Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Boncap


__ADS_3

Daini Hanindiya Putri Sadikin


Dua Tahun Kemudian


Kemarin adalah Ramadhan teristimewa. Bibirku tidak henti mengucap syukur atas karunia tidak terhingga ini. Bagaimana tidak bahagia? Aku dan keluarga pada tahun ini bisa melaksanakan ibadah umrah di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Pak Zulfikar memang telah mengagendakan ini jauh-jauh hari.


Setelah bayiku tamat ASI ekslusif, ia memang berjanji akan mengajakku pergi umrah. Tak hanya aku, ke empat putra-putrikupun turut serta. Raja, Cantik, Anulika dan Imsha. Imsha adalah putri bungsu kami yang berusia saat ini telah berusia 2 tahun 7 bulan. Nama lengkapnya Imsha Mahasin Antasena.


Karena membawa anak-anak, bu Juju, Ipi, dan pak Budipun dikutsertakan. Oiya sama satu lagi, namanya mbak Wulan. Dia adalah pengasuh Anulika yang lolos seleksi. Bu Silfa memang mengadakan seleksi khusus untuk menjadi pengasuhnya Anulika. Mbak Wulan bukan pengasuh biasa, dia adalah seorang perawat ahli lulusan luar negeri.


...***...


"Sayang," pak Zulfikar mengagetkan lamunanku. Ya, tadi sedang melamun membayangkan kembali kenangan indah saat berada di tanah suci. Saat di sana, kami juga berziarah ke makam bu Dewi.


"Kenapa?" tanyaku.


Oiya, aku sedang sibuk mengerjakan tugas-tugas kuliah. Alhamdulillah, karena dukungan pak Zulfikar, beliau mengizinkanku untuk melanjutkan pendidikan S2. "Yang penting jangan kelelahan, karena kalau kamu kelelahan, aku khawatir kamu tidak bisa melayaniku." Itu salah satu amanat beliau.


"Anak-anak ke mana?" Seperti biasa, bertanya sambil memelukku dan menciumi tengkukku.


"Raja dan Cantik sedang les berenang, Anulika les piano, Imsha lagi tidur," jawabku.


"Oh, baguslah. Hahaha, jadi tidak ada yang mengganggu kita ya." Ia tersenyum dengan bangganya. Bapak 4 anak ini memang rada-rada aneh. Makin ke sini makin cemburuan. Bahkan sama anaknya sendiripun sering adu mulut, terutama sama Raja. Pastinya karena hal sepele, rebutan memelukku.


Raja dan Cantik sebentar lagi berusia 5 tahun. Jadi, mereka memang sedang aktif-aktifnya. Karena mungkin merasa anak pria satu-satunya, Raja sering mendominasi. Jangan tanya bagaimana kondisinya saat mereka berempat berkumpul dan berantem. Hehehe, masyaaAllah. Pokoknya benar-benar nikmat.


"Hanin."


"Ya Mas."


"Anak-anak 'kan sudah lumayan besar, Imsha juga sudah lepas ASI. Kita bulan madu yuk sayang," ajaknya.


"Bulan madu? Untuk apa Mas? 'Kan kita bisa bulan madu di rumah saja. Sayang ah uangnya. Mending untuk tabungan pendidikan anak-anak 'kan?"


"Ya ampun Hanindiya, kamu masih belum sadar kalau suamimu kaya?" protesnya sambil mencubit pipiku. Aku jadi tersenyum, pantas saja ia pulang kerja lebih cepat. Ternyata mau ngajak bulan madu.


"Aku tahu Mas. Tapi ---."


"Tapi apa? Dengar sayang, aku kasihan sama Raja. Aku mau kita program anak laki-laki satu lagi untuk menemani Raja. Bagaimana?" selanya.


"Apa?!" Dengan mudahnya ia memintaku hamil lagi. Ya ampuuun.

__ADS_1


"Boleh," jawabku singkat. Jika ia meminta sesuatu yang sanggup kulakukan, aku pantang menolaknya.


"Serius?" Matanya berbinar. Langsung memutar kursi goyang yang kududuki, bersimpuh, dan memeluk pangkuanku. Aku mengusap bahunya.


"Tapi, apa boleh setelah kehamilan ini aku disteril, Mas? Kata dokter, aku hanya boleh SC sekali lagi karena saat aku hamil Imsha segmen bawah rahimku tipis dan sangat beresiko. Jadi dokternya menganjurkan distril," jelasku.


"Boleh sayang, untuk alasan kesehatan tentu saja boleh. Ya, 'kan?"


Aku mengangguk. Lalu memeluknya. Sungguh, aku sangat bahagia bisa menjadi istrinya. Walaupun perjalanan kisah cinta kami sangat berliku, namun pada akhirnya, aku bisa merasakan kebahagiaan yang sempurna ini.


"Terima kasih ya Mas."


"Sama-sama." Ia membalas mendekapku erat. Dada bidangnya bahkan nyaris membuatku sesak napas.


"Lam li kum."


Kami terkejut seketika. Itu suara Raja. Dia kalau mengucap salam mood-moodan. Kadang dengan baik dan benar, kadang hanya mengatakan 'lam li kum.' Yang 'lam li kum tentu saja tidak pernah dijawab. Kami sudah sering mengingatkan Raja. Tapi ya namanya juga anak-anak.


Gagal. Padahal, aku dan pak Zulfikar baru saja akan menyatukan wajah. Aku bahkan sudah memejamkan mata.


"Ya ampun Raja." Pak Zulfikar bergegas membuka pintu kamar.


"Mama, Papa," disusul oleh Cantik. Tak lama, Imshapun tiba.


"Mama Dai."


Anulikapun tidak mau kalah, mbak Wulan tersenyum saat melihatku kerepotan dengan serangan anak-anak. Mereka memelukku secara bersamaan. Mencium pipiku dan keningku sambil ketawa-ketiwi. Pak Zulfikar dikacangin. Ia cemberut sambil bertolak pinggang.


"Papa mau dipeluk juga?" tanya Raja.


"Enggak mau," tolaknya.


"Hahaha."


Raja tertawa sambil melompat ke pangkuannya. Pak Zulfikar menyambut tubuh Raja, membawanya ke tempat tidur dan merekapun langsung perang bantal di tempat tidur.


"Adik-adik! Tolongin Aa!" teriak Raja. Dia sendiri yang memilih dipanggil 'Aa.' Awalnya, aku dan pak Zulfikar memanggilnya 'Kakak.'


"Seraaang!" teriak Cantik dan Anulika. Mereka segera berlari dan menyerang pak Zulfikar dari berbagai sisi.


"Papa celang (serang)," Imsha tidak mau tinggal diam. Ia juga ambil andil menindih tubuh pak Zulfikar.

__ADS_1


"Hahaha. Kita menang!" Raja riang gembira.


"Aaaa, ampuuun, Hanin tolooong!" Pak Zulfikar meminta bantuanku.


"Aduh punten (maaf), lagi sibuk," tolakku.


"Apa?! Awas kamu ya Hanin! Nanti malam pembalasan!" teriaknya.


"Tenang Mama, nanti malam Aa dan adik-adik akan bantu Mama melawan Papa," kata Raja.


"Ya, Cantik juga mau bantu Mama."


"Lika juga mau tidur di kamar ini," timpal Anulika.


"Ya ya ya," Imshapun mengiyakan.


"Apa?! Tidaaaak!" Pak Zulfikar putus asa.


"Kenapa kalian semua selalu membela Mama? Hei, Papa banting-tulang lho kerja untuk kalian? Hu hu hu." Ia pura-pura nangis sambil menelungkupkan tubuhnya. Aku segera naik ke tempat tidur dan memeluknya.


"Cayang (sayang) Papa," kata Imsha. Ia mengikutiku memeluk pak Zulfikar. Disusul oleh Cantik dan Anulika.


"Cantik juga sayang Papa."


"Lika juga sayang Papa, sayang Mama Dai."


Kami memeluknya. Pak Zulfikar membalikan badan, memeluk dan mencium kami satu-persatu. Sedangkan Raja, ia hanya memerhatikan sambil melipat tangan di dadanya. Ya ampun, yang dilakukan Raja mirip seperti gaya pak Zulfikar saat memerhatikanku dulu saat aku masih bekerja di kantornya.


"Aa enggak peluk Papa?" tanya pak Zulfikar.


"Memangnya kalau Aa sayang Papa harus peluk Papa? Enggak peluk juga tak masalah 'kan? Yang penting Aa sayang Papa," jawabnya.


Aku dan pak Zulfikar spontan saling memandang. Jawaban Raja membuatku tersenyum. Wajah Raja mirip denganku, tapi watak dan tabiatnya mirip pak Zulfikar.


"Dah Papa Mama, Aa mau main bola," Raja pergi dengan wajah datarnya setelah mencium tanganku dan tangan pak Zulfikar.


"Anak itu! Kayak siapa 'sih? Perasaan aku enggak begitu," ocehnya. Benar-benar tidak mawas diri kalau sifat Raja diwariskan olehnya.


______


Semoga bisa mengobati kerinduan. Salam rindu, salam sayang. Jika berkenan, mampir ke karya nyai yang lain ya. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2