
Zulfikar Saga Antesana
Tidak bisa kupungkiri, segenap kenangan tentangnya terukir kembali di ingatan. Aku memeluk Anulika dan menciumi kepalanya. Hanin langsung pergi ke mushola. Ia sedang mengaji sambil menangis.
Aku, perwakilan keluarga dan bu Silfa akan terbang ke sana. Sepertinya, Dewi akan dikebumikan di sana. Sebab, bu Silfa tidak mengurus kepulangannya.
"Dewi Laksmi."
Aku menatap Anulika yang tengah terlelap. Setelah kugendong sambil diberi susu formula, dia langsung tertidur.
"Mommy kamu pergi dalam keadaan yang sangat baik. Anulika harus bangga. Jangan bersedih, Papa akan selalu ada untuk kamu, dan kamu juga masih memiliki ibu. Ada mama Daini. Dia sangat menyayangi kamu."
Aku merebahkan tubuh mungilnya di tempat tidur. Lalu memanggil suster agar menjaganya. Kemudian kembali ke mushola untuk menemui Hanin.
"Mas ...."
Ia memburu dekapanku. Menangis sejadi-jadinya dan memanggil nama Dewi. Aku hanya bisa mendekap sambi mengusap punggungnya.
"Sudah sayang, sebentar lagi Mas mau pergi. Jaga anak-anak ya."
"Ya, Mas ...."
"Anulika sudah tenang. Dia sedang tidur. Ia seperti itu pasti karena merasakan kepergian Dewi."
"Ya." Ia mengangguk. Aku merapikan mukenanya.
"Mas hati-hati ya. Apa Bu Dewi akan dikebumikan di sana?"
"Sepertinya ia sayang. Kata pemandu umrah, sebelum kematiannya, Dewi menunjukkan tanda-tanda yang mengisyaratkan jika ia ingin tinggal di Makkah selamanya. Mereka mengetahui cerita itu dari bang Radit. Sayangnya, untuk saat ini kita tidak bisa menghubungi bang Radit, kondisi bang Radit shock berat, sayang. Dia sangat kehilangan Dewi."
"Huks, bang Radit." Ia kembali memeluk dan menangis di dadaku.
...⚘️⚘️⚘️...
Makkah, Saudi Arabia
Setiap makhluk yang bernyawa pasti akan menjumpai kematian. Ketika ajalnya tiba, ruh akan keluar dari jasad manusia dan bersiap untuk memasuki alam barzakh.
Di alam barzakh, manusia akan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di dunia. Mereka yang beramal saleh akan ditempatkan di sisi terbaik, sedangkan yang berbuat maksiat akan disiksa dan ditempatkan di sisi yang buruk.
Terkadang, kepergian manusia tersebut membawa duka yang mendalam bagi kerabat dan keluarga dekatnya. Setelah lama meninggalkan dunia, sosoknya akan dirindukan lagi oleh mereka.
Ya, kerinduan itu kini dirasakan olehku. Baru kali ini aku merindukannya. Baru kali ini ada perasaan ingin melihat wajahnya.
"Dewi Laksmi," gumamku.
Aku dan keluarga Dewi sudah tiba di Makkah. Saat ini, aku sedang berdoa di Masjidil Haram untuk mendoakannya. Ya, Dewi mungkin tidak dapat melihat orang yang masih hidup karena sudah tinggal di alam yang berbeda. Namun, aku pribadi meyakini jika ia masih bisa mendengar doa-doa yang dikirimkan untuknya.
Menurut keterangan pihak travel, saat ini tengah diurus surat keterangan kematian dari Rumah Sakit Arab Saudi. Karena setiap jamaah haji atau jamaah umrah yang wafat, prosedurnya harus dibawa ke Rumah Sakit Arab Saudi untuk dilakukan autopsi guna mengetahui penyebab kematiannya. Setelah diautopsi oleh Rumah Sakit, keluarga Dewi harus meminta surat keterangan dari kepolisian.
Pihak Arab Saudi beralasan surat keterangan dari kepolisian diperlukan untuk membuktikan bahwa kematian jamaah tersebut adalah kematian yang wajar. Jika kematiannya tidak wajar, maka selanjutnya itu merupakan urusan kepolisian. Tetapi kalau kematiannya wajar, maka akan dilanjutkan untuk proses pemakaman.
"Kamu sudah bahagia, Wi. Hanin dan aku iri dengan kematian kamu." Aku duduk tetap di lokasi Dewi pingsan.
Sebelum jamaah yang wafat dimakamkan, Rumah Sakit Arab Saudi biasanya akan memberikan surat keterangan atau izin jamaah tersebut siap dimakamkan. Setelah surat tersebut keluar, jamaah yang wafat akan dibawa ke tempat pemandian di daerah Uhud sebelum dimakamkan.
Selanjutnya, akan dilakukan penyelenggaraan pemakaman jenazah. Dalam hal ini, pemakaman itu boleh dihadiri oleh pihak keluarga yang bersangkutan, boleh juga tidak dihadiri. Semua tergantung dari pihak keluarga yang bersangkutan. Aku jadi mengetahui prosedurnya setelah mendapat penjelasan dari petugas yang bersangkutan.
Setelah ini, aku akan pergi ke hotel untuk menemui bang Radit. Belum sempat bertemu bang Radit karena sebelumnya, ia dirawat di Rumah Sakit akibat shock. Kata dokter, bang Radit belum bisa menerima kepergian Dewi. Ya, bibirnya memang mengatakan ikhlas. Namun faktanya, bang Radit sangat terpuruk.
...⚘️⚘️⚘️...
"Bang Radit, yang sabar ya Bang." Aku memeluknya. Mataku mengitari kondisi hotel.
__ADS_1
"A-aku tidak bisa Pak. Aku tidak bisa kehilangan dia. Aku belum mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya," keluhnya.
Kehilangan orang tercinta karena kematian memang tidak mudah dan sulit dijelaskan. Perasaan kehilangan dan berduka bisa bertahan cukup lama meski seseorang bisa menjalani kegiatan sehari-harinya dengan baik.
"Dewi pergi dalam keadaan husnul khotimah, Bang Radit harus bersyukur dan bahagia. Bang Radit boleh bersedih, tapi jangan berlarut-larut seperti ini."
"Ya, aku tahu Pak. Ta-tapi ... sulit."
"Bang, ketika kehilangan pasangan, perasaan sedih itu bisa sangat intens. Tapi Bang, kehilangan itu bagian alami dari kehidupan. Jadi jangan sampai kesedihan Bang Radit mengarah pada periode kesedihan atau depresi yang berkepanjangan."
"Kapan perasaan duka ini hilang dari dadaku, Pak? Aku merasa dadaku sesak saat mengingatnya."
"Kesedihan dan kedukaan itu biasanya akan berkurang intensitasnya seiring berjalannya waktu, tetapi berduka adalah proses penting untuk mengatasi perasaan kehilangan tersebut. Bang Radit sedang berada di fase ini."
"Aku mau marah pada diriku sendiri, Pak! A-aku tidak berada di sisinya saat Dewi pergi. Aku menyesalinya Pak!" tegasnya. Terlihat penyesalan dan luka mendalam yang terpancar jelas dari tatapan bang Radit.
"Marah itu wajar, Bang. Namun kemarahan itu tidak mengharuskan kita menjadi pemarah. Kemarahan itu justru memungkinkan kita untuk mengekspresikan emosi dan rasa takut. Tidak apa-apa Bang, tidak apa-apa." Aku kembali merangkulnya dan mengusap punggungnya.
"Jika kita kembalikan pada takdir, sebenarnya, kita tidak pernah kehilangan apa pun dalam hidup ini, Bang. Berbaik sangkalah jika kehilangan itu akan ditukar dengan sesuatu yang jauh lebih indah. Kadang, manusia harus sampai kepada titik kehilangan untuk mengerti arti sebuah kehadiran, kasih sayang, dan kesetiaan. Kehilangan itu nantinya akan membuat kita belajar untuk menerima dan mensyukuri segala sesuatu yang saat ini masih kita miliki," jelasku.
"Ya Pak, ternyata ... arti sebuah kehadiran baru akan terasa saat kehilangan telah merenggutnya. Saat itu terjadi, aku hanya merasakan penyesalan." Ia memeluk lututnya dan kembali melamun.
"Sabar ya Bang."
"Setelah kutelaah, Dewi menunjukkan tanda-tanda akan pergi, Pak. Dan aku ... a-aku tidak memahaminya."
"Ya Bang. Memang akan terasa sangat menyakitkan kehilangan seseorang yang kita cintai. Namun hal tersebut bukanlah akhir dari semuanya. Meskipun tanpa Dewi, Bang Radit harus bisa bahagia."
"Aku pesimis, Pak." Memasygul rambutnya.
"Bang Radit, kebahagiaan itu bisa datang kapan saja dan dalam cara yang tak terduga. Setelah Dewi pergi, Bang Radit harus ikhlas melepaskannya. Dewi memang sudah tak ada di hadapan Bang Radit, namun Bang Radit masih bisa mengenangnya di dalam hati."
"Baik Pak. A-akan kulakukan. Semoga aku bisa. Mohon doanya," pintanya.
Sore ini, setelah mendapat surat izin pemakaman dari rumah sakit, Dewi akan segera dikebumikan. Sesuai dengan keinginannya, Dewi akan dikebumikan di Tanah Suci.
Menatap Ka'bah dari arah ini, membuatku ingin menyegerakan berkunjung ke sini bersama Hanin dan anak-anak termasuk Anulika.
"Selamat jalan Dewi Laksmi. Aku bahagia bisa mengenalmu, aku bahagia pernah menjadi bagian dari hidup kamu. Di sana, aku yakin kamu juga sudah bahagia," gumamku saat menatap baju-bajunya yang telah dikemas oleh petugas.
Lalu kembali memandang pada Ka'bah dan mentadabburi kejadian ini. Kematian itu pasti terjadi. Pada dasarnya, manusia hidup di muka bumi ini memiliki satu kesamaan. Yakni, sama-sama akan mati. Kematian merupakan akhir hidup kita di bumi, tetapi bukan akhir dari keberadaan kita.
Kematian adalah satu hal yang kita semua takuti dan tidak bisa kita kendalikan. Tetapi, itu adalah bagian dari kehidupan dan kita semua harus siap untuk menghadapinya.
...⚘️⚘️⚘️...
Radithya Wira
"Terima kasih karena sebelumnya kamu telah banyak memberiku kebahagiaan. Kini aku tahu, salah satu bentuk dari mencintaimu adalah merelakan kepergiamu."
Aku menatap pusaranya dari kejauhan. Pak Zulfikar, bu Silfa dan yang lainnya telah kembali ke Indonesia empat hari yang lalu.
Aku memilih tetap di sini sampai hari ke tujuh kepergiannya, dan hari ini adalah hari ke tujuh. Itu berarti, besok aku harus meninggalkannya. Jujur, sampai di hari ini, aku masih merasa kehilangan.
"Sayang ..., hari ini, aku ingin membicarakan rasa kehilangan dengan bahagia. Aku tidak akan mengingatmu lagi sebagai kenangan. Tetapi, aku akan mengingatmu sebagai pelajaran. Terima kasih untuk semua pengalaman yang kamu ciptakan. Terima kasih karena kamu telah membuatku bahagia." Aku melambaikan tangan, lalu airmataku kembali menetes.
"Terima kasih sudah datang ke hidupku dan membuatku bahagia. Terima kasih sudah mencintaiku dan menerima cintaku."
"Tapi sayang, apa kamu tahu kehilangan terberatku? Kehilangan terberatku adalah kenyataan bahwa aku terlambat membahagiakanmu, dan aku terlambat mengungkapkan perasaan cinta ini untuk kamu."
Mungkin sudah saatnya aku belajar melepaskan, meski aku masih tidak menyadari bahwa sumber kebahagiaanku benar-benar telah pergi. Pergi untuk selamanya.
"Aku sudah ikhlas sayang. Selamat berbahagia di sisi-Nya, di tempat terbaik. Terima kasih untuk kabahagiaan yang kamu ciptakan."
__ADS_1
"Aku janji akan sering ke sini untuk menjenguk kamu. Di dalam hatiku akan selalu tersimpan seluruh kenangan tentang kamu dan kebersamaan kita. Aku yakin jika perpisahan diciptakan agar bisa menjadikan pertemuan kembali terasa lebih indah, dan aku yakin kita akan bertemu lagi. Aamiin."
Lalu membaca tahlil untuknya, dan kembali ke hotel saat hari mulai senja.
...⚘️⚘️⚘️...
Jakarta, Indonesia
Daini Hanindiya Putri Sadikin
Akhir-akhir ini, kebersamaanku dengannya sulit terjadi. Selain pak Zulfikar sibuk, kami juga dihadapkan dengan kehadiran tiga buah hati yang selalu membuatku dan pak Zulfikar kesulitan melakukan quality time.
Apa kami merasa terbebani dengan ini? Tentu saja TIDAK. Aku dan pak Zulfikar bukan penganut aliran CHILDFREE.
Childfree merupakan istilah yang mengacu pada seseorang yang tak memiliki anak, baik biologis, adopsi, atau lainnya. Atau, istilah ini bisa digunakan untuk menggambarkan seseorang yang telah memilih untuk tak memiliki anak, namun bisa juga untuk mereka yang tak bisa memiliki anak.
Ya, memiliki anak atau tidak adalah pilihan hidup dan merupakan keputusan dari pasangan. Tapi menurutku, paham ini sangat kontradiktif dengan hakikat penciptaan manusia.
Manusia merupakan makhluk dalam sebaik-baiknya bentuk. Di samping itu, manusia juga dibekali dengan ilmu dan akal serta kemauan, maka dari itu manusia punya kapasitas sebagai khalifah di muka bumi.
Bayangkan jika seluruh pasangan di dunia menganut paham childfree. Manusia perlahan-lahan akan langka, dan seluruh negara akan mengalami krisis generasi muda. Mengerikan!
Ya, memiliki anak atau tidak adalah pilihan. Tapi itu bukan gaya hidup! Itu hanya pemikiran pendek dari oknum yang tidak peduli dengan kelangsungan hidup bangsa, negara dan agamanya!
"Siap?"
Aku sampai terlonjak karena kaget.
"Mas! Kebiasaan! Kaget tahu!" sentakku. Selalu begitu. Ia sering memelukku tiba-tiba saat aku tidak menyadari keberadaannya.
"Hahaha. Maaf sayang."
Tangannya langsung aktif mengelus perutku. Hari ini, aku dan pak Zulfikar sedang childfree. Tapi ini childfree dalam arti sempit ya.
Maksudnya, aku dan pak Zulfikar sejenak membebaskan diri dari anak-anak agar kami bisa quality time. Kegiatan seperti ini memang sesekali harus dilakukan. Tujuannya tentu saja untuk menjaga keharmonisan rumah tangga.
"Ti-tidak pakai baju dulu?" tanyaku. Ia baru selesai mandi dn masih memakai handuk. Sebagian tubuhnya bahkan masih basah.
"Tidak perlu sayang. 'Kan nanti juga dibuka lagi. Sekalian saja ya," jawabnya. Rupanya, ia sangat merindukan momen itu.
"Ya sudah atuh. Hayu (ayo)!" ajakku. Membalikan badan dan merangkulnya. Ia menatapku dan senyum-senyum.
"Cantik, seksi," pujinya.
Tangannya menggurita ke sana-kemari. Ke bagian-bagian sensitifku. Lalu aku tak mampu berkutik lagi saat ia memagut bibirku sambil mengarahkanku ke tempat tidur.
"Pelan-pelan ya Mas," bisikku saat tubuhku telah merebah. Semangatnya yang terlalu menggebu membuatku sedikit ketakutan.
"Jangan khawatir," gumamnya.
Ia sedang memanjakan tubuhku. Walaupun ini bukan yang pertama kalinya. Tapi yang dilakukannya selalu membuatku malu. Daripada melihat, aku lebih suka menutup wajahku, memejamkan mata, atau membekap bibirku sendiri agar tidak bersuara.
"Suka?" bisiknya setelah berhasil membuat tubuhku gemetaran beberapa kali. Aku hanya bisa mengangguk lemah sambil mengatur napas.
Selanjutnya, tentu saja aku yang harus memanjakannya. Aku harus berubah menjadi wanita 'nakal.' Aku akan menaklukannya dengan segenap cinta dan pesonaku.
Saat tubuh kami terjalin, aku merasa jika aku sudah bukan diriku lagi. Aku menjadi gila dibuatnya, aku menjadi pemujanya, aku menjadi wanita 'nakal' yang teramat menggilai tubuhnya.
"Im yours," bisiknya.
...⚘️⚘️⚘️...
...~TAMAT~...
__ADS_1