
Zulfikar Saga Antasena
Dari mulai mengetahui Hanin pecah ketubah, aku sama sekali tidak mau makan. Perasaan ini benar-benar tidak menentu. Andai bisa, ingin rasanya menggantikan posisi Hanin. Biar aku saja yang merasakan rasa sakit itu.
Sekarang, ia sudah melewati 4 jam kedua. Baru saja diperiksa dan pembukannya bertambah menjadi 8 cm. Kata Prof Dahlan, pada 4 jam ketiga atau 12 jam pemantauan, pembukan yang diharapkan adalah 10 cm.
Aku terus berada di sampingnya. Ia baru kuganti bajunya karena bersimbah keringat. Kulit putihnya menjadi lebih putih karena memucat. Wajahnya terus memerah lantaran menahan rasa sakit yang kata mama tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ummi berada dekat kaki Hanin, sedang membaca Al-Qur'an. Abah dan Putrapun sedang membaca Al-Qur'an di ruangan yang lain.
Kata Prof Dahlan, rasa sakit melahirkan itu memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Persepsi tubuh seorang ibu terhadap rasa sakit berhubungan dengan ambang batas nyeri setiap individu. Lalu, setiap bertambah pembukaan, maka rasa sakitnya akan bertambah.
"Neng, mau makan apa?" tanya Listi.
Ia dan pak Sabil tiba di rumah sakit sejak jam lima sore. Listi berencana akan menginap. Sedangkan pak Sabil sudah pulang ke rumahnya pada pukul delapan malam.
"Tidak mau makan apa-apa, Kak. Aku maunya segera melahirkan," ungkapnya.
"Sayang, makan lagi ya. 'Kan biar kuat," bujuk mama.
"Tadi 'kan sudah makan, Ma. Aku mau kurma saja, apa boleh?" pintanya.
"Apapun boleh sayang. Mau apapun akan kuberikan." Lagi, aku mencium keningnya. Entah ini ciuman yang ke berapa kali.
"Ya sudah, aku beli dulu kurmanya ya, Neng." Listi beranjak.
"Kamu suruh pak Agus atau pak Budi saja. Suruh mereka beli kurma yang paling bagus," pintaku.
"Baik, Pak."
"Penerbangan papa delay, Zul. Pak Reza baru saja mengbari," jelas mama.
"Katakan pada papa, aku minta doanya saja, Ma. Padahal, papa tidak buru-buru pulang juga tak masalah," kata Hanin di sela kontraksinya yang mereda.
Setelahnya, tangannya kembali mengerat ke lenganku dan gemetaran. Ia pasti sedang kesakitan. Hanin benar-benar kuat dan tabah. Walaupun wajahnya meringis, ia tak sekalipun mengeluh. Hanya berdzikir lirih sambil memejamkan matanya.
"Hmph ...." Ia menatapku sambil menggigit bibirnya. Apa Hanin akan menyerah?
"Kita sudahi saja ya sayang?" Aku tidak tahan lagi melihatnya.
"Sa-sabar atuh, Pak. Tiga jam setengah lagi. InsyaaAllah, aku dan bayi-bayi kita kuat, 'kok." Ia selalu berpikiri positif.
"Lihat di layar, denyut jantungnya bagus, 'kan?"
Di perut Hanin memang terpasang Kardiotokografi (CTG). Kata dokter, alat itu dipasang untuk mengobservasi serta mencatat pola denyut jantung janin dan hubungannya dengan kontraksi ataupun aktivitas janin dalam rahim.
"Baiklahlah sayang, terima kasih karena sudah mau berjuang demi anak-anak kita."
"Ini kewajibanku. Uhhh ... ayo dong para kesayangan. Semuanya sudah enggak sabar mau bertemu kalian," lirihnya.
...⚘️⚘️⚘️...
Detik berganti menit, menit berganti jam. Entah berapa kali ia mengerang kesakitan, entah berapa banyak peluh yang ia teteskan, entah berapa banyak air mata dan lantunan doa yang kami haturkan demi kelancaran kelahiran calon putra-putriku. Hanin tampak kelelahan, namun semangatnya tidak pernah sirna.
Hingga tibalah saatnya pemeriksaan di empat jam ke tiga. Alhamdulillah, kata dokter kandungan, bukaannya sudah lengkap.
"Tinggal menunggu kepalanya turun dan ada dorongan untuk meneran," jelasnya. Nama di identitasnya dr. Tyas Rahayu, SPOG, (K).
"Berapa lama kami harus menunggu lagi, Dok? Apa ada batas waktunya?" tanyaku. Rasanya ingin segera mengakhiri semua ini dan melihat Hanin istirahat.
"Karena ini kehamilan pertama, maksimal dua jam dari pembukaan lengkap harus sudah lahir. Kalau untuk anak kedua dan selanjutnya, satu jam dari bukaan lengkap harus sudah lahir," terangnya.
"Apa aku sudah boleh mengedan?" tanya Hanin.
"Neng, SC saja ya?" Sama sepertiku, Listi yang matanya sembab karena menangis, rupanya tidak tega melihat kondisi Hanin.
"Sebelum ada dorongan untuk mengedan, Bu Daini jangan mengedan dulu. Sekarang miring kiri saja sambil mengatur napas, rileks, dan menghirup oksigen ya, Bu," sarannya.
"Ba-baik, Dok." Ia tersenyum sambil mengusap perutnya.
"Neng Daini."
Papa dan pak Reza tiba. Tanpa bisa dicegah, papa langsung merangkul Hanin dan mencium keningnya. Mata papa berkaca-kaca. Hanin mencium tangan papa dan menenangkannya.
"Bukaannya sudah lengkap, Pa. Sebentar lagi," katanya.
Di keluargaku, papa adalah pria selain aku yang kuperbolehkan menyentuh Hanin. Lagi pula, Hanin juga sudah menjelaskan tentang hubungan permahraman antara menantu dan mertuanya.
Kata Hanin, ibu mertua diperbolehkan mencium kening menantunya, sebagaimana menantu mencium kening ibu mertuanya jika tujuannya adalah pemuliaan dan penghormatan. Karena antara ibu mertua dengan menantu itu hubungan mahramnya adalah selamanya. Jadi, bapak mertuapun boleh mencium kening menantu perempuannya dengan syarat aman dari fitnah dan syahwat.
"Papa berharapnya saat Papa tiba kamu sudah melahirkan, Nak." Papa tampak cemas.
"Kita tunggu dan doakan yang terbaik untuk setiap prosesnya," ujar abah.
Sementara Putra hanya menununduk sambil menekan tasbih digital di jemari tangannya. Aku tahu sedari tadi remaja itu terus berdzikir untuk Hanin. Putra tidak banyak bicara, namun dari tatapan matanya, jelas menunjukkan kekhawatiran.
"Hmph ...." Hanin melengking.
"Cepat panggil dokter!" teriakku.
Putra segera menekan bel.
"Aaa ---." Hanin gelisah, napasnya tersenggal, keringatnya bercuran.
"Dok! Cepat Dok!" sentakku saat mereka tiba.
"Mohon maaf, yang mendampingi maksimal tiga orang ya," seru seorang bidan.
"Ya sudah, yang lain keluar. Biar Ummi, Bu Yuze dan Mas Zul saja yang mendampingi," seru ummi.
"Dok, aku mau mendampingi," pinta Listi.
"Maaf, Bu. Tidak bisa."
Lalu mereka pergi. Biar bagaimanapun, peraturan rumah sakit tetap harus dipatuhi. Tugas Irmapun digantikan oleh tim medis. Listi memeluk dan mencium Hanin sebelum ia pergi.
"A-aku sepertinya ingin mengedan, Dok ...."
"Baik, kami akan melakukan pemeriksaan ulang ya, Bu." Dokter Tyas mendekat, yang lainnya sibuk menyiapkan alat.
"Maaf Bu Daini. Kepalanya bayinya belum turun. Bu Daini jangan mengedan dulu ya."
"A-apa? Ta-tapi Dok ... a-aku ingin sekali mengedan, aaa --- hhh ...." Wajahnya memerah.
__ADS_1
"Sabar ya Bu Daini. Bukaannya memang lengkap, tapi kepalanya masih tinggi. Jalan lahir milik Bu Daini juga masih sempit dan sama sekali belum ada penipisan pada serviks," jelas dokter Tyas.
"Terus, aku harus bagaimana, Dok?"
"Ibu miring kiri lagi ya. Untuk Pak Zulfikar, mari ikut saya ke nurse station. Karena dari bukaan lengkap sudah hampir satu jam, saya harus menjelaskan prosedur operasi untuk berjaga-jaga," lanjutnya.
"Baik, Dok. Sayang, aku tinggal sebentar ya."
"Ya, Pak. Ja-jangan lama-lama."
"Dok, ketubannya mulai menghijau! Denyut jantung salah satu janinnya distress!" teriak bidan dengan tiba-tiba.
"A-apa?!" Dokter Tyaspun kaget.
Akupun demikian. Ummi dan mama saling menatap. Lalu mereka berpelukan. Mungkin, sedang saling menguatkan. Hanin langsung terisak.
"Siapkan operasi CITO! Sekarang!" teriak dokter Tyas setelah mengecek CTG dan air ketuban. Lalu memberi kode dengan matanya agar aku mengikutinya.
"Mama ... Ummi .... Huuu .... Bagaimana ini?" Aku masih mendengar ratapan Hanin.
"Dokter akan melakukan yang terbaik, kamu tenang ya sayang," kata mama.
"Kamu sudah berjuang sampai sejauh ini, Nak. Jika pada akhirnya harus operasi, tidak apa-apa ya, Nak. Kita sedang berikhtiar," sela ummi.
Hanin diam saja, namun saat kulirik, dia sedang mengangguk lemah sambil mengusap airmatanya.
...⚘️⚘️⚘️...
Di ruang nurse station, Prof Dahlan dan dokter Tyas segera menjelaskan jika salah satu dari bayi kami mengalami kegawatan yang penyebab pastinya belum diketahui. Namun, bisa jadi dikarenakan kurang bulan, kontraksi yang berlebihan, dan air ketuban hijau.
"Bu Daini sudah berusaha dengan sangat luar biasa. Namun, jika dipaksakan menunggu satu jam lagi dalam keadaan ketuban hijau, kami khawatir kondisi bayinya semakin gawat hingga mengalami asfiksia atau gagal napas setelah dilahirkan. Dengan demikian, tindakan yang paling tepat untuk saat ini adalah operasi," pungkas Prof Dahlan setelah sebelumnya menjelaskan kerugian apa saja yang bisa terjadi akibat operasi caesar.
"Baik Dok, Prof, aku setuju." Segera menandatangani formulir informed consent yang mereka siapkan.
"Aku ingin tim medis yang menangani istriku perempuan semua," pintaku.
"Baik Pak. Akan kami siapkan. Oiya, Prof Dahlan memang berada di sini, namun beliau tidak melakukan tindakan pada bu Daini, hanya sebagai konsulen saja," jelas dokter Tyas.
"Aku mengerti, terima kasih."
Setelahnya, aku segera kembali ke ruang perawatan.
...⚘️⚘️⚘️...
Ternyata, Hanin sudah disiapkan. Tubuhnya telah diselimuti baju operasi. Lalu seorang petugas memberiku baju operasi agar segera digunakan dan bisa mendampingi Hanin.
Hingga didorong ke ruang operasi, tubuh Hanin tidak henti menggelinjang. Ia juga terus merintih kesakitan. Saat kusentuh, permukaan perutnya terasa sangat tegang dan keras.
"Dok, cepat Dok!" Aku tidak sabaran.
"Ya, Pak. Ini kami usahakan secepat mungkin. Setelah dilakukan anastesi, nanti mulasnya akan hilang dan Bapak tidak akan melihat Bu Daini kesakitan lagi. Kecuali kesakitan pasca operasi."
Ya, mereka memang mendorong tempat tidur Hanin dengan langkah cepat. Mama, papa, ummi, abah dan yang lainnya mengantar sampai depan ruang operasi. Hanin melambaikan tangan saat ia memasuki ruang operasi.
"Mohon doanya."
Aku kembali memohon doa dari mereka. Kali ini sambil meletakan kedua tangan di dadaku dan membungkukkan badan.
...⚘️⚘️⚘️...
Apa lagi saat salah seorang dari mereka memimpin doa dan mengatakan jika operasi akan segera dimulai. Beberapa saat kemudian, tangan Hanin berubah dingin dan bibirnya gemetar hebat.
"Apa yang kamu rasakan sayang?"
"Di-dingin Pak ... Dingin sekali."
"Dok, bagaimana ini? Istriku kedinginan."
"Tenang ya, Pak. Selama tanda-tanda vitalnya dalam batas normal, insyaaAllah Bu Daini akan baik-baik saja. Kedinginannya itu efek dari obat anastesi. Ini kami akan memasang selimut elektrik di bawah kaki Bu Daini untuk mengurangi rasa dinginnya," jelas dokter anastesi.
Jangankan Hanin, akupun merasa jika kamar operasi ini sangat dingin. Aku mencium bibir Hanin yang gemetar, aku tidak peduli lagi dengan keberadaan dokter, perawat, dokter anastesi dan penata anastesi.
"Cu-cukup Pak, aku malu," protes Hanin.
"Bayinya akan segera lahir, Pak Zulfikar siap-siap ya. Sebentar lagi akan memotong tali pusat," jelas dokter Tyas.
"Aku tinggal dulu sebentar ya, mau bertemu bayi kita. Aku tidak sabar ingin bertemu mereka. Aku juga gugup sayang."
Aku mengecup keningnya. Lalu seorang perawat memakaikan sarung tangan steril ke tanganku. Aku mematung bingung saat bayi pertamaku dikeluarkan dari perut Hanin.
MasyaaAllah, apa itu anakku?
Bibirku menganga. Hari ini, aku benar-benar ayah. Bayi pertamaku tidak menangis. Dia tampak lunglai, dan segera dibawa oleh petugas ruang perinatologi. Mereka membawa bayiku sambil berlari. Aku tidak bisa berkata-kata.
"Bayi yang pertama kondisinya kurang baik," jelas dokter Tyas. Lalu ia mengeluarkan bayi kedua, bayiku yang ini langsung menangis.
Airmataku menetes seketika saat mendengar tangisan pertamanya. Dengan tangan gemetar, aku memotong tali pusatnya. Kulitnya berwarna kemerahan, matanya jeli dan jernih, rambutnya lebat. Bibirnya mirip Hanin, penuh dan seksi. MasyaaAllah, cantik sekali.
Berarti, bayi yang tidak menangis adalah bayi boyku. Aku melangkah lunglai mengikuti dokter yang membawa putriku menuju infant warmer. Mereka membungkus tali pusatnya, lalu mempersilahkanku mengadzaninya setelah bayiku dibedong. Sungguh, bibirku nyaris kelu, dan airmataku kembali menetes. Aku tidak sanggup bersitatap dengan mata jernih milik putriku.
"Aku mau berwudhu dulu."
"Silahkan, Pak."
Setelah berwudhu, aku baru menyadari kalau keluargaku bisa melihat dari balik kaca. Di sana, ummi dan mama sedang berpelukan. Papa mengangguk, ia pasti ingin melihat aku mengadzani putriku.
Aku mulai mengadzaninya, di antara kebahagian ini, ada perasaan sedih karena belum bisa mengadzani putraku. Bagaimana kondisi putraku saat ini? Semoga kamu baik-baik saja ya, Nak.
Seusai mengadzani, aku disuruh berbaring di tempat tidur khusus dan membuka bajuku. Lalu putriku diletakkan di dadaku.
"Ini namanya metode kangaroo father care, dilakukan sampai bu Daini selesai operasi. Setelahnya, nanti bu Daini yang akan melakukannya. Istilah pada bu Daini disebut inisiasi menyusu dini," terangnya.
"Baik, lalu bagaimana dengan bayiku yang satunya lagi, Dok?"
"Masih ditangani, Bapak berdoa saja. Alhamdulillah sudah menangis, namun masih memerlukan pemantauan ketat."
"Alhamdulillah," aku bisa sedikit lega.
Lantas kusentuh punggung halus putriku. Tanganku masih gemetar, dan genangan air mata ini belum mau pergi dari pelupuk mataku. Aku hampir tidak percaya jika makhluk kecil yang sedang berada di dadaku saat ini adalah putriku. Tangan kecilnya mulai meraba-raba, lalu bibirnya berbunyi seperti sedang menyesap. Kejadian ini membuatku tersenyum dan terharu.
Sekitar 30 menit kemudian, dokter jaga memberitahu jika operasi caesar pada Hanin telah selesai.
__ADS_1
"Bagaimana kondisi istriku, Dok?"
"Bu Daini dalam keadaan stabil. Setelah satu jam diobservasi di ruang recovery room, bu Daini akan dipindahkan ke ruangan perawatan sebelumnya."
Syukurlah, aku sangat bahagia. Terima kasih Yaa Robbi.
"Bapak harus menemui bayi Bapak yang lain. Bayi yang ini akan kami inisiasi menyusu dinikan pada bu Daini." Lalu mereka membawa putriku.
...⚘️⚘️⚘️...
"Zul, selamat ya Nak. Huuu ...."
Mama berhambur merangkulku. Ia menangis sejadi-jadinya. Papapun mendekat dan memelukku. Aku baru saja keluar dari ruang perinatal dan selesai mengadzani bayi boyku. Dia mengalami asfiksia, tapi alhamdulillah sudah menangis. Namun harus diinfus dan terpisah dari saudarinya untuk mendapat obat-obatan.
"Mas, selamat ya. Sekarang sudah jadi babak-bapak." Putra menyalamiku. Lalu ummi dan abah memelukku. Seperti halnya mama, ummi juga menangis.
'PLAK.'
Sebuah pukulan mendarat di pundakku. Ternyata dari kak Gendis.
"Aduh, sakit Kak."
"Kamu keterlaluan Zul. Anak kamu cantik dan ganteng banget tahu. Padahal masih bayi. Aku sudah melihat mereka. Kerja sama dan kerja keras kamu versus Daini tidak sia-sia ya. Hahaha." Aku tersenyum mendengar ocehan kak Gendis.
"Memangnya sudah boleh melihat bayinya?!" Listi histeris.
"Sudah, tapi antri ya," jelas kak Gendis.
"Wah, aku mau ke sana."
Listi langsung berlari menuju ruang perinatal. Disusul oleh yang lainnya. Aku berdiri seorang diri. Mereka mengabaikanku. Listi bahkan belum mengucapkan selamat. Lalu pak Reza, pak Budi, bu Juju dan Ipi berdatangan. Mereka pasti akan menyalamiku.
"Pak, kami mau lihat bayinya dulu ya." Merekapun menghiraukanku.
"Apa? Hahaha."
Aku jadi tertawa. Padahal masih bayi, tapi keberadaan mereka sudah berhasil menggeser posisiku. Lalu akupun berlari. Tapi bukan ke ruang perinatal, melainkan ke ruang maternal di mana Hanin berada.
...⚘️⚘️⚘️...
"Bu Daininya baru saja tidur, Pak. Sudah kami periksa dan hasilnya normal."
"Baik, terima kasih Bu Bidan."
Setelah mereka berlalu, aku mendekati Hanin dengan perasaan yang sulit terungkap. Intinya, sangat bahagia. Kalau digambarkan, saat ini tubuhku sedang mengeluarkan jutaan bunga-bunga.
Luar biasa, setelah melahirkan, dia tetap cantik. Sepertinya, Hanin sudah dilap dan dikeramasi. Sebab, rambutnya wangi shampo. Aku mencium pipinya perlahan. Hmm, harum sekali. Lalu meraih tangannya untuk kukecup.
"Terima kasih sayang. Alhamdulillah, anak-anak kita terlahir dalam keadaan sehat dan sempurna. Semoga mereka menjadi generasi penerus yang sholeh-sholehah serta berguna untuk agama, nusa dan bangsa."
"Aamiin." Hanin terbangun.
"Sa-sayang? Maaf, aku ganggu kamu ya?"
"Tidak," jawabnya sambil tersenyum dan menangkupkan telapak tanganku di pipinya.
"Sayang, kita sudah jadi orang tua."
Ia mengangguk. Wajahnya berbinar-binar. Cantik sekali. Jadi tidak tahan, apa lagi saat melihat bibirnya.
"Selagi tidak ada orang, boleh 'kan aku mencium bibir kamu?"
"Emm, boleh. Tapi hanya kecupan saja ya, Pak," tawarnya.
"Aku maunya deep kiss," bisikku. Lalu segera memagutnya sebelum ia protes.
"Uhm ... Mmh ...."
Ia merintih lirih. Tapi kali ini bukan rintihan kesakitan. Pastinya, Hanin keenakan. Rasanya manis dan lembut. Ini adalah first kiss kami setelah sah menjadi orang tua.
"Cut. Sempurna," seru seseorang saat aku dan Hanin berhenti sejenak. Aku terkejut, pun dengan Hanin.
"Irma! Sejak kapan kamu di sini?! Gila kamu ya!" sentakku sambil membantu Hanin memakai jilbab.
"Hahaha, vidionya bagus banget, Mas." Irma malah sibuk dengan kameranya.
"Apa yang tadi direkam?" tanya Hanin.
"Ya, dong."
"Cepat hapus," pinta Hanin.
"Jangan dihapus," sahutku.
"Tapi, Pak."
"Bagian yang itu akan jadi konsumsi pribadi kita."
"Tapi Irma sudah melihatnya."
"Hahaha, tenang saja Kak Daini, aku bisa jaga rahasia, 'kok," sahut Irma.
"Setelah melahirkan, ada namanya masa nifas. Lamanya rata-rata 40 hari. Dalam kurun waktu masa nifas, suami-istri diharamkan melakukan hubungan intim. Jadi, Anda harus bersabar ya Pak."
Tiba-tiba saja teringat ucapan Hanin tentang masa nifas. Aku langsung menjatuhkan diri ke kursi dan memijat keningku.
"Mas kenapa?" tanya Irma sambil merekamku.
"Aku pusing, Irma." Mampu enggak ya aku berpuasa sampai 40 hari?
"Pusing kenapa, Mas?"
"Bawel kamu! Sudah sana! Rekam yang lain juga!" teriakku.
"Hahaha. Jangan bilang kalau Mas Zul terbebani sama masa nifas ya. Apa aku benar?" ledeknya.
"Apa katamu?! Kamu masih bocil Irma! Aku pusing karena kurang istirahat! Sana ah!" usirku. Melambaikan tangan ke arah kamera. Hanin terkekeh melihat pertengkaranku dan Irma.
'Ting tong.' Bel berbunyi.
Irma segera membuka pintu dan terus merekam. Ternyata, yang datang adalah pak Komjen dan istrinya. Disusul pak Sabil yang membawa kado berukuran sangat besar. Mereka memelukku bergantian dan mengucapkan selamat. Lalu bersalaman dengan Hanin.
__ADS_1
...⚘️⚘️⚘️...
...~Tbc~...