Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Biarlah Kupertanggungjawabkan di Hadapan-Nya


__ADS_3

"Memangnya, apa yang sudah dilakukan pak Sabil dan kak Listi?"


'Tuh, 'kan, Daini jadi penasaran.


"Jangan dengarkan Pak Direktur, Neng. Beliau hanya berguyon," sanggahku. Serius, jadi kesal sama pak Sabil. Aku yakin kalau dia menceritakan semuanya pada pak Direktur.


"Aku 'kan harus percaya sama suamiku, Kak," kata Daini sambil menatapku sejenak dan tersenyum.


Lalu ia bangun dan memerhatikan telinga pak Direktur yang memerah. Sepertinya, Daini baru menyadari kejanggalan itu. Bukan hanya memerah, setelah kuperhatikan baik-baik, telinga pak Direktur ternyata membiru dan bengkak.


"Tidak perlu pura-pura, Listi. Kamu sudah memanggil pak Sabil aa, 'kan?" Pak Direktur benar-benar bocor. Menyebalkan! Tapi, semua ini pasti bermuara dari kebocoran pak Sabil.


"Apa?! Wah, berita baik."


Daini sumringah. Namun itu hanya sebentar, matanya kembali fokus pada telinga pak Direktur. Ia pasti ingin menanyakan sesuatu pada pak Direktur. Namun tidak berani mengatakan apa-apa karena keberadaanku.


"Ehm, Dai, Pak Direktur, aku permisi dulu ya. Mau keluar sebentar." Aku beralasan agar Daini dan pak Direktur bisa segera mengobrol.


"Kak, mau ke mana?"


"Mau ketemu sama pak Sabil kali sayang," sahut pak Direktur saat aku berlalu.


Aku tidak membantah. Segera keluar untuk membuat perhitungan pada pria itu. 'Kok bisa dia cerita-cerita masalah pribadi sama atasanku? Walaupun pak Direktur adalah sahabat sekaligus koleganya, harusnya, dia bisa menjaga perasaanku juga, 'kan?


"Kak Listi?" sapa pak Budi. Pak Agus hanya tersenyum. Tidak menyapa.


"Lihat pak Sabil enggak?" tanyaku.


"Oh, tadi ada yang menelepon, Kak. Terus dia ke sana."


"Apa dia menitip pesan untukku?" Bisa-bisanya aku berharap pria itu menitip pesan.


"Tidak, Kak."


Kali ini, pak Agus yang menjawab. Lalu mereka saling memandang, pasti merasa aneh dengan tingkahku. Biarkan saja, 'lah. Aku berlalu. Menjauh dari pak Agus dan pak Budi untuk menelepon pak Sabil. Langsung diangkat.


"Ya, halo."


"Anda di mana?" Aku to the point.


"Oh, aku di kantin rumah sakit, ketemu sama adik tingkat. Kenapa ayang? Apa sudah mau pulang?"


"Tidak, 'sih. Aku hanya ingin kita bicara," tegasku.


"Bicara? Sekarang?"


"Ya."


"Coba 'deh. A, enak tahu rasa yang ini, 'tuh." Terdengar suara wanita. Suaranya jelas sekali. Artinya, wanita itu sangat dekat dengan pak Sabil.


"Ya menang enak. Aku juga suka," suara pak Sabil. Aku terdiam. Wanita itu memanggilnya 'Aa?' Berarti, panggilan itu, bagi pak Sabil sangat biasa. Aku terdiam. Ya, itu memang hanya panggilan biasa. Tapi, saat mendengarnya, aku merasa tidak nyaman.


"Halo," sapanya. Aku masih diam.


"Ahh," terdengar rintihan wanita itu.


"Hati-hati dong, Ri!"


Itu suara pak Sabil. Tanpa banyak komentar, aku segera mengakhiri panggilan. Dia menelepon lagi. Tapi tidak aku angkat. Siapa wanita itu? Tunggu, kenapa aku harus kesal? Tidaka terasa mengepalkan tangan kuat-kuat. Seketika, aku merasa sangat bodoh. 'Kok bisa aku semudah itu dekat dengannya?


Aku juga mau-maunya percaya sama polisi mesum itu! Bapak dan ibu juga sama saja! Mereka terlalu sungkan dengan kedudukan pak Sabil. Awalnya, aku mencoba menerimanya. Tapi, sepertinya akan segera kuurungkan. Dia mengirim pesan.


"Ayang di mana? Teleponnya angkat, dong? Aku ada di taman dekat lab. Sebelah kanannya kantin rumah sakit," jelasnya. Biarkan saja! Sama sekali tidak ada niatan untuk membalas pesannya. Dia menelepon lagi. Bodo amat! Tidak kuangkat.


"Tia, kenapa? Apa kamu marah untuk yang tadi? Yang di dekat lift itu? Maaf. Ya, Aa ngaku salah. Tapi, jujur, aku hanya melakukan itu sama kamu." Malah membahas aktivitas mesum di lorong lift. Jadi semakin kesal. Apa aku pulang sendiri saja? Tapi, harus pamit dulu sama Daini.


Akupun bergegas, hendak kembali ke kamar Daini.


"Tia?"


Di selasar rumah sakit, malah bertemu dengan orang itu. Aku menghindar.


"Tia, tunggu. Hei, kamu kenapa?" Dia meraih tanganku.


"Lepas!" tolakku. Berjalan dan menjauh. Dia menyusul dan berhasil menarik tanganku.


"Kamu kenapa, hmm? PMS?" tuduhnya.


"Lepas kubilang!" sentakku.


"Tidak akan kulepas sebelum kamu menjelaskan. Kenapa? Ada yang salah? Tolong bicara." Memegangku semakin kuat. Dia benar-benar tidak responsif.


"Pikir saja sendiri!" Berusaha menepis tangannya. Pak Sabil menghela napas.

__ADS_1


"Baiklah, aku salah. Aku minta maaf. Ayang mau kemana? Mau pamit sama bu Daini? Ya sudah, mari kita ke sana," ajaknya. Dia menuntun tanganku. Aku diam saja karena masih penasaran dengan suara wanita itu.


...⚘️⚘️⚘️...


Daini Hanindiya Putri Sadikin


"Awh, sakit sayang," keluhnya.


Aku sedang mengobati telinganya dengan salep anti lebam. Aku tidak bertanya ini kenapa. Biarlah pak Zulfikar becerita sendiri dan menjelaskan semuanya. Dugaku, ini pasti ulah bu Dewi.


"Bapak kenapa?" Ipi yang baru saja menghampiri keheranan. Ia pasti bingung karena pak Zulfikar dirawat oleh pasien.


"Jangan tanya," jawabnya dengan ketus.


Ipi langsung melengos dan menunduk. Entah kenapa, sikap pak Zulfikar pada Ipi dan bu Juju sangat berbeda. Mungkin, itu karena Ipi masih muda dan bu Juju sudah senior.


"Ipi ke kamar lagi saja, aku tidak perlu ditemani. Sudah ada Pak Zulfikar."


"Baik, Bu." Ipi berlalu.


"Kenapa Anda ketus sekali sama Ipi? Dia tidak ada salah apa-apa, 'kan?"


"Aku tidak suka sama dia."


"Kenapa?"


"Dia pernah kupergoki menggosipkan kamu. Tapi aku maafkan karena dia anak yatim." Aku tersenyum. Ternyata seperti itu alasannya.


"Aku sudah memaafkan Ipi. Anda juga harus memaafkannya." Lalu aku mengecek bagian lehernya.


"Dewi mencakarku di sini."


Dia menunjukkan belakang lehernya. Aku terkejut. Kenapa bu Dewi kasar sekali? Bukankah dia sangat menginginkan pak Zulfikar? Harusnya, dia memperlakukan suaminya dengan baik.


"Apa Anda membuat kesalahan yang membuatnya marah hingga tega melukai?"


"Tidak sayang, sungguh." Entah pak Zulfikar bohong atau tidak. Tapi, masa ya bu Dewi menyerang tanpa alasan?


"Aku serius sayang, aku tidak menyinggung perasaannya. Bibirku bahkan sengaja dibekap memakai dasi agar aku tidak bisa menyebut nama kamu. Ehm, setelah dia puas, tak kusangka, Dewi malah melukaiku. Alasannya, dia menuduhku kalau aku berfantasi dengan tubuh kamu."


"A-apa?"


Itu artinya ... mereka telah melakukannya. Aku menghela napas. Ada yang berdesir di dada ini. Dan itu terasa sedikit menyakitkan. Pada dasarnya, setiap wanita pasti tidak suka berbagi tubuh suaminya dengan wanita lain. Namun, aku berusaha menguatkan diri. Ya, aku ikhlas. Jikapun ada perasaan cemburu, itu adalah sebuah kewajaran yang sifatnya manusiawi.


"Terima kasih karena Anda sudah mau menyempatkan diri untuk memenuhi kewajiban Anda pada bu Dewi." Lalu mengecup bibirnya. Dia terkejut.


"Hanin, jangan sembarangan menciumku. Kamu tahu? Tubuhmu itu kayak ada efek magnetnya."


Dia menahan tengkukku, nyaris saja memagutku. Namun, pintu ruangan ada yang mengetuk. Syukurlah, aku lega. Jangan sampai kejadian tadi siang terulang lagi. Saat terciduk sama mama Yuze, papa Aksa dan kak Gendis, rasanya sangat memalukan.


"Sial! Ganggu saja!" dengusnya.


"Masuuuk!" lanjutnya sambil mencium pipiku.


Ternyata, yang datang pak Sabil dan kak Listi. Wajah kak Listi muram. Pak Sabil berbanding terbalik, ia berbinar-binar dan terus menebar senyuman.


"Neng, Pak Direktur, aku mau pamit ya." Kak Listi menyalamiku.


"Aku juga pulang ya," disusul pak Sabil.


"Buru-buru sekali? Mau ke mana kalian? Jangan macam-macam ya pak Sabil," ancam pak Zulfikar.


"Siap," jawabnya.


Aku ingin bertanya kenapa kak Listi murung. Tapi tidak enak hati. Jadi, membiarkannya pergi begitu saja. Pak Sabil menyusulnya setelah melambaikan tangan. Ada apa dengan kak Listi?


"Mmuach."


Pak Zulfikar kembali mencium pipiku, dan hal itu mengalihkanku dari memandang kepergian pak Sabil dan kak Listi.


"Pak, aku bukan bayi, kenapa cium-cium terus?"


"Karena kamu menggemaskan. Hmm, dokter tidak akan marah 'kan kalau aku tidur di samping kamu?" Ia merebahkan dirinya. Sepertinya memang sangat kelelahan.


"Berapa ronde memangnya?" godaku.


"Sayang, kenapa kamu biasa-biasa saja? Apa tidak ada sedikitpun rasa cemburu di hati kamu?" Kami tidur berhadapan. Ia menuding lembut keningku.


"Cemburu? Cemburu sudah pasti ada, Pak. Tapi, aku sedang berusaha dan belajar menyikapinya dengan keikhlasan. Seperti yang kukatakan sebelumnya, kehidupan poligami ini harus kita jadikan sebagai ladang amal. Setuju?" Sambil mengelus rambutnya yang masih basah.


"Aku setuju, sayang. Tapi ... jujur, aku masih berfantasi dengan tubuh kamu. Apa aku berdosa? Jika tidak mengkhayalkan kamu, aku bisa emosi." Dia menatapku dalam-dalam.


"Aku adalah wanita yang halal untuk Anda. Ada yang berpendapat jika hal itu merupakan hal yang diperbolehkan atau sah-sah saja. Jadi, semoga saja tidak akan menjadi masalah dan dosa bagi yang melakukannya."

__ADS_1


Aku berupaya menenangkannya. Berarti, tuduhan bu Dewi tentang pak Zulfikar benar adanya. Dia memang berfantasi dengan tubuhku.


"Aamiin, semoga ya sayang. Ternyata, membagi hati dan tubuh itu sangat sulit," lirihnya. Ia memejamkan mata sambil menghidu telapak tanganku.


"Pak, coba kembalikan lagi pikiran Anda pada posisi Anda saat ini. Tolong jangan serakah dengan ego Anda. Bagiku, bu Dewi adalah orang yang cukup bijaksana. Sebab, walaupun sering emosi, ia telah mengikhlaskan pernikahan kita menjadi pernikahan yang memiliki legalitas. Untuk Anda sendiri, aku berharap agar Bapak jangan larut dalam emosi dan energi negatif. Tapi, harus bisa memanfaatkan energi itu menjadi sesuatu yang berguna."


"Hmm, energi yang berguna? Apa maksudmu energi yang berguna untuk memuaskan kamu?"


"Ish. Pak, aku sedang serius tahu." Kesal.


"Bukankah bercinta juga berguna? Baik untuk kesehatan dan termasuk ibadah, bukan?"


"Pak Zulfikar!" Aku mencubit hidungnya.


Ya, selain untuk memenuhi hasrat biologis, hubungan suami istri memang termasuk ke dalam ibadah dan akan menjadi pahala bagi pasangan suami istri yang melakukannya dengan ikhlas.


Ia hanya tersenyum. Lalu menyatukan keningnya dengan keningku. Kalau tiba-tiba ada dokter atau suster, aku pasti malu.


"Sayang."


"Ya, Pak."


Tidak bisa kupungkiri, dia memang menawan dan wangi. Dari jarak sedekat ini. Pak Zulfikar selalu membuatku gugup dan berdebar-debar.


"Hanindiya, walaupun kamu tidak sekaya Dewi, namun bagiku, kamu adalah penenang jiwa. Kamu memang patut dicintai dan diperjuangkan. Bukan karena fisik kamu yang memang seksi dan cantik, lebih dari itu, denganmu, aku merasa berharga dan dicintai setulus hati. Dimataku, kamu memiliki banyak kelebihan."


"Apa Anda sedang merayuku?"


"Ini bukan rayuan. Ini sanjungan untuk kamu. Bagiku, kamu adalah wanita yang taat agama. Walaupun sikap dan ibadahku masih buruk, kamu selalu memosisikanku sebagai imam dan berbakti." Mataku mulai berkaca-kaca. Apa yang dikatakannya berhasil menyentuh sanubariku.


"Kamu juga sangat menghormati Dewi. Kamu tidak pernah membalas Dewi kalaupun dia sedang cemburu dan marah-marah, dan kamu juga pandai menempatkan diri sebagai istri yang menyenangkan di segala hal."


"Pak, A-Anda berlebihan." Sambil meraih tangannya untuk kukecup. Dan yang tadi berkaca-kaca itu mulai menggenang di sudut mata.


"Jika aku sedang bermasalah dengan Dewi, kamu selalu memintaku agar bersabar dan segera menyelesaikan masalah tersebut dengan cara baik. Kamu juga tidak pernah marah ketika di suatu waktu aku pernah tinggal lebih lama bersama Dewi. Kamu selalu menantiku dengan setia dan selalu berdoa untuk kebaikanku."


"Itu sudah menjadi kewajibanku, Pak. Harusnya tidak perlu dibahas lagi." Airmataku menetes, aku merasa tidak pantas menerima pujiannya.


"Sayang, kamu juga tidak banyak menuntut. Berapapun uang yang kuberikan, kamu selalu menerimanya dengan rasa syukur. Kamu bahkan jarang membelanjakan uang jatah bulanan. Kamu juga selalu memerhatikan semua kebutuhanku dari yang besar hingga ke hal-hal yang paling kecil."


"Pak, cukup." Aku lantas terisak. Ia mendekapku.


"Semua perhatianmu membuatku semakin mencintaimu."


"Huuu, huks. Aku tidak sebaik itu, Pak. Anda salah menilaiku. Anda bisa memberikan penilaian seperti itu karena faktanya, [Allah] 'lah yang menutupi semua aibku."


"Sayang ..., sebagai suami, sebenarnya, aku selalu berusaha untuk berlaku adil. Soal materi, aku juga tergolong mampu untuk menghidupi kamu dan Dewi. Tapi, mana mungkin aku bisa membohongi perasaanku sendiri jika sebenarnya ...." Pak Zulfikar menjeda kalimatnya sambil menghela napas. Tatapan matanya berubah sendu.


"Sebenarnya ..., aku lebih mencintai kamu daripada Dewi."


"Pak Zulfikar ...." Aku menggelengkan kepalaku. Berusaha menjelaskan kalau tindakannya tidak tepat.


"Hanindiya, aku tidak bisa memilah perasaan ini. Aku tidak bisa sayang."


"Pak ...."


"Aku bahkan pernah berpikir untuk tetap mempertahankan Dewi sebagai tebusan atas ketidakadilanku terhadapnya. Tapi, sikap Dewi selalu membuatku marah. Namun di sisi lain, aku juga sadar jika Dewi seperti itu salah satunya adalah karena penyakitnya."


"Pak Zulfikar, Anda pasti sangat terbebani dengan semua ini." Aku menangkup wajahnya. Mimiknya menunjukkan kesedihan dan dilema yang mendalam.


"Sa-sayang, tolong jangan menghakimiku ya, jangan pula menyalahkanku karena tidak bisa berbuat adil. Apa kamu tahu? Saat aku bersama Dewi, hatiku sangat sakit." Dia memukul dadanya.


"Sa-sakit? Sakit kenapa, Pak?" Aku ingin alasannya.


"Sebab, ketika aku melakukan itu bersama Dewi, aku merasa sedang mengkhianati kamu. Maaf."


"A-apa? Pak, harusnya ---."


"Sstt, sudah kubilang jangan menyalahkan dan menghakimiku. Biarlah semua ini akan kupertanggung jawabkan dihadapan-Nya," selanya.


Aku membisu. Lalu membelai rambut sambil mentap wajahnya. Lantas mengajaknya tersenyum dengan cara menarik sudut bibirnya dengan ujung jariku. Berhasil, dia tersenyum. Akupun membalas senyuman.


"Dalam Islam, senyum adalah salah satu cara untuk membelanjakan harta di jalan [Allah], tanpa harus membayar sepeserpun. Sebab, senyum itu sedekah," jelasku.


"Terima kasih sayang," bisiknya.


Lalu ia menarik selimut pasien untuk menutupi wajahku dan wajahnya. Aku keheranan, namun keheranan itu pergi setelah menyadari jika bibirnya telah menjerat dan membungkamku.


"Uhm ... mmm ...." Aku pasrah. Kali ini, kumenangiiis .... Maksudku, kuberharap tidak ada gangguan lagi.


...⚘️⚘️⚘️...


...~Tbc~...

__ADS_1


__ADS_2