
Zulfikar Saga Antasena
Tidak biasanya Hanin lambat membalas pesanku, tidak biasanya juga dia telambat menerima telepon dariku. Ada apa ya? Aku akhirnya menelepon dokter Rahmi untuk memperolah informasi lebih banyak tentangnya.
"Bu Daini baik-baik saja, Pak. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dia sedang semangat membaca teori senam hamil. Katanya, walaupun bayinya kembar, bu Daini tidak mau dioperasi. Mau lahir normal." Kubaca kembali pesan dari dokter Rahmi.
Dokter Rahmi juga mengirimkan foto-foto Hanin. MasyaaAllah, dia semakin cantik dan bersinar. Badannya semakin berisi dan tambah seksi saja. Mungkin, Hanin sedang memasuki fase fokus pada diri dan bayinya dalam menghadapi trimester dua kehamilan.
Aku lantas memejamkan mata, perlahan menghadirkan Hanin dalam imajinasiku. Aku merindukannya. Sangat-sangat merindukannya. Namun, masalah yang kuhadapi saat ini amatlah pelik.
Sebenarnya, tengah terjadi perang dingin antara perusahaan pamannya Dewi dengan anak perusahaan milik papa. Pamannya Dewi tiba-tiba mengungkit kembali sengketa lahan perusahaan yang sebenarnya telah dimenangkan kasusnya oleh papa.
Entah siapa yang mengakomodir, tiba-tiba ada sekelompok masyarakat yang memblokir akses ke perusahaan dan mengaku sebagai ahli waris pemilik lahan perusahaan yang terkena gusuran dan belum mendapatkan ganti rugi.
"Permisi," suara Tania.
"Masuk," sahutku.
Dia masuk dengan tergesa. Sepertinya ada hal penting yang akan disampaikan.
"Ada apa? Bukankah tugasku sudah selesai? Ada rapat lagi jam dua setelah makan siang, 'kan?"
"Ya, Bapak benar. Tapi, saya baru saja dapat kabar dari pak Reza kalau pak Aksa sedang dalam perjalanan menuju ke sini."
"Apa?! Bukankah papaku mau menemui teman lamanya?"
"Saya tidak tahu, Pak. Pokoknya, kata pak Reza, dari Bandara Soekarno Hatta, pak Aksa mengatakan ingin ke sini dan meminta waktu pada saya untuk mengagendakan pertemuan dengan Anda yang sifatnya formal."
"Formal?"
Aku menautkan alis, untuk sementara waktu kami tinggal di rumah yang sama. Harusnya, papa bicara langsung saja. Kenapa harus di kantor dan secara formal?
"Bagaiamana Pak? Kira-kira, harus saya agendakan jam berapa?"
"Jam tiga saja. Jadi, setelah rapat yang jam dua selesai, kamu agendakan pertemuanku dan papa di kafetaria depan kantor. Kebetulan, aku juga sudah lama enggak makan di luar bareng papa."
"Maaf, Pak. Itu artinya, apa pak Aksa harus menunggu Anda rapat dulu?"
"Tania, papa tiba-tiba datang secara mendadak. Kamu tak perlu memermasalahkan papaku akan menunggu atau tidak. Papaku itu seniorku. Dia juga pasti paham dan memaklumi kesibukanku. Jika sudah tidak ada yang ingin ditanyakan lagi, kamu boleh pergi."
"Ba-baik, Pak. Kalau begitu saya pamit."
Tania berlalu sambil menunduk. Sejak ia terciduk pernah menemui dan berbincang-bincang dengan Dewi serta bu Silfa, aku jadi kurang menyukai kinerja kerjanya. Ingin menggantinya namun aku tidak punya wewenang untuk urusan itu. Terlebih alasanku ingin memecatnya adalah lantaran masalah pribadi.
Kira-kira, apa yang ingin dibicarakan sama papa ya? Apa jangan-jangan .... Aku jadi terpikirkan kasus-kasus yang belakangan ini terjadi. Apa mungkin papa menyadari semuanya?
Sebelum rapat, aku mengirim pesan untuk Hanin.
"Sayang, aku merasa hari ini kamu berubah jadi dingin. Kenapa? Apa ada yang salah denganku? Jika ada, tolong maafkan suamimu ini ya sayang. Tolong jangan terlambat membalas pesan menerima telepon dariku lagi." Pesan terkirim.
"Itu hanya perasaan Bapak saja," balasnya.
Aku senang karena dia langsung membalas pesanku.
"Kamu semakin cantik sayang. Sepertinya, akan menyewa heli pribadi untuk bisa menemui kamu lebih cepat. Malam ini atau lusa."
"Kalau Bapak mau menemuiku karena alasan ingin bercinta, lebih baik jangan ke Bandung. Tapi, kalau alasannya ingin bersilaturahim ya silahkan saja. Pak, di sisi Anda ada bu Dewi. Bu Dewi bisa memenuhi kebutuhan biologis Anda. Maaf karena aku membahas ini." Aku tersenyum. Apa mungkin wanita ini sedang cemburu?
"Sayang, aku dan Dewi dilarang melakukan hubungan intim. Kandungannya lemah."
"Benarkah?" Dia mengirim emoji keheranan.
"Ya sayang. Kenapa? 'Kok kamu seperti kaget 'sih?"
"Tidak apa-apa, Pak. Ya sudah selamat bekerja suamiku."
"Oke, terima kasih sayang."
"Oiya, jangan buang-buang uang dengan menyewa jet pribadi hanya untuk menemuiku ya, Pak. Aku kurang setuju. Jika Anda merindukanku, datang saja di akhir pekan."
"Sayang, kamu tidak paham. Baiklah, nanti aku jelaskan."
"Hmm," balasnya singkat.
...⚘️⚘️⚘️...
"Papa kecewa sama kamu, Zul."
"Pa, aku melakukannya karena tidak ingin membuat mama dan papa kecewa lagi. Dulu, gara-gara Angel, perusahaan Papa sudah menanggung banyak kerugian. Dan semua itu gara-gara aku. Gara-gara aku yang terlalu percaya sama perempuan pengkhianat itu."
"Ya Papa tahu, tapi itu bukan berarti kamu harus bekerja seorang diri tanpa melibatkan Papa, Zul. Papa ini ayah kandung kamu. Papa tidak mau melihat anak Papa terlalu lama berlarut-larut dalam kesulitan. Saran Papa, mari kita lakukan gugatan sekarang juga. Jangan ditunda lagi. Berapa biaya yang kamu butuhkan? Papa rela menjual seluruh saham milik Papa demi kamu."
Papa rupanya tidak terima karena aku menyembunyikan fakta keterlibatan keluarga Dewi dalam kasus penculikan Hanin dan tabrak lari yang melibatkan papa sebagai korbannya.
"Pa, aku juga ingin segera mengakhiri semua ini. Tapi Dewi mengancamku. Dia ...."
Aku akhirnya menceritakan ancaman Dewi tentang vidio syur itu. Papa terkejut luar biasa. Ia bahkan seolah tak percaya jika Dewi berani melakukan hal itu demi mengancamku. Aku hanya bicara berdua dengan papa di ruang privat kafetaria. Pak Reza tak turut-serta. Ia menunggu di luar.
"Astaghfirullah." Papa mengusap wajahnya seraya merenung.
"Apa Papa sudah tahu kalau anak perusahaan kita yang di Bogor sedang dalam masalah?"
"Papa sudah tahu, Zul. Papa bahkan sudah ditelepon polisi untuk memberikan keterangan. Katanya, mereka punya bukti yang menunjukkan jika Papa telah melakukan kongkalikong dengan makelar tanah."
"Apa?!" Kini giliran aku yang terkejut.
"Bukankah sengketa tanahnya sudah dimenangkan oleh pihak kita?"
"Papa juga heran Zul. Papa yakin semua ini ada hubungannya dengan keluarga Surawijaya. Mau tidak mau, kita memang harus siap melakukan perang dingin dengan mereka. Pokoknya, Papa harus bicara dengan pak Pratama Surawijaya untuk membahas masalah ini."
"Jangan Pa! Jangan gegabah!" Pratama Surawijaya adalah papinya Dewi.
__ADS_1
"Kenapa Zul?! Kamu sudah meragukan kemampuan Papa?! Biarpun Papa masih menggunakan kursi roda, tapi Papa masih bisa bicara dan memiliki kapabilitas!" sentak papa. Emosinya meluap.
"Pa, tolong tenang. Aku maunya Papa fokus dulu dengan pemulihan Papa. Biarkan aku dan tim kuasa hukum kita saja yang menanganinya. Aku akan menjebak om Purwa, Pa."
"Maksud kamu?"
Om Purwa adalah pamannya Dewi. Lantas aku menjelaskan pada papa tentang riwayat panggilan pelaku tabrak lari dengan nomor telepon yang belakangan ini diketahui sebagai nomor milik istrinya om Purwa.
Papa mengepalkan tangannya. Wajahnya berubah merah padam. Aku berusaha menenangkan dengan cara memegang tangannya.
"Kamu bodoh, Zul! Harusnya kamu tak buru-buru melakukan program bayi tabung itu!" Sambil menepis tanganku.
"Ma-maaf, Pa. Aku terpaksa melakukannya karena Dewi mengancam dengan vidio itu. Dewi juga mengancam akan menyakiti Hanin dan keluarganya. Tolong Papa jangan terbawa emosi. Kita harus mengikuti arahan pak Sabil dan penyidik, Pa."
"Kamu dan si Uu sama-sama lambat!" teriaknya.
"Pa, aku ingin kita menang dengan hasil yang terbaik. Maka dari itu kami bermain cantik."
"Halah! Sudahlah, Papa tidak takut dengan ancaman mereka! Pokoknya, kamu harus segera melakukan gugatan! Jika kamu tak berani, biarkan Papa yang melakukannya! Berani sekali mereka menipu keluarga Antasena!"
"Pa, sabar. Papa belum pulih total."
"Diam Zul! Beraninya Surawijaya menggunakan anak gadisnya untuk meraih keuntungan dari kita! Kalau Dewinya wanita normal, Papa masih bisa sedikit menerima kebusukan mereka! Tapi apa yang mereka lakukan?! Mereka menggunakan gadis yang kurang waras untuk menipu keluarga kita!" Emosi papa semakin meluap.
"Pa, tolong dengarkan alasan Zul. Kita tidak bisa menggugat dia dengan alasan gila. Kalau alasannya gila, Dewi bisa bebas dari semua tuduhan dan kasus hukum. Aku justru ingin mempermasalahkan penyakit kepribadian gandanya. Setelah itu barulah kita bongkar semua kejahatan mereka. Tapi kita harus bersabar sampai Dewi melahirkan. Biar bagaimanapun, dia mengandung anakku, janin yang ada di dalam rahimnya cucu Papa juga," jelasku.
"Aarrgh! Kamu bodoh, Zul! Pak Rezaaa!" panggilnya.
Lalu pak Rezapun masuk.
"Ya, Pak."
"Malam ini kita rapat! Tempatnya di apartemen istri saya! Kumpulkan semua pengacara! Ajak si Uu juga!" teriaknya.
"Pa, maksud Papa apa?! Malam ini aku ada agenda."
"Papa tidak butuh kehadiran kamu, Zul! Papa bisa melakukanya tanpa kamu! Kalau kamu ada acara, lanjutkan saja!" Sambil memberi isyarat pada pak Reza agar mendorong kursi rodanya.
"Ta-tapi, Pa. Aku harus tahu apa yang akan Papa lakukan untuk membalas mereka. Kumohon Pa, jangan sampai yang Papa lakukan itu malah membahayakan Hanin dan keluarganya. Aku juga tidak mau Papa bersikap berlebihan pada Dewi. Dia sedang mengandung, Pa."
"Sudahlah Zul! Jangan mengajari bebek berenang! Papa tahu apa yang harus Papa lakukan! Papa bukan anak kemarin sore yang masih ingusan! Papa harus tanggung jawab karena Papa adalah orang yang beperan penting dalam perjodohan kamu! Papa kecewa karena Surawijaya telah menodai persahabatan antara Papa dan dia. Padahal, Papa dan dia sudah berteman lama!" Kursi rodanya telah didorong keluar oleh pak Reza.
"Pak tunggu, bagaimana kalau Dewi nekad menyebarkan vidio itu?"
"Pokoknya, kamu ikuti Papa saja! Percayakan semuanya pada Papa!" tegasnya. Sama sekali tidak ingin dibantah.
"Papa." Aku menahan kursi roda. Pak Reza berhenti mendorong.
"Papa akan menjadikan Dewi sebagai tawanan. Jika mereka masih menyayangi Dewi, maka mereka harus berhenti menyerang perusahaan kita." Aku mematung, masih belum mengerti maksud papa.
"Jika mereka saja berani membahayakan kamu, papa, dan juga Daini, maka kita juga harus berani melakukan hal yang sama pada Dewi. Papa akan mengancam mereka dengan menggunakan Dewi. Ada untungnya dia ada di rumah kita. Pak Reza, jalan!"
Papa tak menjawab teriakanku. Tetap pergi dan tak menoleh lagi. Aku memasygul rambutku. Bingung, panik, takut, dan khawatir menjadi satu. Benar-benar sangat membutuhkan Hanin untuk menenangkan segenap perasaan ini.
"Pak Sabil, papaku mau bertindak! Tolong lakukan sesuatu! Kalau tidak salah, Pak Sabil juga akan diajak untuk hadir di rapatnya." Aku menelepon pak Sabil.
"Tenang, Pak. Aku yakin pak Aksa tidak akan membahayakan siapapun, apa lagi membahayakan Anda yang merupakan putra kesayangannya."
"Baiklah. Selalu kabari aku ya Pak Sabil. Jangan sampai meluputkan satu informasipun. Malam ini, aku ada jadwal bertemu investor."
"Baik," jawab pak Sabil.
Aku mengakhiri panggilan. Lantas merenung. Kupikir, harus segera melakukan sesuatu untuk menanggapi sikap papa. Lumayan lama aku berpikir. Akhirnya, ada ide.
...⚘️⚘️⚘️...
"Wah Mas, aku senang sekali. Ini pertama kalinya kamu mengajakku naik jet pribadi." Dewi menyandarkan kepalanya ke bahuku.
Malam ini, pesawat kunaiki sedang melaju. Aku akan membawa Dewi ke suatu tempat. Sebuah tempat yang sangat ingin kukunjungi.
"Sesekali cinta, ya walaupun aku tahu papi kamu punya jet pribadi dan kamu sering melakukan penerbangan ke luar negeri," kataku sambil mengusap anak rambutnya.
Dewi kadang berjilbab, kadang juga tidak. Aku sudah menyuruhnya untuk istikomah memakai jilbab. Namun dia malah mengatakan jika memakai jilbab ataupun tidak adalah pilihan setiap wanita muslim. Padahal, jilbab adalah kewajiban. Namun Dewi memahaminya sebagai passion. Passion adalah kecenderungan atau keinginan seseorang untuk melakukan sesuatu yang ia suka atau dianggap penting untuk dilakukan.
"Tapi, 'kok kita pergi tanpa izin sama papa kamu dulu, Mas? Kita hanya izin mama. Apa papa sudah tahu kita mau pergi?"
Sedari berangkat dia terus mengelus dadaku, hingga sekarang. Sesekali meraba ke bagian-bagian lagi. Aku berulang kali menepisnya.
"Walaupun papa tidak tahu, 'kan mamaku sudah tahu. Kurasa tak masalah kalaupun papa tidak tahu."
"Oke deh, kalau boleh tahu, kita mau ke mana 'sih, Mas? Kata kamu perjalanannya hanya sebentar."
"Nanti juga kamu tahu, 'kok. Sekarang, kamu istirahat ya," bujukku sambil mencium keningnya.
"Sip, aku mau tidur. Tapi, kamu peluk aku terus ya Mas."
Aku mengiyakan, lalu memeluknya. Hari ini dia bersikap manis. Setidaknya, dia tidak membuatku emosi. Aku memandangi wajahnya, matanya mulai terpejam. Andai kamu dan keluargamu tidak jahat dan licik, mungkin ... aku bisa belajar untuk menerima kamu. Namun saat ini, yang terukir di hatiku hanya ada satu nama, Daini Hanindiya Putri Sadikin.
"Assalamu'alaikuum, kira-kira, akan tiba di Bandung jam berapa, Pak?"
Aku membaca pesan dari Hanin.
"Sebentar lagi sayang. Jangan lupa katakan terima kasih pada ummi dan abah karena sudah mengizinkan aku membawa Dewi ke rumah kamu."
Ya, aku akan membawa Dewi ke Bandung. Hal ini sudah aku konsultasikan pada penyidik, dan mereka sudah menyetujuinya. Papa berencana mengancam keluarga Surawijaya menggunakan Dewi. Namun kata tim pengacara, hal itu akan sangat beresiko. Mereka justru menyusun rencana jika Dewi telah kabur dari rumahku.
Skenario ini sudah diketahui oleh mama. Syukurlah, mama setuju dan bersedia bekerja sama dengan tidak memberitahukan skenario ini dari pada papa.
Aku juga sudah memberitahukan hal ini pada Hanin. Saat aku telepon, Hani sepertinya kebingungan. Dia lebih banyak diam, hingga akhirnya memintaku untuk bicara langsung pada ummi dan abahnya.
...⚘️⚘️⚘️...
__ADS_1
Tak terasa privat jet yang kami naiki, ternyata tengah bersiap untuk melakukan landing di Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara. Bandar udara ini merupakan sebuah bandar udara internasional yang terletak di Jalan Pajajaran, Bandung, Jawa Barat.
"Mas?! I-ini di mana? Tunggu, i-ini di ---." Dewi terkejut.
"Ya cinta, ini di Bandung. Yuk," ajakku.
Lalu menuntun tangannya menuju pintu keluar. Di sana sudah ada taksi yang menunggu dan siap mengantar ke rumah Hanin. Aku telah memesannya melalui aplikasi.
"Kukira kita akan ke Bali, atau Lombok, Mas."
"Maaf ya cinta, 'kan kamunya juga enggak bisa perjalanan jauh dulu."
"Issh, tapi kita mau ke rumah si Daini 'kan, Mas? Atau jangan-jangan kamu sengaja membawaku ke sini karena kangen sama si Daini?" protesnya saat kami sudah berada di dalam taksi. Aku pura-pura tak mendengar.
"Mas, kita mau ke hotel mana?" tanyanya lagi. Wajahnya sudah tampak gelisah.
"Kamu tenang saja. Intinya, tempat yang akan kita kinjungi adalah tempat terbaik untuk kamu. Di sana sejuk, nyaman dan asri," jelasku.
"Ke villa? Mau ke vila kamu apa villa punyaku, Mas?"
"Tidak keduanya, kita akan ke tempat lain cinta." Aku mengulum senyum. Aku belum sampai di rumah Hanin, namun bayangan dan pesonanya sudah terbayang-bayang.
Aku memejamkan mata sejenak. Tengah merasakan desiran kebahagiaan karena sebentar lagi aku dan Hanin akan bertemu.
"Mas! Kita sebenarnya mau ke mana, 'sih?! Kok jalanannya ke sini?!"
Dewi sampai melongokan kepalanya. Kemudian ia membuka tasnya, mungkin untuk mengambil ponselnya. Sayangnya, ponsel milik dia sudah kuamankan.
"Mas, HP-ku enggak ada. Perasaan tadi sudah dimasukan." Mencari-cari, bahkan mengeluarkan seluruh isi tasnya.
"Mas tidak tahu cinta, mungkin kamunya lupa. Maksudku lupa tidak dibawa."
"Aku yakin, Mas! Sini, pinjam HP kamu! Aku mau misscall!"
"Tidak boleh," tolakku.
"Mas!" sentaknya.
"Pak cepat ya."
"Mas! Apa rencana kamu?!" Sepertinya, Dewi mulai curiga.
"Tidak ada," jawabku.
"Maas!" teriaknya. Lalu memukuli bahuku. Aku bergeming.
...⚘️⚘️⚘️...
Dewi melongo, mematung, dan mengerjapkan matanya berulang kali saat ia sadar jika taksi ini telah berhenti di sebuah rumah asing yang membuat matanya membelalak sempurna.
Dewi mundur beberapa langkah dan ingin kembali lagi ke dalam taksi saat melihat Hanin, dokter Rahmi, abah, dan ummi menyambut dan menghampirinya sambil tersenyum.
Aku segera berlari untuk memeluk Hanin yang matanya sudah berkaca-kaca.
"Maaf sayang," lirihku. Aku mengusap airmatanya, lalu berlutut untuk mencium perutnya yang sudah membesar.
"Aaaarrrgh!" teriak Dewi.
"Mari kita masuk, Bu Dewi. Beteriaknya di dalam saja," kata dokter Rahmi.
"Kalian gila, Mas! Beraninya kamu menipuku!" teriak Dewi saat dokter Rahmi membawanya ke dalam rumah. Ummi dan abah hanya menghela napas dan tak banyak bicara. Mereka semua masuk dan meninggalkan aku dan Hanin.
"Sayang." Setelah puas mencium perutnya, aku berdiri untuk menatap kembali wajah cantiknya. Di bawah sinar rembulan, keindahannya semakin terpancar.
"Mas, a-aku takut, a-apa keluargaku tidak akan dituduh sebagai penculik?"
"Ssst, tidak akan sayang. Aku jamin." Sambil mengusap pipinya. Hanin kian menawan, aku tidak sabar untuk segera menyalurkan hasrat ini.
"Kalau polisi tahu bagaimana?"
"Yang kulakukan hanya skenario sayang. Pak Sabil juga sudah tahu, 'kok."
"Tapi, aku tetap saja takut, Pak."
"Jangan takut, ada aku." Aku berusaha meyakinkannya.
"Tapi Pak, a ---."
Aku membungkamnya. Bibir indahnya sudah menggoda sedari tadi.
"Mmmh ...." Hanin jelas kaget dan berusaha menolak.
Namun aku tetap memagutnya dengan sedikit rakus. Akan kutunjukkan pada bulan di atas sana bahwa wanita ini adalah milikku. Biarlah langit malam dan alam semesta menyaksikannya.
Aku terus melahapanya hingga menghasilkan suara syahdu. Baru berhenti saat mendengar lolongan a n j i n g di ujung jalan.
Hanin memukul dadaku sambil cemberut.
"Kalau ada yang melihat bagaimana, Pak? Jangan diulangi lagi," katanya.
"Maaf sayang. Ya sudah, nanti kita lakukan lagi di dalam kamar ya." Sambil memeluknya. Hanin merajuk, ia tetap cemberut.
"Ya sudah, kita masuk yuk! Aku sangat lapar sayang. Ingin memakan kamu," bisikku.
"Issh," keluhnya. Kembali memukul pelan lenganku, namun kali ini sambil tersenyum dan tersipu.
Apakah Hanin juga merindukannku? Kuharap demikian.
...⚘️⚘️⚘️...
...~Tbc~...
__ADS_1