Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Pergi Sejenak


__ADS_3

Listi Anggraeni


"Hei, sst, sst," seseorang memanggilku saat aku tengah mengantri agar bisa mendekat ke area peti jenazah yang baru saja tiba di rumah duka.


"Apa 'sih?"


Aku menolehnya. Ternyata, pria itu adalah kerabatnya pak Direktur. Aku pernah beberapa kali melihatnya di rumah pak Aksa. Kalau tidak salah, namanya pak Dhimas.


"Ya, Pak. Kenapa?"


"Kamu cepat susul neng Hanin ya. Tadi, dia bilang padaku mau ke toilet. Aku khawatir dia tersesat. Toiletnya ada di ujung sana. Sambil menunjuk dengan sudut matanya. Aku sedikit keheranan. 'Kok seperhatian itu dia sama Daini. Mana memanggilnya neng Hanin lagi. Menyamai nama panggilan pak Direktur untuk Daini.


"Daini bukan anak kecil, Pak. Pastinya tidak akan tersesat 'lah."


"Tidak bisa. Pokoknya kamu harus menyusulnya. Sebab, aku perhatikan, dia cukup lama di kamar mandinya. Kalau aku yang menyusul, rasanya sangat tidak etis. Aku 'kan laki-laki. Bisa dibogem nanti sama Zulfikar. Cepat!" titahnya. Bahkan sambil mengibaskan tangan.


"Baik, Pak."


Sepertinya, dia adalah pria yang tidak suka dibantah. Aku juga malas berdebat dengannya. Ya sudah, akupun bergegas menuju toilet. Daini benar-benar luar biasa, dari tatapan pak Dhimas, aku bisa melihat jelas jika dia sangat mengkhawatirkan Daini.


Sampai di toilet, aku menunggunya sambil melihat-lihat. Selain aku, banyak yang lainnya juga. Namun tidak sampai terjadi antrian.


"Kok enggak keluar-keluar, 'sih?" gumamku.


"Bu, maaf, lihat perempuan hamil enggak? Pakai gamis bunga-bunga warna ungu muda. Jibabnya besar, terus pakai masker warna hitam." Aku bertanya pada salah satu pelayat yang sedang berdiri di depan area toilet.


"Perasaan, saya dari tadi berdiri di sini. Tapi enggak lihat wanita hamil, Mbak," jawabnya.


"Oh, emm, ya sudah, terima kasih ya, Bu."


Perasaanku langsung tidak enak. Segera mencarinya dengan mengamati orang-orang yang keluar dari bilik toilet. Tapi aku tidak menemukan Daini. Jantungku mulai berdebar. Mana pak Direktur belum datang lagi. Kata mbak Gendis, pak Direktur dan pak Sabil masih berada kantor polisi.


Aduh, bagaimana ini? Aku berusaha menenangkan diri sambil terus mencari keberadaan Daini. Kali ini ke area toilet pria. Lanjut ke barisan tamu VIP dan VVIP, namun hasilnya nihil. Aku tidak menemukan Daini. Aku mulai panik. Ditambah, HP-ku juga ketinggalan di saku mobilnya pak Aksa. Lengkaplah sudah.


"Listi? Kenapa?" tanya mbak Gendis yang baru saja menghampiri kursi VVIP. Disusul oleh yang lainnya. Yaitu, bu Yuze, pak Aksa, dan para asisten.


"Emm, a-aku sedang mencari Daini, Mbak," jawabku ragu.


"Daini? Oh, mungkin ke ruangan istirahat. Di sini 'kan terlalu ramai, neng Daini pasti ke sana, 'deh."


Mbak Gendis menunjuk ke salah satu ruangan. Ya, rumah orang tua bu Dewi memang unik dan megah. Saking kayanya, rumah mereka sebelas dua belas dengan gedung serba guna.


"Ya sudah, Kak Listi cari ke sana ya. Mama tadi tidak begitu memerhatikan Daini. Soalnya setelah tahu papa mau diperiksa polisi, pikiran Mama jadi tidak tenang," ungkap bu Yuze.


"Salah Mama terlalu dipikirkan. Untuk apa coba dipikirkan? Wong Papa diperiksa sebagai pelengkap doang, 'kok. Bukan saksi, bukan tersangka, apa lagi terdakwa," sahut pak Aksa.


"Ya sudah, aku cari Daini dulu ya, Ma, Pak. Oiya, maaf, apa Mbak Gendis bisa menelepon Daini? HP-ku ketinggalan di mobil. Maksudku, mau menanyakan posisinya," pintaku pada mbak Gendis.


"Oke, aku telepon ya." Menghubungi Daini.


"Eh, 'kok nomornya enggak aktif?" Alis mbak Gendis langsung mengernyit.


"Coba Mama cek nomornya?" Bu Yuze merebut HP mbak Gendis.


"Nomornya benar, 'kok. Pak Budi, Pak Agus, sini!" Bu Yuze segera memanggil pengawalnya.


"Ya, Bu." Mereka berdatangan.


"Cepat cari Daini. Sampai ketemu ya."


"Baik, Bu." Setelah saling berpandangan, mereka mengiyakan.


Tanpa komando, akupun melanjutkan rencana awal. Yaitu, mencari Daini ke ruang istirahat.


"Di mana Haninnya? Kamu sudah bertemu dia, 'kan?" Di ruang istirahat malah bertemu lagi sama pak Dhimas.


"Belum, Pak. Ini, aku masih mencari Daini."


"Apa?!" Dia langsung panik.


"Nomornya juga enggak aktif," tambahku.


"Apa katamu?!" Pak Dhimas tambah panik. Lalu berjalan cepat sambil menyibak kerumunan. Entah apa yang akan dilakukannya.


Di ruang istirahatpun, aku tidak menemukan Daini.


"Pak Agus, bagaimana?!" Jadi panik. Kebetulan bertemu dengan pak Agus.


"Saya belum menemukan bu Daini, pak Budi juga belum."


"Ya ampun, kamu di mana 'sih, neng?" Lanjut mencari lagi ke area yang lain.


"Pak, aku mohon. Aku mau lihat rekaman CCTV. Mau mengecek keberadaan istrinya pak Zulfikar." Di ruang keamanan, aku melihat pak Dhimas sedang melobi petugas keamanan untuk mengecek CCTV.


"Maksud Bapak, istri mudanya pak Zulfikar? Bukankah dia sudah dewasa? Tidak mungkin hilang atau tersesat, 'kan?" Respon petugas keamanan tersebut sangat tidak mengenakan.


"Pak, kalau dia ada, aku juga tidak mungkin meminta bantuan Bapak! Kalian harus tahu, posisi orang yang akan kucari itu sangat penting bagi keluarga Antasena! Paham?! Cepat! Aku mau lihat CCTV-nya?!" Pak Dhimas malah emosi.


"Penting? Bagi kami, yang paling penting adalah istri sahnya pak Zulfikar, bu Dewi Laksmi. Kami berada di kubu positif, Pak. Bukan di kubu negatif yang bersekongkol dengan pelakor."


"APA?! KURANG AJAR!" Pak Dhimas mencekal tangan petugas keamanan yang mengatakan kalimat tersebut.


"Ternyata kalian tidak profesional, ya?! Zulfikar dan istri mudanya sudah menikah secara sah. Dari awal, mereka tidak melanggar hukum! Dan tidak pula merugikan kalian! Awas, sekali-kali kamu menjelekkan keluarga Antasena, kupastikan kamu akan jamuran di dalam jeruji besi!" teriaknya. Pak Dhimas ternyata sangat emosional. Namun, dia melakukannya demi kehormatan keluarga Antasena.

__ADS_1


"Pak Dhimas! Hentikan, Pak!" Aku berusaha melerainya.


"Ya, Pak. Tolong tenang, Pak. Di sini sedang berkabung. Tolong jangan membuat keributan." Petugas yang lainpun membantu melerai.


"Ma-maaf, a-ampun Pak." Sepertinya, petugas yang bicara sembarangan menyesali perbuatannya. Wajahnya memucat setelah mendapat ancaman dari pak Dhimas.


"Ada apa ini?" Pak Budi dan pak Agus datang.


"Pak Budi, Pak Agus ...." Aku menjelaskannya secara singkat, padat, dan jelas.


"Pak Dhimas, maafkan mereka. Di sini banyak media, Pak." Pak Agus berusaha menenangkan.


"Aku akan tenang setelah melihat rekaman CCTV-nya!" Akhirnya melepaskan cengkraman tangannya. Namun wajahnya masih terlihat murka.


"Maaf, Pak. CCTV di rumah ini hanya bisa dibuka atas izin almarhum. Bahkan, bu Silfapun tidak memiliki kewenangan untuk masalah CCTV," jelas salah satu dari mereka.


Pak Dhimas menghela napas untuk meredam emosinya. Lalu, secara bersamaan, pemandu acara mengumumkan jika petinggi dari kepolisian beserta jajarannya akan segera tiba di rumah duka. Ia meminta agar pelayat yang hadir memberi jalan dan tidak melakukan kegiatan yang menimbulkan kebisingan.


Kami semua terdiam. Pak Dhimaspun akhirnya terdiam jua. Lantas, petinggi kepolisian dan jajarannya tiba. Ada pak Direktur dalam rombongan itu. Dia berada di barisan depan bersama petinggi kepolisian. Disusul barisan polisi beseragam hitam. Pandanganku langsung tertuju pada pria yang kukenali. Dia sedang fokus dengan komando. Pasti tidak sadar kalau aku sedang melihatnya. Aku menunduk saat rombongan itu melintas di hadapanku.


"Zulfikar, aku mau bicara." Pak Dhimas justru langsung menyapa pak Direktu.


"Ya, Dhim. Kenapa?"


Pak Direktur memisahkan diri dari rombongan setelah memberi isyarat pada petinggi kepolisian yang tadi mengapitnya. Sementara dia, sama sekali tak menoleh ke manapun. Lagi pula, aku tak peduli kalaupun dia tidak melihatku.


"Kita ikuti mereka," ajak pak Agus. Menunjuk ke arah pak Direktur dan pak Dhimas. Jujur, perasaanku tidak enak. Mataku terus beredar, tapi tetap tidak melihat sosok Daini.


"Tanyakan pada dia!" Pak Dhimas tiba-tiba menunjukku. Aku yakin dia sudah menjelaskannya pada pak Direktur.


"Listi, Hanin di mana?" tanya pak Direktur.


"Emm ---." Aku bingung.


"Dia pasti tidak tahu. Sudah kubilang istri kamu menghilang."


"Jangan bicara sembarangan Dhimas!" sela pak Direktur.


"Listi, cepat katakan. Hanin di mana? Yang dikatakan Dhimas tidak benar, 'kan?"


"P-Pak Direktur, Ha-Hanin hanya belum ketemu saja, bu-bukan hilang," jawabku sambil menunduk dan merematkan jemariku. Serius, aku takut. Daini, kamu di mana 'sih?


"Kamu pasti bohong! Pak Agus, pak Budi! Di mana istriku?! Kenapa kalian diam saja?!" bentak pak Direktur. Wajahnya mulai gelisah. Sama sepertiku, pak Budi dan pak Aguspun malah menunduk.


"Kalian tidak dapat dipercaya! Aku mau tanyakan sama papa dan mama." Dengan wajah kesal, pak Direktur bergegas.


"Ada apa ini? Kenapa pak Zulfikar seperti sedang marah? " Pak Reza yang baru bergabung terlihat bingung dengan situasi ini. Kali ini, pak Agus yang menjelaskan masalahnya.


"Maaf Pak, kami berpikir bu Daini tidak akan hilang. Jadi, kami ---."


"Lalai kalian! Ya, bu Daini memang sudah dewasa, dia tidak mungkin tersesat di tempat ini! Tapi, apa kalian tidak pernah berpikir kalau bu Daini sengaja pergi meninggalkan pak Zulfikar?! Cepat cari lagi! Saya tidak mau tahu! Pokoknya harus ditemukan!" bentak pak Reza. Lalu pergi. Pasti hendak menyusul pak Zulfikar.


"Aku akan coba cari ke ke depan. Kalau bisa, aku mau minta izin mengecek CCTV tetangganya pak Wijaya," ucap pak Dhimas.


"Apa yang harus kami lakukan, Pak Dhimas? Kami takut."


"Haish, Pak Budi dan pak Agus susul pak Reza saja! Untuk apa takut?! Kalian memang salah, 'kan?! Kalau salah ya tanggung jawab! Bukan malah ketakutan! Benar kata pak Reza, kalian memang tidak berguna!" Pak Dhimaspun akhirnya memarahi pak Agus dan pak Budi.


Setelah mereka pergi, aku melamum sembari duduk di salah satu kursi. Karena tidak bisa berbuat banyak, ditambah merasa bersalah karena tidak menjaga Daini dengan baik, aku menangis. Mungkin, orang akan berpikir aku menangisi kematian pak Pratama Surawijaya. Faktanya, aku menangis karena takut Daini benar-benar hilang.


Kemudian, seseorang tiba-tiba menyodorkan tissue untukku. Aku mengambilnya.


"Sesedih itu?" katanya.


"P-Pak Sabil?" Dia datang. Untuk apa coba menemuiku? Bukan 'kah dia sedang bertugas?


"Tugasku sudah selesai, 'kok. Kenapa? Kamu tidak nyaman berbincang dengan pria beseragam? Apa perlu aku ganti baju dulu?"


"Ti-tidak usah, Pak." Sambil mengusap airmataku.


"Kenapa kamu ada di sini? Kenapa tidak bergabung dengan bu Daini?" Dia duduk di sampingku. Aku agak canggung. Sebab, beberapa pelayat tampak memerhatikan kami.


"Pak Sabil."


Aku memegang tangannya. Biarpun ini memalukan, namun kuharap, cara ini bisa membantu menemukan Daini. Walaupun pada akhirnya pak Sabil akan mengetahuinya, tidak ada salahnya kalau aku mengatakannya terlebih dahulu.


"Ke-kenapa, Tia? Kamu tahu? Aku berdebar-debar dipegang sama kamu," sambil tersenyum.


"Pak Sabil, tolong aku, Pak! Please ---."


"Tia, ada apa? Kenapa?" Dia kebingungan. Masih sambil senyum-senyum.


"Pak, Daini ...." Aku menjelaskan.


"Astaghfirullah! 'Kok bisa bu Daini lepas dari pengawasan?! Bukankah ada pengawal?! Tia, masalah ini tidak bisa dianggap enteng, yuk kita temui pak Zulfikar," ajaknya. Dia menuntun tanganku menuju area VVIP. Namun, pak Zulfikar dan keluarganya tidak berada di tempat.


"Kemana pak Zulfikar dan yang lainnya?" tanyanya pada seorang pelayat yang menjadi tamu VIP.


"Tadi, aku lihat mereka masuk ke sana, kayaknya mau membicarakan hal penting," terangnya.


"Baik, terima kasih."


"Mereka pasti bicara di dalam rumah agar tidak mengudang perhatian pelayat. Kita juga harus ke sana." Dia kembali menarik tanganku. Kali ini, aku tidak menolak.

__ADS_1


"Naik lift saja biar cepat." Aku hanya mengangguk, di dalam liftpun diam saja.


"Jangan menyalah diri sendiri, kamu hanya sahabat dekatnya bu Daini. Bukan salah kamu kalaupun bu Daini pergi. Jika ada yang menyalahkan kamu, aku akan pasang badan," ocehnya.


"Hmm," hanya itu jawabanku.


"Kalau kamu diam saja, duniaku sepi. Aku lebih suka kamu yang cerewet. Oiya, ada salam dari ayah dan bundaku untuk kamu. Sepulang dari rumah kamu, mereka langsung ke Bandung. Jadi, aku sendirian."


"Hmm."


"Tia, aku sendirian, lho. Kamu tidak khawatir?"


"Pak, di rumah Anda ada ajudan, 'kan?"


"Ya, ada. Tapi, aku lebih nyaman kalau menginap lagi di rumah kamu."


"Apa?! Tidak boleh," tolakku.


"Tapi, aku sudah izin sama bapak dan ibu kamu kalau malam ini, aku mau menginap lagi."


"A-apa?"


"Sepertinya, bu Mentari dan pak Haikal sangat menyukaiku."


Aku hendak protes lagi. Namun, sudah terlanjur sampai di tempat tujuan.


...⚘️⚘️⚘️...


"Kamu tidak ada kerjaan kalau mencari dia, Mas. Dia sudah besar. Kita masih berkabung. Jenazah papi bahkan belum dikebumikan. Tapi, kamu malah meminta izin mencari Daini. Kamu keterlaluan, Mas!" Bu Dewi dan pak Zulfikar sepertinya sedang bertengkar.


"Zul, hemat Papa, yang mencari biar orang-orang kita saja. Kamu selesaikan dulu acara ini. Baru nanti mencari Daini."


"Papa benar Zul, kamu tenang ya. Mama yakin Daini baik-baik saja. Namun, Mama juga tidak habis pikir kenapa dia pergi tanpa izin?"


"Tapi, Pa, Ma, Hanin sedang hamil? Bagaimana kalau dia diculik? Bisa saja 'kan?"


"Zul, begini saja, kita tunggu Dhimas dulu. Dhimas kirim pesan sama Kakak. Katanya mau melihat CCTV tetangga. Karena bu Silfa masih shock, kita memang tidak bisa memaksanya membuka data CCTV. Tolong pahami kondisinya, Zul. Kakak tahu sangat khawatir sama neng Daini. Tapi, diamnya kamu di sini, bukan berarti tidak mencarinya, 'kan? Kita juga bisa meminta bantuan polisi," ucap mbak Gendis sambil melirik pada pak Sabil.


"Bu Gendis benar," sahut pak Sabil.


Pak Direktur menghela napas. Ia akhirnya sepekat. Namun, raut wajahnya benar-benar murung. Lalu, pak Dhimas datang. Ia langsung berdiri, pun dengan yang lainnya.


"Dhimas, bagaimana?" tanyanya tak sabaran.


"Hanin naik taksi," terang pak Dhimas.


"Apa?! Kamu yakin?!" Pak Direktur seperti tidak percaya.


"Aku yakin, Zul. Itu juga masih untung ada yang bisa dilihat. Hanya rumah itu yang CCTV depan rumahnya menghadap ke jalan raya. Jadi kesimpulannya, Hanin tidak diculik. Dia memang sengaja pergi."


"Tuh, 'kan Mas? Si Daini bukan diculik, dia sengaja kabur untuk mencari perhatian. Semoga dengan kejadian ini kamu sadar diri kalau dia bukanlah wanita baik," sela bu Dewi.


"Dewi, jangan menjelekkan, Hanin! Kita tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya! Jangan menarik kesimpulan yang bukan-bukan sebelum tahu faktanya," bela pak Dhimas.


"Aku pergi. Pak Sabil, tolong atur anggota untuk mencari istriku. Setelah papi dimakamkan, aku juga akan mencarinya." Pak Direktur berlalu begitu saja dengan perangai dingin dan kaku.


"Zul," panggil bu Yuze.


"Aku malas berdebat, Ma," sahutnya tanpa menoleh.


"Si Daini benar-benar tidak ada kerjaan," umpat bu Dewi.


"Dia tidak mungkin tanpa sebab," gumam pak Aksa.


"Huuu, kasihan neng Daini, Ma. Apa dia pergi karena merasa tertekan? Pasca kematian pak Wijaya, 'kan banyak media yang memberitakan Daini, Ma." Kak Gendis terisak.


"Kita selesaikan dulu acara ini. Dhimas, kamu bantu Tante. Pastikan tidak ada media yang tahu kalau Daini minggat. Kita harus mencari Daini secara diam-diam," jelas bu Yuze. Pak Dhimas mengangguk.


...⚘️⚘️⚘️...


Daini Hanindiya Putri Sadikin


Apa yang akan kulakukan selanjutnya? Ke mana aku harus pergi? Apa jadinya jika aku pergi tanpa kabar? Kenapa aku sangat payah?


Aku melamun di depan bandara. Menatap aktivitas yang terjadi di sana dengan tatapan nanar. Awalnya, aku berpikir akan pergi ke Bali atau ke Jogja. Tapi, setelah dipikir ulang, perjalanan ke daerah tersebut bisa membahayakan keselamatan janinku.


Aku juga tidak bisa menjamin bersembunyi di sana akan kerasan. Tapi, aku perlu menenangkan diri dari semua ini. Aku ingin menyendiri sambil berdoa. Kira-kira, aku harus bersembunyi di mana ya?


Jika aku ke hotel, pak Zulfikar pasti bisa dengan mudah menemukanku. Aku harus mencari tempat yang tidak dicurigai. Benar, aku harus ke sana. Tiba-tiba ada ide. Setelah yakin, akupun meninggalkan bandara untuk menuju tempat tersebut.


Sepanjang perjalanan, airmataku terus menetes. Aku menangisi kelemahanku. Tidak seharusnya aku pergi dengan cara seperti ini. Tapi, aku tetap melakukannya. Seperti itulah manusia. Sudah tahu salah, namun tidak bisa menghindari kesalahan itu.


Maafkan aku pak Zulfikar, aku janji tidak akan bersembunyi lama-lama. Aku akan kembali ke sisimu setelah perasaan ini benar-benar siap. Tidak terasa, mata ini mulai terpejam. Sepoian angin dari celah kaca bus membuatku mengantuk.


Astaghfirullah.


Tidak lama terbangun lagi. Aku mengusap dadaku. Baru kali ini ketiduran di bus sampai mimpi. Aku menghela napas, mimpinya sangat memalukan. Aku bermimpi sedang dicumbui pak Zulfikar di sebuah taman terbuka.


Apa aku terlalu merindukannya? Lalu mengusap perutku yang begerak-gerak.


...⚘️⚘️⚘️...


...~Tbc~...

__ADS_1


__ADS_2