Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Tamparan Keras


__ADS_3

Daini Hanindiya Putri Sadikin


Aku menikmati alunan rintik hujan dalam keadaan masih terbaring menghadap balkon. Ini seperti kamar hotel. Siapa sangka jika kamar ini adalah ruangan khusus yang diperuntukkan bagi pasangan yang akan mengikuti program bayi tabung.


Hujan di siang ini cukup besar. Uniknya, curahannya dibiarkan mengalir melewati kaca balkon. Mataku terus menatap ke sana. Ke pucak gedung-gedung yang terhalang kabut. Aku bergelung hangat di bawah selimut.


Setelah melayaninya, aku terlelap. Biasanya langsung mandi, tapi kali ini, entah kenapa, aku malas mandi. Berniat akan mandi nanti saja. Udara yang dinginpun menjadi salah satu alasan kenapa aku jadi semalas ini.


Dari balik selimut, aku mengelus perutku. Tadi, tangan hangat pak Zulfikar masih memeluk tubuhku. Aku tak sadar kapan pak Zulfikar pergi. Jadi, aku tak mengetahui alasan kenapa dia pergi tanpa memberitahu atau membangunkanku terlebih dahulu.


Lalu akupun merenung karena ingat dengan sikap pak Zulfikar. Tadi, saat menampung spesimennya, dia seolah ragu. Malah sempat berkata ....


"Sayang, aku ragu. Aku sebenarnya belum yakin seratus persen dengan program bayi tabung ini."


"Bismillah, Pak. Semoga program ini menjadi pelantara kebaikan untuk bu Dewi dan juga untuk kedua belah pihak. Maksudku, dengan bu Dewi hamil, pewaris keluarga Antesena tidak akan dipandang sebelah mata lagi. Sebab, anak Anda bersama bu Dewi beda status dengan anak-anak yang lahir dari rahimku. Biar bagaimanapun, keluarga Anda dan keluarga bu Dewi adalah keluarga terpandang. Jadi, mau tidak mau, status ahli waris dan penerus keluarga harus diperhitungkan," jelasku pada saat itu.


Mendengar pendapatku, pak Zulfikar hanya menghela napas sambil mengangguk. Lalu memelukku dan melamun. Entah apa yang dia pikirkan.


"Kenapa, Pak?" tanyaku kala itu.


"Emm ... tidak apa-apa, sayang. Aku hanya ingin melamun. Tak masalah, kan?"


"Ingin melamun? 'Kok ada ya orang yang sengaja ingin melamun? Baru kali ini aku mendengar istilah ingin melamun."


"Terus, aku harus bilang ingin bercinta lagi, begitu?" Malah berguyon.


"Ya sudahlah, kalau Anda ingin melamun, ya silahkan saja. Lanjutkan."


Lalu aku membalikan badan untuk menghadapnya.


"Karena ada adek kembar, jadi tak bisa memelukmu secara bebas," ungkapnya. Lantas dia kembali menciumi perutku.


Aku jadi tersenyum saat mengingatnya. Tapi, aku agak kesal. Alasannya karena dia melarangku memakai kembali busanaku.


"Nanti saja, sayang, larangnya.


"Kapan?" tanyaku.


"Emm, pokoknya nanti saja. Masih ingin memeluk kamu dalam keadaan seperti ini," jawabnya.


Akupun patuh. Lantas bergelung manja dalam dekapan hangatnya. Aku juga menghidu aroma tubuhnya yang hingga saat ini belum lekang dari indra penciumanku. Ya, wangi khas tubuhnya masih menempel di bantal dan guling. Body spray miliknya memang tak biasa. Aku pernah tak sengaja melihat bill notes belanjaannya. Harga parfumnya mahal sekali.


Aku pernah ingin melarangnya membeli atau menggunakan barang-barang mahal. Tapi, setelah dipikir-pikir, aku merasa tak ada hak melarangnya. Dia kaya-raya. Mungkin, gaya hidup orang kaya memang seperti itu. Dia juga pernah berkata ....


"Ini tak mahal, 'kok. Masih banyak yang harganya jauh lebih malah daripada ini. Aku bukan tipe orang yang gila brand. Yang penting fungsinya sama dan aku menyukainya."


"Hmm, lama sekali."


Pak Zulfikar ke mana ya?


Aku kembali merindukannya. Padahal, kami baru saja bersama-sama melewati hal yang indah dan menyenangkan. Ya ampun, kalau diingat-ingat, suka malu sendiri.


Katanya, dia juga sudah melakukan itu dengan bu Dewi. Tak masalah. Sebab, aku dan bu Dewi adalah istri-istrinya.


Berarti, pak Zulfikar kuat ya?


Buktinya, dia bisa melayani dua wanita dalam waktu yang berdekatan.


Tunggu.


Jika pak Zulfikar sudah tidur terlebih dahulu dengan bu Dewi, harusnya ... rambut dia basah, 'kan? Tapi, 'kok, tadi tak basah? Badannya juga tak berbau sabun. Rambutnya tak wangi shampo, dan aroma yang kucium tadi adalah minyak rambutnya. Aku menautkan alisku.


Mungkin, sudah kering kali ya? Pikiranku mencelos ke mana-mana. Apa mungkin pak Zulfikar lupa? Maksudku, lupa belum mandi wajib dulu?


...⚘️⚘️⚘️...


'Tok tok tok.' Ada yang mengetuk pintu kamar.


Siapa ya? 'Kok tak mengucap salam? Apa dia dokter? Suster? Apa mungkin pak Zulfikar? Aduh, bagaimana ini? Aku masih polos.


"Se-sebentar," sahutku.


Segera beranjak dari tempat tidur. Sedikit meringis karena merasakan sesuatu. Pak Zulfikar ternyata sudah merapikan bajuku, diletakan di lemari gantung. Aku menggulung tubuhku dengan selimut.


'Tok tok tok.'


Pintu diketuk lagi. Bunyinya lebih kencang dari sebelumnya.


"Maaf, siapa ya?" tanyaku dengan suara lantang. Pikirku, pak Zulfikar tak pernah mengetuk pintu tanpa mengucap salam.


"Aku Dewi! Cepat buka pintunya!"


Deg, aku terkejut. Saking kagetnya, baju yang baru saja kupegang sampai terjatuh.


"Cepat buka Daini! Atau aku teriak!"


"Y-ya, Kak."


Karena khawatir bu Dewi menimbulkan keributan, aku segera mendekati pintu. Baru sempat memakai jilbab. Sementara tubuhku masih ditutupi selimut. Pintu kamar ini memang seperti hotel, jika ditutup dari luar, akan otomatis terkunci.

__ADS_1


Bu Dewi masuk tergesa. Wajahnya merah-padam. Aku menutup pintu dalam keadaan bingung dan takut.


"K-Kak ...." Aku tak tahu harus mengatakan apa.


"Jadi kamu di sini?! Sudah kuduga! Pantas saja tak ada di kamar tunggu!" teriaknya sambil menatapku dari ujung kepala sampai ke kaki.


"K-Kak, aku ---."


"Hey! Apa kamu tidur dengan suamiku?!" selanya. Mendekat dan menatap tajam selimut yang menutupi tubuhku.


"Bu ... emm ... K-Kak ... a-aku ---."


'PLAK.' Bu Dewi menamparku. Tatapan matanya merah berkobar.


"Ahh ...." Aku spontan mengaduh, memegang pipiku.


"Gila kamu ya?! Kamu bahkan masih b u g i l?! Dasar pelakor!" Sekarang menarik jilbabku


"Kurang ajar! Kenapa kamu tidur sama suamiku, hahh?!" Lalu menarik tanganku. Aku menahan diri agar selimut yang kugunakan tidak terlepas.


"Kak, a-aku melakukannya karena pak Zulfikar yang meminta. Katanya, mau untuk memilih spesimen yang paling bagus," terangku.


"Dasar gatal!"


'PLAK.' Kembali menamparku. Aku tak melawan. Terus memegang erat selimut.


"K-Kak, a-aku istrinya. Aku juga berhak memiliki pak Zulfikar."


"Sudah berani melawanku kamu ya?! Dasar wanita tak tahu diri!"


Bu Dewi sepertinya hendak mencakar wajahku. Aku menghindar. Berlari sebisaku. Tujuanku kamar mandi. Semoga pak Zulfikar cepat datang.


"Jangan lari kamu, j a l a n g!" Bu Dewi mengejar.


Dia berhasil menangkap tubuhku saat aku nyaris memegang handle pintu kamar mandi.


"Kak, ampun. Ma-maaf." Aku berlutut. Maksudnya untuk melindungi perutku.


"Sekarang jawab! Apa mas Zul tak ada masalah saat meniduri kamu?!" Memegang daguku hingga kepalaku menengadah.


"Ma-maksud Kak Dewi a-apa?"


"Jangan pura-pura polos! Cepat jawab!"


"A-aku tak faham maksud Kakak. Su-sungguh."


Pak Zulfikar tiba. Bu Dewi terkejut. Dia menghentak kepalaku. Hampir saja kepalaku terbentur dinding. Saat bu Dewi lengah karena menoleh ke pintu keluar, aku segera masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya.


Di dalam kamar mandi, jantungku berdegup kencang. Aku menahan diri agar tak menangis. Namun faktanya, air mata ini tetap terurai.


"Huks."


"Di mana Hanin?"


Sepertinya, bu Dewi membukakan pintu dan pak Zulfikar telah masuk ke dalam kamar. Aku tak berniat menguping, namun percakapan mereka terdengar jelas.


"Dia lagi mandi! Mas, kenapa kamu membohongi aku?! Apa kamu menyerahkan spesimen dari hasil meniduri si Daini?!"


"Kalau ya memangnya kenapa? Tak ada salahnya, 'kan?"


Aku terkejut setelah mendengar penjelasannya. Karena setahuku, pak Zulfikar sengaja melakukannya untuk memilih spesimen yang terbaik.


Apa dia membohongiku? Apa pak Zulfikar belum melakukannya dengan bu Dewi?


"Kamu menyakiti perasaanku, Mas! Kamu membohongiku! Kamu bilang akan mengambil spesimen dengan cara kamu sendiri! Kenapa jadi menggunakan pelantara si Daini?! Aku tak sudi, Mas! Aku tak sudi sel telurku dibuahi dari spesimen hasil perzinaan antara kamu dan si Daini!"


Astaghfirullah ....


Kebencian bu Dewi terhadapku ternyata sudah mendarah daging. Tega-teganya ia menuduh jika aku dan pak Zulfikar melakukan zina. Kalimat itu membuat hatiku sakit hingga air mata ini kian deras saja.


"Aku lelah bertengkar terus dengan kamu, Wi. Mau bagaimana caranya, itu adalah hakku. Lagi pula, aku sudah mencoba melakukannya dengan kamu. Tapi tak berhasil, kan? Sudahlah, aku lelah. Kita sudahi perdebatan ini. Aku telah mengabulkan permintaan kamu. Harusnya, masalah ini tak perlu diperdebatkan lagi."


"Tidak bisa Mas! Cepat batalkan spesimen yang tadi kamu berikan! Aku maunya diganti dengan spesimen baru! Lebih baik kalau diambil langsung oleh dokter!"


"Wi, tolong jangan memaksaku! Aku tak mau!" tolak pak Zulfikar.


"Baik, oke! Kalau kamu tak mau, itu artinya, kamu sudah siap dengan konsekuensinya, Mas!"


"Maksud kamu?"


"Ingat Mas! Vidio itu ada di tanganku!"


Vidio? Aku tak mengerti. Maksudnya vidio apa ya?


"Dasar licik! Aku benar-benar menyesali perjodohan ini!"


"Hahaha, jadi kamu setuju untuk diambil sampel ulang?"


"Baik, aku setuju!" tegas pak Zulfikar.

__ADS_1


"Nah begitu dong, Mas. Prosedurnya tak sakit 'kok, Mas. Kata dokter, rasanya seperti disuntik biasa."


"Aku sudah menyetujuinya. Jadi, tidak ada yang harus kita bicarakan lagi, 'kan? Kalau begitu, silahkan kamu keluar!"


"Aku mau tetap di sini, Mas. Aku harus memastikan jika dokter telah mengambil spesimen dari tubuh kamu. Aku tak mau dibohongi lagi."


"Baik, tapi tolong jangan melakukan hal yang bisa membuatku marah lagi. Di kamar ini ada Hanin. Tolong jaga sikap kamu."


"Jaga sikap? Maksud kamu menjaga sikap pada si Daini? Hahaha, jangan mimpi, Mas. Sampai kapanpun, aku tak ada niatan untuk memperlakukan si Daini dengan baik. Lagi pula, selain pelakor, dia juga lebih muda dari aku. Hukum alam berlaku, Mas. Yang muda harus menghormati yang lebih tua."


"Ya sudah, terserah kamu saja. Sayaaang," panggil pak Zulfikar. Dari suaranya, aku yakin kalau dia mendekat ke kamar mandi.


"Romantis sekali kamu memanggil dia 'sayang.' Mana panggilan 'cinta' yang biasanya kamu gunakan untuk memanggilku, Mas? Kamu tak adil."


"Aku juga inginnya menggunakan kata 'cinta' lagi. Tapi kamu harus introspeksi diri dulu."


"Kamu yang harusnya introspeksi diri, Mas. Bukan aku."


"Haniiin," kembali memanggilku.


"Aku belum selesai. Masih lama," sahutku.


"Jangan lama-lama, takut masuk angin," katanya.


...⚘️⚘️⚘️...


Setelah itu, aku tak bisa mendengar percakapan mereka lagi. Pertengkaran pak Zulfikar dan bu Dewi membuatku semakin merasa bersalah. Walaupun sikap bu Dewi keterlaluan, tapi ... aku tak bisa membencinya.


Sambil membersihkan diri, aku melamun karena terpikirkan masalah vidio yang dikatakan bu Dewi. Benar, aku harus mencari tahu. Harus menanyakannya pada pak Zulfikar.


"Sayang, ini bajunya."


Ternyata, pak Zulfikar menyadari kalau bajuku masih berada di lemari gantung. Syukurlah. Aku membuka pintu perlahan. Sejenak melongokan kepala.


"Tenang, Dewi tak ada di sini." Pak Zulfikar mengulurkan bajuku.


"Dewi dipanggil dokter," tambahnya.


"Oh, terima kasih, Pak." Mengambil pakaianku.


"Hanin, tunggu." Malah masuk ke kamar mandi.


"Bapak sudah mandi, 'kan? Cepat keluar," usirku.


"Kenapa pipi kamu merah?" Dia tak memedulikan ucapanku. Fokus ke bekas tamparan bu Dewi.


"Ini seperti bekas tamparan. Dewi menampar kamu?" duganya sambil menangkup pipiku.


"Ti ---"


"Jangan berbohong. Jangan menutupi hal apapun dariku, Hanindiya. Mengerti?" tegasnya. Wajahnya tampak gusar.


"Benar, 'kan Dewi menampar kamu?"


"Emm ...." Aku menunduk sambil memegang ujung handuk yang terlipat di bagian dadaku.


"Dewi benar-benar keterlaluan! Aku harus membuat perhitungan!"


"Pak, tunggu." Aku memegang tangannya saat ia hendak beranjak.


"Jangan mencegahku," katanya. Menepis tanganku.


"Pak, ja-jangan pergi." Aku inisiatif memeluk punggungnya hingga langkahnya terhenti.


"Bu Dewi akan melewati proses transfer embrio. Tolong jangan membuatnya stres. Bapak sabar ya. Aku tak apa-apa, 'kok. Pipiku baik-baik saja."


"Tapi sayang, Dewi sudah melampaui batas. Padahal, aku sudah sering memperingatinya agar tidak menyakiti kamu."


"Aku tahu, Pak. Tapi, apa Bapak yakin tindakan Bapak dapat merubah sikap bu Dewi? Belum tentu, 'kan? Hematku, lebih baik kalau Bapak tak melawannya. Pak, sama sepertiku, bu Dewi juga butuh dukungan dan perhatian dari Anda."


"Sayang, kamu tak mengerti."


"Jika api yang menyala bisa dipadamkan dengan air, kenapa kita tidak menjadi air saja? Maksudku, jika bu Dewi sebagai apinya, kita harus berperan sebagai airnya.


"Baiklah, aku akan mengikuti saranmu." Pak Zulfikar mengecup pipiku yang memerah.


"Ya sudah, aku mau ke apotik dulu. Maaf, tadi tak memberitahu kamu, kamunya lelap. Aku tak tega mengganggu tidur kamu. Oiya, di kamar tunggu sudah disediakan makanan. Tadi dibawa sama pengawal. Setelah ini, kamu tunggu aku di kamar tunggu ya." Lagi, mengecup pipiku.


Aku mengangguk. Rasanya, ingin bertanya tentang vidio itu. Tapi, aku merasa jika saat ini waktunya kurang tepat. Lain kali saja.


"Oiya sayang, terima kasih untuk yang tadi." Sambil mengulum senyum.


"Terima kasih untuk apa?"


"Untuk semuanya. Karena keberadaanmu membuatku lebih kuat dan sabar."


"Sama-sama," sahutku. Lalu mencium tangannya sebelum pak Zulfikar pergi.


...~Tbc~...

__ADS_1


__ADS_2