Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Bahasa Cinta


__ADS_3

Zulfikar Saga Antasena


"Terima kasih Bang Radit, terima kasih banyak atas kesediaan Bang Radit menikahinya. Aku tidak tahu atas apa Bang Radit menikahinya, tapi aku berharap jika semua ini berasal dari ketulusan Bang Radit. Jika mengingat semua hal yang telah dilakukannya, aku sempat berpikir tidak akan memaafkannya. Namun saat ini, aku yakin telah memaafkannya."


Aku memeluk bang Radit. Dia telah menikah dengan mantan istriku. Semoga, pernikahan mereka langgeng. Bang Radit pantas 'kok. Dia ganteng dan berpendidikan. Walaupun hanya sopir, gelarnya sudah S2. Dia menjadi sopirku karena keinginannya. Dari awal, dia memang tidak mau melamar di bagian manajemen perusahaan. Alasannya, ia ingin memiliki bisnis sampingan.


Akhir-akhir ini, aku baru tahu jika bisnis sampingannya adalah menjual produk secara online dan bekerja sama dengan beberapa toko.


"Saya belum yakin, Pak. Tapi saya akan berusaha jadi pria terbaik yang bisa membimbingnya." Ia tertunduk lesu. Entah apa yang dipikirkannya, semoga bukan masalah besar.


"Sebentar lagi, Dewi akan menghadapi proses persalinan. Aku titipkan dia pada Bang Radit."


"Baik, Pak. Oiya, bu Dewi ingin mengurus anak itu, Pak. Apa Bapak tidak bisa memberinya kesempatan untuk menyerahkan hak asuh anak tersebut pada bu Dewi?"


"Bang Radit, sebenarnya ... aku tidak ingin membatasi Dewi dalam mengurusnya. Ikatan ibu dan anak, sampai kapanpun tidak boleh terputus. Tapi, aku masih belum yakin Dewi sudah pulih. Aku khawatir jika penyakit Dewi akan memengaruhi tumbuh kembang anakku di masa depan. Lagi pula, di persidangan, hak asuh anak itu memang sudah diserahkan kepadaku."


"Saya paham maksud Bapak. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih karena sampai sejauh ini, Bapak masih memedulikannya. Saya minta maaf atas sikap dan perilaku buruk istri saya. Saya juga mohon maaf karena dulu, saya ---."


"Ssst, tidak perlu dibahas lagi. Lupakan saja. Aku telah memaafkan Bang Radit." Aku kembali memeluknya. Pernikahan Dewi dan bang Radit, benar-benar membuatku sangat bahagia.


"Terima kasih, Pak. Salam untuk bu Daini dan si kembar."


"Baik, akan aku sampaikan. Ya sudah, terima kasih atas waktunya ya Bang. Aku harus kembali bekerja. Masih ada banyak hal yang belum kuselesaikan. Jika Dewi berulah, atau keluarganya menekan Bang Radit, jangan sungkan untuk memberitahuku. Aku akan membantu Bang Radit semampuku." Aku beranjak dari kursi kafe tempat pertemuan kami.


"Terima kasih, Pak. Hati-hati di jalan. Apa perlu saya mengantar Anda?"


"Tidak perlu, Bang. Terima kasih." Setelah bersalaman, akupun berlalu.


...⚘️⚘️⚘️...


"Hatcim, ha-ha hatcim." Dia bersin-bersin lagi.


"Maaf ya Pak Direktur."


"Tidak apa-apa, apa kamu keseringan keramas jadi bersin-bersin terus?"


"Ish, Pak Direktur apa 'sih? Ya enggak 'lah. Ini pasti karena musim penghujan," elaknya.


"Sudahlah Listi, aku tahu rasanya jadi pengantin baru kayak gimana. Apa lagi sekarang hujan terus. Enaknya memang rebahan, makan jagung bakar, makan mie rebus, atau yang paling enak lagi ya bikin anak. Hahaha." Lanjut tergelak karena pikiranku jadi ke mana-mana.


"Ya ampun Pak Direktur, pasti lagi mikirin Daini, 'kan? Sudah ah, jangan bahas itu. Cepat tanda tangan," titahnya sambil menyodorkan berkas ke hadapanku.


"Baiklah. Setelah ini, tidak ada rapat lagi, 'kan? Aku mau pulang cepat. Ada janji dengan Hanin. Aku mau membawa dia ke suatu tempat."


"Memangnya Pak Direktur doang yang bisa pulang cepat? Aku juga mau pulang cepat 'kok. Aku sudah memberi mandat sama Anwar."


"Wah, hebat kamu. Oiya, jadi mau urus nikah kantornya? Hahah, sebentar lagi sekretarisku jadi ibu bhayangkari," ledekku. Ya, Listi dan pak Sabil, rencananya akan segera meresmikan pernikahan mereka.


"Mohon doanya saja ya, Pak. Semoga lancar dan tidak ada aral-lintang."


"Aamiin. Dah Listi, aku pulang ya." Segera menyambar tas dan kemejaku. Momen pulang kantor, adalah momen yang membahagiakan.


"Sip, salam sayang untuk Raja dan Cantik," lanjutnya.


...⚘️⚘️⚘️...

__ADS_1


Listi Anggraeni Mutiara


"Ini obat flunya. Aa bilang juga apa? Kenapa tadi pagi tidak minum obat?"


Aku dan dia sudah berada di dalam mobil. Berteduh dulu di depan sebuah ruko karena hujannya sangat lebat.


"A, kalau tadi pagi aku minum obat flu. Di kantor bakal ngantuk. Ini gara-gara kemarin keluar dari mobil lupa enggak pakai payung. Sudah ah, jangan dipermasalahkan ya. Aku baik-baik saja, 'kok."


"Ya Aa tahu kamu baik-baik saja. Tapi, kalau kamu sakit 'kan Aa enggak tega mau minta sesuatunya."


"Hah? Minta sesuatu? Minta apa memangnya?" Pikiranku jadi tidak tenang. Malah sudah berpikir yang bukan-bukan.


"Ehm, cuacanya sangat mendukung ayang. Kayaknya enak 'deh kalau kita ---."


"Enggak mau A! Kalau ada petir bagaimana? Kalau kita digerebek bagaimana? Pokoknya, aku enggak mau melakukan itu di dalam mobil!" selaku.


"Apa?! Hahaha." Dia menyentil kepalaku.


"A Abil sakit tahu!"


"Hei, dengar ya. Aa belum selesai bicara. Tadi, Aa mau bilang 'Kayaknya enak 'deh kalau kita ngopi di kafe ujung jalan.' Maksud Aa itu."


"A-apa?!" Malunya, pipiku jadi merona. Malu sekali. 'Kok bisa pikiranku ke arah sana.


"Tapi, itu bagus. Apa kita lakukan saja?" godanya. Tangannya mulai begerak ke atas rok kerjaku.


"Ti-tidak A. Yuk kita ngopi saja," ajakku.


"Serius ayang enggak mau nyoba?"


"A Abil! Aku serius. Sudah ah. Lain kali saja," kataku. Ya ampun, bisa-bisanya aku mengatakan lain kali saja. Itu artinya, aku memang menginginkannya.


...⚘️⚘️⚘️...


Tiba di kafe, ia segera memesan kopi dan beberapa kue yang disajikan hangat-hangat. Kami menikmati sajian hangat ini sambil saling menggenggamkan tangan.


"Aa sudah disidang sama atasan. Mereka mengira Aa menikah siri karena kebobolan." Ia memulai pembicaraan.


"Apa? 'Kok bisa atasan Aa menuduh seperti itu?"


"Enggak masalah mereka menuduh dan menduga, yang penting adalah, Aa tidak melakukan yang mereka tuduhkan. Tapi, ayang tenang saja. Semua masalah sudah selesai. Ayahku sudah menjelaskan semuanya, jadi pernikahan kantor kita akan segera dilaksanakan. Selesai nikah kantor, kita akan menggelar resepsi pernikahan. Terserah ayang mau konsepnya seperti apa."


"Emm, aku ingin resepsinya biasa saja, A. Maksudnya, jangan terlalu berlebihan."


"Baik, semuanya aku serahkan sama ayang, ibu, dan bapak. Bunda juga sudah setuju untuk menyerahkan semuanya pada keluarga kamu. Tapi untuk resepsi di Bandung, akan menjadi tanggung jawab bunda."


"Di Bandung? Jadi, kita mau resepsi dua kali?"


"Ya ayang."


Ia mengiyakan. Aku hanya bisa menghela napas. Ingin menolak resepsi dua kali, tapi aku merasa tidak memiliki kapasitas untuk menolak acara tersebut. Mereka memiliki hak dan dana. Aku bisa apa?


"Kamu suka 'kan? Kamu setuju 'kan, ayang?"


"Ya, aku setuju." Sambil menyandarkan kepala ke bahunya. Lalu ia membelai rambutku

__ADS_1


"A Abil."


"Hmm, saat resepsi ... aku ingin memakai gaun pengantin muslimah."


"Apa?!" Ia langsung terkejut. Segera membalikan badan dan memelukku erat.


"Alhamdulillaah," katanya.


"Tapi, mungkin belum bisa seperti Daini, A."


"Tia, hei, dengarkan Aa. Kamu adalah kamu. Bu Daini adalah bu Daini. Aa menerima kamu apa adanya. Aa sama sekali tidak menuntut kamu untuk menjadi seperti bu Daini. Semua butuh proses ayang. Kita jalani saja prosesnya, jangan berhenti belajar, dan jangan berhenti berusaha untuk menjadi lebih baik."


"Ya, A. Mulai besok, aku akan memakai jilbab."


"MasyaaAllah. Alhamdulillaah." Ia hampir saja mencium bibirku. Untungnya, ada pelayan kafe yang melintas.


"Yah, gagal 'deh," gerutunya. Aku terkekeh.


Kami menikmati hidangan di kafe ini hingga hujan reda. Setelah reda, kembali melanjutkan perjalanan ke apartemen. Sekarang, ada jadwal baru, seminggu di rumah ibuku, seminggu di rumah a Abil, dan seminggu berikutnya di apartemen.


...⚘️⚘️⚘️...


Kami tiba di apertemen pada pukul delapan malam. Sudah shalat Maghrib dan shalat Isya di perjalanan. Tadi, nongkrong di mall dulu dan membeli beberapa kebutuhan.


"A Abil, geli tahu."


Bukannya membantuku membereskan buah ke dalam kulkas, ia malah menciumi pundakku.


"Hehe, ini karena ayangnya terlihat segar dan ranum. Wangi lagi." Sekarang menciumi pipiku.


"A, biar cepat selesai, harusnya dibantu dong."


"Oiya, ya. Kalau sudah selesai, kita mandi bersama ya ayang."


"Ya, boleh," jawabku. Tidak punya alasan untuk menolak permintaannya.


"Nah, aku jadi semangat, 'kan?" Benar saja, ia langsung membantu. Bahkan, menyuruhku untuk duduk manis.


"Biar Aa saja," katanya.


Setelah semua barang-barang belanjaan dirapikan, ia memangkuku, menyambar bibirku, dan berjalan pelan menuju kamar mandi. Aku melingkarkan tangan di lehernya. Kemudian memperdalam pertautan ini hingga menimbulkan suara yang terdengar sedikit memalukan.


Di kamar mandi, ia meletakkan tubuhku di sisi wastafel. Lalu .... Skip.


Membuat tubuhku lemas dan mati kutu. Sesekali menutupi mulutku agar suara keramat itu tidak terlalu memalukan. Sesekali menatap wajahnya yang terlihat sangat bahagia. Ternyata, rasanya seperti ini. Ada banyak hal luar biasa yang baru kuketahui setelah menikah.


Suara air yang gemericik memenuhi bathup, seolah seirama dengan suara itu. Aku menyebutnya sebagai ... suara cinta.


"Kamu menyukainya?" bisiknya. Harusnya, ia tidak perlu bertanya lagi. Dengan bahasa tubuh dan kepatuhanku, ia harusnya paham.


"Apa yang kamu rasakan, hmm?" Pertanyaannya semakin tidak masuk akal.


"Say to me baby," bisiknya lagi.


Aku tidak mengatakan apapun untuk menjawab pertanyaannya. Namun, aku berusaha menjawabnya dengan tubuhku dan pesonaku.

__ADS_1


...⚘️⚘️⚘️...


...~Tbc~...


__ADS_2