
"Masuk, Kak," ajakku. Kak Listi masuk dengan langkah kaku. Pandangannya bergulir ke arahku dan bu Dewi.
"Neng, ka-kamu yakin?" Matanya mengerling. Yang berarti ia ragu dengan sikap baik yang ditunjukkan oleh bu Dewi.
"Enggak selamanya aku jahat, Listi. Aku manusia kayak kamu. Ada kalanya punya sisi baik." Bu Dewi seolah paham maksud kak Listi.
"Baguslah," gumam kak Listi.
"Kak Listi," aku mencubit pelan tangannya. Khawatir jika sikap kak Listi akan menyinggung perasaan bu Dewi dan merubah moodnya.
"Aku senang melihat Bu Dewi dan Daini akur. Semoga tidak ada drama lagi ya Bu," sambil tersenyum.
"Bagaimana? Cocok enggak menurut kamu kalau aku berdandan seperti gayanya Daini?" Bu Dewi meminta penilaian dari kak Listi setelah aku selesai memakaikannya.
"Emm, cocok 'kok Bu. Kalau dasarnya cantik mau jilbab gaya apapun tetap cantik," puji kak Listi.
"Sungguh?"
"Ya, Bu. Benar. Ya, 'kan Neng?"
"Ya, Kak. Kak Dewi memang cantik."
"Ya sudah, aku mau jilbab yang ini ya, Dai. Sama yang itu juga. Aku suka sama warnanya." Bu Dewi kembali ke almari dan mengambil jilbab yang disukainya.
"Ambil saja, Kak."
"Dai, bagaimana kalau aku beli saja? Kamu mau jual berapa biar aku bayar."
"Tak perlu, Kak. Ambil saja," tolakku.
"Ya sudah, deh. Terima kasih ya, Daini. Aku tak sabar mau pakai jilbab ini di hadapan mas Zul. Respon dia seperti apa ya kira-kira?"
Bu Dewi terlihat bersemangat. Lalu ia berpamitan pergi setelah membawa beberapa camilan dari dalam kulkasku. Sikapnya benar-benar berubah. Aku dan kak Listi saling menatap.
"Kamu enggak curiga, Neng?"
"Tidak, Kak. Biasa saja. Lagi pula, aku 'kan harus berbaik sangka."
"Ishh, dasar manusia sholihah. Sesekali kayak aku dong Neng, sholehot. Hehehe."
"Aku juga suka sholehot kalau di depan pak Zulfikarmah, Kak."
"Aku tahu, Neng. Jilbabmu masih basah 'tuh. Jangan bilang baru selesai mandi besar."
"Memang benar, Kak."
"Apa?! Kapan kejadiannya? Bukankah pak Direktur masih di kantor? Aku pulang cepat, Dai. Dan pak Direktur masih rapat saat aku izin pulang."
"Tadi jam tiga, Kak," jelasku malu-malu. Pipiku terasa panas. Ya ampun, malu sekali.
"Pantas saja tadi saat aku menelepon kamu, beliau yang angkat. Tadinya sempat aneh, 'kok pak Direktur yang angkat 'sih? Tapi, perut kamu tidak apa-apa, 'kan? Jangan keseringan, ih. Ngeri, Neng." Kak Listi mengelus perutku.
"Tidak, Kak. Sejauh ini, tidak pernah ada keluhan, 'kok."
"Bagus 'lah. Berarti, anak-anak kamu memang suka dikunjungi sama papanya. Apa mamanya juga jadi kecanduan?" godanya.
"Haish, sudah ya Kak. Jangan bahas itu terus. Mari bahas yang lain. Oiya, kata pak Zulfikar, Kak Listi akan datang ke sini karena mau curhat. Apa benar? Mau curhat apa, Kak?"
"Ya ampun, pak Direktur sok tahu, 'deh. Tapi, ya aku memang mau curhat, Neng." Wajah kak Listi berubah jadi murung.
"Ada apa, Kak? Kenapa?" Sembari memegang bahunya.
"Aku benci sama pak Sabil."
"Apa? 'Kok bisa?"
"Emm, Neng, sebenarnya ... pak Sabil ---."
"Pak Sabil kenapa, Kak?"
"Dia ... dia ... emm, nembak aku, Neng."
"A-apa?! Serius? Sae atuh (bagus dong), Kak. Hehehe, asyik, Kak Listi punya pacar baru." Jujur, aku kaget. Tapi, lebih banyak senangnya.
"Ish, Neng. Kamu begitu ih, dengarkan dulu ceritanya sampai selesai." Kak Listi cemberut. Lucu sekali. Mimik wajahnya kayak anak kecil.
"Oke, akan aku dengarkan. Ayo cepat cerita, Kak."
"Aku menolak dia, Neng."
"Lho, kenapa? Alasannya? Pak Sabil itu mapan dan keren tahu, Kak."
"Dia enggak sekeren yang kamu kira, Neng."
"Kak, pak Sabil itu anak mama tahu. Kata pak Zulfikar, pak Sabil belum pernah punya pacar. Berarti, nembak Kakak adalah pengalaman pertamanya. Ya ampun, pak Sabil pasti harus mengumpulkan banyak pertimbangan sebelum memutuskan menyatakan cintanya pada Kakak. Secara, dia 'kan belum ada pengalaman."
"Belum ada pengalaman kamu bilang? Aku yakin dia berbohong. Sebelumnya pasti sudah pernah punya pacar." Sambil mengepalkan tangan lalu mengambil tissue dan mengusap bibirnya.
"Ya sudah, terus kenapa Kakak tolak?"
"Aku menolaknya karena mempertimbangkan banyak hal, Neng. Pertama, aku merasa dia terlalu kaya. Kedua, dia berpangkat. Ketiga, aku enggak mau dituduh aji mumpung."
"Maksud, Kakak?"
"Lupakan. Intinya, aku enggak cinta sama dia, Neng. Aku ke sini justru mau konsultasi hukum sama kamu. Aku mau minta bantuan hukum dari pak Ihsan untuk mendampingiku melaporkan pak Sabil."
"Melaporkan pak Sabil? 'Kok bisa? Memangnya pak Sabil salah apa, Kak?"
"Kesalahan dia banyak, Neng. Aku sakit hati."
"Aku mau tahu salahnya pak Sabil, Kak. Karena setahuku, pak Sabil adalah polisi yang baik, dan masih polos."
"Polos? Hahaha, polos dari Hongkong? Dia enggak polos, Neng. Dia maniak. Aku mau melaporkan pak Sabil karena dia sudah melecehkanku."
"A-apa?! Kakak serius? Kakak tidak sedang bercanda, 'kan?"
"Aku serius, Neng. Baiklah, akan aku ceritakan. Tapi inti-intinya saja, ya Neng. Begini ...."
.
__ADS_1
Kak Listi mulai becerita. Aku menyimak dengan seksama.
"Apa?! Pak Sabil minta kenang-kenangan perpisahan dengan ...." Aku terkejut. Sampai-sampai menutup bibirku saking terkejutnya.
"Aku enggak bohong, Neng."
"Terus, Kakak ladeni?"
"Ya enggak 'lah, Neng. Tapi 'kan dia memaksa. Tangan aku dicekal. Aku enggak bisa gerak. Jadinya, aku gigit saja bibirnya sampai berdarah."
"Apa?! Ck ck ck. Ya ampun pak Sabil, aku kira pak Sabil cupu dalam hal itu. Ternyata suhu."
"Kamu tertipu sama wajah kalemnya, Neng. Dia juga melakukannya tidak hanya di dalam mobil saja."
"Masa 'sih, Kak?"
"Begini ceritanya, Neng."
Kak Listi menjelaskan kronologinya. Aku menganga. Tak menyangka jika pak Sabil akan senekad itu. Ternyata, pak Sabil seposesif itu saat menyukai sesuatu. Jadi agak takut kalau bertemu sama pak Sabil.
"Terus, bagaimana pendapat kamu, Neng? Aku tak mungkin minta bantuan sama pak Ikhwan. Secara, pak Ihkwan itu 'kan berteman sama pak Sabil. Maka dari itu aku minta bantuan sama pengacara keluarganya abah."
"Apa Kak Listi tidak tahu hubungan antara pak Ikhwan dan pak Ihsan?"
"Hubungan sesama pengacara 'kan maksudnya?"
"Lebih dari itu, Kak."
"Maksudnya?"
"Pak Ihsan itu kakak kandungnya pak Ikhwan, Kak."
"What?!" Kak Listi ternyata baru mengetahuinya.
"Hematku, lebih baik diselesaikan secara kekeluargaan dulu, Kak."
"Neng, kamu membela pria mesum?"
"Bukan begitu, Kak. Aku hanya berpendapat. 'Kan tadi Kakak meminta pendapatku. Tapi, kalau keputusan Kakak sudah bulat, ya silahkan saja. Untuk masalah pengacara, biar nanti aku bicarakan lagi sama pak Zulfikar."
"Sama saja bohong Neng kalau meminta bantuan sama pak Direktur. Pak Direktur 'kan ada di pihak pak Sabil. Aku harus bagaimana ya, Neng? Di satu sisi, aku ingin melaporkan dia, tapi di sisi lain, aku minim dukungan. Kalau meminta bantuan kamu, sama saja dengan memanfaatkan kamu."
"Atuh enggak apa-apa, Kak. Kita 'kan teman."
"Apa aku minta ganti rugi saja ya, Neng?"
"Ganti rugi? 'Nah, itu aku setuju, Kak."
"Tunggu, masa ya aku harus menominalkan bibirku?" Kak Listi merenung.
"Hmm, ajukan harga yang semahal mungkin, Kak. Dulu, aku juga mau dibayar uang sama pak Zulfikar. Tapi kutolak. Kalau mau tanggung jawab, saat itu, aku meminta pak Zulfikar untuk menikahiku, bukan mengganti kehormatanku dengan uang."
"Yang hilang dari kamu 'kan keperawanan, Neng. Aku cuma ini." Sambil menyentuh bibirnya. Lalu, ponselnya bedering. Saat mengeceknya, kak Listi langsung melempar ponsel tersebut ke atas kasur.
"Lho, kenapa, Kak?"
"Neng, itu telepon dari pak Sabil. Mau apa dia meneleponku?! Dasar tak punya muka!" gerutunya.
"Enggak mau Neng. Ogah! Aku musuhan sama manusia itu!" Sambil merebahkan tubuhnya di sofa.
"Ya sudah, aku yang angkat ya, Kak."
"Sok saja, Neng. Bilang saja akunya lagi di kamar mandi."
"Oke." Aku mengambil ponsel kak Listi dan menerima panggilan tersebut.
"Tia, kenapa lama sekali mengangkatnya? Aku mau minta maaf sama kamu. Sekarang, aku sudah ada di depan rumah kamu."
Belum juga aku menyapa, pak Sabil sudah bicara panjang lebar. Pak Sabil bahkan sudah memiliki panggilan khusus untuk kak Listi. Lucu juga, Tia.
"Maaf, Pak. Aku Dai ---."
"Bu Daini? Ma-maaf Bu. Apa Listinya ada?" selanya.
"Emm, Kak Listinya a-ada di kamar mandi, Pak." Maaf ya pak Sabil. Aku berbohong.
"Ya sudah. Tidak apa-apa, Bu. Katakan saja pada Listi kalau aku, bunda, dan ayahku sudah berada di depan rumahnya."
"A-apa?!" Aku terkejut hingga menjatuhkan ponselnya.
"Ada apa?" tanya kak Listi tanpa bersuara. Aku mengambil kembali ponselnya dan menyadari jika panggilan itu telah terputus.
"Kak Listi, a-anu, Kak."
Aku jadi tegang. Kak Listi pasti kaget. Syukur-syukur hanya kaget. Kalau kak Listi pingsan bagaimana?
"Neng, jangan bikin aku panik." Kak Listi mendekati.
"Kak, ayo tarik napas dari hidung, terus keluarkan dari mulut pelan-pelan."
"Issh, apa 'sih, Neng? Memangnya aku mau lahiran, apa?" protesnya.
"Kak, dengarkan baik-baik. Aku enggak tahu ini berita baik apa bukan. Pokoknya, tadi pak Sabil bilang mau minta maaf dan emm ...."
"Daini, dan apa? Kamu begitu ih. Aku jadi deg-degan tahu." Aku segera memegang tangan kak Listi. Lalu menghela napas panjang sebelum menjelaskan intinya.
"Pak Sabil sekarang sudah ada di depan rumah Kakak bersama ayah dan bundanya," jelasku.
"A-apa?!" Benar saja, kak Listi langsung melotot dan terbengong-bengong.
"Tidak mungkin! Dia pasti sengaja berbohong untuk menggertak dan menakutiku!"
"Kalau benar bagaimana, Kak?"
"Tidak! Aku harus bagaimana, Neng? Kalau mereka betul datang? Aaarrrggh!" Malah beteriak sambil mengacak-acak rambutnya.
"Kakak harus cepat pulang untuk memastikannya. Maaf ya, Kak. Bukannya aku ngusir."
"Enggak mau, Dai."
__ADS_1
"Kak, ssstt, ada telepon lagi." Aku menunjuk ke ponsel kak Listi.
"Dari ... hah?! Ini nomor ibuku, Neng."
"Cepat angkat, Kak." Lalu kak Listi menerimanya dan diloudspeaker.
"Ya, Bu? Ada apa?" tanya kak Listi dengan mimik wajah gelisah.
"Sayang, kamu bagaimana, 'sih? Ada masalah 'kok tidak cerita sama Bapak atau Ibu? Polisi yang menolong kamu pas jadi korban hipnotis itu datang lagi ke rumah kita. Katanya, mau bertemu kamu dan meminta maaf. Anehnya, pak polisinya datang bersama kedua orang tuanya. Terus, ayah dari polisi itu wajahnya kayak enggak asing. Kamu cepat pulang ya."
"Bu, katakan saja aku lagi di luar kota."
"Apa?! Hei, pak polisinya sudah tahu kalau kamu ada di rumahnya pak Aksa. Katanya, dia sudah menelepon kamu dan yang angkatnya neng Daini."
"Tapi Bu ---."
"Tapi apa? Pokoknya, kamu harus cepat pulang. Oiya, mereka datangnya bawa dua mobil. Tapi, yang di mobil satunya lagi enggak pada turun. Kata Bapak yang sempat melihat keluar, di dalam mobil itu isinya polisi semua. Bersenjata lengkap pula. Ibu dan Bapak agak takut, Listi."
"Maaf, Bu. Baiklah, aku pulang. Katakan pada mereka aku akan datang dalam waktu lima belas menit lagi. Selagi menunggu, Ibu jamu dulu saja. Beli kue di warung depan atau belikan nasi Padang depan rumah kita."
"Ih, dasar bocah. Ya malu 'lah kalau Ibu belikan yang biasa-biasa saja. Sudah dulu yah." Panggilan berakhir.
"Tolong aku, Dai."
"Aku harus bagaimana, Kak?"
"Apa aku harus memaafkan perbuatannya?"
"Semuanya terserah Kak Listi. Ya, memaafkan memang baik, tapi jika seluruh pelanggaran berakhir dengan kata maaf, maka di negara ini tidak akan ada yang namanya pengadilan dan aparat penegak hukum."
"Kamu benar, Neng. Ya sudah, aku balik dulu ya. Tadinya, selain mau curhat, mau pakai henna bareng juga."
"Oiya, Kak. Ayahnya pak Sabil itu Komjen ya. Dulu-dulu, beliau sering muncul di televisi."
"Apa?! Mati gue. Pantas saja ibu bilang wajahnya enggak asing. Duh, Dai. Kalau begini caranya mending aku minta ganti rugi dah. Sekali-kali, enggak apa-apalah harga diriku diuangkan. Yang penting kesucian dan kenyamanan hidupku tidak tergadaikan. Yang bikin aku benci banget 'tuh pak Sabil menuduh aku sudah tidur sama Akmal. Gila, 'kan dia, Neng?"
"Ya, pak Sabil salah, Kak. Tapi, dia seperti itu karena cemburu berat. Kak Listi juga hati-hati ya, jangan terlalu membenci pak Sabil. Takutnya, nanti malam atau esok lusa, Kak Listi berubah pikiran dan malah jatuh cinta sama pak Sabil."
"Apa?! Enggak mungkin kayaknya, Neng."
"Tidak ada yang tidak mungkin kalau Yang Maha Kuasa sudah berkehendak, Kak."
"Ya sudah, aku pamit ya, Neng." Kak Listi akhirnya bergegas. Meninggalkan kamar setelah mencium kening, dan perutku.
Aku menghela napas lega. Hari ini, cukup mengesankan. Dari mulai mengikuti kelas ibu hamil, tiba-tiba harus melayani keinginan pak Zulfikar, ada bu Dewi ke kamarku, dan terakhir dikunjungi kak Listi. Finally, Lanjut membaca Al-Qur'an sambil menunggu adzan Maghrib berkumandang.
...⚘️⚘️⚘️...
"Hanindiya, Hanin!"
Aku yang baru saja selesai shalat Isya langsung terkejut gara-gara panggilan keras itu.
"P-Pak Zulfikar? Ti-tidak salam dulu?" Aku segera berdiri dan menghampirinya. Seperti biasa, meraih tangannya untuk kucium dan kusalami.
"Apa maksudnya kamu menyuruh Dewi berdandan ala kamu?" tanyanya.
"Ma-maksudnya?"
"Hanin, kamu tahu? Gara-gara perbuatan kamu, aku salah mengenali sosok istriku sendiri. Di ruang tamu, aku tadi langsung memeluk Dewi. Posisinya membelakangiku, dan Dewi memakai gamis serta jilbab yang mirip dengan jilbab kamu," terangnya sambil mengambil air putih dari kulkas. Wajahnya menunjukkan ketidaksenangan.
"Maaf, Pak."
"Jangan hanya kata maaf. Cepat jelaskan, kenapa kamu menyuruh Dewi bergaya ala kamu? Bahkan, kata Dewi, kamu sendiri yang memberinya jilbab yang biasa kamu pakai."
"Pak, tolong tenang dulu ya. Akan kuceritakan pelan-pelan."
Aku memegang tangannya. Posisi pak Zulfikar baru saja pulang dari menyelesaikan urusan. Dia pasti kecapekan. Itulah kenapa dia beteriak dan terlihat emosi. Kata ummi, orang yang kelelahan itu gampang tersulut emosi. Sebagai istri, aku harus menenangkannya.
"Aku enggak bisa tenang! Bisa-bisanya Dewi bergaya seperti itu! Parfum yang dia pakaipun wanginya sangat mirip dengan milik kamu."
Aku menautkan alis. Pantas saja bu Dewi memperhatikan meja riasku. Bisa jadi, ia sengaja membeli parfum yang sama denganku setelah tahu merk parfum yang kugunakan.
"Pak, aku tidak pernah menyuruh bu Dewi menyerupaiku."
"Sudah kuduga! Dia pasti berbohong!"
"Pak tenang dulu, atuh."
Karena dia seolah tak mau bersabar mendengarkanku, aku segera berjinjit demi melingkarkan tangan di lehernya. Setelah berhasil, langsung kucium saja bibirnya agar dia tak mengomel lagi.
Lantas, kusesap dengan gaya yang cukup nakal hingga matanya membulat sempurna. Pada akhirnya, akulah yang kalah. Sebab, dia malah membalasku dengan serangan mematikan.
"Cu-cukup Pak ...." Akhirnya, aku kalah telak.
"Beraninya kamu menggodaku di saat seperti ini." Sambil mengusap bibirku.
"Maaf, Pak. A-aku hanya ---."
"Aku paham maksudnya. Baik, aku minta maaf ya sayang," selanya. Dia memelukku dan memanggil 'sayang' lagi. Artinya, inisiatifku membuahkan hasil. Emosinya meredam setelah aku menciumnya.
"Mau mendengar penjelasanku?"
"Mau sayang, tapi ... temani aku mandi dulu ya," ajaknya. Dia meletakkan tanganku di pinggangnya. Maknanya, ia memintaku untuk membukanya.
"Siap, Pak Suami. Tapi, Anda harus janji dulu."
"Janji apa?"
"Janji harus lebih bersabar menghadapi bu Dewi."
"Issh, aku malas kalau berurusan dengan dia. Dia jahat."
"Anda jangan ikutan jahat. Kalau Anda juga jahat, apa bedanya?"
"Hmm, baiklah. Akan kuusahakan."
Sekarang sambil meletakkan kepalanya di pundakku. Ya ampun, sudah sebesar ini tapi manjanya minta ampun. Bisa 'kan mandi dan buka baju-celana sendiri? Kenapa harus sama aku? Pikiran jahatku sedang mempengaruhi. Tapi, aku tidak terpengaruh. Tetap membantunya dengan ikhlas dan senang hati.
...⚘️⚘️⚘️...
__ADS_1
...~Tbc~...