
Saat ini ....
Baru kali ini merasakan tidak nyaman tidur di kamarku sendiri. Harusnya, di jam ini aku sudah berada di alam mimpi. Tapi, gara-gara pak Sabil dan keluarganya menginap di rumahku, aku jadi resah-gelisah, galau, dan gundah-gulana.
Saat hendak terpejam, selalu teringat kalau pria manja itu saat ini tengah berada di samping kamarku. Aku bisa mendengar setiap aktivitas di kamarnya karena kamarku dan kamar tersebut berdampingan. Jika mau, kami bahkan bisa berkomunikasi dan bertemu melalui jendela kaca yang terhubung dan menjadi pembatas kamar.
Kenapa demikian? Sebab, kamar di sebelahku sejatinya adalah kamar milik mendiang adikku. Jadi, memang didesain agar aku dan adikku bisa belajar dan bermain bersama. Saat kami mandi, aku dan adikku sering mengobrol, sahut-sahutan, duet nyanyi, bahkan perang air melalui celah terbuka dinding pembatas kamar mandi.
Sejatinya, kamar di sebelahku bukanlah kamar tamu. Itu hanya asumsi ibu saja. Kenapa dia memilih kamar itu? Mungkin, karena kamar tamu yang satunya lagi lebih luas dan cocok untuk bunda dan ayahnya.
"Ish, ini gara-gara ibu," gumamku.
"Uhhuk uhhuk."
Terdengar suara pak Sabil terbatuk-batuk. Dia kenapa ya? Pikirku. Makin saja aku tidak bisa tidur. Tiba-tiba, aku ingin ke kamar kecil. Sial! Setibanya di kamar mandi, ternyata, dia juga ke kamar mandi. Terdengar suara keran menyala di sebelahku.
"Uhhuk uhhuk."
Di kamar mandi dia masih batuk-batuk juga. Kenapa ya? Apa karena tidak nyaman? Aku menautkan alis seraya melakukan semua hal dengan perlahan karena tidak ingin terdengar oleh pak Sabil. Serius, ini sulit dan menyiksa sekali.
"Hoek."
Aku terkejut, apa dia muntah? Benar saja, dia memang muntah-muntah. 'Kok bisa 'sih? Tunggu, apa dia berbohong? Bisa saja 'kan sengaja berakting batuk dan muntah-muntah demi menarik perhatianku?
Lalu terdengar suara dia gosok gigi, kemudian suara pintu kamar mandi yang ditutup. Artinya, dia sudah keluar dari kamar mandi. Karena penasaran, muncullah perasaan ingin melihatnya. Ya, aku bisa mengintipnya dari balik tirai, 'kan? Agar dia tidak curiga, aku harus mematikan lampu kamarku supaya tidak ketahuan.
Tidak, aku tidak boleh melakukannya. Aku protes pada diriku sendiri. Jadinya, aku mengurungkan niat jahat itu. Jahat enggak 'sih kalau mengintip demi mengetahui sesuatu? Ish, jadi galau. Tapi, saat kudengar-dengar lagi, pak Sabil tidak batuk-batuk lagi. Syukurlah, berarti ... dia sudah tidur dan baik-baik saja. Akupun berusaha memejamkan mata kembali.
Namun, beberapa menit kemudian ....
"Hahh."
"Huhh."
"Hahh."
Malah terdengar suara itu. Mataku langsung terbuka lebar dan mengerjap. Suara apa itu? Maksudku, apa yang dia lakukan? Suaranya terdengar berat dan macho. Idih, apa yang kupikirkan?! Segera menutup telingaku dengan bantal.
"Hhh."
"A-a-hhh."
Tetap terdengar. Justru lebih jelas dari sebelumnya. Ini tidak bisa dibiarkan! Aku harus melihat apa yang terjadi. Dengan mengendap-endap, akhirnya memutuskan untuk mengintip. Ini rumahku, dan kamar itu bagian dari rumahku. Sampai di depan tirai, aku menyingkap sedikit tirai dan mulai mengintip ke sana. Semoga aku enggak bintitan gara-gara melakukan hal memalukan ini.
"Ha ---." Membekap mulutku sendiri, dan mata ini membulat seketika.
Di-dia hanya memakai celana panjang. Tidak memakai baju. Sedang melakukan push-up dengan meletakan sebuah bantal di bawah dadanya. Entah itu yang keberapa kalinya. Yang jelas, peluhnya telah bercucuran. Dan aku ... aku melihat otot-otot tubuhnya. Lengan, bahu, dan tulang selangkanya tampak kokoh dan kuat. Tidaak! Segera balik badan dan memegang dadaku yang tiba-tiba berdegup kencang.
"Se-ra-tus," katanya.
Gila, dia sudah melakukannya sebanyak seratus kali? Tidak! Tubuhnya terbayang-bayang. Aku pasti sudah gila. Segera naik ke tempat tidur dan mengurung diri. Bisa-bisanya aku mengintip.
Lanjut terdengar nada dering ponselnya. Walaupun berusaha tidak mau menguping, tapi tetap terdengar karena kamar kami hanya terpisah oleh kaca dengan roster yang sengaja dibuat sangat terbuka untuk melancarkan sirkulasi udara.
"Ya Komandan?"
Jam berapa ini? Bukankah dia libur? Kenapa masih ditelepon atasannya? Menguping berlanjut.
"A-aku sedang menginap di rumah calonku, Dan."
Apa katanya?! 'Calonku?' Aku tidak salah dengar, 'kan? Maksudnya, calon dia itu, aku? Benar-benar terlalu ke-PD-an.
"A-apa?! Pak Pratama Surawijaya kritis? Kenapa bisa? Apa pak Zulfikar sudah tahu?"
Aku langsung bangun. Setahuku, Pratama Surawijaya adalah papinya bu Dewi. Berarti, sedikit banyaknya, masalah ini ada hubungannya dengan sahabatku. Daini. Akupun jadi kepo.
"Baik, Dan. Aku akan ke sana? Oiya, izin, Dan. Apa perlu aku bawa anggota?"
"Baik kalau begitu, aku akan datang sendiri. Izin lagi, Dan. Apa aku diperkenankan membawa senjata api?"
"Baik, terima kasih, Dan. Aku segera meluncur. Kurang lebih sepuluh menit lagi akan tiba di TKP ," katanya.
Keingintahuan itu membuatku kembali mengintipnya. Malam ini, akal sehatku rupanya sedang spaneng. Jantung ini kembali berdegup, kali ini tak sanggup mengintip terlalu lama. Sebab, tanpa sengaja, aku melihat bagian dada dan perutnya yang kebetulan menghadap ke arahku. Spontan memalingkan wajah. Pipiku rasanya panas.
"Apa?! Baik, aku ke sana, Dan. Berarti, dari rumah pak Aksa aku langsung ke rumah sakit."
Mendengar kata 'Rumah pak Aksa,' terbesitlah keinginan itu. Ingin ikut. Aku harus ke sana untuk memastikan keadaan Daini baik-baik saja. Akupun bersiap dan menunggunya di pintu keluar.
"Ti-Tia?"
"Ya, kenapa?" Sambil melipat tangan di dadaku.
"Kenapa belum tidur? Kenapa juga pakai baju seperti itu?"
"Suka-sukaku, dong. Pak Sabil juga, kenapa belum tidur? Kenapa pakai jaket dan bawa pistol segala?"
"Aku mau pergi ke suatu tempat. Cepat masuk ke kamarmu." Lalu bergegas sambil merapikan jaketnya.
"Pak Sabil, tunggu. Aku ikut." Mengejarnya.
"Apa? Ikut?" Berbalik dan menatapku.
"Ma-maaf, aku mendengar percakapan Bapak."
"Kamu menguping?"
"Tidak, ma-maksudnya, a-aku tidak sengaja menguping. Tapi terpaksa mendengarnya karena kamar kita berdekatan," elakku.
"Oya? Benar hanya tak sengaja menguping? Tapi tidak sengaja mengintip, 'kan?"
"A-apa?! Ja-jangan asal bicara ya! Enak saja! U-untuk apa aku mengintip?" Berusaha tenang, semoga dia tak curiga.
"Lantas?" tanyanya sambil mengernyitkan dahi.
"Emm, aku mau ikut ke rumah pak Aksa. Aku mau bertemu Daini."
"Kenapa tidak bilang dari tadi? Baik, mari kita ke sana." Dia tersenyum, lalu menarik tanganku.
"Pak, lepas!"
"Ssst, yang lain sudah pada tidur. Aku akan menganggap kejadian ini sebagai kencan pertama kita, hehehe." Bisik-bisik dan memegang tanganku semakin kuat.
"A-apa?! Pak Sabil, sudah kubilang dengan jelas, aku tidak tertarik. Kalaupun Anda memaksa, aku hanya bersedia menjadi teman Anda. Tidak lebih dari itu."
"Berarti, kamu sudah memaafkanku?"
"Memaafkan? Akan aku pikir-pikir lagi."
"Baiklah. Sesukamu calon istri."
"Issh," ketusku. Menepisnya.
__ADS_1
"Ucapan adalah doa. Aku sedang berdoa." Sambil mengimbangi langkahku.
.
"Kemana mobil yang isinya ajudan pak Komjen?" tanyaku saat kami sudah berada di garasi.
"Mereka sedang menjalankan tugas lain." Dia membukakan pintu mobilnya dan memersilahkan aku masuk.
"Anda tidak izin dulu sama pak Komjen?"
"Tidak perlu, ini bagian dari tugasku. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan ayah."
"Maksudku izin dari seorang anak pada ayahnya."
"Oh, untuk masalah itu, aku sudah mengirimnya pesan. Sengaja tidak membangunkan ayah atau bunda karena takut mengganggu istirahat mereka." Mulai melajukan kemudi. Saat kulirik, beberapa tetes keringat masih menghiasi pelipisnya.
...⚘️⚘️⚘️...
"Pak Sabil."
"Hmm."
"Apa pekerjaan Anda selalu seperti ini?"
"Maksud kamu?"
"Kalaupun Anda lagi libur, apa tetap bekerja seperti ini?"
"Tergantung," jawabnya. Ambigu.
"Bukankah libur adalah hak Anda."
"Ya," jawabnya singkat.
"Tapi kenapa malam-malam seperti ini Anda ---."
"Tergantung atasan," selanya.
"Kenapa tidak tergantung pada peraturan?" Aku semakin tidak mengerti.
"Karena atasa punya wewenang."
"Tapi, punya wewenang bukan berarti bisa bertindak sewenang-wenang, 'kan?"
'Ckiiit.'
Ia langsung mengerem mendadak. Aku terkejut, sampai-sampai tanganku mengerat pada kursi mobil.
"Pak Sabil! Kaget tahu!"
"Jika kamu ditakdirkan menjadi istri seorang perwira polisi, kamu dilarang protes." Melajukan kembali mobilnya.
"Bukankah mengemukakan pendapat adalah hak setiap manusia?"
"Benar, silahkan kamu berpendapat. Syaratnya, cukup diutarakan dalam hati dan diam."
"Aku tidak mengerti maksudnya."
"Kalau Listia mau mengerti, kamu harus jadi istriku dulu," candanya.
"Sudah kubilang, aku tidak suka sama aparat. Khususnya polisi."
"Kenapa? Sebelumnya, kamu pernah menolakku tanpa dengan alasan yang tidak jelas. Sekarang, setidaknya, tolong jelaskan kenapa kamu tidak menyukai polisi?"
"Luar biasa, analisamu lumayan. Tapi ingat, hanya oknum. Jangan melibatkan semuanya, termasuk aku. Aku tidak seperti itu." Dia tersenyum ketir.
"Kepolisian Indonesia juga selalu mengeluh mengenai minimnya anggaran operasional mereka. Padahal saban tahun, usulan kenaikan anggaran terus muncul dan diklaim untuk meningkatkan kinerja dan profesionalitas. Bahkan, demi menutup anggaran operasional, usut punya usut, Polri menggunakan dana sumbangan dari pelapor, terlapor, hingga pengusaha."
"Ya ampun, Tia. Sejak kapan kamu melakukan observasi terhadap kami? Ck ck ck." Dia geleng-geleng kepala.
"Polisi itu harusnya mengayomi, melindungi, serta memberikan rasa adil kepada siapapun tanpa terkecuali. Namun, apa jadinya jika kepolisian yang justru jadi aktor kejahatan? Di negara ini, hidup sebagai warga sipil biasa jelas akan semakin berat jika tanpa perlindungan hukum. Alasannya karena hukum di negara kita sering tebang pilih." Aku lanjut berargumentasi. Dia terdiam, fokus pada jalanan.
"Pada akhirnya, warga sipil jelata hanya bisa menerima kenyataan pahit lantaran akan dihadapkan pada dua jenis pelaku yang berpotensi melakukan kejahatan dalam waktu yang bersamaan. Yaitu, penjahat berbaju preman serta perjahan yang beseragam serta berpistol." Dia masih terdiam.
"Padahal, semakin besar kekuatan dan kewenangan, maka kan semakin besar pula tanggung jawabnya. Namun, itu hanya 'dongeng.' Prinsip emas itu seolah terlupakan bahkan terkesan sengaja dihapus dari kamus yang berlaku di kepolisian." Aku kembali meliriknya, dia masih enggan berkomentar, hanya sesekali menggangguk dan menghela napas.
"Apa masih boleh aku beragumentasi?"
"Silahkan." Menjawab singkat.
"Parahnya, apa yang kukatakan tadi bukanlah apatisme. Namun nyata adanya dan dapat disaksikan oleh mata kepalaku sendiri karena memang sengaja dipertontonkan oleh aparatur penegak hukum. Pada akhirnya, semakin lemah kondisi rakyat sipil jelata baik dari segi ekonomi maupun politis, maka akan semakin tidak berdaya di mata hukum."
"Hmm, kenapa kamu tidak kuliah mengambil jurusan hukum saja?"
"Tidak tertarik."
"Lanjut, aku senang mendengarnya. Argumentasmu, membuatku semakin jatuh cinta."
"Ishh," dengusku. Dia malah senyum-senyum.
"Ada yang mengatakan, semakin besar dan semakin kuat kewenangan monopolistik kepolisian, sama artinya dengan semakin melemahkan rakyat sipil jelata," katanya. Dia sedang menilai dirinya sendiri.
"Anda benar, Pak. Karena akan semakin banyak hak-hak yang ditanggalkan dari rakyat sipil. Misal, hak untuk main hakim sendiri, hak membekuk, hak untuk membalas dan lain sebagainya. Bahkan, hukum di negara kita melarang rakyat jelata melakukan affirmative action dengan menyerang terlebih dahulu pihak-pihak yang menjahati dan mengintimidasi kita sekalipun." Senyumnya malah semakin lebar.
"Heran bukan? Di saat lawan kita sudah mengambil ancang-ancang untuk menganiaya. Kita justru harus membiarkan diri kita dipukul dan terluka terlebih dahulu untuk bisa disebut melakukan perlawanan dalam rangka membela diri. Dan itupun belum tentu ada jaminan bahwa laporan kita akan ditindak lanjuti pihak berwajib."
"Makanya, kalau mau ditindak lanjuti, kamu harus menjadi bagian dari polisi. Caranya, ya dengan menjadi ibu bayangkari."
"Pak Sabil! Aku sedang serius!"
"Aku juga serius.Baik, lanjutkan!" titahnya.
"Ujung-ujungnya, luka-luka ataupun trauma yang diderita rakyat sipil jelata hanya akan menjadi sia-sia, menimbulkan sakit hati, dan juga sakit perasaan karena tidak mendapat keadilan," tandasku.
"Yes, we are The Lord Action," gumamnya.
"Rakyat sipil jelata hanya bisa mengemis dengan segala kerepotannya pada pihak kepolisian. Jadinya, daya tawar rakyat sipil jelata menjadi tertekan sedemikian rupa baik secara fisik maupun psikologis. Pokoknya, kalau punya anak, aku akan melarang anakku jadi polisi."
"Setuju," celetuknya.
"Sebenarnya, masih banyak unek-unek yang ingin aku sampaikan. Tapi malas ah. Jadi, cukup sekian saja."
"Baik, terima kasih. Sudah aku rekam kok, nanti apa yang kamu katakan akan aku sampaikan di forum pusat."
"A-apa?! Pak Sabil! Anda tidak serius, 'kan?! Kumohon, jangan katakan apapun pada atasan Anda. Aku berani bicara demikian hanya pada Anda saja."
"Hahaha." Di saat aku ketakutan, dia malah tertawa.
"Pak Sabil!"
"Memang ada agendanya mendengarkan keluhan masyarakat. Jadi, apa yang kamu lakukan sudah tepat. Karena merupakan salah satu bentuk kepedulian masyarakat terhadap institusi kepolisian."
__ADS_1
"Pak Sabil! Jangan! Aku takut. Bagaimana kalau aku ditangkap gara-gara itu?!"
"Nah, sikap kamu juga harus dikritisi."
"Maksudnya?"
"Kalau yang mempunyai pemahaman sebagus kamu penakut semua, lalu bagaimana cara kritik terhadap polisi itu bisa tersampaikan? Percuma saja, 'kan? Contoh, jika semua mahasiswa takut turun ke jalan, terus yang demo siapa dong?"
"Masih bisa demo 'kok. Pakai pendemo bayaran," jawabku.
"Hahaha, kamu bisa saja." Dia tertawa sambil mengacak-acak rambutku.
"Hahaha." Spontan, aku juga ikut tertawa.
"Ngomong-ngomong, apa kamu sudah izin mau keluar malam-malam?" tanyanya.
"Belum."
"Lho, kenapa?"
"Aku juga kasihan sama ibu dan bapak. Mereka pasti sudah tidur. Lagi pula, aku keluarnya bersama Pak Sabil. Anda 'kan polisi, bisa menjaga dan mengamankanku, bukan?"
"Tentu saja. Apa kamu sudah mulai nyaman berada di sisiku?"
"Enggak tahu ya. Aku belum yakin."
"Aku akan menunggu. Oiya, sebentar lagi kita sampai. Pakai jaketku." Mengambil jaket yang terletak di kursi belakang.
Aku patuh, saat ini sudah menggunakan jaketnya. Apa aku sudah memaafkan pak Sabil? Entahlah.
...⚘️⚘️⚘️...
Tiba di rumah pak Aksa, aku dan pak Sabil dikejutkan oleh keramaian dan kegaduhan yang terjadi di pekarangan rumah. Semuanya sedang berkumpul. Tampak Daini sedang dipeluk oleh kak Gendis, dan bu Dewi dipeluk oleh bu Yuze. Pak Aksa melamun di kursi roda, ada empat orang polisi dan beberapa karyawan rumah pak Aksa. Namun, aku tidak melihat pak Direktur dan pak Reza.
"Huu, semua ini gara-gara kamu, Daini! Dasar pelakor! Pembunuh kamu, Daini!" teriak bu Dewi.
"Sayang, kamu tidak pantas menyalahkan siapapun. Ini takdir," tegas bu Yuze.
"Daini," panggilku. Sementara pak Sabil tampak berbincang dengan polisi.
"K-Kak Listi?" Daini langsung berhambur ke pelukanku.
"A-ada apa, Neng?" Aku mengusap airmatanya yang menganak sungai. Matanya sembab, hidungnya memerah.
"Huks, pa-papinya Bu Dewi me-meninggal, Kak," bisiknya.
"A-apa?! Innalillahiwainnailaihirojiun! Kapan, Neng?!"
"Ta-tadi pak Zulfikar menelepon, Kak." Aku terdiam. Bingung mau berkomentar apa.
"Aku mau ke rumah sakit! Sekarang!" Bu Dewi terus teriak dan meronta.
"Pak Aksa, aku dan dua anggota akan mendampingi bu Dewi ke rumah sakit," kata pak Sabil.
"Silahkan. Jaga dia baik-baik ya, Uu. Saya akan langsung menyusul ke rumah duka saja," sahut pak Aksa dengan ekspresi dingin. Lalu memberi isyarat pada asistennya untuk membantu mendorong kursi rodanya.
"Bu Dewi, mari." Pak Sabil mengulurkan tangannya pada bu Dewi.
"Tak sudi aku bersentuhan dengan tangan kotor kamu Sabil! Ingat, kamu juga ikut andil dalam kematian papiku!"
"Apa?!" Pak Sabil melongo sambil mengangkat bahunya. Lalu menyusul bu Dewi yang sudah naik ke dalam mobil.
"Mama, aku juga mau ikut," kata Daini. Meminta izin pada bu Yuze.
"Boleh, tapi tidak ke rumah sakit sayang. Besok saja setelah shalat Subuh langsung ke rumah duka. Kak Listi, terima kasih sudah datang ke sini. Kak Listi temani Daini ya," bujuk bu Yuze.
"Baik, Bu." Sambil melirik pada pak Sabil yang berlalu.
"Uu akan baik-baik saja, 'kok," kata bu Yuze. Aku segera memalingkan wajah.
"Apa Kak Listi mulai menyukai Pak Sabil?" bisik Daini sambil mencubit cuping hidungku.
"A-apa? Tidak, Neng. Tidak."
"Tapi, tatapan Kak Listi seperti mengkhawatirkan Pak Sabil."
"Khawatir bukan berarti cinta, 'kan Neng?" Sembari menuntunnya untuk masuk ke dalam rumah. Apa jadinya kalau Daini tahu ayah bundanya pak Sabil menginap di rumahku?
"Neng, 'kok bisa 'sih bu Dewi menyalahkan kamu?" tanyaku saat kami tiba di kamarnya.
"Psikis bu Dewi mengalami gangguan, Kak. Jadi, apa yang dia katakan tidak boleh diambil hati."
"Ya ampun, Neng. Terus, kamu biarkan saja begitu?" Ia mengangguk. Malah bersiap untuk mengambil wudhu. Pasti mau shalat atau ngaji.
"Kata pak Zulfikar, keluarga bu Dewi menganggap kematian pak Pratama Surawijaya sangat janggal. Jadi keluarga bu Dewi mengajukan autopsi."
"Ya ampun, mengerikan sekali, Neng." Aku bergidik.
"Pak Zulfikar dan pak Aksa juga setuju untuk autopsi, Kak. Sebab dengan cara itu, setidaknya, penyebab kematiannya akan diketahui. Pak Zulfikar ataupun pak Aksa, tentu saja tidak mau disangkutpautkan dengan kematian pak Pratama Surawijaya. Tapi, karena mereka tengah berselisih, kasus ini jadi sedikit rumit," jelasnya.
"Hmm, sabar ya Neng." Aku kembali memeluknya, lalu menyadari kalau jilbab Daini basah.
"Neng, rambut kamu basah?"
"I-iya, Kak." Tersipu.
"Jangan bilang kalau kamu ---."
"Sudah ah. Aku mau ngaji untuk almarhum pak Pratama Surawijaya," selanya sambil berjalan menuju kamar mandi.
Aku menghela napas, melihat ada dua bantal yang tertumpuk di sofa, dan sabuk pak Zulfikar yang masih tergeletak di tempat tidur, aku jadi semakin. Ya ampun, memangnya seperti apa 'sih istimewanya kehidupan berumah tangga? Aku jadi penasaran.
Tiba-tiba terbayang pak Sabil sedang push-up dan aku ada di bawah tubuhnya.
"Arrgghh," teriakku.
"Kak Listi, kenapa, Kak?" Daini yang baru keluar dari kamar mandi langsung panik.
"Ti-tidak Neng, a-aku ti-tidak apa-apa." Mendadak gugup.
"Wajah Kak Listi merah lho," duganya.
"A-aku juga mau ngaji." Segera mengalihkan tema dan bergegas ke kamar mandi.
"Apa Kak Listi ingat sama pak Sabil?" teriak Daini saat aku sudah berada di kamar mandi.
Aku memilih pura-pura tidak mendengarnya. Dan kenapaaa? Kenapa pak Sabil yang sedang push-up terbayang-bayang terus, 'sih? Benar, harus segera berwudhu untuk menjernihkan kembali pikiranku.
"Ciyeee, pirikitiew." Daini masih berulah.
...⚘️⚘️⚘️...
__ADS_1
...~Tbc~...