Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Bertemu Mama


__ADS_3

Zulfikar Saga Antasena


Aku masuk ke kamar utama sambil bersiul-siul. Hatiku berbunga-bunga. Kejadian di dapur membuatku malu. Pipiku rasanya memanas.


Bersama Hanin, kok bisa aku jadi semesum ini?


Tadi, aku menyuruh Hanin melakukan sesuatu untuk memuaskan tubuhku.


Dan apa yang terjadi?


Dia begitu patuh. Dia melakukan apapun yang kuinginkan sesuai kehendakku.


Saat ini, Hanin masih berada di dapur. Ia sedang membuat susu kedelai lagi. Katanya, untuk bekalku ke kantor. Sisanya untuk cadangan. Aku bergegas ke kamar mandi. Aku harus mandi besar untuk yang kedua kalinya.


Ya ampun, pusing-pusing nih kepala.


Selesai mandi, aku mengeringkan rambut dan kembali tersenyum. Menatap pakaian kantor yang sudah ditata oleh Hanin, membuatku merasa memiliki istri sungguhan. Biasanya, yang menyiapkan semua itu adalah Inar. Tapi itupun tidak ditata serapi ini.


Gaya Hanin menyiapkan pakaian kantorku sangat berbeda dari Inar. Hanin telah menyusunnya sesuai dengan urutan pemakaian. Kaus dalam, kemeja, celana panjang, sabuk, dasi, jas, dan bagian paling bawah adalah kaus kakiku.


Tadi, di rak sepatu, aku juga melihat sepatu kantorku sudah mengkilat. Artinya, Hanin sudah menyemir sepatuku.


Bagaimana aku tidak bahagia coba?


Saat aku sedang memakai dasi, Hanin masuk ke kamar.


"Sudah selesai membuat susunya?" tanyaku.


"Sudah," jawabnya.


Lalu mendekat ke arahku, dan tanpa aku suruh, Hanin segera membantuku memakai dasi. Ia berjinjit, aku lantas melingkarkan tangan di pinggang biolanya.


"Aku suka susu kamu, rasanya enak," ungkapku.


"Susu kedelai Pak, kalimatnya harus lengkap," protesnya.


"Hahaha, iya, maaf. Kalau susu saja, memangnya kenapa?" godaku. Dia tak menjawab. Malah mengambil jasku dan membantuku memakai jas.


Alhamdulillah.


Seperti ini ternyata rasanya diurus oleh seorang istri. Maaf, bukannya aku membandingkan Dewi dan Hanin. Tapi, Dewi sangat jarang melakukan hal seperti ini. Pernah sesekali, tapi caranya tidak selembut Hanin.


"Sama aku saja sayang," tolakku. Saat dia bersimpuh di lantai untuk memakaikanku kaus kaki.


"Tidak apa-apa, Pak. Sama aku saja," dia bersikukuh. Aku duduk di sisi tempat tidur sambil memandangnya.


"Pak, ini ada yang sedikit panjang kukunya, aku potong dulu ya." Dia bergegas, mengambil gunting kuku dan memotong kuku kakiku.


"Ya ampun, terima kasih, Hanin." Aku menangkup pipinya.


"Terima kasih untuk apa?" tanyanya.


"Untuk semuanya," jelasku.


"Tidak perlu beterimakasih, Pak. Aku hanya melakukan yang kuinginkan," terangnya.


Tiba saatnya untuk aku berangkat kerja. Aku pesan taksi karena mobilku dibawa Dewi. Berat rasanya mau meninggalkan wanita ini.


"Sayang, hei sama aku saja." Aku meraih sepatuku saat Hanin akan memakaikannya untukku.


"Aku bantu," katanya.


"Tidak perlu sayang," tolakku.


"Oiya, ini kamu yang semir, kan? Hasilnya bagus, aku suka," pujiku.


"Aku biasa semir sepatu punya abah," jawabnya.


"Oh pantas," kataku sambil meraih tangannya yang hendak bersalaman. Dia mencium tanganku. Setelahnya, aku juga mencium tangannya.


"Pak, maaf kalau aku lancang." Dia sepertinya ingin mengatakan sesuatu.


"Kenapa?"


"Menurutku, lebih dulu memaafkan itu lebih baik daripada harus menunggu kata maaf. Jadi, kurasa Bapak harus memaafkan bu Dewi," katanya. Lantas menunduk.


"Hmm, ya sayang, aku juga berpikir seperti itu. Tapi kata maafku bukan berarti membiarkan dia terus berbuat semena-mena seperti itu."


Sekarang, aku sudah berada di ambang pintu. Benar-benar akan pergi meninggalkannya. Dan Hanin melambaikan tangan seraya tersenyum. Terpakasa aku mengatakan ....


"Assalamu'alaikuum, Hanin. Aku kerja dulu ya."


"Wa'alaikumussalaam, semoga Pak Zulfikar selalu dalam lindungan-Nya. Eh, tunggu dulu Pak, aku hampir lupa. Kan aku sudah buatkan bekal," katanya. Lalu berlari cepat untuk mengambilnya.


"Hanin, tidak perlu lari, kalau kamu jatuh, bagaimana?" protesku. Entah kenapa aku tiba-tiba saja merasa risih saat melihatnya berlari.


Kemudian dia kembali lagi membawa kotak makanan dan tumbler berisi susu kedelai.


"Ini Pak. Dimakan ya, kalau misalnya Bapak kurang suka, tolong jangan dibuang. Tawarkan saja sama yang mau, misalnya sama bu Tania atau pak satpam. Jika mereka tidak mau, bekalnya bawa pulang lagi saja. Biar nanti aku yang makan," jelasnya. Sedetail itu ternyata dia memperhatikan makanan.


"Ya sayang, tenang saja. Pasti aku makan, kok."


Aku mengambilnya dan merasa terenyuh. Sebab baru kali ini aku membawa bekal. Ini bekal perdanaku.


"Terima kasih, Pak." Malah dia yang mengucapkan terima kasih.


"Aku yang terima kasih, Hanin. Ya sudah, aku berangkat ya." Aku memeluknya sejenak lalu mencium puncak kepalanya.


"Sama-sama ucapnya," dan kembali melambaikan tangan. Aku lalu melemparkan flying kiss, dia lantas senyum-senyum dengan pipi merona.


Bahkan di dalam taksipun aku masih memikirkannya. Memikirkan maduku yang rasanya teramat manis dan nikmat.


...🍒🍒🍒...


Aku sudah berada di kantor. Tepatnya di ruanganku. Sedang memandangi bekal dari Hanin.


"Selamat pagi, Pak," sapa Nia.


"Pagi, Nia," sahutku.


"Bapak tidak ikut apel?" tanyanya sambil menyiapkan dan merapikan beberapa berkas di mejaku.


"Hari ini aku tak ikut. Hmm, sedikit malas," jawabku.


"Baik, tidak apa-apa, Pak. Wah, Bapak bawa bekal? Apa dibekali bu Dewi?"


Mata Nia berbinar saat menyadari keberadaan bekal tersebut. Aku tak menjawab. Hanya tersenyum. Tak mungkin juga aku mengatakan kalau ini bekal dari istriku yang lain.


"Ya sudah, saya apel dulu ya Pak." Nia pergi.


Sebenarnya, aku tak mau ikut apel karena masih belum siap bertemu dengan Dewi. Perlakuan kasarnya dan kata-katanya yang menyakitkan, membuatku ragu.


Aku menggangguk, mempersilahkan Nia pergi.


.


Pada pukul sebelas siang, rapat pertama dengan klien dan pengembang akhirnya selesai juga. Aku bergegas ke ruanganku setelah berbincang dengan Nia dan staf sekretaris di kantor sekretariat.

__ADS_1


Saat aku membuka pintu ruanganku, aku terkejut bukan kepalang. Aku sampai mundur dua langkah. Berkas di tanganku terjatuh.


"Ma-Mama?" Aku terbata-bata. Mama tak mengabari kalau mau ke kantorku.


"Kenapa Zul? Kamu kaget Mama ke sini? Kamu lihat Mama sudah kaya lihat hantu saja," tuduh Mama, raut wajahnya seolah tengah mengejekku.


"Ma-maaf Ma, tidak kok tidak kaget, hanya terkejut. Kan Mama tak bilang kalau mau ke sini," elakku.


Setelah mengambil kembali berkas yang bececeran, aku menghampiri mama. Maksudku mau menyalami mama. Saat tanganku terulur. Mama berdiri, dan ....


'PLAK.' Mama menamparku. Aku terkejut. Jantungku berdegup.


"Ma-Mama?" Aku mematung, memegang pipiku.


"Duduk kamu!" seru mama.


Badanku melemas. Perasaanku tak enak. Pasti ada sesuatu yang menyebabkan mama memperlakukanku seperti ini.


"Ya Ma," aku tertunduk. Duduk di kursi dalam kebingungan.


"Cepat kamu berpikir kenapa Mama bisa menampar kamu?!" sentak mama.


"Ma," lirihku. Sungguh, aku tak terpikirkan hal apapun.


"Malam ini kamu menginap di mana?!" teriak mama.


Deg, aku terhenyak. Namum masih terdiam seribu bahasa.


"Cepat jawab, Zul! Jangan membuat Mama makin emosi!"


"Di a-apartemen Ma." Ya, aku memang memiliki apartemen selain apartemen yang kubelikan untuk Hanin dan Dewi.


"Huuuks, kamu mengecewakan Mama, Zul! Mama kecewa sama kamu!"


Mama lansung menangis. Aku terkejut luar biasa. Segara bersimpuh di dekat kaki mama dan memegang tangannya.


"Ma, Mama kenapa? Jangan membuat Zul bingung. Mama ada apa? Maaf kalau Zul ada salah sama Mama."


"Kamu masih belum sadar sama kesalahan kamu?!" teriak mama.


'PLAK.'


Dia menepis tanganku dan kembali menamparku untuk yang kedua kalinya.


"Ma ...." Aku masih belum mengerti. Akhirnya hanya bisa menunduk dan bersimpuh di hadapan mama.


"Dengarkan ucapan Mama baik-baik Zul! Apa benar kamu minta izin poligami sama Dewi?!"


"A-apa? Minta izin poligami?" Aku terhenyak. Kaget luar biasa.


"Tidak Ma, tidak pernah!" sangkalku.


Aku memang tak pernah minta izin poligami. Yang ada, aku minta izim untuk menceraikan Hanin, tapi Dewi menolak.


"Zul! Sudah berani kamu ya bohong sama Mama! Ini baru Mama lho yang tahu kelakuan kurang ajar kamu! Mama belum bilang masalah ini sama papa!"


"Ma, tolong jelaskan masalahnya, Zul belum faham apa yang mama katakan."


"Zul! Kamu benar-benar anak tak tahu diri! Kamu tak tahu balas budi sama orang tua! Beraninya kamu menyia-nyiakan wanita sehebat Dewi demi wanita lain! Ngaku kamu Zul! Ngaku sekarang juga sama Mama!" teriak mama sambil menjewer telingaku.


Deg, aku menyadari semuanya. Aku yakin Dewi telah becerita pada mama. Tapi kenapa Dewi mengatakan aku minta izin poligami?


"Ma, aku bisa jelaskan semuanya. Sekarang, beri aku waktu untuk mendatangkan pengacara dan polisi ke hadapan Mama."


"Maksud kamu apa, Zul?! Kamu kira Mama penjahat?! Kok bisa sampai kamu mau mendatangkan polisi dan pengacara segala?!" Mama kian marah dan emosi.


"Ma, jangan salah faham. Tolong Mama tenang dulu ya. Please, beri kesempatan sama Zul untuk menjelaskan semuanya." Aku ingin memeluk mama, tapi mama mendorong dadaku.


"Ti-tidak Ma. Mereka netral. Tolong Mama sabar dan dengarkan Zul dulu. Mama jangan menelan bulat-bulat semua penuturan Dewi. Mama juga harus mendengarkan aku, Ma. Please Ma, aku ---."


"Diam kamu, Zul! Berani sekali kamu menentang Mama! Sekarang begini saja, apa benar kamu sudah menikah lagi?!" desaknya.


"I-iya, iya, tapi ini tidak seperti yang Mama kira, Mama harus tahu dulu asal muasal pernikahan ini."


"APA?! Jadi benar kamu sudah nikah lagi?! Astaghfirullah, Zul! Kamu benar-benar bajingan! Apa belum cukup kamu mengecewakan Mama dan papa kamu?! Sudah berapa banyak masalah yang kamu timbulkan gara-gara Mama dan papa membiarkan kamu pacaran dengan si Angel! Sekarang kamu mau tambah masalah baru lagi?!"


Mama tak memberiku kesempatan untuk bicara. Angel adalah nama mantan pacarku yang telah menipuku. Gara-gara Angel, perusahaan papa hampir bangkrut, bahkan papa hampir ditangkap KPK gara-gara difitnah oleh orang suruhan Angel.


"Ma, jangan bahas Angel lagi, aku sudah muak dengan wanita munafik itu! Mendengar namamya saja sudah membuatku mual," jelasku.


"Lalu apa alasan kamu menikahi wanita lain kalau memang benar kamu sudah move on dari si Angel?! Mama tak faham jalan pikiran kamu, Zul! Mama kecewa!"


"Ma, makanya Mama harus dengarkan dulu alasannya. Agar Mama tak menuduh Zul berbohong, Zul mau mendatangkan saksi untuk menjelaskannya pada Mama."


"Cukup Zul! Cukup!"


Mama berdiri, berkacak pinggang dan menunjukku. Posisiku masih bersimpuh di lantai.


"Penjelasan dari Dewi sudah cukup! Kamu tak perlu menjelaskannya lagi. Mama yakin wanita sebaik Dewi tak mungkin berani membohongi mertuanya! Dia wanita terhormat, Zul!" bela Mama.


"Ma, memangnya apa yang sudah dikatakan Dewi sama Mama?" Aku memberanikan diri menatap Mama.


"Tak perlu Mama jelaskanpun, harusnya kamu sudah tahu! Sekarang jawab dengan jujur! Siapa pelakor itu?! Anak siapa dia?! Punya saham berapa persen sampai dia berani mendekati kamu?!"


"Ma, dia bukan pelakor. Dia juga tidak punya saham. Dia wanita biasa. Emm, keluarganya kurasa cukup kaya, tapi mereka tak pernah menonjolkan kekayaannya."


"Apa?! Jadi kamu terpikat sama keluguan wanita miskin lagi, Zul?! Kamu belum kapok rupanya! Berdiri kamu!" Mama menarik telingaku. Aku berdiri sambil meringis.


'PLAK.'


Mama kembali menamparku. Mama memang sedikit ringan tangan. Kalau tidak menampar pipi, mama akan memukul bokongku, atau memukul betisku menggunakan sapu.


"Ma ... silahkan Mama lakukan apapun pada Zul semaunya Mama. Kalau Mama tidak memberi Zul kesempatan, Zul bisa apa?" lirihku. Mama mengatur napasnya dan menangis.


"Huuu, mau dikemanakan muka Mama kalau sampai keluarga besar Dewi mengetahui ulah kamu, Zul! Kalau mereka kecewa, efek kekecewaan mereka pasti ekan berdampak pada perusahaan kita, Zul! Untungnya Dewi begitu baik. Dia mengatakan akan berusaha sabar dan menerima madu kamu."


"A-apa?!" Aku melongo tak percaya.


"Ya Zul. Mama sangat terharu sama sikap Dewi. Jarang sekali ada wanita di dunia ini yang mau dipoligami. Sekelas ustadzahpun, banyak yang menolak dimadu. Tapi Dewi sangat hebat. Demi menjaga keutuhan rumah tangga dan kebaikan semuanya, Dewi sampai ikhlas dipoligami. Dia bahkan merahasiakan kelakuan busuk kamu dari mami dan papinya!" tegas mama.


"Ma ... apa Mama sama sekali tak mau mendengar penjelasanku?"


Aku menatap mata mama, mataku berkaca-kaca. Yang kutakutkan terjadi jua, Dewi pasti mengatakan sesuatu untuk mempengaruhi mama.


"Setelah papa pulang, mari kita bicara. Untuk saat ini, mama masih belum bisa mendengar penjelasan kamu! Mama sudah terlanjur kecewa sama kamu, Zul! Mama ke sini untuk mengatakan itu, dan Mama ingin tahu wanita macam apa yang berani merebut hati kamu?!"


"Mama yakin wanita yang tulus mencintai kamu cuma Dewi, Zul! Secara, Dewi itu putri konglomerat, Dewi tak membutuhkan harta kamu!"


"Malah sebaliknya, perusahaan kita yang butuh sokongan dari perusahaan papinya Dewi. Dari hal itu saja kamu harusnya berpikir Zul! Wanita yang kamu pilih itu ujung-ujungnya pasti mengincar harta kamu!"


"Ma, tolong jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Dia bukan wanita seperti itu, dia wanita baik-baik, Ma. Dan aku mencintainya."


"Apa kamu bilang?! Kamu mencintainya?! Tidak waras kamu ya Zul! Lalu Dewi bagaimana? Kamu belum mencintai dia?!"


"Ma, kan aku sudah bilang sama Mama, aku menerima Dewi demi baktiku pada Mama dan papa, juga untuk menebus kesalahanku karena telah mengecewakan Mama dan papa. Makanya Mama dengarkan aku dulu."


"Cukup Zul! Sekarang katakan, siapa wanita itu?!"

__ADS_1


"Maaf, Ma. Aku tidak bisa mengatakannya sebelum Mama mau mendengarkan penjelasanku."


"Zul, kamu berani membangkang Mama demi wanita itu?!"


"Sungguh, aku tidak ada niat untuk membangkang. Aku hanya ingin Mama sadar kalau apa yang Mama duga dan apa yang Dewi katakan pada Mama, belum tentu semuanya benar," sanggahku.


"Ya sudah, terserah kamu! Mama capek! Mama mau pulang! Besok, bawa si pelakor itu ke hadapan Mama dan papa. Mama tunggu! Semoga kamu tak menyesal dengan pilihan kamu! Yang jelas, sampai kapanpun, Mama tak mungkin menerima wanita itu!"


"Ma, tunggu. Jangan pergi dulu, Ma."


"Minggir!" Mama mengibaskan tangan.


'BAM.'


Mama pergi, ia menutup kuat-kuat pintu ruanganku. Aku mengatur napas. Lalu duduk di kursi kerjaku sambil memasygul rambutku.


Apa gerangan yang dikatakan Dewi hingga mama sekali tak mau mendengar penjelasanku?


"Hanin ...." Di saat seperti ini, aku sangat membutuhkannya.


"Hanin ...." Aku memanggilnya lagi.


Lalu Tania masuk ke ruanganku. Aku segera merubah ekspresi seolah tak terjadi apapun.


"Ada apa Nia?"


"Tadi ada bu Yuze ya? Saya bertemu beliau di dalam lift."


"Ya, ada," timpalku singkat.


"Emm, ini ada draft laporan perbaikan dari divisi mutu, Pak. Silahkan Bapak cek. Kalau ada yang kurang, hehehe, nanti bu manajer divisi mutu akan menemui Bapak."


Nia menjelaskan sambil tersenyum, ia mungkin sadar kalau manajer yang dimaksud adalah istriku sendiri.


"Baik, akan aku cek. Kamu boleh pergi."


"Oke, saya permisi." Tania undur diri.


Aku lantas mengeceknya. Serius, ada banyak sekali kesalahan. Pekerjaan Dewi ternyata tak sebagus bu Caca. Aku lantas menelepon divisi mutu.


"Ya, dengan divisi mutu, ada yang bisa aku bantu?" Langsung Dewi sendiri yang mengangkatnya.


"Bu Dewi, laporannya berantakan. Aku tunggu Anda di ruanganku. Sekarang ya. Banyak yang harus direvisi."


Aku segera mengakhiri panggilan. Dalam hal pekerjaan, aku harus mengesampingkan masalah yang terjadi antara aku dan Dewi.


.


Beberapa saat kemudian Dewipun datang. Masuk ke ruanganku tanpa ekspresi.


"Silahkan duduk," titahku.


Awalnya Dewi biasa saja, namun saat melihat kotak bekal di meja kerjaku, ekspresinya berubah masam.


"Mas, apa bekal itu si Daini yang buat?!"


"Bu Dewi, tolong jangan bahas hal pribadi dulu. Kita bertemu untuk membahas masalah pekerjaan. Mari kita kedepankan asas profesionalitas!" tegasku sambil tetap fokus pada berkas di tanganku.


"Jawab dulu pertanyaanku, Mas! Apa itu masakan si Daini?!"


"Bu Dewi, cepat duduk!" seruku.


"Mas!" teriaknya. Jadilah kesabaranku goyah.


"Wi, kalau memang benar ini masakan Hanin, memangnya kenapa? Tidak ada yang salah, kan?"


Padahal, aku sudah berusaha setenang mungkin. Aku tidak ingin menimbulkan masalah baru. Tapi Dewi malah memicunya.


"Apa yang dia masak?! Coba aku lihat!"


"Boleh, silahkan," aku menyodorkan kotak bekal pada Dewi.


"Apa ini?! Ini tidak bergizi, Mas! Masa kamu dibekali makanan sampah seperti ini?!"


"Wi, ini bukan sampah! Hanin sudah inisiatif menyiapkannya saja, aku sudah bahagia."


Aku menarik kembali kotak bekalnya. Kami jadi tarik-menarik kotak bekal. Karena tenagaku lebih kuat, otomatis akulah pemenangnya.


"Huuh," Dewi menghela napas.


"Ayo kita bahas masalah pekerjaan," ajakku.


"Apa kamu semalam meniduri dia lagi, Mas? Kalau ya, berapa kali? Berapa lama?"


"Astaghfirullah! Wi, apa harus kamu menanyakan itu?!"


"Haruslah Mas! Kamu semalam tak jadi menyentuhku! Kamu tidak adil memperlakukanku! Apa kamu tak sadar?!" teriaknya.


"Wi, bagaimana aku mau adil kalau kamu sendiri tak menghargaiku! Kamu kasar! Apa kamu lupa telah menganiayaku?!" Aku tak bisa menahan emosi lagi.


Tiba-tiba, pintu ruanganku diketuk dari luar. Karena sedang emosi, spontan aku mengatakan ....


"Masuk!" teriakku.


Dan pintupun terbuka.


"Paklik?" Aku dan Dewi terkejut.


"Wah, kalian sedang kumpul? Kebetulan sekali, hahaha." Paklik masuk.


Aku mengatur napas. Aku berusaha keras untuk mendinginkan suasana hatiku. Aku dan Dewi saling menatap. Dewi lantas menyambut paklik degan raut wajah yang begitu hangat.


"Hai, Paklik."


Kami lalu menyalami Paklik.


"Kalian sepertinya serius sekali, lagi bahas apasih?" tanya paklik. Aku masih bingung untuk mengatakan apapun. Jadi, yang menjawab adalah Dewi.


"Emm, begini Paklik, aku sebenarnya sedang membicarakan mutasi untuk karyawan baru yang kinerjanya kurang bagus." Aku awalnya belum faham maksud Dewi.


"Maksudnya?" Paklik kembali bertanya.


"Di divisi mutu, setelah dilakukan observasi, ada dua orang staf yang kinerjanya kurang all out. Nah, dari dua orang itu, salah satunya akan aku mutasikan ke ritel baru kita yang berada di luar kota," kata Dewi.


"Paman sih setuju-setuju saja."


Deg, aku baru tersadar. Hanin adalah karyawan baru di divisi mutu.


Tapi, sejak kapan observasi itu dilakukan? Bukankah Dewi baru bekerja 2 hari? Apakah karyawan yang dimaksud Dewi adalah Hanin?


Dan seingatku, bu Caca selalu mengatakan kalau kinerja Hanin sangat baik.


Tidak, ini tidak boleh terjadi. Jangan sampai Hanin dimutasi ke luar kota. Hatiku langsung kalut. Aku menghelas napas, sedang berpikir keras untuk menanggapi pernyataan Dewi.


...~Tbc~...


...Yuk komen yuk!...

__ADS_1


...Menurut readers, apakah neng Daini akan lebih baik kalau dimutasi saja?...


...Di tempat nyai sedang hujan deras. Ada yang sama?...


__ADS_2