Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Saran dari Senior


__ADS_3

Iptu Sabil Sabilulungan


Sedang berlangsung rapat kinerja di kantorku. Anggota dan pimpinan yang tidak berhalangan wajib hadir. Hari ini, aku duduk di kursi paling belakang agar tak ditanya pimpinan. Biasanya di di depan. Namun, aku mengatakan pada pemandu rapat jika hari ini aku sedang tak enak badan.


Aku pura-pura fokus pada materi yang kupegang. Padahal faktanya, hati ini tengah melanglang buana entah ke mana. Kejadian semalam terus mengganggu pikiranku. Ya, aku tahu harus bersikap profesional, tapi ... sulit sekali.


"Divisi Propam Polri dalam melaksanakan fungsinya berkewajiban melaksanakan berbagai kegiatan pembinaan fungsi Propam bagi seluruh jajaran Polri. Termasuk di dalamnya pemantauan dan supervisi staf, pemberian arahan dan dukungan. Baik dukungan dalam bimbingan teknis, maupun bantuan kekuatan dalam pelaksanaan fungsi Propam," ucap pimpinan.


Aku manggut-manggut. Mengikuti anggota lain yang sedang manggut-manggut juga. Sesekali, aku menghalangi wajahku dengan buku catatan sambil mengusap bibirku sendiri. Ya ampun, ternyata seperti ini rasanya patah hati. Ada pahit-pahitnya. Namun, apa yang kurasakan semalam ... sulit terlupakan.


"Selain itu, diperlukan juga perencanaan kebutuhan personel dan anggaran termasuk pertimbangan penempatan karir, pengumpulan data, pengolahan dan penyajian, serta data statistik terkait sumber daya maupun hasil pelaksanaan tugas satuan Propam. Hal penting lainnya adalah terkait penyelenggaraan fungsi pelayanan pengaduan masyarakat tentang sikap dan perilaku anggota atau PNS Polri khususnya anggota Propam," lanjut pimpinan.


Pernyataan pimpinan menohok batinku. Malu rasanya. Sebab, semalam, aku sama sekali tak mencerminkan sikapku sebagai anggota Propam yang baik dan taat aturan. Harusnya, aku menjaga citra Polri, namun yang kulakukan malah sebaliknya. Lalu kuusap pipiku. Tamparan Listi rasanya masih terasa hingga kini. Tapi tetap saja rasa yang itu lebih mendominasi.


Lembut ... manis ... hangat, dan kenyal. Aku menopang dagu seraya menatap lukisan di dinding. Tidak, lukisan itu tiba-tiba berubah jadi wajah Listi dan sedang menggejekku.


"Pak."


Terdengar ada yang memanggilku. Aku menoleh ke arah suara. Ternyata, seorang pramusaji sedang membagikan snack dan nasi kotak untuk makan siang. Aku segera mengambilnya dan menganggukkan kepala. Ini adalah kali pertamanya aku berharap agar rapat kinerja ini cepat usai. Lalu seorang kawan satu angkatan mendekat. Sedangkan pimpinanku, hingga saat ini masih memaparkan materi.


"Tumben Bil duduk di belakang." Dia menepuk bahuku.


"Sesekali boleh, ',kan? Hehehe." Berusaha bersikap biasa sambil nyengir.


"Sudah sarapan belum? Lemas banget kelihatannya." Ia menarik kursinya dan duduk di dekatku.


"Sudah, lagi enggak badan Mul." bisikku karena sedikit khawatir interaksi kami diketahui oleh pimpinan.


"Tunggu," temanku bernama Mulyadi mengernyitkan alis saat menatap wajahku.


"Kenapa? Ada yang salah? Perasaan, aku tak salah kostum."


"Bibirmu lecet. Hayo, kenapa 'tuh?" tanyanya dengan berbisik.


"A-apa?!" Sial! Sisa-sisa semalam ternyata belum menghilang. Lecet itu karena gigitan Listi.


"Kebentur Mul," jelasku. Masa bodo dia mau percaya atau tidak. Yang penting sudah memberi alasan.


"Anak mana?" Dia malah bertanya demikian.


"Issh, apa 'sih?!" Sambil menyikutnya.


"Jujur saja, Bil. Aku sudah memerhatikan kamu akhir-akhir ini. Kamu banyak berubah tahu. Kadang murung, kadang ceria," tuduhnya.


"Dugaan kamu tidak benar. Sudah ya, aku mau izin ke klinik dulu."


Daripada mendengar ocehannya, lebih baik pergi saja. Akupun izin pada pimpinan untuk meninggalkan ruangan dan mengatakan akan menyiapkan salinan materi untuk kupelajari.


"Silahkan," ucap pimpinan.


Pimpinan yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan pak Zulfikar, tentu saja telah mengenalku melebihi anggota lainnya. Beginilah sisi positifnya dekat dengan pejabat dan konglomerat. Tak bisa kupungkiri, memang berpengaruh terhadap pekerjaan dan karirku.


.


Tiba di klinik, aku langsung diperiksa dan ditanya-tanya tentang keluhanku. Sebab, berdasar hasil pemeriksaan tanda-tanda vital, mereka mengatakan jika hasilnya dalam batas normal.


"Pokoknya, aku pusing kepala, susah tidur, dan tidak nafsu makan," terangku pada Dokpol.


"Suara nafasnya Pak Abil juga normal, 'kok. Hmm, mungkin kecapekan, Pak. Saya resepkan anti nyeri dan vitamin saja ya, Pak."


"Terserah Dokter," jawabku malas.


"Ya sudah, mau saya buatkan surat sakit?" tawarnya.


"Boleh, tiga hari ya, Dok." Benar, aku harus mengobati penyakit patah hati ini dengan rebahan di rumah dan curhat sama bunda.


"Apa saat bernapa sakit?"


"Hmm, tidak juga. Tapi hatiku tidak tenang, Dok? Seperti ada yang mengganjal tapi tidak bisa kujelaskan detailnya."


"Ya ampun, Pak Abil kayak yang sedang patah hati saja," duganya. Dokpol sepertinya tidak tahu kalau aku masih lajang. Faktanya, dugaan dia memang benar.


"Kalau aku benar patah hati, obatnya apa, Dok?"


"Hahaha, tidak mungkin pria sekeren dan semapan Pak Abil tidak tahu. Patah hati harus diobati dengan hati lagi," jelasnya.


"Baik, sarannya akan kupertimbangkan, Dok."


Dokter hanya tersenyum. Dia pasti mengira kalau aku sedang bergurau.


"Ini surat sakitnya, Pak. Kalau sudah enakan, boleh meninggalkan klinik."


"Dokter mengusirku?"


"Hahaha, tidak Pak. Ya sudah, saya mau periksa pasien lain," katanya.


Aku merenung seorang diri. Nyatanya, masih merasa penasaran sebab Listi belum memberi alasan kenapa dia menolakku. Semalam, apa aku menang keterlaluan? Sungguh, andai dia tak menggigit bibirku, mungkin ... aku tidak akan bisa berhenti.


"Anda gila! Anda mesum!" teriaknya setelah menampar pipiku kiri dan kanan.


Saat itu, aku hanya bisa mematung. Masih merasakan sensasinya. Wajar dia marah. Sebab, aku mengekang tangannya dengan kekuatan penuh hingga Listi tak bisa berkutik. Aku menyesapnya sampai ia megap-megap dan mengeluh. Aku bahkan memperdalam pagutanku hingga kakinya menendang-nendang dan memejamkan mata.


Ketika cekalan tanganku mulai melemah karena terlalu menikmati dan menghayati, saat itulah Listi menggigitku, bibirku berdarah, dan mataku berair akibat ulahnya.


"Sakit," keluhku.


"Rasakan! Itu kenang-kenangan yang sesungguhnya." Kata-katanya terngiang-ngiang.


Semalam, dia memaksa turun dari mobilku. Namun aku tidak mau melepasnya begitu saja. Terpaksa kuborgol tangannya kanannya dengan tangan kiriku.


"Aku akan mengantarmu pulang."


"Aku mau pulang sendiri!"


"Tia, ini sudah malam. Bahaya kalau kamu pulang sendirian."


"Aku justru semakin bahaya kalau bersama Anda."


"Katakan, kenapa kamu menolakku?"


"Pak Sabil! Jangan memaksaku! Cepat buka borgolnya!"


"Tidak akan! Tenang saja, aku sudah mahir mengemudi dalam keadaan seperti. Apa yang membuatmu tak menerimaku? Tolong dijelaskan, siapa tahu, aku bisa merubah atau memperbaikinya."


"Huuu. Dia malah menangis sambil membersihkan bibirnya dengan tangan kiri.


"Tia, maaf. Baik, aku akan mengantarmu pulang. Oiya, apa mau kuantar ke rumah pak Aksa?"


"Tidak mau!" sentaknya.


Sepanjang jalan menuju rumahnya, dia terus menggerutu sambil terisak. Dia bahkan mengatakan kalau aku seniornya buaya darat.


"Dari mana kamu tahu kalau aku buaya darat?"


"Dari cara Anda menciumku!" tuduhnya.


Kala itu, aku langsung tertawa.


"Apa kamu percaya kalau kamu adalah my first kiss?"


"Tidak! Aku tidak percaya!" sentaknya.

__ADS_1


"Apa kamu sering melakukan hal seperti tadi dengan siapa itu namanya? Maksudku, sama mantan kekasih kamu."


"Bukan urusan Anda!"


"Baik, kalau kamu tidak memberitahu alasannya, akan kuanggap jika kamu belum memberiku jawaban. Jadi, kita masih bisa bertemu."


"Ini pertemuan terakhir kita! Dan Anda harus siap-siap! Sebab, aku akan melaporkan kejadian tadi ke polisi. Aku akan bersaksi kalau Anda telah melecehkan aku!"


"Oya? Silahkan," tantangku pada saat itu.


Lucunya, walaupun dia marah. Dia tetap memintaku berhenti di tempat penjual martabak. Katanya, mau beli martabak telur untuk oleh-oleh. Karena hampir tengah malam, aku tak memaksanya menjawab pertanyaanku.


"Silahkan Anda anggap saja kejadian tadi sebagai kenang-kenangan. Aku mengalah dan berjanji tidak akan melaporkan Anda. Syaratnya, Pak Sabil juga harus janji untuk tidak menggangguku lagi. Kalaupun kita tak sengaja bertemu, aku akan bersikap seolah tak mengenal Anda, begitupun sebaliknya," tegasnya saat mobilku sudah berada di depan rumahnya.


"Huuph ...."


Aku memijat kepalaku untuk meleburkan bayangan semalam.


"Listi Anggraeni ...," gumamku, dan adegan itu kembali memenuhi kepalaku.


Setelah menyerahkan surat sakit, aku memutuskan untuk pulang. Namun akan singgah sejenak di kantornya Fikar untuk membicarakan sesuatu.


...⚘️⚘️⚘️...


Karena perasaanku kalut, kala tiba di kantor Fikar, aku baru sadar kalau Listi ada di kantor ini. Dan aku berharap, bisa bertemu dengannya.


'Kruwuk.'


Ya ampun, perutku berbunyi. Harusnya, tadi aku membawa pulang jatah nasi kotakku. Jadi, aku memutuskan untuk makan siang dulu di kantin perusahaan.


Aku melewati kantin khusus akhwat. Kantin ini, kata Fikar dibangun karena terinspirasi dari bu Daini. Tiba di kantin, aku segera memesan menu kesukaanku. Sayur sop, ikan bakar, dan perkedel kentang.


"Bu, seperti biasa ya."


Suara itu nyaris membuatku tersedak. Ya, itu suara Listi. Kenapa dia makan siang di jam seawal ini? Lalu, kenapa dia tidak makan siang di kantin khusus akhwat?


"Terima kasih, Bu."


Ia membawa piringnya ke pojokan. Syukurlah, keberadaanku belum disadarinya. Lalu ia mulai makan sambil menatap keluar. Apa ia tidak punya teman? Kenapa makan sendiri?


Setelah kuperhatikan, ia memang tak melakukan komunikasi dengan siapapun. Aku bahkan melihat ada sekelompok karyawan wanita yang memandang remeh pada Listi. Mereka berbisik satu sama lain sambil menatap Listi sesekali.


Lalu salah satu di antara mereka berdiri dan mendekat pada Listi.


"Bukannya sudah jadi bestienya sultan? 'Kok masih makan di kantin, 'sih? Makannya sama teri dan oncom pula. Hahaha," ledek wanita itu.


Aku terkejut. Nafsu makanku mendadak hilang. Segera kuteguk minumanku agar emosiku tidak meledak. Listi bergeming, ia tetap menyantap makan siangnya tanpa memedulikan wanita itu.


"Percuma kita meledek dia, Jess. Urat malu dia 'kan sudah putus. Baru jadi artis dadakan gara-gara punya teman pelakor saja sudah sombong!" ucap yang lain. Anehnya, karyawan yang lain seolah tak peduli. Ditambah kondisi saat ini belum ramai. Hanya ada satu dua karyawan yang lalu lalang mengambil makanan.


"Minggir!" Listi berdiri. Aku menghalangi diri dengan tas kerjaku.


"Listi, kita belum selesai bicara. Kamu juga belum menjawab pertanyaan kami yang kemarin. Apa benar pak Direktur dan bu Daini sudah menikah secara resmi?" Sudah kuduga, mereka pasti kepo.


"Aku punya hak untuk tidak menjawab pertanyaan kalian! Kenapa tidak langsung kalian tanyakan saja pada pak Direktur?!" ketus Listi.


"Listi! Kamu itu benar-benar sudah berubah ya! Dasar penjilat!" ledeknya.


Tanganku mengepal kuat. Tak rela rasanya melihat Listi dipermalukan diperlakukan seperti itu.


"Aku malas bicara sama kalian! Ini perusahaan lho. Kalian juga bukan anak SMA lagi! Kalian semua berpendidikan, bukan? Tapi apa yang kalian katakan seperti keluar dari mulut yang tidak pernah memakan bangku sekolah!"


Dia meletakan piringnya, lalu bertolak pinggang. Bagus, Tia. Bagus. Lanjutkan! Aku menyeringai.


"Sudah dikasih apa 'sih lu sama bu Daini? Berteman sama pelakor saja lu bangga, aneh gue sama jalan pikiran kamu!"


Perempuan yang sedari tadi diam saja, ternyata kata-katanya lebih parah. Aku ada ide. Segera mengambil ponsel dari tasku untuk merekamnya.


"Sombong lu, Listi! Memangnya siapa lu! Lu itu kayak benalu tahu! Kalau saja enggak dekat sama bu Daini, lu juga gak akan pernah diperhatikan sama pak Direktur!"


"Minggir! Kalian iri 'kan sama gue?! Cih, memalukan!" sentakknya sambil mencebikkan bibir. Sial! melihat bibirnya, jadi terbayang lagi. Listi menghalau teman-teman kurang ajarnya itu dengan bahunya.


"Hahaha, 'kok bisa lu sebela itu sama bu Daini? Jangan-jangan, lu juga sudah pernah ditiduri pak Direktur ya?!"


"Apa katamu?!"


Listi menghentikan langkahnya dan berbalik badan. Jangankan Listi, akupun terkejut dengan kalimat murahan itu!


'PLAK.' Ia menampar wanita itu.


"Kurang ajar!" Temannya bereaksi. Mereka menyerang Listi.


"Tolooong!"


Bu kantin baru bereaksi. Ia meminta bantuan. Fokus karyawan yang sedang makan dan melintas, akhirnya tertuju pada Listi dan wanita-wanita itu.


Aku berlari ke sana. Segera menarik dan melindungi Listi dari amukan mereka. Aku mendekapnya. Para wanita itu melongok. Mulut mereka bahkan menganga. Listipun sepertinya sama kagetnya, ia menengadah, menatapku tanpa berkedip.


"Aku pacar barunya Listi! Berani sekali kalian menyakiti wanitaku!" teriakku.


"Apa?!" Mereka kembali kaget. Pun dengan Listi. Matanya menunjukkan ketidaksukaan.


"Perasaan, pacar dia bukan ini," teman Listi menyadari sesuatu.


"Tunggu, aku pernah melihat wajahnya di televisi. Siapa ya?"


"Ya aku juga merasa pernah melihatnya." Mereka saling berpandangan.


Aku tersenyum menatap Listi yang masih berada di dekapannya. Tunggu, aku menyadari sesuatu. Dekat dengan Listi, meriangku jadi sembuh.


"Ada apa ini?"


Petugas keamanan datang. Barulah Listi melepaskan diri dari dekapanku. Dia tak berkomentar apapun. Bergegas pergi begitu saja.


"Tia tunggu," aku mengejarnnya dan menghiraukan tatap keheranan semua orang yang ada di tempat ini.


"Mas, Bang, makan siangnya belum dibayar!" teriak ibu kantin.


"Maaf, Bu. Masukan saja ke tagihannya pak Direktur," sahutku.


.


"Listia, tunggu."


Aku berhasil mengejarnya dan saat ini posisi kita berada di dalam lift. Saat tangannya hendak menekan tombol, aku menghalanginya.


"Awas!" teriakanya.


"Apa kamu selalu diperlakukan seperti itu? Jawab Tia!"


"Bukan urusan Anda!" ketusnya.


"Kenapa tidak lapor saja?! Mereka sudah keterlaluan!"


"Jangan ikut campur! Anda tidak tahu apa-apa! Lagi pula, kenapa Anda datang ke sini?! Bukankah sudah bernjanji tidak akan menemuiku lagi?!"


"Aku ada urusan sama pak Zulfikar." Sambil menekan tombol menuju ke ruangan Fikar tanpa dia sadari.


"Baik, aku maklumi," katanya. Ia membelakangiku.


"Oiya Tia, aku berubah pikiran. Begini, kalaupun kamu melaporkan aku atas tuduhan pelecehan, aku tak peduli. Yang penting, aku masih bisa melihat kamu." Dia diam saja.

__ADS_1


"Tia, apa kamu yakin tidak punya alasan apapun?"


"Tidak!" jawabnya cepat.


"Tia," serius. Kaki ini melangkah begitu saja. Mendekat dan memeluk punggungnya.


"Pak Sabil! Le ---."


'Ting.' Bersamaan dengan pintu lift yang terbuka.


Aku dan Listi terkejut, sebab di depan pintu lift ternyata ada karyawan lain. Mereka tentu saja melongo. Sebab, posisiku masih memeluk Listi. Dengan gerakan cepat, aku menarik tangan Listi keluar dari lift dan langsung membawanya menuju ruangan Fikar.


"Lepas! Ini mau ke mana?!"


"Tia, ayo ikut denganku ke ruangan pak Direktur. Pak Zulfikar harus tahu semuanya. Aku yakin mereka bukan pertama kali ini saja merundung kamu. Pasti sudah sering, 'kan? Dengar, aku tidak terima kamu diperlakukan seperti itu."


"Tak perlu memedulikanku!"


"Aku akan tetap peduli!"


"Kenapa?! Tak perlu repot-repot!" Dia masih berusaha melepaskan cengkramanku. Namun tak berhasil.


"Karena aku menyukai kamu!"


"Tapi aku tak menyukai Anda!"


"Tidak suka bukan berarti tidak cinta, 'kan?"


"Pak Sabil!"


"Kalau aku, suka dan cinta sama kamu."


"Akunya tak suka dan juga tak cinta!"


"Alasannya?" Dia tak menjawab, dan aku berhasil membawanya masuk ke ruangan Direktur.


.


"Pak Sabil? Listi?" Fikar terkejut. Segera menggeser laptopnya.


"Pak Direktur, maaf. Aku ke sini karena dipaksa sama Pak Sabil," terangnya sambil menunduk.


"Pak Zulfikar, Anda harus lihat ini." Aku to the point. Segera menyerahkan hasil rekamanku.


"Pak Direktur, mereka hanya iseng. To-tolong jangan ditanggapi."


Listi gugup. Fikar mengernyitkan alis sambil memeriksanya. Volume HP-nya sudah kubesarkan maksimal. Ia melihatnya sambil mengepalkan tangan.


"Kurang ajar! Listi! Sejak kapan mereka seperti itu?! Kenapa kamu tidak bilang, hah?!"


"Pak Zulfikar, maaf. Jangan membentak dia," belaku.


"Jawab Listi! Beraninya mereka memfitnahku! Sudah tak butuh uang lagi rupanya!"


"Ma-maf Pak. A-aku tak berani."


"Dari devisi mana mereka?! Aku harus memanggilnya!"


"Tia, ayo jujur saja," desakku.


"A-aku takut. Kalau ini diusut, me-mereka pasti akan semakin membenciku."


"Listi, mereka melanggar etika perusahaan! Kalaupun kamu melaporkannya, ya tak masalah! Biar kupanggil bu Caca saja," kata Fikar. Langsung mengambil ponsel pararel di meja kerjanya.


"Bu Caca, cepat ke ruanganku! Sekarang ya."


"Pak, aku minta maaf atas nama mereka." Di balik sifat bar-barnya, ternyata terdapat hati yang mulia. Ya ampun Listi, aku jadi semakin menyukainya.


"Tidak bisa, Listi! Aku tidak bisa membiarkan mereka begitu saja. Oiya Pak Sabil, kenapa Anda peduli sekali sama Listi?" telisiknya.


"Coba tebak," candaku sambil duduk di kursi yang tersedia.


"Listi, kamu juga duduk," titahnya.


"Baik, terima kasih, Pak."


"Biar kutebak. Apa Pak Sabil naksir sama Listi?"


"Tepat, tapi aku ditolak, hahaha." Listi tak berkomentar.


"Wah, seorang perwira tampan ditolak? Hahaha, langka. Bisa gunjang-ganjing dunia perdukunan," candanya.


"Jangan percaya dukun, musyrik," selanya.


"Aku bercanda Listi. Kenapa kamu menolak pria sekeren ini? Sulit dipercaya."


"Itu hakku," jawabnya.


"Kalau begitu, aku mohon bimbingan dari senior bagaimana caranya menaklukan wanita. Pak Zulfikar 'kan hebat. Terbukti bisa memperistri dua wanita sekaligus."


"Hahaha, Pak Sabil bisa saja. Jujur, Hanin juga awalnya tidak mencintaiku. Kalau mengikuti caraku, sepertinya agak beresiko, Pak." Entah risiko apa yang dia maksud.


"Tapi, kalau Pak Sabil serius suka sama Listi, saranku, langsung lamar saja ke rumahnya. Langsung utarakan niat baik Pak Sabil sama orang tuanya Listi," tambahnya.


"Apa?!" ucapku dan Listi bersamaan.


"Aku serius. Coba saja. Masalah Listi belum suka sama Pak Sabil, bisa diatur. Kalau Pak Sabil sudah berhasil menghalalkannya, nanti akan kuberitahu trik jitunya. Trik ini sudah kulakukan pada Hanin dan terbukti ampuh. Hahaha." Diakhiri gelak tawa.


"Ja-jangan percaya sama Pak Direktur. Kumohon, jangan datang ke rumahku." Listi tampak panik.


"Hahaha, terima kasih sarannya Pak. Akan kucoba."


"Pak Sabil!" sela Listi.


"Listi, kamu dan Pak Sabil itu serasi lho kalau bersanding. Setelah tahu nikmatnya menikah, kamu akan menyesal karena tidak menikah dari dulu."


"Pak Sabil, Anda tidak benar-benar akan datang ke rumahku, 'kan? Ini hanya guyonan, 'kan?"


"Aku serius, 'kok. Aku akan mengikuti saran dari Pak Zulfikar," jawabku sambil melemparkan kiss jarak jauh.


"Hahaha," Fikar langsung tertawa melihat ulahku.


"Awas saja kalau Pak Sabil ke rumahku!"


"Cinta ditolak, restu orang tua bertindak," kata Fikar.


"Aku setuju," sahutku.


"Permisi, saya Bu Caca. Boleh masuk?" Suara dari luar ruangan.


"Masuk." Ekspresi Fikar langsung berubah jadi serius dan dingin.


"A-ada yang bisa saya bantu?" tanya bu Caca setelah sebelumnya melirik pada Listi.


"Pak Sabil, perlihatkan vidionya. Tugas bu Caca adalah membawa wanita-wanita tak tahu diri itu ke hadapanku," tegasnya.


Mata bu Caca membelalak saat melihatnya, dan mataku, tentu saja sedang menatap pada Listi. Tak sabar rasanya ingin segera menemui orang tua Listi. Kalau perlu, aku akan membawa bunda dan ayahku ke rumahnya.


...⚘️⚘️⚘️...


...~Tbc~...

__ADS_1


__ADS_2