Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Mitoni


__ADS_3

Seminggu kemudian


________


Daini Hanindiya Putri Sadikin


MasyaaAllah, aku sampai terkejut dengan semua hal yang disiapkan oleh mama Yuze dan papa Aksa. Acara tujuh bulanan ini menurutku terlalu meriah. Bahkan, cenderung berlebihan jika dilihat dari sudut pandangku.


Di Indonesia, selain memiliki banyak mitos, kehamilan juga memang memiliki banyak tradisi dan dan adat budaya yang berbeda-beda. Tradisi ini telah berlangsung sesuai adat dan budaya setempat dari puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu.


Salah satu yang paling terkenal adalah mitoni. Yaitu, acara 7 bulanan dalam adat Jawa yang hingga kini masih banyak dilakukan oleh ibu hamil termasuk aku. Kata mama Yuze, mitoni dalam tradisi Jawa adalah serangkaian upacara siklus hidup yang berarti tujuh atau hitungan yang ke tujuh.


Saat ini, aku sedang berada di kamarku. Tengah dirias oleh MUA khusus 7 acara tujuh bulanan yang tentu saja sudah disiapkan dan dipilih oleh mama Yuze. Acara ini diundur karena papa Aksa dan mama Yuze sepakat mengelarnya setelah acara 7 hari meninggalnya pak Pratama Surawijaya. Ini dilakukan untuk menghormati keluarga bu Dewi yang hingga saat ini masih dalam kondisi berkabung.


Pak Zulfikarpun saat ini tengah didandani. Namun, ia dan aku berada di tempat terpisah karena MUA untuk pak Zulfikar adalah seorang pria.


"MasyaaAllah, ini 'sih kayak bidadari turun dari kayangan," puji kak Listi yang sedari pagi sudah mendampingiku.


"Betul, cantik sekali. Wajar kalau pak Zulfikar kesemsem terus. Oiya, Tante iri lho sama Bu Daini, 'kok bisa ya hamilnya yang besar cuma perutnya doang? Tante 'kan sudah punya anak tiga, tapi saat hamil yang jadi besar enggak cuma perut, hidung juga ikut mekar," jelas tante MUA. Mama Yuze memanggilnya tante Lilly.


"Hahaha."


Kak Listi terbahak sambil merapikan kain yang kupakai. Wangi melati semerbak. Sebab, hiasan dari melati membaluti jilbab dan baju kurungku. Baju kurungku didesain khusus oleh desainer ternama yang merupakan sahabat dekatnya mama Yuze. Berwarna putih dengan manik keemasan yang tersebar merata.


Pak Zulfikar bahkan sempat protes sama mama Yuze agar aku tidak memakai gaun ini. Alasannya karena khawatir aku keberatan. Ya, ini memang sedikit berat 'sih. Tapi, aku tidak ingin mengecwakan mama dan papa. Lagi pula, beratnya masih dalam batas kewajaran.


"Alhamdulillah, besarnya memang ke perut sama bagian dada saja, Tante," jawabku.


"Tipsnya apa 'sih, Neng? Biar kalau nanti aku menikah dan hamil, bisa meniru kebiasaan kamu."


"Tipsnya? Apa ya? Emm, aku rutin olah raga minimal seminggu tiga kali."


"Olah raga apa, Bu Daini? Apa termasuk olah raga bersama pak Direktir juga? Hihihi," canda tante Lilly.


"Ada olah raga khususnya kok, namanya senam hamil. Ada bidan yang sengaja didatangkan sama dokter Rahmi. Maksudku, instrukturnya bu bidan."


"Oh, begitu ya?" Tante Lilly dan kak Listi manggut-manggut.


Setelah sekian lama, akhirnya selesai juga aku didandani. Selanjutnya, aku akan dipapah menuju area acara ini. Kata mama Yuze, aku akan melewati serangkaian acara mitoni.


Hari ini, walaupun kurang setuju mama menggelar acara semewah ini, namun aku bahagia karena berkat acara ini, ummi dan abah mau bertandang ke Jakarta. Sayangnya, Putra tidak bisa ikut karena di pondok banyak kegiatan.


Mama Yuze mengundang keluarga besarnya, kolega bisnis, sahabat dekat, dan wartawan dari beberapa media. Tapi, aku sudah meminta pada mama Yuze agar aku tidak diwawancara. Jujur, aku masih merasa risih dengan media. Kata mama Yuze, mereka hanya akan meliput acara. Untuk judul tayang dan materi yang akan ditayangkan di media, semuanya akan diusulkan terlebih dahulu pada mama Yuze dan tim kuasa hukum keluarga Antasena.


Seperti itulah mereka memahami perasaanku. Aku dan keluargaku yang bukan siapa-siapa, ternyata membuat mereka sangat memedulikan dan melindungiku.


Saat ini, aku dipapah ke depan cermin oleh kak Listi. Sama tante Lilly aku dilarang becermin sebelum riasannya selesai. Entah apa alasannya, aku juga tidak tahu.


"MasyaaAllah, riasannya cantik. Terima kasih Tante Lilly," itu yang katakan. Hampir tidak percaya kalau yang di depan cermin itu adalah aku.


"Tuh, 'kan? Kamu canti banget 'kan, Neng." Kak Listi menatapku seraya berdecak dan geleng-geleng kepala.


"Aku biasa saja, Kak. Semua orang pada dasarnya cantik 'kok."


"Ya ampun, Bu Daini ini paket komplit ya. Sudah cantik, ramah, sholehah, rendah hati pula," timpal tante Lilly. Aku menyikapi pujiannya dengan senyuman.


"Terus, aku harus bagaimana setelah ini, Kak?"


"Neng tunggu dulu di sini, nanti Neng bakal dijemput sama ummi, abah, dan pak Direktur menuju area inti."


"Ya sudah, Kak Listi temani dulu Bu Daini ya. Tante mau cek ulang perlengkapan mitoni."


Tante Lilly bergegas. Sementara aku lantas duduk di sisi tempat tidur, menunggu kedatangan ummi, abah, dan suamiku. Kak Listipun bersiap, ia sedang meretouch makeupnya.


Hari ini, kak Listi memakai kebaya berwarna merah muda yang dipadukan dengan kain khas Betawi bermotif Salakanagara. Rambutnya disasak. Tampan anggun, cantik, dan manis. Riasannya soft minimalis, namun bibirnya tetap berwarna merah merekah.

__ADS_1


"Kak Listi cantik tahu. Kalau pak Sabil lihat pasti langsung klepek-klepek." Setelah ia curhat dan mengatakan telah resmi pacaran sama pak Sabil, aku jadi sering menggodanya.


"Hehehe."


Kak Listi malah tertawa. Saat ia curhat, aku sudah menasihati kak Listi untuk tidak lama-lama pacaran. Aku juga menjelaskan jika di dalam Islam itu tidak ada istilah pacaran. Namun, semua keputusan kembali lagi pada kak Listi. Yang penting, sebagai sahabatnya, aku telah memberitahu dan mengingatkannya. Kak Listi selalu mengatakan 'ingin meyakinkan diri dan mengenal pak Sabil lebih jauh lagi.'


Tapi, di suatu kesempatan pak Zulfikar pernah becerita jika kak Listi belum yakin menikah karena takut rumah tangganya menjadi rumit seperti rumah tanggaku. Pak Zulfikar mengetahui hal itu tentu saja dari curhatannya pak Sabil.


"Kak Listi."


"Ya."


"Apa yang baik dari kehidupanku dan pak Zulfikar boleh Kakak ambil untuk diteladani. Tapi, yang buruknya jangan, Kak. Jika Kak Listi merasa ragu untuk menikah akibat berkaca pada kehidupan rumah tanggaku, aku akan merasa sangat bersalah, Kak." Kak Listi tampak terkejut mendengar penuturanku.


"Pasti dia curhat sama pak Direktur," gumamnya.


"Sa-sayang?" Pintu kamar terbuka dari luar. Pak Zulfikar berdiri di ambang pintu sambil menatapku lekat-lekat.


"Bucin terus," celetuk kak Listi.


"MasyaaAllah, kamu kayak bidadari. Aku pangling, sayang." Pak Zulfikar mendekat, langsung memegang tanganku seraya senyum-senyum.


"Terima kasih. Tolong jangan terlalu memujiku. Aku manglingi karena makeup, Pak."


Padahal sejatinya, aku juga pangling dengan penampilan pak Zulfikar. Ia memakai baju adat Jawa yang warnanya senada dengan busanaku lengkap beserta blangkon dan kerisnya. Ia terlihat tampan menawan.


"Sayang." Ia melambaikan tangan di depan wajahku karena aku bengong sejenak.


"Waduh, enggak benar 'nih kalau aku di sini terus. Aku keluar duluan ya, Neng." Kak Listi malah meninggalkanku sebab pak Zulfikar kembali memandangiku sambil senyum-senyum.


"Sayang, aku jadi mau sesuatu lho lihat kamu semakin cantik begini, serius. Kamu enggak dandan saja sudah cantik. Sekarang cantiknya jadi berlipat ganda."


"Eling (sadar) Pak, kita mau ada acara. Jangan bilang kalau Anda mau sesuatu yang tidak-tidak."


"Yang iya-iya sayang, bukan yang tidak-tidak," candanya.


"Zul," mama Yuze tiba.


"Eh, Mama." Mesem-mesem. Sadar diri nyaris kepergok.


"MasyaaAllah, mantu Mama cantik sekali." Pandangan mama teralihkan. Langsung mendekatiku.


"Terima kasih. Mama juga cantik," pujiku. Ya, hari ini mama juga dirias oleh MUA. Penampilan mama terlihat glamor.


"Terima kasih juga sayang, acaranya sudah mau mulai."


Lalu abah, ummi, kak Listi, dan papa Aksa berdatangan. Sama seperti yang lain, ummi dan abahpun memujiku. Demikian dengan papa Aksa. Hari ini, aku dielu-elukan. Awalnya, yang akan mengiringku hanya abah dan ummi, namun entah kenapa konsepnya jadi berubah. Aku segera merangkul lengan pak Zulfikar untuk memulai perjalanan menuju tempat acara. Lalu mereka mengiringi.


Perasaanku jadi sedikit gugup, tapi saat melihat wajah pak Zulfikar yang sumringah dan pancaran kebahagiaan dari wajah semua orang, akupun jadi lebih tenang. Akhirnya, melangkah percaya diri sambil tersenyum.


...⚘️⚘️⚘️...


Lalu melemparkan senyum terbaikku sambil melambaikan tangan saat aku sampai di tempat acara yang ternyata telah dipenuhi oleh tamu undangan.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhadulillahirabbil 'alamiin, washolatu wassalmu 'ala asyrofil ambiyaa'i wal mursaliin, wa'ala alihi wa ashhabihi waman tabi'ahum bi ihsanin ilaa yaumuddin."


"Pada sore hari ini, marilah bersama-sama memanjatkan puja dan puji syukur ke Hadirat [Allah SWT]. Karena atas limpahan rahmat serta ridho-Nya, kita dapat berkumpul pada acara 7 bulan kehamilan Bu Daini Hanindiya Putri Sadikin yang merupakan istri kedua dari Bapak Zulfikar Saga Antasena. Seperti kita ketahui, Pak Zulfikar adalah putra bungsu dari ...." Aku mendengar pemandu acara inti telah membuka acara.


MasyaaAllah, dekorasinya begitu megah nan gemerlap. Terlihat jua barisan bunga yang didominasi oleh warna biru dan merah muda. Kata mama Yuze, bunga biru dan merah muda melambangkan jenis kelamin bayi kembar yang dikandungku.


Kamera telah membidik kami sedari tadi. Bidikan mereka nyaris menyilaukan pandanganku. Lalu tatapan tamu yang hadir, seakan membuatku kembali gugup.


Di kursi paling depan, aku melihat pak Dhimas yang menatapku sambil mengangkat jempol, dan seorang wanita hamil yang penampilannya sangat mencolok. Dia sangat cantik dengan balutan kebaya mewah berwarna merah terang dan bertabur swarovski di setiap detailnya. Sedang menatapku sambil tersenyum.


Dia juga memotreku dengan ponselnya. Apakah senyumannya tulus? Semoga. Aku membalas tatapannya sembari melemparkan tersenyum. Ya benar, wanita hami yang cantik itu adalah bu Dewi Laksmi. Tunggu, perasaan tidak melihat pak Sabil. Apa tidak diundang? Tidak mungkin kalau tak diundang.

__ADS_1


"Kok aku tak melihat pak Sabil?" bisikku pada pak Zulfikar.


"Dia ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan," jawabnya.


"Pak, lihat di sana. Bu Dewi cantik sekali. Kata mama, Bu Dewi juga nanti akan mengucurkan air siraman untukku," berbisik lagi. Pak Zulfikar menoleh ke sana sejenak.


"Kamu lebih cantik," bisiknya sambil merangkulku.


Oiya, hubungan bu Dewi dan pak Zulfikar sudah membaik. Pak Zulfikar rutin menemui bu Dewi sesuai jadwal yang telah kami sepakati. Aku juga tidak menemukan tanda kekerasan di tubuh pak Zulfikar. Biasanya, setelah bermalam bersama bu Dewi, di tubuh pak Zulfikar selalu ada lebam dan luka bekas cakaran.


Musik pengiring berlanggam khas Jawa mulai mengalun. Pembawa acara sedari tadi telah memandu dengan bahasa yang tertata dan puitis. Beberapa kalimat mengandung banyak majas yang tidak kupahami.


"Tamu undangan yang terhormat dan berbahagia, acara akan segera dimulai. Mohon untuk tidak menyalakan kamera ponsel ataupun alat perekam lainnya. Yang boleh meliput hanya wartawan dan tim khusus yang telah disediakan oleh panitia," seru co-host.


Kemudian mama melambaikan tangan pada bu Dewi agar bergabung. Bu Dewi mengangguk. Ia berjalan melenggang bak model profesional. Sontak membuatnya jadi pusat perhatian dan disorot kamera.


...⚘️⚘️⚘️...


Agenda pertama adalah sungkeman, momen ini langsung menguras emosiku. Kata-kata yang diucapkan pembawa acara membuatku tak kuasa menahan air mata. Aku berlama-lama memeluk pangkuan ummi. Abah mengelus bahuku. Suasana harupun tercipta, musik pengiring mendayu-dayu, iramanya terdengar pilu.


"Kula ngaturaken sedaya kalepatan kawula nyuwun pangapunten. Sucining ati, tumatining laku. Kula ngaturaken sugeng riyadi."


Itu yang dikatakan sinden, lalu mengatakan kalimat-kalimat lain dalam bahasa Jawa yang maknanya bisa kupahami. Setelah sungkeman, dilanjutkan dengan prosesi siraman yang lumayan melelahkan. Lanjut tradisi pecah telur, memutus janur dan brojolan.


"Kalau kamu lelah bilang ya sayang, jangan memaksakan diri, oke?"


Pak Zulfikar cemas setelah melihat kakiku yang mulai membengkak. Untungnya, dokter Rahmi segera memberikan penjelasan yang bisa menenangkannya. Jika tidak, ia pasti sudah protes sama mama untuk menyelesaikan acara.


Selanjutnya adalah agenda pecah kelapa. Lanjut berganti busana untuk persiapan prosesi adat jualan cendol dan jualan rujak. Lumayan melelahkan. Setelah jualan cendol dan rujak, upacara mitoni dinyatakan telah selesai. Alhamdulillah, lega rasanya.


Berikutnya adalah tausiyah. Jujur, tausiyah adalah rangkaian acara yang paling kunantikan. Sebelum acara tausiyah dimulai, MC mempersilahkan tamu undangan untuk menikmati hidangan.


Aku kembali ke kamar untuk makan dan istirahat sejenak. Pak Zulfikar kukuh mau menyuapiku. Dokter Rahmi sibuk mengolesi krim ke kakiku yang bengkak. Sedangkan abah dan ummi, saat ini tengah bergabung dengan keluarga Antasena untuk menyapa tamu undangan.


...⚘️⚘️⚘️...


"Selama acara selamatan hamil 7 bulanan, mitoni atau nujubulanin diisi dengan kegiatan-kegiatan positif, seperti membaca Al-Quran dan melakukan amalan-amalan sosial, maka hukumnya menjadi boleh," jelas pak ustadz saat ada tamu yang bertanya tentang hukum acara 7 bulanan jika dilihat dari perspektif ajaran Islam.


"Daini, aku mau bicara, aku tunggu kamu di taman belakang." Tiba-tiba ada pesan dari bu Dewi. Ada apa ya?


"Aku mau mengikuti acara tausiyah sampi selesai, Kak," balasku.


"Tidak bisa Dai, aku mau bicara sekarang."


Ya ampun, aku jadi bingung.


"Kenapa sayang?" tanya pak Zulfikar.


"Emm ---." Belum juga kujelaskan, pak Zulfikar sudah merebut HP-ku dan membaca pesan dari bu Dewi. Lalu wajahnya berubah muram.


"Jangan mau menemui dia," tegasnya.


"Kenapa Pak?"


"Aku tidak mengizinkan."


"Alasannya? Bukankah akhir-akhir ini hubungan Anda dan bu Dewi membaik?"


"Aku bilang jangan ya jangan," tandasnya. Aku yakin ada sesuatu.


"Aku tidak bisa menemui Kak Dewi." Pesan terkirim.


"Baik. Tapi, kamu jangan menyesal ya, Daini."


...⚘️⚘️⚘️...

__ADS_1


...~Tbc~...


__ADS_2