Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Hikayat Cinta


__ADS_3

Daini Hanindiya Putri Sadikin


Alhamdulillaah, akhirnya bisa pulang juga. Tapi, aku tidak pulang ke apartemen. Karena kehadiran kembar, mama dan papa memaksaku untuk tinggal bersama mereka. Padahal, aku ingin tinggal di apartemen dan mengurus bayi kembarku di sana. Karena pak Zulfikarpun sepakat dengan keputusan mama dan papanya, akupun menyetujuinya.


Sekarang, aku sudah bisa berjalan tanpa kesakitan lagi. Benar kata dokter Rahmi, pemulihan lahir normal akan lebih cepat dibanding lahir dengan operasi. Tapi, mau bagaimana lagi, faktanya ... di kehamilan pertamaku, aku harus operasi. Semoga di kehamilan selanjutnya, aku diberi-Nya kesempatan untuk bisa merasakan melahirkan normal. Aamiin.


"Wanginya," gumam seseorang yang tiba-tiba saja memelukku. Siapa lagi kalau bukan dia. Ya, dia pak Zulfikar Saga Antasena, suamiku.


"Kan baru selesai mandi," jawabku sambil menoleh dan mencium lehernya. Ia juga wangi. Bahkan lebih wangi dariku.


"Berapa lama lagi selesai nifasnya sayang? Hehehe." Sambil memelukku. Selalu saja begitu. Sering menanyakan tentang masa nifasku. Padahal, aku yakin ia juga sudah mengetahuinya.


"Masih lama 'lah. Sabar ya, Pak."


Apa ia lupa kalau aku baru saja melewati 7 hari pasca operasi. Ya ampun, apa di pikirannya hanya tentang itu dan itu? Apa semua pria seperti itu? Entahlah.


"Hahaha, bercanda sayang. Oiya, hari ini, pulang kerja aku mau ke rumah wanita itu ya. Mau melihat perkembangan kesehatannya," jelasnya.


"Boleh. Kalau kondisiku sudah pulih total, aku juga ingin menjenguknya."


Aku mengizinkan pak Zulfikar pergi ke rumah bu Dewi. Saat ini, bu Dewi sedang menjalani rehabilitasi mandiri. Setelah diceraikan, kondisi bu Dewi menjadi tidak stabil. Ia memberontak dan sering berusaha menyakiti dirinya sendiri.


Akibatnya, keluarga besar pak Surawijaya berkali-kali meminta agar pak Zulfikar menarik kembali talaknya. Namun pak Zulfikar menolak. Lagi pula, ia sudah menjatuhkan talak tiga.


Keluarga Surawijaya bahkan mengiming-imingi pak Zulfikar dengan saham yang bernilai fantastis, namun lagi-lagi, pak Zulfikar tetap menolak. Tapi, sebagai wujud kepedulian terhadap calon anaknya yang di kandung oleh bu Dewi, dan kepeduliannya pada bu Dewi sebagai sesama manusia sekaligus mantan istrinya, pak Zulfikar sepakat untuk membantu dokter dalam upaya memulihkan bu Dewi.


Jadi, pak Zulfikar bersedia melibatkan diri dalam rangkaian terapi yang akan dijalani oleh bu Dewi untuk mempercepat kesembuhannya.


"Dia masih menganggapku sebagai suaminya," keluhnya.


"Tidak apa-apa," ujarku seraya merapikan dasinya.


"Karena kondisinya, aku tidak bisa menuntut dia. Di sisi lain, mami Silfa dan keluarganya pasti bahagia karena anaknya bebas dari tuntutan hukum."


"Jangan berperasangka buruk, Pak. Tidak ada ibu di dunia ini yang menginginkan anaknya seperti itu." Aku mengingatkannya.


"Kamu membela mereka?" protesnya.


"Tidak, aku hanya berpendapat kalau berprasangka buruk pada orang lain bisa menimbulkan fitnah, dan ---."


"Fitnah itu lebih kejam daripada membunuh," selanya. Dia sudah bisa menebak kelanjutan kalimatku. Aku jadi tersenyum. Pak Zulfikarpun tersenyum sambil mengecup bibirku berulang-ulang.


"Oiya, apa kak Listi sudah masuk kerja?" Aku mengalihkan tema pembicaraan.


"Setelah ijab kabul, besoknya dia 'kan langsung bekerja," jelasnya.


"Kok enggak libur, Pak?"


"Enggak tahu sayang. Padahal, aku sudah menyuruhnya ambil cuti."


"Terus, kak Listinya tinggal di mana? Apa tinggal di rumah pak Komjen?"


"Dengar-dengar 'sih akan bergantian."


"Oh, hehehe pernikahan mereka unik ya, Pak?"


"Unik apanya, kamu tidak tahu saja bagaimana pak Sabil sangat tersiksa dengan pernikahan itu. Dia sering curhat."


"Apa? Pak Sabil tersiksa? Maksudnya?" Aku jadi penasaran.


"Sini-sini, biar aku jelaskan."


Pak Zulfikar menarikku dan memosisikan tubuhku agar duduk di pangkuannya. Aku patuh. Lagipula, ia pasti tidak akan meminta yang aneh-aneh lagi karena sebentar lagi harus berangkat kerja.


"Pak Sabil itu sudah tidak tahan mau tidur sama Listi, tapi belum dapat kesempatan. Hahaha," jelasnya. Diakhiri dengan tawa riangnya. Seolah tengah berbahagia di atas penderitaan pak Sabil.


"Hanya tidur doang 'kan, Pak? Apa susahnya?" Aku menautkan alis.


"Jangan pura-pura polos sayang."


Ia mencubit pipiku. Aku tersipu. Aku paham maksudnya. Pak Sabil sudah dewasa. Pun dengan kak Listi, tapi kenapa kak Listi belum bisa membuka diri untuk pak Sabil? Aku tidak tahu alasannya.


"Tolong bujuk Listi agar dia mau mencintai pak Sabil."


"Maksud Bapak? Memangnya kak Listi tidak mencintai pak Sabil? Kalau tidak suka, mana mungkin kak Listi mau menikah sama pak Sabil, Pak."


"Ya, aku juga tidak mengerti apa yang ada di pikiran Listi. Begini saja, jika ada waktu, tolong kamu lakukan pendekatan sama Listi untuk membahas hubungannya dengan pak Sabil."


"Aku tidak berani, Pak. Lagi pula, pernikahan mereka baru berjalan 3 hari. Kalau aku bertanya sama kak Listi, takut dibilang ikut campur," tolakku.


"Ya sudah, terserah sayang saja." Lalu kembali menghujani wajahku dengan kecupan sebelum akhirnya berpamitan untuk berangkat ke kantor.


Kali ini, aku tidak mengantarnya. Karena di hari sebelumnya, ia telah melarangku mengantar sampai depan. Alasannya karena ia merasa jika aku belum pulih sepenuhnya. Intinya, pak Zulfikar jadi semakin protektif. Ia bahkan mendatangkan ahli gizi untuk memenuhi kebutuhan nutrisiku.


Aku juga sudah mulai memompa ASI-ku untuk si kembar. Oiya, kami masih merahasiakan nama mereka. Untuk sementara, kami semua memanggilnya Raja dan Cantik. Panggilan itu pertama kalinya diucapkan sama mama. Lalu diikuti oleh semua orang di rumah ini. Padahal, aku sudah terlebih dahulu memanggilnya Salih dan Saliha.


"Cantik dan Raja datang."

__ADS_1


Mendengar seruan itu, aku segera beranjak. Membuka pintu kamar untuk menyambut mereka. Cantik dan Raja baru selesai mandi.


"Wah, sudah cantik dan tampan," pujiku. Selalu terpukau dan terharu saat melihat wajah keduanya.


"Ya dong, siapa dulu yang memandikannya," ujar bu Juju sambil memberikan Salih yang sepertinya sudah lapar.


Aku meraih Salih seraya mengembangkan senyuman. Kurasa, wajah Salih sering berubah-ubah. Terkadang mirip denganku, terkadang mirip sama pak Zulfikar. Sementara Salihah malah tidur. Salihah juga wajahnya sering berubah-ubah, suatu waktu, pernah terlihat seperti abah dan mama Yuze. Kata ummi, wajah bayi memang begitu, suka berubah-rubah.


Aku menatap wajah tenang Salih yang sedang menikmati hidangan istimewanya. Minuman terbaik di muka bumi, hadiah terindah dari seorang ibu, berkah tiada terkira dari Yang Maha Pemurah.


Momen mengASIhi adalah pengalaman berharga yang selalu membuatku berdebar dan bahagia. Ya, ibu adalah orang pertama yang mengenali dan berhubungan dekat dengan anak-anaknya. Sejatinya, ibu adalah pengasuh terbaik bagi anak-anaknya.


Interaksi dan cara asuh seorang ibu terhadap anak-anaknya, akan meninggalkan dampak yang mendalam dan mempengaruhi kehidupan sosial dan emosional seorang anak di masa mendatang. Seorang ibu, harusnya mengenal anaknya lebih dari siapapun. Mengamati dan mendengarkan suara atau tangis mereka, akan memberi kesan pada seorang ibu tentang apa yang terjadi di dalam diri putra-putrinya.


"Raja anak yang soleh. Raja anak cerdas, Raja anak yang sehat," gumamku sambil mengusap pelan pipi lembutnya.


Jikapun aku bukan orang yang baik ataupun penyayang, namun di hadapan mereka, aku harus menunjukkan perhatian dan sisi terbaikku. Sebab secara otomatis, aku akan menjadi tauladan bagi mereka. Sikapku terhadap mereka, akan memiliki dampak yang bertahan lama pada perkembangannya. Tidak hanya ketika mereka masih kecil, tetapi juga setelah mereka tumbuh dewasa.


"Raja dan Cantik sangat beruntung memiliki ibu yang cantik, lemah-lembut, dan baik seperti Neng Daini," puji bu Juju.


"Aku biasa-biasa saja, Bu. Hanya saja, aku sedang berusaha menjadi ibu yang lembut dan berusaha memperkenalkan putra-putriku pada hal-hal yang positif. Anak-anak itu peniru ulung, Bu. Kedepannya, setiap saat, mata mereka akan selalu mengamatiku, telinganya menyimak, dan pikiran mereka akan mencerna apapun yang kulakukan. Jadi, di hadapan mereka, aku harus berusaha menjadi ibu yang sempurna."


"Setuju, Neng. Bu Daini memang hebat."


Bu Juju manggut-manggut sambil mengacungkan jempolnya. Setelah Salih kenyang, aku membangunkan Salihah.


"Hehehe."


Aku terkekeh melihat ulah lucu Salihah. Sebab, ia menikmati minuman terbaiknya sambil tertidur.


"Hihihi. Gemeees," bu Jujupun terkikik.


...⚘️⚘️⚘️...


Iptu Sabil Sabilulungan


"Coba pak Sabil cuekin dulu Listinya. Bersikap dingin dulu. Lalu lihat respon Listi akan seperti apa."


"Enggak bisa 'lah, Pak. Dia terlalu berharga. Mana bisa aku mencueki istriku sendiri."


"Pak Sabil bagaimana 'sih? Katanya minta saran, tapi malah ngeyel."


"Tapi Pak Zulfikar, kalau aku cuek, aku takut Listinya malah marah."


"Hmm, susah 'deh dikasih tahunya. Ya sudah begini saja, coba Pak Sabil pura-pura sakit saja. Lihat respon Listi. Perhatian enggak?"


"Duh, dasar Uu! Ya bagaimana 'kek."


"Enggak bisa Pak. Kalau aku sakit beneran bagaimana?"


"Duh Pak Sabil, terus maunya kayak gimana? Mau menipu Listi dengan obat kuat, begitu? Atau sekalian saja Pak Sabil memaksanya."


"Ya enggak mau 'lah kalau kayak begitumah, Pak. Aku mau melalukannya dengan lembut."


"Haish! Seterah Uu saja 'lah!"


Aku mengingat kembali percakapan tadi siang antara aku dan pak Zulfikar. Aku sengaja meneleponnya untuk curhat tentang Listi. Saat ini, aku sedang dalam perjalan untuk menjemputnya. Kebetulan, hari ini kita akan pulang kantor di jam yang sama. Orang-orang di sekitarku, tahunya aku dan Listi sedang berpacaran.


...⚘️⚘️⚘️...


Aku memarkirkan mobil di tempat biasa. Lalu mengamati setiap orang yang keluar dari perusahaan dengan perasaan harap-harap cemas. Seketika tertuju pada sosok yang kunantikan. Langsung menarik napas panjang.


Listi sedang mengobrol dengan seorang pria. Dia bahkan tertawa riang di hadapan pria itu. Aku sontak melonggarkan dasi. Beraninya dia tertawa riang di depan pria lain. Tanganku mengerat pada setir.


Kembali menarik napas saat ia mendekati mobilku. Ia mematung di sisi pintu. Pasti ia merasa heran. Sebab, biasanya aku membukakan pintu untuknya. Akhirnya, ia masuk sendiri. Aku diam saja.


"Assalamu'alaikuum," ucapnya sambil meraih tanganku untuk disalami.


"Wa'alaikumusaalam," jawabku pelan. Lanjut melajukan kemudi tanpa menyapanya.


"Aa kecapekan ya?" duganya.


"Enggak," jawabku.


"Oh, aku kira kecapekan. Soalnya wajah Aa terlihat murung."


"Siapa pria tadi?" tanyaku.


"Pria tadi? Oh, itu kakak kelasku, A. Dia baru diterima di perusahaan ini."


"Kamu tertawanya girang sekali ya."


"Maksud A Abil?"


"Apa kamu lupa kalau sudah punya suami?"


"Ya ampun A, kita hanya saling sapa. Dia sudah punya istri dan anak. Jangan berpikir macam-macam."

__ADS_1


"Baik, aku minta maaf."


Awalnya, ingin lanjut memarahinya. Tapi, aku tidak bisa. Apa lagi saat ia membuka tasnya dan menawariku sesuatu.


"Aa mau enggak? Aku punya camilan dari anak-anak magang. Aku suapi ya." Malah mau menyuapiku.


"Aaa," lanjutnya.


Terpaksa membuka mulut. Sebab, itu makanan kesukaanku. Keripik pisang.


"Ada yang ngasih permen stik juga. Aa mau?" Sekarang ia membuka permennya. Lalu mengulumnya. Aku diam saja.


"Hhm, manis tahu A. Mau coba?" Menyodorkan permen tersebut ke bibirku.


"Namanya permen ya manis 'lah." Aku mengambilnya. Karena sempat dikulum Listi, rasanya jadi ada hangat-hangatnya.


"Tunggu, kita mau ke mana A? Perasaan, ini bukan jalan ke rumahku. Bukan jalan ke rumah A Abil juga," protesnya sambil menoleh kiri-kanan.


"Nurut saja ya, nanti juga ayang bakal tahu kita mau ke mana."


"Bukan ke hotel 'kan A?"


"Kalau iya memangnya kenapa? Kita 'kan suami-istri."


"A Abil tidak serius 'kan? Kita belum punya surat nikah tahu, A."


"Bisa diatur," jawabku singkat. Ia mulai panik dan gelisah.


"Ehm, tapi ... kita hanya ke hotel doang 'kan A?"


"Bagaimana nanti saja," jawabku. Saat kulirik, ia semakin gelisah. Sedang melamun menatap jalanan sambil menggigit ujung kukunya.


"Hari ini, kita akan belajar membuat bayi," godaku.


"A-APA?!" teriaknya.


"Hahaha."


Aku tertawa sambil menambah kecepatan. Membelah jalanan pusat kota yang cukup lenggang. Menyalip beberapa mobil sambil bersiul. Lantas meraih tangannya yang ternyata terasa dingin. Entah dingin karena AC mobil, atau dingin karena ketakutan. Kucium tangannya berulang-ulang. Listi mematung.


Lalu aku melambatkan kemudi saat melihat ufuk senja yang menebarkan rona jingga. Listi menatap langit. Aku menatap wajah Listi yang menurutku semakin cantik. Lalu kutepikan mobilku.Tepatnya di sebuah jembatan yang di bawahnya terdapat danau terkenal di ibu kota.


"Ayang," panggilku lembut.


"Ya," ia menoleh. Aku melepas sabuk pengamanku. Lanjut melepas sabuk pengaman miliknya.


"I wanna kiss you," ungkapku seraya menarik tubuhnya agar bisa kudekap.


Listi mengangguk setuju. Setelah puas menatap wajahnya. Aku meraih bibir indahnya dengan lembut, perlahan dan hati-hati. Lantas menikmatinya dengan jantung yang berdegup hebat. Napas kami bersahutan, hembusannya menghangatkan dan menggetarkan si bulu roma.


Pedar jingga cahaya senja yang menerebos celah kaca mobil, menciptakan pantulan memesona di wajah dan leher jenjangnya. Wajahnya jadi mengkilau dan kian cantik saja. Dadaku memanas, dan tanganku mulai tidak bisa dikendalikan.


Ia melenguh pelan saat aku mengecupi tengkuk dan lehernya. Wangi dan lembut sekali. Aku jadi tidak tega melukai kulitnya. Awalnya, aku ingin menyematkan tanda cinta di daerah ini.


"Hmmh ... A-Abil, cu-cukup ...."


"Sebentar lagi ayang, boleh ya? Aku mau ini," bisikku pelan. Nyaris tidak terdengar.


"A-apa? Ta-takut ada Satpol PP, A," lirihnya.


"Baik, tapi ... kita lanjutkan di hotel ya ayang."


"Emm ...."


Ia masih ragu. Aku memeluknya erat. Ternyata, melakukan kegiatan ini setelah halal itu ... rasanya ... lebih nikmat dan menyenangkan. Dapat pahala pula.


"Fabiayyi Ala Irobbikuma Tukadziban; Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" ujarku dalam hati.


"A-apa Aa sungguhan mau membuat ba-bayi? A-aku belum siap, A." Ungkapnya saat tubuhnya masih kudekap.


"Hanya belajar ayang, be-la-jar," bisikku sambil mengulum senyum.


"Ta-takut, A. A-aku juga malu."


"Kalau boleh jujur mah, sama 'kok ayang. Aa juga malu."


"Apa Aa ada perasaan takut juga?"


"Takut? Ehm ... ada. Aku takut menyakiti kamu."


Lalu kembali memagut bibir manisnya. Andai sang senja tidak meredup, mungkin, aku tidak akan mengakhirinya. Sejauh ini, ini adalah senja paling menyenangkan seumur hidupku.


Mobilku kembali berbaur dengan mobil lain. Bedanya, dalam pandangan pujangga cinta, mobilku terlihat menebarkan mahkota bunga berwarna-warni. Mahkota itu berjatuhan di sepajang jalan, hingga memenutupi jalanan dan menebarkan wangi ke seluruh penjuru kota.


...⚘️⚘️⚘️...


...~Tbc~...

__ADS_1


__ADS_2