! Ini semua ini gara-gara Papi!"


"Nak, tenang. Kenapa kamu marah-marah? Apa yang Papi dan Mami lakukan itu demi kelangsungan rumah tangga kamu, bukankah kamu yang meminta Papi untuk mengadakan preskon?"


"Tapi ide Papi yang menyuruhku mengatakan mas Zul sudah becerai itu tak masuk akal! Gara-gara pernyataan itu mas Zul jadi merasa di atas angin!" bentakku.


"Sayang, ayo masuk ke kamar Papi dulu. Tolong jangan teriak-teriak ya, Nak. Papi khawatir pekerja di rumah ini ada yang mendengar teriakan kamu." Papi menarik tanganku ke dalam kamar. Mami segera mengunci pintu.


"Huuu, huuu, aku mau membunuh si Daini, Papi," ratapku sambil memeluk papi. Mami mengusap punggungku.


"Sshh, Papi sedang memikirkan cara terbaik untuk menyingkirkan wanita yang telah merebut kebahagiaan kamu, sayang. Tapi Papi perlu waktu. Kita harus menjalankan rencana cantik, Nak. Percaya sama Papi, ya."


"Huuu, kenapa Papi tidak langsung mengakuisisi perusahaannya? Ya, aku memang sangat mencintai mas Zul, Pi. Tapi karena dia telah mengkhianatiku, aku juga ingin melihat mas Zul hancur. Aku ingin mas Zul dibenci sama papa mamanya dan seluruh keluarganya."


"Sayang, dengarkan Papi dulu. Saat ini, Papi memang sengaja membuat Zul di atas angin. Tujuan Papi ya karena ingin mengulur waktu sayang. Ingat sayang, penyakit kamu belum sembuh. Kamu harus menahan diri, Nak."


"Penyakit apa, Pi? Penyakit kepribadian ganda itu?! Kenapa Papi percaya sama dokter gila itu, hahh?! Aku gak sakit, Pi! Aku tak berkepribadian ganda! Aku normal! Dokternya saja yang gila dan ingin memoroti uanga Papi!" teriakku.


"Sa-sayang, huuu, huks, kamu anak Mami dan Papi satu-satunya. Mami dan Papi akan melakukan apapun demi kebahagiaan kamu. Tapi, Mami dan Papi perlu waktu sayang." Mama memelukku sambil menangis.


"Yang ingin kamu bunuh itu manusia sayang, bukan semut. Harus direncanakan secara matang dulu," kata mami. Tangannya yang mengusap rambutku gemetar.


"Sayang, tolong dipikirkan lagi, apa yakin kamu ingin membunuhnya?" Papi menatapku sambil menghela napas.


"Yakin Papi, aku sangat-sangat yakin! Rasa sakit ini hanya akan terbalaskan dengan kematiannya si Daini!"


"Papi benar, Nak. Terlalu beresiko kalau kita membunuhnya, sayang," ucap mama.


"Ya sudah, kalau Papi dan Mami tak ingin membantuku, biar aku saja yang bekerja! Uangku banyak! Tinggal menyewa pembunuh bayaran! Mudah 'kan?!"


"Sayang, sabar. Apa kita buat wanita itu cacat saja? Setelah melihat fotonya, Mami lihat dia sangat cantik, apa kita buat dia tak cantik lagi? Misal, cacat seumur hidup," kata mami.


"Beraninya Mami mengatakan dia sangat cantik di hadapanku! Aku lebih cantik dari dia, Mi!"


"Ma-maaf sayang. Ya, kamu jelas lebih cantik, Nak." Mami merevisi pernyataannya.


"Intinya, aku baru puas kalau si Daini lenyap dari dunia ini! Jika dia mati, yang bisa memiliki mas Zul hanya aku! Hanya aku!" tegasku.


Mami dan Papi kembali memelukku.


...~Tbc~...

__ADS_1


__ADS_2