
"Pokoknya, hari ini kamu tak boleh pulang telat lagi, Mas. Oiya, kamu yakin enggak datang ke acara empat bulanan istri siri kamu?"
Sekarang, Dewi sedikit lebih sopan. Dia memanggil Hanin dengan julukan istri siri.
"Yakin cinta. Lagi pula, akunya juga 'kan mau menemani kamu ke salon."
"Hahaha, aku bahagia, Mas. Akhirnya, sedikit demi sedikit kamu sadar juga kalau istri siri kamu itu tidak lebih baik dari aku. Oiya Mas, aku juga mau USG ulang. Mau memastikan apa aku dan kamu sudah boleh berhubungan intim apa belum." Jujur, kalimat itu membuatku sedikit merinding.
"Baik. Aku setuju."
"Asyik, aku bahagia sekali, Mas."
"Ya sudah, Mas masih ada pekerjaan. Sudah dulu teleponannya ya. Pokoknya, Mas usahakan akan pulang lebih cepat."
Sikap Dewi berubah sangat manja dan boros. Alasannya selalu ngidam, ngidam dan ngidam. Kemauannya selalu kukabulkan. Jika aku belum sempat mengabulkannya, mama akan inisiaf mengambil alih tugasku.
"Listi, cepat ke ruanganku," pintaku pada Listi melalui telepon pararel.
Tania sedang berada di luar untuk menemui klien. Jadi, aku akan memandatkan tugas ini pada Listi. Selain itu, berkas inipun nantinya akan dibawa ke Bandung oleh Listi.
Berdasarkan informasi dari Hanin, hari ini, Listi akan ke Bandung untuk menghadiri acara empat bulanan istri kesayanganku, Daini Hanindiya Putri Sadikin.
Tak lama, wanita tomboy itupun datang, rupanya sudah bersiap hendak pulang.
"Aku sudah izin sama bu Caca untuk pulang lebih awal, Pak. Di mobilku malah sudah banyak kado buat Daini," jelasnya.
"Duduk."
"Terima kasih, Pak. Ada apa? Ada yang bisa kulakukan?"
"Kamu mau langsung ke Bandung?"
"Ya, dong. Secara, yang empat bulanan itu bestieku, Pak."
Kalimat itu seolah menyindirku. Apa Listi tahu kalau aku tidak akan ke Bandung?
"Ini, ada berkas yang harus kamu bawa ke Bandung untuk ditanda tangan sama Hanin."
Sambil menyerahkan berkas yang kumaksud. Berkas ini adalah angket saksi yang harus diisi oleh Hanin. Angket ini dibuat oleh tim kuasa hukum atas persetujuan penyidik Bareskrim.
"Baik. Aku kira mau titip apa?"
Dia segera mengambil berkas tersebut dan memasukkan ke dalam tasnya.
"Tapi, kamu harus ke rumah pak Sabil dulu untuk meminta tanda tangannya."
"Apa?!" Seketika, ia melepas berkas itu hingga terjatuh ke lantai.
"Kamu kenapa Listi?" Aku membantunya mengambil berkas yang terjatuh.
"Pak, aku bisa membawa berkas ini ke Bandung, tapi tidak untuk ke rumah pak Sabil," tolaknya.
"Lho, kenapa? Listi ini berkas penting, harus ada tanda tangan pak Sabilnya."
"Kenapa Bapak tidak menyuruh pak Sabil datang ke sini saja?"
"Listi, dia sedang meriang."
"Meriang?" Dia menautkan alisnya.
"Ya benar."
"Kenapa tidak Bapak saja yang ke rumahnya."
"Apa?! Kamu berani menolak titah atasan kamu?"
"Ma-maaf, Pak. Tapi ---."
"Aku banyak agenda sama Dewi. Makanya meminta bantuan kamu. Kalau kamu tidak mau, ya tak masalah. Aku menyuruh kamu karena kamu adalah sahabatnya Hanin. Istilahnya, kamu adalah orang kepercayaanku."
"Baik, aku setuju! Bapak kirim saja alamat rumanhnya!" ketusnya. Dia merebut berkas itu dari tanganku.
"Listi, aku bos kamu! Tak bisakah kamu sedikit lebih sopan?!"
"Tak bisa Pak!" jawabnya. Lalu bergegas pergi dengan ekspresi wajah cemberut.
"Kak Listi itu baik, Pak. Kalaupun dia marah-marah, tapi hatinya tulus 'kok. Percaya padaku, oke?"
Karena teringat penjelasan Hanin, akupun memaafkan sikap Listi.
Setelah shalat Asar, aku bergegas. Tak lupa mengirim pesan pada Hanin kalau aku sangat mencintainya, dan meminta maaf untuk kesekian kalinya karena tak bisa menghadiri acara itu.
...⚘️⚘️⚘️...
Listi Anggraeni
"Aaarrgh!"
Kenapa bisa pak Direktur menyuruhku ke rumahnya?
Mau protes, tapi ini berkas penting untuk Daini. Ya sudahlah, sekalian saja aku mau lihat seperti apa bentukan manusia tak bermoral itu kalau sedang berada di rumahnya.
Rumahnya berada di kawasan elit. Tepatnya di Komplek Ekslusif, Jakarta Timur. Perumahannya mudah diakses, sekitar 5 kilometer dari kawasan Kelapa Gading tempatku bekerja.
Entah dia tinggal sendiri, atau masih bersama orang tuanya.
Hingga saat ini, semenjak dia menciumku, kebencianku padanya jadi berlipat ganda. Walaupun dia sudah berulang kali meminta maaf, tapi aku tak terima. Aku marah dan kesal karena kejadian itu selalu terbayang-bayang di atas kepalaku.
...⚘️⚘️⚘️...
Sesampainya di alamat yang dimaksud, aku langsung menunjukkan nomor rumah pada petugas keamanan yang berjaga di pintu utama komplek ini.
"Oh, mau ke rumahnya pak Komjen ya, Mbak? Mari saya antar," katanya. Aku hanya mengangguk.
Komjen? Komisaris Jenderal itu bintang tiga, 'kan? Enggak mungkin kalau dia sudah bintang tiga. Sebab dia masih muda. Yang Komjen pasti bapaknya. Oh, berarti bapaknya juga polisi. Dih, pantas saja sombong. Aku mengikuti petugas keamanan yang menggunakan motor dengan menyetir pelan.
Lalu menghentikan laju mobilku saat motor itu berhenti tepat di sebuah rumah mewah dan berukuran paling besar jika dibandingkan dengan rumah yang berada di sekelilingnya.
Sebenarnya, semua rumah di kawasan ini mewah-mewah. Tapi ini yang paling mencolok karena meliputi dua kapling rumah yang dijadikan satu.
"Ini rumahnya pak Komjen Nataprawira Sabilulungan, Mbak. Silahkan ditekan saja belnya. Nanti, saat masuk ke dalam, Mbak akan bertemu dan dinterogasi sama ajudannya pak Komjen," jelas petugas keamanan tersebut sambil menundukkan kepala dan berlalu.
"Baik, terima kasih, Pak," sahutku. Setelah menepikan mobil, aku mendekati gerbang.
"Sial!" gumamku.
Aku memukul pelan dadaku karena tiba-tiba 'deg-degan.'
Lalu memberanikan diri menekan bel. Setelah dua kali menekan bel, gerbang yang sangat tinggi itu terbuka otomatis. Benar saja, dua orang pria beseragam hitam-hitam langsung menghampiriku.
"Ada yang bisa kami bantu?"
Seorang lagi, mengecek tubuhku dengan metal detector.
'Tit tit tit.'
Jelas langsung berbunyi karena di dalam tasku ada laptop dan ponsel.
"Aku mau bertemu pak Sabil. Aku datang ke sini atas perintah pak Direktur Zulfikar Saga Antasena. Ada berkas yang harus ditanda tangan oleh pak Sabil," jelasku sambil menunjukkan id card kantor.
"Apa sudah ada janji sebelumnya? Soalnya, pak Sabilnya hari ini kebetulan sedang tak enak badan."
"Pak, aku hanya disuruh pak Direktur. Kurasa, pak Sabil sudah tahu akan hal ini. Tolong cepat kabari pak Sabilnya. Aku tak punya banyak waktu. Setelah dapat tanda tangan pak Sabil, aku harus membawa berkas penting ini ke Bandung." Aku bicara dengan nada sedikit ketus. Kedua ajudan itu saling menatap.
"Baik, Mbaknya silahkan duduk dulu di sana. Kami akan melakukan konfirmasi dulu pada pak Direkturnya. Kalau benar beliau telah menyuruh Anda datang ke sini, barulah kami akan memberi tahu pak Sabil."
"Apa?! Pak, aku sedang buru-buru!" teriakku.
Taringku muncul. Bayangkan, aku lelah. Eh, malah disuruh menunggu. Ya, bagi orang lain menunggu itu mungkin hal yang biasa saja. Tapi tidak bagiku. Aku sukanya cekatan atau 'sat-set.' Aku tahu istilah 'sat-set' dari Daini.
"Sabar dong, Mbak."
__ADS_1
Salah satu ajudan menatapku sambil menahan senyum.
"Ya, Mbak. Tolong ikuti prosedur di rumah ini. Kalau Mbaknya tak emosi, pasti akan terlihat lebih cantik lagi," ujar ajudan yang satunya lagi.
"Oke, aku duduk! Aku akan menunggu! Cepat konfirmasi!" Lagi, aku beteriak. Mereka menghela napas.
"Oiya, bisa kami tahan dulu tas Mbaknya?"
"Issh, di dalamnya enggak ada yang aneh-anehnya Pak! Ini barang-barang legal semua! Silahkan cek saja!"
Sekalian saja aku membuka isi tasku dan menujukkan seluruhnya. Aku acak-acak sekalian agar mereka puas.
"Lihat! Lihat! Enggak ada bomnya, 'kan?!" sentakku.
"Galak benar," gumam salah satu dari mereka sambil mengecek dan merapikan barang-barangku.
Lalu aku mengambil ponselku. Tak ada jalan lain untuk terhindar dari situasi menyebalkan ini kecuali menelepon manusia itu. Sebenarnya, aku tak sudi meneleponnya, tapi aku terpaksa.
"Maaf, Mbaknya dilarang menerima panggilan atau menelepon di area ini. Ada peringatannya, Mbak. Silahkan menelepon di area sana," tunjuknya.
Ajudan itu menunjukkan banner larangan dan area lain yang bisa digunakan untuk menelepon.
"Ya Tuhan, ribet amat!" rutukku.
Penjagaan di rumah ini sebelas dua belas dengan penjagaan di rumah pak Direktur. Bedanya, penjaga di sini jauh lebih ramah dan tak terlalu banyak. Aku berlari ke tempat yang mereka maksud. Rasanya ingin menceburkan diri ini ke kolam renang yang tampak jernih di ujung sana sambil memakinya.
...⚘️⚘️⚘️...
Aku mencari riwayat panggilannya. Sebab selama ini, aku tak pernah menyimpan nomornya dan selalu menghapus pesan permintaan maaf yang ia kirimkan.
Sepertinya, ini nomor dia. Aku agak mengenalinya.
Sudah dering ke empat tapi tak diangkat. Aku mulai gelisah. Masalahnya adalah, aku takut kemalaman. Jakarta-Bandung lumayan jauh dan menyetir perlu konsentrasi tinggi.
"Lagi ngapain 'sih?! Heran 'deh," gerutuku.
Kalau cuma meriang, harusnya bisa menerima panggilan.
"Li-Listi?"
Akhirnya diangkat juga, nada bicaranya jelas menunjukkan kekagetan.
"Susah banget 'sih angkat teleponnya! Anda bisa menemuiku tidak? Aku ---."
"A-apa?! Menemui kamu? Di mana? Kenapa aku harus menemui kamu?" selanya.
"Issh, makanya jangan nyela dong! Aku belum selesai bicara!"
"Maaf, dan jangan galak-galak atuh. Telingaku sakit." Malah mengeluh.
"Aku diperintah pak Direktur untuk ke sini. Mau minta tanda tangan Anda. Aku tidak tahu ini berkas apa. Pokoknya, harus ada tanda tangan Anda dan berkasnya akan segera aku bawa ke Bandung."
"Berkas apa ya?" Dia malah balik bertanya.
"Meneketehe! Lah, 'kok bisa 'sih pak Direktur tidak konfirmasi pada Anda dulu?! Heran deh! Ya sudah, cepat ya Pak! Aku enggak punya banyak waktu! Mau langsung ke Bandung! Daini mau empat bulanan!"
"Ke Bandung? Sendirian?"
"Ihh, memangnya kenapa kalau aku sendirian?! Sudah ah! Jangan banyak cingcong! Anda jangan mengulur waktu ya! Cepat temui aku! Jangan banyak basa-ba ---."
Aku terpaku. Tak sempat melanjutkan kalimatku. Sebab, saat aku membalikan badan, polisi mesum itu sudah ada di belakangku.
Sejenak, aku mematung saat melihat penampilannya. Dia memakai piyama warna kuning terang. Memakai sandal jepit, dan di keningnya terpasang obat penurun demam yang biasa dipakai bayi atau anak-anak.
"Ppfftt."
Aku berusaha menahan tawa. Penampilan dia sangat lucu. Sekilas, bahkan terlihat begitu memprihatikan. Lantas kukatupkan bibir ini rapat-rapat karena dua ajudan itu mendekat.
"Pak Abil, lapor Pak. Mbak ini mau bertemu Bapak. Katanya dapat tugas dari pak Direktur. Kami baru saja konfirmasi pada sekretarisnya atas nama bu Tania. Tapi, bu Tania tidak tahu apa-apa dan mengatakan kalau pak Direktur sudah tidak ada di ruangannya."
"Tidak apa-apa, Pak. Terima kasih. Dia temanku 'kok," katanya sambil mendekat dan menggandeng bahuku begitu saja.
"Dia adalah teman yang membantuku mensukseskan operasi penggagalan penculikan pada istri mudanya pak Direktur," jelasnya. Lagi, sambil menahan bahuku yang sedang berusaha menepisnya.
"Bukan! Aku bukan Polwan!" teriakku sambil menggedikkan bahu setelah berhasil lolos dari rangkulannya.
Berani sekali dia SKSD! Dasar mesum!
"Maaf, dari penampilannya memang cocok kalaupun jadi Polwan. Ya sudah, kami permisi Pak." Mereka memberi hormat sebelum berlalu.
"Kita duduk di sana yuk!" ajaknya. Sekarang meraih tanganku.
"Enggak perlu pegang-pegang tanganku bisa, 'kan?! Jangan SKSD ya, Pak! Tadi, Anda juga merangkulku tanpa izin!" teriakku sambil menepis tangannya.
"Hahaha, oke. Maaf. Aku tak merasa SKSD. Kita memang pernah dekat, bukan? Bibir kita malah pernah begitu dekat sampai melekat," ledeknya sambil membuang obat anti demam yang ada keningnya ke tempat sampah.
"Sablon! Cukup!" teriakku. Semoga tak ada yang mendengar.
"Hahaha, oke. Maaf." Dia duduk santai di kursi taman sembari mendekatkan kursi untuk aku duduki.
"Cepat tanda tangan!"
Aku tak mau berlama-lama dengan manusia ini. Segera menyodorkan berkas yang diberikan pak Direktur.
"Meminta tanda tanganku tak bisa asal seperti ini, ada SOP-nya." Dia menolak berkas yang kuberikan.
"Apa?! Pak Sabil! Anda jangan banyak gaya ya! Aku tak diberitahu SOP apapun sama pak Direktur! Cepat tanda tangan saja! Atau aku akan membuat laporan kalau Anda telah melecehkanku!"
"Oya? Laporan pelecehan? Silahkan saja. Nanti, aku juga akan mengajukan pembelaan kalau kamu yang terlebih dahulu menggodaku. Siapa yang saat itu memakai baju terbuka?"
"Apa?! Ishh, ya sudah! Kalau Anda tak mau tangan! Aku juga tak memaksa 'kok!"
Aku cepat-cepat mengambil berkas. Namun sudah terlebih dahulu direbutnya.
"Sablon! Kembalikan berkasnya!"
Aku berusaha merebut. Namun dia malah menghindar dengan mengangkat berkas itu tinggi-tinggi. Aku berjinjit dan melompat untuk meraihnya. Namun tak berhasil.
"Aa?" Suara seseorang mengagetkanku. Dia juga tampak kaget.
"Bu-Bunda?" katanya. Langsung meletakan berkas, merapikan piyama, dan berdiri tegak di sampingku.
Aku melongo, memandangi wanita itu. Dia cantik. Mungkin usianya sebaya dengan ibuku. Dia sedang memegang mangkuk yang berisi makanan mirip bubur ayam.
"Kok obat kompresnya hilang?"
Wanita itu mendekat, meletakan mangkuk, lalu memeriksa keningnya. Ya ampun, kalau dipanggil bunda, berarti wanita ini adalah mamanya pria mesum itu.
"Bunda, Aa enggak perlu lagi pakai obat kompres. 'Kan sudah minum obat. Aa baikan, Bun. Demamnya sudah turun."
Ya ampun, dia ternyata 'anak mama.' Lagi, aku menahan tawa. Dia pasti malu.
Hore, aku jadi punya banyak bahan untuk merundung dan membullynya. Dia juga me-aa-kan dirinya. Benar, dia pasti sama seperti Daini, orang Sunda.
"Siapa ini, A?" Wanita itu menatapku. Aku terpaksa harus bersikap baik.
"Aku stafnya pak Direktur, Bu. Namaku Listi Anggraeni." Aku meraih tangannya untuk kusalami.
"Oh, kirain Polwan yang kata Aa selalu kejar-kejar Aa itu," duganya.
Ya ampun, kenapa aku dikira Polwan lagi, sih? Apa karena rambutku pendek dan posturku tinggi semampai?
"Bukan, Bun. Dia temanku." Lagi, dia mengakuiku sebagai temannya.
"Ya sudah atuh, sok duduk, Neng. Aduh geulis pisan (cantik sekali)," katanya.
Aku mematung. Jadi tersipu karena dipanggil 'neng.'
"Dia biasa dipanggil 'kakak,' Bun. Aa biasa memanggilnya Listrik. Eh, emm ... maksud Aa, Listi. Listi, perkenalkan, ini bundaku."
Aku tersenyum saat wanita itu menatapku. Entah kenapa jadi gugup begini.
__ADS_1
"Kak Listi? Ya sudah, Bunda juga mau panggil Kak Listi saja. Sok atuh (silahkan) lanjutkan urusannya. Terus ini, bagaimana bubur ayamnya, A? Masih mau Bunda suapi?"
Apa?! Disuapi?! Jadi ---.
"Hahaha."
Aku tak kuasa kalau harus menahan tawa lagi. Gagal sudah. Tadinya, mau pura-pura anggun. Tapi aku malah terbahak-bahak. Aku tak percaya jika manusia sebesar itu masih disuapi.
"Bunda mah, ishh."
Dia memeluk wanita itu. Malu mungkin ya? Wajahnya merona.
"Hahaha, A Abil kalau sakit memang manja, Kak. Tapi, karena dia anak tunggal, jadi sama Bunda selalu dituruti terus kemauannya."
Ternyata, dia anak tunggal. Hampir mirip sepertiku. Setelah adikku meninggal, aku terpaksa jadi anak tunggal karena ibuku tak bisa hamil lagi.
"Bunda, harusnya Bunda tak bikin malu Aa dong. Lagi pula, Aa mau disuapinya kalau lagi sakit doang, 'kok."
Wajahnya masih memerah. Aku berhenti tertawa setelah perutku sedikit sakit. Padahal, aku juga masih suka disuapi sama ibu.
"Aaa," bundanya menyodorkan sesendok bubur.
"Aa kenyang, Bun."
"Jangan bohong, tadi 'kan baru lima suap. Eh, kamunya langsung sibuk menerima telepon."
"Ya ampun Bunda."
Dia akhirnya membuka mulut. Harusnya aku memotret momen ini, lalu menjual fotonya ke media lokal, atau menempelnya pada tiang listrik yang ada di Jakarta.
"Mohon cepat ditanda tangan, Pak. Setelah ini, aku mau langsung ke Bandung. Takut kemalaman."
"Ya sudah, mana pulpennya."
Syukurlah, setelah ada bundanya, dia tak menjahiliku lagi.
"Bunda ambil minuman dulu ya." Bundanya berlalu.
"Tak perlu, Bu. Aku mau segera pergi," tolakku.
"Maksudnya, Bunda mau ambil minuman untuk A Abil, bukan untuk Kak Listi," jelasnya sambil tersenyum.
"A-apa?"
Ya ampun, ibu dan anak ini benar-benar membuatku tercengang.
"Hahaha, tenang. Nanti, bundaku pasti bawa minuman untuk kamu juga, 'kok." Dia juga tertawa setelah bundanya pergi.
"Cepat tanda tangan!"
"Siap. Sebentar, aku cek dulu." Dia membacanya dengan serius.
"Hooaaam."
Aku menguap saat menunggunya membaca.
"Kamu yakin mau mengemudi dalam keadaan mengantuk?"
"Yakin."
Aku membereskan berkas yang baru saja ia tanda tangan.
"Perlu aku kawal tidak? Atau bagaimana kalau kamu diantar saja sama ajudan ayahku. Mau?"
"Maksudnya? Memangnya siapa aku? Anda lucu 'deh. Aku mau pamit, permisi, dan terima kasih."
"Listi, tunggu. Aku serius khawatir sama kamu. Diantar saja, ya? Tak baik mengemudi dalam keadaan mengantuk."
"Pak Sabil, Anda kenapa 'sih? Aku sering 'kok Bandung sendirian."
Lalu bundanya datang. Benar saja, dia membawa minumam untukku juga.
"Diminum dulu, Kak."
"Terima kasih. Tapi, aku buru-buru, Bu."
Aku langsung menyalaminya. Lalu bergegas. Pria itu menghela napas dan membiarkan aku pergi.
...⚘️⚘️⚘️...
"Sial!! 'Kok bisa 'sih?!" Aku tak habis pikir.
Kenapa bisa ban mobilku kempes? Jelas-jelas, tadi baik-baik saja.
"Perlu bantuan?"
Dia tiba-tiba datang. Sudah memakai baju rapi.
"Aku mau pinjam motor kamu, boleh tidak? Mau cari tukang tambal ban di daerah sekitar sini. Kebetulan, aku tak membawa dongkrak dan ban serep."
"Begini saja, kamu diantar sama ajudan ayahku. Mobil kamu biar aku yang urus, bagaimana?"
"A-apa? Tapi ---."
"Sudahlah, jangan keras kepala."
Gerbang rumahnya tiba-tiba terbuka. Lalu sebuah mobil keluar. Di saat aku masih terpaku, dia merebut kunci mobilku dari tanganku, kemudian mengambil cepat barang-barang yang ada di bagasi.
"Pak Sabil! Anda berlebihan! Aku tidak suka!"
"Listi, ini kado-kado untuk bu Daini, kan? Sudah, aku pindahkan ke mobilku ya."
"Pak Sabil! Cukup!"
"Cepat seret dia, Pak. Masukan ke mobilku," titahnya pada dua orang ajudan yang baru saja datang.
"Baik Pak."
"Apa?! Pak Sabil! Anda jangan gila ya!"
Aku melotot tak percaya, dan kedua pria tegap dan besar itu benar-benar menyeretku.
"Hey! Lepas! Sablon! Awas kamu ya!"
Di dalam mobilnya ternyata sudah ada orang yang duduk di bangku kemudi.
"Jaga dia baik-baik ya, Pak."
Pak Sabil menutup pintu mobil ini sambil tersenyum dan melambaikan tangan kala mobil ini melaju. Dan aku, tentu saja masih ada di dalam mode kaget sekaget-kagetnya.
"Mbaknya beruntung, kalau pak Abil mau, dia bisa melaporkan Mbak karena memaksa membawa kendaraan dalam keadaan mabuk berat," kata pengemudi itu.
"Apa?! Siapa yang mabuk berat?! Aku tidak mabuk, Pak!"
"Kata pak Abil, Mbaknya mabuk tapi memaksa menyetir ke Bandung. Karena pak Abil sayang sama Anda sebagai temannya, pak Abil ingin mencegah hal buruk terjadi pada Anda dengan cara menyuruh saya menusuk ban mobil punya Mbak sampai kempes," terangnya.
"APA?!"
Bola mataku nyaris lompat dari kelopaknya. Pak Sabil benar-benar gila. Apa hak dia mengaturku dan berbuat sewenang-wenang seperti ini?!
"Turunkan aku di sini, Pak!" teriakku.
"Tidak bisa Mbak. Saya hanya akan menurunkan Anda di Bandung. Di rumahnya bu Daini," tegasnya sambil tersenyum.
"Apa?! Pak, aku mau ke toilet dulu, tolong berhenti di sana!"
"Kata pak Abil, kalaupun mau ke toilet, jangan diturunkan. Karena Mbaknya pasti berbohong dan ingin kabur."
"Apa?! Pak Sabil tidak waras Pak! Asal Bapak tahu ya! Aku tidak mabuk! Salahku hanya satu, aku menguap di depan dia!"
Pengemudi itu hanya tersenyum. Lalu terdiam begitu saja. Sama sekali tak meladeni protes dan kemarahanku lagi.
__ADS_1
...⚘️⚘️⚘️...
...~Tbc~...