
Aku dan pak Zulfikar kembali ke rumah pada sore harinya bersama dengan dokter Rahmi. Apa yang terjadi di rumah membuatku kami terperangah.
Bu Dewi tengah berbincang asyik dengan dua orang polisi. Polisi yang satunya lagi entah kemana. Kang Hendra dan ceu Janipun ada bersama mereka.
"Mas sudah pulang? Bagaimana kabar ummi, Mas?" Bu Dewi tak sungkan memeluk pak Zulfikar. Ia berubah jadi ramah dan periang.
"Wi, jaga sikap kamu! Kita sudah berpisah! Jangan pegang-pegang aku!" hardiknya.
"Pak Zulfikar, tadi Kang Hendra yang melepas tali-talinya. Bu Dewi sudah mau makan dan tidak marah-marah lagi," jelas ceu Jani.
"Mas, kamu menceraikan aku dalam keadaan emosi, dan itu tidak sah tahu, Mas. Aku percaya kalau yang kamu katakan tidak sah. Jadi, kita masih suami istri."
"Tahu apa kamu tentang hukum perceraian? Sudahlah Wi, aku lelah dengan semua ini. Kita harus segera mengakhiri kemelut ini secepatnya. Besok, kita semua akan pulang ke Jakarta. Aku mau menyerahkan kamu ke papi mamimu dan memersiapkan gugatan cerai." Sambil berlalu dan menarik tanganku menuju kamar.
"Mas!"
Bu Dewi menyusul. Dokter Rahmi hanya mengangkat bahu dan geleng-geleng kepala. Yang lainnya jadi penonton. Aku tak berkomentar.
"Baik, Mas. Aku setuju. Tapi, tolong dipikirkan lagi Mas, apa kamu yakin mau menggugatku? Yakin kamu mampu melawan papiku?"
"Wi, dengarkan baik-baik." Langkah kami terhenti.
"Aku capek terus bertengkar sama kamu. Aku lelah mendengar caci-maki, drama-drama, serta KDRT fisik dan verbal yang sering kamu lakukan untuk menyakiti aku dan juga Hanin. Mari kita selesaikan kasus ini di meja hijau. Oiya, HP kamu akan kukembalikan. Silahkan bicara sama papi dan mamimu. Lalu katakan pada mereka agar bersiap untuk beperang denganku di meja hijau."
"Apa?! Mas! Kamu tak akan menang! Akan kupastikan kamu akan menyesalinya! Aku yakin papa dan mamamu juga tak akan mendukung kamu! Orang tuamu pasti ada di pihakku, Mas! Kamu akan kalah, miskin seketika dan mendekam di jeruji besi!" teriak bu Dewi di ambang pintu kamar.
"Aku tak peduli! Dan kamu juga jangan percaya diri dulu. Sebab, aku punya banyak bukti yang justru bisa menjebloskan kamu dan papi mamimu ke penjara. Aku bahkan punya bukti kejahatan paman kamu!" Lantas pak Zulfikar menutup pintu kamar hingga berbunyi keras.
"Mas!" teriak bu Dewi. Ia menggedor pintu kamarku.
"Jangan ganggu aku! Aku dan dan Hanin juga mau bertarung! Bertarung di atas kasur! Ya, 'kan sayang? Hahaha," ledek pak Zulfikar sambil melirikku. Aku diam saja. Tak merespon.
"Apa?! Kurang ajar kamu, Mas!"
"HP kamu ada di tas kerjaku. Ambil saja!" teriak pak Zulfikar dan ia ternyata tidak bercanda dengan ucapannya. Kulihat, dia tergesa-gesa membuka kemeja dan kaus dalamnya.
"Awas kamu ya Mas! Sebentar lagi kamu akan hancur!" Bu Dewi masih sesumbar. Lalu suaranya tak terdengar lagi. Mungkin sudah pergi.
.
"Pak, ma-mau apa?! Kenapa buka baju?"
Pipiku langsung panas. Dadanya yang sedikit basah karena keringat, membuat jantungku berdegup tak teratur.
"Coba tebak sayang, aku mau apa, hmm?" Kali ini sambil membuka ikat pinggannya.
"A-apa mau be-bertarung di atas ka-kasur?"
Dengan bodohnya aku malah berkata demikian. Aku bahkan hampir tak percaya dengan apa yang kukatakan.
"Hahaha. Apa kamu menganggapnya serius? Sayang, aku buka baju karena mau mandi. Gerah," katanya. Ia menatapku sambil mengulum senyum.
"A-apa?!" Aku jadi malu level sepuluh. Mungkin pipiku sudah memerah.
"Apa libidomu sedang naik? Kata dokter Rahmi, wanita hamil di trimester dua kehamilan, akan mengalami kenaikan libido yang tak biasa." Ia mendekat.
"A-apa? Ti-tidak, Pak. Aku tidak termasuk ke dalamnya." Aku mundur beberapa langkah.
"Hahaha. Kalau benar juga tak masalah 'kok sayang. Tak perlu malu istri cantikku. Ayo lampiaskan saja sayang. Aku akan melayani dan memuaskanmu dengan senang hati." Ia terus merangsek. Saat ini, tubuhnya sudah menempel ke tubuhku. Lalu sibuk membuka jilbabku.
"Pak, lebih baik mandi dulu. Kita dianjurkan melakukannya dalam keadaan bersih, 'kan?" Sambil memejamkan mata karena dia meniupi kedua mataku.
"Ya, aku tahu. Tapi sayang emm ....," bisiknya. Mengatakan hal yang teramat sentimen. Eh, maksudku sensitif.
"Mas! Buka pintunya!" Bu Dewi rupanya datang lagi. Dia kembali menggedor pintu kamar.
"Hp-ku mati, Mas! Aku mau pinjam HP kamu, Mas!"
Sayangnya, pak Zulfikar, tak bisa menyahut. Akupun demikian. Sebab, bibir kami sedang terjalin dengan eratnya. Semua hal yang terjadi di hari ini, seolah membuat pertautan ini terasa lebih berarti. Aku tak ingin melepasnya, dan diapun semakin tak terkendali.
"Mas ... huuu .... Kamu sedang apa Mas? Kamu tegas, Mas! Kamu jahat!"
Ratapan bu Dewi, berhasil membuatku iba, dan ingin menangis. Apa aku sangat jahat?
"Mas ... aku butuh kamu. Aku mencintai kamu. Tolong pahami perasaanku, Mas."
Namun, ratapan bu Dewi tak mampu membuat pak Zulfikar terenyuh. Ia tetap merenggut kehangatanku.
"Pak, a-aku tidak bisa." Setelah tautan itu selesai, aku menolaknya. Perlahan mendorong tubuhnya dan merapikan kembali busanaku.
"Ke-kenapa? Jangan pedulikan Dewi, sayang. Dia jahat. Dia wanita gila."
"Huuu ... huuu, Mas." Sayup, tangisan bu Dewi masih terdengar dan mengganggu batinku.
"Biar adil, bagaimama kalau Anda menceraikan aku juga, Pak? Dulu, Bapak pernah ingin seperti itu, 'kan?"
"A-pa? Sa-sayang, kamu bercanda, kan? Aku tidak bisa."
__ADS_1
"A-aku serius, Pak. Aku tak tega mendengar tangisan bu Dewi. Setelah masalah Bapak dan bu Dewi selesai hingga ketuk palu, Anda boleh meminangku kembali. A-aku akan menunggu Anda, a-aku janji." Sambil membelai rahang tegasnya.
"Tidak sayang, itu tidak mungkin. Proses persidangan aku dam Dewi pasti memerlukan waktu yang panjang dan rumit. Aku tak bisa melepas kamu sayang. Jangan memaksaku Hanindiya," tegasnya.
"Mas ... aku minta maaf. Aku akan memperbaiki semuanya. Aku ingin kita rujuk lagi. Setelah itu, kamu boleh menikahi Daini secara resmi. Mas, sekarang aku sudah rela berbagi ranjang dengan Daini, Mas. Kumohoon ...."
Aku dan pak Zulfikar saling menatap.
"Pak ....," lirihku. Aku memegang tangannya.
"Ta-tapi sayang, aku tidak mencintai Dewi. Aku hanya mencintai kamu."
"Pak, a-apa aku boleh memohon sesuatu?"
"Memohon apa, sayang?" Bibirnya gemetar. Matanya berkaca-kaca.
"Apakah Bapak bisa memaafkan bu Dewi sebagai salah satu bukti jika Anda benar-benar mencintaiku?"
"Apa?! Sayang, itu bukan permohonan yang bisa kukabulkan," protesnya.
"Pak, bu Dewi membutuhkan Anda. Aku yakin dia sangat mencintai Anda hingga rela melakukan semua ini. Ya, cara dia mencintai Anda memang salah. Tapi, bu Dewi juga sedang sakit, Pak. Dia emosional dan jahat karena ada efek dari penyakit yang dideritanya."
"Kumohon, beri bu Dewi kesempatan. Satu kali lagi. Bisa ya, Pak? Please ...." Aku merangkum tangannya erat. Tatapanku mengiba, dan airmataku menetes tak tertahankan.
"Tapi sayang ...."
"Aku janji ini untuk yang terakhir kalinya. Setelah ini, aku tidak akan memaksa Anda lagi."
"Ba-baik, tapi ingat ya Hanindiya, aku melakukan ini demi kamu. Sadah kukatakan jangan pernah meminta untuk berpisah. Pokoknya, setelah ini, aku akan segera meresmikan pernikahan kita," tegasnya. Lalu meraih kembali pakaiannya, dan bergegas untuk menemui bu Dewi.
Saat pintu kamar terbuka. Bu Dewi sedang bersimpuh. Setelah memakai kembali jilbabku, akupun menghampirinya. Pak Zulfikar masih mematung sambil melipat kedua tangan di dadanya.
"Da-Daini." Bu Dewi tiba-tiba bangun dan memelukku.
"Kak, Dewi." Akupun memeluknya.
"Daini, a-aku minta maaf." Sebuah kalimat yang berhasil membuatku membulatkan mata.
"Cukup aktingnya, Wi! Kamu tadi bilang aku pria jahat. Jadi, kamu bisa 'kan melupakan pria jahat seperti aku?!" sela pak Zulfikar.
"Pak! Jangan bicara seperti itu!" Aku tak sadar membentaknya.
"Daini ...." Lalu bu Dewi terkulai dan pingsan. Aku berusaha menahan tubuhnya.
"Pak cepat tolong!" teriakku.
"Baiklah." Ia segera merengkuh bu Dewi sambil beteriak meminta bantuan.
...⚘️⚘️⚘️...
Iptu Sabil Sabilulungan
"Terima kasih sudah menolong Listi. Dia memang anak manja. Tapi baru kali ini terkena hipnotis."
Malam ini, aku menjenguk Listia yang sedang berada di sebuah klinik yang ada di dekat rumahnya. Atas sarannya, aku dan timku terpaksa berpura-pura jika Listia adalah korban hipnotis yang aku temukan dan tersesat di suatu tempat. Ceritanya Listia ditemukan di jalan tikus yang menuju ke arah Bandung.
"Semua orang beresiko terkena hipnotis," jelasku.
"Sekali lagi, terima kasih ya Pak Sabil S."
Kali ini, ayahnya Listia yang beterima kasih. Lucu, dia menyebutku pak Sabil S. Pasti karena membaca papan namaku.
Aku memang sengaja beseragam agar akting ini terkesan natural. Aku bahkan membawa dua temanku yang juga polisi untuk turut serta bermain peran. Akupun menjelaskan sempat baku-hantam dengan penghipnotis hingga wajahku memar-memar.
Sementara Listia, gadis itu malah bersembunyi. Selimut medis menutupi sampai ke wajahnya. Ternyata, dia penyuka minuman yoghurt. Terlihat, ada banyak yoghurt di sisinya.
"Kenapa sampai dirawat di klinik?" tanyaku.
"Tadi siang, beberapa saat setelah Bapak dan tim mengantar, dia pingsan lagi. Katanya sakit perut. Maagnya ternyata kambuh, dia memang nakal, sukanya makanan serba pedas," jelas ibunya. Entah siapa nama ayah dan ibunya. Kami belum sempat berkenalan.
"Bapak Ibu, sebenarnya, selain ingin menjenguk, kami juga ke sini untuk melakukan interogasi. Karena kondisi korban sudah stabil, kami harus meminta keterangannya," jelasku. Dan tentu saja, ini adalah bagian dari akting.
"Oh, silahkan Pak. Apa perlu kami temani?" tanya ayahnya.
"Maaf, tidak boleh ditemani, Pak."
"Aku tak mau diinterogasi!" teriaknya dari balik selimut.
"Listi, tak boleh begitu sayang. Kamu harus koperatif sama polisi. Mereka sudah menolong kamu, lho. Sekarang, giliran kamu yang membantu mereka," bujuk ibunya.
"Ibu benar sayang. Bapak dan Ibu menunggu di luar ya." Mereka berlalu.
"Bapak, Ibu, kalian mau ke mana?" Sambil mengintip dari balik selimutnya.
Sementara temanku segera menutup pintu kamar dan berjaga di luar. Listia mendelik kesal. Aku tersenyum puas. Segera duduk di sisi tempat tidurnya sambil mengeluarkan alat tulis dari tasku.
"Mau tanya apa lagi?!" sentaknya.
__ADS_1
"Mau tanya kabar kamu."
"Issh, serius dong, Pak! Cepat! Mau tanya apa?!" Ia membelakangiku.
"Tia, menghadap atuh, masa aku ngobrol sama punggung."
Bicara tentang punggung, aku jadi terbayang punggung indah yang kupijat di teras mushola tadi pagi. Aih, aku spontan memukul kepalaku.
"Enggak, mau!" tolaknya.
"Apa kamu sengaja memunggungi karena punggung kamu mau kupijat lagi?"
"Issh, Pak Sabil apa-apaan sih!" Ia akhirnya menghadapku.
"Yakin kamu hanya dirawat di sini? Apa tidak perlu ke rumah sakit?"
"Pak, aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menyelamatkanku. Jadi, Anda tak perlu khawatir lagi. Anda boleh pulang," usirnya.
"Aku mau interogasi. Kata siapa mau jenguk kamu," kilahku.
"Ya sudah, cepat!"
"Sebelumnya, aku mau menyampaikan info dulu sama kamu."
"Info?"
"Ya. Tapi aku bingung apa info ini menggembirakan atau justru menyedihkan."
"Issh, Pak Sabil berbelit-belit, 'deh."
Dia akhirya duduk. Selimutnya terbuka. Ya ampun, ternyata dia hanya memakai crop top dan denim mini. Aku jadi tarik napas panjang dulu agar bisa fokus pada pembicaraan.
"Bu Dewi dan pak Zulfikar sudah rujuk lagi."
"Apa?! Itu kabar buruk!" sahutnya.
"Tapi, bu Dewi sudah menandatangani surat persetujuan dipoligami. Jadi, bu Daini dipastikan akan mendapat payung hukum dan status pernikahan yang sah."
"Apa?! I-itu kabar baik. Tapi, 'kok bisa secepat itu, 'sih?" katanya.
"Dan aku ... aku jadi makin sibuk," tambahku.
"Aku tak peduli dengan kabar itu," timpalnya.
"Harusnya kamu peduli dong." Aku spontan menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Ya ampun, aku senang Daini akhirnya bisa menjadi istri sungguhan. A-aku terharu, Pak." Dia bahkan berkaca-kaca.
"Perlukah aku memelukmu?" tawarku.
"Tidak perlu," dia mengusap airmatanya.
"Ada info baik lagi. Besok, bu Daini akan kembali tinggal di Jakarta."
"Apa?! Benarkah? Yeey." Matanya berbinar. Dia spontan memegang tanganku. Gila, aku malah fokus ke bagian lain.
"Semoga Daini mendapatkan kebahagiaan ya, Pak."
"Ya, se-semoga."
Mataku masih ke sana. Benar kata teori. Kejahatan bisa terjadi karena adanya kesempatan dan kelalaian korban. Satu hal lagi, bisa terjadi karena pelakunya kurang iman.
"Pak Sabil!" Dia menyadarkanku.
"Ya, siap!" Aku spontan berdiri dan melakukan hormat aparat.
"Hahaha." Dia tertawa.
"Maaf, aku kira kamu Komandan."
Aku duduk lagi dan kembali menghela napas. 'Kok aku jadi gemas ya melihat wanita tomboy ini?
"Kita mulai saja interogasinya," katanya.
"Baik, begini ... aku ...."
Apa aku harus mengatakannya sekarang? Apa ini tidak terlalu terburu-buru?
"Pak, cepat," desaknya.
"Emm ... Listia, aku .... Aku sebenarnya ingin ---."
"Ingin apa?" Dia menatapku.
"Aku ---." Bibir ini mendadak kelu.
"Kenapa, Pak?"
__ADS_1
...⚘️⚘️⚘️...
...~Tbc~...