
"Aarghh!"
Aku beteriak lagi saat orang yang membawaku menjauh, dan dia datang dalam keadaan masih menekan luka di ujung pelipisnya. Dia masuk dan duduk di kursi penumpang. Tempat di belakangku.
"Kamu bisa bawa mobil, 'kan? Nyetir 'dong, antar aku ke klinik."
"Memang lukanya masih berdarah? Kenapa tidak diantar sama orang lain saja? Kalau bisa sama orang lain, kenapa harus aku?" tanyaku.
Jujur, aku malas mengantarnya karena itu berarti aku akan meninggalkan mobilku dan harus kembali ke sini lagi untuk mengambilknya.
"Tidak mau membantu? Hello, aku terluka seperti ini gara-gara kamu, bukan?"
"Kok Anda menyalahkan aku, 'sih?! Siapa suruh menolongku! Dengar ya, aku lebih baik tersiram kopi daripada ditolong Anda! Harusnya, Anda tak membantu dan tak duduk di mejaku! Kalau saja Anda tak melakukannya, mungkin Ikmalpun tidak akan marah dan salah faham!"
"Cukup katakan tak mau saja, bisa 'kan? Tak perlu ada embel-embel menyalahkanku segala. Aku menolong kamu murni karena kemanusiaan. Selain itu, sebagai Propam, tugasku memang harus mengayomi, menjadi benteng penjaga citra Polri, dan sebagai benteng pencari keadilan," tuturnya.
Ia sedikit meringis. Darah merembes dari balik jemari yang menekan pelipisnya.
"Aku enggak tanya ya! Di depanku tak perlu bawa-bawa profesi! Lgi pula, aku tak pernah tertarik sama aparat!"
Aku mengomel sambil pindah ke bangku kemudi. Melihat darahnya mengalir lagi, jadi timbul seuprit rasa iba. Catat, seuprit. Artinya sangat sedikit.
"Hahaha, aku tak pernah ada niatan mencari perhatian dari kamu. Benar 'nih ikhlas mau mengantar? Klinik Bhayangkara ya." Sambil memakai sabuk pengaman.
"Ikhlas enggak ikhlas," jawabku. Lalu melajukan kemudi.
"Aku meminta bantuan kamu tujuannya baik. Maksudnya, untuk melatih empati dan simpati kamu."
"Bisa diam, tidak? Aku sudah dewasa. Aku juga sebenarnya tahu diri harus menolong Anda dan beterimakasih pada Anda. Tapi, tadi kuberpikir akan ada petugas yang mengantar Anda ke klinik."
"Hmm." Hanya itu jawabannya. Lantas diam saja, sesekali memandang keluar sambil menghela napas. Perjalananpun berlanjut.
"Hey! Jangan tidur. Sebentar lagi sampai!" teriakku.
"Aku sedang terluka, bicara pelan sedikit bisa, 'kan?" protesnya.
"Anda manja ya? Baru juga luka kecil, jadi polisi 'tuh, harusnya kuat, 'kan?"
Dia kembali menghela napas. Tak menyangkal perkataanku. Lama-lama, malas juga kali ya meladeni ucapanku. Bagus, 'lah. Jadi, aku tak perlu basa-basi dengan dia lagi. Masalahnya adalah, 'kok bisa aku jadi sering berurusan dengan manusia ini?
...⚘️⚘️⚘️...
"Kamu tetap di mobil, aku saja yang turun," ucapnya saat kami tiba di Klinik Bhayangkara.
Dia turun, langsung disambut beberapa orang petugas.
"Pak Abil kenapa? 'Kok bisa kecolongan, 'sih?"
Aku menguping, membuka sedikit kaca mobil. Nama panggilannya Abil? Hahaha, seperti nama anak kecil saja.
"Aku tak sengaja terkena serpihan kaca?" jawabnya.
Dia ternyata tak menjelaskan kejadian sebenarnya. Aku segera menutup kaca karena ada petugas yang menoleh ke arahku. Semoga petugas itu tak melihatku.
Aku menunggunya sambil membaca terjemaahan Al-Qur'an di aplikasi ponselku. Sedikit demi sedikit, aku mencoba meneladani kebiasaan baik Daini. Aku bacanya random. Semauku. Harusnya 'sih berurutan, tapi ya sudahlah, niat baiknya saja, kata Daini insyaaAllah akan dicatat sebagai pahala.
"Orang-orang yang beriman lebih kuat cintanya kepada Allah (Al-Baqarah ayat 165)."
"Wahai orang-orang yang beriman. Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi (Al-Munafiqun ayat 9)."
"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (Al- Insyirah: 6)."
"Sedangkan perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik pula (An-Nuur ayat 26)."
Ayat terakhir yang kubaca, membuatku merenung. Jika demikian, kenapa sering ada kasus KDRT? Bahkan ada yang sampai tega membunuh istrinya sendiri hanya karena hal sepele.
"Jika kita mendapatkan pasangan yang tidak baik, bisa jadi, itu adalah ujian untuk menaikan level keimanan dan kesabaran kita. Boleh jadi, kesabaran dan kebaikan kita terhadap sikap buruk pasangan, akan menjadi pelantara taubat yang nantinya akan merubah sikap pasangan kita menjadi pribadi yang lebih baik atau menjadi pintu pembuka taubat untuknya. Intinya, kita harus tetap berbaik sangka terhadap ketetapan Allah." Jadi teringat kata-kata Daini.
Tadinya mau lanjut membaca, tapi dia sudah selesai. Lukanya sudah dipasang verban. Dia menenteng plastik bening berisi obat.
"Agak lama, maaf ya," katanya. Membuka pintu di bagian kemudi.
"Turun, aku yang nyetir," tambahnya.
"Aku saja," sahutku singkat.
"Listrik, ayolah, aku sudah sembuh." Dia cari masalah lagi.
"Please 'deh Sablon, kalau Anda mau nyetir, kenapa enggak dari tadi saja?" Aku bersikukuh.
"Ya sudah, biar kamu tak kelelahan kita gantian ya." Dia juga kukuh.
"Enggak mau! Cepat masuk! Heran 'deh! Perkara nyetir saja, Anda tak mau kalah! Masuk!" teriakku.
"Hello, Nona. Ini mobilku. Cepat turun!"
"Ishh, Pak Sabil!" Aku terpaksa turun karena dia memaksa masuk. Padahal, aku belum turun. Aku pindah ke kursi belakang.
"Listrik, aku bukan sopir kamu, ya. Pindah ke depan! Cepat!" titahnya.
"Ishh, dasar Sablon! Anda adalah pria teresek yang pernah aku temui!" gerutuku. Terpaksa berpidah ke kursi di samping kemudi.
__ADS_1
"Ya ampun, kursi bekas kamu duduk rasanya panas sekali," keluhnya sambil membuka jaketnya, dan meggunakan jaket itu untuk alas kursi.
"Lebay banget 'sih sampai dialasi segala! Dengar ya Pak Sablon, kalau bekas tempat duduk seorang wanita terasa panas, hal itu menandakan kalau wanita tersebut akan memiliki banyak anak alias subur," jelasku.
"Hahaha, kamu percaya sama mitos? Bicara denganku harus ilmiah," sahutnya.
"Sombong!" sentakku sambi memalingkan wajah.
"Begini ya Bu Listrik, tubuh manusia itu menyimpan kadar Natrium, Kalium, dan Klorida yang jumlahnya berbeda-beda. Jadi, setiap orang memungkinkan memiliki adanya perbedaan pada suhu badan. Masalah panas pada bekas tempat duduk, sebenarnya merupakan hal yang umum. Tapi, dapat disimpulkan juga bahwa semakin besar ukuran bokong, maka hawa panas yang terasa akan semakin tinggi. Hehehe."
"Apa katamu?!"
Mataku mendelik. Spontan memukuli bahunya. Aku memang seperti ini, punya refleks memukul yang cukup tinggi.
"Jadi, Anda menyimpulkan kalau bokongku besar?! Oh, berarti selama ini kamu memerhatikan bokongku dengan teliti, ya?!" Aku terus memukulinya. Dia hanya senyum-senyum.
"Dasar jelalatan! Mata keranjang! Asal Anda tahu ya! Panggul itu salah satunya berfungsi untuk memberikan jalan bagi bayi yang akan lahir! Jadi, wanita dengan ukuran bokong besar sepertiku, kemungkinan besar bisa melahirkan normal dan lancar! Makanya bisa ditarik benang merahnya dapat memiliki banyak anak alias subur!"
Setelah tanganku pegal, barulah aku berhenti memukulinya.
"Masih mau memukulku lagi? Boleh 'kok. Aku anggap sebagai pijat cuma-cuma," ocehnya.
"Kenapa 'sih Anda selalu menyebalkan?! Gara-gara Anda, hubunganku dan Akmal jadi tambah buruk!"
"Sudahlah, kamu akhiri saja. Pria itu tidak cocok untuk kamu." Dengan entengnya dia mengatakan itu.
"Apa hak Anda mengaturku?! Jangan ikut campur ya! Itu urusanku dan Akmal! Sama sekali tak ada hubungannya degan Anda! Akan kupastikan jika kita tak akan bertemu lagi!" tandasku.
"Aku juga berharap seperti itu. Kepalaku pusing meladeni kamu! Urat leherku tegang, bibirku juga keram akibat terlalu banyak bicara," timpalnya.
...⚘️⚘️⚘️...
Akhirnya sampai juga di kafe semula. Tak kusangka, Akmal masih menungguku. Dia berdiri di depan di pos keamanan.
"Yank, kamu mengantar dia berobat?"
"Ya, aku mewakili kamu, Bang. 'Kan kamu yang sudah bikin dia terluka."
Aku mengabaikan Akmal, lebih memilih berjalan ke parkiran untuk mengambil mobilku. Pak Sabil tak berkomentar, ia hanya menatapku. Harusnya, Akmal meminta maaf pada pak Sabil, kan? Tapi, dia tak melakukannya.
"Yank, kita belum selesai bicara, 'kan?"
Akmal menyusulku. Sementara pria itu menutup kaca mobilnya. Entah masih melihatku atau tidak, aku tak peduli lagi.
"Bang, ini sudah malam, kita bicarakan lagi nanti ya. Aku malas berdebat." Saat aku hendak masuk ke mobilku, Akmal menahan tanganku.
"Yank, tunggu dulu. Kamu tak bisa seperti ini! Apa kamu jadi kayak gini gara-gara pria beseragam itu? Kamu silau sama seragamnya?"
"Apa?! Bang, sudah berapa kali kamu menuduhku yang bukan-bukan?! Aku bertemu dia tak sengaja! Kebetulan!" sanggahku.
"Lepaskan, Bang! Aku mau pulang!"
"Tidak yank! Aku tidak akan melepaskan kamu!" Malah mencekal tanganku semakin kuat.
"Bung, tak baik memerlakukan wanita seperti itu." Dia tiba-tiba datang. Melipat kedua tangan di dadanya.
"Jangan mencampuri urusanku! Jangan mentang-mentang Anda polisi jadi merasa di atas angin!"
Aku menatap keduanya. Sedikit khawatir terjadi perkelahian lagi.
"Bung, tadi dia sudah mengatakan mau segera pulang. Lagi pula, tak baik juga seorang gadis masih berkeluyuran di jam segini."
"Halah, Anda jangan sok peduli! Aku tahu yang Anda pikirkan! Anda tertarik karena cewekku cantik dan seksi, 'kan? Aparat di negeri ini, rata-rata keparat!" tuduhnya.
"Jaga bicara Anda, Bung!" Kepalanya menggeleng. Namun aku yakin kalau dia berusaha menahan emosinya.
"Bang, jangan membuat keributan lagi. Kita bicarakan di lain waktu." Aku bergegas ke dalam mobil setelah Akmal melepas genggamannya.
Dari balik kaca spion, aku melihat jika mereka bertatap-tatapan dan berbincang. Mereka pria dewasa. Kurasa, perkelahian karena salah faham itu, tidak akan terjadi lagi.
...⚘️⚘️⚘️...
Aku sengaja mengambil cuti satu hari agar besok bisa libur. Pulang kerja, rencananya mau ke rumah pak Aksa untuk bertemu Daini. Seperti biasa, rekan kerjaku tetap cuek. Aku tak peduli. Yang penting, aku masih bisa bekerja di perusahaan ini dan mendapatkan gaji. Toh, persahabatanku dan Daini sudah terjalin sebelum ia dan pak Direktur menikah.
...⚘️⚘️⚘️...
Tiba di rumah pak Aksa, seperti biasa, aku harus melewati serangkaian pengecekan untuk memastikan jika yang masuk ke rumah ini bukan orang jahat.
"Kak Listi."
Seseorang memanggilku. Siapa lagi kalau bukan Daini. Aku lantas menoleh, kulihat ia sedang menemani pak Aksa menikmati udara senja di taman samping rumah. Pak Aksa duduk di kursi roda ditemani dua orang suster.
Aku beranjak ke sana setelah memarkirkan mobilku. Lalu memberi salam, dan bersalaman dengan mereka.
"Ini yang namanya Listi? Sudah sering ke sini, 'kan?" kata pak Aksa. Pasca kecelakaan itu, menurut informasi, daya ingatnya memang agak berkurang.
"Ya, Pak. Aku bestienya Neng Daini."
"Ya, Papa. Kak Listi memang sudah sering ke sini," sahut Daini.
"Wah, kamu sudah memanggilnya 'papa'?" Aku sedikit terkejut.
__ADS_1
"Ya, 'dong. Kalau Neng Daini enggak panggil 'papa,' Papa tidak mau minum obat," timpal pak Aksa sambil tersenyum. Ia benar-benar sayang pada Daini. Siapa 'sih yang tak mau punya mantu kayak Daini?
"Ya sudah, kita ke dalam yuk!" ajak Daini.
Lalu suster mendorong kursi roda. Perut Daini sudah membesar. Namanya juga hamil kembar, pastilah terlihat lebih besar dari usia kehamilan pada umumnya.
.
"Neng, pak Direktur belum pulang?" tanyaku saat aku dan Daini sudah berada di kamar tamu. Kamar ini biasa kugunakan saat bermain ke rumah ini.
"Belum, Kak."
"Perasaan, tadi sudah pulang dari jam empat sore. 'Kok belum datang ya?"
"Serius, Kak?" Daini langsung khawatir.
"Kamu tenang saja, coba telepon dulu."
"Tadi, sekitar jam setengah lima sore, aku sudah telepon, Kak. Tapi tak diangkat."
"Sibuk kali, Neng. Apa mungkin mau ke rumahnya bu Dewi?" tanyaku.
"Astaghfirullah, ya ampun, Kak. Aku baru ingat, tadi pagi pak Zulfikar bilang mau menginap di rumah bu Dewi. Hari ini memang jadwal ia bersama bu Dewi. Pak Zulfikar juga bilang mau menemani bu Dewi USG."
"Hahaha, kamu bagaimana 'sih? 'Kok bisa lupa?" Aku menyentil pelan kening mulusnya.
"Namanya juga manusia, Kak."
"Kamu mau cerita apa 'sih? Oiya, aku punya kejutan untuk kamu."
"Kejutan? Kejutan apa, Kak? Jangan bikin aku penasaran."
"Ayo tebak."
"Emm, apa ya?"
"Malam ini, aku sudah dapat izin dari ibuku untuk menginap di sini. Terus, besok aku tidak masuk kerja."
"Be-benarkah?" Mata beningnya berbinar.
"Ya, Neng. Aku sengaja ambil cuti supaya bisa menemani kamu berkunjung ke kontrakan. Oiya, tanaman cabai dan tomatnya sudah berbuah tahu, Neng. Malah sudah ada yang merahnya."
"Yey, asyik. Terima kasih, Kak Listi. Karena tidak ada pak Zulfikar, berarti Kak Listi bisa tidur di kamarku."
Dia langsung memelukku. Kemudian mengacak-acak rambut pendekku. Dia memang seperti itu, kalau lagi senang dan berada di dekatku, selalu mengacak rambutku.
"Kak Listi, katanya mau dipanjangin rambutnya? Ini 'kok dipotong lagi?"
"Lupa, Neng. Kebiasaan dipotong pendek. Jadi, pas ke salon, malah aku potong pendek lagi. Hehehe."
"Kakak itu cantik, lho. Apa Kakak tak sadar?"
"Jangan begitu, Neng. Yang cantik itu kamu. Jangan memujiku ya, takut hidungku terbang."
"Kenyataannya memang begitu, Kak. Ya sudah, ke kamarku yuk, Kak. Sebentar lagi Maghrib. Kita shalat berjamaah ya."
"Siap."
.
Di perjalanan menuju kamar Daini, aku bertemu bu Yuze. Aku bersalaman seraya memandangnya kagum. Bu Yuze terlihat fresh dan cantik. Ya, namanya juga horang kayah.
"Mama, besok aku mau berkunjung ke kontrakan sama Kak Listi."
Hebat, sekarang bu Yuze juga sudah dipanggil 'mama' sama Daini.
"Boleh, tapi didampingi sama pengawal ya, Neng." Sambil menatap wajah Daini.
Tak hanya itu, bu Yuzepun merapikan jibab Daini yang agak miring. Keluarga Antasena rupanya sudah ter-Daini-Daini. Mereka telah terpikat oleh pesona mojang parahyangan.
"Terima kasih, Mama. Aku mau memanen cabai dan tomat, Ma."
"Panen? Wah, kamu hebat sekali, Neng. Bisa ya sampai berbuah. Jadi tak sabar, Mama mau lihat hasil panennya." Sekarang sambil mengusap perut Daini.
.
Tiba di kamar Daini, kebiasaanku tak berubah. Langsung membuka kulkasnya.
"Ya ampun, Neng. Kamu betah pastinya jadi pemilik kamar ini."
"Alhamdulillah, tapi ini bukan milikku, Kak. Hanya saja, aku dapat kesempatan untuk menikmatinya." Sambil mengambil minuman dan camilan untukku.
"Oiya Neng, kalau pak Dirut sedang tidak bersama kamu, kamu suka sedih tidak 'sih?"
"Emm, tidak, Kak. 'Kan pak Zulfikar sedang melaksanakan kewajibannya bersama bu Dewi."
"Hebat kamu, Neng."
"Tidak hebat, Kak. Terkadang, aku juga sedih dan ingin menolak takdir ini. Tapi, kembali lagi pada hakikat seorang manusia, kita hanya bisa berencana."
"Setuju," kataku.
__ADS_1
...⚘️⚘️⚘️...
...~Tbc~...