Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Menyelamatkanmu


__ADS_3

"Uhhmm ...."


Aku mencubit pelan lengannya sebab pagutannya semakin tak terkendil. Dia bahkan kembali menggiring tubuhku ke tempat tidur. Tangannya menyentuh bagian tubuhku sekehendak hatinya. Dia tak mengindahkan bahasa penolakanku. Tetap menautkannya lagi dan lagi.


Hingga akhirnya, tubuh inipun kalah, melemas dan pasrah. Aku tak berkutik saat pak Zulfikar menatap nanar pada tubuhku dan hendak menanggalkan kembali busanaku. Tapi, saat ada kesempatan, aku segera menahan tangannya.


"Ja-jangan, Pak," larangku.


"Tapi ... kamu milikku, Hanindiya. Tubuhmu dan semua hal yang ada padamu adalah milikku, sayang. Hanin, a-aku tak bisa membayangkan saat hari itu tiba. Kuharap masa nifasmu tak pernah terjadi," ungkapnya. Dia menatapku lekat-lekat.


"Anda lucu. Tenang saja, aku yakin Anda pasti bisa melupakanku," kataku sambil merapikan bajuku yang terbuka sebagian.


Untung saja pak Zulfikar tidak melanjutkan menjamah tubuhku. Mungkin dia sadar kalau dilakukan lagi bisa berisiko untuk kandunganku. Dia tak merespon apa yang kukatakan. Kini, ekspresi wajahnya berubah datar. Lalu ia berjalan lunglai menuju kamar mandi.


"Bapak mau mandi sekarang? Apa mau pakai air hangat?" tanyaku. Saat kami di Bandung, dia pernah meminta mandi menggunakan air hangat.


"Ada keran air hangatnya," jawabnya tanpa menolehku.


"Oiya, maaf, aku lupa."


Aku mematung di depan pintu kamar mandi. Aku khawatir sebab air mata pak Zulfikar masih berlinangan. Aku merasa sedikit bersalah karena terlalu cepat mengatakan hal ini.


Beberapa saat kemudian, dia akhirnya keluar dari kamar mandi. Hanya mengenakan handuk minimalis yang menutupi batas auratnya. Rambutnya basah, bahkan masih meneteskan air.


"Biar aku keringkan," tawarku.


Segera mengambil handuk kecil dan berjinjit untuk mengeringkan rambutnya. Dia diam saja, namun terus menatap wajahku. Tangannya melingkar di pinggangku. Aku sedikit salah tingkah, tapi tetap berusaha tenang.


"Sudah kering, akan aku ambilkan baju untuk Anda."


"Dadaku masih basah, bisa lap dadaku?" pintanya.


"Emm, bi-bisa." Serius, tanganku gemetar saat mengelap setiap lekuk di dadanya.


"Tolong berikan kecupan di sini, bisa?" Sambil menunjuk lehernya.


"A-apa? Aku ---."


"Cepat lakukan saja," titahnya lagi.


"Ba-baik," lagi-lagi aku kalah. Aku berjinjit untuk mengecup lehernya.


"Yang kuat ya sayang, aku suka kalau bekasnya bertahan lama, a---arrghh ...," pekiknya saat aku mengabulkan permintaannya.


"Su-sudah," kataku. Ya ampun. Permintaannya ada-ada saja.


"Terima kasih," ucapnya sambil becermin dan memeriksa hasilnya.


Aku lantas berjalan menuju almari untuk mengambil bajunya.


"Oiya sayang, bajuku tidak ada di sini, ada di lantai tiga semua," jelasnya.


"Oh," aku mematung.


"Aku saja yang ambil, kamu tetap di sini. Jangan keluar dari kamar sebelum aku kembali."


"Silahkan," ucapku. Lagi pula, mana berani aku ke kamarnya bu Dewi.


Tatapan pak Zulfikar kembali sendu. Ya, setelah aku mengatakan rencana perpisahan itu, dia terlihat tidak bersemangat.


"Aku tidak akan lama, hanya mengambil baju dan shalat," katanya.


"Pak tunggu, Bapak mau keluar kamar hanya dengan memakai handuk itu?" Aku menatap penampilannya.


"Biarkan saja, kalaupun ada yang melihatku, aku tak peduli. Sekalian saja aku tunjukkan pada mereka kalau aku baru saja meniduri kamu," terangnya, datar. Lalu keluar dari kamarku dan mengambil kunci yang tergantung.


"Pak," panggilku. Merasa heran karena dia mengambil semua kunci.


"Aku mau kunci dari luar," katanya.


"Apa? Jangan, Pak!" teriakku.


Tapi dia seolah tak mau mendengarku. Benar-benar berniat untuk mengurungku di kamar ini. Aku menghela napas, sikapnya yang seperti ini membuatku khawatir. Haruskah aku tetap di sini sampai melewati masa nifas? Bukankah jika aku terus bersamanya rasa ini akan semakin terikat?


Lalu, akupun tersadar. Harusnya, aku menolak permintaannya. Harusnya, hari ini aku tetap pulang ke Bandung bersama ummi dan abah. Benar, aku harus merubah strategi dan memberinya alasan agar tak perlu tinggal di sini.


.


Pak Zulfikar kembali ke kamarku saat aku baru saja selesai shalat Subuh. Dia sudah rapi dengan kemeja dan dasinya, tapi belum memakai jas.


"Menunggu lama?" tanyanya.


"Tidak," jawabku sambil merapikan mukena.


"Mau kerja?" tanyaku, canggung.


"Ya, tapi berangkatnya nanti setelah abah dan ummi pulang. Katanya, abah dan ummi mau pulang jam tujuhan."


Dia duduk di sisi tempat tidur, lalu meraih tissue dan mengelap bibirnya. Saat kuperhatikan, bibirnya ternyata memerah. Sepertinya ada bekas lipstiknya bu Dewi. Jadi, tadi mereka ---. Aku mengelus dadaku. Aku tak boleh cemburu.


"Maaf ya sayang, tadi belum sempat dilap, Dewi yang memaksa menciumku. Dia memang suka memaksa," katanya sambil melempar tissue tersebut ke tempat sampah.


"Tak masalah," kataku.


"Kita sarapan yuk!" ajaknya. Mengulurkan tangan. Tapi, aku tak meraih tangannya.


"Pak, maaf, a-aku ingin membicarakan sesuatu," aku memberanikan diri duduk di sampingnya.


"Sesuatu? Apa itu? Mau beli sesuatu? Mau makan sesuatu?"


"Tidak, Pak. Bukan itu. Ini masalah yang semalam." Aku menunduk, memikirkan kalimat tepat untuk memberikan pengertian kepadanya.


"Katakan sayang, ada apa?"


Dia mendekat. Lalu memeluk bahuku. Nada bicaranya sangat pelan. Raut kesedihan tergambar jelas di wajahnya. Apa mungkin dia terus memikirkan rencana perpisahan itu?


"Aku tak jadi tinggal di sini. Aku mau pulang saja." Aku tak pandai berbasa-basi. Jadinya to the point.


"A-apa? Hanin, bukankah kamu sudah sepakat untuk tetap di sini? Kenapa?" tanyanya sambil memasygul rambutnya. Padahal, tadi rambutnya sudah rapi. Sekarang jadi acak-acakan.


"Aku ingin melatih diriku jauh dari Bapak. Aku tak ingin semakin ketergantungan. Dengan aku di Bandung, Anda juga bisa melatih diri Anda sendiri. Maksudnya, ke depannya ... Bapak akan terbiasa tak bersamaku."


"Tidak bisa Hanin," selanya.


"Harus bisa," tegasku.


"Tidak! Tetap tidak bisa!" teriaknya.


Lalu ia berdiri dan gelisah. Dia berjalan mondar-mandir ke sana ke mari. Jujur, aku mengkhawatirkannya. Ingin memeluk dan menenangkannya. Tapi, mulai hari ini, aku harus berpura-pura tak peduli. Dengan perubahan sikapku, kuharap rasa cintanya untukku akan memudar. Hingga saat hari peceraian itu tiba, pak Zulfikar akan menceraikanku dengan ikhlas.

__ADS_1


"Aku mau bertemu ummi dan abah," kataku. Lalu berjalan ke balik tirai untuk mengambil koperku. Melihat koperku, pak Zulfikar semakin panik.


"Sayang, k-kamu serius?" Menahan koperku.


"Serius, Pak," sambil menyingkirkan tangannya dari koperku.


"Hanin, aku tak bisa mengikhlaskan kamu pergi." Malah memelukku.


"Lepaskan!" pekikku. Aku berusaha mendorong dadanya. Tapi, dia malah memelukku kian erat.


"Lepaskan, Pak! Ahh, aduh perutku sakit," keluhku. Padahal, sama sekali tidak ada yang sakit.


"Sa-sakit? Bagian mana yang sakit sayang? Maaf ya." Aktingku membuahkan hasil, dia langsung melepasku. Sekarang berlutut sambil memeriksa perutku.


"Jangan pegang-pegang!" tolakku. Aku menghindar. Segera menarik koper dan berjalan cepat keluar kamar.


"Ha-Hanin, a-aku saja yang bawa kopernya." Karena aku memaksa, dia akhirnya mengalah, merebut koper dari tanganku.


Akhirnya, kami keluar dari kamar dalam kondisi diam-diaman. Pak Zulfikar menunduk sambil menarik koper, akupun menunduk, berjalan di belakangnya.


"Maaf, aku ingin memegang tanganmu," katanya. Dia balik badan. Dan percayalah, saat dia berhasil memegang tanganku, aku kesulitan melepasnya lagi. Genggamannya kuat. Hatiku berdesir saat melihat matanya berkaca-kaca.


.


Aku dan pak Zulfikar sampai di meja makan. Di ruangan ini belum ada siapapun. Hanya ada bu Juju yang sedang menyajikan makanan.


"Yang lain mana, Bu?" tanya pak Zulfikar. Masih dalam keadaan menggenggam tanganku.


"Ada di ruang tamu, Pak. Sedang mengobrol," jawab bu Juju.


"Ya sudah Bu, aku juga sarapannya nanti saja bareng yang lain. Ini kopernya Hanin, tolong amankan dulu ya Bu," katanya. Lalu menuntunku menuju ruang tamu.


"Pak, apa yang akan Anda lakukan?" Perasaanku tak tenang.


"Aku ingin membahas masalah yang semalam sayang."


"Pak, ini masih pagi, jangan membuat keributan," aku menghentikan langkahku.


"Aku tak peduli, sayang," jawabnya.


"Tapi, Pak ---."


"Sssttt, aku hanya ingin mengutarakan pendapatku. Kamu cukup diam saja," tegasnya. Posisi kami hampir sampai di ruang tamu.


...***...


"Neng Daini, Zul," setibanya di ruang tamu, pak Aksa langsung menyapa.


"Bagaimana? Apa tidurnya nyenyak?" tanya mama Yuze. Aku mengangguk. Pak Ihsan, abah dan ummi menatapku sambil tersenyum. Mata ummi tampak sembab.


"Duduk sayang," kata pak Zulfikar.


Aku patuh, duduk di kursi yang berdekatan dengan ummi. Dia melepas genggamannya lalu duduk di sisiku dan menatap pada pak Aksa dan bu Yuze secara bergantian.


"Kenapa Mama dan Papa pura-pura baik?! Aku kecewa!" Langsung mengatakan kalimat itu tanpa prolog apapun. Semuanya menatap pak Zulfikar, kecuali aku.


"Zul, kamu kenapa? Kurang tidur?" Mama Yuze menatap pak Zulfikar sambil memegang tangan pak Aksa.


"Tak perlu pura-pura polos Ma! Siapa yang memberikan ide gila ingin mengadopsi anakku?!" teriaknya.


"Ide Mama, memangnya kenapa?! Tak ada yang salah, kan?!" Bu Yuze berdiri.


"Zul, tenang, Nak. Kita tak memaksa 'kok. Kalau Neng Daininya tak mau, ya tak apa-apa," sela pak Aksa sambil menarik tangan bu Yuze agar kembali duduk.


"Ya, bagi Mama dan Papa memang tak apa-apa! Tapi bagiku ini masalah besar! Gara-gara ide Mama, Hanin ingin becerai dan pergi dari rumah ini!" teriaknya, berapi-api. Tangannya mengepal.


"Apa?! Daini mau pergi dari sini?!" Mama terkejut. Ummi dan abahpun langsung menatapku.


"Ya, Pak, Bu, hari ini ... aku memang mau ikut pulang ke Bandung. Aku ingin jadi orang tua tunggal. Selesai masa nifas, aku dan Pak Zulfikar akan becerai," terangku.


"Tidak boleh, Neng. Kamu tetap di sini, ya. Papa tak sepakat," kata pak Aksa.


"Saya juga tak sepakat," sela bu Yuze.


"Lihat! Semuanya jadi kacau! Padahal, aku sangat bahagia saat Mama dan Papa ingin membawa Hanin ke rumah ini! Tapi Mama dan Papa malah mengacaukan semuanya! Mama dan Papa merusak kebahagiaanku!"


Pak Zulfikar kembali memegang tanganku. Aku menepis tangannya dan bergeser menjauh. Aku menahan diri agar tetap teguh pada pendirianku. Ummi memelukku.


"Kalau Daini sudah memutuskan untuk seperti itu, sebagai orang tua, Abah dan Ummi akan mendukung. Mungkin akan lebih baik kalau seperti ini. Dengan cara ini, publik juga tak akan bertanya-tanya lagi. Dainipun bisa fokus pada kehamilannya," kata Abah.


"Tapi Abah, keputusan Hanin sangat tak adil untukku. Abah, aku sangat mencintai Hanin. Aku sebenarnya tidak ingin menceraikannya. Aku ingin tetap bersamanya sampai napas terakhirku berhembus. Aku setuju menceraikannya karena terpaksa. Sungguh, Abah ...," kata pak Zulfikar seraya menunduk dan menautkan kedua tangannya.


Aku tak kuasa menahan kesedihan, hingga akhirnya, air mata ini jatuh juga. Segera kuusap. Aku tak tega mendengar kalimat pengakuannya. Kalimat yang keluar dari bibirnya terdengar begitu tulus dan menyayat hati.


A-aku juga mencintai Anda, Pak .... Tapi ... aku merasa jika kita tak ditakdirkan untuk bersama. Buktinya, saat Anda bersamaku, Anda selalu berada dalam masalah, ratapku dalam hati.


Ungkapan kalbuku terucap seiring dengan jatuhnya kembali tetesan air mata ke pipiku. Lagi, aku cepat-cepat mengusapnya.


"Kalau Abahmah ya bagaimana Daini saja, Mas. Abah tak bisa memaksa anak-anak Abah untuk melakukan sesuatu yang tak disukainya. Selagi tidak melanggar syariat Islam, tidak membahayakan dan merugikan orang lain, selalu Abah dukung."


"Tapi Abah, bukankah seorang istri harus patuh pada suaminya? Aku inginnya Hanin tetap bersamaku. Tolong Abah beri pengertian kepadanya agar dia patuh padaku."


"Maaf, saya izin menyela, Mas. Posisi saat ini cukup sulit. Abah mendukung Neng Daini karena pada dasarnya Abah juga tak ikhlas kalau sampai cucunya diadopsi. Lagi pula Neng Daini juga 'kan sudah menentukan pilihan mau jadi orang tunggal," bela pak Ihsan.


"Pa, Mama, apa kalian dengar?! Mana janji Papa dan Mama yang katanya akan membantuku?! Papa sendiri yang mengatakan akan memperjuangkan pernikahanku dan Hanin! Mana buktinya?! Mana?!" Beteriak lagi.


"Zul, bukannya Papa dan Mama tak ingin berjuang, tapi 'kan surat perjanjian pranikah itu sifatnya mengikat. Papa juga perlu waktu untuk menggugatnya. Ini tak semudah membalikan telapak tangan, Zul," jelas pak Aksa.


"Bagaimana kalau aku sendiri punya bukti yang kuat untuk menggugat surat pranikah itu?! Jika dengan bukti itu aku bisa menceraikan Dewi, apa Mama dan Papa akan setuju?"


"APA?! Zul! Jangan sembarangan bicara!" teriak bu Yuze.


"Ma, tenang," pak Aksa memegang bahu bu Yuze.


"Anak kita tak tahu diri Pa! Dia pikir mudah apa becerai dari Dewi?! Zul, dengar ya! Kalau memang kamu ingin melihat keluarga kita hancur dan bangkrut, ya silahkan saja kamu ceraikan!" teriak bu Yuze.


"Cu-cukup, a-aku tak ingin Bu Yuze dan Pak Zulfikar terus bertengkar dan berselisih faham. A-aku mengaku salah karena sudah menjadi sumber masalah di keluarga ini. Aku rela dan ikhlas mengalah demi kebaikan semuanya. Dengan aku pergi dan tak berhubungan dengan Pak Zulfikar lagi, aku yakin kehidupan Pak Aksa dan Bu Yuze akan kembali tenang," kataku sambil berurai air mata.


"Tidak sayang, kamu bukan sumber masalah, kamu tak bersalah Hanin, kamu jodohku," pak Zulfikar malah memelukku.


"Lepaskan, Pak!" bentakku. Kembali begeser dan memeluk ummi.


"Hanin ...," lirih pak Zulfikar. Aku memalingkan wajah karena tak sanggup menatap matanya.


"Apa kamu yakin mau ikut pulang? Ingat Neng, di dalam perut kamu ada generasi keturunan Antasena. Apa di sana kamu bisa menjaga kehamilanmu dengan baik? Bagimana dengan makanan kamu? Yakin tiap hari gizi kamu bisa terpenuhi?" Pertanyaan bu Yuze membuat hatiku terluka. Bukan hanya aku. Abah dan ummipun pasti tersinggung.


"Mama!" pak Zulfikar berdiri, tangannya mengepal, tubuhnya gemetar.


"Pak, tenang," pak Ihsan menahan tangan pak Zulfikar.

__ADS_1


"Maaf ya Bu Yuze yang terhormat, kalaupun kami tak sekaya Ibu, tapi saya menjamin jika Daini bisa kami urus dengan baik. Daini anak saya. Saya melahirkannya dengan bertaruh nyawa. Jadi mustahil kalau saya menyia-nyiakan anak saya sendiri," sela ummi. Rupanya, ummi tak terima juga dengan kalimat sindiran yang dilontarkan bu Yuze.


"Maafkan ucapan istri saya, jangan di ambil hati ya," kata pak Aksa.


"Papa dan Mama ternyata tidak tulus! Kalian hanya ingin anaknya Hanin, tapi tidak mau menerima Hanin sebagai menantu kalian! Aku tak habis pikir! Aku kecewa!"


"Pak Zulfikar, cukup! Anda tak boleh marah-marah pada orang tua sendiri hanya demi membelaku! Huuu, Ummi ..., Abah ..., kita pulang lebih cepat yuk!" ratapku.


"Sabar Nak ..., baiklah, kita akan pulang sekarang. Pak Ihsan, cepat siapkan mobilnya," kata abah sambil mengusap kepalaku. Lalu abah dan ummi berdiri, begitu pula dengan aku dan pak Ihsan.


"Pak, apa tidak pada sarapan dulu? Neng Daini, apa keputusan itu tidak akan dipertimbangkan lagi?" pak Aksa memegang tanganku.


"Ma-maaf Pak. A-aku sadar diri. Aku tak pantas ada di rumah ini. Ya, aku bukan putri konglomerat, tapi aku sangat bangga pada kedua orang tuaku. Aku bukan menantu yang layak tinggal di rumah ini," kataku.


"Neng Daini, kamu salah faham," pak Aksa masih memegang tanganku. Pak Zulfikar mematung sambil menatapku. Bibirnya gemetar menahan tangis.


"Maaf Pak."


Aku menepis pelan tangan pak Aksa, lalu abah meraih tanganku dan membawaku ke luar dari ruang tamu menuju teras. Ummi menguntit. Pak Ihsan sudah beranjak lebih dulu. Pak Aksa, bu Yuze, dan pak Zulfikar menyusul.


"Sayang, tolong jangan pergi," pak Zulfikar masih bersikukuh mencegahku.


.


Aku bungkam. Langkahku tetap berlanjut hingga kami semua sampai di area parkiran.


Dari kejauhan, terlihat bu Juju sedang menarik koperku. Dari arah lain, terlihat pula mobil milik keluarga pak Aksa yang sudah dinyalakan, di dalamnya ada dua orang pekerja perempuan. Dari keranjang yang dibawa, sepertinya mereka akan pergi ke pasar.


"Hanin, apa kamu tak bisa tetap bersamaku? Kalau memang harus pulang, bagaimana kalau hari ini kamu tetap di sini? Besok, kamu aku izinkan pulang, aku akan mengantarmu," rayunya.


"Maaf Pak, a-aku tak bisa."


Entah yang ke berapa kali aku menepis tangannya. Aku berlalu untuk mengambil koperku yang masih dipegang oleh bu Juju.


Lalu ....


'Bruuum.'


Mobil yang tadi kupikir akan pergi ke pasar itu, tiba-tiba saja melesat cepat ke arahku. Aku terkejut. Pun dengan yang lain, terdengar dari teriakan semua orang yang menyebut namaku.


"Neng! Awas!!!"


Entah siapa saja yang beteriak. Aku tak tahu pastinya sebab suara mereka terdengar secara bersamaan. Satu hal yang terdengar jelas di telingaku adalah suara teriakan panik dari pak Zulfikar yang memanggilku dengan panggilan berbeda.


"Sayang! Hanin!!!" teriaknya.


Kejadian ini terjadi begitu cepat. Di dalam kebingungan ini aku hanya bisa merasakan jika tubuhku ditarik oleh tangan seseorang agar terhindar dari mobil itu.


'BRAKK.'


Lalu aku mendengar suara benturan keras dan teriakan orang-orang saat tubuhku terhempas ke atas rumput hias. Tapi ... yang mereka teriakan bukan namaku. Melainkan ... nama pak Zulfikar.


"Zul!"


"Mas Zul!"


"Pak Zulfikar!"


"Pak Direktur!"


"Huuaaa, Zul! Tidaaak!" Suara histeris bu Yuze.


"Aaaa."


Dalam mode bingung, aku bangun perlahan, aku tak terluka, hanya gamisku saja yang basah kerena rumput hias ini masih dihiasi embun pagi.


"P-Pak Zulfikar ...."


Seketika, sekujur tubuhku melemas bak tak bertulang saat melihat pemandangan mengerikan di hadapanku. Tubuh pak Zulfikar terhimpit di antara bagian depan mobil dan tembok pembatas garasi. Aku melihat darah segar mengalir dari hidung, telinga dan bibirnya.


Mataku membelalak sempurna. Bibirku menganga. Teriakan histeris dari para pekerja menambah suasana menjadi semakin tegang dan mencekam. Wajah pak Aksa merah padam. Bu Yuze dan ummi bersimpuh sambil mematung.


"Cepat panggil mobil ambulance, polisi, dan Damkar! Cepat!" teriak pak Aksa.


Kemudian pak Aksa menarik paksa sopir pribadi yang membawa mobil itu dan menghajarnya habis-habisan tanpa dicegah oleh siapapun.


"P-Pak, ampun Pak, ta-tadi remnya blong," jelasnya dengar tubuh gemetaran dan wajah yang memucat.


Aku lantas berlari mendekati pak Zulfikar sambil menangis. Dia terluka parah demi menyelamatkanku.


"Neng, jangan mendekat. Sabar dan tenang ya," kata pak Ihsan. Lalu pak Ihsan dan abah menahanku, ummi segera menutup mataku.


"Pak, huuu ...." Aku jadi menyesal karena telah melukai perasaannya.


"Mas?!"


Bu Dewi yang baru saja datang langsung mematung dan melotot sambil menutup bibirnya. Lalu ia bersimpuh di lantai garasi dan menangis histeris.


"Semua mobil saya selalu diservis secara berkala! Kok bisa remnya blong?!" Pak Aksa masih menghajar pengemudi yang merupakan pekerjanya hingga babak belur.


"Cepat selamatkan anak saya!" teriak bu Yuze sambil menunjuk para penjaga.


"Maaf Bu, kita tak bisa sembarangan menariknya. Ini harus dilakukan oleh ahlinya. Bisa mengancam nyawa pak Zulfikar kalau asal tarik," kata salah satu pekerja dengan wajah cemasnya.


Dokter Rahmi. Aku baru mengingatnya.


"Cepat panggil dokter Rahmi!" teriakku.


"Oiya, di rumah ini ada dokter, cepat panggil dia!" teriak bu Yuze. Sementara Bu Dewi masih melongo. Ia seolah tak percaya dengan kejadian ini.


"Dokter Rahmi ada di lantai dua, di kamarnya kak Gendis!" teriak bu Juju.


Kondisi saat ini benar-benar kacau-balau. Rasa bersalah seakan menghimpit dadaku hingga aku merasa sesak dan sulit bernapas.


Melihat kondisi pak Zulfikar, hatiku hancur berkeping-keping. Pandanganku tiba-tiba kabur, rasa pusing menyerang kepalaku. Lalu mata ini berkunang-kunang dan gelap seketika. Tubuhku hilang keseimbangan. Entah siapa yang menahan tubuhku. Mataku terpejam rapat.


"Cepat bawa Neng Daini ke kamarnya!" suara bu Yuze.


"Neng, sadar Neng," suara ummi.


Aku meremang, ada di keadaan antara sadar dan tidak.


"Cepat tarik mobilnya! Tapi pelan-pelan ya! Saya akan mempertahankan posisi aman sampai ambulancenya tiba! Cepat pasang oksigennya! Tiga liter per jam!" Samar-samar, aku masih bisa mendengar suara dokter Rahmi.


Pak Zulfikar, maafkan aku ... Anda harus selamat.


Lalu aku melupakan dunia sekitar. Aku ... pingsan.


...~Tbc~...

__ADS_1


__ADS_2