Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Terungkap


__ADS_3

Zulfikar Saga Antasena


Tes.


Tes.


Tes.


Aku menatap tetesan cairan infus yang mengalir ke tubuhnya sambil merebahkan kepalaku di sisi bed pasien. Kejadian hari ini benar-benar membuatku takut hingga lutut ini rasanya masih terasa lemas.


Padahal, tadi pagi aku baru saja melewati kejadian menegangkan gara-gara kepanikan bang Radit yang katanya melihat Dewi pingsan di depan kamar tidur. Ternyata, saat aku datang, Dewi baik-baik saja.


Entah sebesar apa rasa penyesalan dan bersalahku jika sampai calon anakku tak terselematkan. Terima kasih Yaa Rabb. Terima kasih karena Engkau telah berkenan memberikan kesempatan pada aku dan Hanin untuk mempertahankan calon bayi kami.


Aku juga terharu karena Hanin sempat mengatakan i love you. Sayangnya, saat aku menyuruhnya untuk mengulangi kalimat itu, dengan terbata-bata Hanin malah mengatakan ....


"Ma-maaf, Pak. A-aku salah bicara. Jangan diambil hati ya," katanya.


Kata dokter, Hanin harus bedrest total. Mau tidak mau, dia memang harus segera resign dari perusahaan. Sekarang, Hanin sudah memakai jilbab dan berganti baju. Saat masih berada di ruang VK eksekutif, Hanin meminta Listi untuk membantunya berganti pakaian. Padahal, bisa dilakukan olehku ataupun bidan yang berjaga.


Aku menatap wajah teduhnya seraya mengelus pipinya yang lembut dan mulus. Kelopak matanya masih sembab. Jantungku berdesir saat aku melihat dalam tidurnya, Hanin tiba-tiba saja melelehkan air mata. Lalu wajah cantiknya meringis dan menyiratkan kesedihan yang mendalam.


"Sayang ..., kenapa? Apa yang kamu takuti? Hal apalagi yang membuatmu sedih? Bukankah anak kita masih bisa diselamatkan?" tanyaku sambil mengecupi punggung tangannya.


Sebelum masuk ke ruang perawatan, dokter mengatakan jika Hanin telah disuntik vitamin dan obat penenang dosis rendah untuk menenangkan dan merelaksasikan tubuhnya. Hal itu dilakukan dokter karena selama pemantauan dua jam di ruang VK eksekutif, mereka menyimpulkan jika Hanin terlihat gelisah, murung, sedih dan seperti ketakutan akan sesuatu.


Tadi, selama pemantauan di VK eksekutif, aku dan Listi memang sempat meninggalkan Hanin untuk kembali ke kantor. Di kantor, aku menyelesaikan pekerjaan sampai jam makan siang. Aku bahkan makan siang bersama Dewi. Saat Dewi menanyakan kondisi Hanin, aku mengatakan ....


"Hanin perlu perawatan intensif."


Karena sudah mengantongi surat sakit milik Hanin, aku lalu membuat surat rekomendasi rawat inap untuk ditanda tangani oleh Dewi sebagai manajernya Hanin.


"Jadi, Mas mengajakku makan siang bersama karena mau minta tanda tanganku? Aku tidak mau tanda tangan, Mas!" protes Dewi pada saat itu.


"Wi, Mas mohon, ini demi kebaikan Hanin, walaupun kamu tidak menyukainya, ya kamu harus tetap profesional. Hanin bawahan kamu. Lagipula ini ada surat sakitnya dari dokter, cepat tanda tangan!" desakku kala itu.


"Hahaha, oke aku akan tanda tangan, tapi ada syaratnya."


"Syarat? Wi, tanpa syarat apapun, kamu memang harus tanda tangan. Sarat utamanya 'kan sudah ada. Ini ada surat sakit dan surat emergency dari dokter. Cepat tanda tangan!" teriakku. Saat itu, aku benar-benar kesal.


"Kalau Mas tidak mau, ya sudah!" Dewi langsung beranjak.


"Ya ampun Wi, memangnya apa syaratnya?!"


Aku tak mungkin membiarkan dia pergi sebelum menandatangani surat itu. Surat itu sangat penting, sebab nantinya bisa digunakan oleh Hanin untuk menjadi acuan saat mengajukan resign karena alasan kesehatan.


"Emm, layani aku dulu Mas," jawab Dewi.


Saat itu, aku benar-benar terkejut, bisa-bisanya dia terpikirkan syarat semacam itu. Saat aku masih melongo karena terkejut, Dewi sudah terlebih dahulu naik ke pangkuanku. Menciumi wajahku, leherku, dan bagian lainnya.


"Wi, ini di kantor!" Aku berusaha memperingatinya.


"Aku tak peduli, Mas! Lagipula, ini perusahaan kita, Mas!"


Saat itu, aku segera menyeretnya ke kamar kantor agar apa yang kami lakukan tak terekam kamera CCTV. Akhirnya, aku terpaksa mengabulkan keinginannya. Seperti biasa, aku baru bisa berfungsi setelah berimajinasi dengan tubuh Hanin.


"Mas, aku ingin kamu mengecup tubuhku di bagian ini, bagian ini, di sini dan di sini," titahnya.


Tadi, aku benar-benar tak habis pikir dengan sikap Dewi. Setelah kegiatan itu usai, saat Dewi sedang tertidur karena mungkin sudah merasa puas dan kelelahan, aku merenung karena tiba-tiba saja merasa dejavu dengan area kecupan yang kusematkan di tubuh Dewi.


Setelah merenung beberapa saat, barulah aku sadar kalau sebelum melakukannya pada Dewi, aku telah menyematkan tanda cinta di area-area yang disebutkan Dewi pada tubuh Hanin.


Kok tempatnya bisa kebetulan sama ya?


Hingga saat ini, aku masih bingung dan belum menemukan jawabannya. Aku juga bingung dengan pertanyaan dan keterangan dokter kandungan yang mengatakan ....


"Pak, mohon maaf, apa istri Anda sebelumnya memiliki riwayat trauma?"


"Trauma? Trauma apa, Dok?" Aku jelas tak memahami maksud dokter.


"Istri Anda banyak melamun, dan saat ada petugas yang mendekat, istri Bapak selalu terkejut dan beristighfar berkali-kali, napasnya cepat, dan bekeringat. Wajahnya langsung memucat. Saya curiga istri Bapak memiliki masalah yang membuatnya tertekan dan stres."


"Tapi untungnya istri Anda pandai mengendalikan diri. Dia sadar kalau dirinya mengalami tekanan batin yang berlebihan dan berusaha menenangakan dirinya sendiri dengan membanca Al-Qur'an. Tadi, kata bidan jaga, istri Bapak sempat meminta diambilkan air untuk berwudhu dan meminjam mukena untuk shalat Dzuhur sambil duduk."


Aku mengingat kembali pernyataan dokter tersebut sambil merenung.


"Hanin .... Apa kamu menyembunyikan sesuatu, sayang?"


Aku kembali mengusap pipinya sambil menjauhkan HP dari telinganya. HP itu sedari tadi aktif memutar murotal.


Kemudian ada yang mengetuk pintu, kukira ada bidan atau dokter, ternyata yang mengetuk pintu adalah Listi.


Dia masuk sambil membungkukkan badan. Namun tatapannya terhadapku jelas dipenuhi kebencian. Sikap Listi berubah sinis semenjak dia keluar dari ruang pengawasan VK intensif. Tepatnya setelah membantu Hanin mengganti pakaian.


Entah apa penyebabnya. Aku juga heran. Namun aku malas bertanya. Dan memang aku tipe orang yang pantang melakukan interaksi dekat dengan sesama jenis ataupun lawan jenis kecuali untuk kepentingan tertentu yang sifatnya sangat bermanfaat.


Tanpa berkata apapun Listi sibuk merapikan bunga hidup yang ia bawa di meja yang letaknya dekat dengan Hanin. Selain menyukai tanaman hias, Hanin rupanya menyukai bunga juga. Lalu Listi mencuci tangan dan mengupas buah-buahan. Tanpa menyapaku sepatah katapun.


"Itu mangga dan apelnya manis tidak? Sini aku coba dulu, jangan-jangan kecut lagi," kataku sambil mengambil potongan buah tersebut dengan sendok garpu yang dibawa Listi.

__ADS_1


Listi diam saja, bahkan seolah menganggapku tak berada di tempat ini. Ia mendekati Hanin, meraih tangan Hanin dan berkata ....


"Malang benar nasibku, Neng. Lebih baik menikah sama orang biasa-biasa saja, tapi baik, daripada dengan orang luar biasa tapi pemangsa," katanya.


Aku mengernyitkan dahi mendengar ucapan Listi. Secara, aku 'kan suaminya Hanin. Apa yang pemangsa itu aku? Untuk sementara waktu, aku tak berkomentar. Aku pura-pura tak mendengar. Lanjut memakan buah apel.


"Lebih baik yayang Akmal yang wajahnya tak terlalu tampan, daripada sangat tampan tapi tak beperasaan," ocehnya.


Aku menghela napas, masih berusaha untuk bersabar dan menyimak.


"Harusnya kamu ta'aruf dengan adiknya bu Caca, aku pernah melihat dia, Neng. Dia ganteng, tinggi juga dan terlihat baik hati. Tidak dingin, kaku, tapi aslinya bengis," ocehnya lagi.


Mendengar kalimat terakhir, rasanya aku tak bisa diam saja. Saking tersinggungnya, aku nyaris tersedak potongan buah apel.


"Listi, sini kamu, ayo kita bicara," ajakku dengan suara pelan sambil berjalan menjauh dari tempat tidur Hanin.


"Neng, sabar ya." Malah mencium tangan Hanin tanpa memedulikanku.


"Listi."


Lagi, aku memanggilnya. Tapi dia sama sekali tak menoleh. Aku kesal. Akhirnya menarik tas selempangnya hingga dia terseret.


"Pak, lepas! Jangan kasar! Saya bisa melaporkan Anda pada polisi, lho," katanya. Suaranya tertahan. Mungkin dia juga khawatir Hanin terbangun.


"Ayo kita bicara, aku tunggu kamu di selasar rumah sakit sebelah kiri. Di sana sepi," titahku.


"Tidak mau!" katanya. Malah mendekat kembali pada Hanin.


"Listi, kalau karirmu di perusahaan ingin bertahan lama, patuhlah. Kalau kamu tidak patuh, maka jangan salahkan aku kalau aku menggunakan jabatanku untuk memecat kamu. Ingat ya Listi, kamu aku spesialkan karena kamu adalah temannya Hanin, tidak lebih dari itu," ancamku. Lalu aku keluar dari kamar perawatan menuju selasar yang kumaksud.


...***...


Setibanya di selasar rumah sakit, aku mendudukkan diri di kursi yang tersedia. Kalimat-kalimat janggal yang diucapkan Listi terngiang-ngiang dan membuatku gundah-gulana. Aku tak rela dikatai sebagai pria pemangsa, bengis dan tak beperasaan.


"Beraninya dia mengumpat di hadapanku," geramku.


Sejauh ini, perasaan, aku tak pernah kasar pada siapapun apalagi pada makhluk yang disebut sebagai wanita. Jujur, aku memang sering kesal pada Dewi, tapi aku tak pernah mengkasarinya.


Akhirnya Listi datang juga. Dia berjalan dengan malasnya mendekatiku. Lalu duduk di kursi yang letaknya bersebrangan dengan kursi yang kududuki. Setelah duduk, dia terdiam. Memalingkan pandangan ke arah lain, ke ujung selasar.


Di sana, ada seorang ibu hamil besar yang tengah bercengkrama dengan seorang pria yang kemungkinan adalah suaminya.


"Listi, aku adalah atasan kamu. Apa kamu lupa? Ya, aku memang tak gila hormat. Tapi yang dikatakan kamu tadi itu benar-benar menyinggung perasaanku," tegasku.


"Anda tersinggung? Harusnya, kalau Anda tak merasa ya tak perlu tersinggung." Sambil tetap memalingkan wajah.


"Pak, sebenarnya ... saya sangat menghormati Anda. Saat saya tahu Daini terpaksa dinikahi Anda karena kasus itu, terus terang saya tak terima. Jujur, saya berharap Daini bisa mendapatkan pria yang lebih baik dari Anda. Kenapa saya tak terima Daini menikah dengan Anda?"


"Karena saya merasa Anda pria tak setia. Bayangkan, Anda sudah memiliki bu Dewi yang sempurna, tapi Anda masih saja serakah dengan menjadikan Daini sebagai pemuas Anda," tegasnya.


Walau posisi aku dan Listi berjauhan, tapi aku bisa melihat jika mata Listi berkaca-kaca.


"Kamu salah, Listi. Aku tak memperlakukan Hanin sebagai pemuas. Aku tulus mencintai dia," tegasku dengan nada bicara yang penuh dengan penekanan.


"Tulus? Ya, aku memang sempat mengira kalau Anda tulus mencintai Daini. Tapi ... se-sekarang sa-saya baru menyadari kalau Anda hanya memanfaatkan kepolosan dan kecantikan Daini," katanya. Suara Listi tersendat-sendat. Aku yakin dia sedang menahan tangisnya.


"Listi, aku tak mengerti ucapan kamu! Ya, benar! Aku memang menyukai kecantikan Hanin. Tapi apa yang kusukai dari Hanin tidak sebatas hanya cantiknya saja! Dan akupun merasa tak perlu menjelaskan detailnya kepadamu!" sentakku sambil berdiri dan bertolak pinggang.


"Sudahlah Pak Direktur! Anda tak perlu berpura-pura sok bijak dan baik! Tenang saja, saya masih sabar kok! Sebenarnya saya tak bisa membiarkan masalah ini! Tapi melihat kondisi Daini yang seperti itu, saya rasa lebih baik jika masalah ini tak dipermasalahkan dulu!"


Listi juga berdiri dan bertolak pinggang. Dia sedang menunjukkan taringnya, seolah ingin membuktikan kepadaku jika ia berani menentangku demi membela Hanin.


"Terserah kamu mau menuduhku seperti apa! Lagipula, aku tak perlu menunjukkan ketulusanku terhadapmu! Aku tak butuh penilaianmu! Aku hanya perlu fokus mencintai Hanin dengan segenap jiwa dan ragaku!"


Aku berlalu. Tiada guna pikirku berbicara dengan Listi jika pada akhirnya hanya membuatku emosi.


"Ya, silahkan lakukan apapun yang Anda mau! Tapi ingat ya Pak! Di dunia ini ada Azab dan karma! Saya memang menghormati Anda sebagai atasan saya. Tapi bukan berarti saya mendukung perbuatan kanibalisme Anda pada teman saya!" teriak Listi.


Kanibalisme?


Langkahku terhenti. Aku membalikan badan dan menatap heran pada Listi. Listi duduk kembali dan menangis.


"Huuu, huuu, Neng ... 'kok kamu mau 'sih diperlakukan seperti itu?" gumamnya saat aku kembali mendekat.


"Listi! Aku tak mengerti maksud kamu! Kanibalisme katamu?! Maksud kamu apa, hahh?! Tolong jangan membuatku bingung! Hidupku sudah banyak masalah!" jelasku.


"Huuu, sa-saya perempuan. Saya bisa merasakan bagaimana menderitanya Daini saat harus pura-pura bahagia. Saya yakin dia tak berani melaporkan Anda karena ketakutan."


"Ketakutan apa maksudmu, Listi? Justru Hanin baru saja mengatakan kalau dia mencintaiku."


"Huks, itu yang saya sesali Pak. Daini cinta buta pada Anda. Saking cinta butanya, dia sampai menutupi kejahatan Anda."


"Maksud kamu?"


"Huuu, tadi ... saat aku mengganti baju Daini, a-aku tak sengaja me-melihat huuu, melihat bekas gigitan di dada Daini."


"A-apa?!"


Aku spontan membelalakan mata. Lalu menelan salivaku dengan susah-payah. Leherku seolah tercekik, dadaku serasa sesak.

__ADS_1


"Cepat jelaskan! Apa yang kamu lihat, hahh?!"


Aku mencekal kuat tangan Listi. Gigiku gemeretak karena menahan emosi. Kupikir Listi memang salah lihat atau sengaja mengada-ada dengan mengarang cerita. Apa mungkin Hanin telah disakiti oleh bidan atau dokter? Tidak mungkin!


"A-Anda jangan cuci tangan, Pak! Apa tidak cukup Anda mengambil kebahagiaan Daini dengan hanya menjadikannya sebagai istri siri? Cinta yang tulus itu tidak menyakiti, Pak! Tapi Pak Direktur jelas-jelas telah menyakiti lahir dan batinnya Daini!" teriaknya.


"LISTI ANGGRAENI!" teriakku. Semoga teriakanku tak terdengar orang lain.


"APA! PAK DIREKTUR!" Listi balik beteriak, bahkan jauh lebih keras dari teriakanku.


"Kamu sudah melakukan tuduhan tak menyenangkan terhadapku, Listi! Aku bisa mengembangkan pasalnya menjadi pasal fitnah! Aku tak main-main, Listi! Atau aku akan menyelediki rumah sakit ini atas dugaan malpraktik!" sentakku sambil menghentak tangannya.


"Malpraktik?! Aku yakin itu bukan malpraktik, Pak! Coba Anda ingat-ingat! Apa Anda yakin itu bukan bekas gigitan gigi Anda? Wallahi, Pak! Aku yakin tak salah lihat! Di dada Daini ada bekas gigitan. Gigitan itu membekas, memerah, membiru bahkan membengkak!"


"A-apa?" Tubuhku jadi lemas. Aku terduduk gontai. Sejenak, tak bisa berkata-kata.


"Huuu, saat saya tanya ... 'Dai, ini kenapa? Kamu digigit?' Dia hanya menangis dan tak mengatakan apapun. Saya tanya lagi ... 'kamu digigit suami kamu?' Dia tetap tak menjawab, malah menangis semakin kencang."


"Jadi wajar 'kan kalau saya menyalahkan Anda? Huuu, Pak Direktur, sa-saya tak terima Daini diperlakukan seperti itu. Dia adalah sahabat terbaik yang saya miliki. Dia sudah saya anggap sebagai adik."


Aku belum bisa bicara. Masih tertunduk sambil mengatur napas dan memegang dadaku. Sedang berusaha tenang untuk memecahkan misteri ini.


"Saya bahkan menduga jika Daini telah mendapatkan tekanan dan ancaman dari Anda. Sebab, setelah saya melihat bekas gigitan itu, dia malah memohon agar saya merahasiakannya dari siapun," jelas Listi sambil mengusap airmatanya.


"Tapi ... saya tak bisa diam saja Pak. Saya rela Anda pidanakan atau dipecat sekalipun asalkan tidak kehilangan Daini."


Aku menghela napas, baru bisa bicara setelah menghembuskan napas berulang-ulang.


"Terima kasih, Listi. Maaf karena aku tak peka. Aku senang Hanin memiliki teman seperti kamu. Maaf kalau tadi ada ucapanku yang menyinggung perasaan kamu. Tapi aku juga ingin menegaskan, wallahi aku tidak pernah menggigit Hanin hingga terluka seperti itu. Bagaimana mungkin aku tega melukai tubuh wanita yang sangat aku cintai dan aku kagumi," lirihku.


Listi menatapku, tatapannya hampa. Dia mungkin sedang memikirkan siapa pelakunya. Airmatanya terus bederai. Walaupun dia terlihat tomboi dan sering bicara kasar, tapi faktanya, Listi memang baik dan tulus.


Aku berdiri pelan. Mencoba menguatkan diri ini agar langkahku tak goyah. Aku berjalan menuju kamar Hanin sambil memegang dinding rumah sakit. Dadaku rasanya sakit.


Jika yang dikatakan Listi adalah benar, berarti ... ini ada kaitannya dengan keterangan dokter yang mengatakan jika Hanin diduga mengalami trauma, tekanan dan ancaman.


Dewi Laksmi!


Aku langsung menduga jika pelakunya adalah dia. Sedari awal, aku memang sudah merasakan kejanggalan. Tapi aku tak menyangka kalau Dewi berani melampaui batas sampai separah itu.


"Pak Direktur, tunggu." Listi menyusulku.


"Bapak jangan langsung membahas masalah ini di depan Hanin. Mohon tunggu dulu sampai kondisinya membaik."


"Tapi Listi, aku harus melihat kondisinya. Aku harus memastikan luka gigitannya diobati dengan baik. Aku harus lapor dokter kalau di dadanya ada luka gigitan."


"Pak Direktur, tolong jangan gegabah!" Listi menghalangi langkahku.


"Anda kaya-raya, Pak. Hemat saya, lebih baik Bapak menggunakan dokter pribadi saja untuk mengobati luka Daini di bagian itu. Kalau sampai dokter di rumah sakit ini tahu, mereka pasti akan mencurigai Anda. Anda pikir saja, Pak. Yang punya potensi bisa menggigit dadanya Daini, hanya Anda 'kan?"


Aku berpikir sejenak, saran Listi masuk akal. Kalaupun pihak rumah sakit akan merahasiakan hal ini sebagai privasi pasien, tapi aku juga tak ingin mengundang kecurigaan mereka.


"Baik, aku akan mengikuti saran kamu," kataku.


Lalu kami berdua kembali ke kamar perawatan. Listi mengusap air mata dan bertingkah seolah tak terjadi apapun.


...***...


Saat tiba di kamar perawatan, aku dan Listi mematung. Hanin sudah bangun, ia sedang mengaji menggunakan ponsel sambil mengelus perutnya. Dia terkejut saat melihat kedatangan aku dan Listi. Langsung mengatakan ....


"Shadaqallahul Adzim."


"Pak Zulfikar? Kak Listi?" serunya.


Hanin menyambut kami dengan senyuman. Padahal, di balik tatapan cerianya, aku yakin ia menyembunyikan kepiluannya.


"Hai bumil, sudah bangun?" Listi mendekat.


"Iya, Kak," jawabnya.


"Dai, gua senang mau punya ponakan kembar. Kalau lu gak mau ngurus bayinya, buat gua saja ya," canda Listi.


Hanin tersenyum sambil melirikku, lalu berkata ....


"Boleh tidak Pak kalau anak kita dikasih ke Kak Listi?"


"Emm, boleh sayang, apa 'sih yang tak boleh untuk kamu?" candaku.


"Apa?! 'Kok boleh 'sih, Pak?" Langsung cemberut.


"Hahaha, hore," seru Listi.


"Hei, jangan marah dong, aku hanya bercanda sayang," kataku sambil memeluknya.


Aku terus berusaha menyembunyikan kekhawatiranku. Padahal kenyataannya, aku sangat ingin melihat bekas gigitan itu dan segera pulang untuk membuat perhitungan pada Dewi.


...~Tbc~...


...Yuk komen yuk! Jika berkenan vote juga ya, terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2