Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Berselisih


__ADS_3

Daini Hanindiya Putri Sadikin


Sebelumnya; Pukul 08.50 WIB


Di sepuluh menit terakhir ini, aku begitu gelisah. Dokter Rahmi baru saja menginfokan kalau pak Zulfikar akan segera dipindahkan ke kamar ini. Semalam, saat kak Gendis dan bu Dewi terlelap, aku tak henti-hentinya memanjatkan doa agar pak Zulfikar disehatkan kembali seperti sediakala.


Setidaknya, walaupun secara hukum tidak bisa memiliki pak Zulfikar sebagai ayah biologis dari anak-anakku, namun anak-anakku harus tahu dan bisa melihat kalau mereka memiliki ayah yang tampan dan keren.


Aku disuruh untuk menunggu di kamar sambil menemani bu Dewi yang masih tidur. Dari Subuh, aku dan kak Gendis sebenarnya sudah berusaha membangunkannya. Namun bu Dewi sulit dibangunkan sampai-sampai aku sempat berpikir jika bu Dewi memakai obat tidur.


Sekarang, aku sedang duduk di kursi khusus penunggu pasien yang berada di dekat tempat tidur. Sementara kak Gendis dan dokter Rahmi sudah pergi ke ruang HCU sejak pukul setengah delapan. Katanya, ada berkas informed consent pasien yang harus ditanda tangani oleh pihak keluarga atau perwakilannya.


Aku membenahi tempat tidurnya dengan harap-harap cemas. Kata dokter Rahmi, pendengaran pak Zulfikar untuk telinga yang sebelah kiri tidak sempurna, sebab dokter belum melakukan prosedur operasi timpanoplasti. Rencananya operasi timpanoplasti akan dilakukan setelah pak Zulfikar melewati proses pemulihan pasca operasi tulang rusuk melayang dan tulang betisnya.


Oiya, setelah memastikan pak Zulfikar bisa dipindahkan ke ruang pemulihan, hari ini, abah dan ummiku kembali ke Bandung. Mereka juga menyetujui keinginanku untuk tetap di Jakarta sampai pak Zulfikar pulih.


Aku mengatakan pada abah dan ummi ingin merawat pak Zulfikar sebisaku. Selain dia adalah suamiku, setidaknya ... dengan cara ini aku bisa mengungkapkan rasa terima kasih karena pak Zulfikar telah menolongku.


Pada pukul 08.40 WIB, pintu ruangan ini terbuka. Aku segera berdiri dan menjauh dari tempat tidur. Jantungku berdebar hebat. Jujur, aku ingin segera bertemu dengannya, melihat kondisinya dan beterimakasih.


Tampak empat orang perawat pria mendorong bed besar yang dilengkapi beberapa peralatan didorong memasuki ruangan. Kak Gendis dan dokter Rahmi ada di barisan paling belakang.


"Sa-sayang?"


Di saat aku masih shock dan terpaku, pak Zulfikar yang terbaring dengan tubuh ditutupi selimut rumah sakit, sudah menyapaku terlebih dahulu. Aku tak mampu berucap, hanya menatap bingung sambil meneteskan air mata. Lanjut menatapnya saat dipindahkan ke tempat tidur yang ada di ruangan ini.


Saat selimutnya diganti, ternyata dia tidak memakai baju. Dari bawah dada sampai pinggangnya diverban. Memakai kateter urine dan juga pampers. Kedua kakinyapun diverban dan terpasang penyangga. Telinga kirinya terpasang drainase.


"Apa sudah nyaman?" tanya seorang perawat.


"Sudah, terima kasih," ucap pak Zulfikar.


"Siapa yang akan menunggunya? Biar kami jelaskan fungsi tombol yang ada di bed pasien. Sebenarnya, saat ingin merubah posisi, kami bisa langsung datang untuk membantu, tapi jika keluargapun ingin tahu caranya, akan kami ajari," ucap yang lain.


"Aku akan menunggunya, aku mau tahu caranya." Aku mendekat, pun dengan kak Gendis. Dokter Rahmi tak tampak, aku tak menyadari kepergian dokter Rahmi.


"Kakak siapanya pasien?"


"Dia istriku," sela pak Zulfikar.


Kak Gendis terkejut. Aku refleks menunduk. Para perawat dan dua orang dokter saling menatap. Di dalam hati mereka pasti berasumsi ini dan itu. Semoga mereka tak menyadari jika pak Zulfikar adalah putra pak Aksa Antasena. Mungkinkah mereka tak tahu? Sedangkan data pribadi pak Zulfikar tentu saja ada pada mereka.


Selain itu, mereka juga pasti pernah melihat pak Aksa dan bu Yuze berkunjung ke rumah sakit ini. Jadi, aku yakin mereka akan menyadari kalau aku adalah orang ketiga itu. Aku kian menunduk, merasa rendah diri dan tersudutkan. Kak Gendis merangkul bahuku.


"Apa yang kalian dengar belum tentu sesuai dengan fakta yang sebenarnya. Mohon tidak ada asumsi negatif pada istriku. Berita di luaran sana tidak benar. Aku dan dia belum becerai, aku memilih poligami karena sebuah alasan yang tidak bisa dibantah. Tolong hormati privasiku, kumohon agar kalian tetap profesional," tambah pak Zulfikar. Ia berkata demikian setelah perawat dan dokter spontan menatapku.


"Maaf jika sikap kami kurang berkenan. Kami pastikan jika apa yang Anda katakan barusan akan menjadi rahasi kami," ucap salah satu dokter sambil membungkukkan badan. Yang lainpun melakukan gerakan yang sama. Mereka membungkukkan badan.


"Terima kasih, sayang kemarilah," katanya. Aku mendekat dengan ragu. Aku malu dan merasa tersanjung sebab pak Zulfikar benar-benar membelaku.


Setelah aku di dekatnya, dia memegang tanganku, aku langsung menangis karena bahagia bisa bersentuhan dengan tangan ini lagi. Aku menatapnya lekat-lekat. Aku terdorong oleh rasa yang mengharu-biru sampai tak sadar menangkup pipinya dan mencium keningnya sambil terisak. Aku melakukan hal ini mungkin karena terlalu bahagia.


"Huuu ... maaf ... karena aku ... Anda jadi terluka seperti ini." Aku bahkan tak memedulikan keberadaan petugas kesehatan dan kak Gendis.


"Aku baik-baik saja sayang, hanya perlu pemulihan pasca operasi." Pak Zulfikar mengusap pipiku, matanya berkaca-kaca. Lalu airmatanya menetes perlahan membasi pipinya yang masih lebam.


Setelah aku mulai tenang, barulah seorang suster menjelaskan fungsi dan cara menggunakan tombol-tombol yang ada di tempat tidur. Ada buku panduannya juga. Namun lebih cepat kufahami saat mereka menjelaskannya. Aku dan kak Gendis menyimak.


"Jam 9 pagi adalah jadwalnya Pak Zulfikar sarapan bubur. Mau dari pihak rumah sakit yang menyuapi? Atau akan disuapi oleh pihak keluarga? Untuk sementara waktu, pak Zulfikar hanya boleh menggerakan tangan dan leher. Untuk posisi miring kanan dan kiri, nanti ada jadwalnya dan akan kami bantu agar tidak salah posisi," jelas dokter.


"Tombol-tombol yang kami jelaskan tadi hanya bisa difungsikan untuk menaikan posisi kaki, punggung dan kepala, serta menggeser tempat tidur. Tolong jangan menekan tombol lain di luar tiga fungsi itu," tambahnya.


"Baik, Dok," jawab kak Gendis.


Aku hanya menganggukkan kepala. Lalu mereka berpamitan setelah memastikan pak Zulfikar berada di posisi aman dan nyaman. Pak Zulfikar terus menatap dan memegang tanganku.


"Dewi juga ada di sini, Zul. Tapi masih tidur di kamar tunggu," jelas kak Gendis.


"Oh, ya sudah. Tak masalah, kan ada Hanin," katanya.


"Zul, Neng Daini, aku keluar dulu ya, ada janji temu sama teman lama. Tak apa-apa 'kan? Sebentar, 'kok."


"Silahkan, Kak," sahutku.


"Kak Gendis tunggu, untuk urusan kantorku bagaimana? Apa sudah ada yang memberitahu paklik kalau aku kecelakaan?" tanya pak Zulfikar.


"Masalah itu sudah diurus sama papa. Kata papa sudah koordininasi sama sekretaris kamu. Staf kamu panik dan ingin segera menjenguk. Tapi sama papa dilarang. Paling yang boleh ke sini hanya bu Tania, itupun kalau tanda-tangan kamu tak bisa diwakilkan," jelas kak Gendis. Lantas ia pergi sambil menelepon seseorang.


"Hanin," panggilnya.


"Ya, Pak."


"Apa aku jelek? Aku tak berani becermin, padahal di ruang HCU aku sempat disodori cermin," katanya.


"Ti-tidak," jawabku.


"Benarkah? Kalau aku berubah jadi buruk rupa gara-gara kecelakaan itu, apa kamu akan tetap bersamaku?"


"Tentu saja, Pak."


"Selamanya?"


"Sampai masa nifas," jawabku pelan.

__ADS_1


"Kukira, setelah kejadian ini, kamu akan mengurungkan niatmu. Maaf, aku terlalu percaya diri. Kupikir kamu tak ingin becerai lagi," ucapnya lirih.


Pak Zulfikar masih menatapku. Aku mengalihkan pandangan ke arah lain agar debaran dan gejolak di dada ini tak mudah dibaca dari raut wajahku.


"Jangan menyangkutpautkan perasaan di antara kita dengan kejadian itu, Pak. Jelas berbeda," kataku.


"Tapi ... aku masih berharap kamu mengurungkan niatmu, Hanin. Apa kamu tahu? Saat aku sadar, orang yang pertama kali ada di dalam ingatanku adalah kamu. Lalu aku ingat akan kematian, dan langsung memohon pada Allah agar diselamatkan, panjang umur, dan bisa memperbaiki hubunganku dengan kamu dan Dewi. Sayang, lihat aku ... kenapa terus berpaling?"


"Maaf Pak ...."


Aku terpaksa menatapnya. Ketika tatapan kami bertemu, di saat itulah desiran rasa itu datang menerjang. Hati kecilku merasa tak sanggup meninggalkannya.


Tatapannya yang tulus dan mengiba itu hampir saja membuat pertahananku goyah dan jujur mengatakan jika sebenarnya ... aku juga mencintainya dan tak ingin becerai. Aku ingin menghabiskan sisa umurku bersamanya, mengabdikan diri sebagai istrinya, bahkan dengan percaya diri dan tanpa rasa malu, aku bercita-cita ingin menjadi bidadari surga untuknya.


Air mata ini kembali menganak sungai. Aku tak mungkin mengatakan perasaan itu. Akhirnya, hanya mampu mencium tangannya seraya terisak-isak. Dan dengan bodohnya aku berharap agar hanya tangan inilah yang bisa menjamah tubuhku. Hanya tangan pria inilah yang bisa kugenggam hingga akhir hayatku.


"Tak apa-apa sayang, jangan menangis lagi. InsyaaAllah, aku akan ikhlas melepasmu. Selain menceraikan kamu, aku juga akan menceraikan Dewi," katanya. Aku terkejut. Langsung mengangkat kepalaku.


"A-apa? Menceraikan bu Dewi?"


"Ya sayang, karena Dewi tak mau memberi izin secara hukum, aku memutuskan untuk menceraikannya. Namun jika Dewi berubah pikiran dan merestui pernikahan kita, aku tidak akan menceraikannya."


"Bapak bercanda, kan? Kenapa berani sekali mengambil keputusan itu? Bagaimana dengan perjanjian pranikah itu? Bagaimana dengan perusahaan Bapak? Jangan gegabah, Pak! Jangan mengorbankan banyak hal dan mempersulit diri! Aku akan menjadi orang yang paling bersalah jika sampai Bapak dan bu Dewi becerai. Cukup ceraikan aku saja." Aku berapi-api, benar-benar tak percaya dengan jalan pemikirannya.


"Sayang, tenang 'dong. Hei, aku baru selesai operasi lho, aku belum pulih, apa kamu lupa?" Sambil tersenyum.


"Emm, ma-maaf." Aku menyadari kesalahanku. Aku menghela napas.


"Sayang, ini sudah menjadi keputusanku. Sama seperti kamu, aku juga berhak menentukan pilihan. Setelah aku melajang, kupikir ... aku akan bebas menentukan dan menemukan jodohku. Masalah surat perjanjian pranikah itu, aku memutuskan untuk membayar denda."


"Sebenarnya, ada sebuah hal yang bisa membatalkan surat itu, tapi ... aku belum punya cukup bukti untuk melakukan gugatan. Rencananya, sampai masa nifasmu selesai, aku akan mengumpulkan uang tabunganku dan menjual warisan pemberian papa dan mbah kakung untuk membayar denda pada keluarga Dewi. Tapi sepertinya uang itu belum cukup. Jadi, aku sedang memikirkan untuk meminjam uang pada papa atau mamaku," jelasnya panjang lebar.


"Kalau boleh tahu, berapa jumlah dendanya? Kalau Bapak tidak mau memberitahuku juga tak apa-apa."


"Nilainya 50 persen dari harga perushaan yang sekarang aku jadi direkturnya."


"A-apa?" Aku menelan kasar salivaku karena tak bisa membayangkan kisaran harganya.


"Perusahaan itu 35 persen sahamnya milik keluargaku, 50 persennya milik Dewi dan keluarganya, serta 15 persen lagi milik para kolega. Di surat pranikah itu, jika salah satu pihak ingin menggugat cerai sebelum masa pernikahan 10 tahun, maka akan dianggap melanggar surat surat perjanjian dan harus membayar denda sesuai dengan jumlah saham yang dimiliki pihak tergugat."


"Ya ampun, Pak. Aku hampir tak percaya ada pernikahan yang seperti itu. Kupikir pernikahan karena kerja sama perusahaan hanya ada di dalam novel. Terus kenapa harus ada kata-kata sepuluh tahun? Maksudku, kenapa harus mempertahankan pernikahan selama 10 tahun?"


"Alasannya tentu saja karena perusahaan sayang. Begini 'deh, aku ambil contoh pembangunan jalan tol. Apa bisa dalam kurun waktu kurang dari sepuluh tahun pemilik jalan tol akan kembali modal hanya dengan mengandalkan uang dari pengguna tol?"


"Belum bisa," jawabku.


"Ya, betul sayang. Dalam waktu kurang dari 10 tahun, jangan harap sudah ada keuntungan, modal pembangunannya saja belum kembali. Nah, sama halnya dengan perusahaan itu. Dengan jangka waktu 10 tahun, setidaknya kami berharap modal pembangunan perusahan sudah kembali. Ini belum berbicara keuntungan ya sayang."


"Aku paham, rumit dan sulit ternyata ya? Aku jadi salut dengan pemodal yang berani menggelontorkan banyak uang demi investasi jangka panjang yang bahkan belum diketahui untung ruginya."


"Sayang, peluang sukses itu akan selalu ada saat kita berusaha dan mau mencobanya. Saat kita berani mencoba, akan ada dua kemungkinan yang bisa didapatkan. Pertama sukses, atau mendapatkan yang kedua yaitu kegagalan. Tapi saat kita tidak ada usaha dan tidak memiliki keberanian untuk mencobanya, apa mungkin akan tiba-tiba jadi sukses?" Sambil mengecup punggung tanganku.


"Mungkin saja," candaku.


"Hah?" Dia mengerutkan alisnya.


"Kok mungkin 'sih, sayang?" protesnya.


"Bisa saja 'kan orang yang malas berusaha dan tak berani mencoba itu tiba-tiba dapat uang kaget?"


"Mmm, tak mungkin uang kaget diberikan pada seorang pemalas," sangkalnya.


"Dapat lotre mungkin," selaku.


"Dapat lotre juga harus ada usaha mengumpulkan lotrenya," sangkalnya lagi.


"Dapat uang nyasar. Bisa saja, kan?" candaku.


"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri," katanya. Dia mengutif makna dari salah satu ayat Al-Qur'an.


"Baiklah, aku mengaku kalah," kataku.


"Hahaha, terima kasih hiburannya sayang. Lumayan," katanya. Walupun masih sakit, jahilnya tak berubah. Tangannya baru saja memegang sesuatu di tubuhku.


"Pak!" sentakku. Menepis tangannya.


"Aku hanya ingin memastikan pertumbuhannya sayang. 'Kan malam itu sudah aku stimulasi. Ya, kan? Jangan bilang kalau kamu pura-pura lupa," selorohnya sambil tersenyum.


"Haish, belum ada pertumbuhan yang berarti, Pak." Sekalian saja aku ladeni.


"Oya? Hmm, sebenarnya ukuran yang sekarang sudah lebih dari cukup. Baiklah, kalau kamu merasa kurang, setelah aku pulih, aku akan bekerja keras," ujarnya. Aku mengeratkan tanganku karena sedikit kesal. Bisa-bisanya dia membahas hal yang sangat-sangat tidak penting.


.


.


"Permisi."


Seorang petugas dari bagian gizi memasuki ruangan. Ia membawa baki berisi bubur, lauk-pauk, dan buah-buahan.


"Silahkan," aku memberi jalan.


Petugas tersebut meletakan menu yang terbungkus plastik wrap itu di meja yang terletak di samping tempat tidur pasien.

__ADS_1


"Selamat menikmati. Jika ada menu khusus yang diinginkan pasien, pihak keluarga bisa mengatakannya pada suster. Nanti suster akan menyampaikan pada bagian gizi," jelasnya sebelum berlalu.


"Baik, terima kasih, Bu," sahutku.


Aku mulai menyuapinya setelah mengatur posisi pak Zulfikar agar tidak tersedak.


"Kamu sudah makan?"


"Sudah Pak."


"Sama apa? Makanannya bergizi 'kan, sayang?"


"Sama soto daging, Pak."


"Maaf ya, jadi merepotkan kamu. Aku sekarang seperti bayi, memakai pampers," katanya. Sambil mengunyah, pak Zulfikar terus menatapku.


"Aku ingin bicara dengan Dewi. 'Kok bisa jam segini belum bangun."


"Kelelahan mungkin, Pak."


...🍒🍒🍒...


~Saat ini~


"Kenapa kamu ingin menceraikanku juga, Mas?! Aku salah apa?! Kamu tak bisa menceraikanku, Mas! Kita terikat surat perjanjian pranikah!" teriakku.


"Dewi, tenang! Zul baru pulih! Masalah ini nanti kita bicarakan lagi." Kak Gendis menenangkan bu Dewi.


"Aku tak terima, Mas!" teriak bu Dewi.


"Zul, kamu juga salah! Kenapa 'sih membahas masalah itu di saat seperti ini?! Bisa 'kan kalau dibicarakannya nanti saja?" kak Gendis tampak kesal.


"Aku tidak akan menceraikan kamu asalkan kamu memberiku restu menikah secara hukum dengan Hanin," kata pak Zukfikar. Daripada salah bicara, aku memilih diam.


"Ini pasti ide kamu?! Ngaku kamu j a l a n g! Dasar toxic!" sentak bu Dewi sambil menunjukku.


"Wi, jangan menyalahkan Hanin. Ini murni ideku. Aku mengambil keputusan ini karena ingin menyelamatkan status anak-anakku. Jika aku becerai dari kamu, aku bisa mengajukan diri ke pengadilan sebagai ayah biologisnya anak-anak Hanin tanpa harus menunggu persetujuan dari kamu, faham?" Pak Zulfikar bersikukuh.


"Kurang ajar kamu, Mas! Jadi intinya kamu ingin becerai demi wanita munafik itu, kan?!"


"Tidak, kamu salah. Ini bukan untuk Hanin. Tapi untuk anak-anakku. Hanin tidak mencintaiku. Aku tidak akan memaksanya lagi untuk mencintaiku," kata pak Zulfikar.


Kalimatnya membuat jantungku berdegupan. Apa mungkin dia benar-benar percaya kalau aku tidak mencintainya? Padahal ... rasa yang aku rasakan adalah sebaliknya.


"Kamu bodoh, Mas! Mana mungkin dia tak mencintai kamu! Mustahil!" teriak bu Dewi. Lalu kak Gendis menekan tombol emergency dan suster langsung datang.


"Ada masalah apa?" tanya suster. Terlihat panik.


"Sus, bisa tidak kalau adikku dipindahkan lagi ke ruang HCU?"


"Maaf, tidak bisa, Bu. 'Kan kondisinya sudah membaik. Kalau tida ada masalah, saya permisi," kata suster.


"Tolong jangan bertengkar lagi! Atau aku akan memanggil awak media untuk datang ke sini," ancam kak Gendis setelah suster pergi.


"Mas Zul yang salah, Kak! Bukan aku!" bantah bu Dewi.


"Baik, aku yang salah. Maaf," kata pak Zulfikar.


"A-aku suapi lagi ya, Pak." Aku mendekat.


"Sama aku saja!" Bu Dewi merebut baki makanan dari tanganku.


"Wi, aku maunya disuapi sama Hanin."


"Kenapa, Mas?! Apa suapan si Daini lebih enak?! Apa bedanya?!"


"Cukuuup! Sudah-sudah! Sini! Biar aku saja yang suapi Zul!" Kak Gendis merebut baki makanan dari bu Dewi.


"Kak, aku hanya mau makan kalau disuapi oleh Hanin," pak Zulfikar juga bersikukuh.


"Kamu mengalah 'dong Wi. Bisa tak makan adikku kalau kamu tak mau mengalah! Zul, kamu juga adil, dong! Apa salahnya 'sih kalau disuapi sama Dewi?"


"Diam, Kak. Aku tak ada selera makan lagi. Aku mau tidur," sela pak Zulfikar. Lalu memejamkan mata.


"Kamu harus makan, Mas! Nanti kamu bisa sakit kalau tak makan," sahut bu Dewi.


"Pak Zulfikar memang masih sakit, Kak," protesku pada bu Dewi.


"Ya, aku tahu!" teriak bu Dewi.


"Kak Gendis saja yang makan buburnya," timpal pak Zulfikar.


"Astaghfirullahaladzim, ampuni Baim Ya Allah. Berikan hamba-Mu ini kesabaran dan kesehatan. Berlama-lama di kamar ini, aku bisa darang tinggi! Zul, kamu mengalah please! Jangan sampai aku mati mendadak karena serangan jantung gara-gara tak sanggup menghadapi masalah ini," celoteh kak Gendis sambil mengusap dadanya.


"Di mana-mana juga yang paling tua yang harus mengalah. Di sini, yang paling tua 'kan Kakak," kata pak Zulfikar.


"Ya sudah, begini saja Zul. Daripada kamu makin sakit karena tak makan, sekarang Neng Daini sama Dewi main 'batu-gunting-kertas' saja. Pemenangnya bisa menyuapi kamu, dan kamu harus mau makan," titah kak Dewi.


"Aku tak mau," tolak pak Zulfikar.


"Pak, kalau Bapak tidak setuju dengan Kak Gendis, aku tak mau disentuh-sentuh lagi," ancamku.


"A-apa? Baiklah." Pak Zulfikar akhirnya setuju.

__ADS_1


...~Tbc~...


__ADS_2