
Daini Hanindiya Putri Sadikin
"Kak Listiii!" panggilku.
"Hanin, biarkan dia pergi."
Dia menahan tanganku. Jelas-jelas semua ini gara-gara dia. Kalau saja dia tak datang dan memelukku, mungkin saja kak Listi tidak akan sekaget ini.
"Kak Listi, huuu ... apa yang Kakak lihat tidak seperti yang Kakak kira," teriakku.
Aku menangis di balik pintu. Tidak, aku tidak ingin kehilangan sahabat terbaikku.
"Sudahlah sayang, mungkin Listi perlu waktu. Setelah dia siap, aku yakin dia pasti mau mendengarmu." Pak Zulfikar kembali memelukku.
"Lepas! Ini semua gara-gara Anda! Kenapa Anda ke sini tak bilang-bilang dan main peluk-peluk saja?! Huuu. Anda mungkin tak pernah tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang sahabat."
Aku membentaknya. Aku memukuli dadanya. Tapi dia bergeming, tak melawan. Malah memelukku kian erat.
"Kalaupun seluruh orang di dunia meninggalkanmu, aku akan tetap di sampingmu, Hanin. Jangan sedih dan marah-marah lagi ya. Wajahmu masih pucat istirahat yuk!" ajaknya.
"Tidak mau! Pokoknya aku marah sama Anda! Anda harus tanggung jawab!"
Aku menepis tangannya. Lalu duduk di sofa sambil cemberut dan memalingkan wajah.
"Hahaha, kok bisa wanita marah jadi secantik dan semenggemaskan ini?"
Dia mendekat, duduk di sampingku dan tertawa-tawa. Luar biasa! Padahal, masalah hari ini menurutku sangatlah rumit. Tapi anehnya dia masih bisa tertawa dan menggodaku.
"Anda menyebalkan!" teriakku.
"Masa sih?" katanya. Lagi dia memelukku.
Aku berbalik badan dan kembali memukuli dadanya. Tapi aku tahu batasan. Aku tidak memukul kuat. Hanya sedikit melampiaskan kekesalanku saja.
Lalu tanganku terkulai dan berhenti memukulnya saat aku menyadari dan melihat ada tiga tanda kemerahan di dadanya.
Aku sangat yakin bukan aku yang melakukannya. Dan aku memang tak pernah melakukan itu untuk menjaga perasaan bu Dewi. Walaupun faktanya, pak Zulfikar sering kali memintaku untuk menyematkan tanda cinta di tubuhnya. Namun selalu kutolak.
Aku menundukkan kepalaku.
Kenapa ada rasa sakit di dada ini saat melihat tanda itu?
Ternyata, untuk ikhlas berbagi ranjang itu sangat sulit dan terasa melukai. Padahal aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak jatuh cinta. Minimal, aku tidak mencintainya secara berlebihan.
Walaupun raganya sedang mendekap dan membelai kapalaku, walaupun tubuhnya bisa aku peluk, tapi luka di hati ini tetap menganga. Sekeras apapun aku berusaha untuk mengabaikan rasa ini, tetap saja ... saat membayangkan bu Dewi bercinta dengan pak Zulfikar, perasaan ini tetap terluka.
Dan aku faham benar jika bu Dewipun pasti sedih dan terluka saat menyadari jika suami yang dicintainya sering tidur dengan wanita lain selain dirinya. Bahkan akibat salah kamar itu, pak Zulfikar melakukan hubungan intim untuk yang pertama kalinya denganku, bukan dengan bu Dewi.
Itulah salah satu alasan kenapa aku tidak bisa membenci bu Dewi. Alasannya karena aku merasa sangat bersalah. Aku selalu berharap suatu hari nanti bu Dewi akan sadar jika yang terjadi saat ini bukanlah kehendakku. Aku tidak merekayasa kejadian ini, apalagi mengguna-guna pak Zulfikar agar mencintaiku. Naudzubillah min dzalik.
"Kenapa bisa sampai pingsan? Apa tidak sarapan, hmm?" tanyanya.
Dia benar-benar penipu ulung. Tatapannya padaku seolah-olah mencintaiku dengan sungguh-sungguh.
"Sarapan kok," jawabku.
Setelah hati ini mulai tenang, aku akhirnya menyandarkan kepala di dadanya. Tak cukup hanya menyandarkan kepala, tanganku bahkan menyentuh tanda kemerahan itu. Aku mengusapnya perlahan dengan perasaan yang berdesir-desir. Aku yakin ini bukan cemburu.
Lantas, ini perasaan apa?
"Kamu melihatnya?" tanya pak Zulfikar.
Berani sekali dia menanyakan itu tanpa memedulikan perasaanku. Ya, dia memang tidak akan peduli karena ungkapan cintanya untukku hanyalah sebuah sandiwara belaka.
"Ya," jawabku singkat.
"Ini terasa perih sayang. Kamu tahu? Aku digigit De ---."
"Ssstt," selaku. Aku meletakan jari telunjuk di bibirnya.
"Jangan pernah menceritakan aktivitas ranjang Anda pada siapapun," tegasku.
"Oiya, maaf sayang. Kalau tentang ranjang kita boleh, kan?" godanya.
"Kalau hanya ada kita berdua boleh-boleh saja," jawabku dengan malas, karena raut kesedihan kak Listi terus membekas di ingatanku.
"Aku yang akan bicara sama Listi. Kamu tetap di sini. Gunakan waktu istirahatmu sebaik mungkin. Oiya, maaf atas kelancangan sikap Dewi. Aku tidak bisa berbuat banyak. Dia jadi manajar menggantikan bu Cacapun tanpa sepengetahuanku. Aku yakin dia meminta jabatan itu dari papaku."
"Hanin, Dewi sangat disayang oleh mama dan papaku. Jadi, semua hal yang kulakukan untuk Dewi benar-benar harus memperhatikan perasaan papa dan mamaku. Maaf karena aku telah menyeretmu pada kondisi ini. Walaupun aku pasti akan terluka karena berpisah denganmu, aku sebenarnya ingin melepasmu demi membebaskanmu dari derita ini."
"Tapi Dewi mengacamku Hanin. Dia mengancam akan mengganggu keluargamu. Aku juga tak habis pikir kenapa dia seperti itu. Maaf ya sayang, untuk saat ini, aku belum bisa mengambil sikap tegas pada Dewi. Aku juga tidak bisa melepas Dewi karena terikat oleh perjanjian pra nikah."
Aku menyimak, dan aku tak mengerti maksudnya tentang 'melepas bu Dewi' dan 'perjanjian pranikah.' Aku tentu saja tak faham seperti apa kehidupan orang-orang kaya.
"A-apa? Apa yang akan bu Dewi lakukan pada keluargaku? Keluargaku tidak ada salah apapun, kan?" Aku takut luar biasa mendengar pernyataan itu.
"Semoga itu hanya gertakan. Tidak perlu khawatir ya." Sambil mengecup keningku.
"Pak, kenapa Anda tidak ke kantor lagi? Ini jam kerja." Aku mengusirnya secara halus.
"Ya, aku tahu. Aku hanya ingin memastikan kalau kamu baik-baik saja. Aku juga membawa bubur dan ini ada obat-obat kamu yang tertinggal di klinik." Dia memberikan plastik berisi obat. Buburnya tetap dia pegang.
"Aku suapi ya."
"Tak perlu Pak. Aku bisa makan sendiri. Terima kasih banyak. Bapak cepat ke kantor lagi."
Aku merebut plastik berisi bubur. Aku ingin dia cepat pergi karena aku tahu kalau saat ini bu Dewi juga berada di kantor.
"Baiklah, jangan sakit lagi ya. Kalau kamu sakit, jiwa dan ragaku rasanya tak tenang. Aku serius," tambahnya saat bibirku tersenyum sinis.
Daripada dia banyak bicara. Aku segera meraih tangannya untuk bersalaman. Kucium punggung tangannya penuh hormat.
"Oiya, Hanin. Dewi menyetujui keinginanku untuk tidak tinggal satu atap. Tapi aku menduga jika keputusannya jadi manajer adalah balasan dari penolakanku."
"Alhamdulillaah. Semoga bu Dewi tidak berubah pikiran. Jujur, aku belum siap kalau harus tinggal bersama."
"Sama Hanin. Aku juga belum siap. Bahkan tidak siap." Sambil mendekat untuk memelukku kembali.
"Sabar ya Hanin ... dan jangan pernah berpikir untuk pergi dari sisiku. Tetaplah bersamaku. Aku akan berjuang hingga papa dan mamaku bisa menerimamu. Aku juga akan berjuang untuk mendapatkan cinta dari kamu. Aku tahu kalau kamu masih ragu," katanya.
Lalu dia menengadahkan kepalaku. Kita saling berpandangan, dan aku bingung harus mengatakan apa untuk menjawab pernyataannya. Entah kenapa, kali ini aku merasa terharu dengan ucapannya.
"Hanin ... aku tipe orang yang sulit jatuh cinta. Namun setelah benar-benar jatuh cinta, aku akan sangat mencintai orang tersebut hingga aku sendiri tidak bisa mengutarakan seberapa besar rasa cintaku. Dan kamu adalah wanita pertama yang bisa membuatku jatuh cinta secepat ini."
Aku terkejut, kalimatnya menyiratkan jika dia benar-benar mencintaiku. Tapi aku secepatnya menepis dugaan itu.
__ADS_1
"A-apa Anda juga tipe pria yang mudah jatuh cinta pada banyak wanita?" tanyaku.
"Tidak Hanin. Aku bukan pria seperti itu," sangkalnya.
"Pendusta," tambahku.
"Apa perlu aku membelah dadaku untuk menunjukkan kalau di hatiku ada nama kamu?"
"Untuk menunjukkan ada nama bu Dewi juga?" timpalku.
Dan dia hanya tersenyum. Tidak mengiyakan, tidak pula membantahnya.
"Boleh cium bibir kamu?" Malah mengalihkan pembicaraan.
"Kalau akunya tidak mau?" selaku.
"Aku mau memaksa," jawabnya.
Kepalanya mulai menunduk. Bibir yang nakal itu semakin mendekat. Namun saat hendak mendarat, aku menghalanginya dengan jemariku.
"Hmm ... ya sudah, aku pamit ya sayang. Assalamu'alaikuum," tatapannya seperti kecewa. Dia meraih jas dan tasnya sambil menghela napas.
"Wa'alaikumussalaam," jawabku.
Sempat terbesit keinginan untuk memeluk punggungnya saat dia mematung di ambang pintu. Namun niat itu kuurungkan agar perasaan ini tidak bertambah kian pilu.
...πππ...
Pada sore harinya, karena merasa segar dan sehat, aku memutuskan untuk mengunjungi klinik bersalin yang jaraknya jauh dari daerah ini.
Aku ingin memastikan kehamilanku. Aku juga membawa pil KB dari online shop untuk dicek keasliannya. Aku memakai cadar agar tidak ada yang mengenaliku.
Aku ke sana menggunakan taksi. Klinik ini aku pilih karena semua dokter kandungannya adalah wanita.
.
.
Sesampainya di sana, kepiluan itu kembali melanda. Ternyata yang mengantri di sini rata-rata datang bersama pasangannya. Penampilanku yang mencolok kembali menjadi pusat perhatin.
Antrian di sini menggunakan sistem online. Qodarullah, aku mendapat antrian nomor lima.
Sungguh, jantungku kian berdebar apalagi saat nomor urut empat dipanggil. Aku menunduk sambil pura-pura memainkan ponsel. Tak ada seorangpun pengunjung yang menyapaku. Padahal, kami duduk berdampingan.
Perlakuan itu hanya terjadi padaku. Karena faktanya mereka tetap saling menyapa walaupun baru pertama kali bertemu.
"Sering kontrol ke sini, Kak?" tanya seorang wanita muda di sampingku pada wanita di depanku.
"Iya, ini sudah ke dua kalinya."
"Sama suami?"
"Ya dong. Tuh, yang lagi pangku balita perempuan, ini anak ke dua kami. Mbak anak pertama ya?"
"Iya, hehehe. Aku juga datang sama suami. Lagi ke toilet dulu. Laki-laki apa perempuan calon bayinya, Kak?"
"Alhamdulillah, kalau sesuai dengan USG yang ini laki-laki."
"Wah, selamat Kak. Sepasang dong, ya?"
"Kalau Mbak, apa?"
"Kata dokter sih laki-laki. Sesuai dengan harapanku dan suami, anak pertama mau laki-laki."
"Senangnya, semangat ya, Mbak."
"Kakak lahiran normal?"
"Alhamdulillah, yang pertama normal. Hampir operasi tapi tidak jadi. Semoga yang kedua juga bisa normal lagi."
Aku menyimak percakapan itu. Bibirku tersenyum, aku turut bahagia atas kebahagiaan dan kebersamaan mereka.
"Antrian nomor lima."
Nomorku dipanggil. Aku berdiri dan membungkuk saat melewati pengunjung lain. Batinku mulai tak tenang.
.
.
Alhamdulillah, petugasnya ramah. Aku ditimbang berat badan dan ditensi oleh bidan. Lalu didampingi memasuki ruang USG.
"Assalamu'alaikuum," sapa dokternya.
"Wa'alaikumussalaam," jawabku.
"Silahkan duduk, mau USG atau konsultasi?" tanyanya sambil memperhatikan identitasku yang tertera di layar komputer.
"Dua-duanya, Dok."
Aku masih menunduk. Merasa sedikit malu karena di KTP yang aku upload untuk pendaftaran online, statusku jelas-jelas belum menikah.
"Baik, oiya tensi Ibu rendah, apa biasanya sering tensi rendah?"
"Ti-tidak, Dok. Baru kali ini."
Aku memberanikan diri bersitatap dengan dokter itu. Beliau tersenyum. Aku jadi merasa lebih tenang.
"Ada yang mau ditanyakan? Silakan," tawarnya sambil kembali menebar senyum.
"Dok, maaf se-sebelumnya, aku mau mengecek obat ini. Apa obat ini palsu?" Aku menyerahkan pil KB yang kubeli di online shop.
Dokter menautkan alis sambil mengecek kemasannya dengan seksama.
"Ini obat asli kok, kenapa memangnya, Bu?"
"A-apa? Tapi tespekku garis dua, Dok. Padahal aku sudah minum pil KB. Jadi aku mengira obatnya palsu."
"Baik, akan saya jelaskan. Jika Ibu mengkonsumsinya dengan dosis yang tepat, pil KB sebenarnya efektif mencegah kehamilan sebanyak 99 %. Bila sudah menggunakan pil tapi tetap hamil, biasanya akibat dosis pil tidak ditakar dengan benar, atau bisa jadi karena pil itu sendiri memang gagal bekerja di tubuh Ibu."
"Selain itu, pil KB juga efektif kalau penggunaannya tepat waktu dan disiplin. Kegagalan pil KB rata-rata terjadi akibat meminumnya tidak terjadwal atau sesukanya"
"Apa Ibu minum obat-obatan atau rutin minum jamu-jamuan? Atau pernah lupa tidak meminum pilnya?"
"Emm, kurasa tidak Dok, ta-tapi aku tidak yakin," jawabku ragu-ragu.
__ADS_1
"Baik, saya menanyakan itu karena beberapa jenis obat dapat mengubah kadar pil KB yang diserap tubuh dan justru bisa membuat penggunanya rentan terhadap kehamilan."
"Misal antibiotik tertentu, obat herbal, obat anti eplepsi dan obat anti virus tertentu. Mual-muntah dan diarepun bisa menggagalkan efektifitas obat."
"Misalnya, setelah minum pil Anda tiba-tiba muntah atau diare, lalu melakukan hubungan intim dan tidak minum pil lagi," terang dokter, panjang lebar.
Aku menyimak dan mengangguk. Ternyata ada banyak hal yang bisa menyebabkan kegagalan pil KB.
"Bagaimana? Ada yang mau ditanyakan lagi?"
"Tidak, Dok. Aku sudah mengerti. Terima kasih," lirihku.
"Mau lanjut USG?"
"Ya, Dok."
Dengan langkah lamban, aku menaiki bed periksa yang di sampingnya terdapat mesin USG. Lalu menyingkap gamisku dengan tangan yang mulai bekeringat.
Ya Allah ... apa aku benar-benar hamil?
Mataku berkaca-kaca saat merasakan jelly USG diusapkan ke perutku. Lalu dokter mulai melakukan USG. Aku memalingkan wajah untuk menyembunyikan lelehan air mata yang ternyata sudah menetes dan tak mampu kutahan lagi.
Aku terisak dalam diamku. Terbayang lagi semua hal manis yang telah kulakukan bersamanya.
"Sudah siap dengan hasilnya?" tanya dokter.
Dokter sepertinya faham benar dengan perasaanku saat ini. Beliau tidak banyak bertanya. Tidak menanyakan suamiku, tidak menanyakan kapan terakhir kalinya aku menstruasi, dan dokter juga tidak menyuruhku untuk melihat layar USG.
Aku masih memalingkan wajah saat dokter memprint hasilnya dan bidan membersihkan perutku dengan tissue basah.
Lantas kembali ke kursiku dan bersiap untuk mendengarkan hasilnya.
Ummi ... abah ... pak Zulfikar ....
Tak sadar batin ini memanggil nama mereka. Lalu sekelebat aku membayangkan mama dan papa mertuaku yang wajahnya sering wara-wiri di televisi. Aku hanya bisa memandang semu pada wajah tak asing itu dan langsung sadar diri jika aku dan mereka bagaikan langit dan bumi.
"Bu?" Dokter membuyarkan lamunanku.
"I-iya, Dok."
"Selamat ya, Ibu memang hamil," sambil tersenyum.
"A-apa? Be-benarkah?"
Aku bingung mengekspresikan diri. Harus senangkah atau bersedihkah. Hanya bisa mematung. Dan tangan ini gemetar ketika meraih kertas yang diberikan dokter. Kertas ini berisi foto hasil USG.
"InsyaaAllah, 99,9 % Anda dipastikan hamil, dan dari jumlah kantungnya, insyaaAllah Anda akan mengandung anak kembar."
"A-apa?! Ke-kembar?"
Hati ini kembali terhenyak dan melemas. Spontan aku melihat foto hasil USG. Ya, jelas sekali jika di dalam rahimku ada dua kantung kehamilan yang di dalamnya terdapat titik kecil berwarna hitam.
"Huuu huuu."
Pecahlah sudah tangis ini. Aku tak bisa menahan tangisku lagi. Kepalaku tertunduk pada meja di hadapanku. Aku tak peduli pada dokter dan bidan yang saling menatap keheranan.
Seingatku, di keluargaku tidak ada yang memiliki keturunan kembar. Ini pasti diturunkan dari gennya pak Zulfikar.
"Bu," dokter menepuk halus pundakku.
"Ya, Dok ...."
"Jaga baik-baik kandungannya ya. Kehamilan adalah berkah sekaligus ladang ibadah. Dan calon bayi adalah rizki dari Allah yang dititipkan pada kedua orang tuanya."
"Sekali lagi selamat ya Bu, karena dengan Anda hamil, maka otomatis Anda akan menjadi wanita yang diistimewakan. Sebab shalat dan ibadahnya ibu hamil itu lebih utama daripada perempuan yang tidak hamil."
"Rasulullah pernah mengatakan bahwa duaΒ rakaat shalatnya ibu hamil, jauh lebih baik dibandingkan dengan 80 rakaat shalatnya perempuan yang tidak hamil," lanjut dokter itu sambil terus mengusap pundakku.
Aku bersyukur bisa bertemu dengan dokter seperti ini.
"Saya yakin Ibu lebih faham dari saya. Tapi kita 'kan dianjurkan untuk saling mengingatkan dalam hal kebaikan," ucapnya.
"Ya, Dok. Te-terima kasih."
Aku mengusap air mataku dan memaksakan diri untuk tersenyum walaupun aku tahu dokter tidak bisa melihat senyumanku karena aku memakai cadar.
"Ini ada obat. Isinya multivitamin dan asam folat. Nanti minumnya rutin ya. Multivitamin setelah makan pagi. Asam folatnya diminum sebelum tidur," jelasnya.
"Ya Dok," ucapku.
Aku kemudian pamit pergi setelah menyepakati jadwal kontrol ulang untuk pemeriksaan di bulan berikutnya.
...πππ...
Malam ini terasa begitu dingin dan sepi. Aku menatap langit-langit kamar sambil meletakan kertas hasil USG di atas dadaku. Berulang kali aku menatapnya. Sesekali kuusap perlahan perutku, lalu kucium kertas itu sambil tersenyum.
Entah kenapa, walau malam ini terasa dingin dan sepi, walaupun aku sendiri dan kesepian, namun hatiku tiba-tiba merasa hangat saat aku sadar jika aku tak lagi hidup seorang diri.
"Pak Zulfikar ... aku hamil anak kembar," gumamku saat kantuk mulai menyerang.
Aku lantas memejamkan mata sambil memeluk kertas foto hasil USG dan memeluk piyama bekas pakai milik pak Zulfikar.
Piyamanya sengaja tidak aku cuci agar aroma tubuhnya tetap bisa kunikmati walaupun raganya tak ada di sisiku karena sedang bersama dengan raga yang lain.
Aku mulai terpejam dengan genangan air mata di sudut mataku.
Semoga segenap kesedihan dan kepiluan di hari ini, tergantikan oleh mimpi indah di malam ini. Lalu tiba-tiba aku berharap bisa bertemu dan bercumbu dengannya di alam mimpi.
Apakah aku merindukan kehadirannya? Tidak, aku tidak boleh merindukannya.
Tes, air mata yang tadi menggenang itu kini menetes seiring dengan kerinduan yang kian menyeruak, padahal ... aku sudah berusaha untuk tidak merindukannya. Aku memeluk piyamanya erat-erat. Aku menghidu sisa-sisa aroma tubuhnya untuk mengobati rasa yang tak seharusnya ini.
Rasa ini menyisksaku, seolah terus-menerus menikam ulu hatiku. Dan saat ini aku sadar tak bisa pergi dan menghindarinya. Sebab di dalam tubuhku sudah bersemayam benih cintanya.
Benih cintanya? Bukan, bukan benih cintanya. Ini ... benih syahwatnya.
"Huuu ...."
Dalam kehenengin malam, aku menangis. Membawa segenap kepiluan ini ... ke alam mimpi.
...~Tbc~...
...Semakin banyak komentar, semakin semangat up, serius....
...Yuk komen yuk!...
__ADS_1