Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Tangisan VS Senyuman


__ADS_3

Karawang. Selasa, 13 Oktober tahun 20XX


"Mami ... Papi ... sampai kapan kalian akan terus seperti ini? Apa kalian tahu, aku selalu menunggu kedatangan Mami dan Papi di pesta ulang tahunku. Aku sudah menyiapkan banyak ungkapan terima kasih untuk kalian. Tapi ... Mami dan Papi tidak pernah menghadiri acara ulang tahunku kecuali saat aku berusia 17 tahun. Yang datang ke hadapanku selalu saja berbagai macam hadiah mewah yang sejujurnya ... tidak pernah aku inginkan."


Jakarta. Minggu, 28 Juli tahun 20XX


"Kalian selalu memanjakanku dengan harta yang berlimpah. Mami-Papi selalu memberikan semua yang kuinginkan, apapun itu. Tapi ... ada satu hal yang tidak bisa kalian berikan untukku. Yaitu ... kebersamaan kalian di sisiku. Mami ... Papi ... apa sangat sulit meluangkan waktu untuk bersama denganku lebih lama lagi? Apa mengumpulkan harta itu lebih penting daripada mengurusku?"


Bali. Rabu, 29 Maret 20XX


"Mami ... Papi ... aku sebenarnya sangat iri saat melihat temanku diantar atau dijemput ke sekolah oleh orang tuanya. Aku juga ingin seperti mereka. Tapi ... tugas itu kalian berikan pada orang lain. Di suatu hari, aku bahkan pernah berharap jika aku adalah anaknya Bibi dan Mang Heru. Sebab faktanya ... mereka selalu berada di sampingku."


"Mami ... Papi ... apa masih ingat saat dulu aku pernah berdiri di depan kamar kalian? Saat itu ... aku sebenarnya ingin bicara untuk mengatakan kalau aku merindukan keberadaan Mami-Papi di sampingku. Tapi ... Mami malah berkata, 'nanti dulu ya sayang, Mami sibuk.' Lalu di lain waktu, Papi juga berkata, 'Mami dan Papi sibuk, kalau perlu apa-apa bilang sama Mang Heru saja.' Aku sudah berusaha untuk mengutarakan keinginanku. Namun Mami dan Papi tidak pernah memberi kesempatan."


"Hingga aku berpikir jika di mata Mami-Papi, uang itu lebih penting daripada aku. Sejak saat itu, aku selalu menyimpan perasaan kecewa. Namun tidak pernah menunjukkannya pada siapapun. Di hadapan siapapun, aku selalu pura-pura bahagia. Aku meluapkan kemarahan dan kesedihanku seorang diri. Di kamarku, di dalam bathup, atau di mana saja yang sekiranya sepi."


"Apa kalian tahu kemana perginya boneka-boneka lucu dan mahal yang pernah diberikan untukku? Aku merusaknya di kamar mandi. Aku memutilasi boneka-boneka tersebut hingga hancur. Lalu membuangnya ke tempat sampah, dan mengatakan pada Mami-Papi jika boneka-boneka itu aku donasikan."


"Sejak saat itu, aku jadi senang merusak barang-barang yang cantik. Aku puas setelah melakukannya. Lalu aku menjadi insomnia setelah Mami-Papi memintaku melanjutkan studi di luar negeri. Sebab itu artinya, aku akan semakin jauh dari Mami-Papi. Karena sering mengkonsumsi obat insomnia, moodku sering berubah, cepat emosi dan mudah menangis. Sampai akhirnya ... dokter mendiagnosaku memiliki penyakit kepribadian ganda."


Chicago. Kamis, 8 Desember 20XX


"Mami ... Papi ... aku baru saja membeli obat terlarang untuk coba-coba. Uang dari Papi-Mami kubelikan untuk obat-obat itu. Aku juga menggunakan uang dari Mami-Papi untuk foya-foya dan mentraktir teman-temanku. Kehidupanku di sini sangat bebas. Namun, Papi-Mami jangan khawatir, aku belajar dengan baik dan berprestasi sesuai dengan keinginan Papi-Mami. Aku selalu berusaha menjaga nama baik keluarga besar Surawijaya."


Los Angeles. Sabtu, 18 Oktober 20XX


"Aku baru saja kontrol ke psikiater mengenai penyakitku. Dari hasil tes, mereka menyimpulkan jika penyakitku semakin parah dan aku membutuhkan pendampingan. Mereka bertanya tentang Mami dan Papi, tapi ... aku tak bisa menjawab pertanyaan mereka. Sepulangnya dari psikiater, Papa menelepon untuk bertanya keadaanku. Dan aku ... aku selalu mengatakan jika aku baik-baik saja."


Chicago. Kamis, 26 Desember 20XX


"Mami ... Papi ..., maaf karena aku tidak bisa menjaga kesucianku. Aku baru sudah menyerahkannya pada pria asing karena mendapat tantangan dari teman-temanku. Di sini, gadis yang masih perawan adalah hal yang langka. Jadi, mereka mengolokku. Jujur, aku menyesalinya. Namun, setelah melakukannya aku ingin mengulanginya lagi."


"Cukup!!! Jangan dilanjutkan lagi! Huuu."


Mami menangis meraung-raung saat pak Ikhwan memperlihatkan catatan harian milik wanita itu. Tidak bisa dipungkiri, aku juga merasa kasihan. Namun, ini bukan berarti aku memaafkan dan mau bersamanya lagi. Tidak akan pernah!


Keluarga wanita itu tampak shock. Padahal, yang diperlihatkan baru sebagian. Masih banyak fakta lain yang pasti akan membuat mereka tercengang, terkejut dan terheran-heran.


"Lanjutkan saja," titah pak Subhan Surawijaya.


"Hei, tidak bisa dong! Lihat! Kakakku sedang tertekan!" teriak pak Danang. Dia berdiri sambil mengeraskan rahangnya.


"Apa ada yang salah kalau dilanjutkan?! Tidak ada, 'kan? Toh, Pak Direktur sudah mengetahui semuanya! Dengar! Aku tidak mau nama baik keluarga Surawijaya rusak gara-gara seorang anggota keluarga yang gila!" timpal pak Subhan.


"Subhan! Beraninya kamu menuduh anakku gila!" Bu Silfa tidak terima.


"Bu Silfa! Harusnya kamu berfikir! Sudah jelas-jelas kamu itu tidak becus mengurus anakmu sendiri!" elak pak Subhan. Yang lainnya hanya menyimak.


"Subhan! Suamiku yang menyekolahkan kamu! Beraninya kamu menuduhku seperti itu! Harusnya kamu berterima kasih dan membalas jasa padaku dan suamiku!" sentak bu Silfa.


'Brak.' Bu Silfa bahkan menggebrak meja.


"Kamu memang keterlaluan Subhan!" bela pak Danang.


Ia berdiri sambil menyingsingkan lengan bajunya. Aku, pak Sabil dan pak Ikhwan saling memandangi. Pak Sabil malah bersidekap sambil mengangkat bahunya.


"Apa yang harus saya kakukan?" bisik pak Ikhwan.


"Kita jadi penonton saja," bisik pak Sabil.


Haish, mereka tidak dapat dipercaya. Bukannya mengambil tindakan, malah mau jadi penonton. Sepertinya, aku harus segera mengambil keputusan. Di saat mereka bersitegang, akupun lantang bicara dengan percaya diri. Aku, Zulfikar Saga Antasena, pria penggila istri yang tidak bisa diremehkan.


"Begini saja," selaku di tengah adu mulut mereka. Mereka lantas menatapku.


"Aku sudah memiliki copy datanya. Aku akan memberikan seluruh data tanpa terkecuali. Silahkan ditelaah dan dicermati. Aku ke sini untuk membeberkan fakta, bukan untuk melihat perselisihan Mami dan Pak Subhan," tegasku seraya beranjak.


"Zul tunggu! Kamu tidak boleh menceraikan Dewi!" Mami berlari dan merangkul bahuku.


"Maaf Mami, aku tidak bisa. Oiya, aku titip bayi yang dikandungnya, jika sampai terjadi sesuatu pada calon anakku, aku tidak segan untuk mempublikasikan kasus putri Mami. Jika Mami bersedia bekerja sama, aku tidak akan melakukan apapun. Aku dan dia sudah bukan suami-istri lagi."

__ADS_1


"Zul!"


"Maaf Mami. Sekarang, aku akan memberi pilihan, mau dia yang menggugatku, atau aku yang mengajukan gugatan. Silahkan." Kemudian berlalu. Pak Sabil dan pak Ikhwan menyusul.


"Zul!" Mami hendak mengejarku, namun dihalangi oleh pak Danang.


"Biarkan dia pergi. Kita lihat dulu semua data yang mereka miliki, setelah itu, barulah kita bertindak. Aku juga tidak sudi ponakanku diperlakukan seperti itu. Padahal, Dewi sudah berbaik hati dan mengizinkannya poligami," tambah pak Danang.


...⚘️⚘️⚘️...


"Lega rasanya sudah terpisah dari wanita itu." Aku menyandarkan tubuhku di kursi mobil. Aku duduk di belakang bersama pak Sabil. Pak Ikhwan yang mengemudi.


"Hari ini Listi libur. Duh, pekerjaanku pasti berat," keluhku.


"Kan ada Anwar," sela pak Sabil.


"Kamu sudah kenal sama Anwar? Hahaha, dia masih baru, belum bisa diandalkan."


"Kalau aku memintan Anda memecat Anwar? Apa bisa?"


"Apa? Ya enggak bisa 'lah. Pak Sabil cemburu ya? Hahaha. Anwar itu masih bocah. Bukan tipenya Listi."


"Hmm, begini amat ya jadi aku. Aku calon pengantin 'loh, Pak. Tapi pimpinan masih menyuruhku bekerja."


"Salah Pak Sabil nikahnya di bawah tangan," celetuk pak Ikhwan.


"Ya 'sih. Aku sebenarnya tidak mau seperti ini, tapi tidak punya cara lain kecuali segera mengikatnya."


"Besok mau jam berapa ijab kabulnya?" tanyaku.


"Jam 7 pagi, dan setelahnya aku harus langsung bekerja."


"Duh kayaknya aku tidak bisa hadir pak Sabil. Besok mau ada rapat penting."


"Saya juga tidak bisa hadir. Soalnya, harus ke pengadilan menghadiri sidang klien."


"Semangat dong, Pak Sabil." Aku menepuk bahunya.


Lalu mobil kami berhenti di Metro. Kantornya pak Sabil. Lanjut ke rumahku yang diberikan untuk Dewi. Aku ke sana untuk menjatuhkan talak tiga di hadapan Dewi dan memberitahunya jika ia sudah kuserahkan pada keluarganya. Aku berharap dia lekas sembuh dan dan segera mendapatkan pria yang tulus mencintai dan menerima dia apa adanya.


Sebagai bukti kepedulianku, aku akan membuat perhitungan pada orang-orang yang dulu pernah menjebaknya dan memperkenalkan wanita itu pada obat-obat terlarang dan s e k s.


"Anda tidak salah," pak Ikhwan melirikku yang sedang melamun menatap jalanan.


"Hmm," jawabku.


"Bu Dewi membutuhkan pendampingan orang tua, jika dilihat dari riwayat hidupnya, ia memang kurang kasih sayang. Dari sisi harta boleh saja sangat melimpah, namu ia kekurangan dari segi asah, asih dan asuhnya. Lagi pula, Pak Zulfikar masih bisa membantunya. Walaupun bukan sebagai suaminya, tapi Anda bisa berperan sebagai orang yang peduli terhadapnya."


"Ya, Pak Ikhwan benar," gumamku. Lalu mama menelepon.


"Ya, Ma."


"Dewi harus dirawat, Zul. Kondisi plasentanya baik-baik saja. Namun Dewi masih mengeluarkan flek darah dan ada katanya ada mulasnya. Dari pemeriksaan, dokter menyimpulkan jika yang terjadi pada Dewi kemungkinan karena hubungan intim yang terlalu bersemangat dan kasar. Astaghfirullah, Zul! Apa kamu sengaja membuat Dewi seperti itu?! Enggak kira-kira kamu, 'tuh. Sudah tahu rahimnya lemah," ocehnya. Ya, mama tentu saja akan menyalahkanku.


"Hahaha." Aku menjawab ocehan mama dengan tertawa kencang.


"Zul?! Kamu bagaimana 'sih?! Malah tertawa! Heran Mama sama kamu!"


"Sebentar lagi Mama akan tahu. Lima menit lagi aku datang. Oiya, apa bang Radit masih ada di situ?"


"Bang Radit? Mama enggak lihat dia. Di dapur juga cuma ada Inar. Memangnya kenapa, Zul?"


Enggak apa-apa, Ma. Nanti aku jelaskan.


"Ya sudah, kamu cepat ke sini. Kalau kamu sudah datang, Mama mau ke rumah sakit lagi. Soalnya sudah kangen sama si kembar. Dewi sudah Mama bujuk supaya mau dirawat di rumah sakit tempat Daini, tapi dianya menolak. Katanya mau nunggu kamu dulu." Panggilan berakhir setelah aku dan mama berbalas salam.


Ternyata, dia perdarahan karena itu. Sudah kuduga! Wanita itu rela mengorbankan keselamatan anakku demi nafsunya. Beraninya kamu bersenang-senang di atas penderitaan calon anakku. Tanganku mengepal kuat. Rasanya, ingin mengambil anak itu saat ini juga.


"Pak, sabar ya," lirih pak Ikhwan. Ia sudah tahu jika wanita itu berzina dan melakukan kekerasan pada bang Radit.

__ADS_1


"Selain ke psikiater, bu Dewi juga sepertinya harus konsul ke dokter kandungan untuk mengobati kelainnya," saran pak Ikhwan.


Akhirnya, tiba juga di tempat tujuan. Aku menghela napas. Bismillah, semoga langkahku Engkau ridhoi. Aamiin. Mama sudah menunggu, pun dengan Inar. Lalu kami bersama-sama menuju ke kamar wanita itu.


Dia sedang diinfus oleh dokter pribadinya. Aku membiarkan dia tenang dulu. Setelah wanita itu selesai makan dan terlihat segar, aku segera mengutarakan niatku. Mama yang belum tahu apa-apa mematung bingung setelah mendengar kata talakku.


"Apa?! Apa aku tidak salah dengar?! Kamu menjatuhkan talak tiga, Mas?!"


Wanita itu terkejut luar biasa. Ia hendak beranjak dari tempat tidur untuk mendatangiku, namun tangannya ditahan oleh dokter dan Inar.


"Mas, k-kamu tega, huwaaa!" Ia menangis histeris sambil menutupi wajahnya.


"Zul, apa yang ada dipikiran kamu?!" teriak mama sambil memeluk Dewi.


"Maaf Ma, aku harus pergi ke kantor. Pak Ikhwan, tolong jelaskan semuanya pada mamaku. Kalau perlu, biarkan Mama melihat semua bukti yang kita miliki."


"Baik, Pak."


"Aku ke kantor naik taksi. Mobilku pakai saja."


"Huuu. Huusk." Dia masih menangis.


"Zul! Kamu harus menjelaskan semuanya pada Mama!"


"Aku ke kantor ya, Ma."


Aku Meraih tangan mama untuk kusalami. Lalu pergi dengan langkah cepat. Ada perasaan tenang yang tiba-tiba menelisik ke dalam relung hatiku. Apa itu terjadi karena aku bahagia dengan perpisahan ini? Entahlah.


Akhirnya, aku mantap meninggalkan rumah yang penuh dengan drama dan sandiwara itu. Aku menatap bangunannya seiring dengan laju taksi yang kutumpangi. Rumah itu telah menjalani bagaimana aku dan dia bersandiwara selama ini. Ya, aku bersandiwara pura-pura mencinta dan harmonis dengan wanita itu, dan dia yang terus berpura-pura baik di hadapan semua orang. Padahal faktanya, dia 'sakit parah.'


Bangunan rumah itu semakin mengecil karena laju taksi yang kian menjauh. Tapi, segenap kenangan bersama wanita itu tak mudah kulupakan. Kenangan bersamanya terasa sangat pahit dan menyakitkan. Namun, di balik semua itu ... ada hikmah besar yang kudapatkan.


Sebab, dengan hidup bersamanya, aku jadi banyak belajar dan bersabar. Ada satu hal lagi yang membuatku bingung apakah harus kecewa ataukah harus berbahagia. Ya, karena dia yang sering menkonsumsi obat tidur, ternyata menjadi wasilah pertemuanku dengan Daini Hanindiya Putri Sadikin, istriku. Wanita cantik nan sholehah yang saat ini telah menjadi istri sahku satu-satunya dan tidak ada duanya.


Tidak terasa, airmataku menetes seiring dengan tersunggingnya sebuah senyuman manis dari bibir nakalku. Nakal? Ya, kata Hanin, bibirku memang nakal.


"Pak berhenti dulu di ATM itu, ya," pintaku.


"Baik, Pak."


Aku bermaksud melampiaskan ketenangan hati ini dengan bagi-bagi uang pada yang membutuhkan. Aku juga akan memesan pakat makanan untuk panti asuhan.


......⚘️⚘️⚘️......


Listi Anggraeni Mutiara


"Tidak! Bagaimana ini?!" rutukku pada diri sendiri.


Aku kesal sendiri karena tidak bisa tidur. Kembali menoleh ke jam dinding dan semakin dag dig dug. Entah yang ke berapa puluh kalinya aku melihat jam.


"Oh, tidak!"


Sudah jam tiga pagi. Itu artinya, empat jam lagi aku akan jadi istri percobannya pak Sabil.


"Aaarrgghh!"


Aku berteriak karena mataku ada mata pandanya. Bagaimana kalau aku terlihat jelek karena mata panda ini? Apa pernikahan gantungnya akan dibatalkan.


"Aku harus bagaimana?"


"Kalau lagi galau, lagi marah, lagi kecewa, lagi putus asa, lagi apapun keadaannya, coba 'deh Kak Listi mengadu sama yang punya jagat raya ini." Tiba-tiba ingat sama ucapan Daini.


"Baiklah."


Akupun bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu. Mau memohon supaya hatiku tenang, dan acaraku dan pak Sabil dilancarkan. Aamiin.


...⚘️⚘️⚘️...


...~Tbc~...

__ADS_1


__ADS_2