
Aku, pak Ikhwan, dan pak Sabil hanya bisa menghela napas. Tanganku yang dingin masih digenggamnya. Saat duduk lagi di sofa, pak Sabil masih saja memegang tanganku.
"Bagaimana ini, Pak Ikhwan?" Dia terlihat murung. Aku menarik tanganku dari genggamannya.
"Barang bukti ini harus dirahasiakan sebelum disidangkan. Harusnya, kita melarang pak Zulfikar pergi," jelas pak Ikhwan.
"Kenapa pak Direktur bersikap seperti itu ya?" gumamku.
"Jangan bertanya, jangan penasaran, jangan membocorkan ini pada siapapun. Kumohon agar ayang bisa menjaga baik-baik rahasia ini. Jikapun fakta ini mengganggu perasaan kamu, tolong jangan dipedulikan. Anggap saja kamu tidak pernah mendengar semua ini. Bisa?" pintanya seraya menatapku dalam-dalam.
"Ba-baik," sahutku.
"Pak Sabil, saya harus menyusul pak Zulfikar. Saya tidak bisa membiarkan fakta ini terungkap pada orang lain sebelum dibeberkan langsung oleh pengadilan. Bisa-bisa pak Zulfikar malah akan tersandung masalah hukum baru dengan tuduhan pencurian barang bukti. Jika data ini bocor, bukan hanya pak Zulfikar yang akan kena imbasnya. Saya, Anda, dan orang dalam kita yang ada di kepolisianpun akan terseret kasus ini." Pak Ikhwan bicara dengan wajah gusar. Lalu bersiap untuk pergi.
"Pak Ikhwan benar. Aku setuju. Kita berdua harus mencegah pak Zulfikar." Pak Sabilpun bersiap.
"A Abil." Aku spontan memegang tangannya saat ia hendak beranjak.
"Ke-kenapa ayang?"
"Emm, ha-hati-hati." Langsung menunduk. 'Kok bisa ada perasaan khawatir terhadapnya.
"Hmm, tidak ada seorangpun yang mengkhawatirkan saya. Kalian lanjutkan saja pacarannya. Saya pergi duluan ya," gumam pak Ikhwan sambil tersenyum dan mendahului pak Sabil meninggalkan ruangan. Sementara aku dan pak Sabil malah saling berpandangan.
"Terima kasih telah mengkhawatirkanku." Hendak memelukku. Namun aku segera menghindar.
"Baiklah, maaf ya ayang. Ya sudah 'deh, Aa pergi ya. Kalau nanti malam Aa mau ke rumah kamu, boleh enggak?"
"Silahkan," jawabku. Entah kenapa aku berubah jadi patuh seperti ini.
"Kalau sudah ada jawaban dari langit, cepat beri tahu aku ya ayang. Oiya, kata bunda, ibu kamu sudah resmi jadi anggota arisan keluargaku. Bagaimana menurutmu? Kabar baik bukan?"
"Oya?" Aku menautkan alis. Pikirku, kenapa ibu sudah percaya diri melangkah sejauh itu?
"Ayangnya tenang saja atuh, arisan ibu-ibu di keluargaku acara intinya berisi pengajian 'kok. Tujuannya untuk silaturahmi dan menambah wawasan di bidang agama. Hal positif bukan? Tidak perlu overthinking ayang."
"Anda mau mengejar pak Direktur, 'kan? Lebih baik cepat pergi." Aku mengusirnya dengan cara halus.
"Oiya ya."
Diapun beranjak. Di ambang pintu, ia melambaikan tangan sambil melemparkan senyum. Lalu mengucapkan salam dan berlari menyusul pak Ikhwan.
"Wa'alaikumussalaam," jawabku.
Aku merenung sejenak. Kembali memikirkan respon pak Zulfikar tentang fakta itu.
"Pemeran wanita yang di foto dan vidio dewasa itu sudah dipastikan adalah orang yang sama. Sebab kata mata-mata kita, wanita itu memiliki ta hi la lat di dekat a re a in tim dan di bokong kanannya."
Kalimat itulah yang membuat pak Direktur terguncang. Lalu, kenapa bisa hal itu membuatnya begitu marah? Tunggu, apa pemeran dalam foto dan vidio itu ada hubungannya dengan pak Direktur? Apa pak Direktur mengenalnya?
Aku menggigit ujung jari telunjukku sambil terus berpikir. Diiringi jantungku yang turut berdegup cepat. Jika ta hi la lat itu berada di dekat a re a in tim dan bokong, berarti ....
Deg, jantungku seolah akan meledak saat ini juga. Berarti ... pak Direktur pernah melihat wanita dengan ciri-ciri yang disebutkan oleh orang dalam itu. Tanganku mendadak gemetar. Pikirku, hanya ada dua orang wanita yang pastinya sering memperlihatkan bagian itu pada pak Direktur.
Apa mungkin tiga orang dengan Angel?
Tiba-tiba teringat pada mantannya pak Direktur yang baru saja keluar dari penjara. Tapi, aku yakin Angel dan pak Direktur tidak pernah melakukan hubungan intim.
Lagi pula, kata Daini, pak Direktur pernah bersumpah atas nama Tuhan dan mengatakan jika bercinta dengan Daini pada malam naas itu adalah pengalaman pertamanya. Pak Direktur belum sempat tidur dengan bu Dewi karena bu Dewinya mentruasi di hari pernikahan.
Otakku terus berputar. Jikapun misalnya wanita itu adalah Angel. Lalu, apa hubungannya Angel dengan pak Pratama Surawijaya? Bukankah mereka harusnya tidak ada hubungan apapun? Jadi, yang memiliki hubungan dengan mendiang seharusnya adalah ....
Degup jantungku bereaksi saat aku memikirkan satu nama. Tubuhku mendadak lemas. Sama seperti halnya pak Direktur, aku juga mengatakan kalimat itu.
"Ti-tidak mungkin!"
Tanganku terus gemetar. Dari semua wanita yang memiliki hubungan dengan pak Direktur, hanya bu Dewi yang memiliki kemungkinan sangat besar.
Daini?
Mustahil! Ya, Daini mustahil melakukan perbuatan amoral dan asusila itu. Jikapun permisalan pemerannya adalah Daini, harusnya foto dan vidio itu dikirim ke abah atau pak Direktur, 'kan?
"Astaghfirullahaladzim."
Aku turut bersedih. Merasa sangat kasihan pada pak Direktur. Takutnya, apa yang kupikirkan itu benar adanya. Namun, aku masih berharap jika dugaanku adalah salah.
"Ya Rabb, pantas saja Engkau menghadirkan seorang Daini untuk pak Direktur. Engkau tentu saja Maha Mengetahui segalanya."
Aku menengadahkan tangan ke udara. Berharap jika permasalahan pak Direktur segera menemukan titik temu dan jalan keluar yang terbaik untuk semua pihak. Aku juga berharap pria itu baik-baik saja.
__ADS_1
"A Abil," lirihku.
Aku khawatir pada keselamatannya. Sebab, dengan mata kepalaku sendiri aku menyimpulkan jika pak Sabil dan pak Ikhwan terlibat dalam pengambilan data barang bukti secara ilegal. Apa seperti ini rasanya menjadi seorang kekasih yang memiliki jabatan dan bersahabat dengan orang berpengaruh?
Tunggu, apa aku baru saja mengakui kalau pria itu adalah kekasihku? Spontan menutup bibirku sendiri karena merasa heran dengan perasaanku. Tidak hanya itu, aku juga lantas membuka ponselku untuk melihat kolase foto pak Sabil yang dikirimnya untukku.
Foto ini ia kirimkan kemarin malam setelah kami melakukan VC. Lucunya, saat VC, dengan PD-nya ia bernyanyi ....
"Dari depan Aa tamvan. Dari samping Aa tamvan. Dari mana-mana Aa tetap tamvan. Lagi bobok Aa tamvan. Bangun bobok Aa tamvan. Mau bagaimana juga tetap tamvan."
Aku tersenyum saat mengingatnya lagi. Namun, senyumanku hilang seketika kala teringat lagi masalah tadi. Akhirnya mencoba mengikuti kegiatan yang biasa dilakukan oleh Daini ketika merasa panik di jam-jam kerja. Yaitu, berwudhu dan membaca istighfar berulang-ulang.
Lumayan berhasil. Setelahnya, aku jadi ada semangat untuk bekerja. Ini yang kedua kalinya aku mendapat mandat dari pak Direktur untuk mewakilinya. Sebuah tugas yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.
"Semangaaat!!!" teriakku sambil mengangkat tangan ke udara.
...⚘️⚘️⚘️...
Ikhwan Hadikusuma
"Itu mobilnya Pak Abil, cepat kejar!" seruku pada Uu sambil menunjuk mobil mewah dengan nomor cantik B 055 ZUL.
"Sabar atuh. Ini juga 'kan sudah ngebut. Jangan sampai kita ditilang gara-gara ngebut."
"Ya juga 'sih. Kumaha atuh (bagaimana dong)?" Karena sama-sama orang Bandung, sesekali, kami suka berbincang dengan bahasa Sunda.
"Yang pentingmah kita bisa menahan pak Zulfikar agar tidak melakukan hal-hal yang bisa membahayakan kita semua," kata Uu sambil menambah kecapatan.
"Kenapa enggak dari awal kita mengatakan risikonya pada pak Zulfikar ya?" Aku memukul keningku.
"Ya, dalam hal ini kita memang ceroboh, Pak. Tapi, harusnya pak Ikhwan lebih konsentrasi daripada aku."
"Lho, maksudnya?" Aku sampai meliriknya.
"Pak Ikhwan tahu 'kan kalau akumah sedang jatuh cinta sama Listi? Karena ada Listi, aku tidak konsentrasi, Pak. Maunya lihat Listi terus," jelasnya.
"Oh, ya ampun. Alasan macam itu?" protesku.
"Hahaha," dia malah tertawa.
"Emm, sejak kapan ya? Aku juga bingung." Matanya fokus ke jalanan.
Lalu aku dan Uu berpandangan sejenak saat menyadari jika pak Direktur ternyata hendak pergi ke suatu tempat yang sebenarnya sudah kuduga sebelumnya.
Aku yakin Uu juga memiliki dugaan yang sama denganku. Namun, karena kami sama-sama memegang prinsip etik profesi, aku dan Uu pantang menerka-nerka, menjudge, dan melakukan justifikasi sebelum ada bukti hukum yang berasal dari keputusan hakim.
"Ini bahaya, Pak Abil. Mau tidak mau, kita harus melakukan sedikit kekerasan pada bos kita."
"Maksud Pak Ikhwan?"
"Kalau kita menahannya saat pak Zulfikar sudah sampai di tempat tujuan, itu sama saja dengan kita bunuh diri. Rival kita pasti akan curiga."
"Pak Ikhwan benar. Tenang saja, jika perlu, akan mengancamnya dengan pistolku."
"Pistol? Aduh, jangan pistol asli Pak Abil. Saya ngeri pistolnya tidak sengaja meledak. Ihh," aku bergidik.
"Tenang saja, Pak. Pistolnya memang asli. Tapi akan kuambil dulu pelurunya." Sambil mengambil pistol yang ia maksud dan melepas pelurunya.
"Baik, kita pepet mobilnya saat sudah berada di jalur sepi." Uu mengangguk.
"Setahuku, pak Zulfikar itu tidak bisa bela diri. Aku yakin kalau kita bakal menang. Apa lagi Pak Ihwanmah sudah sabuk hitam, 'kan? Sebenarnya, tanpa akupun, Pak Ikhwan sudah bisa mengatasinya."
"Ya, saya memang sabuk hitam. Tapi 'kan saya butuh dukungan, Pak. Biar bagaimanapun, yang akan kita hadapi itu bos kita. Walaupun tidak bisa bela diri, pak Zulfikar itu rajin olah raga dan sering bertarung dengan samsak. Makanya badannya bagus. Jadi, kalau dia sedang emosi, saya rasa bisa merepotkan juga 'sih."
"Benar juga. Siap-siap ya Pak Ikhwan. Sebentar lagi kita akan memasuki jalur sepi."
"Baik." Akupun bersiap.
...⚘️⚘️⚘️...
Zulfikar Saga Antesena
Kalaupun aku tidak memiliki rasa pada Dewi. Tapi dia tetaplah istriku. Suami mana yang tidak akan marah dan kecewa saat mengetahui istrinya seperti itu. Sepanjang jalan, gigi-gigiku terus gemeretak, dan tangan ini nyaris mati rasa karena terlalu lama memegang setir kuat-kuat lantaran menahan amarah.
Ya, fakta ini memang belum diolah dan belum selesai diidentifikasi. Tapi, aku sangat yakin jika wanita di dalam vidio dan foto itu adalah Dewi.
"Aarrgh!"
__ADS_1
Entah ini teriakanku yang keberapa kalinya. Aku kembali memukul setir dan memukul dadaku yang terasa panas dan sakit. Ternyata, di belakangku, wanita itu berani berselingkuh dan melakukan kegiatan di luar batas yang sulit kumaafkan.
"Kamu pembohong!! Kamu j a l a n g Dewi Laksmi!!"
Ternyata, ungkapan cintanya untukku hanya sebatas di bibir saja. Tujuannya pasti untuk menutupi jiwa k e b i n a l a n n y a. Tapi, dengan bodohnya aku malah percaya kalau dia memang mencintaiku.
Tapi, kenapa harus dengan cara seperti itu dia mengkhianatiku? Apa dia melakukan perbuatan biadab itu karena aku jarang memenuhi hasrat biologisnya? Saat aku menghakimi perbuatannya, aku yakin wanita itu pasti akan berdalih dan menyalahankanku. Bisa jadi dia akan beralibi jika dia melakukan hal hina itu karena aku jarang menyentuhnya.
"Aaarrghh!"
Kenapa aku bisa bertemu dan menjadi suami dari wanita seperti itu? Rasanya ingin melakukan protes pada Yang Maha Kuasa.
Di jalur sepi, aku menambah kecepatan. Tentu saja karena ingin segera sampai tujuan dan menanyakan semua ini kepada wanita jahat itu!
"Sayangnya, orang dalam kita tidak bisa memberikan copy vidio dan foto-fotonya, Pak. Hanya menjelaskan kalau itu adalah foto-foto syur seorang wanita yang memakai topeng, dan vidio adegan dewasa wanita bertopeng dengan beberapa orang pria yang juga memakai topeng."
Penjelasan pak Sabil kembali terngiang dan itu membuat tubuhku merinding dan bergidik karena merasa sangat jijik. Aku jijik dengan wanita itu. Jijik!
Bisa-bisanya aku bercinta dengan wanita nakal yang berselingkuh dengan banyak pria. Dia bahkan membiarkan banyak pria menikmati tubuhnya di waktu yang bersamaan.
"Naudzubilahimindzalik."
Tidak terasa, sebuah tetesan bening membasahi pipiku. Aku merasa sedih dan sangat bersalah pada wanita suci yang telah kunodai. Dia yang tidak pernah terjamah, secara tidak langsung sudah terlibat dan menjadi korban kejahatan kamu Dewi Laksmi!
Hanindiya ... maafkan aku sayang.
Bagaimana kalau salah satu dari pria yang tidur dengan Dewi ada yang memiliki penyakit menular sek sual?
"Astaghfirullahaladzim."
Lalu bagaimana dengan nasib anak-anakku ?Prasangka buruk menguasai isi kepalaku. Pandanganku hampir kabur karena air mata yang berkaca-kaca.
'BRAKK.'
"Astaghfirullahaladzim!" teriakku.
Sebuah mobil tiba-tiba menikung dan menghalangi jalanku hingga sebuah tabrakan dan benturan yang cukup keras tidak bisa kuhindari. Setelah mengatur napas, aku mengangkat kepala perlahan dan mengintip.
"A-apa?!"
Bukankah itu mobil milikku? Benar, itu mobilku yang biasa digunakan oleh pak Ikhwan. Kenapa dia menghalangiku? Ada pak Sabil juga? Mereka berdua turun dari mobil sambil berbisik-bisik.
"Kalian gila ya?! Kalau aku celaka bagaimana?!" teriakku saat mereka berdua menghampiri.
"Ma-maaf Pak." Si pemilik kumis tipis alias pak Ikhwan langsung membungkukkan badan dan meminta maaf.
"Pak Sabil juga sama! Kalian kenapa 'sih?! Apa mau jadi oposisi?! Sudah tidak mau kerja sama denganku lagi?!" sentakku pada pak Sabil sembari keluar dari mobil untuk memeriksa kerusakan. Mereka benar-benar mencurigakan!
"Ada yang harus kita bicarakan, Pak. Maaf kalau cara kami membuat Anda kaget dan kesal. Mari kita duduk di sana," ajak pak Sabil.
"Tidak mau!" tolakku. Segera kembali ke mobilku. Namun mereka tiba-tiba memegang tanganku.
"Hei, apa kalian mau dipecat! Lepas!"
"Maaf Pak! Kami terpaksa."
Lalu pak Ikhwan memiting leherku, dan di saat aku masih mode terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh pak Ikhwan, pak Sabil memborgolku.
"Hei, kalian aku pecat ya! Tolooong! To ---." Sial! Pak Ikhwan membekap mulutku. Lalu mereka menyeretku ke dalam mobil. Kurang ajar! Mau mereka apa 'sih?
"Jangan pecat saya, Pak. Saya dan pak Sabil hanya ingin memberi nasihat pada Anda." Sambil melakban mulutku.
"Agar Bapak tak bisa protes, dilakban sebentar tidak apa-apa ya. Maaf Pak, hehehe, tadinya mau mengancam Anda pakai pistol, tapi tidak tega," timpal pak Sabil.
"Mmm."
Baru kali ini aku merasa tidak berdaya di hadapan mereka. Karena kakiku berusaha menendang, pak Ikhwan mengikat kakiku dengan dasinya.
"Maaf ya Pak." Sembari tersenyum hingga memperlihatkan lesung pipinya.
...⚘️⚘️⚘️...
Selain berjanggut dan memiliki kumis tipis, pak Ikhwan juga memiliki lesung pipi. Kenapa aku pernah cemburu dan tidak mengizinkan dia menjadi lawyer untuk Hanin? Sebab menurutku, pak Ikhwan sangat tampan. Seperti inilah penampilan pak Ikhwan kalau dia sedang tidak bekerja.
...⚘️⚘️⚘️...
...~Tbc~...
__ADS_1