
Zulfikar Saga Antasena
"Wi, maaf jika keputusanku membuatmu begitu terluka. Tapi ini adalah pilihan terbaik untuk kita. Aku sudah mencabut semua gugutan penipuan yang dilakukan keluarga kamu. Apa kamu tahu orang yang menyuruhku mencabutnya? Dia adalah istriku. Wanita yang selalu kamu benci bahkan ingin kamu bunuh."
Aku berkata pelan di hadapannya. Wanita itu sudah mendapatkan perawatan medis di rumahnya. Sebagai syarat dicabutnya laporan penipuan itu, aku meminta agar keluarga Surawijaya membantu mempercepat proses perceraianku dan menyerahkan hak asuh anak yang dikandungnya ke tanganku. Dia diam saja. Perutnya sudah besar. Aku menatapnya. Demi anak itu, aku rela melakukan ini. Sepulang kerja, aku mengunjunginya untuk melihat kondisi dan membujuknya makan.
"Aku masih menganggap jika aku adalah kamu, Mas."
"Terserah kamu saja."
Aku menghela napas panjang. Bicara dengannya harus disertai dengan kesabaran. Itu yang disarankan Hanin.
"Kenapa kamu memecat Radit, Mas? Salah apa dia sama kamu?"
Benar-benar gila! Apa dia melupakan perbuatannya pada bang Radit? Keterlaluan!
"Gara-gara kamu, bang Radit harus mendapatkan perawatan. Bang Radit trauma," jelasku.
"Trauma katamu, Mas? Hahaha, kamu tertipu keluguan dia, Mas! Bukan aku yang menggoda dia, tapi dia yang terpikat dengan kecantikanku."
Sambil tersenyum sinis. Bicara dengan wanita sakit akal memang sulit. 'Kok bisa 'sih aku menikah dengan wanita macam ini? Kembali menghela napas sambil melonggarkan dasiku.
"Sudah waktunya aku pulang. Aku pamit. Permisi." Segera berlalu tanpa menunggunya menjawab ucapanku.
"Silahkan," jawabnya. Lalu kembali melamun sambil menonton televisi. Syukurlah, dia tidak melakukan hal-hal yang bisa membayakan kandungannya lagi.
"Mau pulang sekarang, Pak?" tanya Inar sambil menguntitku hingga parkiran.
"Ya, jaga dia baik-baik ya, Nar. Kalau dokter yang merawatnya malas-malasan, laporkan padaku."
"Baik, Pak. Oiya Pak, ini ada kado untuk Raja dan Cantik. Tolong diterima. Kadonya tidak mahal, tapi aku membuatnya dengan tanganku sendiri, Pak." Inar menyerahkan dua buah kado. Warna merah muda dan biru.
"Terima kasih, Inar. Hanin juga pasti akan berterimakasih. Jadi, aku mewakili Hanin mengucapkan terima kasih untuk kamu."
"Sama-sama, Pak." Ia membungkukkan badan dan menatap kepergianku sambil tersenyum.
Saat memasuki jalan raya, bayangan Raja dan Cantik memenuhi isi kepalaku. Jadi ingin segera tiba di rumah. Kunaikan kecepatan kemudiku. Belum lagi bayangan Hanin yang semakin hari semakin seksi saja. Jika memikirkan itu ... rasanya sudah tidak sabar ingin unboxing lagi. Jadi senyum-senyum sendiri. Untungnya, kondisi jalanan ramai lancar. Semoga tidak macet.
"Selagi masih ada cara untuk bernegosiasi, kenapa tidak, Pak? Bisa 'kan kalau Anda dan keluarga bu Dewi tidak bermusuhan dan menjadi rival? Bukankah gugatan penipuan itu akan berdampak buruk pada perusahaan Anda juga? Jika dilihat dari sisi ekonomis, biaya persidangan juga tidak murah, Pak. Belum lagi Anda harus membayar pengacara dan lain-lain. Kenapa Anda tidak mencabut laporannya saja? Lalu membuat perjanjian yang menguntungkan Anda."
Itu yang dikatakan Hanin beberapa hari yang lalu. Lalu aku mampir di minimarket kenangan. Rasanya baru kemarin aku mengganggunya di depan minimarket ini. Masih ingat saat ia marah-marah karena tidak mau berjalan di depanku. Aku membelikan minuman dan makanan kesukannya. Minuman kaya vitamin C, yoghurt, susu kedelai, dan biskuit gandum.
Aku menjadi pusat perhatian kasir dan beberapa orang yang kebetulan sedang berbelanja. Padahal, aku sudah memakai masker. Mungkin, mereka berpikir pernah melihatku di suatu tempat.
...⚘️⚘️⚘️...
Iptu Sabil Sabilulungan
"Katanya mau ke hotel? 'Kok ke apartemen? Ini apartemen siapa, A?" Listi termangu. Ia belum mau turun dari mobil.
"Ini apartemen punya Aa 'lah ayang. Ya, walaupun masih dicicil 'sih," jawabku sambil menarik tangannya agar turun dari mobil. Apartemenku bersebrangan dengan apartemen milik pak Zulfikar.
"Ya ampun, A Abil enggak pernah cerita punya apertemen di sini." Dia akhirnya patuh. Menautkan jemarinya dengan jemariku.
"DP apartemennya dibayar sama pak Zulfikar. Aku hanya melanjutkan cicilannya saja. Kalau kamu enggak suka, minimal lihat-lihat dulu. Mau ya?" pintaku. Listi mengangguk.
"Unitnya sudah ada yang bersihin 'kok. Dijamin nyaman. Tapi, ini tipe biasa. Hanya ada satu kamar utama dan kamar ART."
"Kamarnya satu?" Menolehku dan tampak terkejut.
"Ya ayang. Enggak masalah 'kan? Lagi pula, kita sudah menikah." Sambil mengecup tangannya. Posisi kami sudah berada di lift menuju unit.
...⚘️⚘️⚘️...
"Akhirnya sampai juga. Yang ini unitnya ayang." Aku menunjuknya dan segera membuka pintu unit. Mata Listi mengitari ruangan sambil manggut-manggut.
"Ini tergolong besar tahu A Abil." Ia melepaskan tangannya dari genggamanku, lalu duduk di sofa sambil terus melihat-lihat.
"Kamu suka enggak?" Aku lantas duduk di sampingnya.
"Suka-suka saja."
__ADS_1
"Ya sudah, setelah ini, apa yang akan kita lakukan?" Sambil menciumi pundaknya.
"Mandi, shalat Magrib, makan, nonton TV, tidur," jawabnya cepat.
"Baiklah." Aku beranjak dan menarik tangannya menuju ke kamar utama yang memang hanya ada satu kamar.
"Mau ke mana A Abil? Ba-baju aku ada di tas A, be-belum diambil." Malah panik. Lucu sekali.
"Hahaha, kita ke kamar dulu saja. Ayang harus lihat dulu. Aku sudah menyiapkan sesuatu."
"Sesuatu apa? Jadi penasaran." Listi terlihat antusias. Aku bahagia.
"Itu dia."
Setibanya di kamar, aku membuka almari yang berisi baju-baju cantik yang kubelikan untuknya. Ada kosmetik dan parfum juga.
"Busy ---, eh maksudku masyaaAllah," menutup mulutnya karena salah bicara.
"Kamu suka?" Sembari memeluknya dari belakang.
"Dari mana A Abil tahu baju yang sesuai dengan seleraku? Ini lengkap sekali A. Ya ampun, kosmetiknya banyak sekali. Kalau kadaluarsa bagaimana?" keluhnya. Tangannya sibuk memegang baju-baju yang tergantung.
"A Abil!" teriaknya.
"Ya." Aku kaget sampai ngarencod (terkesiap).
"I-ini?! S-siapa yang beli baju ini?!"
Matanya membulat. Tertuju pada beberapa lingerie super seksi yang sebenarnya sudah disiapkan sama bunda.
"Bu-bukan aku ayang. Kayaknya bunda, 'deh. Karena setahuku, tidak ada daftar belanja untuk baju indah ini."
"Aa bilang baju indah?!" Malah protes lagi.
"Ya, memang indah, 'kan?"
Adzan berkumandang, Listi tidak jadi mengomel lagi. Aku tersenyum. Segera mengajaknya untuk shalat bersama. Saat Listi sedang berwudhu, aku memesan makanan melalui aplikasi. Selesai shalat berjamaah, kamipun makan bersama. Sesekali menyuapinya, dan diapun menyuapiku. Kami berbagi suapan, dan hal itu membuatku sangat bahagia.
"Sudah mandinya?"
"Sudah, ayo Aa cepat mandi," titahnya.
"Baik."
Aku menanggalkan bajuku di hadapannya. Listi melongo, lalu segera memalingkan wajah dengan pipi yang memerah. Lihat saja nanti ayang, sampai kapan kamu terus menghidariku? Mari buktikan seberapa memesonanya seorang Sabil Sabilulungan.
...⚘️⚘️⚘️...
"Mau nonton film apa?" tanyaku. Posisi kita sudah duduk di tempat tidur menghadap layar televisi.
"Terserah Aa Abil saja."
"Baik, film kesukaanku ya." Kupilih saja film yang romantis.
Aku melingkarkan tangan di pinggangnya. Listi tidak menolak. Matanya fokus ke layar. Karena terlalu menginginkannya, bukannya menonton film, aku malah menatapnya dan mencium perlahan pipinya dengan kecupan lembut.
"A Abil," dia menggedikkan bahunya. Mungkin merasa geli.
"Ayang nonton saja. Aa mau nonton kamu saja."
"Ish, A Abil aneh, 'deh. Katanya film kesukaan Aa." Cemberut, dan itu membuatnya semakin menggemaskan.
"Ya 'sih. Tapi Aa lebih suka kamu." Sembari memeluknya.
"A Abil, a-aku belum siap. A Abil enggak mau yang aneh-aneh 'kan?" Ia terlihat khawatir dan gelisah. Telapak tangannya dingin.
"Ini bukan sesuatu yang aneh ayang. Aku akan membuktikan sama ayang kalau ini menyenangkan." Sambil merebahkan tubuhnya.
"Menyenangkan? 'Kok Aa bilang menyenangkan 'sih? Apa sebelumnya pernah punya pengalaman?" Malah bertanya demikian. Matanya mengerling, bahkan begeser dan menghindariku.
"Ayang, jangan salah paham. Demi Tuhanku, aku tidak pernah melakukan hal yang dilarang agama. Aku perjaka ting-ting," jelasku.
__ADS_1
"Baik, aku percaya. Ta-tapi ... aku belum siap A Abil."
"Huffth ...." Aku menghela napas panjang.
"Baiklah, kalau begitu, Aa mau tidur duluan ya."
Dengan berat hati, aku mengabaikan keinginanku. Aku menarik selimut dan memunggunginya. Kita lihat saja responnya.
"Ya sudah, aku juga mau tidur." Kukira dia akan melarangku tidur duluan. Ya ampun ayang, kamu benar-benar membuatku sedikit kesal.
"Ya sudah, selamat tidur istriku."
"Terima kasih A Abil," jawabnya.
Saat aku membalikan badan, dia sudah terlentang dan mulai memejamkan matanya. Untuk sementara waktu, aku hanya bisa memandangnya. Lima belas menit kemudian, aku menarik selimutnya agar bisa melihat pegerakan dadanya saat ia bernapas. Indah sekali. Sepertinya, aku tidak bisa menahannya lagi.
Aku begeser pelan ke sisi tubuhnya. Pipiku mulai memanas, dan pikiranku kacau-balau. Namun, seakan ada dorongan alamiah, tanganku tiba-tiba berulah. Dengan sedikit gemetar, tangan ini membuka kancing piyamanya. Semoga Listi tidak menyadarinya.
Sejauh ini, Listi masih tertidur. Aku bahkan telah membuka seluruh kancingnya. Napasku mulai cepat, dan spontan menelan salivaku sendiri. Sungguh, aku tergiur dengan pemandangan di depan mataku. Sudah mencoba mengendalikan perasaan ini, tapi tidak bisa.
"Ayang ...," panggilku pelan.
"Tia ...," memanggilnya lagi.
Jelas Listi diam saja. 'Kan dia lagi tidur. Bagus, akan kulanjutkan tahap berikutnya. Aku duduk perlahan. Maksudnya, akan membuka bagian lain, dan perasaan ini semakin tidak karuan.
Aku suaminya, apa harus dengan cara ini aku melakukannya?
"A Abil?" Listi bangun. Matanya membelalak. Aku terkejut, namun tidak bisa menghentikan keinginanku.
"Ssst ..."
Aku menempelkan jemari di bibirnya. Sementara tanganku yang lain, sedang menahan tangannya yang berusaha menutupi sesuatu. Hal pertama yang kulakukan adalah ... meraih bibirnya yang ternganga karena terkesima. Bahasa tubuhnya menunjukkan penolakan, namun ... saat bibirku mengusik dan menelisik lebih jauh dan dalam, ia pasrah. Hingga hembusan napas kami seolah menyatu dan bersatu padu.
"Jangan takut," bisikku lirih. Mencoba menenangkan sambil mengusap bibirnya yang gemetar.
"A-aku belum siap, A Abil ... please ... ja-jangan sekarang," jawabnya terbata-bata.
"Ayang, jika tidak ada halangan atau udzur seperti sakit atau sedang mengalami masalah tertentu yang membuat tubuh dan batinmu tidak bisa melayani keinginanku, maka wajib hukumnya bagi seorang istri untuk menyanggupi permintaan suaminya," bujukku. Aku mengetahui kalimat itu dari pak Zulfikar. Kata pak Zulfikar, ia sering menggunakan kalimat untuk merayu bu Daini.
"Tapi A Abil, a-aku takut. Ki-kita hanya menikah gantung, A. Memangnya boleh kalau kita ---."
"Boleh dong ayang. Ayang, dengar ya, bila kamu mau melakukannya dengan bahagia, ikhlas, dan rela hingga mendapatkan ridho dariku, maka sudah dipastikan ayang akan mendapatkan pahala berupa surga." Sembari membuka satu persatu-satu busana yang kugunakan. Listi mengerjapkan mata berulang-ulang. Ia mengintipku dari balik jemarinya.
"Kalau mau lihat, jangan sungkan ayang," aku menarik tangannya agar ia bisa melihat roti sobekku.
"Aku tidak mau lihat," tolaknya. Menutup matanya.
"Hahaha, yakin tidak mau pegang?" Sekarang menarik tangannya agar memegang perutku.
"Serius, aku enggak mau lihat."
Ia menarik selimut dan menutupi tubuhnya. Aku tidak habis akal. Akupun memasuki selimut tersebut dan menariknya ke dalam dekapanku. Lalu mencekal tangannya agar aku leluasa meraihnya. Meraih hal yang selama ini mengganggu imajinasiku. Menjemput kerinduan yang tidak bisa dibantah lagi.
"A Abil ...," gumamnya saat aku kembali menautkan bibirku.
Aku menuntun tangannya agar memeluk leherku. Lagi, napas kami kembali seirama. Suara lembut dari decakan bibirnya membuat sekujur tubuhku merinding bak dipenuhi ribuan kupu-kupu yang sedang menggelitikku.
"Tia ...," gumamku sembari menghidu aroma khas tubuhnya yang memabukkan.
"A-aku malu, a-apa lampunya boleh dimatikan?" pintanya, pipinya merona.
"Kalau dimatikan, aku tidak bisa melihat keindahan kamu, remang-remang saja, ya ayang."
"Emm ... bo-boleh."
"Baiklah," aku beranjak sejenak untuk meremangkan lampu.
...⚘️⚘️⚘️...
...~Tbc~...
__ADS_1
Semoga bisa mengobati rindu, salam rindu juga dari nyai. nyai masih sibuk dengan pekerjaan nyai. I love you all. Semoga sehat dan bahagia selalu. Aamiin.