
"Huuu huuu."
Aku menangis sekencang-kencangnya sambil membenamkan kepalaku di bawah bantal.
"Wi, Mas minta maaf, setelah pengacara dan polisi menjelaskan, semoga kamu bisa menerima dan memahaminya."
Mas Zul duduk di sisi tempat tidur. Sesekali mengusap punggungku.
"Apa yang harus aku terima, Mas?! Terus apa juga yang harus aku fahami?! Aku benar-benar tak faham apa yang kamu katakan!" teriakku.
"Baiklah, kita bicara nanti saja, Mas mau rapat dulu. Kamu mau menunggu di sini atau pulang? Nanti Mas telepon bang Radit."
"Mas! Kamu benar-benar tidak punya hati! Berani ya kamu meninggalkanku dalam keadaan seperti ini?!"
Aku tak terima, aku mencak-mencak. Mengacak bantal, guling, dan sprei yang tak berdosa.
"Cinta, ya sudah Mas duduk lagi. Sekarang mau kamu seperti apa?"
"Aku ingin segera bertemu wanita munafik itu!" teriakku.
"Wi, cukup! Dia tidak muna ---."
"Diam, Mas!"
Nada bicara mas Zul selalu meninggi saat aku menyebut wanita itu.
"Wi, pengacara dan polisi bisanya menemui Mas setelah Maghrib. Jadi baru bisa menemuinya nanti malam. Kita sudah sepakat, Wi. Harusnya kamu bisa lebih tenang."
"Huuu huuks. Oke! Fine! Ya, aku memang sudah sepakat! Tapi tolong kamu jelaskan dulu, apa semalam kamu bersama dengan wanita itu?! Jelaskan! Kamu lembur atau bersama si munafik itu?!"
Aku beteriak sambil menunjuk-nunjuk mas Zul. Emosi ini kembali memuncak saat aku mengingat apa yang mas Zul katakan saat menelepon wanita itu.
"Cinta, kurasa Mas belum bisa menjelaskannya. Bagaimana kalau nanti malam saja dijelasinnya? Biar sekalian Wi."
"Huhh, hhh, oke, sekarang kamu jelaskan saja apa maksud ucapan Mas saat menelepon dia?!"
Dadaku naik-turun karena amarah yang membuncah.
"Maksud kamu?"
Mas Zul seolah tak mengerti. Atau dia memang sengaja pura-pura tak mengerti.
"Jangan pura-pura ya Mas. Aku menguping saat kamu menelepon! Kamu mengatakan, 'Maaf, mungkin kamu sakit gara-gara ulahku. Semalam aku hilang kendali. Maaf jika menyakitimu lalu meninggalkanmu begitu saja. Aku minta maaf ya.' Kamu bilang begitu, kan? Aku belum pikun dan tidak tuli Mas!" teriakku.
Aku mengulang kembali kalimatnya. Keterlaluan kalau dia masih tidak mengerti juga. Aku bahkan mempraktikkan nada bicara mas Zul yang terdengar begitu lembut.
"Emm."
Nah, dia bingung kan?
"Katakan Mas, tolong jujur saja! Aku sudah kecewa dan sakit hati! Dengan Mas berbohong, Mas justru membuat kecewa dan sakit hatiku semakin bertambah."
__ADS_1
"Wi, Mas bukannya tak mau jujur, hanya saja saat Mas jujur, Mas takut kamu kehilangan kendali dan salah sangka," katanya sambil berjalan ke arah cermin dan merapikan dasinya.
"Mas!" Aku menyusulnya. Aku bahkan menarik dasinya.
"Kamu mau jujur atau diam saja, hahh? Kumohon Mas, jangan membuatku penasaran!"
Aku sebenarnya tahu kalau dia berbohong dengan beralasan lembur, hanya saja aku ingin tahu seberapa cepat dia berani berkata jujur.
"Cinta, Mas jelaskan nanti ya, sebentar lagi rapat. Lima menit sebelum dimulai aku harus sudah berada di sana," tegasnya.
"Huuu, ya ampun Mas, kamu benar-benar telah berubah, padahal tinggal jujur saja, mudah 'kan?! Kenapa harus berbelit-belit seperti ini?!" teriakku. Lantas merebut HP mas Zul. Dia kaget.
"Wi, apa yang kamu lakukan?!"
"Aku mau minta nomor wanita itu Mas! Aku mau bertanya langsung sama dia apakah semalam Mas sama dia atas tidak!"
Aku berlari sambil memegang ponselnya. Mas Zul mengejar.
"Dewi, tolong jangan kekanak-kanakan. Nanti ada waktunya kamu boleh memiliki nomor telepon Hanin. Untuk saat ini, Mas melarang kamu. Maaf," sambil menangkap tubuhku dan berhasil merebut kembali ponselnya.
"Hanin? Mas memanggilnya Hanin saat orang-orang memanggil dia Daini. Ouh, kamu benar-benar mencurigakan Mas. Ya sudah, kalau Mas belum mau jujur, aku mau menunggu Mas di ruangan paklik saja."
Padahal, aku tidak akan mengatakan apapun pada paklik. Tapi mas Zul sudah terlihat gugup.
"Cinta, Mas mohon."
Dia memelukku, bahkan mau mencium bibirku tapi aku tolak.
Aku berjalan cepat menuju pintu keluar.
"Wi, oke Mas akan jujur!" teriaknya saat aku baru saja memegang handle pintu.
Dasar pengecut! Dia benar-benar ketakutan aku membongkar kebohongannya.
Harusnya kalau tidak bohong, tidak perlu takut, bukan?
Aku membalikan badan, menatap tajam padanya.
"Ayo katakan, Mas!" pintaku.
"Ya, semalam Mas berbohong. Mas tidak lembur," katanya.
Sungguh, bukan jawaban itu yang kuinginkan.
"Sudah kuduga, terus kamu kemana Mas?! Kemanaaa?!" teriakku.
Dia diam saja, malah mendekat dan mengusap airmataku.
"Mas rapat dulu ya cinta, kamu pulang saja. Oiya, kalau mau menemui paklik, ya silahkan. Tapi ... Mas berharap kamu tidak gegabah mengambil sikap."
Dia mencium tanganku, dan berlalu.
__ADS_1
"Kamu berani mengancamku, Mas?! Ingat ya Mas, kamu jangan mengecewakan mama dan papa kamu untuk kedua kalinya!" teriakku.
Dia berhenti sejenak, namun lantas pergi dan tak menolehku lagi.
"Aaargh," teriakku.
Aku marah luar biasa. Namun tiba-tiba ada perasaan takut yang menyelimuti hatiku. Aku takut yang kulakukan tadi menyakiti perasaan mas Zul dan membuatnya tersinggung.
Bagaimana kalau dia menganggap kemarahanku sebagai sesuatu yang keterlaluan dan berlebihan? Bagaimana kalau dia menceraikanku?
Tidak, itu tidak boleh terjadi. Aku harus percaya diri. Lagipula, aku berada di pihak yang benar. Jikapun benar wanita itu adalah pelakor, justru posisiku akan lebih kuat karena akan mendapatkan dukungan dan si pelakor akan menjadi pihak yang tersudutkan dan disalahkan.
.
Setelah mas Zul pergi, rasa penasaranku pada sosok Daini justru semakin bertambah. Akhirnya, aku memutuskan menelepon bu Caca untuk meminta nomor Daini.
Aku beralasan akan tetap mewawancarai Daini di lain waktu. Agar Bu Caca tidak curiga, aku pergi ke divisi mutu dan memberikan formulir kuesioner untuk staf di sana.
.
Kedatanganku disambut baik dan hangat. Beberapa kali aku melirik kubikel atas nama Daini yang terlihat rapi. Saat aku berada dekat kubikelnya, kulihat di barisan paling atas berkas-berkasnya ada Al-Qur'an dan tasbih berbentuk mutiara. Lalu ada toples kecil yang di dalamnya berisi kurma kering dan kismis.
Dinding kubikelnya dihiasi kata-kata motivasi yang ditulis di kertas origami. Tersusun rapi dan dikelompokkan berdasarkan warnanya.
"Ya, ini meja Daini, Bu," kata bu Caca yang bisa jadi merasa heran karena aku mematung cukup lama di depan kubikel Daini.
"Oh, ya Bu. Aku tertarik melihat kaktusnya. Lucu sekali."
Di meja wanita ini memang ada mini kaktus berbentuk bulat yang diletakan di gelas kaca berisi kerikil dan pasir. Serta ada satu lagi tanaman hias media air yang aku tidak tahu namanya. Dia rupanya menyukai tanaman.
"Ya Bu, saya juga suka lihat kubikel Daini, cantik dan rapi seperti orangnya. Hehe," puji bu Caca.
Dan hatiku berdesir saat bu Caca memujinya. Aku manggut-manggut dan memaksakan diri untuk tersenyum.
"Selain cantik, dia juga sopan, agamis, dan kerjanya bagus, Bu," tambah bu Caca.
Aku kembali tersenyum. Jadi menyesal datang ke divisi mutu jika ujung-ujungnya malah mendengar kelebihan wanita itu.
Ingin rasanya aku beteriak saat ini juga dan mengatakan jika wanita yang dipuji bu Caca sebenarnya adalah wanita munafik yang berani mendekati bahkan mungkin menggoda suamiku.
"Baik, terima kasih infonya Bu, lembar kuisionernya kalau sudah diisi antar ke ruangan suamiku saja."
Lalu aku berpamitan. Jadi malas ngobrol dengan bu Caca. Takutnya dia membahas wanita itu lagi.
Sebelum pergi, aku tak sengaja melihat kubikel atas nama Listi.
Listi Anggraeni. Listi, temannya 'kan?
Jadi penasaran seperti apa temannya. Ternyata, penampilan Listi sama seperti karyawan lain. Dia seksi dan sedikit tomboy. Dia melemparkan senyum dan membungkukkan badan saat aku menatapnya.
...~Tbc~...
__ADS_1
...Yuk, komen yuk!...