
Zulfikar Saga Antasena
"Pak, apa Bapak melihat perempuan muda, berhijab bawa plas ---."
"Oh, mbak-mbak catering yang cantik itu ya, Pak? Ya, saya lihat Pak."
Aku mengingat kembali percakapanku dengan petugas keamanan yang bekerja di rumah mama.
Oh, Hanindiya ... di mana kamu sayang?
Sambil mengikuti acara dadakan mama dan Dewi, aku terus merenung, larut dalam kebingungan yang tak berujung.
"Pak, ini pesanan kue dari mbak-mbak catering. Katanya, tadi dia ke sini numpang sama Bapak karena kebetulan bertemu di tempat catering."
"Apa?" Saat itu aku sangat kaget.
Hanin mengarang cerita seperti itu demi meninggalkanku?
Teganya kamu, Hanindiya. Kamu pikir bisa lepas dariku begitu saja? Tidak akan sayang. Tidak akan! Rutukku dalam hati pada saat itu.
Terpaksa aku mengambil plastik tersebut sambil mencoba menghubunginya. Tapi nomornya tak aktif.
Ya Allah, sayang. Kok bisa kamu pergi tanpa pamit?
Aku lantas membawa kue itu ke dalam rumah. Langsung ke kamar kak Gendis.
"Kak," panggilku.
Kak Gendis membuka pintu. Tadi, dia memelukku dan menangis.
"Huuu, Zul, Kakak mau curhat sama kamu, apa kamu ada waktu?" Mata kak Gendis beruraian air mata.
"Maaf, Kak. Lain waktu saja ya. Nanti aku atur jadwal, khusus untuk Kakak. Aku juga sedang banyak masalah, Kak. Oiya, ini ada kue dari seseorang."
"Kue? Dari siapa?"
"Dari penggemar rahasianya mama. Kalau Kakak ada waktu dan berkenan, tolong berikan kue-kue ini pada mama. Kakak juga boleh makan, kok. Isinya ada puding dan sistik, enak banget, Kak. Aku sudah mencobanya."
Jadi, aku menyerahkan kue sistik dan puding itu pada kak Gendis. Setelah itu, langsung meninggalkan kak Gendis untuk kembali menemui mama. Aku tak menghiraukan kak Gendis yang berulang kali memanggilku.
"Padahal, Mama sangat penasaran ingin bertemu dia."
Itu yang dikatakan mama saat aku menjelaskan jika Hanin izin pergi. Aku tidak mengatakan kalau Hanin pergi tanpa izin alias kabur.
"Ma, Hanin belum siap bertemu Mama karena ada wartawan. Jadi, aku mengizinkan dia pulang dan bertemu Mama di lain waktu."
"Apa?! Cemen sekali dia Mas! Miris, dia beraninya hanya buka paha di depan kamu doang!"
Jawaban Dewi pada saat itu membuatku naik darah. Aku hampir saja mencengkram baju Dewi andai mama tak menahan tanganku.
"Zul, tahan emosi kamu. Ingat, kamu yang lebih dulu bermain api. Wanita mana 'sih yang mau diduakan? Coba kamu pikir baik-baik. Pakai hati nurani kamu! Dalam hal ini, kamu bahkan tak berhak menyalahkan Dewi!" bela mama.
"Tuh, dengar apa kata Mama, Mas! Kamu jangan egois!"
"Wi, apa perlu aku katakan pada Mama kalau kamu sudah melakukan kekerasan padaku?" Pada saat itu, aku sengaja berbisik agar Mama tak mendengarnya.
Lalu tiba-tiba ....
"Huuu ... maaf Mas. Aku salah bicara. Aku menyesal. Mama, aku juga minta maaf sama Mama. Maafkan Dewi, Ma. Jujur, semenjak tahu Mas Zul menikah lagi, emosi dan pikiranku sering terganggu," terangnya.
Setelah berkata demikian, Dewi memelukku. Mama mengernyitkan alisnya. Entah apa yang mama pikirkan. Dan menurutku, sikap Dewi benar-benar sulit ditebak.
Aku sebenarnya ingin pulang dan segera mencari Hanin. Tapi, mama melarangku pulang sebelum acara mama selesai.
Selain itu, aku juga tak enak hati sama pak Ikhwan dan pak Sabil yang saat ini sudah mengabari jika mereka hampir sampai.
Ya Allah, tolong jaga Hanindiyaku di manapun dia berada.
Karena mama telah menandatangani kontrak tayang dengan media, maka diputuskanlah jika keterangan dari polisi dan pengacaraku akan disampaikan setelah acara mama selesai.
Aku gelisah, aku sengaja duduk di kursi belakang karena berharap tak ada satu mediapun yang membidikkan kameranya ke arahku.
Kenapa kamu pergi, Hanin? Apa hidup bersamaku begitu menyiksamu? Dan ada apa dengan perasaanku ini? Kenapa aku sangat egois dan sama sekali tak ingin melepasnya?
...***...
Setelah acara mama dan media selesai, kami akan berkumpul di aula.
Dewi berubah sikap lagi. Dia jadi lembut dan manja. Kulihat, Dewi juga pergi ke kamar kak Gendis sebelum menyusul ke aula.
"Karena sudah semakin malam, langsung saja, Pak," kata mama. Rupanya sudah tak sabar ingin mengetahui kronologisnya.
Fakta-fakta kejadian itu akan dibeberkan oleh pak Sabil. Sementara Pak Ikhwan telah menyalakan laptop yang akan digunakan untuk memutar rekaman CCTV hotel pada malam itu. Mama mulai menyimak.
Saat aku melihat Dewi hendak masuk ke aula, aku segera mendatanginya dan membawa Dewi untuk menjauh.
"Mas, aku mau dengar penjelasan mereka. Kenapa kita malah ke sini?" protesnya.
__ADS_1
"Wi, maaf. Kamu 'kan sudah mendengar dan melihat semua penjelasannya. Tolong berikan kesempatan pada mamaku untuk menelaah seorang diri."
"Mas, aku mau mendengarnya lagi. Kenapa memangnya kalau aku ke sana?"
"Cinta, sssttt."
Aku segera memeluknya. Dengan dipeluk, aku berharap Dewi patuh dan mau mendengar perintahku.
"Wi, Mas juga tidak akan ke sana. Mari kita berlaku adil. Setelah Mas pikir-pikir, saat kita tidak ke sana, justru akan lebih untuk mama. Sebab, baik aku ataupun kamu, otomatis tidak akan memberikan komentar lagi pada masalah itu."
"Maksud Mas apa?! Kenapa hanya baik untuk mama?! Kenapa tidak baik untukku juga, Mas?!" protesnya. Nada bicaranya kembali tinggi.
"Wi, dengarkan aku baik-baik, tanpa keberadaan kita, mama bisa leluasa menyimpulkan kasus itu menurut kaca mata mama sendiri tanpa terpengaruh oleh alibiku ataupun alibinya kamu, faham?"
"Aku faham, Mas! Tapi aku sebenarnya kurang yakin sama polisi dan pengacara kamu itu! Bisa saja 'kan Mas sudah membayar mereka berdua untuk memberi kesaksian yang meringankan si Daini?!"
"Apa katamu?!" Aku terhenyak.
"Atau bisa jadi pertemuan ini telah diseting sama kamu agar mereka memberikan kesan yang baik pada si Daini supaya mama jadi simpati pada wanita itu! Ya, kan?" tudingnya lagi.
"Wi, maksud kamu apa, hahh? Mereka itu bekerja profesional! Jaga mulut kamu, Wi! Kalau mereka tahu kamu menuduhnya, lalu mereka bisa membuktikan jika tuduhan kamu itu salah, kamu bisa dijerat pasal fitnah, pencemaran nama baik, dan perbuatan tidak menyenangkan, Wi!" tegasku.
Untungnya, ruangan aula ada peredam suaranya. Jadi, pertengkaran antara aku dan Dewi tidak akan terdengar ke dalam aula.
"Malah bisa jadi si Daini sudah bersekongkol dengan polisi penyidik atau pengacara kamu, Mas! Dia mungkin menggunakan pelet pemikatnya untuk merayu mereka!" teriaknya.
"DEWI LAKSMI!"
Serius, aku mencengkram lehernya dan menghentaknya pelan ke dinding.
"M-Mas?" Menahan tanganku.
"Aku tak menyangka bangsawan berpendidikan seperti kamu masih saja meyakini hal-hal kolot seperti itu! Ya bisa jadi memang masih ada! Tapi aku yakin Hanin tidak menggunakan cara itu untuk menarik perhatian siapapun!" tandasku.
"Huuu, k-kkamu kasar, Mas," tuduhnya.
Padahal, aku tak menggunakan kekuatan sedikitpun. Aku cepat-cepat melepaskan cekatan tanganku. Lalu menghela napas dan kembali memeluknya.
"Wi, Mas rasa kamu harus diperiksa dokter," bisikku pelan.
"Ma-maksud kamu apa, Mas?! Aku 'kan sehat, kenapa harus diperiksa dokter segala?!" Dia masih marah tapi sambil membalas dekapanku.
"Cinta, emosi kamu meluap-luap. Sikap kamu juga sering berubah-ubah. Mas khawatir telah terjadi sesuatu padamu, Wi." Sambil mengusap rambutnya.
"A-apa? Tega kamu ya, Mas! Padahal, aku seperti ini juga gara-gara si Daini!" bentaknya. Melepas pelukannya.
"Wi, jangan salah faham."
"Bagaimana aku tak salah faham kalau kamu bicaranya seperti itu, Mas! Oiya Mas, begini saja, aku tarik ucapanku tentang menerima si Daini! Pokoknya, kamu harus segera menceraikan dia dalam waktu paling lambat 3 x 24 jam! Kalau dalam waktu itu kamu tak menepati keinginanku, Mas akan merasakan sendiri akibatnya!" teriaknya. Lalu meninggalkanku.
"Wi," panggilku. Tapi dia tak menghiraukan.
Aku lantas duduk di depan aula. Jika Dewi serius dan tak berubah pikiran lagi, itu artinya, aku harus segera melakukan konsultasi hukum pada pak Ikhwan.
Haruskah aku melepasmu Hanindiya? Tapi ... aku merasa tak sanggup.
Saat kuintip ke dalam aula, mama, pak Sabil, dan pak Ikhwan, terlihat masih berbincang. Karena ingin segera bertemu Hanin, aku akhirnya izin pulang pada mama. Aku berasumsi Hanin pulang ke apartemen.
"Permisi, Ma," ucapku.
Mama hanya menoleh dan tak bicara apapun. Aku masuk, segera mengambil tangan mama.
"Ma, aku dan Dewi mau pulang ya."
"Silahkan," jawab Mama singkat. Mata mama sembab. Pak Sabil dan pak Ikhwan tertunduk lesu.
"Apa sudah selesai?" tanyaku.
"Sudah, Pak," jelas pak Sabil.
"Tapi kami masih akan membicarakan hal lainnya, Pak," timpal pak Ikhwan.
Karena mama sudah mengizinkan akupun berlalu, ingin rasanya bertanya pada mama tentang pendapatnya setelah melihat CCTV dan mendengarkan penjelasan pak Sabil. Tapi, melihat mata mama yang sembab, aku mengurungkan niatku.
"Wi, ayo kita pulang," ajakku setelah berada di kamar khusus yang diperuntukkan untuk aku dan Dewi saat berada di sini.
"Tidak, Mas! Kamu saja yang pulang! Sekalian kamu susul 'tuh si Daini! Saat ini dia mungkin sedang membuka pahanya, menunggu dicelup kamu!" katanya sambil melepar batal ke wajahku.
"Astaghfirullah. Wi, kenapa kamu selalu mencari gara-gara? Selalu masalah itu yang kamu bahas saat kamu membicarakan Hanin. Dengar ya Wi, saat aku dan Hanin bersama, aku dan dia tak selalu bercinta, bercinta dan bercinta. Tidak seperti itu!" Emosiku muncul lagi.
"Halah, kalau gak main celup-celupan, lalu kalian ngapain saja?! Jangan munafik, Mas!"
"Dewi! Kalau aku mau hitung-hitungan, aku itu lebih banyak bercinta dengan kamu daripada Hanin! Yang kuberikan pada Haninpun tak sebanding dengan apa yang kuberikan padamu! Hanin itu tidak pernah meminta apapun padaku. Dia hanya ingin dinikahi dan mengabdi sebagai istri!" jelasku.
"Mas, kalaupun kamu tak memberinya apa-apa, ya wajar! Dia itu istri ilegal. Aku yang istri legal kamu, Mas! Sekarang Mas jawab pertanyaanku! Enakan mana, aku atau dia?!"
"Enak dalam hal apa? Masakan? Minuman? Memangnya apa yang pernah kamu masakan untukku? Maaf ya Wi, Hanin itu pandai memasak," jelasku sambil merapikan dasi. Lebih baik segera meninggalkan Dewi daripada pertengkaran ini terus berkepanjangan.
__ADS_1
"Jangan pura-pura tak faham, Mas?! Aku yakin kamu mengerti maksudku. Cepat jawab jujur! Nikmatan dia atau aku?! Kalau kamu tak juga faham, oke aku jelaskan! Ini tentang hubungan intim, Mas," jelasnya. Aku sampai terbengong-bengong.
"Istighfar, Wi! Kalau kamu tak mau pulang denganku, tak masalah. Aku akan menyuruh bang Radit untuk menjemput kamu!" Aku tak ingin meladeni Dewi. Aku balik badan dan pergi.
"Mas! Apa kamu sudah siap hancur?!" teriaknya.
Aku diam saja. Tak ada gunanya terus berdebat. Lebih baik aku memikirkan langkah hukum untuk berjaga-jaga dari ancaman Dewi.
...🍒🍒🍒...
Aku mengemudikan mobil seraya merenung. Terus melirik ke kursi di sampingku. Hanin yang sempat duduk di sini membuatku mengenang kembali kebersamaan dengannya.
Setelah memberitahu bang Radit agar menjemput Dewi, aku memastikan diri untuk segera ke apartemen.
Jangan tanyakan lagi bagaimana perasaanku saat ini. Intinya, aku sangat takut Hanin tak ada di apartemen. Semakin tak karuan dada ini saat langkahku tepat berada di depan pintu unit.
"Assalamu'alaikuum," ucapku ketika aku sudah membuka pintu dan berada di dalam
Sepi, suasananya terasa sepi. Batinku kian gundah nan gulana. Aku berlari ke kamar.
"Hanin," panggilku.
"Haniin."
"Haniiin." Terus memanggil namanya.
"Ha-Hanin ...."
Aku terduduk di sofa kamar. Aku tak menemukannya. Aku ke dapur. Berharap dia tengah memasak sesuatu atau sedang minum. Nihil, sosoknya tak jua kutemukan. Aku kembali lagi ke kamar. Segera kumembuka almarinya.
Deg.
"Sa-sayang ...."
Kulihat bajunya berantakan, dan aku menyadari telah kehilangan satu koper yang biasanya ada tiga buah dan berderet di almari bagian bawah.
"Ti-tidak Hanindiya, kamu tidak boleh meninggalkanku."
Lantas kumenelepon Listi. Tiga kali aku memanggilnya, baru diangkat, itupun di dering terakhir.
"Ha-halo, lu siapa 'sih malam-malam telepon gua? Gak ada kerjaan lu ya? Berisik tahu!" sentaknya.
Aku bengong. Kok bisa, Hanin berteman dengan wanita yang tutur-katanya sekasar ini?
Ternyata, keanggunan dan kesopanan Listi hanya berlaku saat dia bekerja. Dia memang sedikit tomboy, tapi aku tak menyangka kalau aslinya seperti ini.
"Halooo, tuli lu ya?! Aku tutup nih kalau lu diam saja!"
Aku tak menyalahkan Listi, dia pasti tak tahu kalau ini nomorku. Sebab tak sembarang orang bisa memiliki nomor pribadiku.
"Aku Zulfikar."
"Zulfikar? Maaf ya, gua gak punya teman, tetangga, ataupun sanak-saudara bernama Zulfikar! Lu salah sambung!"
"Aku Zulfikar Saga Antasena," selaku.
"WHAT'S!" pekiknya. Dan panggilan langsung terputus saat itu juga. Saat aku akan menghubungi lagi, nomor Listi malah tidak aktif.
Ya ampun, b**agaimana ini?
Kalau bukan pada Listi, pada siapa lagi aku harus bertanya tentang Hanin?
Tak mungkin juga aku bertanya pada ummi atau abahnya.
Dengan modal nekad, aku memutuskan untuk mencari Hanin di area sekitaran apartemen dan taman kota.
Aku melajukan kemudi perlahan, tapi sosok yang identik dengan Hanin tak kunjung kutemukan. Di taman kotapun sepi. Tak ada siapapun apalagi Hanin.
Mencari Hanin, mengingatkanku pada kejadian saat aku mencari kerak telur.
Deg, aku tiba-tiba mengingat sesuatu. Saat aku menikah, Dewi Haid hari pertama. Lalu minggu kemarin Dewi mengatakan sedang haid. Jika Dewi saja sudah dua kali haid dalam kurun waktu dua bulan, kenapa Hanin tak pernah mengatakan sedang haid? Wanita normal selalu haid tiap bulan, kan?
Pernikahanku dan Hanin sudah memasuki minggu ke-6 atau tepatnya hari ke-38. Harusnya, jika mengikuti siklus haid normal, Hanin sudah haid setidaknya satu kali.
"A-apa mungkin Hanin menyembunyikan kehamilannya dariku?" Aku segera menepikan mobil dan berpikir keras.
"Sayang, a-apa benar kamu hamil?"
Jantungku berdegup cepat. Tak terasa, mata ini mulai berkaca-kaca. Jika benar Hanin hamil, itu artinya ... aku dan Hanin tidak boleh berpisah.
"Sayang ...," gumamku.
Aku menyandarkan kepalaku pada setir. Tiba-tiba seolah ada titik terang yang menghangatkan relung hatiku.
Aku lanjut melajukan kemudi. Rencananya, akan mencari Hanin di beberapa hotel yang berada di sekitaran kantor dan apartemen.
"Aku pasti akan menemukanmu, Hanindiya."
__ADS_1
...~Tbc~...
...Yuk komen yuk! Kira-kira, pak Zulfikar bisa menemukan neng Daini tidak ya? Apa kehamilan neng Daini benar-benar akan terbongkar?...