Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Sahabat [Visual]


__ADS_3

Daini Hanindiya Putri Sadikin


Rasanya lelah sekali, padahal tadi aku hanya nyapu, ngepel, nyuci dan setrika baju. Aku tidak jadi cuci karpet karena keburu kelelahan. Padahal, ngepel dan nyucinya juga pakai mesin.


Sebelum membaca buku, aku melamun sejenak. Aku menghadap balkon kamar yang jaraknya sekitar lima meter dari tempatku duduk. Tirainya sudah aku buka sambil memejamkan mata.


Dari jarak aman ini, aku bisa melihat puncak gedung dan burung-burung yang beterbangan tanpa ada rasa takut. Sebenarnya, di balkon itu sudah ada kursi santai berikut dengan tanaman hias kesukaanku. Tapi karena phobia ketinggian, aku tak pernah ke sana. Tanamannyapun belum pernah aku sirami.


Mau memberitahu masalah ini sama pak Zulfikar, aku belum berani. Tanaman yang di balkon, harusnya digantai dengan tanaman kaktus. Jadi, walaupun tak pernah aku siram, dia tidak akan mati.


Setelah membaca Al-qur'an, aku lanjut baca buku. Ya, membaca adalah salah satu kegiatan yang dianjurkan untuk mengisi waktu luang. Ada begitu banyak manfaat positif yang bisa didapatkan dari membaca buku, apalagi selama kehamilan. Selain bermanfaat untuk ibu, membaca juga bermanfaat untuk janin.


Membaca itu merupakan salah satu medium relaksasi selama kehamilan. Tidak perlu lama-lama, cukup sekitar 15 menit setiap harinya. Katanya, membaca dapat membuat pikiran lebih santai dan dapat membantu mengurangi risiko stres pada ibu hamil.


Walaupun usia kehamilanku masih kecil dan janin di dalam kandunganku belum bisa mendengar suara-suara dari luar, aku akan biasakan baca buku sejak dini. Namun yang akan kuutamakan adalah membaca Al-qur'an, setelah target baca Qur'an satu hari satu juz selesai, aku baru baca buku.


"Hmm," aku menghela napas sambil mengelus perutku.


Saat aku periksa kandungan, dokter tidak menyebutkan usia kandunganku.


"Berapa ya usia kamu, Nak?"


Aku kembali mengelus perutku. Yang jelas, dari malam naas itu, aku tidak pernah menstruasi lagi. Dan aku lupa tanggal berapa aku haid pada bulan sebelumnya.


Besok, aku mulai bekerja, ada perasaan berat hati untuk menghadapi hari esok. Bagaimana respon kak Listi, harus bertemu bu Dewi, dan ancaman bu Dewi, terasa membebaniku. Anehnya, batin ini selalu merasa lega, saat pak Zulfikar berada di sampingku.


Aku sudah berjanji tidak akan mencintainya terlalu dalam, tapi ... semakin ke sini, perlakuan manis pak Zulfikar, nyaris berhasil merobohkan benteng pertahananku. Aku hampir saja mengucapkan jika aku mencintainya.


Tanpa sepengetahuannya, aku pernah memotretnya secara diam-diam. Ini adalah satu-satunya foto pak Zulfikar yang ada di galeriku. Jangankan menyimpan namanya di hatiku, menyimpan satu fotonya saja, sudah cukup membuatku takut. Takut benar-benar jatuh cinta.



Aku memandangi potretnya untuk mengobati kerinduan ini. Padahal, baru tadi pagi kami berpisah, belum satu hari berlalu, tapi ... rasanya bak sewindu. Andai aku boleh memilih, aku lebih tidak bertemu dengannya.


Kenapa?


Karena keberadaanku jelas-jelas menjadi awal mula permasalahan dalam hidupnya. Parahnya, saat pak Zulfikar akan melepasku, bu Dewi malah melarangnya. Lalu saat aku ingin pergi dari sisinya, aku lantas menyadari kalau di dalam tubuhku ini telah berkembang benihnya.


"Huks."


Air mata ini adalah saksi bisu bagaimana aku melewati semua kepiluan ini dengan tangisan, tangisan, dan tangisan. Aku mengusap lelehan air mata. Baru dua lembar membaca, rasa lapar tiba-tiba datang. Sering mualnya, tapi sering juga lapar juga.


Aku kemudian ke dapur.


.


Astaghfirullah.


Setibanya di dapur, malah terbayang lagi kegiatan memalukan itu. Tadi, pak Zulfikar benar-benar membuatku malu setengah mati. Aku sempat berpikir, apa kehidupan percintaan orang-orang kaya memang seperti itu?


Aku menggelengkan kepala, mencoba menepis ingatanku dari adegan-adegan blue yang aku lakukan atas perintah pak Zulfikar.


"Terima kasih sayang. Ternyata, kamu bisa belajar dengan cepat dalam hal ini. Kamu langsung mahir melakukannya. Bahkan di luar ekspektasiku. Aku sangat puas Hanin." Bisikan pak Zulfikar tadi pagi terngiang kembali.


"Huuft," aku menghela napas. Lanjut membuka kulkas, lalu kebingungan.


Mau masak apa ya?


Banyak bahan masakan instan, tapi aku kan harus memakan makanan sehat. Fix, ada ikan gurame.


"Mau aku bakar ah. Lalu mau bikin sambel jahe."


Tanpa mengatakannya, pak Zulfikar sering belanja untuk memenuhi isi kulkas ini.


"Ekhmm, ekhmm."


Tiba-tiba aku merasa gatal di tenggorokan. Ya ampun, padahal baru saja mau bikin gorengan.


Andai ceritanya tidak serumit ini, aku pasti sudah mengajak abah, ummi atau Putra untuk berkunjung kemari.


Oiya, aku baru tahu kalau di samping unit ini ada kolam renang yang diperuntukkan untuk pemilik unit ini.


"Apa kamu bisa berenang?" tanya pak Zulfikar tadi pagi seusai kita melaksanakan shalat Subuh berjamaah.


"Tidak bisa, Pak. Bisa sih, tapi gaya batu," jawabku.


"Gaya batu?" Dia tak faham maksudku.


"Langsung nyemplung, Pak. Seperti batu, saat dilempar ke air langsung tenggelam," jelasku.


"Oh, hahaha, kalau ada waktu senggang, nanti aku ajari kamu berenang, mau?"


"Di tempat umum? Aku malu."


"Ya tidaklah sayang. Di samping unit ini kan ada kolam renang. Nah, kalau kamu mau, di sana kamu bisa berenang gaya batu, tanpa diganggu siapapun," katanya.


'Ting tong.' Lamunanku buyar saat mendengar suara bel.


Siapa ya yang bertamu sore-sore begini? Apa pak Zukfikar?


Tapi, dia mengatakan setelah pulang kerja mau ke rumah orang tuanya. Aku jadi deg degan.


.


Lalu mengendap mendekati pintu unit dengan jantung bertalu-talu. Kuintip siapa yang datang dari kaca super kecil yang berada di pintu. Merasa kurang jelas, aku lantas menyalakan monitor diteksi yang menempel di pintu unit.

__ADS_1


Deg, tubuh ini langsung gemetaran. Antara senang, sedih, dan perasaan tak percaya bercampur jadi satu.


"Kak Listi?" Aku menutup bibirku sendiri.


Segera membuka pintu, dan ....


"Neeeng," seru kak Listi. Berhambur memelukku dan menangis.


"Huuu huuks, maafkan gua ya, Dai. Gua ngaku salah. Gua nyesel tidak mau dengar penjelasan lu, Dai. Huuu."


"K-Kak, ayo masuk, Kak."


Aku kembali berurai air mata kerena terharu. Ada sedikit kehangatan di hatiku karena kak Listi mau menemuiku.


"Duduk, Kak."


Kak Listi tidak melepas tanganku. Terus memegang tanganku sambil mengusap airmatanya.


Setelah aku memberinya air minum, Kak Listi terlihat lebih tenang dan tidak menangis lagi.


"Kak, terima kasih sudah mau menemuiku." Aku memeluk lengannya.


"Gua ke sini karena merasa sangat bersalah, Dai. Gua tadi bertemu sama pak Direktur."


"Apa?"


Aku langsung kaget. Kukira, kak Listi ke sini karena inisiatifnya. Tapi tak masalah, itu artinya, aku tak perlu menjelaskan apapun pada kak Listi karena pak Zulfikar pasti sudah menjelaskannya.


"Pak Direktur sudah kasih tahu semuanya, Neng. Gua kaget, gua syok. Untungnya tidak sampai pingsan. Kalau gua pingsan, bisa repot laki lu gotong-gotong gua. Hahaha."


Tawa kak Listi terdengar lagi. Aku merindukan tawa itu. Sudah lama sekali rasanya aku tidak mendengarnya. Aku bahagia, aku memeluk kak Listi.


"Kak, aku kangen."


"Sama gua juga, Neng." Kita kembali berpelukan.


"Gua gak nyangka bakal jadi teman dekatnya sultan."


"Ih, apasih, Kak. Aku tak suka Kak Listi bawa-bawa nama sultan," aku cemberut.


"Hahaha, maaf, maaf. Sensi amat si lu, Neng. Dih, itu bibir kamu kenapa bengkak begitu? Sama pak Direktur ya lu dihisap terus," tuduh kak Listi saat ia menangkup pipiku dan mengecek wajahku.


"Ya, ampun, ini di leher kamu juga, Dai. Ngeri amat laki lu, Neng. Sudah kaya raja lebah saja, sengatannya tajam benar," ledek kak Listi.


"Ih, apaan sih, Kak!" Aku melepas kunciran, menutupi leher dengan rambutku.


Pipiku rasanya panas. Kak Listi kalau bicara memang sering frontal, kadang suka vulgar juga. Aku jadi malu.


"Hahaha, pipi lu merah, berarti benar dong omongan gua? Laki lu raja lebah," katanya.


"Hahaha, gak nyangka, ternyata akhwat juga suka ya sama yang enak-enak ya?" Kembali menggodaku sambil tergelak.


"Cukup, Kak! Lebih baik Kakak tidak ke sini daripada datang ke sini tapi untuk meledekku!" Aku cemberut.


"Dih, sombong nya, mentang-mentang sudah jadi simpanan horang kayah," ledeknya lagi. Aku jadi tersinggung.


"Kak, aku tersinggung, aku serius. Aku juga tidak mau seperti ini, Kak. Ini bukan kemauanku!" teriakku. Mataku mulai berkaca-kaca.


"Hahaha, ssshhh, maaf Neng. Gua hanya bercanda, sensi amat lu, Neng. Maaf ya."


Kak Listi memelukku. Aku lantas menangis di bahunya, meluapkan kesedihanku pada seorang sahabat.


"Sudah, Neng. Lu sendiri 'kan yang sering nagajarin gua supaya ikhlas sama takdir. Nah, lu 'kan sudah tahu harus seperti apa caranya ikhlas. Lebih baik, sekarang kita makan yuk! Lu masak apa? Hahaha, gua belum makan sore, Neng. Lapar, tahu. Rindu juga sama maskan lu," sambil mengusap airmataku. Aku jadi tersenyum mendengarnya.


Alhamdulillah. Doaku terkabul. Kak Listi ada di pihakku.


"Aku baru selesai bakar ikan gurame, Kak. Tadi, pas Kakak datang lagi buat sambal jahe, belum selesai."


"Wah, rezeki anak sholehah. Tunggu apalagi, Dai. Ayo dong!"


Kak Listi antusias, menarik tanganku menuju dapur.


.


Setibanya di dapur, dia langsung buka kulkas dan ribut sendiri setelah melihat isinya.


"Gila, lengkap sekali isinya, Dai. Neng, lu beruntung banget. Ck ck ck, ini sih kaya isi kulkanya Sisca Kohl. Sultan lu, Neng. Bisa saingan sama Raffi Ahmad dan temanan sama Nagita Slavina, lu Neng."


"Ih, apa sih, Kak. Sudah kubilang jangan bahas-bahas tentang sultan lagi. Please, Kak. Ini semua titipan, aku tak merasa memilikinya," bantahku.


"Ya deh, maaf. Gua minta yoghurtnya ya. Widih, segala macam rasa ada. Betah gua tinggal di sini, Neng."


Aku hanya tersenyum. Lalu melanjutkan membuat sambal jahe.


"Dai, lu duduk sebentar, biar gua yang ngulek."


"Tidak, Kak. Sama aku saja," tolakku.


Aku tahu kalau kak Listi tidak bisa menumbuk bumbu. Aku pernah melihatnya menumbuk. Yang ada, bumbunya bukannya halus, tapi malah beterbangan dan mengotori lantai.


"Hahaha, ya sudah. Nyonya mau ongkang-ongkang kaki. Cepat dong nyambelnya, Nem," canda kak Listi.


"Baik Nya," sahutku.


"Hahaha," kak Listi tergelak. Akupun demikian.

__ADS_1


"Ya ampun Neng, lu bahaya banget kalau jadi TKI di Saudi ataupun di mana saja. Dengan bentukan lu seperti ini, lu pasti jadi incaran para majikan mata keranjang. Yang gak mata keranjangpun, gua gak yakin tidak tergoda sama lu. Cantik banget lu, Neng. Itu betis bening banget kaya porselen? Sudah berapa nyamuk yang tergelincir di betis kamu? Hahaha," ledek kak Listi.


Dan aku baru sadar kalau aku memang memakai rok sebatas betis. Biasanya sih pakai celana panjang. Karena pak Zufikar sudah membelikannya yang seperti ini, ya terpaksa aku pakai. Padahal, ini yang paling panjang. Sisanya lebih parah, sebatas lutut dan kebanyakan di atas lutut.


"Ini sambalnya, Nya. Sudah selesai," kataku.


"Ya ampun, terima kasih, Nem. Hahaha."


"Kak, cukup bercandanya. Kebanyakan tertawa tidak baik juga," seruku.


"Oke, mari kita makan. Gua cucu tangan dulu ya."


"Eh, lu perasaan semakin cantik dan bening saja, Neng." Sambil makan, kak Listi memperhatikanku.


"Terima kasih, Kak Listi juga cantik," sahutku. Kalau memujiku, dia memang suka berlebihan. Dan aku tahu pasti ada maunya. Apalagi kalau mau dibuatkan seblak, pasti menyangjungku setinggi langit.


Setelah makan, kita kembali ke ruang tengah.


...🍒🍒🍒...


"Kak, maaf ya, aku belum bisa bawa Kakak ke kamarku. Soalnya aku belum izin sama pak Zulfikar."


"Ih, gak apa-apa, Neng. Sebenarnya penasaran sih kamar kamu kaya gimana, hehehe. Oiya, lu masih panggil dia bapak? Kenapa gak mas, atau abang saja?"


"Aku masih ragu, Kak." Aku menunduk.


"Atau panggil aa saja, kan lu orang Sunda."


"Emm, untuk sementara, aku lebih nyaman memanggilnya bapak."


"Ya sudah. Terserah lu saja, deh. Oiya Dai, aku ke sini bukan untuk ikut campur sama masalah kamu. Di sini, gua hanya berperan sebagai teman yang mendukung kamu. Latar belakang suami kamu itu di atas rata-rata. Kalau boleh jujur, gua sebenarnya takut, Dai."


Aku menghela napas, aku mengerti perasaan kak Listi.


"Kalau misalnya Kakak ada di posisiku, Kakak akan melakukan apa?"


"Sebelum gua jawab, gua mau tanya dulu, apa bu Dewi benar-benar menerima kamu?"


"Emm ...."


Aku tak mungkin mengatakan kalau bu Dewi mengancamku dan mengancam perusaahaan pak Zulfikar. Ini rahasia besar, aku tak boleh membocorkannya pada siapapun termasuk pada kak Listi.


"Ya, bu Dewi memang sudah menerimaku, Kak. Dia lumayan baik, kok."


"Oh, ya?" Kak Listi menautkan alisnya, ia seolah tak percaya dengan apa yang kukatakan.


"Kak, apa Kakak ada bayangan? Siapa ya kira-kira orang yang sudah menjebakku?"


"Malam itu, meja kita melingkar, Dai. Terus mejanya 'kan muter-muter. Aku yakin selain kamu ada juga yang pesan air putih. Sebab, kalau tidak salah, seingatku saat mejanya berputar aku melihat ada tiga gelas air putih yang letaknya berjauhan." Kak Listi merenung. Alisnya menyatu.


"AHA, kalau pak Direktur kesulitan menemukan pelakunya, bisa jadi minuman itu memang salah sasaran, Dai."


"Maksud Kak Listi?"


"Saat meja berputar, bisa jadi posisi gelas milik kamu tertukar dengan gelas yang sudah ada obatnya."


"Apa?!"


"Jadi, di sini tidak ada pelakunya, Dai."


"Maksud Kakak?"


"Bisa jadi, minuman itu sengaja disediakan oleh salah satu karyawan divisi mutu untuk suami atau istrinya. Nah, saat meja berputar, secara tak sengaja dan tak disadari siapun, minuman itu berpindah ke depan kamu. Dan pada saat itu, mejanya kebetulan distop sama pelayan," terang kak Listi.


"Hebat 'kan analisa gua?" sambil mengibaskan rambutnya.


Aku manggut-manggut.


"Tapi, kemungkinan disengaja untuk lu juga bisa jadi, Neng. Kali saja selama ini di divisi mutu ada yang diam-diam suka sama lu, tapi lu abaikan. Atau bisa jadi ada yang iri sama lu, tapi lu gak menyadarinya."


"Hmm," aku jadi pusing.


"BTW, gimana rasanya diperawanin, Dai? Sama pria setampan pak Direktur gitu lho. Hahaha, gua tuh ya Dai, biarpun somplak begini, masih perawan tahu," bisiknya.


"A-apa? Kok Kak Listi tanya masalah itu sih? Aku gak tahu lah, Kak. Kan akunya mabuk," elakku. Sambil memukul bahu kak Listi.


"Ya sudah, saat lu gak mabuk saja deh. Rasanya bagaimana, Neng? Hihihi, apa yang dikatakan di novel-novel itu benar? Katanya, rasanya seperti diayun-ayun ombak, terbang ke awan, lalu terhempas geli dan nikmat ke dasar bumi. Apa benar kaya gitu, Neng?" bisiknya sambil terkekeh.


"A-apa? I-iya, Kak. Eh ... ehm, ehm ... a-anu, a-aku tidak tahu, Kak!" sentakku sambil menutup mulutku.


"Hahaha, hahahah! Lu sudah bilang iya tadi, Neng."


Kak Listi terpingkal-pingkal. Bahkan sampai guling-guling di sofa. Pipiku panas. Pasti merona sekali. Aku tak habis pikir. Bisa-bisanya aku mengatakan iya.


Ya ampun, aku malu.


"Jadi gak sabar mau segera nikah sama yayang Akmal," tambahnya.


'Ting tong.' Interkom berbunyi lagi. Aku dan kak Listi saling menatap.


Yang datang siapa, ya?


Jantungku kembali berdegup-degup.


...~Tbc~...

__ADS_1


...Yuk komen yuk! Siapakah yang datang? Apakah analisa kak Listi benar?...


__ADS_2