
Daini Hanindiya Putri Sadikin
"Yang singkat itu waktu, yang menipu itu dunia, yang dekat itu kematian, yang besar itu hawa nafsu, yang berat itu amanah, yang sulit itu ikhlas, yang mudah itu berbuat dosa, yang susah itu sabar, yang sering lupa itu bersyukur, yang membakar amal itu mengumpat, yang mendorong ke neraka itu lidah, yang berharga itu iman, yang menentramkan hati itu dzikir, dan yang ditunggu [Allah] itu taubat hamba-Nya," jelasku.
Aku dan pak Zulfikar sedang berbincang santai setelah melaksanakan shalat Shubuh berjamaah. Ini adalah shalat Shubuh pertamaku setelah masa nifasku berakhir. Tidak terasa, tiga puluh empat hari telah berlalu dari kelahiran buah hatiku. Azzima Hanna Cantika dan Azzam Hanif Diraja.
Nama Cantika dan Diraja adalah nama yang diusulkan oleh mama dan papa. Awalnya, nama mereka diakhiri dengan nama Antesena. Namun, aku tidak menyetujuinya karena khawatir embel-embel nama Antasena akan memengaruhi kehidupan putra-putriku di masa mendatang. Karena harapanku, Raja dan Cantik bisa berdiri di atas kaki mereka sendiri tanpa bayang-bayang nama besar keluarga Antasena.
"MasyaaAllah, apa yang kamu katakan laksana embun pagi yang menyegarkan kalbuku," pujinya sambil memelukku erat.
"Mas, jangan kencang-kencang peluknya."
Aku tidak nyaman. Namanya ibu menyusui, di bagian dada memang sering terasa sakit saat ada tekanan yang berlebihan.
"Maaf ya sayang."
Lanjut mengecup keningku. Wajahnya berbinar, senyumnya merekah sempurna. Apakah pak Zulfikar sangat bahagia karena aku sudah bersuci dari masa nifasku? Oiya, aku memanggilnya 'mas' setelah Raja disunat. Pak Zulfikar memohon agar aku tidak memanggilnya 'bapak' lagi. Karena saat ini aku adalah istri satu-satunya, baiklah aku setuju. Tapi, di hadapan Raja dan Cantik, aku memanggilnya 'papa.'
Raja dan Cantik disunat saat usia mereka tujuh hari. Sunat untuk Cantik tentu saja disesuaikan dengan syariat. Tidak melukainya apa lagi sampai mengurangi haknya sebagai wanita di masa depan. Hanya menorehnya sedikit sebagai syarat telah menjalankan sunat perempuan sesuai dengan ajaran Nabi Ibrahim A.S.
"Mau makan di mana, Mas? Di kamar, apa di ruang makan?" tanyaku.
"Makan? Aku belum mau makan sayang. Masih mau mendengarkan kultum dari kamu." Mendekapku lagi. Namun tidak sekuat sebelumnya.
"Apa lagi yang harus aku katakan? Kayaknya cukup 'deh, Mas." Mencoba mendorong bahunya yang kian merapat ke tubuhku.
"Bagaimana kalau aku makan kamu dulu?"
"A-apa, Mas? Aku tidak salah dengar, 'kan?"
"Sayang, aku sudah menunggu momen ini lama sekali. Wajar 'kan kalau aku sangat menginginkannya? Saat aku tahu kamu shalat, hatiku langsung berbunga-bunga. Duniaku cerah seketika, secerah sinar mentari," ocehnya.
"Emm, tapi 'kan Masnya sudah mau berangkat kerja. Aku harus pompa ASI dan jalan-jalan pagi sama Raja dan cantik. Mas juga aku lihat ada jadwal rapat jam delapan pagi. Ya, kan?"
"Aku mau izin tidak ikut rapat demi kamu. Sesekali kurasa enggak masalah sayang. Serius, aku sudah rindu sekali."
Ya ampun, matanya menatapku nanar. Jujur, aku masih takut. Tapi, aku tidak tega menatap matanya yang mengiba. Lagi pula, pada dasarnya aku juga merindukannya. Apa aku harus memberikannya saat ini juga? Bimbang.
"Bagaimana kalau kultum lagi?" tanyaku seraya mengulum senyum karena merasa lucu dengan sikapnya.
"Kultum lagi? Hmm, boleh." Namun tangannya mulai bertindak. Benar-benar tidak mau diam. Entahlah akan dilabuhkan di mana. Aku merinding.
"Mas, salah satu bukti sayangnya [Allah] sama kita adalah dengan dibukakan-Nya pintu taubat yang seluas-luasnya sekalipun hamba-Nya melakukan dosa sejuta kali. Jadi, jangan pernah putus asa untuk bertaubat dan memohon ampunan-Nya."
"Ya, hmm," gumamnya. Telinganya mulai memerah, lalu jantungku berdegup kuat tatkala pak Zulfikar nyaris mulai membuka kemejanya dengan tergesa-gesa.
"Assalamu'alaikuum." Suara bu Juju. Kami sontak terkejut. Pak Zulfikar mematung sambil memasygul rambutnya.
"Punten (maaf) Bu Daini. Cantik nangis terus." Itu suara Ipi.
"Ya ampun Cantik, haish." Ia kembali memasygul rambutnya sambil senyum-senyum. Lalu membuka pintu kamar setelah memakai kembali kemejanya.
"Maaf ya, Pak, Bu. Cantik enggak mau ASI perah. Kayaknya mau mimi langsung," jelas bu Juju. Ia menyerahkan Cantik pada pak Zulfikar.
"Ya, enggak apa-apa, Bu. Oiya, Rajanya mana?" tanyanya.
"Setelah mandi dan mimi ASI perah, Raja langsung tidur, Pak." Ipi yang menjelaskan.
"Ya sudah." Ia mengibaskan tangannya agar bu Juju dan Ipi meninggalkan kamar. Aku memberi ASI pada Cantik setelah bu Juju dan Ipi pergi.
"Emm ... muach, Cantik sengaja ya ganggu Papa dan Ibu?"
Pak Zulfikar menciumi pipi cantik. Pada akhirnya, aku memang memilih dipanggil 'ibu.' Papa dan ibu. Enggak apa-apa 'lah enggak nyambung juga. Hehehe. Harusnya 'kan papa dan mama, ibu dan bapak.
"Pak, eh -- em -- Mas, jangan salahkan Cantik. Di jam ini Cantik memang waktunya mimi. Andanya saja yang tidak bisa bersabar. Nanti malam masih bisa, 'kan?"
"Apa kamu lebih sayang sama Cantik daripada aku?" Malah cemburu buta.
"Pfftt, Mas cemburu sama anak sendiri?" Menahan tawa.
"Bukan cemburu sayang. Hanya mau protes saja. Tapi 'kan aku juga butuh kasih sayang dan belaian kamu." Tidak mau kalah.
"Iya, aku tahu. Tapi ada waktunya Mas."
"Oke-oke, begini saja. Kamu harus menemaniku makan siang. Jadi, jam satu siang sudah ada di kantor, nanti diantar sama pak Budi ya."
"Ke kantor? Boleh. Apa aku bisa membawa Cantik atau Raja?"
__ADS_1
"Cantik dan Raja sementara waktu ditinggal dulu. Cukup bawa mesin pompa ASI saja." Alisku menaut. Keinginannya benar-benar tidak bisa diganggu-gugat.
"Deal," tegasku.
"Deal," sahutnya sambil mengecup pipiku.
"Apa aku harus memasak sesuatu untuk dimakan bersama di kantor?"
"Tidak perlu sayang. Ya sudah, Mas mau siap-siap kerja dulu ya."
Ia berlalu setelah bersiap, menciumku dan mencium cantik. Namun wajahnya terlihat sedikit murung.
"Mas," panggilku. Ia membalikan badan.
"Semangaaat," seruku.
"Jangan lupa ke kantor," tegasnya.
"Sip," aku mengangkat jempol.
Kalau dipikir-pikir, untuk apa ke kantornya? Aku 'kan sudah resign. Sebelumya, pak Zulfikar juga tidak pernah memintaku untuk menemaninya makan siang.
...⚘️⚘️⚘️...
"Neng Dai, lagi sibuk enggak?"
"Tidak, Kak. Lagi santai. Kenapa Kak?" Kak Listi tiba-tiba meneleponku.
"Mau curhat, Neng. Apa boleh?"
"Boleh, Kak. Mau cerita apa. Kebetulan nanti siang aku juga mau ke kantor. Apa sekalian kita bertemu saja?"
"Kamu mau ke kantor? Ada acara apa? Pak Direktur juga enggak cerita kalau kamu mau ke kantor."
"Aku juga tidak tahu, Kak. Hanya disuruh menemaninya makan siang."
"Makan siang? Sebentar Neng, aku mau cek jadwal pak Direktur dulu. Emm, hari ini agenda pak Direktur hanya sampai jam satu siang. Terus, beliau meminta aku reservasi hotel."
"Reservasi hotel?" Sekarang aku yang kaget. Namun pikiranku sudah bisa menebaknya.
"Ya Neng. Bilangnya 'sih untuk orang spesial. Tapi aku enggak berani tanya-tanya untuk tamu yang mana."
"Aku agak malu ceritanya, Neng. Soalnya, ini ada hubungannya dengan urusan ranjang. Tapi, aku butuh pendapat kamu untuk menanganinya."
"Kak, yang tidak boleh diceritakan itu urusan ranjang dalam artian menceritakan hal-hal sensitif, kebiasaan, atau aib pasangannya. Kak Listi tentu bisa memilah mana yang boleh diceritakan dan mana yang tidak. Jika urusan ranjang menimbulkan masalah dan benar-benar memerlukan solusi, Kak Listi bisa konsultasi dengan ahlinya. Misal dengan dokter spesialis kandungan."
"Neng, aku bukan mau program hamil. Hanya ingin mengetahui perspektif Islam tentang hubungan suami-istri. Sebab, sampai detik ini sebenarnya aku masih virgin, Neng."
"Apa?! Ja-jadi, Kak Listi dan pak Sabil belum melakukannya?!"
"Mencoba sudah Neng, tapi belum berhasil. Dan aku selalu beralasan agar a Abil enggak mencobanya lagi. Aku takut Neng. Lagi pula, pernikahan kami hanya pernikahan percobaan. Kalau tiba-tiba a Abil tidak menyukaiku lagi, aku bisa meninggalkannya dalam keadaan masih suci. Walaupun faktanya, aku sudah pernah disentuhnya."
"Ya ampun Kak Listi, kenapa jalan pikiran Kakak sesempit itu? Aku kecewa sama Kakak."
"Apa?! Kecewa? Neng, 'kok malah bilang begitu 'sih?"
"Pak Sabil itu sangat mencintai Kak Listi. Mereka melakukan pernikahan seperti itu karena ingin memberi kesempatan pada Kakak untuk lebih mengenali pak Sabil dengan cara yang halal. Kak ... sejujurnya, keluarga pak Sabil sudah mengetahui jika Kakak mengalami trauma akibat pernikahanku. Kak Listi, dengarkan aku. Tolong sembuhkan trauma Kakak dengan cara mencintai pak Sabil sebagai suami Kakak."
"Aku akan merasa menjadi orang paling bersalah di dunia jika sampai kisah pernikahanku dengan pak Zulfikar mengakibatkan trauma untuk orang lain. Terlebih trauma itu dialami oleh sahabatku sendiri."
"Neng ... a-aku ---."
"Kak, sekarang tanyakan pada hati Kakak. Apa Kakak mencintai pak Sabil? Jika ya, perlakukan pak Sabil sebagai suami Kakak. Jika tidak, kenapa Kakak menerimanya saat pak Sabil mengajak menikah? Jika Kakak menginginkan pernikahan yang resmi, Kakak tinggal cerita saja sama pak Sabil. Tolong jangan main-main dengan pernikahan, Kak."
"Dai ---."
"Kak, pernikahan itu sebuah perintah agama yang telah diatur oleh syariat Islam dengan berbagai hikmah di dalamnya. Saat pasangan melakukan pernikahan, pada saat yang bersamaan, mereka bukan saja memiliki keinginan untuk melakukan perintah agama melalui pernikahan, namun juga memiliki keinginan saling memenuhi kebutuhan asah, asih, asuh dan kebutuhan biologis yang secara kodrat memang harus disalurkan. Begitupun dengan Kakak dan pak Sabil."
"Neng Dai, aku hanya belum berani, dan itu bukan berarti aku menolaknya."
"Aku yakin Kakak bukan tidak berani. Tapi, aku mengira jika Kakak masih ragu sama pak Sabil. Maaf jika aku salah."
"Neng, se-sebenarnya ..., a-aku belum percaya diri. Aku belum yakin menyukainya. Tapi, aku tidak mau a Abil meninggalkanku. Dan entah kenapa, aku merasa jika akhir-akhir ini a Abil berubah menjadi dingin. Dia tidak ramah seperti biasanya dan menyuruh seseorang untuk mengawasiku. Aku jadi galau, Neng."
Tunggu, apa pak Sabil sedang menjalankan saran dari pak Zulfikar untuk pura-pura dingin pada kak Listi?
"Kak Listi, ajaran Islam menganjurkan bagi mereka yang belum memiliki pasangan agar menikah selama mereka memiliki kemampuan fisik dan psikis untuk melaksanakan fungsi-fungsi perkawinan. Kak Listi dan pak Sabil telah memenuhi syarat tersebut."
__ADS_1
"Jika pak Sabil menginginkannya, kak Listi wajib memenuhinya. Bahkan lebih dari itu, ibadah sunnah pun hendaknya ditangguhkan atau tidak dilakukan apabila keinginan melakukan hubungan suami istri sedemikian mendesak. Suami-istri tidak dihalangi melakukan hubungan tersebut, kapanpun dan di manapun, kecuali di siang hari pada bulan Ramadhan saat sedang berpuasa atau saat-saat tertentu seperti sedang melaksanakan ibadah haji dan umrah, atau ketika istri sedang menstruasi dan nifas," jelasku panjang lebar.
"Aku mengerti, Neng. Tapi, bagaimana aku memulainya? Aku malu."
"Aku yakin Kak Listi menyimpan rasa pada pak Sabil. Jikapun rasa itu masih terpendam, seiring berjalannya waktu, aku percaya Kak Listi bisa menjadi istri yang baik untuk pak Sabil. Di mata Kakak, aku melihat ada cinta untuk pak Sabil."
"Hmm, sok tahu kamu, Neng."
"Ya tahu 'lah."
Mungkin, ini saat yang tepat untuk membujuk kak Listi. Sebenarnya, pak Zulfikar sering dicurhati oleh pak Sabil. Tentu saja membahas tentang sikap kak Listi.
"Jangan lupa mandi, berwudhu, dan memakai wangi-wangian saat hendak melakukannya," godaku.
"Apa diharuskan seperti itu, Neng?"
"Itu adabnya bercinta dalam Islam, Kak. Tujuannya tentu saja untuk mendapat keberkahan. Jangan lupa doa dan niatnya, lalu niatkan di dalam hati kak Listi bahwa kak Listi melakukannya demi menyenangkan pak Sabil. Lalu lakukan dengan santai dan jangan tergesa-gesa. Di awali dengan cumbuan mesra dan saling memanjakan, hehehe." Aku tidak bisa menahan tawa.
"Ya ampun, Neng. Kamu pasti jago," duganya.
"Rahasia," jawabku.
"Oiya, jangan lupa gosok gigi, Kak. Ada juga yang menganjurkan shalat sunat dulu sebelum melakukannya."
"Harusnya, a Abil juga tahu tentang masalah ini."
"Pak Sabil sudah tahu 'kok, Kak."
"Sudah tahu?" Kak Listi seperti terkejut.
"Pak Sabil pernah ikut kajian tentang bab nikah. Kalau tidak salah, saat pengajian rutin keluarga Antasena. Kak Listi," panggilku.
"Ya, Neng." Suaranya pelan. Apa yang dipikirkan kak Listi? Apa pernikahan itu membuatnya tidak nyaman.
"Apa Kak Listi tidak bahagia? Tolong cerita saja, Kak. Siapa tahu aku bisa membantu Kakak mencarikan solusinya."
"Aku bahagia, Neng. A Abil dan orang tuanya sangat baik. Aku justru menyesali sifatku. Aku merasa bersalah pada a Abil dan keluarganya."
"Jika Kak Listi merasa bersalah, cepat minta maaf dan segera perbaiki. Tidak ada kata terlambat untuk memulai sebuah kebaikan. Aku mengenal Kak Listi, Kak Listi itu pada dasarnya sangat baik dan perhatian. 'Nah, sekarang coba tunjukkan kebaikan dan perhatian Kakak pada pak Sabil."
"Neng, aku belum tahu cara memerlakukan suami sesuai dengan syariat Islam."
"Belajar Kak. Aku juga masih belajar. Belajar atau menuntut ilmu itu tidak ada batasnya. Kita baru boleh berhenti belajar saat kita mati. Karena pendidikan itu pada hakikatnya sepanjang hayat. Artinya, selagi kita masih membuka mata maka kita harus terus belajar."
"Terima kasih, Neng. Sudah dulu ya. Assalamu'alaikuum."
"Wa'alaikumussalaam." Panggilan berakhir.
...⚘️⚘️⚘️...
Iptu Sabil Sabilulungan
"Assalamu'alakuum. A Abil, aku minta maaf. Aku sudah menyadari kesalahanku. InsyaaAllah, aku akan memperbaikinya. Hari ini, aku mau menginap di rumah Aa. Aku janji tidak akan manja lagi. Aku juga bersedia tinggal di rumah A Abil atau di apartemen. Aku akan patuh sama apapun perintah A Abil selama perintah itu tidak bertolak belakang dengan aturan agama kita."
"Sebenarnya, aku agak malu mengatakannya. Kalau A Abil berkenan, aku mau kita mencobanya lagi. Kali ini, mari kita lakukan sampai berhasil. Aku janji tidak akan menangis dan menjambak A Abil lagi."
"Hahaha."
Spontan tertawa karena terlanjur senang setelah membaca pesannya.
"Pak Abil?"
Senior dan juniorku terkejut. Mereka menatapku keheranan.
"Maaf, maaf. Aku terlalu bahagia."
Ya ampun, jadi mau cepat pulang. Sepertinya, Listi sudah mendapat wejangan dari bu Daini. Sikapku yang pura-pura dinginpun ternyata memengaruhinya.
"Bagi-bagi dong Pak bahagianya," ucap juniorku.
"Hahaha, ini tidak bisa dibagi. Mohon doanya saja agar misiku berhasil."
Mereka saling berpandangan, dan aku memejamkan mata sambil senyum-senyum. Belum apa-apa, anganku sudah melayang menembus awan.
Tunggu aku ayang. Sebentar lagi, kita akan terbang ke surga.
...⚘️⚘️⚘️...
__ADS_1
...~Tbc~...
Semoga bisa mengobati rindu. Mohon votenya jika berkenan. Terima kasih.