Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Lolos


__ADS_3

"Cepat! Kamu geser ke dekatku, bisa?"


"Apa?! Untuk apa geser ke Pak Sabil? Aku juga diikat, Pak. Aku tak bisa membantu Anda," tolakku.


"Ssstt, pelankan suaramu. Selagi mereka lengah, kita harus bisa membebaskan diri. Cepat geser! Aku tak bisa begeser ke kamu karena badanku terikat dengan kursi."


"Ihh, Anda benar-benar aneh! Kalau aku sudah begeser, Anda mau apa? Aku juga tak bisa melakukan apa-apa, Pak."


"Tujuan kamu begeser adalah agar aku bisa membuka tali yang mengikat tanganmu. Jika aku berhasil, nanti giliran kamu yang membuka tali yang mengikatku. Setelah itu, kita akan menyusun rencana lain. Cepat!"


"A-apa? 'Kan Pak Sabil juga diikat, bagaimana caranya Anda bisa melepas ikatanku?"


"Oh ya ampun, Listi. Aku perwira. Setidaknya, seburuk-buruknya prestasiku, aku masih bisa menggunakan trik membuka tali dengan mulutku. Cepat! Setelah kita dekat, kamu begeser ke atas pelan-pelan agar posisi tanganmu sejajar dengan kepalaku. Gunakan ujung telapak kaki dan bokong kamu untuk begeser," titahnya.


"A-apa?!" Aku masih tak percaya trik ini bisa berhasil.


"Listi, ayolah. Sekarang, cepat gunakan punggung dan bahu kamu untuk begeser ke arahku. Cepat!" desaknya.


"Ba-baiklah." Akhirnya mengikuti perintahnya. Aku mulai menggerakkan badan sesuai intruksinya.


"Gunakan gaya cacing kepanasan. Caranya, ayunkan punggungmu ke kiri dan ke kanan," katanya.


"Cacing kepanasan? Issh, memangnya ada nama trik seperti itu?" Aku agak kesal. Membayangkan cacing yang kepanasan jadi merasa jijik.


"Ada. Banyak 'kok namanya. Ada trik kucing, kobra, kerbau, sapi, dan lain-lain," jelasnya. Entahlah dia mengarang cerita atau memang bicara fakta.


"Teknik begeser juga ada yang namanya teknik ulat keket. Digunakan kalau yang diikat seluruh tubuh. Bagus, sedikit lagi, ya bagus Listia."


"Listia?" Mataku, mendelik. Merasa asing dengan nama itu.


"Namamu Listi Anggraeni, 'kan? Nah, aku singkat jadi Listia. Atau aku panggil Tia saja. Mau?"


"Tumben, biasanya juga Anda memanggilku Listrik," gumamku.


"Nama adalah warisan dari orang tua yang bermakna doa kebaikan untuk putra-putrinya. Jadi, mulai hari ini, aku tidak akan memanggilmu dengan nama sembarangan lagi. Maaf kalau sebelumnya aku pernah memanggilmu dengan sembarang kata."


Aku jadi tersinggung. Sebab, akupun demikian. Sering memanggilnya dengan nama asal-asalan.


"Aku juga minta maaf," kataku.


"Kalau kamu tetap ingin memanggilku Sablon atau Linglung, aku tak masalah, 'kok."


"Tidak, kalau Anda sopan. Aku juga bisa sopan."


"Baiklah, kalau kamu mau, panggil aku Abil saja."


"Abil?"


"Ya, Abil. Atau A Abil," tambahnya sambil tersenyum.


"Issh, aku geli kalau memanggil Anda aa," tolakku. Bahkan sambil bergidik.


"Hahaha. Aku bercanda, 'kok. Terserah kamu mau memanggil apapun. Cukup Tia, cukup. Kita sudah dekat. Sekarang, cepat sejajarkan tanganmu ke kepalaku."


"Baik."


Lantas kumensejajarkannya. Lumayan sulit. Tapi dia membimbingku. Dan ... berhasil.


"Kerja bagus Tia," pujinya.


Aku juga ingin lolos dari keadaan ini. Mau tidak mau, aku memang harus mematuhinya.


"Sekarang, kamu harus memiringkan tubuh kamu agar aku bisa menjangkau tangan kamu yang terikat."


Ya ampun, 'kok jadi berdebar-debar, 'sih?


"Ba-baik," jawabku.


"Cukup," katanya.


"Pak Sabil, tunggu. Pastikan mulut Anda hanya menyentuh tali. Jangan sampai menyentuh yang lain."


"Maksud kamu?"


"Issh, Anda lihat 'kan tanganku terikat dan disatukan di dadaku? Jadi, jangan sampai bibir Anda menyentuh dadaku! Mengerti?!" sentakku.


"A-apa? Hahaha, aku baru kepikiran. Tenang, jangan khawatir." Bisa-bisanya dia tertawa di saat seperti ini. Menyebalkan!


"Akan kupastikan dadamu aman. Tapi, kalau tak sengaja, maaf ya." Ia mulai mendekatkan kepalanya ke arah tanganku yang terikat.


"Hati-hati, Sablon!" Jadilah keluar kata-kata itu.


"Maaf. Maksudku, hati-hati Pak Sabil," ralatku.


"Tenang, aku yakin bisa melakukannya dengan baik."


Aku mengintip. Perasaan kian tak karuan saat kepalanya mendekat. Lalu gigi-giginya mulai menarik permukaan simpul tali yang mengikat tanganku.


"Awh! Pak Sabil!"


"Ssst, Listia! Kenapa? Kamu bisa diam tidak, 'sih?"


"Hidung Anda tadi menyentuh bagian dadaku! Aku tidak suka!"


"Apa?!" Matanya mengerjap.


"Aku merasakannya, Pak! Pokoknya, kalau Anda melakukannya lagi, kita gagalkan saja rencana ini."


"Ya ampun, aku tak sengaja. Listia, ini sifatnya darurat. Lagi pula, aku tak tertarik sama tubuh kamu. Jadi, kamu jangan ke-PD-an, ya."


"Apa?! Aku bukan ke-PD-an, Pak! Sudahlah! Aku tidak mau bekerja sama!"


"Oke, aku minta maaf. Jangan begerak dulu. Aku sudah menemukan simpul tali yang seharusnya ditarik." Dia bersiap. Giginya sudah menggigit simpul yang ia maksud.


"Cepat Pak Sabil! Hati-hati-hati! Don't touch me!" Serius, aku akan memukul kepalanya kalau sampai dia menyentuh bagian itu.

__ADS_1


"Good job!" pujinya pada diri sendiri setelah berhasil melepasnya.


Akupun bahagia. Dia berhasil. Tanganku terbebas dari jeratan.


"Pergelengan tanganmu memerah. Nanti kita obati. Sekarang, cepat buka tali-tali yang lainnya!"


"Ya Pak, sabar dong!" ketusku sambil duduk.


"Sebelum membuka tali Anda, aku akan membuka taliku dulu." Langsung membuka simpul yang mengikat kakiku. Namun aku kesulitan.


"Tia, Listia! Makanya, buka taliku dulu! Cepat!"


"Oke, oke. Anda bisa tenang enggak, 'sih? Gue gugup tahu!"


Kata 'gue' akhirnya keluar lagi. Padahal, tadi aku sudah berusaha agar tak mengatakan 'gue' lagi di hadapan manusia sok penting ini.


"Tenang, coba tatap wajahku. Semoga bisa membuatmu tenang."


"Ish, tidak lucu! Ini sulit. Ikatannya terlalu kuat, Pak!" keluhku.


"Tunggu." Ia menggerakkan kaki dan tangannya yang terikat.


"Di bagian kakiku sepertinya bisa dibuka lebih dulu. Gunakan kekuatanmu. Bisa, 'kan?"


"Baik." Aku patuh.


"Berhasil." Aku bahagia.


"Alhamdulilllah," gumamnya saat aku berusaha membuka ikatan di tangannya.


Setelah beberapa saat dan mengikuti panduannya, akhirnya ... aku berhasil.


"Gadis pintar." Dia mengacak rambutku.


"Aku bukan anak kecil!" Aku menepis tangannya.


"Jangan banyak protes. Kita harus kabur selagi mereka belum menyadarinya."


Kondisi sekat penghubung di bagian kemudi memang sedang tertutup rapat. Jelas, ini peluang yang tak boleh disia-siakan.


'Krak.'


Saat pak Sabil membuka tali yang mengikat kakiku, sekat kaca itu terbuka. Sontak membuatku terkejut. Begitupun dengan pak Sabil.


"Kamu?!" Pria yang melongokan kepalanya terkesiap.


"Mereka mau kabur!" teriaknya. Sedang berusaha memberitahu temannya.


"Kalian lancang! Beraninya menangkapku!"


Pak Sabil sesumbar sambil menendang pintu belakang ambulance yang sepertinya telah diseting agar tidak bisa dibuka dari dalam.


"Sial!" dengusnya. Sadar pintunya tak bisa dibuka.


"Hahaha. Kami hanya disuruh. Lebih baik Anda menyerah saja!" seru pria dari sisi kemudi sambil menodongkan senjata laras panjang. Sementara laju ambulance terasa semakin kencang saja.


"Baik, aku akan menyerah. Tapi, tolong lepaskan wanita ini," pintanya.


"Tidak bisa!" tolak si penjahat.


"Kenapa?"


"Karena wanita itu adalah sahabatnya istri muda pak Direktur."


"Oh, jadi kalian orang suruhan pak Pratama Surawijaya?" duganya. Tangannya melindungiku agar tak melihat ke depan.


"Tidak! Kami melakukan penculikan ini atas perintah seorang polisi yang jabatannya lebih tinggi dari kamu! Kami sipil, tapi disuruh polisi untuk menculik polisi! Hahaha!"


"Siapa polisi yang menyuruhmu?" Kali ini, nada bicara pak Sabil terdengar lebih tenang.


"Sampai matipun, kami tidak akan mengatakannya."


Kulihat, pak Sabil menghela napas panjang. Lantas menunduk sejenak. Pasti sedang memikirkan cara lain untuk bisa meloloskan diri.


"Baiklah. Apa yang kalian inginkan dariku?"


"Kami ingin menawan Anda untuk menekan pak Zulfikar. Info terbaru yang kami dapatkan, pak Zulfikar sudah menceraikan bu Dewi. Dia benar-benar pria jahat!"


"Apa?!"


Pak Sabil tampak kaget. Aku juga kaget mendengarnya. Benarkah pak Direktur sudah menceraikan bu Dewi?


"Kamu tidak tahu fakta sebenarnya. Bu Dewi memang pantas diceraikan," bela pak Sabil.


"Hahaha, kamu dan pak Zulfikar sebelas dua belas! Sama-sama tak punya hati!" tuduh pria itu sambil mengelus senjatanya.


.


.


"Tolooong!"


Tiba-tiba pak Sabil beteriak saat mobil yang kami tumpangi melewati sebuah pos Polantas. Entah ini di daerah mana. Aku sama sekali tak mengenalinya. Sayang, suaranya tak ada yang mendengar. Lagi pula, pos tersebut tampak sepi.


"Hahaha. Nyalimu besar ya Iptu!" ejeknya.


"Dasar pengecut! Harusnya, kamu berpikir dua kali sebelum menerima tugas ini! Oiya, kemana orang-orang yang tadi menyerangku?"


Ya, akupun baru ingat yang menyerangku ada tiga orang. Berarti, yang lainnya tidak ikut ke dalam mobil ini.


'Dor.'


Tiba-tiba terdengar ada suara tembakan. Aku spontan memeluk pak Sabil karena panik dan ketakutan. Belum juga hilang rasa panik ini, mobil ambulance yang kami tumpangi tiba-tiba oleng dan sepertinya akan tergelincir.


"Sial! Ban mobil kita ditembak!" seru pengemudi.

__ADS_1


"Bantuan datang. Jangan takut," bisik pak Sabil. Ia membalas pelukanku.


"Lepas! Aku tadi kaget, Pak. Sekarang sudah enggak." Aku melepas dekapannya sambil begeser.


"Listia! Mobilnya akan tergelincir!"


Dia kembali memelukku. Bersamaan dengan itu, suara tembakan kembali berbunyi. Rupanya, penyerang mobil ini menggunakan sepeda motor. Mereka baru menyerang saat memasuki jalur yang sepi. Tepatnya di sebuah perkebunan kelapa sawit.


"Aaarrggh!"


Aku beteriak kuat. Mobil ini benar-benar hilang kendali dan tergelincir ke bahu jalan. Yang beteriak tak hanya aku. Dua penjahat yang di depanpun beteriak, kecuali pak Sabil. Dia tetap memelukku dan melindungi tubuhku dari benturan.


'BRAK.'


Mobil berhenti dan menabrak sesuatu. Kejadiannya begitu cepat. Yang kurasakan saat ini adalah sebuah kehangatan dan napas memburu dari seseorang. Lalu sesuatu yang hangat menetes ke keningku.


"Aaa darah!" teriakku.


"Itu darahku," kata pak Sabil. Posisi kita berbaring. Sama dengan posisi mobil saat ini.


"Ya ampun, Pak. Anda terluka."


Aku berusaha bangun. Ternyata, darah itu berasal dari lengannya yang terkena ujung serpihan kaca. Kemudian dari balik kaca, aku melihat beberapa orang beseragam hitam berlarian menghampiri mobil ini.


"Amankan pak Abil! Bekuk penculiknya!" teriak orang-orang itu.


Pak Sabil tersenyum sambil mengusap darah di keningku.


"Akhirnya, mereka datang juga," katanya.


"Kalian dikepung! Menyerahlah!" teriak salah satu dari mereka. Yang lainnya memukul kaca ambulance dan sepertinya akan menolongku dan juga pak Sabil.


"Keluar kamu!"


Pengemudi ditarik paksa. Sementara penjahat yang tadi membawa senjata laras panjang langsung melakukan perlawanan saat ia berhasil keluar dari mobil terlebih dahulu. Dia pantang menyerah. Padahal, jelas-jelas kalah jumlah.


"Mari."


Seorang pria beseragam ala preman mengulurkan tangan kepadaku.


"Sial! Kamu enggak tolong aku dulu?!" oceh pak Sabil.


"Hahaha, ladies first, Pak Abil," jawab pria itu. Ia menarik perlahan tanganku agar keluar dari ambulance.


"Ampun, Pak. Ampun."


Dari arah lain terdengar teriakan dua pria penculik yang berhasil dibekuk.


"Siapa yang menyuruh kalian, hah?!" sentak seseorang.


"Lebih baik kami mati daripada memberitahu kamu!" jawab si pengemudi.


"Pelakunya masih rekan kita. Aku menelepon polisi untuk meminta bantuan. Tapi yang datang malah penculik," jelas pak Sabil. Ia sudah berhasil keluar. Luka-luka di pipi, pelipis, dan lengannya langsung diobati.


"Luka dia biar di klinik saja diobatinya," katanya. Maksudnya mungkin luka ringan yang ada di tubuhku.


"Baik, Pak."


"Oiya, di rumah pak Sadikin sepertinya ada polisi yang berada di pihak pak Pratama Surawijaya. Sebab, mereka tahu kalau pak Zulfikar sudah menceraikan bu Dewi. Aku bahkan baru mengetahui kabar itu dari mereka," tambahnya.


"Pak Zulfikar menceraikan bu Dewi? Wah, benar-benar cari gara-gara ya," ucap temannya sambil mengiring aku dan pak Sabil untuk duduk dan berteduh di bawah sebuah pohon rindang yang terletak di sisi jalan.


"Pak Direktur berhak memutuskan, kenapa Anda yang repot?" belaku.


Mereka hanya saling menatap. Sedangkan yang lainnya, tengah membawa dua orang tersebut ke dalam sebuah mobil SUV yang baru saja datang. Mereka segera pergi setelah berbicang dengan pak Sabil. Namun yang dibicarakan tak bisa kudengar karena mereka bisik-bisik.


Kini, yang tersisa hanya aku, pak Sabil, dan satu orang temannya.


"Kamu yakin tidak terluka parah? Apa perlu aku cek ulang?" tanya pak Sabil. Dan temannya langsung terbahak.


"Hahaha. Modus," ledeknya.


"Aku baik-baik saja. Oiya, tasku ada di mana ya? Aku harus mengabari bapak dan ibu."


"Tas kita raib. Diambil komplotan penculik. Begini saja. Kamu hafal nomernya, 'kan? Biar meminjam HP Bang Osef dulu. Bang, pinjami dia ya."


"Silahkan. Untuk wanita cantik, apapun boleh," katanya. Pria yang dipanggilnya bang Osef memberikan ponselnya kepadaku.


"Bang Osef, dilarang merayu wanita di hadapan senior."


"Hahaha. Maaf Pak. Ampun suhu, saya tak akan berani merebut wanitanya senior. Dilarang dalam kesatuan, hahaha."


"Anda bilang apa?! Aku bukan wanitanya!" teriakku. Sampai-sampai tak jadi menelepon gara-gara mendengar kata 'wanitanya.'


"Aku dan dia patner," sela pak Sabil sambil menatapku.


"Ibu, angkat dong! Kok enggak diangkat 'sih?" Aku sedikit kesal. Ibu tak menerima panggilanku.


"Coba telepon ayah kamu," pinta pak Sabil.


"Aku enggak hafal nomor bapak."


"Ya sudah. Kamu tenang, oke? Aku akan telepon pak Zulfikar. Biar nanti ia menyampaikan pesan kamu pada bu Daini. Dari bu Daini, mungkin bisa dilanjutkan pesannya pada ibu atau bapak kamu."


"Baik. Terima kasih."


"Sama-sama Tia," jawabnya.


Tia? Haish, panggilan yang terdengar geli di telingaku.


Lalu sebuah mobil polisi datang. Kali ini, aku yakin bukan polisi gadungan.


"Kita akan kembali ke Jakarta. Aku harus membuat kronologi kejadian dan mengantarmu pulang."


...⚘️⚘️⚘️...

__ADS_1


...~Tbc~...


nyai kangen. Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk mengintai lagi. Semoga bisa mengobati kerinduan reader tercinta pada TBR. Mohon maaf, dan terima kasih karena telah sabar menunggu.


__ADS_2