Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Menghadapi Kenyataan


__ADS_3

"Jangan cepat-cepat menyuapinya, Wi. Mas mengunyahnya belum bisa seperti biasa," protes pak Zulfikar.


Saat main 'batu-gunting-kertas,' aku kalah. Jadi, bu Dewi bertugas menyuapi. Kak Gendis memilih pulang untuk sementara waktu dengan alasan takut cepat tua kalau terlalu lama berada di ruangan ini. Kak Gendis ternyata kurang menyukai sikap bu Dewi yang menurutnya keras kepala dan mau menang sendiri.


"Ini 'kan bubur, Mas. Tak perlu dikunyah lama-lama."


"Kak Dewi, biar aku saja. Ini memang bubur, tapi Pak Zulfikar 'kan baru selesai operasi. Ini masih terpasang drain juga di telinganya. Saat mengunyah pasti terasa sakit," belaku. Aku tak terima pak Zulfikar diperlakukan seperti itu.


"Jangan sok tahu ya Daini!" katanya sambil menyodorkan suapan ke pak Zulfikar yang spontan mengatupkan bibirnya untuk menolak suapan tersebut.


"Wi, kalau kamu tak suka menyuapi, Mas. Kenapa tidak Hanin saja yang melakukannya?" Pak Zulfikar berkata sambil memalingkan wajahnya.


"Sebenarnya aku suka-suka saja, Mas. Aku hanya tak suka ada si Daini di tempat ini, sekarang ayo makan lagi. Kamu harus minum obat 'kan, Mas?"


"Kak, aku yang lanjutkan." Aku terpaksa merebut baki yang dipegangnya.


"Ya sudah, suapi sana! Sepuas kamu! Aku mau mandi dulu," katanya. Lalu bergegas ke kamar tunggu.


"Huft, Dewi memang tak biasa menyuapiku, kalau aku sakit, yang mengurusku bang Radit," jelasnya.


"Ya sudah, Anda tak perlu banyak bicara, sekarang fokus habiskan buburnya ya," bujukku.


"Oke sayang, apapun akan kuturuti kalau kamu yang menyuruhnya." Kembali menatap dan menggenggam tanganku.


"Alhamdulillah, kenyang sayang, sudah ya." Aku lantas membantunya minum dan mengelap bibirnya.


"Aku pergi dulu, Pak."


"Mau ke mana sayang?"


"Mau ambil obat. Setelah makan, Bapak harus minum obat, kan?"


"Jangan pergi sayang. Masalah obat, nanti juga diantar sama suster. Tetap di sini, bersamaku. Aku takut," katanya.


"Takut?"


"Ya sayang, aku takut Dewi melakukan hal-hal yang bukan-bukan," jelasnya.


"Oke, aku tetap di sini. Tapi bu Dewi tak mungkin menyakiti Anda, Pak. Dia sangat mencintai Anda."


"Apa kamu lupa? Bukankah kamu juga pernah disakiti?"


"Ya, aku memang pernah disakiti. Tapi aku sudah memaafkannya, Pak. Aku memakluminya karena yakin jika dia melakukannya karena emosi. Tak baik jika kita membicarakan bu Dewi, lebih baik fokus saja pada kesehatan Anda." Aku kemudian memijat tangannya.


"Harusnya, kamu tak peduli padaku, sayang. Harusnya, kamu pulang ke Bandung saja. Dengan kamu seperti ini, perhatian, dan terlihat menyukaiku, bagaimana mungkin aku bisa menceraikanmu, Hanin."


"Pak, terkadang ... kita harus melepas sesuatu yang berharga demi mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Aku yakin setelah kita berpisah, kehidupan kita akan lebih baik lagi." Aku pura-pura tegar, padahal ... hatiku terluka. Aku tak bisa membayangkan seperti apa hari-hariku saat tidak bersamanya.


"Hanin, jika aku sudah menduda dan kamu sudah menjanda, tolong jangan menerima laki-laki lain selain aku. Setelah urusanku dan Dewi selesai, aku ingin meminangmu kembali. Aku ingin menjadi ayah yang sesungguhnya untuk anak-anakku."


"Pak, kalaupun kita tidak bersama. Anak-anak ini tetaplah anak-anak Anda. Anda bisa melihatnya kapanpun Anda mau."


"Tapi ... aku juga ingin menjadi suami kamu Hanin. Wallahi, aku sangat mencintai kamu. Setelah bertemu dengan kamu, aku bahkan menyesali seluruh kebersamaanku bersama Angel dan Dewi. Aku juga tak tahu kenapa rasa cinta ini terasa begitu mendalam. Apa aku egois?"


"Ya, Anda egois," jawabku.


"Mas," tiba-tiba bu Dewi tiba. Sudah rapi dan bersolek cantik.


"Mau ke mana, Kak?" tanyaku.


"Tak kemana-mana, aku ingin tetap di sini untuk menemani suamiku," jawabnya. Lalu mendekat ke pak Zulfikar dan menangkup pipinya.


"Wi, kamu mau apa?"


"Mau cium kamu, lah Mas."

__ADS_1


"Wi, jangan sekarang," pak Zulfikar memalingkan wajahnya. Namun bu Dewi tetap memaksa.


"Kak, maaf, Pak Zulfikarnya masih pemulihan." Aku refleks menarik tangan bu Dewi.


"Daini! Jangan lancang ya!" Bu Dewi menepisku. Aku mengalah.


"Permisi, ada therapi."


Syukurlah, seorang suster masuk. Ia membawa troli berisi obat-obatan. Bu Dewipun terpaksa menunda keinginannya.


"Permisi, ini ada obat oral. Ada tiga tablet. Semuanya diminum ya, Pak. Terus, ini ada injeksi antibiotik, analgetik, dan vitamin. Akan saya suntikkan sekarang. Saya mohon izin dan kesediaan Bapak untuk disuntik. Bapak bersedia?" tanya suster.


"Ya, silahkan," jawabnya singkat.


.


.


"Sebentar lagi, perwakilan divisi mutu akan ke sini, kamu siap-siap ya Daini," ujar bu Dewi setelah suster pergi.


"Apa?" Pak Zulfikar kaget. Akupun terpaku bingung.


"Kenapa mereka bisa ke sini? Bukankah kata papaku hanya Tania yang boleh ke sini?" protes pak Zulfikar.


"Tenang saja, aku tak akan membongkar identitas si Daini sama mereka, Mas."


"Tapi, Wi. Kecuali Listi, mereka semua tahunya Dewi sudah resign. Kamu jangan aneh-aneh, tolong hormati privasinya Hanin," sela pak Zulfikar.


"Sudahlah Mas, lebih baik patuh saja. Sedari awal, aku tak berniat merusak reputasi kamu. Masalah reputasinya si Daini, ya dia sendiri yang harus bertanggung jawab."


"Wi, kamu ---." Pak Zulfikar tampak kecewa. Aku segera menenangkannya.


"Pak, tak apa-apa, aku baik-baik saja," kataku.


Kenyataanya, aku benar-benar kebingungan. Alasan apa gerangan yang akan dikatakan bu Dewi pada staf mutu? Untuk sementara waktu, aku hanya bisa pasrah.


"Aku terserah Bapak saja, kalaupun Kak Dewi mau membongkar rahasiaku, aku tak masalah," tantangku.


"Tidak sayang, aku tidak akan membiarkan itu terjadi." Pak Zulfikar meraih tanganku.


"Drama sekali! Kalian menyebalkan! Oiya Mas, asal kamu tahu saja ya, aku berencana mengikuti program bayi tabung. Kalau bisa, sekalian saja selagi kamu ada di rumah sakit ini." Aku tak menyangka kalau bu Dewi akan buru-buru mengatakan masalah itu.


"Apa? Jangan bercanda, Wi. Aku tak mau, untuk apa kita program bayi tabung? Sebelum kita menikah, bukankah laporan kesehatan reproduksi kamu sudah divalidasi?" Pak Zulfikar terkejut.


"Mas, kita suami istri, apasalahnya 'sih? Lagi pula, waktu kita tak banyak. Kalau sampai kamu berhasil menggugat cerai, bagaimana? Pokoknya, sebelum si Daini melahirkan, aku harus sudah hamil. Dengan aku hamil, aku yakin pengadilan agama akan mempertimbangkan peceraian kita. Atau jangan-jangan, apa kamu tak mau punya anak dari rahimku, Mas?! Kamu jahat! Kamu tak adil!" hardiknya.


Pak Zulfikar menghela napas. Kulihat, tangannya gemetar. Ia pasti tertekan dengan pernyataan bu Dewi. Tapi ... aku tak bisa berbuat banyak. Hal yang mereka bicarakan bukan kapasitasku untuk mengomentarinya. Aku memilih menunduk dan berdoa agar mereka mendapatkan jalan keluar yang terbaik dan juga adil bagi kedua belah pihak.


"Kalau aku tak berkenan punya anak dari kamu, aku pasti pakai pengaman atau tak pernah menumpahkannya di dalam rahim kamu. Jadi, dalam hal itu, tolong jangan menuduhku tak adil, Wi. Kalau memang kamu memaksa, aku setuju ---," kata pak Zulfikar dengan suara pelan dan lirih. Ia menjeda sejenak penuturannya.


"Nah, begitu dong, Mas. Lagi pula, mama dan papa kamu pasti sangat senang kalau aku hamil. Secara, anak dari rahimku jelas-jelas anak resmi. Papi mami dan keluarga besarku juga pasti akan senang," sela Bu Dewi sambil tersenyum puas. Dia menatapku dengan tatapan mengejek. Aku pura-pura tak memedulikannya.


"Tapi ... ada syaratnya," tambah pak Zulfikar.


"Syarat? Syarat apa, Mas? Awas, jangan aneh-aneh ya."


"Jika program bayi tabung itu berhasil, tolong restui pernikahanku dan Hanin. Aku berjanji tidak akan menceraikan kamu. Ayo kita berbagi ranjang dengan cara yang adil," ajaknya.


"Apa?! Sudah kuduga! Semua yang kamu lakukan pasti ujung-ujungnya demi si Daini! Begini saja, Mas. Kamu mau nurut ikut program bayi tabung? Atau ... aku publikasikan si Daini dan seluruh keluarganya ke publik? Kamu tinggal pilih saja, Mas!" tegasnya. Lalu bergegas dan berkata ....


"Stafku sudah ada di bawah, aku mau menjemput mereka."


"Dewi, tunggu."


"Pak, sabar." Aku menggenggam tangannya.

__ADS_1


"Menurut kamu bagaimana sayang? Apa yang semestinya aku lakukan? Jujur, aku bahagia kalau Dewi juga hamil, tapi ... aku masih ragu dia bisa menjaga kehamilannya. Selain itu, saat dia hamil, aku takut mama dan papaku tak menginginkan anak kita lagi. Aku kahawatir sayang."


"Pak, aku tak butuh pengakuan dari orang tua Anda. Bisa hamil dan melahirkan anak saja, itu sudah cukup membuatku bahagia karena itu artinya, Allah telah menyempurnakan peranku sebagai seorang wanita sekaligus seorang ibu. Jika aku boleh berpendapat, lebih baik Anda kabulkan saja."


"Dengan bu Dewi hamil, aku justru berharap jika sikap bu Dewi akan berubah ke arah yang lebih baik. Selain itu, hubungan Anda dan bu Dewipun pasti akan lebih baik lagi. Lagi pula, bayi tabung itu dihalalkan selama dilakukan oleh pasangan yang sah. Pak, diakui tidaknya anak yang lahir dari rahimku oleh orang tua Anda, hal itu tetap tidak akan merubah kedudukan Anda sebagai ayah dari anak-anakku."


"Di hadapan Allah, mereka tetaplah anak-anak Anda. Tidak ada yang bisa mengelak dan merubah takdir yang sudah ditetapkan-Nya. Lalu, apa yang Anda ragukan lagi?" Aku menatapnya lekat-lekat, tatapan sendunya membuatku iba.


"Tapi sayang, jika Dewi hamil, aku akan lebih sulit untuk menceraikannya. Otomatis harus menunggu masa nifas dulu, kan? Harus mengurus masalah hak asuh anak juga. Aku tak yakin Dewi bisa mengurus anakku." Aku heran, kenapa pak Zulfikar begitu meragukan bu Dewi?


"Bukankah untuk becerai dariku juga harus menunggu masa nifas? Pak Zulfikar, aku hanya memberi saran, selebihnya ... keputusan Anda di tangan Anda."


Pak Zulfikar kemudian menghela napas. Matanya nyalang menatap langit-langit.


"Hanin, baiklah, aku setuju mengikuti program bayi tabung itu, tapi ... bolehkah aku mengajukan permintaan untuk kamu?"


"Apa ini semacam persyaratan?" tanyaku.


"Ya, bisa jadi," jawabnya.


"Permintaan apa, Pak?"


"Saat aku sudah menceraikan kamu, lalu masa iddah kamu selesai, bisakah kamu tetap menungguku, Hanin? Maksudnya, maukah kamu menungguku untuk menyelesaikan urusan peceraianku dengan Dewi? Aku ingin kita kembali bersama, aku ingin melamar kamu dan menikahi kamu selayaknya pernikahan pada umumnya. Apa kamu bisa?"


"A-apa?"


Lidahku seketika kelu. Aku tak mungkin mengatakan ya, tapi ... aku juga ragu untuk mengatakan penolakan. Lagi, aku hanya bisa menatapnya dan becucuran air mata. Pun dengan pak Zulfikar, dia menatapku dengan netra berkaca-kaca.


"Please ...," katanya.


Lalu mengecup punggung tanganku. Lidahku masih saja kelu. Ingin rasanya kuberhambur ke pelukannya dan mengutarakan rasa ini, tapi ... karena kesalahan di malan itu, aku selalu ragu dan merasa tak pantas memilikinya.


"Setidaknya, tolong terima aku demi anak-anak kita, sayang. Aku tak mengapa kalaupun cintaku bertepuk sebelah tangan. Aku tak masalah kalaupun kamu hanya pura-pura mencintaiku. Karena yang aku inginkan hanyalah ... berada di sisi kamu, mencintai kamu, dan memilih kamu untuk menjadi bidadari surgaku."


"Pak Zulfikar, huuu ...."


Batinku seolah terhimpit bumi. Apa yang dia katakan membuatku seakan-akan tak bisa bernapas. Ucapannya tentang bidadari surga itu benar-benar selaras dengan harapan yang selama ini ada di benakku. Apakah pak Zulfikar memang jodohku?


"Hanin ... jawab sayang, cukup katakan ya atau tidak. Jangan membuatku semakin tersiksa. Tapi ... kalaupun kamu mengatakan tidak, aku masih berharap jika kamu tetap bersedia untuk pura-pura menerima dan mencintaiku demi anak-anak kita."


"Pak, aku ---."


"Assalamu'alaikuum," rupanya, staf divisi mutu sudah tiba. Akupun bersiap untuk meninggalkan pak Zulfikar.


"Hanin, tetap di sampingku," larang pak Zulfikar.


Ia memegang tanganku bersamaan dengan terbukanya pintu kamar perawatan. Aku berusaha menarik tanganku, namun pak Zulfikar tak melepasnya.


"Aku akan bertanggung jawab," gumamnya.


Aku tertunduk, aku tahu jika perwakilan staf divisi mutu yang saat ini tengah berada di ambang pintu, sedang menatap heran ke arahku dan pasti sangat terkejut.


Apa lagi jika mereka menyadari kalau perutku sudah mulai membesar. Aku mengatur napasku di tengah deruan jantung yang kian berdegup cepat. Mau tidak mau, aku harus siap menerima segenap risikonya.


Jika pak Zulfikar mau bertanggung jawab, bahkan rela mengorbankan nyawanya untukku, lantas untuk apa aku bersembunyi? Kenapa aku harus takut pada asumsi publik? Bukankah faktanya aku memang tak melakukan kesalahan? Benar, aku harus berani. Entah ada kekuatan dari mana, dengan lantang aku berkata ....


"Wa'alaikumussalaam, silahkan masuk," sambil menebarkan senyum terbaikku.


Ternyata, tidak ada kak Listi di antara mereka. Bu Dewi yang berada di barisan depan menatapku tajam sambil mengepalkan tangannya.


"Daini?"


"Kamu ---?"


"Pak Direktur?"

__ADS_1


Mereka terkesima. Saling menatap satu sama lain, lalu kembali menatapku dengan tatapan sejuta tanya.


...~Tbc~...


__ADS_2