Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Aura Positif


__ADS_3

Bibirku sedikit menyeringai saat aku tahu jika abah berencana memperjuangkan hak calon cucunya. Ya, orang tua mana 'sih yang tidak ingin putra-putrinya bahagia? Saat pertama kali bertemu abah, dari tatapan matanya aku sudah melihat kalau abah adalah orang tua yang bijaksana dan penyayang. Jadi, mana mungkin beliau diam saja setelah mengetahui kejadian ini.


Kali ini, aku melajukan kemudi lumayan cepat. Alasannya karena menyeibangkan laju mobilku dengan kecepatan mobil pak Ikhwan. Aku tertinggal lumayan jauh karena saat melintasi bekas kostan Hanin, aku berhenti dulu. Ini kulakukan demi mengenang masa-masa awal pertemuanku dengannya.


Minimarket, simpang jalan, dan depan kostan adalah lokasi yang selalu kuingat. Dari pertemuan di tempat-tempat tersebut, setelah diingat-ingat, jelas sekali kalau aku sudah menyukainya.


...🍒🍒🍒...


Tak terasa, gerbang rumah mama papa telah ada di depan mata. Mobil pak Ikhwan sudah masuk lebih awal. Gerbangnya terbuka, pak Ikhwan mungkin sudah memberitahu penjaga kalau aku akan datang.


"Zul."


Di teras rumah, kak Gendis menyambutku. Dia memelukku setelah aku bersalaman dengannya. Tatapan kak Gendis masih sama seperti terakhir kali aku melihatnya. Sembab dan sendu.


"Zul, Kakak mau ikut sama kamu ya, boleh 'kan? Kakak tahu dari pak Ikhwan kamu mau ke sini. Kakak sudah siap-siap," katanya sambil menguntitku.


"Ikut? Ikut ke mana, Kak? Kenapa tidak di rumah saja temani mama papa? Heran 'deh," tolakku.


"Zul, Kakak sudah resign dari kantor, di rumah Kakak pusing disinggung terus sama mama. Kakak stres Zul, Kakak sering dikatai anak tak berguna, please Zul, Kakak ikut ke rumah kamu ya, gak apa-apa 'deh jadi supirnya kamu atau jadi asistennya Dewi," katanya.


"Apa?!"


Aku kaget, menghentikan langkah dan berbalik badan. Aku menatap kak Gendis dengan tatapan tajamku.


"Jadi supirku? Jadi asistennya Dewi? Jangan ngadi-ngadi (mengada-ada) 'deh, Kak! Lagi pula, siapa juga yang menyuruh Kakak resign? Heran aku sama Kakak! Sudah 'lah, aku juga lagi pusing." Lantas aku melangkah cepat meninggalkannya.


"Zul, Kakak terpaksa resign karena tak sanggup jadi bahan pergunjingan!" teriak kak Gendis.


"Aku sebenarnya mau saja membawa Kakak, tapi aku tak yakin Kakak bisa beradaptasi dengan kehidupanku."


"Zul, Kakak mau berusaha. Kakak mohon, Zul. Tidak ada lagi yang bisa Kakak andalkan selain kamu. Saat Kakak di rumah saja, kalau mama melihatku, mama seakan-akan trauma, Zul. Mama kecewa berat dengan kasus peceraianku." Kak Gendis lanjut menyusulku hingga kami hampir sampai di ruang kerja papa.


"Kak, nanti kita bicara lagi. Oke, aku mau membawa Kakak. Tapi tidak hari ini, aku ada urusan penting sama papa dulu."


Aku memegang bahunya. Melihat tatapan memelas kak Gendis, aku jadi tak tega mengabaikannya.


"Serius kamu mau bawa Kakak?" Dia menatap tak percaya. Aku mengangguk.


"Tapi tidak sekarang, Kak."


"Kenapa, Zul?"


"Kak Gendis, hari ini aku mau ke Bandung. Aku ada urusan."


"Kerja? Aku mau tetap ikut, Zul." Dia bersikukuh.


"Kak, aku di sana mau menyelesaikan urusan yang bahkan lebih penting daripada urusan kantor. Kak Gendis itu muda, cantik, dan punya banyak uang tabungan, kenapa Kakak tak main sama teman-teman Kakak saja?" Aku merundungnya dengan sesuatu yang seharusnya tak perlu kukatakan.


"Huks, Zul ... sama papa dan mama Kakak tak boleh pergi ke mana-mana, mungkin hanya dengan pergi bersama kamu Kakak diizinkan."


Aku mengusap airmatanya. Apa aku biarkan saja Kak Gendis tinggal bersama Dewi? Dengan cara ini, cepat atau lambat, aku yakin kak Gendis akan menemukan keanehan dari sifat-sifat Dewi. Keberadaan kak Gendis justru bisa membantuku dalam mengumpulkan barang bukti. Kak Gendis bisa jadi saksi.


"Baik, aku akan membawa Kakak ke rumahku. Jangan nangis lagi ya." Aku memeluknya.


"Pak Zulfikar, cepat masuk," ajak pak Ikhwan yang tiba-tiba muncul dari ruang kerja papa.


"Kakak siap-siap saja, aku bertemu papa dulu." Kak Gendis mengangguk.


...🍒🍒🍒...


"Assalamu'alaikuum," sambil meraih tangan papa untuk kucium.


"Wa'alaikumussalaam," jawab papa. Lalu berdiri dan menatapku tajam. Aku mematung menatap lantai.


'PLAK.' Papa langsung menamparku.


"Pak Aksa, jangan Pak!" pak Ikhwan pasang badan.


"Minggir, Ikhwan! Minggir!" teriak papa.


"Tapi, Pak. Masalah ini bisa diselesaikan baik-baik, tak perlu dengan kekerasan," kata pak Ikhwan.


"Minggir!"


Papa bersikeras. Pak Ikhwan akhirnya mengalah. Ia menggeser tubuhnya. Berdiri tegap di sampingku. Aku kian menunduk.


'Bugh.'


Kali ini, Papa meninju ulu hatiku. Aku meringis. Rasanya sesak dan membuatku mual. Aku oleng sambil memegang bagian tubuh yang tadi ditendang papa. Lalu papa bersiap lagi. Ia hendak melayangkan tendangannya ke tubuhku. Pak Ikwan menutup mata sambil meringis. Mungkin turut merasakan kesakitanku.


"Papa! Hentikan!" Kak Gendis tiba-tiba datang. Dia memeluk tubuhku.


"Gendis, minggir! Kamu tak tahu apa-apa!" teriak papa.

__ADS_1


"Huuu, cukup Pak! Cukup! Jangan memojokkan aku dan Zul sebagai anak-anak yang selalu salah di mata mama papa. Aku memang tak tahu apa-apa. Tapi Papa tak pantas menyiksa anak sendiri!" teriak kak Gendis sambil tetap memelukku.


"Gendis, kamu tak tahu seberapa buayanya adik kamu itu! Asal kamu tahu ya, dia sudah mencoreng nama baik keluarga dengan sesuatu yang memalukan yang bahkan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kasus kamu!" tegas papa.


"Aku tak mau tahu! Pokoknya aku tak suka Papa main kasar sama Zul!" bela kak Gendis.


"Gendis!" Papa menarik kasar tangan kak Gendis.


"Papa, cukup!"


Aku menahan tangan papa. Aku tak terima kak Gendis dikasari. Pak Ikhwan gelisah dan kebingungan. Ia mondar-mandir tak jelas.


"Dasar anak-anak tak berguna! Kalian tak menghargai bagaimana Papa dan kakek buyut kalian berjuang jerih-payah dan mati-matian demi merintis usaha dari nol hingga keluarga kita bisa jadi seperti ini! Kalian hanya perlu patuh saja tapi sulit! Padahal kalian itu tinggal meneruskan saja!" teriak papa sambil menunjukku dan kak Gendis.


"Pa! Kasus peceraianku sama sekali tak ada hubungannya dengan perusahaan kita! Aku becerai karena belum bisa memiliki keturunan! Itu bukan kemauanku, Pa! Mau sampai kapan Papa terus menyalahkanku?!" teriak kak Gendis.


"Kamu tak sadar berapa banyak kerugian yang Papa keluarkan untuk mengurus kasus kamu?! Kamu lupa saham kita anjlok selama kamu melewati proses persidangan?! Harusnya kamu bisa mempertahankan pernikahan kamu dan tak menggugat cerai!"


"Aku menggugat cerai karena tak bisa terus-menerus pura-pura bahagia! Aku tertekan karena selalu disinggung sebagai wanita mandul! Padahal kata dokter kandungan aku sehat! Aku sakit hati, Pa! Bukannya di persidangan Papa sudah tahu alasannya?!" teriak kak Gendis tak mau kalah.


"Cukup Gendis! Kamu tak pantas meneriaki Papa seperti itu! Asal kamu tahu saja ya! Adik kesayangan kamu itu mengkhianati istrinya dengan dalih mabuk berat dan salah kamar seperti di sinetron-sinetron! Adik kamu berzina dengan wanita lain di malam pertamanya!" jelas papa.


"Apa?!" Kak Gendis melongo, mundur beberapa langkah sambil menatapku.


"Kak Gendis, Kakak harus dengar dulu penjelasanku! Apa yang Papa tuduhkan itu tidak benar, Kak. Ada baiknya Papa dan Kakak mendengarkan penjelasan dari Pak Ikhwan dulu," selaku.


"Huuu, hwaaa, huuu."


Kak Gendis menangis meraung-raung sambil bersimpuh di lantai. Aku segera memeluknya. Dia lantas menangis di dadaku.


"Percaya padaku, Kak. Aku tidak berzina. Ya, aku memang poligami, tapi aku punya alasan kuat hingga memutuskan untuk memiliki wanita lain selain Dewi. Papa terlalu cepat menyimpulkan keterangan mama tanpa melihat dulu fakta-faktanya," jelasku sambil membelai rambut kak Gendis.


"Zul, huuu ... ayo kita pergi saja dari rumah ini, apapun alasannya, Kakak tak peduli. Kakak tak ingin ikut campur masalah kamu. Pokoknya, Kakak mau segera pergi dari rumah ini. Huuu."


"Pak Aksa, saya membawa berkas dari kepolisian berikut rekaman CCTV-nya. Saya dan pak Sabil telah melakukan gelar perkara untuk kasus pak Zul dan istri mudanya. Hasilnya bisa Anda baca. Intinya, Pak Zulfikar dan bu Daini memang tidak bersalah. Kami juga telah melibatkan saksi-saksi yang merupakan bartender dan pelayan hotel," jelas pak Ikhwan.


"Kamu yakin wanita bernama Daini itu tidak bersekongkol dengan pelayan hotel?!" sentak papa.


"Tidak, Pak. Kami tidak memiliki bukti ke arah sana. Selain itu, dari olah data CCTV, polisi menyimpulkan jika kasus ini murni ketidaksengajaan. Pertama, wanita bernama Daini diduga tak sengaja meminum minuman yang di dalamnya mengandung obat. Sampai saat ini, polisi belum menemukan pelaku yang sengaja meletakan obat kuat di minumannya bu Daini. Kasusnya masih diselidiki."


"Kedua, Pak Zulfikar dicekok obat kuat dosis tinggi oleh pak Aryo. Hasil penyelidikan, polisi menemukan fakta bahwa pak Aryo sengaja memberikan obat itu pada minuman pak Zulfikar. Motifnya sedang didalami. Kata pak Sabil, baru bisa memanggil pak Aryo besok lusa. Surat pemanggilannya 'sih sudah dikirimkan hari ini," jelas pak Ikhwan. Kak Gendis menyimak dalam keadaan masih terisak-isak.


"Ketiga, ketidaksengajaan dilakukan juga oleh petugas kamar hotel. Petugas itu lupa mengunci pintu kamar milik Pak Zulfikar. Jadi, dalam keadaan mabuk, bu Daini yang saat ini sudah menjadi istri Pak Zulfikar tak sengaja masuk ke kamar itu. Ia mengira kamar tersebut nomor 38. Karena mabuk, nomor 33 berbayang dan dikira nomor 38," tambah pak Ikhwan.


"Kamu tetap salah Zul," kata papa.


"Ya, Pa. Aku memang salah." Aku berdiri pelan sambil memegang tangan kak Gendis.


"Harusnya, sebelum kamu memutuskan menikahi wanita itu, kamu bicara dulu sama Papa. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu malah mengambil langkah seorang diri tanpa persetujuan Papa."


"Pa, aku mengambil keputusan tanpa Papa karena tak mau membebani Papa. Selain itu, a-aku juga mencintai dia, Pa."


"Apa katamu?! Cinta? Hahaha, apa kamu lupa kalau wanita pilihan kamu pernah menipu keluarga kita?"


"Pa, Hanin berbeda dengan Angel. Dia wanita baik-baik. Jangan samakan Angel dengan Hanin, Pa. Mereka beda orang. Beda isi kepala," belaku.


"Begini, kamu sudah becerai 'kan dengan wanita itu? Papa dikirim rekaman preskonnya Dewi," kata papa. Nada bicaranya mulai pelan.


"Itu yang mau kami bicarakan," sahut pak Ikhwan.


"Kamu diam dulu Ikhwan. Aku mau bicara sama si Zul," sela papa.


"Maaf Pak." Pak Ikhwan tertunduk lagi.


"Apa yang dikatakan Dewi di preskon tak benar, Pa. Aku tidak menceraikan Hanin," jelasku.


"Ya sudah, kamu ceraikan sekarang saja," kata papa.


"Tidak bisa, Pa. Sampai kapanpun, kecuali dia mengkhianati cintaku, aku tidak akan menceraikan Hanin. Alasannya ada banyak. Pertama, aku mencintainya. Kedua, Hanin sedang mengandung anakku," jelasku.


"Apa?!" kata papa dan kak Gendis serempak. Mereka membelalak.


"Siapa yang hamil? Siapa?" Tiba-tiba mama datang. Aku terdiam.


"Istri keduanya Zul, Ma."


Kak Gendis yang menjawab. Aku membisu. Padahal, Hanin menyuruhku merahasiakan kehamilannya. Tapi, ini sudah terlanjur. Lagi pula, kupikir akan lebih baik kalau mama dan papa mengetahuinya. Biarpun aku dan Hanin masih menikah siri. Anak yang lahir dari Hanin, tetaplah cucu sahnya mama dan papa.


"Bu Daini mengandung bayi kembar, ini kabar baik, kan? Selamat ya Pak Aksa, Bu Yuze," tambah pak Ikhwan sambil tersenyum.


"Kembar?!" Mama, papa, serta kak Gendis termangu dan terkejut untuk yang kedua kalinya.


"Benar kembar, Zul? Ya ampun, kamu beruntung sekali. Huuu, Kakak terharu, Zul."

__ADS_1


Kak Gendis meloncat ke pangkuanku sambil menangis haru. Mama dan papa saling menatap. Aku berdoa di dalam hati agar hati mama dan papa luluh setelah mengetahui kalau mereka akan memiliki cucu kembar, calon penerus keluarga Antesena.


"Di mana istri kamu sekarang? Emm, maksud Mama istri siri kamu."


Mama menatapku dengan tatapan sinis, tapi dia menanyakan keberadaan Hanin. Semoga ini pertanda baik.


"Kandungan Hanin lemah, Ma, Pa. Jadi aku membawanya ke Bandung," jelasku.


"Cepat bawa dia ke sini, Zul! Mama ingin bertemu dia. Kok bisa 'sih kandungannya lemah?! Jangan-jangan dia memang tak becus menjaga kehamilannya," ketus mama. Saat kumelirik pada papa, papa sedang mengernyitkan alisnya.


"Apa itu artinya Mama dan Papa merestui pernikahanku?" tanyaku sambil menatap pada mama dan papa secara bergantian.


"Enak saja! Tidak, Mama tetap tidak setuju kamu poligami! Mama hanya ingin memastikan calon cucu Mama baik-baik saja, ya 'kan Pa?" Mama meminta pendapat pada papa.


"Mama kamu benar. Papa setuju dengan Mama. Kamu harus membawa istri kamu ke rumah ini. Mama dan Papa harus mengontrol kehamilannya. Awas saja kalau sampai dia makan sembarangan dan membahayakan calon cucu kita!"


Mendengar ucapan mama, bibirku tersenyum. Mataku berkaca-kaca. Aku merasa ini adalah pertanda baik jika ke depannya Hanin akan diterima.


"Pak Aksa, Mama Yuze, saya pribadi sangat senang mendengar keputusan ini. Itu artinya, kita hanya perlu mengurus meresmikan pernikahan antara Pak Zulfikar dan bu Daini. Untuk mendapatkan itu, mau tidak mau, Pak Zulfikar harus mendapat izin menikah lagi dari bu Dewi," kata pak Ikhwan.


"Masalah izin dari Dewi, Mama pribadi tak mau tahu. Mama hanya ingin calon cucu Mama ada di bawah pengawasan Mama," tegas mama.


"Kalau menurut Pak Aksa bagaimana? Kita terbentur surat perjanjian pranikah, Pak. Jika tak ada restu dari bu Dewi, maka anak yang dilahirkan dari bu Daini otomatis tak memiliki status hukum," tutur pak Ikhwan.


"Status anak yang dilahirkan dari pernikahan siri tidak dapat disebut sebagai anak dalam pernikahan yang sah secara hukum. Di mata hukum, status kelahirannya akan sama seperti anak di luar nikah. Hal ini sesuai dengan pasal 43 ayat (1) yang menyebutkan bahwa anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya," tambah pak Ikhwan sambil menatap papa.


"Hmm, kamu yang sudah menyalakan api, Zul. Sekarang ya tugas kamu bagaimana caranya memadamkan api itu. Silahkan kamu lakukan sesuatu untuk memperjuangkan status anak itu. Tapi ingat, apa yang kamu lakukan jangan sampai merusak hubungan baik dan kerja sama antara Papa dan orang tuanya Dewi," tegas papa.


"Jadi, Papa dan Mama tidak akan membantuku?"


"Tidak!" jawab mama dan papa serempak.


"Baik, beri aku waktu," tegasku.


Mama dan papa ingin memantau kandungan Hanin saja sudah cukup membuatku bahagia. Aku hanya perlu membuktikan pada mama dan papa kalau Dewi tidak sebaik yang mereka kira. Untuk sementara waktu, biarlah publik mengira kalau aku dan Hanin sudah becerai.


"Pokoknya, besok, istri siri kamu harus sudah ada di rumah ini," tegas mama.


"Namanya Daini Hanindiya Putri Sadikin, Ma," jelasku.


"Terserah Mama dong mau panggil dia apa!" katanya. Lalu bergegas meninggalkan ruangan papa.


"Pak Reza, Pak Reza, Juju, Ipi, cepat ke kamarku! Aku ada tugas untuk kalian," teriak mama saat ia sudah berada di luar ruang kerja papa.


"Terima kasih, Pa." Aku memeluk papa.


"Terima kasih untuk apa? Papa tak merasa mendukung poligami kamu." Sambil menepis dekapanku.


"Ikhwan, hari ini kamu ajak semua polisi yang menangani kasus si Zul untuk menghadapku."


"Baik, Pak."


"Sekalian kamu bawa juga semua bukti dan seluruh saksinya."


"Baik, Pak."


"Pa, kalau begitu, aku pamit. Mau menjemput Hanin," kataku.


"Silahkan," jawab papa, dingin.


"Pa, aku izin ikut ke Bandung, boleh ya?" kata kak Gendis.


"Silahkan," tegas papa sambil menyalakan laptopnya.


"Yey, terima kasih, Papa. Kita damai ya, Pa." Kak Gendis mendekati papa, lalu mencium pipi papa.


Akupun mendekati papa dan memeluk papa. Papa tak lagi menolak saat aku dan kak Gendis memeluknya. Pak Ikhwan tersenyum sambil mengacungkan jempol.


Alhamdulillah, kehamilan Hanin ternyata membawa aura positif. Ya, tak dipungkiri, mama dan papa memang sangat mendambakan kehadiran cucu. Dari pernikahan kak Gendis, mereka telah menunggu cucu selama 8 tahun. Namun hingga pernikahan kak Gendis kandas, cucu yang mereka nantikan tak kunjung datang juga.


Hanin pasti bahagia kalau dia tahu mama dan papaku menerima kehamilannya. Terima kasih, yaa Rabb. Saat memeluk papa, tak terasa, airmataku jatuh. Aku menangis karena teramat bahagia.


Tunggu aku sayang, aku akan membawa kabar bahagia untuk kamu dan calon anak-anak kita.


Rasanya, ingin cepat-cepat tiba di Bandung dan segera memeluknya.


Walaupun jalan untuk mendapat restu dari Dewi pasti terjal dan curam, aku janji akan menghadapinya dengan senang hati. Aku tidak akan mundur apa lagi menyerah.


SEMANGAT, ZUL! Teriakku dalam hati.


...~Tbc~...


...Yuk komen yuk! Tolong beri saran pada pak Zulfikar agar dapat restu dari bu Dewi tanpa melanggar surat penjanjian pra nikah. Tulis di kolom komentar ya....

__ADS_1


__ADS_2