Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Rasa yang Terbelenggu


__ADS_3

Daini Hanindiya Putri Sadikin


Jika boleh meminta, aku tidak ingin jadi seperti ini Ya Robb. Ini terlalu dramatis dan tragis.


Aku meninggalkan kamar utama dengan langkah kaki gontai dan gemetar. Aku bahkan masih berharap jika ini adalah mimpi burukku.


Lalu kubereskan perlahan serpihan guci itu sambil berurai air mata. Tidak ada pilihan lain kecuali menuruti keinginan bu Dewi.


Karena untuk menolakpun akan jadi percuma saja. Biarlah aku berkorban semampuku, sebisa mungkin, sampai batas akhir kesabaranku. Walaupun sesungguhnya kesabaran itu tidak ada batasnya.


"Terus saja kamu bela dia Mas, sampai kamu sendiri yang akan menyesal karena menduakan aku dengan wanita itu. Aku ulangi peringatanku ya, Mas! Jika aku melaporkan perselingkuhan kamu, maka kamu, keluargamu, dan perusahaan kamu akan hancur!"


Kalimat itulah yang terngiang di telingaku ini. Berdenging dan terus menggangguku. Jika aku tidak patuh, aku takut bu Dewi nekad melaporkan kasus ini sebagai perselingkuhan. Lalu apa yang dikatakannya akan benar-benar terjadi.


Aku tidak mungkin membiarkan Pak Zulfikar, keluarganya dan perusahannya hancur gara-gara masalah ini. Aku ingin semunya baik-baik saja. Setidaknya, dengan aku patuh, bu Dewi tidak akan terlalu marah. Lalu pak Zulfikar memiliki sedikit kesempatan untuk mencari solusinya.


Sepertinya, untuk jujur pada pak Zulfikar tentang kehamilan ini akan aku tunda dulu. Biar bagaimanapun, aku harus melindungi bayi ini dari kemurkaan bu Dewi.


Fokus utamaku saat ini adalah menjaga kandunganku agar tumbuh dan berkembang dengan baik, serta bisa terlahir ke dunia ini dalam keadaan sehat jasmani dan rohaninya walaupun tanpa status ayah sekalipun.


Aku sadar posisiku sangat tidak menguntungkan. Aku pasti akan ada di pihak tertuduh dan dituduh. Jikapun pak Zulfikar jujur pada kedua orang tuanya, kemungkinan terbesarnya adalah aku akan mendapat penolakan. Artinya, anak yang ada dalam rahimkupun mungkin akan dianggap tidak ada nilainya di mata mereka.


Dan duniapun bisa jadi akan meremehkan aku dan anak-anakku. Tapi tak apa-apa, aku akan ikhlas menerima segenap hina-dina itu karena aku memiliki-Nya. Memiliki Sang Maha Tahu yang tidak pernah meninggalkan hamba-Nya. Aku juga masih memiliki abah dan ummi.


Kamu harus kuat Daini. HARUS!


Aku menyandarkan tubuhku ke sofa, menatap semu pada serpihan guci yang telah kusimpan di plastik sampah.


Guci ini pasti mahal, sayang sekali jadi hancur begini. Andai pak Zulfikar bisa menahan emosi, guci ini pasti masih berdiri kokoh dan bisa kupandangi.


Lalu mataku menatap ke sana. Ke kamar utama yang saat ini ada pak Zulfikar dan bu Dewi di dalamnya.


Sedang apakah mereka di sana?


Aku tiba-tiba memikirkan hal yang bukan-bukan.


Lalu terjangan rasa sakit itu menghantam kalbuku, membebani ruang hatiku hingga napas ini terasa sesak. Acap kali aku menghembuskan napas, rasa sakit itu semakin mengoyakkan hatiku. Seperti tertusuk sembilu di dada ini saat aku mengira jika di dalam kamar itu mereka mungkin sedang memadu kasih.


"Huuu ...."


Aku melelehkan air mata sambil menekan kuat dada kiriku. Sungguh aku salut pada istri hebat yang ikhlas berbagi ranjang dengan wanita lain. Bahkan ada yang inisiatif mencarikan madu untuk suaminya. Seketika, aku kian merasa jadi muslimah yang sangat lemah iman.


Ya, aku memang menerima poligami, tapi aku faham jika nilai keikhlasan dan kesabaran untuk mendapat pahala berupa rahmat dan surga-Nya, tidak hanya bisa didapat dari keikhlasan berbagi ranjang dan kesabaran karena dipoligami. Benar kata sebuah judul film, jika poligami itu lir ibarat 'Surga yang Tak Dirindukan.'


"Huuks," aku mengusap perut rataku.


"Puas kamu, Daini?! Gimana rasanya ditiduri suamiku, hahh?! Hahaha, enak ya?! Kecanduan kamu ya dicelup suamiku?! Berapa kali kamu dicelup oleh suamiku, hahh?!"


Kalimat itu juga terasa sangat menyakitkan. Menikam dan menghujani ulu hatiku hingga di relung terdalamnya. Entah seberapa hina dan rendahnya aku di mata bu Dewi. Kalimat itu terdengar begitu kasar dan menyinggung perasaanku.


Aku mengusap air mataku, setelah hati ini mulai tenang akupun beranjak. Bermaksud ke kamar ART untuk sejenak beristirahat.


'Brukh.'


Namun baru saja aku berdiri, aku mendengar suara pintu kamar utama dibanting keras.


Aku teperanjat. Aku ingin mengabaikannya. Tapi ....


'Brukh.'


Suara itu kembali terdengar. Terpaksa aku harus ke sana untuk mengecek apa yang terjadi. Aku melangkah cepat, jantungku berdebar-debar.


...🍒🍒🍒...


"Pak Zulfikar?!" Aku teperangah.


"Buka pintunya, Mas! Bukaaa! Awas kamu ya, Mas!"


Samar aku jug mendengar suara bu Dewi dari dalam kamar.


"Ha-Hanin to-tolong a-aku."


Pak Zulfikar mengulurkan tangan sambil menutup wajahnya, ia berjalan sempoyongan. Tangannya yang lain memegang kunci kamar.


Aku mundur dan gemetar. Aku ketakutan karena dari balik tangan pak Zulfikar yang mutupi wajahnya ada rembesan darah.


"Bapak kenapa?!"


Aku spontan berhambur dan untuk menopang tubuhnya. Pak Zulfikar tidak memakai baju, ia bertelanjang dada.


"Hanin ...." Dia memelukku.


"Pak? Ya Allah, astaghfirullah! Ini kenapa, Pak?!"


Dari hidungnya merembes darah segar. Bibir pak Zulfikar juga sedikit pecah. Pipi kirinya lebam kebiruan.


"Nanti akan aku jelaskan, to-tolong bantu aku berjalan. Ke-kepalaku pusing, Hanin."


Dengan perasaan kalut dan bingung, akupun memapahnya menuju sofa yang ada di ruang keluarga. Kepanikan menderaku kala dia terus meringis. Ada perasaan sedih dan khawatir saat melihatnya seperti ini.


.


.


"Pelan-pelan, Hanin."


Aku merebahkan kepalanya pada bantalan sofa. Lalu membersihkan hidungnya yang mimisan dengan tissue.


"Ahh," rintihnya. Cengeng sekali.


"Pak, bu-bu Dewi?" Aku baru ingat pada bu Dewi saat melihat kunci kamar.


"Hanin, biarkan dia tetap di sana," pak Zulfikar menahan tanganku saat aku hendak menyusul bu Dewi.


"Tapi, Pak," aku ragu.


"Hanin, tolong patuh padaku! Yang harus kamu patuhi itu aku, bukan Dewi!" tegasnya.


"Ba-baik," aku bersimpuh, menunduk dan bingung mau melakukan apa.


"Hanin, kemarilah." Dia mengulurkan tangannya.


"Ya Pak." Aku meraih tangannya.


"Pak, kotak P3K-nya ada di kamar utama." Maksudku mau diambil untuk mengobatinya.


"Tidak apa-apa, aku sudah merasa baikan, kok."


Dia duduk perlahan. Namun tetap memegang tanganku. Lalu meremas rambutnya seolah ingin mengurai beban yang ada di kepalanya.


"Se-sebenarnya ada apa, Pak? A-apa aku boleh bertanya?" Aku ragu menanyakannya karena merasa jika aku bukanlah pemilik hatinya.


"Hanin, aku juga bingung. Apa aku pantas mengatakan masalahku dan Dewi kepadamu? Sedangkan masalah ini jelas-jelas ada hubungannya dengan urusan ranjang." Dia menatapku. Tatapannya menyiratkan jika ia mengharapkan pendapatku.


"Jika Anda merasa nyaman untuk mengatakannya dan ada faedahnya untuk kebaikan, aku rasa tak masalah Pak. A-aku juga penasaran, kenapa Bapak sampai mimisan dan lebam begini?


Aku membalas tatapannya. Kita saling bertemu pandang. Aku ingin memeluknya saat melihat mata indahnya berkaca-kaca.


Ada apa gerangan? Aku benar-benar penasaran.


"Ha-Hanin, a-aku seperti ini karena Dewi. Dia menyerang wajahku dengan ponselnya, aku tak bisa melawannya karena ini memang kesalahanku. Lagipula, pantang bagiku kasar pada wanita. Aku terpaksa membiarkan dia semena-mena memukul wajahku."


"A-apa?" Aku melongo.

__ADS_1


"Sebenarnya ini penghinaan, ini kekerasan dalam rumah tangga! Namun dia bersikukuh dan percaya diri jika yang dilakukannya adalah pembelaan atas sikapku yang melukai perasaannya! Aku bingung Hanin, aku merasa jadi suami tak berguna! Wibawaku di hadapan Dewi seolah telah terinjak-injak!"


Aku menyimak sambil menatapnya.


"Dewi mengatakan mencintaiku, tapi sikapnya telah berubah!


Aku tertunduk. Dari awal, aku sadar jika kehadiranku adalah duri. Namun pria inilah yang menjadikanku sebagai durinya. Pak Zulfikarlah yang menolak menceraikanku.


"Ya Pak, tak perlu Anda ucapkanpun, aku sudah tahu jika kehadiranku memang jadi buah simalakama bagi mahligai rumah tangga Anda dan bu Dewi. Maaf karena kehadiranku menyebabkan wajah Anda terluka."


"Hanin, jangan salah faham. Aku terluka seperti ini bukan karena kesalahan kamu. Ini terjadi murni karena kecerobohanku."


"Jika bukan karena aku, lalu karena apa, Pak?" Nada bicaraku sedikit meninggi.


"Tadi ... a-aku spontanitas menyebut nama kamu saat aku dan Dewi se ---."


"Cukup!" selaku. Aku faham maksudnya.


"Astaghfirullah," lirihku.


"Pak, siapapun itu, pasti akan sakit hati. Temasuk bu Dewi. Kok bisa Bapak seceroboh itu?"


Aku menggelengkan kepala. Bu Dewi pasti akan semakin membenciku akibat kejadian ini.


"Karena yang ada di pikiranku hanya ada kamu, kamu dan kamu Hanindiya. Dewi juga memaksaku melakukannya. Ya ampun, aku tak menduga Dewi akan seperti itu. Dia seperti memiliki kepribadian ganda," keluhnya.


"Pak, cukup! Bapak tak pantas menuduhnya seperti itu! Bu Dewi istri Anda. Anda harusnya lebih peka terhadap perasaannya! Aku mau melihat bu Dewi!" tegasku. Beranjak.


"Hanin jangan! Dia sedang marah. Tadi dia memukul wajahku. Kalau kamu ke sana, aku takut kamu jadi sasarannya juga. Tetap bersamaku!" Dia bangun dan medekapmu.


"Pak, lepas! Kenapa Bapak meninggalkannya dalam keadaan bu Dewi masih emosi?! Kalau bu Dewi nekad, lalu menyakiti dirinya sendiri, bagaimana?! Lepas!"


Aku berontak, saat berhasil melepaskan diri, aku segera meraih kunci dan berlari ke kamar utama.


"Hanin, tunggu Hanin!" Pak Zulfikar menyusulku.


...🍒🍒🍒...


Aku cepat-cepat membuka kunci. Aku khawatir terjadi sesuatu pada bu Dewi. Setelah pintu kamar terbuka, aku mematung di ambang pintu, bu Dewi yang memakai lingerie super seksi sedang mengacak seluruh barang yang ada di kamarku sambil mengumpat dan marah.


"Tega kamu Mas! Beraninya kamu menyebut-nyebut dan nama wanita itu saat kamu sedang *****! Ini penghinaan!" teriaknya.


Bu Dewi marah besar. Aku mundur. Benar kata pak Zulfikar, aku tak boleh mendekatinya.


"Daini!"


Deg, baru saja aku berbalik. Namun bu Dewi ternyata telah melihatku. Bersamaan dengan itu, pak Zulfikar datang.


"Hanin!"


"Sini kamu! Ini gara-gara kamu j a l a n g!"


Belum sempat aku menghindar. Bu Dewi telah terlebih dahulu menarik ujung jilbabku hingga aku terjatuh.


"Dewi, hentikan! Istighfar, Wi!" Pak Zulfikar mendekat. Bermaksud melidungiku.


"Diam kamu, Mas!"


Bu Dewi tak peduli, dia menjambak jilbabku kuat-kuat dan menariknya hingga terlepas.


"Dewi!" Pak Zulfikar melotot.


"Jangan Pak!"


Aku memegang tangan pak Zulfikar yang sepertinya hendak menampar bu Dewi. Sementara bu Dewi melongo dan menantapku tanpa berkedip saat melihat jilbabku terlepas dan rambut panjangku tegerai begitu saja.


"Hanin, aku tak bisa melihat kamu dipermalukan seperti ini!" Tangannya mengambang di udara.


"Halah! Jangan pura-pura sok bijak kamu Daini! Seperti ini ternyata rupamu tanpa jilbab! Ya, aku akui kamu cantik! Tapi kecantikanmu tak bernilai apapun karena hatimu busuk, cuih!"


Bu Dewi meludahi wajahku sambil berkacak pinggang.


"Dewi, cukup! Kamu keterlaluan Wi! Mas kecewa!"


Pak Zulfikar memelukku lalu cepat-cepat membersihkan ludah bu Dewi di wajahku dengan jemarinya.


"Huuu ...."


Aku menangis. Baru kali ini aku diludahi. Rasanya menyakitkan dan membuatku sedih karena merasa begitu rendah dan hina.


"Sabar ya sayang, aku berjanji akan segera mengakhiri semua ini." Pak Zulfikar mendekapku, mengelus rambutku.


"Kurang ajar kamu, Mas! Kamu memanggil di sayang?!"


Bu Dewi memukul punggung pal Zulfikar, lalu hendak memukulku namun tubuhku dilindungi pak Zulfikar. Dia mendekapku erat. Aku menangis di dadanya karena terharu atas sikapnya dan sedih atas perlakuan bu Dewi terhadapku.


"Mas! Apa maksud kamu akan segera mengakhiri semua ini, hah?! Apa kamu akan menceraikanku, Mas?! Ingat ya Mas! Surat perjanjian pranikah kita masih berlaku dan mengikat!"


Pak Zulfikar diam saja, tetap memelukku.


"Dan kamu Daini, siap-siap ya! Mulai hari ini hidupmu tidak akan tenang lagi! Akan kupastikan semua orang yang ada di kantor membenciumu! Kalau bisa seluruh orang di dunia ini membencimu!" Sambil memakai kembali auternya.


"Dewi, apa yang akan kamu lakukan?!"


Pak Zulfikar melepasku, lalu mendekati bu Dewi.


"Kamu tak perlu tahu Mas! Tenang saja, aku belum ada niatan untuk menghancurkan kamu, Mas! Aku baru akan melakukan pemanasan untuk membuat j a l a n g mu itu sadar kalau aku bisa melakukan apapun yang kuinginkan!" teriaknya seraya menatap sinis ke arahku.


"Aku belum mau menghancurkan kamu karena aku masih menghargai dan menghormati orang tua kamu, Mas! Dan yang paling penting, aku tidak bisa menyakiti kamu karena aku teramat mencitai kamu!"


"Wi, Mas peringatkan! Kamu jangan berani menyakiti Hanin! Kalau kamu menyakitinya itu sama saja dengan kamu menyakiti aku!"


"Hahaha, persetan dengan itu! Dengar ya Mas! Sekarang terserah kamu mau menceraikan wanita itu ataupun tidak, silahkan! Aku tidak akan melarang-larang kamu lagi! Karena untuk saat ini, mau kamu menceraikan dia, ataupun tidak menceraikan dia, j a l a n g mu itu akan tetap kubuat menderita!" ancamnya sambil berlalu.


"Dewi tunggu!" Pak Zulfikar mengejar.


"Aku mau pulang Mas!"


"Tolong pikirkan lagi ancaman kamu itu sebelum aku nekad melakukan hal yang tidak kamu duga!"


Pak Zulfikar menyusul sambil mengambil kemejanya yang tergeletak di lantai. Aku tetap di kamar dan masih terisak-isak. Mungkin mereka akan pulang. Kupikir, biarkan saja aku tetap di kamar dan tak mengantar sampai pintu.


...🍒🍒🍒...


Setelah bu Dewi dan pak Zulfikar pergi, aku segera memeriksa tespek dan hasil USG yang kusimpan di dalam laci lemari gantung. Sykurlah, dua benda ini tak sampai ketahuan oleh bu Dewi ataupun pak Zulfikar. Aku segera mencari ide untuk menyembunyikannya di tempat lain.


Lalu mulai merapikan kekacauan ini sambil menangis. Sekarang, bersama atau tidak bersamanya aku dan pak Zulfikar, bu Dewi tetap akan menyakitiku.


"Huuu huuu, aku harus bagaimana Ya Rabbi?" Aku menatap langit-langit.


"Aku bisa saja tak apa-apa jikapun dipermalukan. Tapi bagaimana dengan keluargaku? Bagaimana kalau bu Dewi nekad melukai keluargaku juga? Huuks."


Aku memeluk lututku. Cobaan ini terasa berat sekali.


"Jangan menangis, aku akan menemani kamu, Hanin."


Pak Zulfikar memelukku dari belakang. Dia ternyata tak ikut pulang. Aku juga tidak tahu sejak kapan dia ada di belakangku.


"Pak ... a-aku ...."


Spontan membalikkan badan dan membalas pelukannya. Di saat seperti ini, aku memang membutuhkan pelukan seseorang.


"Aku janji Hanin, aku janji tidak akan meninggalkan kamu sampai kapanpun. Tolong kamu juga jangan meninggalkan aku ya."

__ADS_1


"Kenapa Bapak mengatakan itu? Bapak seakan-akan mencintaiku dengan setulus hati," lirihku.


"Aku memang mencintai kamu Hanindiya. Mungkin sekaranglah saat yang tepat untuk aku mengatakan sebuah kebenaran yang harus kamu ketahui." Dia menuntunku, membawaku duduk di sisi tempat tidur.


"Apa kamu mau mendengarkanku, Hanin?" Sambil memegang tanganku.


"Mau Pak," jawabku.


"Awalnya, aku tak ingin cerita pada sipapun. Namun melihat Dewi yang seperti itu, aku merasa jika kamu harus segera mengetahui kebenarannya. Dengan aku jujur, aku berharap kamu bisa percaya kalau aku sangat mencintai kamu."


Tatapannya padaku begitu dalam hingga aku tak mampu membalas tatapannya dan menundukkan kepala.


"Hanin, aku dan Dewi sebenarnya dijodohkan. Selain itu, pernikahan kami juga didasari oleh kerja sama bisnis antara papaku dan papinya Dewi."


"A-apa?" Aku menatap tak percaya.


"Karena aku teramat sangat membenci mantan kekasihku, kupikir perjodohan ini bisa menguntungkanku dan berharap bisa mencintai Dewi seiring berjalannya waktu. Tapi ... aku salah, di hari pernikahanku, bahkan sampai saat ini, rasa cinta itu belum muncul."


"Yang ada di hatiku hanya perasaan sayang dan rasa hormatku pada kedua orang tuanya. Tidak lebih dari itu."


"Be-benarkah?" Airmataku meleleh.


"Benar Hanin, hingga akhirnya aku menemukan kamu. Awalnya, karena aku mengira kamu berniat jahat, aku memang sempat membenci kamu. Itulah alasan kenapa aku sampai melaporkan kasus ini pada polisi."


"Tapi ... setelah malam itu, aku terus mengingatmu, Hanin. Semua yang ada pada dirimu selalu terbayang-bayang di ingatanku. Awalnya, aku tidak sadar jika rasa itu adalah cinta. Makanya aku sering iseng mengganggu kamu."


"Setelah aku cermati, saat menatap matamu, tubuhku ternyata berdesir, jantungku selalu berdegup-degup, lalu pikiranku bertraveling, emm ... maksdnya pikiran dan otakku menyimpulkan kalau aku telah jatuh cinta."


Dia menangkup pipiku. Aku masih belum percaya pada penuturannya. Kepalaku menggeleng, belum bisa menerima fakta ini.


"Sikapmu yang penuh kasih dan sayang, membuat aku mabuk kepayang, Hanin. Sifatmu yang peramah dan juga pendiam, membuat aku rindu siang-malam, sungguh."


"A-apa?"


Aku mengulum senyum, kalimat pak Zulfikar mengingatkanku pada lirik sebuah lagu dangdut yang sering disetel kak Listi di mobilnya.


"Wanita sepertimu sukar dicari di masa kini. Bagaimana aku tak bahagia saat bisa berdampingan denganmu, Hanin. Sopan-santunmu menyejukkan kalbu. Tutur-sapamu semanis madu. Bentuk tubuhmu juga seksi. Lalu kejujuranmu sangat dapat dipercaya."


"Pak cukup, apa yang Bapak katakan barusan, mirip sekali dengan lirik sebuah lagu," terangku sambil mengusap air mata.


"A-apa? Benarkah? Aku tak percaya. Ya, kata-kata itu memang pemberian teman sekolahku saat SMA. Kupikir itu puisi roman hasil karyanya. Ternyata itu plagiat dari lirik lagu? Wah, wah, wah."


Dia juga mengulum senyum. Lalu menepuk jidatnya. Pipinya memerah. Malu kali ya?


Aku menahan tawa, menutup bibirku. Ketegangan tadi seolah sirna seketika.


"Tidak sama persis kok, Pak. Ada beberapa kata yang dihilangkan, diganti, dan ditambahkan," terangku.


"Wah, aku harus mengkonfirmasi masalah ini sama dia. Memalukan!" katanya.


"Tidak perlu berlebihan, Pak."


"Hahaha, aku malu, oiya Hanin, bagaimana? Setelah mendengar penjelasanku, apa kamu percaya kalau aku tulus mencintai kamu?"


"Emm," aku menunduk. Sedikit bingung dengan kondisi ini.


"Hanin," lihat aku.


"Pak ... a-aku ... aku bingung. Bapak memang sudah mengatakan itu, tapi keberadaanku tetap saja telah membawa masalah untuk Anda. Bahkan untuk keluarga Anda. Jadi ... untuk membalas perasaan Bapak, aku ... a-aku takut Pak."


"Hanin, apa yang kamu takutkan, hmm?"


"Status Anda terlalu tinggi," lirihku.


"Hanindiya, apa hubungannya dengan stusku?"


"A-aku takut dengan ancaman bu Dewi Pak, aku takut Anda, keluarga Anda, dan perusahaan Anda hancur gara-gara keberadaanku di sisi Anda, huuks." Aku kembali melankolis. Air mata bederai lagi.


"Baik, sekarang aku mau tanya, kalau tidak ada Dewi di sisiku, apa kamu mau menerimaku?"


"Ta-tapi Pak, A-Anda konglomerat," kilahku.


"Kalau aku bukan konglomerat tapi melarat, apa kamu mau menerimaku? Kalau aku melepas semua hal yang aku miliki, apa kamu mau menerimaku?" desaknya.


"Pak ... a-aku ...."


Bibirku gemetar. Batinku bergejolak. Tapi di dalam tubuhku ini sudah tumbuh benihnya.


Apa dengan dia melepas semuanya dia akan bahagia? Apa keluarganya akan tinggal diam begitu saja?


Aku dilema.


"Jawab sa-sayang, kumohon ...."


Sambil menesuri bibirku dengan jemarinya. Aku bergidik. Sentuhannya memang selalu membuat bulu kudukku merinding.


"A-aku ...."


Lindahku kelu. Aku bimbang dan ragu.


"Hanin ... biar kubuktikan sendiri apa kamu mencintaiku atau tidak." Dia merebahkanku.


"P-Pak. A-Anda mau apa?"


"Mau membuktikan perasaan kamu," ucapnya.


"Tapi Pak, a ---."


Dia memagutku perlahan-lahan. Aku meremang, mataku terpejam. Aku tak bisa menolak rasa yang tercipta ini. Cukup lama dia bermain-main dengan bibirku, hingga aku sesak aku tersedak.


"Sayang ... bibir indahmu yang manis ini sudah mengatakan kalau dia menyukaiku."


"A-apa?" Aku malu, wajahku terasa panas.


"Sekarang aku hanya perlu bertanya dan membuktikan pada bagian tubuh kamu yang lainnya."


Aku membelak.


Dari mana dia dapat ide nyeleneh seperti itu?


Dan aku diam saja saat dia mulai menanggalkan bajuku. Ya, sedari awal tubuhku memang selalu mengkhianatiku.


"Sa-sayang ... sepertinya ... tubuhmu ada di pihakku," katanya saat tak sadar bibirku melenguh-lenguh.


Padahal, aku sudah berusah-payah untuk tetap diam. Ya ampun, bagaimana ini? Walaupun batinku masih ragu, tapi tubuhku tak bisa dibohongi.


"Pak ... apa Anda sudah melakukannya dengan bu Dewi? Kalau sudah, a-aku ingin Bapak mandi dulu," bisikku. Walaupun malu, aku terpaksa menanyakannya.


"Be-belum sayang," bisiknya.


Beberapa saat kemudian.


"Pak, emm ... ja-jangan," tolakku.


"Ke-kenapa sayang? Bukankah tubuhmu menginginkannya?"


"Emm ...." Aku bingung.


Tak mungkin juga aku mengatakan kalau aku khawatir aktivitas ini mengganggu kesehatan kandunganku.


...~Tbc~...


...Yuk komentar yuk! Mohon beri saran untuk neng Daini di kolom komentar ya, nuhun....

__ADS_1


__ADS_2