
"Huuu, saya langsung ke sini setelah mendengar kabar dari Dewi," sambil bersalaman dengan papa Aksa, mami menangis.
"Zul sedang ditangani, saya yakin kalau dia akan baik-baik saja," kata papa Aksa.
Ibunya si Daini dan pengacara kampungan itu menatap ke arahku dan ke arah papi mamiku. Mereka pasti minder dengan penampilan berkelas papi dan mamiku. Dari pakaian saja, kami beda kelas.
"Pada besan, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya jika apa yang saya lakukan kali ini termasuk kategori lancang. Besan pasti sudah tahu tentang masalah yang terjadi pada Zul dan Dewi. Nah, ini adalah orangtuanya Daini, namanya Bu Fatimah, yang ini Pak Ihsan, pengacara."
Papa Aksa malah memperkenalkan ibunya si Daini dan pengacara itu. Menyebalkan! Papa benar-benar telah terpengaruh oleh sihirnya si Daini.
"Oya? Jadi, ini orang tuanya perempuan itu?" Mamiku menatap ibunya si Daini.
"Saya umminya Daini," tanpa malu ataupun sungkan, wanita itu mengulurkan tangannya ke mamiku.
Mami menerimanya sambil tersenyum. Ish, mami apa-apaan coba?! Kenapa tersenyum pada wanita itu? Wanita yang faktanya telah melahirkan wanita sok cantik dan sok alim bernama si Daini. Aku menahan amarah dan berusaha tersenyum seperti halnya mami.
"Salam kenal, mohon maaf jika masalah ini membuat keluarga Bapak dan Ibu merasa tak nyaman. Ini adalah ujian untuk kita sekeluarga, semoga menjadi wasilah terjalinnya tali silaturahmi, rasa persaudaraan dan kekeluargaan," kata wanita itu. Benar-benar sok bijak. Padahal, apa yang dia katakan benar-benar memuakkan.
"Hanya permintaan maaf saja rasanya tak cukup," kata mami sambil mendudukkan diri di salah satu kursi kosong.
"Maksud Ibu?" Dia menatap mamiku.
"Hahaha, tak apa-apa. Saya hanya berguyon. Kalimat yang tadi jangan diambil hati. Saya dan suami saya justru sangat ingin bertemu dengan madunya anak kami. Semenghebohkan apa 'sih putri Anda?" kata mami sambil cipika cipiki dengan bu Fatimah. Haish, aku sebal memanggil dia ibu.
"Emm, begini, mari kita ke kamar tunggu saja. Kata pak Reza, kamar pemulihan untuk Zul sudah boleh ditempati pihak keluarga. Akan lebih nyaman kalau kita mengobrol di ruangan," sela papa Aksa, dia benar-benar menunjukkan pembelaannya pada ibu si Daini.
"Baik, yuk kita ke sana," kata papiku sambil menarik tanganku.
.
.
"MasyaaAllah, ruang perawatannya bagus sekali. Ini seperti hotel," puji ibunya si Daini. Dasar udik! Ya iyalah, dia pasti tak pernah dirawat di ruangan semewah ini.
"Supaya lebih nyaman," kata papa Aksa.
"Papa, kalau bisa mas Zul kita pindah rumah sakit saja, ada 'kok rumah sakit yang kamarnya lebih bagus dari ini. Ini agak sempit," kataku sambil melihat-lihat fasilitas kamar.
"Yang penting Zulnya pulih dulu. Kamar ini Papa rasa sudah cukup baik," sahut papa Aksa
"Ya sayang, yang terpenting untuk saat ini adalah kesembuhannya mas Zul. Masalah kamar dan rumah sakit, pelayanan kesehatan di sini juga sudah bagus 'kok. Kecuali kalau pihak rumah sakit sudah tak bisa menangani mas Zul. Nah, kalau seperti itu beda lagi ceritanya," sela mami. Malah mendukung pernyataan papa Aksa.
"Ya ya ya," sahutku.
Terpaksa menyetujui keputusan mereka. Kamipun menunggu dengan perasaan cemas. Aku tak sabar ingin melihatnya dan mengatakan rencana bayi tabung itu. Pokoknya, bagaimanapun caranya, aku harus segera mengandung anaknya mas Zul agar aku bisa merebut kembali perhatian mama Yuze dan papa Aksa. Terutama mendapatkan kembali perhatian mas Zul.
"Kenapa Ibu sampai bawa pengacara segala?" tanya papi pada ibunya si Daini. Mereka sudah duduk di ruang tamu kamar ini. Ruang tamunya lumayan luas, kursinya berkapasitas delapan orang.
"Tidak untuk apa-apa, hanya untuk silaturahmi," jawab pengacara itu, namanya pak Ihsan.
Sama seperti bapaknya si Daini, pengacara mereka juga terlihat sok alim. Dia selalu memakai peci hitam. Maksudnya apa coba? Kamu kira papiku mau takut sama kamu apa? Jangan harap! Aku benar-benar muak dengan semua orang yang berhubungan dengan keluarga si Daini.
Lalu pak Reza masuk ke ruangan, ia sepertinya akan menyampaikan sesuatu.
"Ada apa?" tanya papa Aksa. Langsung berdiri dan terlihat panik.
"Ehm, mohon maaf mengganggu semuanya. Saya hanya ingin menyampaikan informasi dari dokter Rahmi. Kata dokter Rahmi, post operasinya pak Zul belum bisa dibawa ke ruang perawatan, harus dipantau dulu di ruang HCU (High Care Unit) selama 24 jam, setelah 24 jam dan tak ada masalah pasca operasi, barulah akan dipindahkan ke ruangan ini," terang pak Reza.
"Oh, baik. Tak apa-apa jika memang itu untuk kebaikannya Zul, pasti akan saya dukung," kata papa Aksa seraya menghela napas.
"Saya izin pamit lagi, mau menemani dokter Rahmi membeli sesuatu untuk keperluan pak Zul selama di ruang pemulihan," katanya.
"Silahkan, oiya mama dan pak Sadikin suruh ke sini saja ya Pak Reza, mereka tak perlu menunggu di depan ruang operasi," kata papa Aksa.
"Baik, Pak," jawab pak Reza.
Sepertinya, papa Aksa sudah menyerahkan kepercayaannya pada dokter pribadi si Daini untuk mengurus keperluan mas Zul selama berada di rumah sakit ini. Ini tak bisa dibiarkan! Otoritasku di hadapan mama Yuze dan papa Aksa lambat laun akan tergerus. Hanya dengan aku hamil semunya beres. Secara, akulah istri sahnya.
.
.
Pada pukul 15.07 WIB, mas Zul selesai operasi dan langsung dipindahkan ke ruang HCU. Di ruang HCU tidak boleh ada yang menunggu. Kami hanya bisa melihat mas Zul dari kaca pembatas ruang HCU dan ruang transit.
Saat ini, aku sedang melihatnya di balik kaca ini. Yang lain sudah melihat termasuk ibu dan bapaknya si Daini.
Sebagian kepala mas Zul terbungkus kasa steril. Rambut bagian sisinya terlihat tak ada perubahan. Syukurlah, berarti suamiku tak digunduli. Terpasang oksigen, infus, monitor, dan lain-lain. Entahlah peralatan apa, aku tak tahu.
Kaki kiri dan kanannya terbungkus kasa seluruhnya. Lehernya terpasang penyangga. Ada selang kecil berisi cairan kemerahan yang menjulur dari telinganya Matanya terpejam. Wajahnya masih tampan.
Syukurlah, tak ada cacat apapun di wajahnya. Hanya ada lebam-lebam. Masalah lebam, kupukir nanti juga akan pilih. Untuk di bagian tubuhnya, aku tak tahu seperti apa karena tertutup selimut. Kata dokter Rahmi, di bagian pinggangnya ada luka sayatan bedah sebab salah satu tulang rusuk melayangnya ada yang patah.
Tenyata sulit juga membunuh si Daini. Mungkin wanita itu belum ditakdirkan untuk mati. Semoga rencana selanjutnya tak gagal dan tak salah sasaran lagi.
"Bu Dewi?" Suara dokter Rahmi. Dia datang dari arah belakang tubuhku.
"Kamu mau masuk?" tanyaku.
"Tidak, Bu," jawabnya sambil menatap suamiku.
"Kamu sudah menikah?" tanyaku.
"Belum. Kenapa, Bu?" Balik bertanya.
"Sudah punya pacar?" Aku bertanya lagi.
"Kenapa Bu Dewi mau tahu urusan pribadiku? Aku tak harus menjawabnya, kan?" Dokter sialan! Berani sekali dia bernada ketus pada nyonya Antasena.
"Aku hanya perlu memastikan agar kamu menjaga hati dan perasaan kamu dari suamiku," tegasku.
"Maksud Ibu?" Dia berbalik badan, menatapku sambil melipat tangan di dadanya.
"Jangan pura-pura bodoh! Seorang dokter harusnya pintar, kan? Suamiku tampan dan kaya-raya. Aku hanya harus memastikan kalau kamu tak sampai jatuh cinta pada suamiku. Cukup si Daini saja! Jangan ada wanita lain lagi!" tegasku sambil memalingkan wajah.
__ADS_1
"Hahaha."
Sialan! Dia malah tertawa. Ingin rasanya kujambak rambut pendeknya.
"Apa masih ada yang mau Anda bicarakan lagi?" tanyanya.
"Oiya, ingat! Nyonya Antasena yang asli itu aku! Bukan si Daini!"
"Tapi aku mengagumi neng Daini," katanya. Dia benar-benar menyebalkan!
"Apa yang kamu kagumi dari dia, hah? Kalau kamu mau, aku bisa membayarmu lebih mahal asalkan kamu ada di pihakku," kataku.
"Hahaha, maaf Bu, saya dokter, saya bekerja secara profesional di bawah naungan sumpah kedokteran. Saya tak ingin terlibat dengan drama kehidupan Ibu. Saya hanya akan fokus pada pekerjaan saya," tegasnya sambil berlalu dan menggelengkan kepalanya.
"Menyebalkan!" gumamku. Kenapa semua orang yang berhubugan dengan si Daini jadi simpati pada wanita itu? Kenapa?
.
.
Akhirnya, aku memutuskan untuk kembali ke kamar perawatan. Tadi, sekitar pukul 16.00 WIB, ibu dan bapaknya si Daini serta pengacara itu telah pulang ke rumah papa Aksa setelah melihat kondisi suamiku. Papa Aksa juga harus pulang untuk bertemu klien. Jadi, di kamar perawatan hanya ada mami Yuze. Papi dan mamikupun sudah pulang.
Namun, saat aku membuka pintu, alangkah terkejutnya aku karena selain mama Yuze, di dalam kamar ini ada penampakan manusia yang paling kubenci. Ya, ada si Daini. Ada kak Gendis juga.
"K-Kak Dewi?" sapa si Daini.
Dia langsung meraih tanganku untuk bersalaman. Terpaksa aku terima. Pura-pura baik pada dia, mungkin saja bisa menaikkan pamorku di hadapan mama Yuze ataupun papa Aksa.
"Kamu sudah sehat?" Aku basa-basi.
"Alhamdulillah," jawabnya. Dia langsung tersenyum atas sikapku. Benar-benar mudah dibohongi.
"Kalau kalian akur, Mama merasa tenang," kata mama Yuze.
Sementara kak Gendis terlihat biasa-biasa saja. Dia sedang memasukkan makanan ke dalam kulkas. Saat kuperhatikan, makanan yang dipegang kak Gendis sepertinya adalah camilan untuk ibu hamil. Hatiku panas, kak Gendis ternyata perhatian juga pada si Daini. Benar, si Daini harus segera mati agar penderitaanku cepat berakhir.
"Kamar tunggunya hanya ada satu. Nanti malam, Daini saja yang tidur di kamar, ya?" kata mama.
"Aku tidur di mana?" tanyaku.
"Kita tidur di sofa," jawab kak Gendis.
"Aku tak apa-apa 'kok tidur di sofa," kata si Daini. Sok bijaksana.
"Jangan Neng, kamu sedang hamil," kata kak Gendis sambil mengelus perut si Daini.
"Begini saja, 'kan kasurnya luas, bagaimana kalau kita tidur bertiga saja?" ajak si Daini.
"Ihh, jangan 'dong, Dai. Mama khawatir perut kamu tertendang." Mama juga mengelus perut si Daini. Mereka benar-benar tak menghargai perasaanku.
"Kalau Mama tidur di mana?" tanya si Daini.
"Mama pulang, 'kan papa juga tak menginap di sini. Jadi, kalian yang menginap di sini. Informasi dari dokter Rahmi, besok sekitar jam delapan pagi, Zul rencananya akan dipindahkan ke kamar ini," jelas mama.
"Emm, ti-tidak, Kak. Besok yang pulang hanya ummi dan abah. Aku tetap di sini sampai pak Zulfikar benar-benar pulih," jawabnya.
"Baguslah," kataku singkat.
"Mama senang sekali melihat kalian akur, kamu harus sering dekat-dekat dengan Daini, sayang. Supaya hamilnya menular ke kamu," kata mama.
"Tak perlu aku dekat-dekat dia, Ma. Aku juga bisa hamil, kok. Besok kalau mas Zul sudah di sini, aku akan segera menceritakan tentang bayi tabung itu."
"Apa? Bayi tabung?" Kak Gendis kaget.
"Ya, kenapa memangnya? Tak ada yang salah 'kan dengan program bayi tabung?"
"Ya, memang tak ada yang salah. Tapi apa kamu mau langsung bayi tabung? Kenapa tak memakai cara alamiah dulu? Pernikahan kalianpun belum genap satu tahun, ya wajar juga kalau belum dikasih, mungkin belum waktunya." Kak Gendis menyebalkan! Beraninya dia mengaturku!
"Aku berhak menentukan dengan cara apa aku hamil! Yang penting 'kan caranya diperbolehkan, bayi tabung itu lazim, Kak. Bilang saja Kakak iri, Kak Gendis 'kan mandul," ledekku.
"Apa katamu?!" Kak Gendis emosi.
"Sudah-sudah, jangan berselisih di sini. Ini rumah sakit. Sayang, kamu juga tak seharusnya mengatakan mandul pada Gendis," bela mama Yuze sambil merangkulku.
"Lagi pula aku tak mandul, Ma!" teriak kak Gendis.
"Ya, Mama tahu. Dokter juga mengatakan kalau rahim dan hormon kamu normal."
"Jangan sembarangan menuduh kalau kamu tak tahu apa-apa!" Kak Gendis pergi sambil menarik tangan si Daini.
"Tapi buktinya, kamu tak bisa hamil, kan?!" teriakku. Sekalian saja aku menyinggung perasaan dia, salahnya sendiri terlihat akrab dengan musuh bebuyutanku. Dia tak menjawab. Malah mengatakan ....
"Neng kita ke kantin yuk! Pulang dari kantin kita lihat, Zul," ajaknya.
"Baik," jawab si Daini.
"Wi, kamu tetap di sini." Entah apa maksudnya, mama menahan tanganku.
"Aku memang akan di sini, Ma. Tak perlu Mama peringati. Oiya, kulihat Mama semakin jatuh hati sama si Daini. Apa gara-gara dia hamil?"
"Nak, dengar ya, Mama tak merasa baik ataupun perhatian pada Daini. Mama hanya ingin mengambil hati dia agar mau mengikuti rencana papa dan Mama."
"Maksud Mama?"
"Begini, rencananya, Mama ingin mengadopsi anaknya Daini. Jadi, secara hukum, nanti dia akan jadi anaknya kamu dan Zul. Anak itu 'kan secara hukum belum memiliki ayah sebab kamu belum mengizinkan Zul menikahi Daini secara resmi."
"Oh, hahaha, jadi Mama pura-pura baik pada si Daini?"
"Emm, bagaimana ya? Mama bingung menjawabnya." Mama terlihat ragu-ragu.
"Ya sudah, aku yakin 'kok kalau Mama hanya pura-pura baik." Padahal, aku sama sekali tak yakin.
"Masalah adopsi itu, aku tak setuju."
__ADS_1
"Kenapa kamu tak setuju, Nak?"
"Mama tahu 'kan kalau aku membenci si Daini? Dan aku juga pasti membenci anak-anaknya si Daini. Kalaupun hanya jadi ibu angkatnya, aku juga tak sudi, Ma."
Padahal, alasan sebenarnya adalah ... aku tak rela anak itu memiliki status hukum dan seorang ayah. Biarkan saja si Daini jadi orang tua tunggal.
Dengan cara itu, jika si Daini ditakdirkan lolos dari upaya pembunuhan itu, maka orang lain yang ada di sekitarnya akan tahu kalau anak itu dihasilkan dari hubungan terlarang. Intinya, aku tak akan membiarkan anak itu memiliki ayah secara resmi. Seumur hidupnya, mereka harus menanggung beban rasa malu berupa sebuah kenyataan bahwa ibu mereka adalah pezina, pelakor, dan munafik.
.
.
Malampun datang, dengan santainya si Daini tidur di kamar tunggu karena mama dan kak Gendis memaksanya. Wanita itu benar-benar dimanjakan. Setelah mama pulang, kak Gendis naik ke tempat tidur dan memeluk si Daini. Dia juga memijat kaki si Daini. Mau-maunya konglomerat memijat kaki rakyat jelata seperti dia. Aku tak habis pikir.
Aku terpaksa tidur di sofa yang berada di kamar tunggu. Aku mendengarkan percakapan mereka sambil pura-pura tidur.
"Neng, kuku kamu bagus banget, aku pasang cat kuku ya."
"Emm, aku tak pernah memakai cat kuku. Jangan 'deh, Kak. Aku takut pak Zulfikar tak suka."
"Pasti suka, Neng. Kalau aku pakai cat kuku, dia suka komentar 'kok. Pernah mengatakan suka dengan cat kuku warna hijau muda dan merah muda. Kamu harus coba ya."
"Kak, tunggu, ini halal, kan?"
"Halal 'dong, Neng. Aku tak punya cat kuku yang tidak halal. Semuanya halal."
Mereka sangat akrab. Aku semakin membenci si Daini.
"Oiya Neng, hehehe, maaf 'nih kalau aku tanya yang aneh-aneh."
"Mau tanya apa, Kak?"
"Waktu kamu malam pertama sama Zul, apa kamu nangis?"
Aku hampir saja bangun saat mendengar pertanyaan itu.
"A-apa?! A-aku ... a-aku tak bisa menjawab, Kak. Malam pertamaku 'kan kelabu," kata si Daini.
"Hahaha, oiya ya, maaf-maaf, aku lupa. Oke, tak perlu dijawab. Biar aku tanya langsung pada Zul saja. Tapi sudah bisa kutebak 'kok. Kamu pasti menangis, 'kan? Hahaha."
"Ihh, gak tahu, Kak. Kakak sendiri tahu 'kan serumit apa pertemuanku dan pak Zul?" kilah si Daini.
Apa aku cekik saja si Daini saat dia tidur? Tapi ... di kamar ini ada CCTV-nya. Akhirnya, akupun beranjak untuk mengambil tasku.
"Mau ke mana, Kak?" tanya si Daini. Dia sedang dipakaikan cat kuku.
"Tak perlu tahu!" sentakku. Sebenarnya, aku mau meminum obat anti depresan. Syukurlah, setelah minum obat itu, akupun mengantuk dan tertidur.
.
.
Serius, saat membuka mata, aku terkejut maksimal. Matahari sudah menelusup di balik tirai. Mataku menyipit karena silau. Karena meminum anti depresan satu setengah dosis, aku tidur pulas. Kala melihat jam dinding, mataku membelalak. Waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB.
"Tidak mungkin."
Itu artinya, mas Zul sudah pindah ke ruangan ini. Sial! Kenapa aku bisa seceroboh ini? Aku bergegas, bangun dan mencuci muka. Setelahnya, langsung menuju area kamar perawatan. Langkahku mematung. Aku terpaku dengan apa yang kulihat.
Mas Zul sudah ada di ruangan ini. Kondisinya masih lemah, dan saat ini, dia sedang disuapi bubur oleh si Daini. Di sana hanya ada si Daini dan mas Zul. Entahlah yang lain pada ke mana.
Aku mundur beberapa langkah, airmataku menetes tak tertahankan. Tatapan mas Zul pada si Daini begitu dipenuhi cinta, dia mengunyah seraya memandangi wajah si Daini. Tangan mereka saling terpaut.
Sakiiit ....
Hatiku bak ditikam sembilu. Aku tak pernah mendapat tatapan seperti itu. Aku terpuruk di balik pintu. Tubuhku jatuh perlahan dan melemas. Aku memegang kedua lututku dan terisak lirih.
Kenapa si Daini begitu beruntung? Kenapa tak pernah ada cinta untukku? Apa yang salah denganku? Aku cantik, kaya-raya, dan sekarang sudah berhijab. Tapi ... sikap mas Zul tak berubah. Dan kenapa aku begitu mencintai kamu mas Zul? Kenapa?
"Huuu ...."
Aku bahkan rela disakiti secara verbal oleh ucapan mas Zul. Aku tak bisa marah ketika mas Zul tak sadar sering menyebut nama si Daini saat aku dan dia sedang bercinta.
Kesedihan di dada ini terasa menyesakkan. Namun di saat yang bersamaan, keberanian itu datang. Aku berdiri, mengusap airmataku, dan melangkah mendekati mereka.
Beraninya kalian berpandang-pandangan dan berpegangan tangan di hadapanku. Sebelum ke sana, aku terlebih dahulu mengambil vas bunga yang ada di sisi balkon. Rencananya, aku akan memukul kepala si Daini dengan vas bunga ini.
Tapi ... baru beberapa langkah, kak Gendis datang. Aku terpaksa mengurungkan niatku.
"Dewi? Sudah bangun?" sapa kak Gendis.
"Kak Dewi? Cepat ke sini, Pak Zulfikar ingin bertemu," ajak si Daini. Wanita itu menyadari keberadaanku. Dia berdiri dan melambaikan tangan.
Aku mendekat, apa benar mas Zul ingin bertemu denganku?
"Mas ...." Aku mendekat.
"Wi," ucapnya pelan. Di menatapku. Di sudut matanya ada linangan air mata. Si Daini menarik tanganku agar memegang tangan pak Zulfikar.
"Maafkan Mas ya ..., saat kecelakaan kemarin, Mas berpikir a-akan mati. Di saat pemikiran itu datang, yang ada di pikiran Mas adalah kamu dan Hanin," katanya. Harusnya hanya ada aku, mas. Tak perlu ada nama si Daini di hati kamu.
"Antara sadar dan tidak, a-aku memohon pada Allah agar bisa diselamatkan, panjang umur, dan aku berjanji akan memperbaiki hubunganku dengan kamu dan juga dengan Hanin. A-aku tidak ingin menjadi pria egois yang menyakiti kalian berdua. A-aku akan mengorbankan perasaan ini demi kebahagiaan dan kebaikan kita semua. Yaitu demi kebahagiaan aku, kamu, dan juga Hanin."
"Setelah Hanin selesai masa nifas, Mas berniat akan menceraikan Hanin."
"Bagus," selaku.
"Mas juga akan menceraikan kamu, Wi," tambahnya.
"A-apa?!" Bak disambar petir di siang hari, aku terkejut. Si Daini berdiri menunduk sambil menangis.
"Kenapa kamu ingin menceraikanku juga, Mas?! Aku salah apa?! Kamu tak bisa menceraikanku, Mas! Kita terikat surat perjanjian pranikah!" teriakku.
"Dewi, tenang! Zul baru pulih! Masalah ini nanti kita bicarakan lagi." Kak Gendis menenangkanku.
__ADS_1
...~Tbc~...