
"Semua informasi terkait almarhum telah kami kumpulkan dari berbagai sumber. Catatan medis, keterangan dokter serta keterangan keluarga sudah dikumpulkan. Ya, memang tidak ada yang menyatakan jika almarhum PS memiliki riwayat penyakit jantung."
Setelah aku, pak Direktur dan pak Sabil ada di kan ruangan pak Sabil, seorang asisten dokter forensik menghampiri kami dan memberikan penjelasan secara pribadi pada pak Direktur. Hal ini membuat pembicaraan pak Direktur tentang pernikahan itu jadi terabaikan. Syukurlah, setidaknya, aku bisa segera melupakan info itu. Aku yakin pak Direktur tidak serius dengan ucapannya.
"Intinya, mereka bersikeras mau auotopsi ulang?" tanya pak Direktur dengan mimik wajah tidak senang.
"Ya, Pak. Selain itu, akan dilakukan juga penyelidikan pada lokasi kematian dan lingkungan tempat almarhum PS meninggal dunia. Jika kematian terkait dengan masalah hukum, maka ahli koroner dan pihak berwenang lain akan segera dilibatkan."
"Kalian atur dan urus saja," sahut pak Direktur.
Lalu mereka kembali berbincang dan pak Sabil menyuruhku tetap di ruangannya saat ia dan pak Direktur kembali ke lokasi pambacaan hasil autopsi.
...⚘️⚘️⚘️...
Bu Ratih
Hari ini dibuat senyum-senyum sama ulah neng Daini. Bagaimana tidak, setelah suaminya pergi, ia langsung menyibukkan diri. Dari mulai menyapu, lap-lap, hingga memasak. Sekarang, ia sedang membuat sambal tomat.
"Jangan kecapekan, Neng. Takut kandungan kamu kenapa-napa."
"InsyaaAllah, tidak Bu. Ini bukan pekerjaan berat, 'kok."
"Ibu bisa disalahkan kalau terjadi apa-apa sama kamu."
"Bu, kita makannya melantai saja ya. Pakai tikar." Mengalihkan pembicaraan.
"Boleh."
"Di rumah mama Yuze, aku enggak pernah makan melantai. Selalu di meja makan."
"Wah, sambalnya enak. Kalaupun kamu sudah jadi konglemerat, rasa sambalnya enggak berubah."
"Ibu, harta itu titipan, apa hubungannya dengan rasa sambalku?" Sambil memindahkan menu dari meja makan ke atas tikar.
"Ya, Neng. Ibu tahu. Ibu hanya salut saja sama Neng Daini. Salut sama kebersahajaannya."
Lalu kamipun makan bersama dengan lahapnya. Saat kost dulu, neng Daini memang sering masak dan makan di dapurku. Hal itu ia lakukan setelah tahu jika aku adalah single parent, dan anakku masih di bawah umur.
"Aduh," tiba-tiba mengeluh. Suapannya terhenti.
"Neng, kenapa?!" Panik. Segera minum dan mendekatinya.
"A-aku tiba-tiba pusing, Bu. Kayak keleyengan." Memegang kepalanya.
"Neng, kamu pucat lho." Semakin panik. Sudah putih, pucat pula. Segera menyodorinya mangkuk cuci tangan dan memapahnya menuju kamar kost.
"Apa terasa mulas?"
"Tidak, Bu. Hanya pusing." Dia merebahkan dirinya. Keningnya bekeringat.
"Tuh, 'kan kata Ibu juga apa?! Neng Daini pasti kecapekan. Ya ampun, Ibu pasti disalahkan sama pak Zulfikar." Lalu menyelimutinya. Lantas berlari ke dapur untuk membuatkan teh manis.
"Ini, di minum dulu tehnya, Neng. Apa kamu punya darah tinggi?"
"Tidak, Bu. Emm, dulu pernah pingsan karena darah rendah," jelasnya.
"Ya sudah, Ibu telepon pak Zulfikar dulu ya. Beliau amanat sama Ibu, katanya, kalau ada apa-apa harus menelepon."
"Enggak perlu, Bu. Aku baik-baik saja," tolaknya.
Aku merenung sejenak, daripada disalahkan sama pak Zulfikar, lebih baik menelepon saja tanpa memberi tahu neng Daini. Segera keluar dari kamarnya dan menelepon pak Zulfikar. Yang mengangkat wanita, bukan pak Zulfikar.
"Ya, halo, aku Listi, sekretaris barunya pak Direktur."
"Kak Listi? Ini Ibu Ratih. Masih ingat?"
"Bu Ratih? Ya, aku ingat, ada apa Bu?"
"Ibu mau bicara sama pak Zulfikar, ada hal penting."
"Katakan sama aku saja, Bu. Kebetulan, HP beliau ketinggalan dan aku yang pegang."
"Oh, begini Kak. Neng Daini sakit."
"Apa?! Daini? Memangnya Daini ada di rumah Ibu?"
__ADS_1
"Lho, Kak Listi tidak tahu? 'Kan Neng Daini kabur ke rumah Ibu?"
"Ya sudah, terima kasih informasinya, Bu."
"Kak, begini ---."
Eh, langsung ditutup. Tadinya mau menyampaikan kalau kondisi neng Daini tidak terlalu mengkhawatirkan. Ya sudah 'lah. Yang penting sudah mengabari.
Saat aku kembali lagi ke kamar kost, neng Daini sudah tidur. Tapi, wajahnya masih terlihat pucat. Ia pasti kelelahan. Kuyakin pasti bukan kelelahan akibat memasak. Melainkan karena itu. Jadi tersenyum karena teringat kejadian semalam.
...⚘️⚘️⚘️...
Listi Anggraeni
Kurang asem! Pak Sabil tidak memberi tahu kalau Daini kabur ke kostan lamanya. Kalau tahu ada di sana, aku pasti sudah menyusulnya. Aku berjalan cepat ke ruangan yang tadi sempat kutinggalkan.
Sayangnya, acara tadi rupanya sudah selesai. Hanya ada beberapa petugas yang sedang merapikan berkas. Segera menelepon pak Sabil. Untuk saat ini, yang bisa kuandalkan memang hanya pria itu. Ya, aku malas bertanya pada polisi-polisi itu. Langsung tersambung dan diangkat.
"Ada apa ayang? Baru juga ditinggal sebentar sudah menelepon. Kangen ya?"
"Ish, Pak Sabil apa 'sih? Aku mau menyampaikan hal penting tahu! Aku mau bicara sama pak Direktur."
"Kalau kangen bilang saja ayang, aku paham, 'kok."
"Pak, aku serius. Di mana pak Direktur? Oiya, satu lagi, kenapa Anda tidak memberitahuku kalau Daini kabur ke bekas kostannya? Anda keterlaluan!"
"Kan ayangnya juga enggak bertanya bu Daini ada di mana, kan?"
"Pak, bu Ratih telepon, katanya Daini sakit." To the point agar dia tidak menggodaku.
"Apa?! Ya ampun ayang, kenapa tidak bilang dari tadi?"
"Ini aku sudah bilang. Cepat beri tauhu pak Direktur, Pak."
"Baiklah ayang, terima kasih sudah meneleponku. Pak Direktur sedang ada rapat sama tim kuasa hukumnya. Kamu jangan panik ya."
"Ya sudah. Sama-sama." Mengakhiri panggilan. Lalu kembali ke ruangannya. Tiba di ruangan pak Sabil, aku terbengong-bengong.
"Maaf, ada yang bisa kami bantu?" sapa seorang Polwan yang berada di ruangan pak Sabil. Dia masih muda dan cantik. Nama di name tagnya Ipda LD Monita.
"Silahkan duduk," tawarnya.
"Terima kasih." Segera duduk dan memainkan HP.
"Maaf, saya sedang bertanya sama Mbaknya, kenapa masuk ke ruangan pak Abil?" tanyanya.
"Terserah aku 'kan, Bu?" sahutku.
"Hahaha, Mbak, saya tanya baik-baik ya. Tidak bisa sembarangan orang lho bisa masuk ke ruangan ini."
"Itu Ibu tahu. Berarti, aku bukan orang sembarangan."
"Baik, saya minta identitas Mbaknya." Nada bicaranya mulai tegas.
"Untuk apa Bu?"
"Oh ya ampun, apa perlu saya melapor sama pak Abil kalau di ruangannya ada wanita mencurigakan?"
"Silahkan saja."
"Ya ampun, Mbak ini benar-benar patut dicurigai ya?" Sambil mendekat dan hendak merampas tasku.
"Hei, Bu! Jangan sembarang ya! Aku bukan maling!" teriakku. Berusaha mempertahankan tasku.
"Tapi Mbaknya tidak ada itikad baik. Wajar kalau saya memaksa."
"Jangan mentang-mentang Anda polisi jadi merasa bisa semena-mena! Kalau Ibu enggak dapat informasi dari aku, bisa tanya sama penghuni ruangan ini, 'kan?!" teriakku. Kesal.
Polwan itu menarik napas panjang. Lalu ia menelepon seseorang. Pikirku, pasti menelepon pak Sabil. Hahaha, kasihan 'deh kamu. Sepertinya, pak Sabil tidak menerima panggilannya. 'Kok, bisa aku berpikiran seperti itu? Yang ia telepon belum tentu pak Sabil, 'kan? Wajahnya terlihat kesal. Tunggu, jangan-jangan, Polwan ini adalah wanita yang digosipkan dekat sama pak Sabil.
"Maaf, apa Ibu pacarnya pak Sabil?" Tiba-tiba saja mau bertanya seperti itu.
"Apa?!" Dia terlihat kaget.
"Oh, bukan ya? Ya sudah," timpalku.
__ADS_1
"Mbaknya sehat? Saya yang harusnya bertanya? Anda siapa? Kenapa bisa ada di sini?"
Kurang asem! Dia mengatakan 'mbaknya sehat?' Memangnya aku terlihat seperti orang gila apa?! Karena emosi dan sebal, aku segera menelepon pak Sabil. Tak kusangka, dia langsung menerima panggilanku dan aku menyela salamnya.
"A Abil di mana 'sih? 'Kok lama sekali?" Tidaaak! Benar kata Polwan itu, aku memang kurang sehat.
"A-apa? Ti-Tia, k-kamu ---."
Pak Sabil sampai tak bisa berkata-kata. Lagi pula, kenapa aku bisa senekad ini? Atas dasar apa coba? Awalnya, hanya ingin mengerjai Polwan itu. Daripada bingung dan malu, aku segera menutup telepon. Namun pura-pura masih tersambung dengan pak Sabil.
"Cepat ya A. Di ruangan kamu ada tamu," kataku.
Fix, aku sudah gila. Tidak diragukan lagi. Ipda LD seketika Monita melongo dan tampak terheran-heran. Lantas memerhatikanku dengan seksama. Dari ujung rambut, hingga ujung kaki.
"Apa lihat-lihat?!" sentakku. Tangannya langsung mengepal. Namun segera disembunyikannya.
"Sejak kapan?" tanyanya.
"Bukan urusan Ibu," jawabku.
"Jawab! Sejak kapan?!"
Bu Polwan juga ternyata manusia. Dugaanku benar, dia adalah Polwan yang sempat dekat sama pak Sabil.
"Bukan urusan Ibu."
Aku menjawab dengan jawaban sebelumnya. Mungkin aku salah lihat. Mata Polwan itu berkaca-kaca. Saat aku ingin memastikan dengan membalas tatapannya, Polwan itu berdiri, balik badan, dan pergi begitu saja.
Tidak! Sekarang, aku yang panik. Pak Sabil dan pak Direktur sebentar lagi tiba di ruangan ini. Bayangan mereka sudah tempak di depan ruangan. Mau kukemanakan muka ini?
"Listi, cepat! Mana HP-ku?"
Tiba di ruangan, pak Direktur langsung meminta HP-nya dan bersiap. Ia pasti cemas dengan keadaan Daini. Lalu aku? Aku mematung. Dia? Pak Sabil terus menatapku.
"Listi, hari ini kamu jangan cuti ya, gantikan tugasku. Kalau enggak salah ada rapat jam dua siang. Intinya, kamu handel semua tugasku untuk hari ini. Cepat koordinasikan materi dan seluruh agendaku sama asisten kamu," titahnya.
"A-apa?! Ta-tapi, Pak. Aku belum siap." Langsung stres. Malapetaka baru.
"Listi, aku tahu kemampuan kamu. Kamu pasti bisa. Hanin sakit, dan sakitnya Hanin pasti ada hubungannya denganku." Pak Direktur tak main-main dengan ucapannya. Dia bahkan tak mengindahkan panggilanku dan bergegas pergi.
"Pak Direktuuur!" Aku mengejarnya. Namun, segera ditahan sama pak Sabil.
"Lepas Pak!" Dia malah memelukku setelah menutup pintu ruangannya.
"Pak, i-ini kantor polisi, ja-jangan macam-macam ya. Aku mau segera ke kantor, lepas!"
"Masih jam 10 pagi. Ada empat jam lagi ke jam dua siang. Oiya, tolong jelaskan yang tadi. Kenapa kamu tiba-tiba meneleponku dan memanggilku 'A Abil?" Dan kamu juga membuat Ipda Monit menangis." Memelukku semakin erat.
"Pak Sabil, a-aku bisa jelaskan. Lepaskan dulu." Padahal, aku juga bingung mau menjelaskan apa.
"Tidak akan, aku tidak melepaskanmu, Tia. Aku sudah konfirmasi sama ayah, apa yang dikatakan pak Zulfikar memang benar. Kita akan dijodohkan," bisiknya. Kebiasaan! Berbisik sambil mencium telingaku.
"Sekarang era digital, bukan era Siti Nurbaya," elakku.
"Ayang dengar." Sambil menangkup pipiku.
"Aku tidak butuh pernyataan cinta dari bibir kamu. Dengan kamu mau bersamaku, mau mengantarku ke kantor, memedulikanku, dan memanggilku A Abil, itu sudah cukup membuatku bahagia. Aku anggap hal itu sebagai balasan cinta dari kamu," duganya.
"A-aku, a-ku," jujur, bingung.
"Jika kamu masih ragu, tak masalah, tapi ... aku adalah calon suamimu," bisiknya lagi.
"Pak Sabil."
"Panggil A Abil lagi dong, ayang."
Sambil menelusuri bibirku. Lalu .... Saat dia mendekatkan wajahnya, mataku refleks terpejam. Ya, aku memang sudah gila sedari tadi. Jadi, aku diam saja saat ia mencium bibirku.
Apa rencana pernikahan Akmal membuatku menerimanya? Entahlah. Yang jelas, saat ini ... jantungku berdegup, sekujur tubuhku merinding, dan tangan bodoh ini perlahan mengerat pada sisi pinggangnya. Setelah ini berakhir, dia pasti akan yakin jika ... aku juga mencintainya.
...⚘️⚘️⚘️...
...~Tbc~...
_____
__ADS_1
...Punten telat up, nyai sibuk. Rumah sakit tempat nyai bekerja sedang akreditasi. Mohon dimaklumi . Akibatnya, nyai tidak bisa mengintai lama-lama. I love you all. ❤️❤️❤️...