
Daini Hanindiya Putri Sadikin
"Mmph ...."
Dia malah mencium bibirku. Aku mendorong dadanya. Aku tidak mau terlalu sering melakukan adegan ini. Tapi apalah daya, karena aku baru saja muntah-muntah, tubuhku lemas. Alhasil dia leluasa memagutku cukup lama, kian mendalam, dan cenderung nakal hingga aku terbatuk-batuk.
"Uhhuk, uhhuk."
"Maaf ya." Mengusap bibirku.
"Jangan seperti ini terus Pak, lama-lama aku tak nyaman," tegasku.
Aku berbohong, karena sebenarnya ... aku mulai terbiasa dengan apa yang dia lakukan. Bahkan suatu ketika, aku pernah merindukan belaiannya.
Maafkan aku bu Dewi, aku berjanji akan mengakhiri semua ini secepatnya.
"Hanin, aku melakukannya karena merindukanmu."
Sungguh, aku tidak percaya sepenuhnya kalau dia mencintaiku. Aku merasa ungkapan cintanya hanya alasan semata untuk menguasai tubuhku.
"Bapak belum menjawab pertanyaanku, cepat jawab Pak," lirihku sambil berusaha menjauh dari tubuhnya. Dia menarik napas panjang sebelum menjawab pertanyaanku.
"Hanin, aku sudah berkata jujur tentang perasaanku untukmu. Untuk perasaanku pada Dewi, kurasa kamu tidak perlu tahu. Sebagaimana Dewi yang tidak mengetahui perasaanku terhadapmu," jawabnya.
Sebuah jawaban ambigu yang membuatku semakin yakin jika dia pria egois. Keinginanku untuk lepas dari belenggunya kian bulat. Aku tidak ingin terus memupuk rasa yang tak pasti ini.
Aku tidak berhak berharap lebih, sebab sedari awal aku meminta dia menikahiku hanya karena menginginkan gelar janda. Air mata ini kembali menetes. Aku memeluk guling dan menepis tangan Pak Zul saat dia megelus pundakku.
"Cepat ke kantor Pak," usirku.
"Aku mau shalat Dzuhur dan makan siang di sini," jawabnya.
Dia beranjak sambil menggulung lengan kemejanya. Sepertinya hendak berwudhu. Aku menatapnya hingga punggung itu tak terlihat lagi.
Apa? Di-dia mau makan siang di sini?
Aku sadar tidak memiliki masakan. Tadi pagi, aku sudah makan bubur ayam. Siang ini hanya makan roti gandum karena nafsu makanku menurun. Akupun memaksakan diri untuk bangun. Ya, aku masih istrinya. Aku harus memasak untuk makan siangnya.
Aku melangkah gontai menuju dapur sambil berpegangan pada dinding. Maag kali ini benar-benar menyiksa dan terasa sedikit berbeda dari biasanya.
.
Masak apa ya?
Di dapur, aku kebingungan. Bahan makanan memang banyak. Tapi kalau memasak yang rumit pasti membutuhkan waktu.
Aku lantas membuat tes manis untuk memulihkan energiku. Lalu membuat sosis bakar sembari menggoreng nugget. Membuat sambal kecap saus dan irisan mentimun serta salad mentah untuk sayurannya.
Ini menu asal-asalan, asal jadi. Terserah dia mau makan atau tidak. Yang penting aku sudah berusaha memasak untuknya.
Kulihat di dalam kulkas ada mangga, aku mengambilnya untuk dikupas. Mungkin akan lebih baik kalau aku membuat jus mangga untuknya. Mangga dari kulkas, selain dingin juga terasa licin.
"Awwh," pekikku.
Aku terluka, telunjukku tergores pisau hingga berdarah.
"Hanin, aku mencari kamu."
Terdengar suara pak Zulfikar. Aku membalikan badan, menyembunyikan jariku yang terluka di balik punggunggku. Dia menghampiri sambil memandangi masakan yang sudah kusajikan di meja makan.
"Kenapa harus repot-repot memasak? Ya, aku memang mau makan di sini, tapi maksudku mau pesan makanan dari luar," terangnya.
"Kalau Bapak tidak suka, tidak perlu dimakan. Silahkan kalau mau pesan dari luar. Lagipula aku hanya bisa memasak itu. Maaf, aku tidak tahu kalau Anda akan ke sini."
Aku berkata sambil menunduk. Serius, jariku yang terluka terasa semakin perih.
"Aku tidak jadi pesan makanan. Aku mau makan ini saja. Terima kasih ya Hanin. Wah, sudah lama sekali aku tidak makan sosis dan nugget."
Dia tersenyum, memperhatikan masakanku. Bagi orang kaya, makanan cepat saji seperti ini mungkin dianggap kurang baik bagi kesehatan. Mereka cenderung lebih memilih masakan yang berasal dari bahan-bahan yang segar. Sayuran dan daging yang ada dikulkaspun bertuliskan 'sayur organik' dan 'daging organik.'
"Kemarilah, temani aku makan. Kita makan bersama," ajaknya.
"Tidak Pak, Anda saja."
"Hanin, ka-kamu? Itu darah apa?!"
Dia terkejut. Menghampiriku dan membalikan badanku. Ternyata darah dari telunjukku menetes ke lantai.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Hanin."
Dia cepat-cepat menarik tanganku lalu menghisap telunjukku yang terluka sebelum aku sempat menepisnya.
"Ahh," spontan aku mengaduh.
"Lain kali lebih hati-hati lagi. Ya ampun Hanin, aku baru tahu kalau kamu ceroboh. Duduk! Lukanya harus dibungkus."
Dia cerewet sekali. Sampai-sampai aku tak sempat menjelaskan apapun. Jadi aku diam saja sambil memperhatikan kesibukannya mengambil kotak P3K, membersikan lukaku, lalu membungkusnya.
"Terima kasih, Pak." Aku akui dia sangat cekatan.
"Tak perlu mengucapkan."
"Aku mau membuat jus mangga, Bapak cepat makan." Aku mengambil kembali buah tersebut.
"Hanin, cukup!"
Bicaranya terdengar tegas. Dia bahkan menatap tajam ke arahku.
"Ma-maaf."
Aku kembali ke meja makan. Setelah aku duduk, dia mulai memakan masakanku.
"Ti-tidak pakai nasi?" tanyaku.
"Aku tidak suka makan sosis atau nugget bersama nasi." Mengunyah pelan sambil mentapku.
"Oh, aku malah sering makam mie pakai nasi," kataku.
"Hahaha, benarkah? Apa ditambah gorengan juga?"
"Sering Pak," jawabku.
"Hahaha, stop! Jangan melawak, aku sedang mengunyah."
Siapa coba yang melawak? Perasaan, sama sekali tidak ada yang lucu.
Aku terdiam. Namun tangan bodoh ini spontan mengelap lelehan sambal saus kecap yang berada di sudut bibirnya. Dia terkejut, akupun demikian. Dia tersenyum dan beterimakasih. Sedangkan aku langsung menunduk karena malu. Suasana di meja makan berubah jadi canggung.
.
"Duduklah," dia menepuk dudukan sofa yang berada di sampingnya.
"Aku di sini saja." Aku duduk menjauh.
"Hanin, kubilang du ---."
"Baiklah." Aku patuh, duduk di sampingnya.
"Hanin," dia memegang bahuku, mengahadapkan tubuhku ke arahnya.
"Nanti malam, kalau kamu sehat, aku berencana mempertemukanmu dengan Dewi."
Deg, dadaku terhenyak. Aku memang ingin segera menyelesaikan masalah ini, namun saat itu akan terjadi, aku tiba-tiba takut. Entah apa yang kutakutkan.
Bukankah aku ingin segera mengakhiri semua ini?
"Tidak perlu takut, aku akan berada di sampingmu. Membelamu, Hanin. Nanti akan ada polisi dan pengacara juga," terangnya.
"Alhamdulillah, a-aku sangat menantikannya Pak. Setelah pertemuan ini, semoga semuanya baik-baik saja," lirihku.
Padahal, batinku tiba-tiba saja merasa belum siap.
"Aku sebenarnya tidak ingin mempertemukan kalian secepat ini. Aku ingin mempersiapkan diri dan menemukan dulu orang yang mencekokmu, tapi aku sudah terlanjur terciduk saat meneleponmu," jelasnya.
"Mau jam berapa?" tanyaku.
Tanganku rasanya sudah mulai dingin detik ini juga.
"InssyaaAllah jam delapan malam. Untuk tempatnya nanti aku tanyakan dulu pada Dewi. Tapi Dewi sedang marah. Ponselnyapun dinonaktifkan."
"Kenapa tidak di sini saja Pak?"
"Tidak Hanin, aku tidak mau Dewi mengetahui tempat ini. Ini apartemenmu."
"Pak, lebih baik kita terbuka saja. Aku tidak menginginkan apartemen ini, aku hanya ingin masalah ini segera berakhir. Aku lelah Pak." Air mata ini kembali menggenang.
__ADS_1
"Hanin, kalau misalnya Dewi menerimamu sebagai madunya, apa kamu mau?"
"Pak, jangan membahas terlalu jauh. Aku sudah katakan, aku mau pisah."
Dia malah memegang tanganku.
"Hanin, apa kamu membenci poligami?"
"Tidak Pak, aku tidak membencinya. Poligami itu diperbolehkan, wahyu-Nya jelas. Sebagai seorang muslimah, aku patut tunduk pada wahyu tersebut. Selama si suami berlaku adil, tidak dzalim, dan dapat menunaikan hak istri-istrinya secara adil, aku tak masalah."
"Tapi ... wanita yang berbagi ranjang denganku, harus sefaham denganku juga. Artinya, dia juga harus menerima konsep poligami tersebut. Jika dia tidak ikhlas dipoligami, maka aku akan memilih mundur dan mengalah. Aku lebih baik sendiri dan menyendiri daripada melanjutkan hubungan di atas penderitaan wanita lain," tegasku.
"Hanin, ka-kamu wanita langka," dia menatapku lekat.
"Terus bagaimana dengan pria yang memiliki banyak istri demi memuaskan syahwatnya?" Dia malah menanyakan itu.
"Selama dia berlaku adil, lalu istri-istrinya ikhlas dipoligami dan tidak memiliki istri lebih dari empat, aku merasa pria itu tak bisa disalahkan. Salah satu tujuan menikah memang untuk menjaga syahwat dan nafsu dari perbuatan yang diharamkan."
"Aku percaya jika setiap wahyu yang diturunkan, pasti memiliki hikmah dan manfaat yang besar. Begitu juga dengan poligami. Pasti memiliki hikmah dan manfaat yang besar baik bagi individu, masyarakat, maupun umat Islam."
"Dengan banyak istri, maka akan memperbanyak jumlah kaum muslimin di muka bumi ini. Poligami juga dapat mengangkat kemuliaan wanita yang suaminya meninggal atau menceraikannya. Karena dengan menikah lagi, akan ada yang bertanggung jawab terhadap kebutuhan dia atau anak-anaknya."
"Hanin, aku sangat tertarik dengan pemaparanmu."
Dia bergeser, mendekat. Melingkarkan tangan di pinggangku. Aku diam saja, malas beranjak, seolah-olah aku juga menginginkan dekat-dekat dengannya.
"Tapi Hanin, saat ini ada berbagai macam penolakan terhadap hukum poligami. Ada yang mengatakan jika suami tidak mungkin mampu berbuat adil pada para istrinya."
"Mereka berdalih ada firman Allah yang artinya, 'Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka kawinilah seorang saja.' Lalu Allah juga berfirman, yang artinya, "Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istrimu, walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian.' Bagaimana menurutmu tentang fenomena itu, Hanin?" tanyanya sambil membelai rambutku.
Sekarang, aku mulai terbiasa tak menggunakan jilbab di hadapannya.
"Pak, ini adalah pemahaman yang aku dapatkan dari guruku ngajiku. Yang dimaksud dengan 'Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil' dalam ayat itu maksudnya adalah suami tidak akan bisa berlaku adil dalam hal rasa cinta. Contohnya dalam kecondongan hati dan perasaan saat berhubungan intim."
"Kaum muslimin telah sepakat bahwa menyamakan yang demikian kepada para istri sangatlah tidak mungkin dan ini di luar kemampuan manusia."
"Kecuali jika Allah menghendakinya. Adapun hal-hal yang bersifat lahiriah seperti tempat tinggal, uang belanja, dan waktu bermalam, mungkin akan mudah diperlakukan secara adil karena dapat dihitung dan dilihat secara kasat mata.
"Tapi untuk adil dalam hal perasaan cinta, aku yakin itu sangat sulit, sebab hal ini sifatnya tak kasat mata dan tak dapat diukur oleh siapapun kecuali oleh Allah dan si pemilih hati. Jikapun ada pria yang seperti itu, aku yakin mungkin hanya bisa dilakukan oleh Rasulallah," jelasku.
"Menurut penelitian, poligami akan mengancam mahligai rumah tangga karena sering menimbulkan percekcokan yang berdampak negatif pada hubungan keluarga dan tumbuh kembang anak-anak. Menurutmu bagaimana?" tanyanya lagi sambil melirik jam tangannya.
"Kenapa harus jauh-jauh berkaca pada penelitian? Bukankah Anda juga sudah merasakannya?" sindirku.
"I-iya juga sih, tapi aku ingin mendengar pendapatmu, boleh 'kan? Emm, yang sering cekcok biasanya para istri." Sambil mengulum senyum. Mungkin merasa sadar diri dengan kalimat sindiranku.
"Menurutku, perselisihan yang muncul di antara para istri sebenarnya adalah sesuatu yang wajar, sebab rasa cemburu adalah tabiat para wanita. Jangankan istri banyak, faktanya, dalam kehidupan rumah tangga dengan satu istri atau monogamipun pasti sering terjadi pertengkaran dan percekcokan."
Dia manggut-manggut, entah apa motif dia menanyakan masalah ini. Mungkin hanya iseng.
"Lalu kesimpulannya?" Di masih bertanya. Kali ini sambil mengecup keningku.
"Aku memang tidak menolak poligami, tapi aku menolak pertengkaran dan permusuhan. Bukankah sesama muslim adalah bersaudara? Islam itu melarang umat-Nya menyakiti hati orang lain."
"Salah satu hadist mengatakan bahwa setiap muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. Dia tidak akan mendzaliminya, menghinakannya, dan tidak pula meremehkannya. Dan keburukan seseorang itu bisa diukur dari sejauh mana dia meremehkan saudaranya," jelasku.
"MasyaaAllah, Hanin. Aku tidak sia-sia istirahat di sini. Lain kali kita mengobrol lagi ya. Aku sepertinya akan terlambat. Aku pamit dulu. Untuk alamat pertemuannya, nanti aku kabari lagi. Oiya, ini uang belanja hari ini. Kamu terima ya." Dia mengeluarkan sejumlah uang.
"Tidak perlu, Pak. Itu saja di kulkas masih banyak." Aku menolaknya.
"Ya sudah, terima saja untuk menggantikan uang berobat kamu."
"Tidak perlu, Pak. Aku tadi pakai BPJS."
"Hmm, ya sudah, kamu buang saja ya."
Dia meletakan uang tersebut di atas meja. Lalu mengulurkan tangan untuk bersalaman. Aku mencium tangannya. Dia menarikku untuk dipeluknya.
"I love you," bisiknya. Mencium puncak kepalaku. Aku membisu.
"Hanin, aku akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia, jika perpisahan itu jalan satu-satunya, dengan berat hati aku akan mengikuti keinginanmu. Tapi aku akan jujur pada abah dan ummimu kalau aku sebenarnya tidak ingin becerai, aku terpaksa melakukannya karena kamu yang memaksaku."
"Anda plin-plan," gumamku saat dirinya benar-benar pergi.
Dia malah tersenyum, membalikan badan, memberikan flaying kiss, kemudian melambaikan tangan. Aku mengantarnya sampai pintu.
...~Tbc~...
__ADS_1