Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Pertemuan Keluarga


__ADS_3

Zulfikar Saga Antasena


"Pak Zulfikar, pak Aksa dan bu Yuze sudah datang."


Seorang petugas keamanan yang bekerja di di rumahku berlari ke gazebo dengan wajah tegangnya. Mendengar kabar itu, aku dan Hanin langsung bersitatap. Hanin langsung melepas genggaman tanganku dan berpindah memegang tangan abah.


"Sayang, kenapa?" Aku tak ingin melepaskan tangannya.


"A-aku sama Abah saja, Pak. Aku takut," katanya. Wajahnya memucat. Bahkan kembali memanggilku dengan panggilan 'Bapak.'


"Tenang saja sayang. Kan ada aku." Aku mencoba mengukuhkan peranku sebagai suaminya.


"Mas, tidak apa-apa, biarkan Daini sama Abah dulu ya," kata abah.


Ummipun mengangguk menyetujui apa yang dikatakan abah. Kali ini aku mengalah, dengan berat hati aku melepaskan tangan Hanin dari genggamanku.


"Mari ke dalam," ucap pekerja yang tadi memberi kabar, lalu ia bergegas pergi.


"Uhhuk, uhhuk," dokter Rahmi malah terbatuk-batuk.


"Tenang dong, Dok," kata pak Ihsan sambil tersenyum pada dokter Rahmi.


"Saya tegang, Pak. Jantung ini jadi berdebar-debar tak karuan," katanya.


"Hahaha, saya juga sebenarnya sama, sedikit gugup," ucap pak Ihsan.


"Mama dan papaku baik, kok," belaku. Maksudnya untuk menenangkan mereka.


"Yuk atuh kita ke sana, bismillah saja, Ummi yakin pak Aksa dan bu Yuze adalah orang baik dan bersahaja." Ummi yang tadi banyak diam akhirnya bicara juga.


"Mari," ajakku.


Aku berdiri dan mulai melangkahkan kaki. Perasaan ini terasa aneh. Bayangkan, masa ya aku merasa tersisih di rumah mama dan papaku sendiri? Hanin diapit oleh ummi dan abah. Dokter Rahmi dan pak Ihsan berjalan berdampingan.


...***...


"Silahkan, Pak." Ada pekerja lain yang menyambut kami di pintu masuk ke ruang tamu.


Hanin terus menunduk. Ummi dan abah memperhatikan desain interior rumahku.


"Wow, amazing," seru dokter Rahmi. Sementara pak Ihsan tampak biasa-biasa saja.


Ruang tamu sudah di depan mata.


"Silahkan duduk," kata bu Juju.


Bu Juju adalah asisten rumah tangga kepercayaan mama yang sudah lama bekerja di rumah ini. Selain bu Juju ada satu lagi, namanya Ipi. Dia jauh lebih muda dari bu Juju. Ipi masih single. Kalau bu Juju single parent.


"Terima kasih," ucap Hanin, abah, ummi, dokter Rahmi dan pak Ihsan serempak.


"Mama dan papa di mana Bu?" tanyaku. Aku segera duduk di sisi Hanin. Jadi, Hanin diapit olehku dan ummi. Di sisi ummi ada abah.


"Katanya mau ganti baju dulu, Pak. Ini, dinikmati dulu saja hidangannya," kata bu Juju. Matanya mengerling ke arah Hanin yang sampai saat ini masih menunduk.


"Saya tinggal dulu," lanjut bu Juju. Lalu ia pergi sambil membungkukkan badannya.


"Ayo, diminum dulu," saranku pada semuanya. Lantas aku mengambilkan minuman untuk Hanin.


"Sayang, mau jus apa?" tanyaku.


Tapi dia malah menggelengkan kepalanya. Saat aku bersitatap dengannya, kulihat mata Hanin memerah. Apa dia menangis? Batinku bertanya-tanya.


Kemudian terdengar derap langkah kaki yang mendekati area ruang tamu. Aku yakin jika yang datang adalah mama dan papaku. Aku spontan berdiri, yang lain mengikuti. Jadi, semuanya berdiri, tak terkecuali Hanin.


"Assalamu'alaikuum," sapa abah. Ia menjadi orang pertama yang menyapa.


"Wa'alaikumusalaam," jawab semuanya. Ya, kita semua tahu kalau menjawab salam itu hukumnya wajib.


"Abahnya Daini," kata abah sambil tersenyum. Lalu menyalami papa dan mamaku.


Papa dan mama masih terpaku. Mereka menerima uluran tangan abah dan ummi namun matanya fokus menatap Hanin yang saat ini masih menunduk sambil memegang tanganku.


"Neng, cepat salim," ajak abah pada Hanin.


Aku lantas menarik tangannya agar berdiri dan bersalaman dengan papa dan mamaku. Setelah aku menyalami papa-mama, Haninpun mendekat, dengan tangan gemetar ia meraih tangan mama.


"A-aku Daini, Ma-Mama," kata Hanin.


"Saya tahu, panggil ibu saja," kata mama.


Kalimat mama membuatku ingin protes, tapi aku tahan agar emosiku tidak merusak pertemuan ini.


"Ma-maaf, Bu. Ya, aku Daini. Pak Aksa, aku Daini," kata Hanin pelan. Ia lanjut meraih tangan papa dengan tangan gemetar jua.


"Panggil papa 'dong, Nak. Ya ampun, kamu cantik sekali, pantas saja Zul tergoda," kata papa. Tatapan dan sambutan papa pada Hanin terlihat lebih baik jika dibandingkan dengan mama.


"Tapi kalau Daininya tak meggoda Zul, mungkin saja Zul juga tidak tergoda ya, Neng," sindir mama.


Entah apa maksud mama, namun kalimat itu sudah cukup membuat Hanin semakin tertunduk.


"Hanin tak pernah menggodaku, Ma. Aku tulus mencintai dia dari lubuk hatiku yang terdalam," tegasku sembari menuntun Hanin agar kembali duduk.


"Saya dokter pribadinya neng Daini," kata dokter Rahmi.


"Kerja yang benar, jaga cucu saya," kata mama saat ia dan dokter Rahmi bersalaman.


"Siap, saya akan bekerja semaksimal mungkin."


"Baik. Juju, kamu cepat antar dokter Rahmi ke kamar tamu," titah mama.

__ADS_1


"Baik," jawab bu Juju.


"Saya pengacaranya keluarga Abah, nama saya Ihsan Hadinata. Saya kakak tertunya Ikhwan, pengacara muda yang bekerja di firma hukum milik keluarga Pak Aksa," jelas pak Ihsan pada papa dan mama setelah dokter Rahmi meninggalkan ruang tamu.


"Apa?!" Papa dan mama tampak kaget.


"Pantas saja pas saya lihat untuk pertama kalinya, saya merasa 'kok kayak sering melihat wajah seperti ini," tambah papa.


"Tapi saya tak memberi tahu Ihkwan kalau saya mau ke sini."


"Maaf, kok bawa pengacara segala. Apa ada yang mau disanggahkan?" tanya mama sambil menatap pada ummi dan abah.


"Maaf sebelumnya. Pak Aksa, Bu Yuze, saya ke sini sengaja membawa pengacara hanya untuk juru bicara saja. Saya dan istri sadar diri bukan orang yang berpendidikan tinggi. Maksudnya, kalau ada perpanjangan lidah dari seorang pengacara, saya dan istri jadi lebih tenang," terang abah seraya tersenyum.


"Abah sudah purna tugas. Awalnya pendidik di salah satu SMAN Bandung. Ummi mertua sarjana ekonomi. Ummi dan Abah saat ini mengurus bisnis budidaya ikan mas, mujair, nila dan lele," jelasku.


"Aih Mas, tak penting menjelaskan itu. Budidaya ikan milik Abah, dan Ummi tak ada seujung kukunya jika dibanding dengan perusahaan raksasa milik Pak Aksa dan Bu Yuze," timpal ummi.


"Hahaha."


Entah kenapa, mama malah tertawa. Apa mama mentertawakan bisnis keluarga Hanin? Tak sopan! Mama benar-benar membuatku nyaris naik pitam. Ummi langsung menunduk saat mama tertawa. Abah malah tersenyum.


"Emm, P-Pak Aksa, Bu Yuze, Ummi dan Abahku datang ke sini untuk bersilaturahim. Maaf jika kedatanganku dan orang tuaku membuat Bapak dan Ibu tidak nyaman," kata Hanin. Aku terkejut dengan penjelasannya.


"Sayang, kenapa kamu berbicara seperti itu? Mama dan Papaku berkenan 'kok. Justru merekalah yang menyuruhku membawa kamu ke rumah ini," protesku. Hanin terdiam.


"Ya Neng Daini, Papa dan Mama sepakat untuk mengurus kamu dan calon cucu kita di rumah ini," sela papa.


Dari tatapan papa pada Hanin, aku bisa menyimpulkan kalau papa menyukai Hanin. Aku sedikit lega. Mamapun mengangguk mengiyakan.


"Saya mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan Bu Yuze dan Pak Aksa. Sebagai orang tuanya Daini, saya senang kalau Daini bisa diterima. Tapi, karena pernikahan Daini dan Mas Zul termasuk ke dalam pernikahan yang unik, saya mau titip pesan," kata abah. Lalu melirik pada pak Ihsan.


"Walaupun pernikahan mereka unik, anak yang dikandung Neng Daini tetaplah cucu sah kami. Ya, secara hukum saya dan istri memang bisa saja menolaknya, tapi kami memiliki hati nurani, Pak. Saya dan istri tak mungkin mentelantarkan cucu-cucu saya. Bapak dan Ibu tenang saja," kata papa.


"Ya, suami saya benar. Lagi pula, orang tuanya Dewi sudah mengorbankan diri," sela mama.


"Mengorbankan diri? Maksudnya? Maaf, saya tak faham, bisa dijelaskan lebih rinci lagi?" tanya ummi.


"Zul, memangnya kamu belum menjelaskan isi preskon itu?" tanya papa. Menatapku. Tidak hanya papa, semua yang hadir di ruangan ini menatapku, termasuk Hanin.


"Pernyataan Mama berlebihan, keluarganya Dewi tidak mengorbankan diri. Hanya saja, mereka mengatakan pada publik kalau aku dan Hanin sudah becerai. Identitas Haninpun tidak dibongkar ke publik, jadi kamu aman sayang," jelasku.


"Memangnya beritanya seperti apa?" Abah terlihat penasaran.


"Jelaskan saja semuanya Zul," suruh papa.


Aku menghela napas. Dengan berat hati, akhirnya aku menjelaskannya.


"Intinya, ada pihak yang memanfaatkan masalah ini. Mereka menjual berita jika aku berselingkuh dengan bawahanku. Dalam hal ini, beritanya sangat mendiskriminasi Hanin. Walaupun identitas Hanin disembunyikan tapi beritanya menyudutkan Hanin."


"Kamu berbelit-belit, Zul. Ini mama punya artikelnya. Silahkan Bapak dan Ibu baca saja." Mama menyodorkan tabnya pada Abah.


"Pak Ihsan, coba bacakan agar bisa didengar oleh semuanya," kata abah. Abah memberikan tab mama pada pak Ihsan.


"Berita pertama isinya begini, 'Seorang putra pengusaha terkenal sekaligus kerabat petinggi negara yang masuk ke dalam jajaran crazy rich Indonesia dikabarkan telah melakukan hubungan terlarang atau perselingkuhan dengan bawahannya. Akibat kabar itu, sang istri yang juga merupakan putri tunggal crazy rich dikabarkan mengalami trauma berat hingga terganggu secara psikologisnya.' Begitu," kata pak Ihsan.


Abah dan ummi menyimak, Hanin tertunduk. Lalu ada sesuatu yang menetes ke punggung tangannku. Ternyata Hanin menangis.


"Sayang, jangan menangis, ssshhh." Aku memeluknya. Ummipun mengusap punggung Hanin.


"Lanjutkan Pak Ihsan," kata abah.


"Bu Dewi mengatakan pada media jika ia dan keluarganya ingin mengklarifikasi berita itu. Pihak bu Dewi mengatakan kalau berita perselingkuhan itu tidak benar alias hoax. Namun bu Dewi membuat berita baru dan mengatakan, ada seorang wanita nakal yang sengaja menjebak dan menggoda suaminya hingga mau tak mau suaminya harus menikahi wanita tersebut secara siri," jelas pak Ihsan.


"Huks."


Tangisan Hanin semakin kencang. Ummipun tertunduk. Abah belum berekspresi.


"Mama! Harusnya Mama tak memaksanya mengetahui berita ini! Ini yang aku khawatirkan, Ma! Kalau Hanin tahu berita sebenarnya, dia bisa stres! Kalau Hanin stres, kandungannya bisa terganggu!" teriakku. Aku berdiri karena tak sanggup menahan emosi.


"Mas, tenang. Tak boleh membentak orang tua." Abah menarik tanganku agar kembali duduk.


"Jangan pernah menyalahkan Mama, Zul! Bukankah kamu sendiri sumber masalahnya?!" teriak mama.


"Ma, cukup! Jangan seperti ini, sudah! Neng Daini, tenang ya. Papa janji akan membuat berita baru untuk membersihkan nama baik kamu," tegas papa.


"Janji ya, Pa. Terima kasih," kataku. Ucapan papa membuat emosiku mereda.


"Lanjutkan lagi, Pak. Apa masih ada berita lainnya?" Abah rupanya masih penasaran.


"Bu Dewi mengatakan agar media tak menggembor-gemborkan berita itu lagi. Sebab kata bu Dewi suaminya sudah menceraikan wanita itu dan rumah tangga mereka saat ini baik-baik saja," tambah pak Ihsan. Kemudian menyerahkan tab pada mama.


"Mama puas sekarang?! Jelas 'kan yang pura-pura mengorbankan diri itu siapa?! Di berita itu justru Haninlah yang jadi korban, Ma!" tegasku.


"Zul, Dewi dan keluarganya juga sudah berkorban! Mereka membela kamu! Mereka sama sekali tak menyudutkan kamu, kan?!" bentak mama.


"Ya benar! Tapi bukan itu yang aku inginkan, Ma! Aku inginnya Dewi tak menyalahkan Hanin! Aku malah lebih ikhlas kalau dia menyalahkanku!"


"Bodoh kamu, Zul! Dewi mengatakan demikian demi apa coba?! Ya demi nama baik kamu!" Mama menatap sinis ke arahku.


"Stop, cukup Ma! Kalau kamu dan Zul mau bertengkar jangan di sini! Silahkan cari ruangan kosong! Papa dan Abah mau ngobrol serius, pergi kalian!" sela papa. Aku dan mama akhirnya terdiam.


"Maafkan anak dan istri saya," kata papa sambil tersenyum dan menatap intens pada Hanin.


"Tak masalah," kata abah.


"Apa dari Pak Pengacara ada yang mau disampaikan?" Papa merubah suasana jadi lebih tenang tapi serius.


"Ada, Pak. Begini, saya sebagai perpanjang lidah dari Abah ingin menyampaikan hal penting. Pertama, Abah sudah mengetahui surat perjanjian pranikah antara Pak Zulfikar dan bu Dewi. Jadi, Abah tak bisa berbuat banyak untuk membantu pernikahan ini menjadi pernikahan yang resmi."

__ADS_1


"Kedua, Abah dan Ummi tak mempermasalahkan status calon bayi yang dikandung Neng Daini. Abah dan Ummi ikhlas jikapun pernasaban mereka dikembalikan lagi pada Abah dan Ummi. Ummi dan Abah sama sekali tak mengharapkan apa-apa dari pernikahan ini."


"Ketiga, Ummi dan Abah hanya ingin Neng Daini merasa tenang dan bahagia. Jadi, selama Neng Daini berada di sini, kami mohon agar Bu Yuze dan Pak Aksa memberikan kebebasan untuk Neng Daini mengaktualisasikan dirinya. Dalam artian, jika sewaktu-waktu Neng Daini ingin pergi ke suatu tempat atau mau pulang ke Bandung, Bu Yuze ataupun Pak Aksa tak boleh melarangnya," jelas pak Ihsan panjang lebar.


"Masalah kebebasan saya setuju. Tapi untuk masalah pernasaban, saya inginnya mereka menjadi cucu saya secara hukum," tegas papa.


"Kalau pendapat Bu Yuze bagaimana?" tanya pak Ihsan.


"Saya juga maunya anak itu jadi cucu saya 'lah. Enak saja mau dinasabkan ke keluarga di Bandung, yang hamilin Daini 'kan anak saya. Pokoknya itu cucu saya, titik," kata mama sambil menatap perut Hanin.


"Maaf, bukan cucu saya, tapi cucu kita," sela abah. Meluruskan kalimat mama sambil tersenyum.


"Hahaha, Bapak benar," sela papa sambil mengangkat jempolnya.


"Hahaha," abahpun tertawa. Ummipun mengulum senyum. Hanin mengusap airmatanya. Suasana saat ini jadi terasa hangat.


"Ih, apaan 'sih! Papa dan Bapak mentertawakan saya?! Ya ya ya, ini calon cucu kita semua. Daini, yuk kamu ikut Mama! Sekarang," katanya.


Lalu mama tiba-tiba berdiri dan menarik tangan Hanin begitu saja. Hanin terkejut, tapi ia patuh saat mama menariknya.


"Mas," Hanin menatapku. Mungkin merasa ragu pada sikap mama.


"Tak apa-apa sayang, ikut saja, Mas temani," kataku.


Aku lantas menyusul mama yang membawa Daini ke dalam rumah.


.


"Katanya bawa oleh-oleh banyak dari Bandung? Bawa apa saja?" tanya papa.


Aku masih bisa mendengar percakapan papa. Sambil berjalan menyusul Hanin dan mama, aku tersenyum. Menurutku, ini pertanda baik.


"Tak banyak 'sih. Tapi ada, sedikit 'kok. Kalau Pak Aksa tidak suka, nanti Abah bagikan ke tetangga di sini. Tapi tetangga di sini kayaknya belum tentu suka juga. Paling, nanti Abah bagikan ke anak-anak jalanan," jawab Abah.


"Boleh saya lihat oleh-olehnya?"


Samar-samar, suara papa dan abah masih bisa aku dengar. Untuk obrolan selanjutnya, aku sudah tak bisa mendengarnya lagi.


...***...


"Ini kamar kamu dan Zul. Selama berada di sini, kamu tidur di kamar ini ya," kata mama.


Mama membawa aku dan Hanin ke ruangan khusus yang sudah ia sulap menjadi kamar serba ada. Aku sampai melongo. Berarti, seharian kemarin mama sibuk menyiapkan kamar ini. Hanin menatap sekeliling kamar dan terbengong-bengong.


"Untuk kamar kamu dan Dewi masih di kamar yang lama. Mama tak merubahnya. Sengaja Mama pisahkan satu lantai, biar nanti saat kamu bercinta dengan salah satu istri kamu, istri yang lain tak bisa mendengar," tegas mama. Aku dan Hanin saling menatap.


"Lihat ini, ini baju-baju kamu, semoga cukup ya, kalau tak cukup, nanti kita beli lagi," sambil membuka lemari.


Mataku langsung melotot pada barisan lingerie. Aku tak menyangka mama akan menyiapkan semua ini.


"Bu, i-ini terlalu berlebihan," kata Hanin.


"Kamu bagaimana 'sih?! Harusnya terima kasih dong. Oiya, lihat isi kulkasnya. Ini sudah saya lengkapi dengan camilan dan susu sehat untuk ibu hamil. Awas saja kalau kamu tak suka." Sekarang mama sibuk menunjukkan kulkas.


Aku berdiri di sudut kamar sambil tersenyum. Walaupun nada bicara mama masih ketus, aku yakin lambat laun mama juga akan menyukai Hanin.


"Cepat tiduran, Mama mau lihat perut kamu," titahnya.


"Ta-tapi, Bu," tolak Hanin.


"Tak ada tapi-tapian, cepat! Mama mau lihat perut kamu bagus tidak, besar kandungan kamu sesuai tidak dengan usia kandungan kamu," katanya.


"Tak apa-apa sayang," bujukku.


Hanin akhirnya merebahkan dirinya. Setelah Hanin terlentang, bak seorang bidan, mama langsung memeriksa perut Hanin.


"Bagus, mulus. Tapi karena bayinya kembar, menurut Mama perut kamu kurang besar. Harusnya lebih besar dari ini. Berarti kamu kurang gizi. Besok kita harus kontrol ke dokter kandungan. Tunggu, apa ini merah-merah?!"


Mama memperhatikan beberapa tanda kemerahan yang ada di perut Hanin bagian bawah.


"Emm," wajah Hanin langsung memerah.


"Ma, i-itu bekas kecupanku." Walaupun malu, aku terpaksa jujur pada mama.


"Apa?! Ya ampun, Zul! Memangnya tak ada tempat lain apa?!" Mama geleng-geleng kepala.


"Di tempat lain sudah juga, Ma," jelasku sambil tersenyum. Hanin salang tingkah.


"Issh,dasar! Ternyata ulah kamu mirip dengan papa kamu!" dengusnya kesal. Aku dan Hanin jadi tersenyum mendengar ucapan mama.


"Coba Mama lihat kaki kamu!"titahnya lagi.


"Ka-kaki? U-untuk apa, Bu?" Hanin semakin kebingungan.


"Ma, tak perlu dilihat. Hahaha, ya aku juga suka mengecup kakinya Hanin. Terutama di bagian betisnya," jelasku sambil tergelak.


"Apa?! Kamu memang duplikatnya papa kamu, Zul. Papa kamu juga suka memakan kaki Mama," katanya sambil geleng-geleng kepala.


"Hahaha, tapi aku hanya melakukannya pada Hanin, Ma. Sama Dewi tak pernah." Entah kenapa aku malah mengatakan kalimat itu.


"Apa katamu?! Dasar pria tak tahu diri! Tak boleh begitu, Zul! Kamu harus adil memperlakukan istri-istri kamu! Termasuk dalam urusan ranjang!" sentak mama sambil memukul kepalaku dengan buku-buku jemarinya. Istilah lainnya menjitak kepalaku.


"Auh," keluhku.


"Ya sudah, sekarang kamu suruh istri kamu ganti baju dan istirahat. Mama mau siap-siap. Dewi mau ke sini," katanya sambil berlalu.


"A-apa?! Dewi?" Aku terkejut. Haninpun sama. Dia terlihat kaget.


...~Tbc~...

__ADS_1


__ADS_2