Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Penipu Ulung


__ADS_3

"Emm, nanti aku ngobrol dulu 'deh sama bapak dan ibu."


"Nah, begitu dong, Kak. Masa disentuh fisik mau tapi dinikahi enggak mau? 'Kan aneh."


"Ya 'sih, Neng. Awalnya, jujur aku juga suka menolak, tapi enggak tahu 'lah. Tapi ujung-ujungnya suka tiba-tiba diam dan pasrah."


"Jika ada cara lain yang bisa membuat Kakak terhindar dari dosa, kenapa tidak dicoba saja?"


"Tapi Dai, mirip sama nikah siri enggak 'sih?"


"Pernikahannya sah menurut Islam, Kak. Tapi, nanti ada perjanjian antar pihak orang tua wanita dan laki-laki yang intinya akan membuat kesepakatan nikah gantung. Misal, pak Sabil tetap tinggal bersama orang tuanya, pun dengan Kak Listi. Tetap tinggal sama ibu dan bapak dan boleh tidak melakukan tugas sebagai suami istri berdasarkan perjanjian yang sudah disepakati bersama."


"Namun, selama masa nikah gantung itu, baik pak Sabil maupun Kak Listi, harus sama-sama belajar dan mempersiapkan diri untuk menjalani pernikahan yang sesungguhnya. Karena tujuan nikah gantung 'kan memang untuk mendewasakan dan memantapkan sebuah pernikahan dengan cara dihalalkan terlebih dahulu. Begitu, Kak."


"Oh, begitu ya Neng? Berarti aku enggak harus tidur bareng sama a Abil 'kan? Ihh, takut. Badan dia 'kan bongsor dan kekar." Malah bergidik.


"Hahaha, nanti akan ada perjanjiannya, Kak. Biasanya, perjanjian itu akan membahas hal-hal apa saja yang boleh dilakukan, dan tidak boleh dilakukan. Dalam nikah gantung, umumnya memang tidak boleh berhubungan badan dulu, Kak."


"Bagus 'lah kalau begitu mah, Dai. Kalau aku enggak nyaman, bisa langsung minta cerai, 'kan?"


Ya ampun, entah apa yang dipikirkan kak Listi. 'Kok bisa-bisanya bicara demikian. Tapi tak apa-apa 'lah. Yang penting, aku harus bisa membujuknya agar mau nikah gantung. Setelah mereka menjadi pasangan sah, apa pak Sabil bisa menahan diri? 'Kok aku merasa enggak yakin, ya?


"Untuk masalah ketidakcocokan selama menjalani nikah gantung, nanti bisa dibicarakan lagi sama orang tua masing-masing, Kak. Nikah gantung 'kan pada dasarnya adalah pernikahan yang dilakukan di bawah pengawasan orang tua. Jadi, kalau ada masalah, Kakak dan pak Sabil harus menjelaskan semuanya pada mereka."


Pikirku, wajar jika pak Komjen dan bapaknya kak Listi menyepakati pernikahan gantung. Sebab, baik kak Listi maupun pak Sabil, keduanya sama-sama anak tunggal yang tentunya sangat disayangi dan dimanja. Mereka berdua adalah harapan keluarga satu-satunya.


.


Beberapa saat kemudian, pak Zulfikar masuk begitu saja dengan perangai tidak ramah.


"Pak Direktur, makeupnya sudah dibersihkan. Baju Neng Daini juga sudah diganti. Jadi, aku mohon undur diri."


Melihat pak Zulfikar, kak Listi langsung berpamitan. Ia cepat-cepat pergi sambil melambaikan tangan ke arahku. Kak Listi pasti tahu kalau suasana hati pak Zulfikar sedang tidak baik-baik saja.


"Sudah mandi?" Ia mendekat.


"Be-belum, Pak." Agak gugup karena sikapnya sagat dingin.


"Cepat mandi, kita mau bertemu wartawan."


"A-apa?! Bertemu wartawan? Aku tidak mau, Pak. Aku tidak mau diwawancara," tolakku.


"Hanindiya, jangan membantahku."


"Tapi, dari awal aku sudah bilang sama mama dan papa kalau aku tidak mau diwawancara. Lagi pula, wartawan sudah mengetahui identitasku dan status pernikahan kita. Apa lagi yang harus Bapak konfirmasi?"


"Hanindiya, aku suami kamu, apa posisi mama dan papaku lebih tinggi dari aku? Tidak, 'kan?" tegasnya.


"Baik, aku mandi dulu ya, Pak." Tidak memiliki alasan lain lagi kecuali patuh.


"Aku juga mau mandi. Baju ini membuatku tidak nyaman. Bisa membantuku?" Ia mendekat. Padahal, baju adatnya sangat mudah dibuka.


"Kenapa pipi kananmu merah?" Tiba-tiba menangkup wajahku.


"Tidak tahu, Pak. Aku baru tahu kalau pipiku merah dari Anda." Tetap fokus membuka baju adat Jawa yang dipakainya.


"Ini merah sekali, Hanindiya. Bisa jadi kerena alergi makeupnya tante Lala. Aku harus menanyakannya. Bedak apa yang dia gunakan?! Sembarangan! Enak saja membuat wajah istriku alergi!" ketusnya.


"Pak, sabar. Ini hanya merah sedikit, 'kok."


"Apa gara-gara Listi membersihkannya terlalu kuat?"


"Tidak, Pak. Anda kenapa? Tolong jangan marah-marah terus." Sambil memeluknya.


Semoga bisa meredam emosinya. Harusnya, yang emosi itu aku. Bukan 'kah pak Zulfikar yang telah membohongiku dengan pura-pura menemui bu Dewi? Tapi, jika aku membahas masalah itu lagi, ia akan semakin marah.


...⚘️⚘️⚘️...


Syukurlah, ia hanya meminta mandi bersama dan dimandikan. Tidak meminta yang lain. Padahal, tubuhnya bereaksi. Tadi, aku berusaha sekuat tenaga agar tidak tertawa. Andai ia meminta dilayani, dengan suasana hatinya yang sekarang, ia pasti berlaku kasar.


.


Suasana hati pak Zulfikar belum berubah. Bahkan sampai aku membantunya memakaikan baju, ia masih masam. Hanya menatap wajahku dan tak bicara sepatah katapun.


"Pak, banyak sekali pasangan yang akhirnya terlibat salah paham karena kurangnya komunikasi. Bukan hanya itu, tidak sedikit yang kemudian memutuskan untuk berpisah karena merasa tidak cocok dengan pasangan yang jarang meluangkan waktu untuk ngobrol dan becerita." Aku mencoba berkomunikasi sebisaku. Semoga bisa melunakkan hatinya.


"Emm, perkara ngobrol memang terasa sangat sepele, Pak. Tapi, harusnya memang bisa dilakukan." Masih diam saja.


"Saat aku atau Pak Zulfikar dilanda masalah, posisi kita bukanlah untuk menyalahkannya satu sama lain. Aku dan Pak Zulfikar hanya perlu membuka jalan untuk mau berbagi, kemudian bersama-sama mencari jalan keluar yang terbaik."


"Hanindiya, jika aku terlihat tertekan dan sedang menyembunyikan masalah, kamu tidak perlu langsung berpikiran buruk terhadapku. Seharusnya kamu tahu kalau aku sedang menenangkan diri dan mempersiapkan diri untuk menyusun kalimat yang tepat agar kedepannya bisa becerita sama kamu. Kamu yang seperti ini justru malah membebani dan menekan perasaanku," tandasnya. Aku langsung mematung.


"Apa?! Anda salah mengartikan ucapanku wahai Bapak Zulfikar Saga Antasena Yang Terhormat!" Aku membalikan badan dan menjauh.

__ADS_1


"Mau kemana? Dasiku belum terpasang." Ia mencekal tanganku, namun segera kutepis.


"Lepas! Pak Zulfikar, dengar ya. Sebagai istri, aku tentu saja harus sabar menunggu dan siap berbagi masalah dengan Anda. Tapi, bagaimana caranya kita berbagi masalah dan berusaha menyelesaikannya jika Anda sendiri tidak mau menceritakan masalahnya. Parahnya, Anda justru sengaja menyembunyikan masalah tersebut dan berani membohongiku," tegasku.


"Hanindiya! Sini kamu! Kenapa kamu jadi bawel, hah? Siapa yang membolehkanmu bicara keras sama suamimu?" Ia kembali mencekal tanganku. Lalu mendorongku pelan hingga tubuhku terlentang di tempat tidur.


"Pak, le-lepas."


"Tenang saja, aku tidak akan menyakitimu. Hanya akan memberimu sedikit kesenangan."


Dia menarik handukku. Aku terkejut sempurna. Baru saja hendak meraih kembali handuk tersebut. Namun tanganku sudah tercekal, dan bibirku telah dibungkamnya dengan sengatan mematikan.


"Mmh ...."


Tangannya begerak perlahan. Lalu dengan sesuka hati, ia meraih sesuatu yang diinginkannya. Aku terhenyak, membelak, meringis dan kaget. Namun, jelas tidak bisa menolaknya. Dia suamiku. Dia berhak atas tubuhku. Hanya bisa menggelengkan kepala dan berharap agar ia mengurungkan niatnya.


"Kamu tidak suka aku melakukan ini? Apa kamu yakin? Sayangnya, tubuh kamu menyukainya. Tubuhmu sering berkhianat," bisiknya. Seraya menyeringai dan kian menjadi.


"Cu-cukup, Pak ...," lirihku.


"Aku yakin kamu bisa mendengarkan reaksi tubuhmu. Dengar, tubuhmu sangat menyukai dan sedang menikmati yang kulakukan."


Ia tersenyum puas. Aku memalingkan wajah sambil mengatur napas. Aku kesal! Aku sebal! Tapi, aku tidak bisa mengendalikan tubuhku.


Setelah berhasil membuatku lemas tak berdaya, ia meraih kembali handukku dan menyelimutiku. Kemudian mencium keningku, mengusap bibirku dan berkata ....


"Maaf ya sayang, aku melakukannya karena sangat mengagumi dan menghormati tubuhmu. Baiklah, aku tidak akan mengajakmu menemui wartawan. Kamu tetap di kamar ya. Oiya, kalau mau mandi, jangan lupa pakai air hangat. Sekali lagi, aku minta maaf."


Sekarang, ia mengecupi tanganku. Aku diam membisu. Sepertinya, pikiranku masih terpengaruh dengan aktivitas memalukan yang baru saja dilakukannya.


"Daddy mau menemui wartawan." Lanjut mencium perutku.


"Sayang, tolong jangan salah sangka. Aku terpaksa berbohong karena ada alasannya. Setelah polisi membeberkan barang bukti yang ditemukan di TKP meninggalnya papi, aku akan menjelaskan semuanya."


Setelah mengecup bibirku yang masih sedikit terbuka akibat mengatur napas, iapun pergi. Dan sepertinya, sengaja mengunci pintu kamar dari luar. Aku menatap nanar pada langit-langit kamar.


Karena telah melewati serangkaian acara tujuh bulanan yang begitu melelahkan, dan akibat pelepasan yang memalukan itu, sang kantukpun datang menyerang. Hingga perlahan aku memejamkan mata dan melupakan semuanya. Aku terlelap.


...⚘️⚘️⚘️...


Zulfikar Saga Antasena


"Aku mau pulang Mas."


Dia berpamitan. Aku diam saja. Hanya menatap perutnya dan berharap anakku baik-baik saja.


Dia mengulurkan tangannya. Aku terpaksa meraih tangannya agar sikap ketidakpedulianku tidak dicurigai oleh asistennya.


"Setelah acara 40 harinya papi selesai, aku pasti akan membuat perhitungan atas sikap kamu, Mas. Jangan kamu kira aku akan diam saja. Dengan meninggalnya papi, kendaliku justru jadi lebih kuat dari sebelumnya. Papi sudah mewariskan saham dan perusahaannya untukku. Aku juga memiliki wewenang untuk mengakuisisi perusahaan kamu," bisiknya.


"Aku tidak peduli. Silahkan akuisisi saja. Aku sangat penasaran dan ingin melihat bagaimana hebatnya sepak terjang seorang wanita murahan mengendalikan sebuah perusahaan." Tidak mau kalah, akupun berbisik di telinganya.


"A-apa katamu, Mas?! Siapa yang murahan?!" bisiknya lagi sambil mengeratkan giginya hingga gemeretak.


"Siapapun itu, kalau kamu tidak merasa, harusnya tak perlu marah ataupun tersinggung, bukan?"


"Pak Zulfikar, wartawan sudah kumpul. Wawancaranya akan segera dimulai," jelas pak Reza yang baru saja datang.


"Baik, Pak."


Aku bergegas dan tidak menoleh pada wanita itu lagi. Sepertinya, aku harus mengeluarkan uang lebih banyak lagi agar bisa melihat vidio dan foto-foto itu sebelum persidangan.


"Mas." Wanita itu memanggilku. Namun aku benar-benar tidak ingin melihatnya. Jijik!


"Non Dewi, sudah waktunya pulang." Asisten wanita itu menarik tangannya agar segera pulang.


"Si pemeran wanita melakukan hubungan intim dengan lima orang pria berkebangsaan asing. Namun saya dan penyidik belum bisa memastikan lokasi dan waktu pembuatan vidio tersebut. Menurut penyidik dan beberapa tim ahli, pria-pria itu kemungkinan adalah model internasional yang biasa menjual tubuh mereka baik untuk kepuasan maupun untuk dikomersilkan."


"Oiya, saya dan penyidik menduga jika pemeran wanita yang ada di vidio tersebut berkebangsaan Indonesia. Sebab, selain dari ciri-ciri dan postur tubuhnya, dalam vidio itu, si pemeran wanita terdengar jelas mengatakan kalimat berbahasa Indonesia seperti, 'lebih cepat, yap bagus, iyah-iyah, dan he-em.' Mereka juga sempat melakukan adegan tidak senonoh pada bagian tubuh yang bukan semestinya."


"Sejauh ini, penyidik telah bekerja sama dengan interpol devisi human trafficking untuk melacak serta mengidentifkasi seluruh pemeran yang berada di vidio tersebut. Kami yakin salah satu pemeran pada vidio tersebut memiliki hubungan dengan pak Pratama Surawijaya."


Penjelasan mata-mata terngiang di telinga dan membuatku merasa jijik hingga spontan membuang salivaku ke tempat sampah.


"Kenapa Pak? Apa mungkin masuk angin?" Pak Reza khawatir.


"Tidak, Pak. Aku baik-baik saja."


...⚘️⚘️⚘️...


Wartawan sudah menunggu. Mereka langsung berdiri dan membidikkan kamera saat aku tiba. Selain mama dan papa, hadir juga ummi dan abah. Mata mereka jelas menunjukkan kepenasaranan. Pasti mencari keberadaan Hanin atau wanita itu.


"Bu Daininya mana, Pak?"

__ADS_1


"Bu Dewinya mana, Pak?"


"Apa Bapak sengaja tidak datang dengan salah satu istri Bapak?"


"Kenapa tidak datang dengan bu Daini dan bu Dewi saja, Pak?"


"Cukup, tolong bertanya saat sesi tanya jawab sudah dibuka," seru pak Reza.


"Tolong hormati keputusan putraku. Sudah baik putraku mau diwawancara," ketus mama.


"Istriku benar. Jangan melupakan perjanjian yang sudah kita sepakati," sela papa.


Sementara abah dan ummi hanya menyimak sambil sesekali melakukan perbincangan dengan pak Ihsan.


"Kita mulai saja," ucap Listi.


Malam ini, ia alih profesi menjadi pemandu sesi bincang-bincang dengan wartawan. Sayangnya, pak Sabil tidak bisa hadir. Kalau saja dia hadir, pastinya akan klepek-klepek melihat penampilan Listi.


"Pertama-tama, aku akan bertanya dulu pada pak Direktur, kenapa Bapak tidak membawa keduanya atau salah satu dari istri Bapak? Hehehe," tanya Listi. Kalau tidak berani, bukan Listi namanya.


"Alasannya, istri pertamaku tidak bisa mengikuti agenda ini karena masih berkabung. Istri keduaku tidak bisa hadir karena ---." Terdiam.


Jadi terbayang lagi. Hal itu membuat bibirku spontan mengulum senyum. Hanin pasti kelelahan karena baru saja mengalami pelepasan yang dahsyat. Dia memang wanita yang menyenangkan. Tubuhnya sangat responsif hingga berhasil membuatku tergila-gila. Alim di luar, liar di dalam. Perpaduan yang seimbang antara sholehah dan sholehot.


"Zul, bicara dong!" Mama menyikut bahuku.


"Hanin kelelahan. Makanya tidak bisa hadir," terangku.


Setelahnya, dilanjut sesi bincang-bincang yang membahas seputar kehamilan Hanin. Dalam hal ini, yang paling aktif menjawab adalah mama.


"Tenang saja, saya juga akan menggelar acara tujuh bulanan seperti ini untuk Dewi. Jadi, kalian jangan berpikir kami tidak adil," jelas mama.


"Apa jenis kelamin calon bayi bu Dewi sudah diketahui?"


"Terakhir USG masih belum terlihat, tapi bayinya sehat 'kok." Mama juga yang menjelaskan. Aku diam saja. Tiba-tiba berpikir, apa bayi yang dia kandung benar-benar anakku?


"Wanita itu bisa dibilang melakukan pesta **** dengan lima orang pria asing."


Keterangan mata-mata membuatku mengernyitkan alis. Di saat mama sibuk berorasi, aku sibuk menebak-nebak.


Apa mungkin lokasinya berada di luar negeri? Tapi setahuku, semenjak menikah, dia tidak pernah pergi ke luar negeri.


"Berapa kilo gram perkiraan berat badan pemeran wanita dalam vidio itu?" Pak Sabil sempat menanyakan hal itu pada mata-mata.


"Berat badannya ideal. Tingginya sekitar 160 cm, dan berat badannya sekitar 60 kilo gram."


Aku terus berpikir dan berpikir. Bukankah 60 kilo gram adalah berat badan wanita itu sebelum menikah denganku? Aku ingat, dua bulan sebelum resepsi pernikahan dia pernah berkata ....


"Dua tahun ini berat badanku bertahan di angka 60 kilo gram. Targetku 55 kilo gram, Mas. Jadi, sebelum kita menikah aku harus turun 5 kilo gram."


Saat kami menikah, berat badannya adalah 54 kilo gram. Aku mengetahui angka tersebut dari surat keterangan sehat miliknya. Setelah menikah denganku, BB-nya naik lagi jadi 55 kilo gram. Tunggu, aku ingat benar jika BB dia saat kami melakukan program bayi tabung adalah 53 kilo gram. Sekarang 60 kilo gram lagi karena dia sedang hamil.


'Deg.' Jantungku berdegup. Apa mungkin vidio itu dibuat sebelum dia menikah denganku? Tapi, jika itu vidio lama, kenapa malam itu dia masih perawan? Kepalaku mendadak pusing, segera izin pada Listi untuk undur diri dari acara ini dengan alasan 'Hanin ingin segera dipeluk.'


"Issh, alasan macam apa itu?" protes Listi.


...⚘️⚘️⚘️...


Aku sudah berada di depan kamarku. Belum masuk karena terus memikirkan masalah itu. Akhirnya duduk di depan kamar sambil memegang keningku. Kejadian malam itupun terlintas kembali.


Teringat lagi bagaimana sulitnya tubuhku meraih milik Hanin. Aku berhasil meraihnya setelah beberapa kali percobaan, dan itupun baru sukses setelah aku memaksanya dengan kasar. Selain itu, Hanin yang kukira adalah Dewi, malam itu bertingkah sangat kaku. Responnya benar-benar mencerminkan sebagai anak gadis yang polos.


Padahal, saat itu tubuhnya sedang terpengaruh obat kuat. Namun, bahasa tubuhnya tetap menunjukkan ketidaktahuan. Malam itu, Hanin lebih banyak menangis dan berusaha menahan de-sa-han-nya dengan cara menggigit bibirnya hingga berbekas.


Aku memasygul rambutku. Kemudian teringat kala aku melakukannya dengan wanita itu. Ya, memang sulit dijangkau dan berdarah. Tapi itu tidak sesulit saat aku melakukannya pada Hanin. Setelah berhasil, sikapnya berbanding terbalik dari Hanin. Dia sangat aktif, mendominasi, dan mahir. Dia bak singa kelaparan yang baru saja menemukan mangsa.


Tunggu, apa wanita itu memanipulasi keperawanannya? Tanganku mengepal kuat, rahangku mengeras.


"Kurang ajar!" Aku meninju telapak tanganku.


Jika dugaanku benar, itu berarti vidio itu adalah masa lalunya. Tapi aku tetap tidak bisa memaafkan dia! DASAR PENIPU!


Aku lantas berdiri dan kembali ke tempat bincang-bincang.


...⚘️⚘️⚘️...


Seluruh yang hadir menatap keheranan. Aku tidak peduli! Segera merebut microphone yang dipegang Listi. Lalu berkata ....


"Setelah cucu mendiang pak Pratama Surawijaya terlahir ke dunia, aku hanya akan memilih satu istri yang akan kujadikan sebagai pendampingku. Aku akan menceraikan salah satu dari mereka. Kenapa aku melakukan hal itu? Alasannya karena aku merasa tidak bisa adil terhadap istri-istriku. Terima kasih."


Mereka melongo dan saling menatap. Mama dan papapun terlihat kebingungan. Abah dan ummi menatapku. Listi mengangguk-angguk.


"Keputusanku sudah bulat. Tolong jangan bertanya siapa yang akan aku ceraikan. Sebab, nanti juga kalian akan tahu jawabannya."

__ADS_1


...⚘️⚘️⚘️...


...~Tbc~...


__ADS_2